SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
45


__ADS_3

Steven tidak tahu kalau Sindy ternyata jauh lebih baik dari pada yang dilaporkan padanya. Wanita itu bahkan lebih cepat dari Renjun dalam menyelesaikan pekerjaan. Sayangnya, kalau bukan karena niat buruknya, mungkin Steven akan merekrutnya. Sehingga ia bisa membantu perusahaan ayahnya yang berada diambang kebangkrutan.


"Steven, aku bawakan kopi untukmu." kata Sindy dengan senyum manis.


"Kamu! panggil tuan Steven dengan hormat!" tegur Renjun.


Meski dia baru mengetahui siapa Sindy, dia jelas tidak nyaman saat dia bersikap seolah ia dangat dekat dengan tuannya.


"Maaf, aku akan..."


"Tidak masalah, dia teman gadisku Ren...biarkan saja." sahut Steven tenang. Ia tidak menoleh tapi sangat yakin Sindy sedang tersenyum senang.


Renjun tampak terkejut namun dengan segera menormalkan kembali ekspresinya. Cukup kesal melihat wajah penuh kemenangan Sindy.


"Tuan, siang ini anda ada jadwal dengan tuan Aston." kara Renjun.


"Hmm, dimana dia ingin bertemu?" Steven mengambil berkas warna kuning dan memberikannya pada Sindy. "Copy ini, minta Carina menunjukkan tempatnya," suruh Steven pada Sindy. Carina adalah resepsionis yang berjaga di depan pintu masuk ruangannya.


"Renjun...bersikaplah baik pada wanita itu. Bagaimanapun dia anak rekan bisnis kita."


Melihat kebingungan Renjun Steven melanjutkan. "Yang dipimpin Yuno. Dia hanya alat untuk keluarganya untuk merayuku. Sayang sekali, padahal dulu aku menghargainya karena dia teman Clara." lanjutnya.


Renjun mengangguk, dia akhirnya paham mengapa tuannya memberikan izin kepada wanita itu masuk dalam kantornya. Bahkan siapapun orang didalam perusahaan tidak bisa sembarangan menginjak ruangan tuannya itu. Renjun yakin ada hal lain yang ingin diketahui tuannya hingga ia menempatkan wanita itu didekatnya. Renjun hanya butuh waktu untuk tahu kebenarannya kan?


Sindy masuk beberapa menit setelah mereka kembali melanjutkan pekerjaan. Menyerahkan berkas yang sudah di copy diatas meja Steven dengan sopan.


"Steven...ada lagi yang perlu aku periksa?" tanya Sindy.


"Tidak, Duduk saja disana." jawab Steven datar.


Ponsel Renjun bergetar, melihat nama Carlos, tentu saja ia tahu masalahnya ada pada Nona mereka.


"Ya, Carlos?" jawabnya. Kedua matanya agak melebar, ia menatap Steven dengan serius. "Aku tahu." lanjutnya setelah Carlos memberi penjelasan singkat dan mematikan telepon.


"Tuan, Nona bertemu tuan Aston dan mereka ada direstoran sekarang."


Steven bangkit dengan cepat, sambil memasang jasnya, ia memberikan perintah pada Renjun untuk membawa berkas yang dibutuhkan untuk pertemuan mereka.


"A...ada apa?" tanya Sindy yang sudah berjalan kearahnya.


"Ikut saja." jawab Steven sambil lalu. Matanya fokus pada ponsel. Ia ternyata lupa menyalakan nada dan getar di ponselnya.


Ada banyak panggilan tak terjawab dari Jun maupun Carlos. Ada satu pesan dari Jun. Wajahnya mengeras setelah ia membukanya. Ia tidak tahu mengapa Jun sangat berani bahkan sebelum ia membalas pesan itu. Membawa Clara keluar tampa izin.


"Steven..."


"Diam." sahut Steven dingin. Sindy yang tadi berniat ingin tahu langsung terdiam. Sindy memang duduk disampingnya sementara Renjun yang mengemudikan mobil.


Sementara itu, direstoran Clara duduk dengan wajah pucat. Tangannya bertaut erat diatas pangkuannya. Jun yang menyadari ketakutan Clara segera mengambil tindakan. Akan sangat berbahaya jika traumanya membuatnya dia panik dan kacau dihadapan Aston. Jun menarik kursi dan duduk disampingnya.


Clara menoleh, Jun menatapnya sesaat untuk memberikan senyum tipis menenangkan. Membuat Aston tersenyum penuh arti. Karena ia tahu watak dari Jun selama ini.


"Maafkan aku atas pertemuan kita terakhir kali. Saat itu aku sedang kalut dan mencurigai banyak orang. Karena ada mata-mata dipestaku." kata Aston.


Meskipun Clara maupun Jun tahu dia sedang berbohong. Sepertinya Aston tidak ambil pusing. Ia sangat tahu Jun tidak akan berani melakukan apapun tampa perintah.


Pelayan datang mengantarkan pesanan. Aston segera menuangkan anggur kedalam dua gelas, lalu hendak menyerahkannya pada Clara. Sayangnya Clara tidak mengambilnya, ia masih terlihat ragu.


"Anggap saja ini awal pertemanan kita. Steven adalah temanku, baik diluar maupun didalam bisnis ini. Jadi...kekasihnya tentu saja temanku juga bukan?" katanya lagi.


Mendengar perkataannya, entah mengapa Clara jadi jengkel. Kata teman yang diucapkan Aston untuknya seperti sedang mengejeknya. Maka mengabaikan rasa takutnya,Clara yang sedari tadi hanya menatap meja akhirnya menatap wajah pria itu. Pria yang kini tersenyum seolah Clara hanya lalat kecil yang harus ia singkirkan. Pandangan merendahkan yang tidak ditutupi sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak berteman dengan orang yang ingin membunuhku." kata Clara, suaranya terdengar bergetar namun rasa marah mengalahkan rasa takutnya.


Aston jelas tampak terganggu, pria paruh baya itu menarik tangannya. Meminum anggur itu lalu tersenyum lagi. Senyum penuh intimidasi dan ancaman.


"Kamu salah paham gadis kecil, saat itu aku mengira kamu mata-mata karena Steven tidak pernah membawa gadis manapun. Jadi malam itu dia tiba-tiba membawamu, aku pikir kamu merayunya dan akhirnya kalian jadi pasangan semalam." dia tersenyum, jelas sedang mengejek dan merendahkan Clara.


"Anda pikir saya wanita seperti itu?" marah Clara.


Aston mengangkat bahunya acuh, "Kamu tahu gadis seperti itu sangat umum diantara kami."


Clara merasa sangat direndahkan. Wajahnya bahkan memerah karena marah. Carlos memegang bahu Jun, memberi isyarat. Jun yang mengerti segera bangun dan kembali ketempatnya. Dia menoleh pada pintu masuk restoran. Detik berikutnya, tuannya masuk dan berjalan cepat menuju mereka.


"Aku tidak tahu kalau anda mengubah tempat pertemuan." kata Steven saat sudah duduk. wajahnya menunjukkan ketidak sukaan. Tapi Aston malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak tahu ada berapa gadismu Steve. Tapi jangan terlalu banyak. Kamu tahu mereka sedikit menyusahkan." kekeh Aston saat Sindy ikut duduk disisi kiri Steven. Benar-benar sangat percaya diri.


"Jangan mengada-ada, aku tak sepertimu," balas Steven dengan nada santai.


"Lalu...siapa gadia cantik ini? sekretaris barumu?" godanya.


"Kenapa kalian tidak berkenalan? Siapa tahu akan jadi jodohmu," balas Steven.


Meski mereka seperti bercanda siapapun jelas bisa merasakan ketegangan yang ada.


"Kamu tega sekali anak muda, aku baru saja berduka." kata Aston dengan nada yang dibuat sedih.


Steven menoleh pada Clara yang saat ini menatap kebawah. Wajah penuh ketakutan sekaligus kemarahan itu masih terlihat disana. Steven mengalihkan lagi pandangannya pada Aston, tampa kesan bercanda seperti tadi. Kali ini ia terlihat serius.


"Bisa kita lanjutkan dengan pembahasan bisnis? gadisku tampak tak nyaman."


Aston mengalihkan pandangannya pada Clara, dia terkekeh dan mengalihkan atensinya pada Steven lagi. "Tentu," jawabnya. "Walaupun kami tidak sengaja bertemu, aku cukup senang bisa mengenalnya. Dia gadis polos yang manis." tambahnya. Steven tidak menanggapi. Dia hanya akan tersulut emosi jika terus mengikuti permainan yang Aston buat.


Steven memulai membahas bisnis mereka. Dalam 30 menit berlalu, hanya ada suara Steven dan Aston. Sementara Clara dan Sindy memilih diam. Sindy dengan ponselnya sementara Clara dengan pikiran kalutnya. Ketakutannya semakin besar dan ia merasakan ancaman disekelilingnya.


"Aku akan sangat senang kalau kalian mau memenuhi undangan makan malamku, aku cukup kesepian sekarang." kata Aston, lagi-lagi menunjukkan kesedihan yang Steven tahu hanyalah pura-pura.


"Akan aku pikirkan," jawab Steven.


"Senang mendengarnya, nah...sampai jumpa."


Setelah kepergian Aston, raut wajah Steven langsung menggelap. Ia mentap Jun penuh kemarahan.


"Dari mana keberanianmu, Jun?"


"Maafkan saya Tuan, Nona mulai kuliah besok dan dia tidak ingin kebingungan dengan lokasi kelas, jadi..." Jun menjeda, tahu alasan apapun tak akan membuat Steven puas. "Maafkan saya. Saya tidak akan mengambil keputusan sendiri saat belum mendapat izin anda," lanjutnya.


"Jun...ayo pulang." kata Clara dengan lirih. Dia bahkan menarik lengan baju Jun dengan pelan. Wajahnya seperti siap untuk menangis.


Steven beralih padanya, dengan segera menarik tangan Clara keluar dari restoran. Belum menyadari ada yang tidak beres dengan gadis itu.


"Kamu boleh juga, Clara sepertinya mulai bergantung padamu." sindir Sindy saat mereka berjalan dibelakang.


Sesaat Jun terhenti pada langkahnya. Menatap gadis itu bingung. Namun ia tidak ingin berfikir terlalu jauh, maka ia hanya mengabaikannya.


Steven dan Clara naik dimobil yang sama. Sementara Jun yang mengendarai mobil. Carlos semobil dengan Sindy dan Renjun. Lalu ada dua mobil yang ikut mengawal mereka dibelakang.


Steven diam saja, Clara menjadi semakin takut. Tangannya bahkan gemetar lagi. Efek takut pada Aston dan sekarang ia dihadapkan pada pribadi gelap Steven. Dua hal yang mengingatkannya pada traumanya, ia merasa akan segera mati seperti dua pengawal yang mati didekatnya. Kilasan darah dan suara tembakan memenuhinya, seolah-olah ia kembali berada disituasi itu.


Menyadari keadaan Clara yang tidak baik-baik saja, Jun melirik Steven dan menghela nafas pelan. Dalam hati merutuki keadaan. Dia juga menyesalkan perasaan peduli yang kian membesar dalam dirinya untuk Clara. Kepedulian yang ia sendiri tidak mengerti. Karena saat menyukai Roulet, dia tidak merasakan rasa kawatir sebesar ini.


"Tuan..." panggilnya pelan.

__ADS_1


Mata mereka bertemu lewat kaca spion. Pandangan dingin itu bertemu dengan sorot mata Jun yang tenang. Jun tidak mengatakan apapun, tapi ia memberi isyarat dengan menolehkan sedikit kepalanya kearah dimana Clara duduk.


Steven menoleh, melihat wajah pucat dan tangan yang bergetar. Bahkan tangannya bertaut namun tak menyembunyikan getarannya. Dengan segera Steven bergeser dan merengkuhnya. Memeluknya erat serta berbisik pelan.


"Maaf maaf Clar...tenanglah, Tidak ada yang akan menyakitimu."


Perlahan, getaran tubuh Clara mereda. Namun isakan yang kian lama kian keras terdengar. Clara menangis, bahkan memukul-mukul punggung Steven untuk meluapkan emosinya.


Steven terus membisikinya pelan. Mengelus kepalanya agar Clara tenang, namun nyatanya Clara terus menangis. Ia tidak mengerti, ia tidak paham cara membujuk.


"Jun...jun...tolong aku...jun...!" isak Clara. Perkataan yang membuat hati Steven mencelos. Seakan ia bukan apa-apa. Meskipun Clara tak berupaya menarik dirinya, namun dengan kata yang keluar, jelas ia lebih merasa aman saat Jun, orang yang menjadi pengawalnya itu berada didekatnya.


"Jun...tolong aku...Jun...aku takut!" Kata yang sama Clara ucapkan terus menerus dalam isakannya.


Jun tak mengerti, ia tak tahu mengapa Clara malah memanggil namanya. Ia melirik tuannya takut-takut, benar saja, Steven sedang memandangnya dengan penuh curiga dan amarah.


Setelah sampai kerumah, Jun membukakan pintu. Steven masih memeluk Clara yang terus menangis. Namun begitu ia turun, Clara melepaskan diri dan berdiri dibelakang Jun. Memegang bajunya erat dan menyandarkan kepalanya kepunggung Jun yang menegang.


"No...nona?"


"Jun...aku takut! aku takut! selamatkan aku, dia mau membunuhku!" isak Clara, kini ia malah memeluk Jun dengan erat.


Semua orang turun dan memandang mereka dengan kebingungan. Bahkan seluruh anak buah Steven merasakan takut luar biasa. Apa lagi Jun yang kini hanya bisa berdiri kaku.


"Clara... semua aman. Ayo masuk kerumah." kata Sindy yang akhirnya mengambil tindakan.


Sindy perlahan melepaskan tangan Clara. Clara yang masih berurai air mata menggeleng. Ia benar-benar kacau penuh ketakutan. Bahkan tidak berani memandang siapapun. Tubuhnya merosot dan dia terisak semakin kencang. Sindy meraih wajahnya dan memaksa mempertemukan pandangan mereka, barulah Clara sedikit sadar dan langsung memeluknya.


"Tenang ya, ayo masuk. Aku ada disini Clar...kamu akan baik-baik aja." kata Sindy menenangkan. Bagaimanapun mereka awalnya adalah teman, Sindy menyayangi Clara seperti adiknya sendiri namun karena ambisi, rasa sakit dan tekanan kanan kiri, ia tidak punya pilihan sekarang. Namun perasaan sayang pada seorang adik sepertinya tak hilang dalam hatinya.


Steven, Jun dan semua pengawal termasuk Carlos masih berdiri ditempat yang sama. Meskipun Clara sudah berhasil dibawa masuk oleh Sindy, tapi tidak ada yang berani meninggalkan tempat mereka. Steven menatap Jun. Berbagai pandangan ia layangkan. Jun menunduk, ia tahu tuannya saat ini sangat kacau. Ada berbagai emosi ia rasakan dari Steven. Tapi yang paling besar adalah rasa kecemburuan. Steven cemburu padanya.


"Tinggalkan kami," kata Steven datar.


Sontak semua orang segera berjalan menjauh, kembali ke posisi masing-masing dirumah itu. Namun tentu saja ada beberapa yang tetap tinggal namun diluar jarak dengar. Karena mereka bertugas menjaga Steven dimanapun.


"Apa yang harus aku lakukan? kamu tahu aku benci saat tangan lain menyentuhnya."


Jun mengangkat wajahnya, lalu dengan cepat menekuk lututnya. Ia juga tidak tahu harus apa sekarang. Ia juga terkejut. Selama Clara dijaga olehnya, bahkan sejak di Indonesia, Clara tetap menjag jarak. Mereka memang sering mengobrol. Clara sudah terlihat nyaman menyampaikan apa yang ia pikirkan selayaknya pada teman. Jun juga merasa Clara seperti teman, sehingga ia tampak lebih lembut dan nyaman tersenyum dan tertawa bersama. Namun tidak terpikirkan olehnya bahwa keadaan akan menjadi seperti saat ini. Membuat tuannya salah faham bukan keinginannya sama sekali.


"Anda salah faham tuan, saya... Nona hanya sedang ketakutan dan karena saya pengawalnya, saya pikir Nona hanya__"


"Bangun!"


Jun segera bangun dengan cepat, memandang tuannya dengan wajah minta maaf.


"Kamu menyukainya?"


"Tuan, saya tidak akan__"


"Jawab! kamu menyukai wanitaku?"


Jun menggeleng, dengan tegas ia membantah. "Tidak Tuan."


"Maka itu cukup, jangan sampai menyukainya. Bersikaplah selayaknya pengawal, aku mengenalmu cukup lama. Kamu orangku yang paling setia. Bahkan aku sangat mempercayaimu lebih dari siapapun. Karena itu aku menyerahkan penjagaan Clara padamu. Karena ia sangat penting bagiku. Jun...kamu tahu kan? Dia adalah nyawaku. Clara segalanya bagiku."


Jun mematung dengan wajah pias. Steven sudah meninggalkannya usai mengatakan hal itu. Jun merasakan hal yang belum pernah ia rasakan. Rasa sakit akibat tatapan kecewa yang ia dapatkan. Meskipun Steven lebih muda darinya, namun ia sangat menghormatinya. Jun memang loyal, karena dimasa lalu Steven adalah orang yang sangat berjasa baginya.


"Masuklah, hari akan hujan tuan Jun." sapa salah satu pengawal yang melintas melewatinya. Pengawal bagian depan rumah.


Jun mendongak, menatap langit. Benar saja, awan mendung memenuhi langit. Masih menjelang sore namun karena mendung, suasana seperti menjelang malam. Juga terasa suram dan menyedihkan baginya yang selama ini hidup dalam dunia yang kejam dan gelap. Steven adalah hal yang sedikit membawanya keatas permukaan. Karena itu tidak selayaknya ia membuat tuannya kecewa.

__ADS_1


Meskipun setelah pertanyaan Steven itu, membuatnya ia berfikir. Apakah ia malah menyukai Clara? wanita yang dicintai tuannya sendiri? Tapi ia merasakan perasaan yang berbeda seperti saat menyukai Roulet. Saat menyukai Roulet, Jun seperti merasa terikat. Ia melakukan yang Roulet minta, semuanya. Jun tidak bisa menolaknya karena ia merasa Roulet akan marah saat ia menolak. Roulet membuatnya seperti pria khusus yang sangat diinginkan. Hingga mereka akhirnya berpisah saat Jun ditugaskan ke Indonesia. Saat itu Roulet seakan mengerti dan menyuruhnya pergi, maka Ia tidak merasa berat karena ada izin darinya. Bahkan rasa rindu tidak ia rasakan, perasaannya hanya akan membuncah saat bertemu wanita itu.


Kali ini ia merasa berbeda, Jun merasakan perbedaan yang besar.


__ADS_2