SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
75


__ADS_3

Steven masih perang dingin dengan West. Bahkan permusuhan itu kini terendus oleh media. Beberapa berita yang memiliki nyali besar memuat berita mereka. Membuat Steven lagi-lagi menjadi topik hangat.


West kini menempati posisi kedua. Sementara Steven menanjak naik dengan pesat setelah kemenangan proyek besarnya bersama Aston dan dua pengusaha lain. Menjadikan dia menempati posisi lima dan Aston sendiri menduduki posisi pertama. Saat ini, West cukup terpojok namun dia tetap bisa melawan. Tidak mudah menghancurkannya. Perusahaan besar itu ditopang banyak pihak. Sehingga mereka hanya akan bisa saling menciptakan kerugian besar satu sama lain. Meski begitu, karena finansial perusahaan yang sangat kokoh, kerugian materi bukanlah ancaman.


Jun berdiri di hadapan Steven. Keduanya berada di atas atap gedung perusahaan. Langit mendung menambah kesan suram diantara keduanya. Jun mengatakan akan berbicara mengenai masa depannya. Karena itu, Steven mengajaknya kesana agar tidak ada yang mengganggu.


"Aku mendengar Ben menemuimu beberapa kali. Apa kalian akhirnya akur?"


"Tidak juga," sahut Jun.


"Lalu, apa yang akan kamu bicarakan?"


Jun maju selangkah, memperpendek jarak antara mereka. "Aku mengundurkan diri." katanya.


Hening beberapa saat. Jun menatap Steven yang menatapnya tampa ekspresi. Mengira-ngira apakah atasannya itu akan membiarkannya saja mengingat syarat Pixu untuk membantu Steven melawan West.


"Kamu akan kembali pada ayahmu?" akhirnya Steven membuka suara.


"Tidak."


Steven mengalihkan pandngannya pada hamparan gedung-gedung. Jun mengikutinya, bedanya dia menatap langit yang semakin gelap. Angin dingin yang lembab juga terasa menyapa kulitnya.


"Apa alasanmu?"


Jun meliriknya sesaat sebelum menjawab.


"Hanya ... ada sesuatu yang ingin aku lakukan. Terima kasih atas waktumu mendidikku mengenai perusahaan dan bisnis selama ini. Meskipun aku lebih tua, aku akui kematanganmu dalam segala hal melampaui siapapun yang kukenal. Bahkan Pixu."


"Biarkan aku mengetahui satu hal," Steven menjeda sesaat. "Alasanmu mengikutiku, menyembunyikan jati dirimu. Apakah hanya karena tidak ingin mengikuti jejak ayahmu?"


"Ya, lebih tepatnya aku membencinya. Aku ingin sekali membunuhnya saat itu. Ketika dia berulang kali menyakiti hati ibuku. Sampai pada akhirnya ibuku mati ditangan musuhnya."


Steven memang tahu istri Pixu meninggal 10 tahun yang lalu. Sampai saat ini dia tidak memiliki istri lagi. Hanya wanita-wanita bayaran yang mengelilinginya. Salah satunya adalah ibu Ben, wanita yang paling lama sebagai salah satu selirnya. Tidak ada pernikahan. Wanita-wanita itu hidup disisinya karena uang dan kekuasaan. Rela melahirkan anak demi mengokohkan posisi mereka.


"Sampai jumpa kalau begitu. Aku tidak punya alasan menahanmu. Kemana kamu ingin pergi?"


"Suatu tempat, dimana tidak akan ada yang bisa menemukanku."

__ADS_1


Pembicaraan mereka berakhir begitu saja. Jun pergi dan membawa barang yang tersisa di ruang pribadi miliknya di gedung itu. Setelah itu, tampa mengucapkan banyak kata, dia pergi begitu saja. Renjun dan Billi hanya memberikan hormat terakhir mereka. Itupun diabaikan oleh Jun yang segera berlalu.


"Bill, selidiki apa yang akan dilakukan olehnya. Hanya berhati-hatilah, dia pasti akan mudah menangkapmu." perintah Steven.


Billi tampak ragu, namun dia tidak punya pilihan selain patuh. Bagaimanapun juga Jun adalah orang yang membawanya, mengajarinya banyak hal dan pemimpin yang ia hormati. Sementara Steven adalah bos besar mereka,orang yang membayarnya, pemimpin sesungguhnya.


.


Jun memasuki mension Steven, masuk ke dalam kamarnya. Mengambil barang yang penting dan segera keluar lagi. Namun dia berpapasan dengan Clara dan Carlos yang baru saja pulang.


Jun memeriksa jam tangannya, masih menunjukkn tengah hari. Seharusnya Clara belum pulang.


"Anda akan kemana? Kenapa membawa koper?" tanya Carlos.


Jun menatap mata Clara yang juga menuntut kawaban. Jun mengalihkan atensinya pada Carlos. Berniat tidak akan mengucapkan kalimat perpisahan pada gadis dihadapannya.


"Aku mengundurkan diri. Mulai sekarang, aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan perusahaan maupun Steven."


"Apa?" itu adalah Clara, yang kini melempar tasnya dengan asal lalu meraih tangan Jun untuk menjauh.


"Kemana? Kemana kamu akan pergi?"


"Pergi kemanapun kakiku ingin pergi. Terlalu banyak yang menggangguku saat ini. Berhati-hatilah, ikuti arahan Carlos dan Billi, apapun yang berlabel produk perusahaan Aston jangan kamu konsumsi. Lalu ..." Jun maju selangkah, merapikan anak rambut Clara dengan berani. Lalu tampa aba-aba memeluk Clara dengan sangat erat.


"Maaf, kemungkinan kita tertangkap cctv. Anggap ini pelukan perpisahan. Namun, kapanpun kamu membutuhkanku, aku akan datang. Hanya hubungi aku. Aku akan melakukan apapun untukmu." bisik Jun.


Clara mematung sesaat di tempatnya. Jun sudah berlalu beberapa detik yang lalu. Clara berbalik, menatap pintu yang terbuka lebar. Carlos muncul dari luar untuk bertanya apa ada yang harus ia lakukan.


Clara menggeleng, dia hanya berlalu setelah mengambil tas miliknya dari tangan Carlos. Melangkah pergi menuju kamarnya. Perkataan terakhir Jun terus berputar di kepalanya. Bertanya-tanya dalam hati apakah Jun orang yang tepat untuk membantunya pergi dari kehidupan yang tidak disukainya ini?


Clara menatap pantulan dirinya di depan kaca didalam kamar mandi. 'Jun menyukaiku, bolehkah aku memanfaatkan itu untuk lepas dari Steven?' pikirnya.


Clara menggeleng dengan brutal. Hatinya tidak membenarkan pemikiran otaknya. Dia masuk ke dalam ruang shower dan membasahi seluruh tubuhnya. Menatap dinding dengan pikiran-pikiran yang berat.


.


Steven menemui Pixu di kediaman pribadi pria itu. Melangkah lebar melewati banyak anggotanya. Saat ini dia ditemani oleh Renjun. Karena Billi sedang memantau pergerakan Jun.

__ADS_1


"Kenapa kamu datang saat aku ingin bersenang-senang? Kenapa kamu mengganggu lelaki tua ini menikmati dunianya?"


Seorang wanita berpakaian kurang bahan melewati Steven dengan aura yang sangat menggoda. Membuat Steven ingin melubangi kepalanya. Beraninya dia menggoda Steven di depan pria yang membayarnya.


"Rumahmu jadi sarang prostitusi?" hina Steven dengan nada jengkel. "Lain kali jika aku datang singkirkan seluruh jalangmu." Sangat kurang ajar memang, beraninya Steven memerintah Pixu seperti mereka adalah teman biasa.


Pixu hanya terkekeh tidak peduli. Dia meraih rokok di meja nakas dan asistennya menyalakan api untuknya. Pixu mengangkat tangannya, mengintruksikan semua orang meninggalkan mereka berdua.


"Jun akhirnya pergi dariku. Tapi aku yakin dia tidak akan kembali semudah itu padamu. Apa yang sedang kamu rencanakan dengan Ben?"


Pixu menghembuskan asap rokoknya. Duduk diatas sofa ruang tamunya dengan kaki bersilang. Punggungnya bersandar pada sandaran sofa. Steven masih berdiri, sama sekali tidak berniat duduk.


"Ben membuat kesepakatan denganku. Aku hanya memanfaatkannya untuk membawa Jun kembali."


"Heh! Hayalanmu tinggi sekali pak tua. Tidak semudah itu membujuknya. Dia membencimu dan duniamu ini." ejek Steven.


"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Pixu. Kini menatap Steven.


"Itu tidak penting, masalah yang paling penting adalah, suruh Ben membatalkan apapun yang dia rencanakan dengan Jun. Kalau Jun berakhir melawanku, aku pastikan tidak akan segan-segan mematahkan kakinya."


Pixu tampak berpikir, dia tidak menjawab Steven. Dia mematikan rokoknya lalu mengisaratkan Steven untuk duduk terlebih dahulu.


"Kudengar Jun menyukai wanitamu. Itu yang kamu maksud dengan jun akan melawanmu?" Steven tidak menjawab. Karena itu Pixu melanjutkan perkataannya. "Apa yang kamu takutkan mungkin saja terjadi. Mengingat kebenciannya padaku karena ibunya. Aku pikir dia tidak suka wanita yang dicintainya menderita. Meskipun Jun mewarisi darahku, hatinya lebih halus seperti ibunya. Tapi dia bisa kejam dalam beberapa kesempatan, kamu pasti tahu itu." katanya, tampaknya dia belum selesai bicara. Karena itu Steven masih diam.


"Ben dan dia akan bertarung untung mengalahkan West untuk posisi pemimpin, tapi Jun tidak menginginkan posisi ketua. Menurutmu, apa yang ia incar?" Pixu menyeringai sesudahnya. Lalu tertawa lebar.


Steven mendengus jengkel. "Jangan harap dia bisa membawa wanitaku. Aku akan melubangi kepalanya." kata Steven dingin.


Seketika ekspresi Pixu berubah datar. Menatap Steven dengan serius. "Maka lawanmu adalah aku saat itu terjadi." katanya.


Steven memicingkan matanya. "Jika itu harus, maka akan aku lakukan, Pixu. Clara adalah duniaku, aku akan membuang seluruh milikku jika itu yang bisa membuat dia tetap disisiku."


Steven keluar dari sana setelah mengucapkan kalimat terakhir itu. Membuat Pixu tertegun sesaat. Menyadari bahwa anaknya, mungkin memulai langkah yang salah. Dia sebagai ayah dan orang yang mengamati pertumbuhan Steven dari dulu, sangat tahu bagaimana berbahayanya Steven jika sudah membuang sisi manusiawinya. Hal yang selama ini dijaga Steven dan Jun. Yaitu sisi manusiawi mereka ditengah lingkungan gelap dan kotor. Satu hal yang membuat keduanya cocok. Hal yang membuat Jun mengikuti Steven saat itu.


Bukan tidak mungkin Pixu bisa kalah melawan Steven jika Aston ada dibelakangnya. Aston yang terus tumbuh mengokohkan perusahaannya. Dimana segala hal akan tunduk padanya. Bukannya Pixu tidak tahu mengenai senjata biologis miliknya. Pixu tentu saja punya mata-mata untuk menyelidiki Aston. Karena hal itulah yang membuat ia berpikir bahwa melawan Steven kemungkinan besarnya juga akan berhadapan dengan Aston.


"Jun, sebanyak itu wanita kenapa menyukai wanita miliknya. Ckckck!"

__ADS_1


__ADS_2