
Arnold duduk diam diatas kursi markasnya dengan laptop di atas meja. Memasukkan flasdist dan membuka sebuah file berisi rekaman vidio CCTV.
Seorang pria berkulit sawo matang jelas masuk ke dalam gerbang rumahnya. Dia sangat mengenali pria itu. Seseorang yang sangat ia hormati dalam organisasi. Diwaktu berbeda, sekitar 40 menit berlalu, pria itu keluar dengan jalan sedikit pincang.
Arnold ingat bahwa CCTV dinyatakan rusak oleh bawahannya. Dia juga mempercayai Tim yang saat itu membantunya mencari bukti bahwa tidak ada orang lain yang datang saat waktu kematian adiknya.
Lima menit setelah pria itu pergi, barulah CCTV menangkap Steven yang masuk. Dia sangat ingat saat itu mereka memiliki janji bertemu. Karena itu saat dirinya datang ia mendapati bahwa Steven sedang dikamar adiknya yang sudah meninggal dengan ceceran ****** ditubuh telanjangnya.
Kedua tangannya mengepal erat. Giginya menggertak keras hingga tubuhnya menggigil karena emosi. Selama ini ia mengejar orang yang salah. Menghabiskan banyak waktu untuk melawan rekannya sendiri. Sementara pelaku saat ini bersenang-senang.
.
Sekolah menjadi lebih heboh dari biasanya saat Clara turun dari mobil bersama most wanted sekolah saat ini. Dibelakang mereka, mobil Sam bersama yang lain menyusul.
Gosip menyebar dengan cepat, apalagi saat kejadian dimalam harinya semua barang Clara diambil oleh seseorang dan kepala asrama mengumumkan bahwa dia tidak tinggal disana lagi.
Bisik-bisik tentu saja terjadi. Meskipun mereka tidak berani keras-keras saat pasangan itu mendekat. Sepanjang jalan Clara menurunkan pandangannya. Sebelah tangannya berada dalam genggaman Steven.
Langkah Steven terhenti. Matanya menyipit tajam dengan sudut bibir tertarik tipis. Melepaskan genggamannya lalu melayangkan tendangan keras pada seorang anak laki-laki yang kini penampilannya nyaris tidak dikenali.
Jaka, yang kemarin berkaca mata dan rambut klimis. Kini tidak berkaca mata dan rambutnya berubah ikal. Anak itu terhempas menabrak dinding. Meringis pelan namun sama sekali tidak terlihat wajah takut sedikitpun.
Anak-anak lain tidak berani bertindak apa-apa. Mereka hanya menjadi penonton dengan wajah syok luar biasa. Bahkan Clara yang biasanya akan bertindak jika ada kekerasan disekolah hanya berdiri diam. Teman-teman Steven berdiri di sisi Clara, ikut menjadi penonton.
"Kenapa psikopat ada disini? rumah sakit jiwa menunggumu, perlu ku antar?"
Steven berjongkok didekat kepala Jaka yang masih tengkurap. Bibir anak itu berdarah karena pecah menghantam lantai saat terjatuh.
"Beraninya kamu mencelakai milikku," desis Steven. Kakinya bergerak dan menginjak jari-jari Jaka dengan sepatunya.
"Steven! Cukup!"
Steven menoleh, menatap wali kelasnya yang berjalan mendekat.
"Ikut ibu ke kantor! kalian tolong bawa anak itu ke ruang kesehatan." kata bu Mira pada anak OSIS yang ada disana. Menarik lengan Steven untuk bangun dan melepaskan Jaka.
Steven menendang rahang Jaka sekali sebelum mengikuti bu Mira. Mengusap kepala Clara namun matanya menatap teman-temannya bergantian. Memberi perintah yang dijawab dengan anggukan dan acungan jempol.
"Ayo ke kelas, Clara." ajak Sam.
Clara diam saja, namun kakinya melangkah mengikuti Sam dan dibelakangnya diawasi Teddy dan Bobby.
'Dia membuatku seperti tawanan.' Monolog Clara. Bagaimana tidak, dia harus tinggal dirumah yang sungguh megah seperti istana. Bahkan Clara tidak bisa menyebutnya sekedar rumah. Saat pagi dia sudah dilayani banyak pelayan wanita. Makan makanan enak dan seluruh rumah dijaga oleh orang-orang bersenjata. Tapi pagi ini, Steven tidak ada. Steven tidak tidur disana. Dia pulang kerumah orangtuanya seperti biasa. Saat pagi, mereka baru bertemu dijalan untuk berangkat bersama.
Sementara itu Steven berada diruang konseling. Dihadapannya bu mira dan seorang guru pria cukup muda duduk disampingnya. Menatap Steven yang acuh tak acuh.
"Kenapa kamu memukul anak lain didepan semua murid?" tanya bu Mira.
Steven tidak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya pada guru sebelahnya. Menyeringai tipis padanya.
"Anda segeralah mengajar, bu Mira. Anak ini biar saya yang urus." ucap guru pria.
"Baiklah pak Teguh, terima kasih."
Bu mira segera keluar, jam pelajaran pertama sudah dimulai 5 menit yang lalu dan dia sudah terlambat ke kelasnya.
Pak Teguh melipat tangannya di dada. Menatap Steven dengan penasaran.
"Aku sudah mengamatimu sejak kamu masuk kesekolah ini. Kamu bukan orang yang sembarangan bertindak. Apa yang sudah ia lakukan sampai kamu sangat marah?"
"Anda cukup menyenangkan. Bagaimana kalau saya mengatakan bahwa dia adalah psikopat. Apa anda percaya?"
Pak teguh mengernyit. Dia masuk kesekolah ini bukan hal yang mudah. Dia juga lulusan terbaik universitasnya. Meskipun dia baru dua tahun berpengalaman menjadi psikolog, dia tidak pernah menangkap bahwa salah satu murid merupakan penderita penyakit kejiwaan itu.
"Bagaimana kamu tahu__"
"Anda bisa menyelidikinya. Saya tidak akan membuang waktu saya untuk memberi penjelasan."
"Tetap saja, kamu memukul orang di depan semua murid. Itu bukan contoh yang baik."
Steven bangkit sambil terkekeh pelan. Memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Tenang dan sangat santai.
"Maka anda bisa melaporkan ini pada kepala sekolah. Saya menolak menerima hukuman."
Steven pergi ke kelasnya dengan langkah malas malasan. Berfikir bahwa menyelesaikan sekolah dengan cepat mungkin bukan ide yang buruk. Dia sudah cukup bersenang-senang. Namun saat pikirannya tertuju pada Clara, dia tidak bisa melakukannya. Lebih tepatnya dia tidak ingin melakukannya.
Seperti biasa, kelas segera sunyi saat ia masuk. Bahkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran berhenti bicara. Duduk ditempatnya tampa suara, lalu menatap gurunya malas. Sang guru tampak gugup. Meskipun ia seorang pria yang jauh lebih dewasa, tatapan Steven membuatnya merinding. Belum lagi ia adalah guru baru, parahnya pagi tadi sempat melihat kebrutalan yang dilakukan anak didiknya itu.
Fajar menyodorkan buku cetak baru pelajaran mereka. Steven melirik sekilas. "Baru dibagikan pagi ini." kata Fajar.
"Hmm, Terima kasih."
Fajar tersenyum senang. Steven memang mengerikan saat marah dan dia adalah orang yang tidak suka diatur. Namun dia bukan orang yang tidak tahu berterima kasih. Karena itu ia sangat menghargai teman-temannya. Meskipun sering bersikap seenaknya. Faktanya adalah mereka yang ingin mengikuti, Steven tidak pernah memaksa mereka.
Steven memeriksa ponselnya. Mendapatkan pesan chat dari Yuno. Menarik sudut bibirnya sedikit hingga nyaris tak terlihat.
__ADS_1
.
Jam istirahat makan siang, Steven duduk dikantin bersama Teddy, Bobby dan Fajar. Berulang kali melirik pintu masuk. Teman-temannya tentu saja tahu siapa yang ia tunggu. Akhirnya Ted berinisiatif menelfon Sam. Baru saja akan tersambung, orang yang ditunggu sudah muncul. Berjalan kearah mereka.
Steven tersenyum tipis. Meskipun Clara hanya memasang wajah datar, tapi setidaknya ia menuruti apa yang ia katakan dan tidak mencoba kabur.
Clara mengabaikan ratusan pasang mata penghuni seluruh kantin. Dia bahkan hanya melewati Aldo yang berpapasan dengannya tampa menyapa. Membuat Aldo mengernyit dan membalik badannya. Memperhatikan Clara yang tidak pernah memasang ekspresi seperti itu.
Saat Rafael tiba, dia menghentikan anak itu dan mengajaknya keluar. Mencari tempat sunyi untuk bicara.
"Aku dengar kamu ada disekolah sampai sore kemarin. Juga tiga berandalan itu kembali lagi ke sekolah. Pagi ini aku dapat kabar Clara tidak di asrama lagi dan anak itu memukul anak yang tidak mungkin mencari perkara dengannya, kamu tahu apa yang terjadi bukan?"
Rafael memalingkan wajahnya kearah lain. Sedang berfikir apakah ia akan memberitahukan pada Aldo. Dia takut pada Steven tapi Aldo juga tidak bisa diremehkan.
"Kemarin, Clara hilang. Steven menemukannya di gedung kosong sebelah. Anak culun yang tidak culun lagi pagi ini yang menipu dia. membawa dia kesana untuk bertemu ... hmm__"
"Bertemu siapa?"
Aldo jelas bisa melihat keraguan diwajah Rafael.
"Aku kurang yakin, tapi sepertinya musuh Steven. Entahlah, aku tidak tahu mereka. Clara tidak terluka, tapi orang suruhan Steven memang memindahkan semua barang Clara tadi malam."
Aldo tampak berfikir, Rafael sudah akan melangkah pergi untuk menghindari pertanyaan selanjutnya tapi lengannya ditahan.
"Anak yang menipu Clara itu si culun bernama Jaka itu?"
"Ya, tapi pagi ini dia merubah penampilannya. Aku curiga dia bukan anak biasa, dia bahkan tidak takut untuk datang saat sudah membuat Steven marah, aneh kan?"
Aldo jelas menunjukkan kejengkelannya saat mendengar kalimat terakhir Rafael.
"Memang apa yang harus ditakutkan darinya!"
Rafael terkekeh, menepuk pundak Aldo pelan."Untukmu tentu aja, tapi untuk orang lain Steven adalah raja."
Rafael meninggalkan Aldo yang wajahnya memerah padam. Emosi mendengar Rafael menyanjung musuhnya seolah dia adalah orang yang sangat berkuasa.
"Sialan!" desisnya sebelum ikut pergi.
Di kantin, anak-anak dihebohkan dengan majalah online sekolah yang membahas salah satu anak perempuan yang selama ini berpengaruh disekolah, Sonya. Sonya keluar dari sekolah secara tiba-tiba. Tentu saja anak-anak mencari penyebabnya. Saat mengetahui bahwa ayahnya baru saja di tangkap KPK pagi ini, sekolah menjadi lebih heboh. Kasus pencucian uang dan suap melibatkan salah satu mentri.
Teman-teman Steven menatapnya. Melihat seringai tipis sahabatnya itu kala sedang sibuk dengan ponselnya. Ted dan Bob tentu langsung bisa menebak yang membuat ayah Sonya tertangkap ada hubungannya dengan Steven. Tapi karena mereka tidak sendiri pertanyaan dikepala mereka hanya disimpan saja.
Steven bahkan mengabaikan makanannya sampai Clara bersuara dengan datar. "Kalau kamu nggak mau makan aku mau pergi sekarang." Steven menurunkan ponselnya dan menoleh. Melihat piring Clara yang sudah bersih.
"Maaf, aku akan__"
"Katakan."
'Mentri yang terlibat itu adalah ayah dari anak yang bekerja sama dengan Arnold kemarin, tuan. Identitas aslinya dirahasiakan karena ibunya hanyalah simpanan.'
"Aku mengerti." jawab Steven. "Dapatkan riwayat medisnya." lanjutnya dan menaruh ponsel itu kedalam saku almamaternya. Mengalihkan lagi atensinya pada Clara.
"Aku akan mengantarmu ke kelas."
"Habiskan makananmu dulu." sergah Clara, namun ia tidak menoleh sedikitpun.
Steven menatapnya sambil berpikir. Hubungan mereka menjadi dingin sejak ia menahan Clara dirumahnya. Bahkan sampai sekarang ponsel yang kemarin di rebut Raka masih ada padanya.
"Clara!"
Keduanya sama-sama menoleh. Melihat siapa yang memanggilnya, Clara segera bangkit dengan bersemangat.
"Kak Sindy kapan sampai ke sekolah? ada perlu ya?"
Sindy tersenyum padanya dan menariknya pergi dari sana. Melupakan bahwa ada satu orang yang menatap kepergian mereka dengan ekspresi tidak suka.
"Biarkan dia bernapas sebentar, Stev! Clara juga butuh ruang untuk dirinya." kata Sam bijak.
"Aku hanya kawatir dia pergi tampa pengawalan."
"Ini masih jam sekolah, jangan kawatir." sahut Teddy.
Steven berdecak, dia bangkit dan melangkah pergi tampa menyentuh makanannya. Teman-temannya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Mereka jelas tahu Steven tidak mempercayai siapapun kecuali orang-orang tertentu.
.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sindy.
"Hmm! cukup baik."
Sindy menatapnya dengan ekspresi kawatir. Mereka sedang duduk di kursi taman belakang sekolah, tempat biasanya Clara menjernihkan pikiran. Tempat yang baru-baru ini juga menjadi favorit Steven.
"Aku dengar sepanjang koridor anak-anak membicarakanmu. Kamu tidak di asrama lagi?"
"Hmm, benar."
__ADS_1
"Apa ... pacarmu yang menyuruhmu keluar?" tanya Sindy hati-hati.
"Kak Sindy ... kalau seandainya orang yang kakak percaya menyimpan rahasia yang begitu besar dan menakutkan ... apa yang akan kakak lakukan? apa kakak akan meninggalkannya? bahkan jika dia orang yang kejam ... "
Sindy melihat begitu banyak kegelisahan diwajah Clara. Mencoba mencari jawaban yang tepat, namun matanya menangkap keberadaan Steven yang sedang bersender dipohon dengan tangan terlipat di dada. Membalas tatapan Sindy dengan mata tajamnya.
"Clara ... jika kamu takut dan ada masalah, kamu jangan sungkan datang padaku. Kamu adikku dan aku pasti akan menolongmu."
Clara tentu tidak sepolos itu untuk tidak menyadari ekspresi wajah Sindy yang berubah. Namun dikepalanya dia hanya menduga sikap Sindy karena dia tidak ingin ikut capur. maka, Clara tersenyum dan merubah raut wajahnya menjadi biasa lagi.
"Terima kasih kak!"
Mengabaikan kehadiran Steven, Sindy menggenggam tangan Clara. Mencoba memberikan semangat.
"Jangan kawatir, keraguan cuma akan membuatmu goyah. Menilai seseorang juga tidak bisa hanya dari satu sisi. Ada alasan atas segala sesuatu. Jadi jangan melihat permukaannya aja, oke? kalau kamu butuh bantuanku untuk mencari kebenaran, aku akan bantu."
Clara mengangguk, dia merasa bebannya di dadanya sedikit ringan. Dugaan tadi juga hilang begitu saja. Meskipun tidak mengerti mengapa raut wajah Sindy tiba-tiba berubah.
"Terima kasih kak. Jadi kenapa kakak datang kesekolah? untuk bertemu kak Aldo?"
"Tadinya iya ... tapi dia tidak mau diganggu. Katanya lagi ada rapat OSIS."
Tentu saja Clara kesal mendengar hal itu. Dia ingin membantu Sindy menemui Aldo namun gadis itu menolak. Berkata ia harus kembali ke perusahaan ayahnya untuk belajar.
Sindy meninggalkan Clara, berpapasan dengan Steven yang masih sudah beranjak dari tempatnya menunggu.
"Kata-kata yang bagus," kata Steven dengan nada rendah sambil lalu.
Sindy terhenti sesaat, menoleh ke belakang. Entah mengapa kecurigaannya semakin besar pada Steven tapi ia tidak memiliki bukti yang kuat.
'*Sudahlah, asal dia tidak menyakiti Clara*'
katanya dalam hati. Memilih abai dan melanjutkan langkahnya.
Sindy tentu saja bukan ingin menemui tunangannya itu. Ia tahu Aldo tidak akan mau menemuinya lagi karena perdebatan mereka yang terakhir. Sindy hanya ingin mengorek informasi dari Clara, namun Steven datang terlalu cepat.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Clara tersentak, dengan cepat bangkit dari duduknya.
"Se ... sejak kapan kamu ada disini?"
"Sejak kalian bicara," sahut Steven tenang.
Dia duduk dibangku dan mulai mengeluarkan rokoknya.
"Oh... Kalau begitu aku pergi ke kelas dulu."
Clara tersentak sekali lagi, Steven menahan tangannya dan menariknya pelan untuk duduk. Memasukkan kembali rokoknya. Steven menatapnya intens. Clara menunduk, menatap apa saja asal jangan kearah Steven.
"Masih takut padaku?" katanya lembut. "Tak apa, tidak percaya juga tidak masalah. Cukup jangan lari dan menatap pria lain." Steven mengeluarkan ponsel Clara dan meletakkannya di atas tangannya.
"Dulu mungkin aku bisa memintamu memilih pergi atau bertahan. Tapi sekarang ... aku tidak yakin." Steven menyentuh dagu Clara dan memaksa menatapnya. Mempertemukan manik kelam mereka "Karena itu jangan melirik pria lain, karena aku tidak yakin tidak akan menghancurkan siapapun itu yang berani mengambilmu," lanjutnya.
Nada Steven tetap lembut, namun Clara tahu ancaman itu tidak main-main. Dia bahkan meremang karena takut. Menarik diri, melepaskan tangan Steven dan kembali menunduk. Tidak tahu harus berkata apa. Yang ia rasakan saat ini hanya rasa takut.
Steven mungkin terlihat tenang, tapi didalam kepalanya ia sungguh bingung luar biasa. Bagaimana cara meyakinkan gadis dihadapannya. Urusan cinta dia memang payah. Dirinya bahkan merutuki diri sendiri karena membuat Clara semakin takut padanya.
Bagaimanapun Clara tahu identitasnya. Tentu saja pandangannya total berubah. Namun dia malah memperlakukan Clara sama seperti saat dia menaklukkan musuhnya.
Menghembuskan nafas gusar. Memilih bangkit dari duduk dan jongkok membelakangi Clara.
"Naiklah, aku akan mengantarmu ke kelas, waktu istirahat sudah habis 10 menit yang lalu. Kamu akan dapat masalah kalau masuk sendirian."
Clara merutuki kelalaiannya. Namun dia juga ragu untuk naik ke gendongan Steven. Bagaimanapun dia masih sangat takut pada anak dihadapannya itu.
"Naik sebelum aku marah!" suruh Steven.
Dengan cepat dia bangun dan naik ke punggung Steven. Membuat Steven tersenyum simpul.
"Jadi apa yang kamu takutkan? kamu saja sekarang lebih tinggi dariku. Bisa naik kepunggungku. Terpenting dari semuanya ... kamu orang yang aku cintai."
Clara tertegun mendengar penuturan Steven. Menunduk melihat betapa kokohnya punggung itu. Betapa lebarnya bahu remaja laki-laki yang menggendongnya. Hatinya tentu saja tersentuh. Bagaimanapun dia menyukai Steven. Sayangnya pemaksaan yang Steven lakukan beberapa kali dalam waktu terakhir membuatnya cukup ragu untuk melanjutkan. Steven kini terlalu mencampuri hidupnya, mengatur segala hal tampa bisa ditolak. Bagaimana ia akan menghadapi ayahnya jika begini? dia masih kelas 2 SMA. Jalannya masih panjang untuk membangun hubungan yang serius. Tapi Steven, anak itu terlalu mengikatnya.
"Kita sampai."
Clara terkesiap, wajahnya langsung berubah merah saat menyadari dia sudah berada di dalam kelas. Hening dan semua mata memandang mereka bergantian. Steven sudah berjongkok agar ia bisa turun tapi ia malah sibuk dengan pikirannya.
"Apa yang kamu lamunkan? Nah belajarlah, aku pergi dulu." kata Steven dengan senyuman yang menawan.
"Clara kurang enak badan, saya mohon pengertian bapak sehingga ia masuk terlambat." kata Steven menjelaskan pada guru didepan.
"Tak masalah, memang siapa yang bisa melawanmu saat ini?" sarkas guru itu.
Steven tersenyum, mengagumi keberanian gurunya. Dia lebih suka guru seperti ini dari pada yang takut padanya. Saat ini, semua orang disekolah tidak mau mencari masalah dengannya karena Bayu, kakek Aldo. Tapi jika mereka tahu identitas aslinya. Bisa saja semua orang langsung berkeringat dingin. Bahkan guru dan murid yang tidak menyukainya akan berpikir dua kali membuatnya tersinggung.
__ADS_1
"Anda sangat pengertian, kalau begitu saya permisi."
Steven keluar dengan semua mata murid menatapnya dengan pandangan berbeda-beda. Takut, kagum dan benci. Sementara Sam terkekeh ditempat duduknya. Menertawakan wajah penuh jengkel sang guru.