SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
58


__ADS_3

Setelah menenangkan Clara sampai ia tertidur. Steven melangkah masuk kedalam ruang khusus miliknya. Dimana dia biasa memeriksa cctv sampai yang tersembunyi. Steven memilih menyelidikinya sendiri.


Pelaku tertangkap oleh cctv yang berada di lorong. Namun wajahnya tidak jelas karena dia memakain masker dan tudung kepala. Tapi Steven tahu dia adalah salah satu pelayan di mensionnya. Karena dibalik jaket kebesaran itu, ia bisa melihat rok pendek pelayan yang terlihat sedikit.


Steven mengeraskan rahangnya. Menelfon Jun untuk segera menemukan pelayan yang ia sebutkan di cctv. Jun tentu saja sudah melihatnya di ruang khusus keamanan. Yang ia bingung, Steven tahu mengenai apa yang tertangkap di cctv sebelum mereka melaporkannya.


"Anda sudah tahu pelakunya Tuan?"


"Lakukan yang aku perintahkan." tutupnya.


Steven kembali ke atas. Ketika dia membuka pintu, dia segera mendengar suara tangis Clara di dalam kamarnya. Steven segera masuk, tapi pemandangan yang ia lihat membuat hatinya sangat sakit. Clara menangis dalam tidurnya.


Steven tahu Clara sangat menyayangi anjingnya, dia membesarkan anak anjing itu seperti anaknya sendiri. Steven naik ke atas kasur dan memeluknya dengan erat.


"Semua akan baik-baik saja, tenanglah." bisiknya.


Clara membuka matanya, ia terbangun. Mengetahui Steven masih memeluknya, Clara mengeratkan pelukan itu. Menghirup aroma Steven yang menenangkan.


"Jangan nangis lagi, maaf untuk kejadian tadi. Besok... pulang kuliah ayo beli anjing yang kamu inginkan." kata Steven. Clara mendongak, mencari kebenaran lewat matanya. Tidak yakin pada apa yang Steven katakan Clara tahu Steven membenci hewan.


"Aku akan membuatkan kandang khusus di lantai ini. Sehingga dia aman dari tangan lain. Tapi... tetap tidak boleh berkeliaran." lanjut Steven. Dia mengelus kepala Clara dengan tangan lain.


"Terima kasih... tadi... tadi aku hanya terkejut. Siapa yang tega membunuh anjing selucu itu."


Steven tersenyum, menurunkan sedikit tubuhnya dan mencium kening Clara dengan lembut. Mereka saling bertatapan dengan sangat lama. Hingga Steven menurunkan tangannya dari kepala Clara menuju dagu gadis itu. Membelai bibirnya dengan ibu jarinya.


Clara mengerjap dengan gugup. Ekspresi Steven sangat lembut tapi juga menggoda. Jantungnya berdebar sangat kuat saat perlahan Steven memajukan wajahnya.


Steven menciumnya dengan lembut dan lama, seolah kalau ia terburu-buru ia akan menyakitinya. Clara tidak ahli dalam hal ini, ia hanya diam saja tampa membalas. Steven tersenyum ditengah ciumannya. Lalu menarik diri dan kembali membenamkan Clara dalam pelukannya.


"Wajahmu... sangat merah sayang." katanya disertai kekehan ringan.


"A...aku tidak! mana ada!" elak Clara walaupun akhirnya dia merengek dan memukul punggung Steven karena malu.


"Steve... aku ada tugas. Tapi aku tidak mau kesana lagi. Aku akan mengerjakan tugas di sini. Bolehkah Jun membantuku?"


"Kenapa harus dia, bukankah ada aku?"


"Kamu kan sibuk terus."


"Malam ini untukmu," sahut Steven cepat.


Jantung Clara menjadi tidak stabil, tiba-tiba saja Steven membuat keheningan yang lama. Clara juga bingung mau merespon seperti apa. Sejak tadi sikap pria yang memeluknya ini membuatnya berdebar terus.


"Clara... jadilah kekasihku lagi." Clara menggigit bibirnya dalam diam. Ini kesekian kalinya dan Clara masih saja ragu. "Aku hanya ingin kamu resmi sebagai kekasihku lagi. Lalu kita akan menikah setelah kamu siap." lanjut Steven.


Clara terdiam cukup lama. Dia mengingat pembicaraannya dengan Lusi. Juga ketakutan akan Steven yang mungkin bosan padanya. Tapi membayangkan Steven pergi saat hubungan mereka tampa status juga membuatnya berpikir, apakah dia benar-benar siap?


Dia sudah terbiasa, sudah berbulan-bulan bersama Steven dalam satu atap. Tapi jika dia memiliki status dengan Steven sebagai kekasih, apakah ini akan jadi lebih baik? Itulah yang Clara pikirkan saat ini.


"Tidak apa-apa kalau kamu..."


"Aku mau." potong Clara, dia bahkan terkejut pada dirinya sendiri karena dengan cepat kata itu keluar dari pikirannya.


Steven melepaskan pelukannya. Dia menopang tubuhnya dengan lengan agar lebih jelas melihat Clara yang kini terlentang.


"Clara... ucapkan sekali lagi." pintanya setengah berbisik.


"Ish! aku bilang..." Clara yang malu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "aku...aku mau!" lanjutnya dengan suara teredam.


Senyum terbit dari bibir Steven, sangat lebar. Dia tidak bisa menahan diri. Dengan lembut ia menyingkirkan tangan Clara yang menutupi wajahnya dan langsung menciumnya lagi.


Clara melebarkan matanya, dia terkejut. Ciuman Steven lebih menuntut dan dalam. Clara hanya bisa membalas sebisanya. Hingga keduanya kehabisan nafas, Steven menarik diri.


"Terima kasih," katanya, lalu menenggelamkan dirinya pada leher Clara, memeluknya erat seakan tidak ingin lepas.


Pintu kamar diketuk dua kali. Suara Jun memanggil Steven terdengar dari luar. Steven melepaskan Clara dan bangun. Berjalan menuju pintu.


"Sudah ditemukan?" tanya Steven setelah membuka pintu.


"Dia sudah di ikat di dalam gudang bawah tanah." jawab Jun.


Steven menoleh kedalam, dimana Clara masih berbaring, sedang memandang mereka penasaran. Steven tersenyum padanya dan keluar. Menutup pintu kamar Clara. Lalu berjalan agak jauh. Dia tidak suka saat Clara mendengarkan kekerasan yang akan ia lakukan. Hal itu karena trauma yang pernah ia alami.


"Siapa yang menyuruhnya?"


"Dia bilang seorang laki-laki yang membayarnya. Dia menyebutkan sebuah nama tapi saya kira itu nama samaran. Dia bertemu pria itu di depan supermarket. Saya pikir dia berasal dari perusahaan West Tuan, karena pelayan ini menyebutkan merk mobil dan BM pria itu. Mobil yang khusus diproduksi oleh grup West hanya untuk kalangan mereka."


"Jadi begitu, apakah ini ayahnya... atau anaknya. Bahkan jika keduanya, aku akan melayani permainan mereka." kata Steven geram. "Singkirkan pelayan itu, aku tidak ingin dia bisa hidup dengan normal." lanjutnya.


Jun mengangguk patuh, sebuah hukuman yang sangat kejam. Seseorang mungkin akan memilih mati dari pada hidup dalam keadaan cacat.


.


Saat ini Steven dan Clara sudah berada di depan gerbang universitas tempat Clara kuliah. Hal itu menimbulkan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Apalagi saat Clara turun, Steven sengaja ikut turun dan mengantarnya sampai di depan kelas. Tugas Carlos digantikan oleh Jun. Sementara Carlos hanya akan menunggu di mobil untuk kenyamanan Clara.


"Jangan kemanapun tampa pengawalan meskipun hanya ke toilet, mengerti?" kata Steven saat mereka sampai di depan kelas pertama Clara.

__ADS_1


Clara menghela nafas, tapi tidak menyela, hanya mengangguk patuh. "Bagus, hari ini aku akan lembur, pulang kuliah jangan menungguku. Kamu bisa ke kantor kalau rindu." godanya di akhir. Mengelus belakang kepala Clara dan memberikan kecupan ringan di keningnya sebelum pergi.


Steven melirik Jun yang memalingkan wajahnya. "Jaga dia baik-baik." perintah Steven. Jun mengangguk sekali tampa menatap mata tajam itu.


Setelah kepergian Steven, Clara fokus pada wajah Jun yang terlihat aneh dimatanya. Baru saja mulutnya terbuka Lusi memanggil dan langsung menghampirinya.


Saat Lusi melihat Jun, dia sempat terpesona sesaat. Jun tidak memperhatikannya, matanya memperhatikan Clara dan sekitar bergantian.


"Siapa dia?" tanya Lusi dengan cara berbisik.


"Oh... dia Jun." jawab Clara dengan wajah bahagia. Bahagia karena Steven sangat manis pagi ini.


"Maksudku apamu? kenapa dia bersamamu? mana yang biasa mengikutimu itu?" Kali ini Lusi berbicara dengan cukup lantang. Sehingga Jun meliriknya sesaat sebelum mengamati keadaan sekitar lagi. Jun memilih pergi bersandar pada tiang. Agak jauh dari anak-anak yang lalu lalang.


"Dia temanku." jawab Clara singkat.


Jun yang mendengarnya tersenyum dan merasa Clara sangat manis. Menganggapnya teman alih-alih pengawalnya.


"Teman apa yang mengikuti kamu kuliah?"


"Dia bekerja untuk menjaku, berganti drngan Carlos. Tapi dia teman baikku."


Lusi mengangguk saja, dia sebenarnya tidak begitu mengerti maksud Clara. "Oke, ayo masuk. Dosen menyebalkan itu berjalan kesini." ajak Lusi. Menarik tangan Clara masuk saat dia melihat dosen mereka dari jauh.


.


Sejak Jun menginjakkan kaki di kampus Clara, duduk bersamanya satu meja saat di kantin atau saat Jun yang entah bagaimana bisa mengikutinya masuk ke perpustakaan. Semua mahasiswa perempuan memperhatikannya. Bahkan beberapa tidak segan-segan mengajaknya berkenalan. Membuat Jun terganggu dan terus-menerus memasang wajah dingin.


"Aku pikir pengawalmu yang lama lebih baik, Lihatlah! dia pengawal atau idol? ckckck!" komentar Lusi yang menopang kepalanya dengan tangan diatas meja.


Mereka sedang berada di perpustakaan. Clara harus mengerjakan tugas yang tadi malam belum selesai karena ia tertidur ditengah pengerjaannya. Tidak memperhatikan sekitarnya karena dia hanya fokus pada buku dan laptop.


"Clara... kenapa kamu belum selesai juga." keluh Lusi, dia bosan karena Clara tidak bisa diajak bicara saat sedang fokus.


Jun masih memperhatikan Clara sambil membaca buku. Tidak mengidahkan godaan para gadis. Penjaga perpustakaan beberapa kali memarahi mereka tapi para gadis itu tampaknya tak peduli.


"Selesai, Haaah... capeknya! huh?"


Clara menatap bingung wajah frustasi Jun yang masih dikelilingi oleh banyak gadis. Terkekeh pelan sambil menopang dagu.


"Kamu baru tertawa? sejak tadi dia keliahatan tertekan." kata Lusi.


Jun mengangkat kepalanya dari buku. Clara tersenyum lebar yang dibalas dengan senyuman kecil oleh Jun. Terdengar jeritan frustasi para gadis disekitar mereka. Membuat Jun kembali bersikap dingin. Mengambil buku dan semua peralatan milik Clara dan segera keluar. Clara dan Lusi mengikutinya dengan cepat sambil tertawa.


"Anda senang Nona?" keluh Jun setelah mereka sampai pada kelas berikutnya. Menyerahkan tas dan buku Clara.


"Lain kali pakailah masker. Atau kamu bisa berganti dengan Carlos. Wajahmu terlalu tampan untuk jadi pengawal, Jun!" puji Clara degan kekehan ringan.


"Lusi?" panggil Clara.


"Huh? oh... udah selesai. Ayo masuk kelas." ajak lusi. Ternyata dia berpikir sambil melihat kearah Jun.


"Ada apa hmm? kamu naksir Jun ya?" goda Clara.


"Naksir apanya! aku sedang berpikir. Kebetulan saja mataku mengarah padanya."


"Yakin... memang memikirkan apa sih?"


Lusi mana mungkin memberi tahunya, dia juga belum terlalu yakin. "Tidak ada ... nanti aku kasih tahu kalau waktunya sudah tiba."


"Apaan! ck main rahasia segala."


Mereka duduk di bagian tengah sebelah kanan, tepat di samping jendela. Belum banyak anak yang masuk karena kelas memang dimulai 15 menit lagi.


Clara terdiam ditempatnya saat ia melihat keluar jendela. Sosok yang pernah menangkapnya dua kali. Sedang menatap kearahnya dari luar gedung. Mereka berada pada lantai dua, jadi tidak sulit mengenalinya meskipun dia berpenampilan tertutup. Raka menyamarkan dirinya memakai hoodie dan topi.


Clara menoleh ke arah pintu masuk, dimana Jun bersandar pada tiang dan melihatnya dengan wajah kawatir. Jun segera masuk kedalam kelas bertepatan dengan dosen mereka. Tidak peduli apa, Jun memeriksa apa yang dilihat oleh Clara. Sayangnya Raka sudah pergi. Jun menatap Clara sehingga mereka saling bertukar pandang. Kelas sangat hening karena Jun yang masuk tiba-tiba.


"Apa kamu sudah selesai? jika kamu terlalu kawatir pada Clara kamu bisa duduk di belakang. Jangan mengganggu kelasku." tegur dosen mereka dengan tenang.


Jun berjalan kebangku paling belakang. Duduk disana sambil sesekali melihat ke arah luar. Sementara Clara berusaha fokus pada kuliahnya. Yakin Jun akan melindunginya sehingg Ia sedikit tenang. Clara tersenyum tipis pada Lusi saat temannya itu menatapnya penuh tanda tanya.


.


Seperti yang dikatakan Steven, pria itu lembur hari ini. Bahkan seharian ini Steven tidak ada menghubunginya. Clara kesal tentu saja. Padahal sebelum resmi lagi Steven sering mengiriminya pesan singkat.


Mereka masih dalam perjalanan menuju mension. Clara tampak termenung, menatap ke arah luar. Jun yang duduk di depan bersama Carlos sesekali meliriknya dengan wajah kawatir.


Sesampainya di mension, Clara dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang duduk di ruang tamu. Clara sempat berhenti sesaat, namun karena tidak mengenalnya dia melanjutkan langkahnya.


"Apa kamu pacar Steven?"


Clara berhenti dan berbalik. Wanita itu menghampirinya. Mengulurkan tangannya dengan ramah, senyum ceria ia berikan pada Clara.


"Aku Violet, anak dari rekan bisnis Steven. Kami berteman sekarang karena aku adalah fans beratnya." katanya setelah Clara menerima uluran tangannya.


'fans berat?' pikir Clara.

__ADS_1


"Oh... aku... Clara."


"Aku harap kita bisa jadi teman juga, Clara."


'Aku tidak yakin.' jawab Clara dalam hati.


Steven muncul dari tangga lantai dua bersama Renjun. Sepertinya mereka mengambil sesuatu yang penting sehingga Steven harus pergi sendiri. Masalahnya, kenapa Violet bisa ikut? itulah yang ada dipikiran Clara dan Jun saat ini.


"Kamu sudah pulang?" sapa Steven begitu ia melihat Clara dari tangga. "Lelah?" tanya Steven saat sudah ada dihadapannya. Memeluk erat Clara dan mencium puncak kepalanya.


"Hmm... aku agak lelah. Kamu... akan kembali ke kantor?"


Steven melepaskan pelukannya, menatapnya lembut. "Aku akan pulang larut, kamu harus makan tepat waktu dan tidur tepat waktu."


Clara diam saja, dia kesal karena Steven tidak menjawab pertanyaannya. Steven yang menyadarinya mengelus puncak kepalanya.


"Aku akan makan malam dirumah tuan West, sekaligus membahas pekerjaan. Jangan kawatirkan apapun." Bisiknya pelan saat ia kembali memeluk Clara.


Setelahnya Steven mengecup keningnya dan pergi. Violet tersenyum pada Clara sebelum menyusul Steven. Tapi setelah ia berbalik dan tepat berada di belakang Steven, senyumnya berganti dengan wajah muram.


Clara menatap kepergian mereka dengan banyak ketakutan dihatinya. Kecemburuan membuat suasana hatinya buruk. Karena Clara tidak bisa mengungkapkannya dengan leluasa di depan semua orang. Maka ia berjalan dengan kepala tertunduk dan wajah sedih.


Jun menghela nafas. Dia sangat benci saat Clara menjadi muram dan sedih. Ingin sekali dia memeluk gadis itu, tapi apalah daya dia harus sadar posisinya.


.


Sudah lewat jam makan malam tapi Clara tidak juga turun. Sehingga Jun memutuskan melihatnya keatas. Apa yang ia temukan membuat wajahnya memerah. Ia segera berbalik membelakangi area kolam renang. Clara sedang berenang dengan memakai pakaian renang. Meskipun tidak terlalu terbuka, tetap saja membuat hati pria menjadi terganggu. Apalagi Jun menyukainya.


"Nona... anda belum makan malam." kata Jun dengan suara agak keras agar Clara mendengarnya.


Clara terperanjat, dia berbalik dengan segera. Bersyukur saat mendapati Jun memilih menghadap kearah lain. "Aku akan segera mandi," kata Clara.


Dia keluar dari kolam renang dan dengan cepat berjalan masuk kedalam kamarnya. Merutuki dirinya sendiri yang lupa kalau Jun memiliki izin menginjakkan kaki di sana.


Setelah mandi, Clara keluar dengan cepat. Dia menghampiri Jun yang saat ini bersandar di pembatas balkon. Di sana sudah tersedia troli berisi makan malam untuk Clara. Jun juga sudah mengambilkan kursi dari ruang gim.


"Ini makan malamku? tapi aku tidak lapar. Bolehkah aku pergi ke kafe Lusi sebentar?" tanya Clara.


Jun menatapnya, lalu mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Clara. "Anda harus makan dulu." katanya, memberikan sendok pada Clara.


"Aku tidak lapar, Jun...!" rengek Clara.


Jun tersenyum tipis, mengelus kepala Clara. "Kita perlu izin Tuan, tapi dia akan marah kalau anda belum makan. Jadi makanlah walau sedikit." bujuk Jun dengan lembut.


"Janji hubungi dia sekarang?"


"Saya janji." Jawab Jun sambil menarik tangannya. Maka Clara duduk dan mulai makan.


"Jun, mulai sekarang panggil aku Clara, jangan nona nona lagi. Kita teman tahu!" kata Clara.


"Telan makanan anda dulu," Clara meliriknya tajam. "Itu tidak akan diizinkan oleh Tuan Nona. Dia bisa salah paham lagi."


"Setidaknya...hanya saat berdua. Aku hanya lebih nyaman begitu saat bercerita denganmu."


Jun terdiam, ingin sekali dia mengatakan 'iya' dengan wajah bahagia. Tapi nyatanya Jun tidak bisa melakukannya. Dia sangat senang saat Clara semakin membuang batasan antara mereka. Berbicara layaknya teman dengan nyaman tampa dibatasi aturan formal.


.


Lusi mengernyit bingung saat semua pelanggan dengan sopan diusir oleh bosnya. Setelah hanya tinggal mereka, Pintu kafe terbuka dan Clara masuk bersama Jun. Lusi bisa melihat ada selusin pengawal berada diluar dari dinding kaca. Menggeleng pelan saat berjalan menghampiri Clara yang tersenyum layaknya anak kecil.


"Kamu kabur dari rumah?" tanya Lusi main-main, menarik Clara duduk di salah satu bangku.


"Aku sudah dapat izin, akan lebih asik kalau banyak pengunjung." sahut Clara saat melihat meja - meja kosong.


Mendengar itu, Jun bangkit dan berjalan ke pintu masuk, membukanya dan menunjuk beberapa pengawal sambil memberikan perintah. Tak lama beberapa pengawal masuk dan duduk layaknya pengunjung. Menyisakan dua orang yang berjaga di pintu masuk.


Jun tersenyum lembut seperti biasa saat Clara menatapnya dengan raut senang. "Jun selalu jadi yang terbaik!" pujinya sambil mengacungkan dua ibu jarinya.


"Jadi aku akan meninggalkanmu sebentar untuk melayani pesanan." ujar Lusi.


"Tidak masalah anak-anak, biar itu jadi tugasku." sergah bos Lusi dan memberikan wink pada mereka.


"Tuan putri senang?" cibir Lusi main-main. Clara tertawa senang.


"Lusi...nanti aku boleh main ke apartementmu?"


Lusi melirik Jun, meminta jawaban darinya. "Terlalu larut, anda harus pulang dalam waktu 1 jam. Tuan akan..."


"Ish! dia juga lembur dirumah wanita cantik! aku cuma main ke tempat teman perempuanku!" potong Clara, sebenarnya ia memang menahan kesal dari tadi pada Steven. Karena itu malam ini dia meminta ini dan itu. Sedikit kekanakan tapi Jun tahu Clara hanya ingin mengalihkan pikiran buruknya.


Maka, tampa izin dari Steven, Jun dengan berani mengambil keputusan. Mengantar Clara pulang dengan Lusi dengan pengawalan ketat.


Lama mereka disana, Clara bahkan menyelesaikan menonton satu film bersama temannya itu di laptop kamar Lusi. Mengabaikan Jun yang berada di ruang tamu. Ini sudah lewat 2 jam dan Steven kemungkinan sudah pulang. Namun ia heran kenapa tuanya itu tidak menghubunginya.


Bel di pintu apartemen Lusi berbunyi. Sangat aneh karena selusin pengawal diluar, siapa yang bertamu malam-malam. Lusi bersama Clara keluar dari kamar, masih asik bercerita dan sesekali tertawa.


"Sebentar, aku buka pintu dulu." kata Lusi. Berlari kecil kearah pintu. Membukanya dan senyum diwajahnya langsung lenyap.

__ADS_1


Lusi menegang ditempatnya, perlahan mundur kebelakang dan menempelkan punggungnya di dinding. Orang yang berdiri di depan pintu, masuk begitu saja dengan wajah yang menyeramkan.


"Tuan?" Jun berdiri diikuti Clara yang juga terkejut. Steven berdiri disana dengan wajah marah.


__ADS_2