SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
59


__ADS_3

Steven menatap Jun dingin. Sorot matanya sangat mengerikan. Ia mengepalkan tangannya besiap memberikan pukulan. Melihat hal itu, Clara berlari dan berdiri di hadapan Jun. Merentangkan tangannya dan menatap marah pada Steven.


"Jangan memukulnya lagi!" bentak Clara.


"Berani membelanya?" desis Steven semakin emosi. Tangannya sudah bergetar, terbakar amarah saat Clara malah melindungi Jun.


"Apa yang membuatmu marah? aku hanya menemui temanku. Apa itu juga tidak boleh?" tanya Clara, suaranya lirih dengan kepala yang perlahan menunduk.


Steven melemaskan ototnya, memejamkan mata sejenak sembari menghembuskan nafas. Mereka baru saja resmi dan dia tidak ingin merusak hibungan mereka lagi karena kecemburuannya. "Kemari," katanya pelan.


Clara mengangkat wajahnya, menatap Steven tapi dia tetap berdiri di tempatnya. Steven kesal tentu saja, namun memilih mengalah dan dialah yang melangkah pada Clara. Menarik tangannya lembut untuk membawanya pulang.


Clara menatap Lusi dengan pandangan minta maaf. Lusi hanya mengangguk dan mengucapkan tidak apa-apa tampa suara. Ketika Jun melewatinya, Lusi bisa merasakan emosi teredam dari wajah dingin Jun. Entah mengapa dia memiliki perasaan tidak enak.


'Aku merasa hal buruk akan terjadi antara mereka bertiga.' katanya dalam hati.


.


Seperti biasa acara gosip di televisi, akun gosip yang bertebaran mulai menduga-duga hubungan Steven dan Violet karena keduanya tertangkap kamera wartawan ataupun masyarakat yang mengenal mereka. Steven sudah menugaskan Renjun dan tim humas perusahaan untuk menekan media. Sayangnya dari pihak sebelah malah seperti mendukung pemberitaan ini. Sehingga Steven tidak bisa berbuat banyak.


Selama seminggu ini hubungannya dan Clara menjadi semakin dingin dari hari ke hari. Clara mempertanyakan hubungan mereka, meskipun sudah dijelaskan olehnya, Steven tidak bisa mengatasi mulut berbisa Violet yang selalu memprovokasi keadaan. Dia sangat pintar bersikap baik dihadapannya namun berbuat licik dibelakangnya. Steven tidak bisa bersikap keras karena permintaan ayahnya. Mereka terikat kerja sama dan tidak mudah bagi Steven untuk menghindar dari gosip yang kian panas.


Selama seminggu ini juga Clara menjadi lebih pendiam. Seluruh anak membicarakannya. Bahkan tidak jarang yang mencibirnya, mengatakan dia hanyalah wanita cadangan. Lebih parah lagi, Clara sampai di ejek sebagai jalangnya Steven. Jun ingin bertindak tetapi Clara selalu menahannya. Clara hanya tidak ingin membuat keributan.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Jun saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Clara... kenapa kamu harus terus di ingatkan?" kesalnya.


"Baiklah Clara... apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan sebelum pulang?"


"Apa alasan Steven kali ini?" tanya Clara, mengabaikan pertanyaan Jun tadi. "Ini keempat kalinya dalam seminggu ini." Clara sedang membicarakan Steven yang dulu mengatakan akan menjemputnya pulang kuliah. "Harusnya dia tidak berjanji apapun kalau terlalu sibuk." lirih Clara, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


"Tuan memang terlalu sibuk, kamu tahu sendiri. Dia memiliki jadwal yang padat dan pekerjaan dua kali lebih banyak sejak ia bekerja sama dengan grup West."


"Jadi benar? aku cuma cadangan sekarang? aku lihat Violet selalu menempelinya, dia juga terlihat baik-baik saja dengan itu."


Jun menoleh sedikit dari kursi depan di samping Carlos. "Clara... aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tetaplah percaya pada tuan." Meskipun Jun mengatakan demikian, namun nadanya terdengar ragu. Membuat Carlos mengernyit.


"Aku mau makan es krim." kata Clara tiba-tiba.


"Kita akan mampir di supermarket depan," sahut Jun namun ia berbicara lebih kepada Carlos.


"Tidak mau! Aku mau es krim yang ditaman dulu." sergah Clara.


"Tapi itu cukup jauh..." Jun menatap Carlos yang juga menatapnya, memberikan anggukan singkat yang membuat Carlos diam.


Carlos terpaksa berbelok ke arah kanan. Mencari jalan terdekat menuju tempat yang diinginkan Clara.


Sementara itu, Steven sedang bersama Violet menuju pertemuan dengan Aston. Hal yang menarik yang dilihat Steven adalah Sindy yang kini ikut bersamanya.


"Jadi gosip itu benar, anda punya pengganti mendiang istri anda?" sarkas Steven. Mereka sedang makan siang di restoran. Area privat yang tentu tidak ada siapapun yang akan menguping.


Sindy diam saja dengan wajah datar, pandangan wanita itu tertuju kebawah. Seolah ia tidak mendengar apapun.


"Bukankah sama, Steven? gosip tentang kalian sangat hangat akhir-akhir ini. Apa wanitamu dirumah baik-baik saja?" Sindir Aston. Keduanya sama-sama melempar senyum palsu.


"Jadi kenapa kamu ingin bertemu dan membawa anak dari sainganku? kamu benar-benar sesuatu Steven." kata Aston lagi, ada kemarahan dalam suara itu tapi Aston dengan baik mengendalikannya. Sehingga hanya Steven yang menyadarinya.


"Maafkan aku, tuan Aston. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku hanya menemani Steven karena ia ingin ditemani olehku."


Aston beralih pada Violet. Mengangkat sebelah alisnya. "Ah.. begitu?" katanya, lalu beralih pada Steven lagi. "Jadi kenapa dia ingin gadis sakit menemaninya? bukankah akan membuatnya lelah?" sindirnya.


Violet mengepalkan tangannya, Steven menoleh pada Violet dan memberi kode agar ia keluar terlebih dahulu. Violet seperti akan memprotes tapi tatapan penuh peringatan Steven membuat ia mengurungkan niatnya. Ia memilih keluar, bergabung dengan Renjun yang menunggu disana. Tak lama Sindy juga keluar, sepertinya Aston baru saja menyuruhnya. Namun saat dia sampai diluar, beberapa pengawal segera mendekatinya. Mengawasinya agar tidak kabur. Violet yang melihatnya berdecih sinis. Memandang Sindy dengan sangat rendah.


Di dalam, Steven akhirnya kembali ke dirinya yang biasa, tidak ada senyum palsu untuk ramah tamah lagi. Sementara Aston tetap santai meskipun ada kemarahan disana.


"Aku tahu apa yang ingin kamu minta. Tapi semua punya harga yang harus dibayar Steven. Aku melakukan penelitian bukan untuk mengobati orang yang hampir mati. Aku hanya akan menggunakannya untuk bahan saja."


"Kamu tahu tuan West bukanlah seseorang yang mudah aku lawan. Dia menggunakan aku sebagai alat untuk membujukmu melakukan keinginannya."


"Lalu bagaimana kalau aku menolak?"


"Maka kamu akan kehilangan mitra untuk mewujudkan keinginanmu."


Aston menyeringai senang. Dia tersenyum sangat lebar seolah ia baru saja mendapatkan jackpot.


"Demi wanita itu kamu menyerahkan dirimu, aku sangat terkejut."


"Tentu saja bukan, jangan salah paham. Seperti kataku, west menginginkan anak kesayangannya sembuh dan aku menginginkan posisi miliknya."

__ADS_1


"Apa ini? kamu semakin rakus?"


Steven meneguk minumannya dan tersenyum tipis, "Bagaimana menurutmu?"


.


Dalam perjalanan pulang, Aston terus memikirkan perkataan Steven. Sikapnya yang diluar dugaan membuat Aston berpikir keras. Penyebab Steven menyetujui bergabung pada proyek penelitiannya. Apa yang dijanjikan west hingga ia berubah pikiran dengan cepat?


"Selama kamu disamping anak itu, adakah ia mengatakan hal yang mencurigakan mengenai grup west? atau sesuatu yang berbahaya?"


Sindy meliriknya, hanya sesaat. "Tidak ada." jawabnya datar.


Aston menoleh padanya, mengulurkan tangannya lalu mencengkram rahang Sindy dengan kasar. "Bukankah aku sudah bilang bersikaplah manis? jangan membuatku muak ****** kecil, aku dengan mudah bisa menghancurkan seluruh keluargamu." desis Aston. Menghempaskan wajah Sindy kesamping dengan kasar.


Sindy hanya bisa diam. Menangispun tak ada gunanya. Maka dia hanya berprilaku seperti boneka. Melakukan semua yang Aston minta tampa protes. Dia juga memikirkan kandungannya. Sindy sudah tidak berniat menggugurkan anaknya. Dia akhirnya sadar bahwa itu juga darah dagingnya. Perlahan ia mulai merasakan perasaan sayang layaknya seorang ibu.


.


Steven pulang setelah selesai menemani Violet kerumah sakit. Dia merindukan Clara. Tapi karena pemberitaan yang semakin menjadi-jadi, dia tidak yakin Clara akan mempercayainya.


Renjun yang melihat wajah muram tuannya tampak kawatir. Steven terlihat banyak pikiran. Berulang kali memejamkan mata sekaligus menghela nafas.


Sesampainya di mension. Steven mendapati Clara sedang bermain dengan anak anjing pemberiannya. Jun dengan setia menemaninya seperti biasa. Mereka tertawa bersama dan terlihat lebih akrab dari sebelumnya.


Tentu saja Steven sangat cemburu. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Jun orang yang tepat untuk melindunginya. Dalam seminggu ini saja, Jun dan Carlos melaporkan ada 4 serangan kepada Clara. Seluruhnya terjadi di luar rumah, karena sejak teror pertama, Steven memperketat keamanan.


Dari semua serangan, Jun adalah orang yang pertama tahu dan dia juga yang mengatasi semuanya tampa Clara tahu. Rentetan serangan teror itu tentu bukan hanya berasal dari satu orang. Tapi juga dari si gila Raka yang pintar sekali bersembunyi akhir-akhir ini. Itulah sebabnya Steven hanya mempercayai Jun untuk menjaga Clara. Dia bukan hanya sangat teliti dan peka, kemampuannya membaca situasi dengan tepat dan bertindak cepat sangat diakuinya sejak dulu.


"Tuan... anda sudah pulang?"


Clara mendongak, dia sedang berjongkok dengan anjing yang ada di pelukan Jun. Mereka sedang bermain dengannya. Ketika Jun menyadari kehadiran Steven, dia bangun dan memasukkan anjing itu kedalam kandangnya. Sementara Clara diam saja. Dia malah melengos pergi ke dalam kamarnya. Menutupnya dengan bantingan yang cukup keras.


"Sebaiknya anda menjelaskannya pada Nona, Tuan. Seharian ini dia terus saja memeriksa internet. Bahkan menonton acara gosip yang membicarakan anda." kata Jun setelah kembali dari kandang anjing kecil itu.


"Lalu apa yang kamu katakan?"


"Tidak ada, apa yang harus saya katakan Tuan? saya bahkan tidak tahu apa yang sedang anda lakukan."


Steven yang sejak tadi menatap pintu kamar Clara, akhirnya menoleh. Menatap wajah datar penuh keberanian milik Jun. Sejak peristiwa di pulau, Jun memang lebih berani padanya.


"Apapun yang aku lakukan, tugasmu memastikan Clara tetap hidup."


Steven tertawa sinis, mengagumi keberanian Jun yang semakin besar. Netra mereka bertemu. Seolah sedang berperang dengan sengit. Di depannya, Steven tidak lagi melihat Jun yang dulu sangat menghormatinya. Jun yang dulu sangat takut padanya sudah tidak ada lagi. Steven dapat melihat, setelah Jun menemukan tujuan hidupnya, dia berubah. Jun bahkan tidak menghargai nyawanya sendiri sekarang.


"Hanya jangan melewati batasanmu, Jun." kata Steven dingin.


"Akan saya pertimbangkan, Tuan." jawab Jun datar.


Steven masuk kedalam kamarnya. Memilih mandi agar lebih segar. Dia harus bersiap menghadapi amarah Clara kali ini.


Setelah selesai mandi dan memakai piyamanya. Steven keluar, Jun dipastikan sudah pergi ke kamarnya sendiri. Karena saat ia sudah ada dirumah, Jun tidak lagi berkewajiban mengawal Clara.


Clara sedang membaca bukunya saat Steven masuk. Sama sekali tidak peduli saat Steven ikut naik ke atas kasurnya. Dia malah mengubah posisi dari duduk menjadi telungkup, meletakkan buku dikasur dan melanjutkan membaca.


"Kamu sibuk?" tanya Steven.


"Sayang?" ulang Steven karena Clara mengabaikannya.


"Clara kumohon... "


"Istirahatlah, kamu lelahkan seharian menemani Nona besar itu. Jadi istirahat agar besok punya tenaga membawanya jalan-jalan diwaktu senggangmu. Atau menemaninya terapi dirumah sakit." sindir Clara. Steven meneguk ludahnya, Clara mode marah dan cemburu ternyata lebih sulit di hadapi.


"Sayang... dengar! Aku tidak punya hubungan apapun sama dia. Aku cuma..." Steven tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Clara menutup bukunya dengan kasar. Mengambil posisi duduk bersila dan menatap Steven sengit. "Cuma apa? tidak bisa jawab? pergilah karena aku mau tidur!".


Usai berkata begitu Clara berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia juga membelakangi Steven yang wajahnya minta di kasihani. Steven rindu dan ingin sekali memeluknya, namun dia tidak bisa melakukan apapun saat Clara marah. Steven hanya tidak bisa lagi memaksanya seperti dulu. Pria itu begitu mencintai Clara sehingga ia berubah jauh lebih sabar padanya.


Clara merasakan pergerakan dibelakangnya saat Steven turun dari kasur. Berjalan ke sisi ia tidur lalu berlutut tepat di depan wajah Clara. Clara terpaku, untuk pertama kalinya ia melihat Steven meletakkan lututnya di lantai.


"Maafkan aku, sayang. Tapi aku mohon percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu. Apapun yang kamu dengar diluar sana... aku mohon bersabar dan percaya padaku." Steven mengelus pipi Clara lalu menciumnya lembut. Setelah itu meninggalkan Clara yang tetap diam.


Setelah pintu tertutup, barulah Clara bereaksi. Matanya berkaca-kaca dan detik berikutnya tangisnya pecah. Dia menangis dengan isakan yang cukup kuat. Steven yang masih diluar tentu saja bisa mendengarnya. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Menjelaskanpun hanya akan terlihat kalau ia sedang berbohong. Steven tak ingin Clara lebih sakit hati lagi.


.


Pagi hari Clara bangun dengan tubuh yang lemas. Jun mengetuk kamarnya beberapa kali namun tidak ada yang menyaut. Steven yang baru selesai bersiap dan akan segera menemui Clara menghampirinya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Dia tidak menjawab sama sekali." jawab Jun.


Steven mencoba membuka pintu tapi tidak bisa. "Kapan dia menguncinya?" tanyanya dengan wajah kawatir.


Steven berjalan cepat menuju kamarnya sendiri dan mengambil kunci cadangan di lemarinya. Membuka dengan cepat dan segera masuk diikuti oleh Jun.


Clara masih tertidur, namun terlihat sangat gelisah. Ketika Steven memegang pipinya. Barulah ia sadar bahwa Clara demam. Mengetahui itu Jun segera menelfon dokter pribadi Steven.


Clara membuka matanya dan merasakan kepalanya sangat sakit. Steven memang membanhunkannya dan Jun mengambil obat penurun panas yang ada di lemari persediaan.


"Clara, kamu baik-baik saja?" tanya Steven. Ponselnya yang sedari tadi bergetar ia abaikan.


Clara memijit kepalanya, dia menyingkirkan tangan Steven, tidak mau menatapnya dan hanya diam saja. Steven tentu saja frustasi, amarah Clara ternyata masih berlanjut. Tidak peduli ia sakit sekalipun. Gadis itu tampaknya tidak ingin melihatnya.


Jun yang akhirnya membantunya makan bubur dan minum obat. Meski begitu, Clara tetap diam saja. Beberapa pertanyaan Jun juga tak dijawab olehnya.


Dokter datang bersama seorang petugas medis. Memeriksa Clara dan mengambil sampel darahnya. Saat inilah Clara bersikap sangat lucu. Dia marah pada Steven tapi saat melihat jarum suntik, dia reflek bangun dan berlindung dibalik punggungnya.


Steven harus memangkunya dan Jun yang memegang tangannya. Lalu setelah selesai, menyadari dirinya berada di pelukan Steven, Clara segera melepaskan diri dan kembali memasang wajah marahnya. Tidur dikasur dan membelakangi semua orang.


Steven menyuruh Jun mengantar sang dokter dan petugas medis sementara dia naik ke atas kasur. Meraih bahu Clara dan memaksanya untuk terlentang. Sehingga mereka bisa berhadapan satu sama lain.


"Clara maafkan aku. Jangan marah hmm? aku punya alasan kenapa membiarkan Violet menempel padaku." bujuk Steven dengan nada yang sangat lembut.


Clara menatapnya tajam, "Apa itu?" tanyanya ketus. Ponsel Steven kembali bergetar, Clara melirik kantong celana Steven. "Angkatlah, siapa tahu wanita itu." Clara mengalihkan pandangannya ke samping.


Steven meraih kedua pipi Clara, mendekatkan wajah mereka. "Tolong maafkan aku, percaya sama aku." katanya setengah frustasi. Clara menatapnya, tapi bukan jenis tatapan yang ramah tentu saja.


"Kamu nggak mau ngasih tahu alasannya lalu bagaimana aku bisa percaya Steve! Aku bahkan setiap waktu membayangkan yang tidak-tidak saat kalian bersama! Kalian..." Steven merebahkan diri dan menarik Clara dalam pelukannya. Clara menangis lagi.


"Maaf, belum saatnya kamu bisa tahu. Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak menyukainya."


Jun masuk dan meminta maaf. Memberitahu Steven bahwa Renjun mengatakan bahwa Violet menghubunginya sejak tadi.Lalu West juga menelfonnya. Artinya panggilan terakhir tadi adalah darinya. Dengan terpaksa Steven melepaskan pelukannya dan berjalan keluar. Jun menatap wajah sembab Clara sesaat sebelum mengikuti Steven.


"Maaf tuan West, aku tidak bisa menemaninya pagi ini. Maaf tapi bisakah anda membujuknya?"


"Kenapa? kekasihmu tidak mengizinkanmu?"


Steven mengeraskan rahangnya. "Tidak, ini hanya karena aku kurang enak badan. Aku akan istirahat sebentar sebelum kekantor."


Steven menghela nafas saat panggilan disudahi. Dia menoleh kesamping dimana Jun sejak tadi ada disana.


"Apa yang sebenarnya anda lakukan tuan? tidak cukupkah hanya masalah bisnis? anda juga melibatkan Nona dalam hal ini?"


"Jangan lancang Jun, aku tahu apa yang aku lakukan." jawab Steven, kini sepenuhnya menghadap kepada Jun.


"Setidaknya beritahu saya apa itu, sehingga saya bisa membaca situasinya bahkan saat anda dalam bahaya."


Steven tertegun, tidak ada kebohongan dalam mata Jun dan ini membuatnya sedikit melunak. Tidak menyangka Jun masih memikirkan keselamatannya.


"Apa yang anda pikirkan? apakah anda berpikir bahwa saya mungkin membahayakan anda karena menginginkan Nona?" Jun menjeda, menatap Steven datar. "Meskipun saya ingin melepaskan dia dari cengkraman anda, saya juga sadar cintanya hanya milik anda. Saya juga bukan orang yang tidak tahu balas budi, anda tetap jadi orang yang saya hormati seumur hidup. Orang yang menyelamatkan saya." Jun menjeda lagi. Lalu wajahnya yang datar berubah serius dan juga terlihat kawatir. "Situasi anda sekarang... apakah sangat berbahaya?" tanyanya.


"Jika aku gagal, ya... itu akan jadi berbahaya. Tapi jika berhasil... itu bukan apa-apa."


"Apa itu? perjanjian apa antara anda dan West?"


Steven tidak menjawab, "Tuan..." tekan Jun.


"Perjanjian menyerahkan hidupku untuk menyelamatkan Violet. Dengan menggunakan Aston dan bekerja sama pada penelitiannya."


Jun mengeryit sesaat, "Lalu apa yang anda dapatkan?"


"Dia mendapatkan kelemahan perusahaanku. Juga mencoba menyakiti Clara. Aku tidak bisa kehilangan mereka berdua."


"Tapi kenapa anda sejak awal? dia bisa memaksa Aston untuk itu dengan kekuasaanya."


"Violet menyukaiku," sahut Steven cepat.


Jun akhirnya mengerti, menembak satu peluru untuk mendapatkan dua burung. Tentu saja, siapapun akan memilih cara yang sama.


"Bagaimana bisa dia mendapatkan data perusahaan anda?" tanya Jun pelan.


"Karyawanku sendiri berhianat demi uang. Aku bisa apa? saat ini yang bisa aku lakukan mengikuti permainannya dan mengambil celah untuk menghancurkannya."


Jun mengangguk mengerti. "Jika anda membutuhkan saya, saya akan siap 24 jam." kata Jun dengan tenang.


"Hanya lindungi Clara," jawab Steven, lalu getar ponselnya menyudahi pembicaraan mereka.


Renjun menelfonnya sekali lagi, karena banyaknya hal yang harus Steven tangani sendiri. Steven akhirnya pergi setelah memeluk dan mencium Clara yang sudah tertidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2