
Pagi ini Clara buru-buru turun dan mencari Jun. Dengan wajah paniknya memanggil nama Jun berulang-ulang. Semua pelayan dan penjaga tampak waspada, bukan apa-apa, masalah utamanya adalah dirumah ini ada bos besar mereka. Jun sedang bersamanya di meja makan.
Langkah Clara terhenti begitu saja diambang pintu. Terpaku pada kakinya saat wajah tidak bersahabat Steven menatapnya.
"Aku baru tahu kalian sudah akrab," nadanya dingin meskipun dengan santai melanjutkan sarapannya.
"Ini pertama kalinya dia memanggil nama saya, Tuan." kata Jun, menjelaskan situasi karena pada dasarnya dia juga sedikit bingung.
Steven tidak menghiraukan, dia meletakkan sendok dan garpunya. Bangkit hendak menghampiri Clara yang masih diam ditempatnya. Sudah memakai seragam tapi rambutnya masih berantakan. Ponselnya ia genggam erat. Menunduk dengan rasa was-was. Steven berhenti di hadapannya, meraih dagu Clara dan menatapnya dalam.
"Ada masalah?" Clara gugup dan terlihat takut.
"Aku...aku harus kerumah sakit." lirih Clara. Steven menarik tangannya kembali. Membuat Clara kembali menunduk.
"Jun!" panggil Steven.
"Ya, Tuan!"
"Antar dia."
Bukan hanya Clara, Jun juga sangat terkejut. Steven pergi begitu saja. Jun bahkan dengan bingung mengikuti Steven yang keluar menuju mobil yang sudah disiapkan untuknya. Memandang mobil yang perlahan menghilang dari pandangan, untuk pertama kalinya dia melihat Steven bersikap dingin dan acuh pada kekasihnya. Padahal tadi malam tuannya terlihat sangat ingin bertemu.
Jun berbalik, menemukan Clara yang berdiri di belakangnya. Dengan mata yang berkaca-kaca. Menarik nafas pelan. Sungguh diapun sama saja dengan tuannya. Bukan penghibur yang baik.
"Anda tidak ingin sarapan dulu?"
Clara menggeleng pelan, masih menunduk.
"Baiklah, kita segera berangkat."
"Tasnya Nona!" kata salah satu pelayan perempuan yang memang bertugas mengurusinya.
.
Sepanjang jalan Clara terus meneteskan air mata. Jun tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya diminta untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Clara berlari masuk ke ruang UGD. Menanyai petugas disana dimana ayahnya. Sayangnya, ayahnya sudah dipindahkan ke ruang operasi. Maka Jun hanya mengikutinya dibelakang, menuju lantai dimana ruang operasi ayah Clara berlangsung.
Clara melihat dua saudara tiri dan ibu tirinya duduk di ruang tunggu. Menghampiri mereka dengan berurai air mata.
"Ibu ... apa yang terjadi dengan ayah? Ayah bukannya kemarin baik-baik aja?"
Ibunya bangkit, menatapnya dengan sorot luar biasa marah. Tangannya melayang di udara hendak menampar Clara, sayangnya Jun jauh lebih cepat. Jun menangkap tangan itu dan menghempaskannya kebelakang. Wajah datarnya menatap ibu tiri Clara dengan pandangan mengancam.
Ibu tiri Clara beserta adik-adiknya langsung memandang Clara dengan menghina. Sorot penuh benci yang tidak ditutup-tutupi lagi walau ditengah keluarga pasien lain.
"Lihat dengan siapa lagi kamu? Kemarin berbeda sekarang berbeda lagi. Apa kamu jadi pelacur sekarang!"
Clara diam saja, dia hanya ingin tahu keadaan ayahnya. Tapi malah diteriaki dan dihina.
"Ayah sudah tahu kakak keluar asrama," kata adik perempuannya. Melirik Jun sesaat sebelum melanjutkan "Ayah kawatir sama anak tersayangnya tapi apa yang anaknya lakukan?" menatap sekeliling dengan senang "Hanya tidur bersama banyak laki-laki?" lanjutnya.
"Jaga ucapanmu! Jangan menuduhku seenaknya!" protes Clara.
"Ck, tentu aja! sekolahmu berisi banyak anak kaya dan untuk terus dapat dukungan kamu menjual diri." Ini lebih sadis lagi, ibu tirinya menghinanya dengan sangat keterlaluan.
"Sebaiknya anda duduk, Nona. Saya akan mengurus ini. Tuan Steven sudah tahu dan kemungkinan akan datang nanti." kata Jun.
Tidak tahu saja, Steven memutar arah mobilnya dengan cepat begitu Jun mengabari ayah Clara yang masuk rumah sakit. Mengabaikan sekolah dan panggilan teman-temannya.
Clara memghela nafas, baru saja akan duduk seorang perawat memanggil keluarga dari ayahnya. Dia segera menuju ke sana diikuti ibu dan saudara tirinya.
"Bagaimana suami saya?"
"Silahkan masuk sebentar, dokter akan menjelaskannya."
Jun terkejut saat Steven mengatakan sudah di lobi rumah sakit. Maka dengan cepat ia menemui tuannya. Meninggalkan Clara dengan dua pengawal yang berdiri di sudut.
__ADS_1
"Tuan, bukankah anda ke sekolah?"
"Dimana Clara?" tanya Steven, mengabaikan pertanyaan Jun sebelumnya.
"Sedang berbicara dengan dokter, di bagian ruang operasi."
"Tunjukkan arahnya!"
"Silahkan tuan,"
Maka Jun memimpin jalan, menuju ruang operasi. Sesampainya disana, Clara sudah keluar. Ibu tirinya juga tampak terdiam sementara dua saudaranya tampak biasa saja.
"Bukannya pacarmu kaya? minta darinya saja untuk biaya rumah sakit dan operasi selanjutnya!"
Clara memandang tidak percaya pada ibunya. Bagaimana ia bisa mengatakan hal rendahan seperti itu?
"Kalau tidak mau minta kamu bisa pinjam!" itu adalah adik laki-lakinya.
"Atau jual ponsel mahalmu. Lalu tambah dengan perhiasanmu! ibu sama sekali tidak punya uang!"
Steven yang mendengar hal itu menatap Jun dan memberikan salah satu kartu miliknya. Jun mengangguk dengan patuh dan pergi dari sana.
"Kalian tidak bisa empati sedikit! ayah masih belum sadar! lagipula mana mungkin aku minta uangnya? aku tidak mau melakukan itu."
"Munafik! kamu mau menerima hadiah mahal darinya. Minta saja agar tidak menyusahkan kita!"
Clara memandang adik perempuannya jengkel. Hendak membalas tapi seseorang menepuk bahunya pelan.
Clara berbalik, matanya membola saat Steven sudah berdiri dibelakangnya. Ibu dan saudaranya melirik sinis tapi tidak berkomentar apa-apa. Merasakan aura kehadiran Steven saja sudah membuat mereka tidak nyaman. Ada intimidasi kuat yang mereka rasakan saat melihat Steven. Hal itu terjadi setelah adik perempuannya yang memiliki teman di sekolah yang sama dengan kakaknya bercerita padanya. Dari dia jugalah adiknya tahu Clara keluar dari asrama.
"Bagaimana ayahmu?"
Clara diam saja, dia hanya menggeleng pelan.
"Apa aku perlu cari tahu sendiri?"
Clara mendongak dengan cepat. Menggeleng pelan, seakan memberi tahu jangan lakukan apapun. Bahkan ia menarik tangan Steven dengan perasaat takut pergi dari sana. Steven bahkan bisa merasakan tangannya yang gemetar. Setakut itu Clara padanya saat ini. Steven menahannya, memberikan pandangan memerintah yang tak ingin di bantah.
"Lalu?"
Steven tahu bukan hanya itu masalah besarnya. Dia hanya ingin Clara nyaman dan bergantung padanya. Tapi sejuh ini sepertinya Clara malah berusaha menjauhinya setelah identitasnya terbongkar.
"Ayah kami butuh biaya yang besar untuk operasi kedua. Harus cepat dilakukan paling lama besok pagi."
Clara menggigit bibir bagian dalamnya, kesal pada adiknya yang ikut campur. Lebih kesal lagi saat ibunya melanjutkan.
"Bukankah kamu kaya? kami bisa pinjam uangmu?"
"Ibu!" sentak Clara, dia sungguh malu saat ini.
"Tidak masalah, Jun sudah mengurus semuanya." Steven hanya menatap Clara, berbicara padanya "Ayo ke kantin dulu, kamu belum sarapan."
"Tapi ayahku__"
"Ada orang yang akan melaporkannya padaku, sekarang isi perutmu dulu." potong Steven, sisi lembutnya sudah kembali.
Clara akhirnya hanya bisa menuruti. Jun berpapasan dengan mereka. Menghampiri mereka dan memberikan kembali kartu ATM Steven.
"Beri kabar padaku kalau terjadi sesuatu. Kami akan ada di kantin.
Jun mengangguk patuh. Cukup senang tuannya sudah bersikap biasa lagi. Bisa ia simpulkan sikapnya tadi pagi karena cemburu saja.
.
Sekolah cukup hening ketika most wanted sekolah tidak hadir. Bahkan teman-teman Steven uring-uringan seperti anak ayam kehilangan induk.
Aldo juga sangat kawatir karena Clara tidak datang. Selain itu, dia juga belum menerima balasan dari Clara atas semua pesan yang ia kirim.
__ADS_1
Aldo sedang menuju ruang kepala sekolah saat ia melihat teman-teman Aldo plus Rafael sedang duduk di kursi panjang taman. Aldo menghampiri mereka. Mendapatkan informasi dari pihak lawan tidak masalah baginya asal ia tahu keberadaan Clara.
Melihat sosok Aldo yang berdiri di antara mereka, Bobby meliriknya sekilas. Lalu acuh lagi. Berbeda dengan tiga orang lainnya yang memandangnya penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Rafael.
"Kalian tahu apa yg terjadi? Kenapa Clara tidak masuk sekolah pasti ada hubungannya dengan Steven." Tentu saja, Aldo hanya ingin tahu dimana Clara.
"Untuk apa kamu tanya? Clara tidak ada urusan denganmu. Selain itu ... akhir-akhir ini kamu cukup tenang, aku pikir audah tahu posisi."
Aldo menatap Sam datar. Tidak ingin cari masalah karena ia lebih butuh informasi saat ini.
"Clara dekat denganku sejak dulu. Orang yang aku lindungi. Dimana teman kriminal kalian membawanya?"
"Ck ck ck! mulutmu memang perlu disumpal ya," sahut Teddy.
Melihat keadaan agak panas, Rafael bangkit dan merangkul Aldo. Memberikan senyum menenangkan khas dirinya.
"Ayolah Al...kami juga bingung. Steven juga tidak ada kabar. Mereka juga tidak tahu. Lebih baik ke kantin, Bobi dan Fajar mungkin disana."
Aldo menepis tangan Rafael kasar, "Kamu agen ganda atau apa? persis benalu yang menempel dimana-mana untuk mencari keuntungan." sinis Aldo lalu meninggalkan mereka.
Baik Sam, Bob dan Ted tahu hinaan Aldo keluar untuknya karena ia merasa Rafael tidak memihaknya lagi. Wajah Rafael terlihat mengeras dengan sorot mata yang tidak terbaca. Seolah tidak membenarkan namun juga tidak membantah.
"Susul dia, kalian berteman kan?" kata Teddy
Rafael menoleh, melengos keras tapi lebih memilih duduk disana.
"Apa berat berada di posisi seperti itu? Aku tahu kamu mendekati Steven demi ayahmu. Sayangnya Aldo tidak menyukainya dan dia adalah cucu pemilik yayasan. Kamu sungguh agen ganda yang menyedihkan." komentar Bobby.
Sam dan Teddy tertawa. Bukan jenis tawa mengejek atau meremehkan, lebih ke menertawakan posisi Rafael yang sulit. Mereka tahu Rafael menyukai gaya kepemimpinan Steven meakipun dia menakutkan. Sama halnya dengan mereka bertiga yang suka rela mengikuti Steven sampai pindah sekolah diluar negri. Bahkan demi mengikuti Steven, mereka harus membuat perjanjian dengan kedua orang tua mereka. Mereka juga melihat jenis kerelaan seperti itu di diri Rafael. Karena itulah Steven dengan mudah menerimanya saat itu, Steven jelas bisa melihat sejak awal.
"Tenanglah, kalaupun tidak menjadi kepala sekolah disini, aku bisa meminta ayahku merekrut ayahmu. Jangan kuatir akan karir ayahmu." kata Sam asal.
Dari mereka bertiga Sam adalah anak yang paling kaya. Teddy dan Bobby tidak terlalu kaya tapi bukan juga miskin. Mereka berada pada garis tengah. Bisa dikatakan orang kaya level 3. Sementara Sam berada di level 1. Kekayaan orang tuanya nyaris menyaingi perusahaan Steven saat ini.
"Cih, tuan muda ini mulai menebar janji manis lagi." cibir Teddy.
Rafael tertawa masam. Aldo sejak dulu memang lebih banyak diam di antara mereka berempat. Mereka kebanyakan hanya berkumpul disekolah tapi tidak diluar sekolah. Tidak seperti Steven dan teman-temanya. Sejak kedatangan Steven, Aldo memang banyak menunjukkan sifat aslinya. Lebih suka mendominasi dan tidak menghargainya lagi.
"Sebenarnya mereka kemana?" sungut Sam.
Menatap ponselnya kesal seolah benda pipih itu yang memiliki salah padanya.
"Bukankah itu anak culun kemarin? Dia kelihatan aneh dengan penampilan barunya."
Semuanya menoleh kearah yang sama seperti yang Ted lakukan. Dari jauh, dikoridor sekolah Raka sedang berjalan sendirian dengan pandangan penuh tanya dari setiap anak yang ia lewati. Sejak kemarin Raka memang menarik perhatian anak lain karena penampilan dan auranya yang berubah.
"Kamu tahu latar belakangnya? Steven tidak mungkin asal bilang kalau dia psikopat." tanya Bobby pada Rafael.
"Aku tidak tahu, dia bukan murid yang menonjol dulu. Nanti aku cek bagian kesiswaan."
Mereka berempat kembali uring-uringan. Rata-rata merutuki Steven yang menghilang. Sementara itu, orang yang dicari masih berada dirumah sakit.
Mereka meminta dokter melakukan tindakan operasi segera. Mereka sudah menunggu selama 1 jam tapi dokter atau perawat belum ada yang keluar.
Ibu dan saudara tiri Clara sudah pulang dengan alsan harus mandi dan makan. Meskipun itu benar, Clara lebih yakin kalau mereka sebenarnya hanya takut bercampur malu telah menuduhnya. Orang-orang bahkan bisa melihat bahwa Jun hanya bawahan dari Steven.
"Abaikan mereka," kata Steven tenang. Tahu bahwa orang-orang memperhatikan mereka dengan penasaran.
Bagaimana tidak, melihat Jun yang setia berdiri disisi Steven, menjalankan setiap apa yang ia perintahkan. Mereka bertanya-tanya mengenai identitas Steven. Belum lagi dua orang di sudut yang sejak tadi seperti sedang berjaga. Menambah daftar rasa ingin tahu mereka.
Sementara orang yang menarik perhatian dengan santai memegang tablet yang diberikan Jun padanya. Memperhatikan proses rapat dari vidio yang dikirim Yuno. Rapat itu adalah rapat pemegang saham. Seperti biasanya, Yuno menghadapi mereka dengan baik. Meski bisa dilihat kesulitan diawal, namun ia berhasil mengusai keadaan di akhir.
Clara menatap Steven yang sedang fokus. Melihat betapa sempurnanya Steven dari segi apapun. Parasnya yang sempurna, rahang tegas dengan mata tajam. Dengan usianya yang baru beranjak dewasa, dia sudah memiliki sejak lama perusahaan yang besar. Tidak tahu sejak kapan Steven memulainya. Apa dari anak-anak?
Tentu saja jika bukan jenius pasti tidak akan bisa melakukan apa yang telah Steven lakukan. Membangun perusahaan bukan hal yang mudah. Tapi Steven seperti tidak memiliki rintangan berarti, atau seperti itulah tampaknya.
__ADS_1
Clara memalingkan wajah saat Steven menatapnya balik. Menghasilkan senyum kecil dibibirnya. Steven memilih melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan dulu rasa gemas akan tingkah sang pujaan hati.
Clara menghela napas, sungguh dia menyukai Steven. Tapi pandangannya tidak lagi sama seperti dulu. Steven terlihat sangat jauh dan tinggi baginya. Selain itu dia merasa tidak pantas setiap waktu. Ketakutan juga menghantuinya setiap kali ketika aura kelam Steven keluar. Sampai saat ini dia belum bisa mengatasinya.