SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
53


__ADS_3

Clara sedang tertawa bersama Tomas dan Lusi. Namun Lusi bisa melihat sejak tadi Clara terlihat gelisah. Dia tertawa namun tidak lepas. Tomas ternyata pria yang supel dan enak diajak bergaul. Dia sangat santai dan langsung nyambung saat bersama Lusi. Clara hanya tertawa atau menyahut sesekali.


Carlos yang gelisah tiba-tiba saja merasakan aura gelap dibelakang punggunnya. Apa lagi kantin tiba-tiba jadi lebih sunyi. Dia berbalik dan benar saja, Steven berjalan kearah mereka dengan aura dingin dan gelap. Menatap tajam Tomas yang baru saja saling melempar tawa dengan Clara. Bahkan tangannya menepuk bahu Clara pelan saat bicara. Tidak tahu apakah ada maksud atau tidak sengaja karena respon tubuhnya.


"Bersenang-senang, hmm?"


Clara tersentak ketika bisikan rendah itu menyapa rungunya, bisa ia rasakan nafas Steven di telinganya. Steven memegang bahunya tapi matanya menatap Tomas yang duduk disebelahnya dengan tajam. Lusi yang duduk dihadapan mereka hanya menatap Clara dan Steven bergantian. Jelas dia mengenal Steven, wajah tampannya selalu menghiasi majalah bisnis baik online maupun cetak. Akun gosip dan media hiburan juga sering membahasnya. Pencapaian diusia mudanya selalu menjadi topik panas dikalangan selebriti.


"Kamu..." Clara melirik sekitar dengan gusar, beberapa orang sudah mengambil foto dan vidio mereka. "Kamu sedang apa disini Steve...?" tanya Clara pelan.


Steven menegakkan tubuhnya lalu meraih tangan Clara untuk berdiri. "Tadinya kejutan, tapi malah aku yang diberi kejutkan," sindirnya dengan wajah datar. Melihat reaksi Clara Steven menurunkan amarahnya dan tersenyum kecil. "Kita punya waktu beberapa jam sampai kelas soremu, temani aku makan siang?"


Clara menarik tangannya. "Tapi aku ada tugas dan akan ke perpustakaan di jalan xxx" lalu dia menoleh pada Tomas yang menatapnya juga. Seakan mengatakan 'kita tidak bisa membatalkannya'. Tentu saja Steven melihatnya, karena itu ia menatapnya tajam, seperti ingin menembak kepalanya saat itu juga.


"Tugasnya masih dua hari lagi, aku rasa tidak masalah, Clara. Kamu bisa kesana pulang kuliah sore." usul Lusi tiba-tiba. Merasakan aura gelap Steven tidaklah menyenangkan.


"Oh ... aku rasa ... yah, itu ide yang tidak buruk juga." kata Tomas dengan enggan setelah Lusi memberikan tatapan tajam padanya.


"Ba ... baiklah." sahut Clara pasrah.


Pada dasarnya dia senang karena Steven menyempatkan waktu untuk mengunjunginya, mengajaknya makan siang. Tapi yang dia inginkan adalah tidak menarik perhatian. Sekarang Clara bisa merasakan bisik-bisik semua orang juga beberapa yang mengambil foto Steven. Pria ini bahkan sama sekali tidak terganggu.


Melihat Clara yang terus menunduk, Steven berhenti dan pegangan tangannya dilepas. Beralih memegang kedua pipi Clara. Memaksa gadis itu mendongak menatapnya. Dengan lembut mengelus sebelah pipinya dengan ibu jari. Perlakuan lembut yang membuat semua orang iri tentunya, karena kultur mereka yang berbeda, warga asli disana berbeda cara menunjukkan cinta mereka. Karena itu perlakuan Steven terasa lebih menyentuh.


"Jangan pernah menunduk saat berjalan disisiku." kata Steven pelan. Lalu melepaskan tangannya dan kembali menggenggam tangan Clara. Melanjutkan langkah mereka.


Sesampainya dimobil Clara masih diam saja. Dia bahkan membuang pandangannya kearah luar. Membuat Steven yang merasa diabaikan menjadi kesal.


"Apa lagi? apa yang salah?" tanyanya.


Clara menoleh sedikit lalu mendengus. Hal itu tentu saja membuat Steven pusing. Clara terlihat marah dan dia sama sekali tidak tahu apa kesalahannya. Lebih tepatnya tidak merasa melakukan hal yang salah.


"Clara ... kalau kamu tidak bicara maka__"


"APA!" sembur Clara. Steven tersentak sesaat, lalu wajahnya terlihat menahan tawa karena Clara yang marah sangat menggemaskan baginya.


"Apa yang lucu! kamu tidak tahu aku marah!" kesal Clara. Bukannya peka Steven malah semakin menertawakannya.


"Lihat wajahmu yang lucu, hahaha!" hanya beberapa detik, tawa Steven terhenti begitu saja saat Clara memasang wajah datarnya. "Oke ... oke sayang ... apa yang salah, hmm? apa yang membuatmu kesal?"


"Pertama! aku bukan sayangmu. Kedua! jangan muncul dikampus seperti itu lagi! Ketiga! berhenti tebar pesona!"


"Yang pertama...walaupun kamu masih menolak untuk meresmikan hubungan kita, kamu tetap sayangnya Steven Kim. yang kedua, aku tidak janji dan yang ketiga ... sayang ... aku memang mempesona dan kamu tahu itu." narsisnya. Renjun yang menjadi supirnya bahkan menganga lebar. Belum pernah ia menyaksikan Steven berbicara dengan cara seperti itu. Dia seperti melihat orang lain saat ini. Bahkan tadi melihat dia tertawa lebar.


"Percaya dirimu itu, ckckck!" decak Clara dengan wajah yang dibuat menyebalkan. Sayangnya Steven yang sudah bucin akut melihatnya dengan sangat tertarik. Baginya apapun ekspresi diwajah Clara selain datar dan dingin adalah hal yang menarik. Dia senang karena hubungan mereka berangsur membaik. Dia hanya butuh waktu untuk menaklukkan hati keras Clara lagi.


Setelah menemani Steven makan siang, mereka hanya duduk di dalam mobil. Berbicara ringan mengenai kegiatan Clara dan Clara dengan senang hati menceritakannya. Bahkan dia menceritakan teman barunya Lusi dan Tomas yang membuat Steven menahan cemburu. Clara tidak segan-segan memuji cara Tomas menarik banyak perhatian dan mengatankan pria itu tampan. Juga rasa simpatinya pada kehidupan yang dijalani oleh Lusi.


"Kamu sepertinya sangat menyukai mereka."


"Hmm...tentu, mereka teman yang baik." sahut Clara. Dia melirik Steven lalu berdehem. Sejak tadi dia ingin sekali menanyakan tentang Jun, namun karena pembahasan Jun selalu membuat Steven kesal, dia jadi sedikit berhati-hati. Clara hanya ingin tahu sampai mana perkembangan pencariannya.


"Steve ... bagaimana perkembangan pencarian Jun?"


Steven yang sejak tadi menatapnya dengan penuh binar dan senyum kini mengubah mimiknya. Dia menjadi lebih serius.

__ADS_1


"Sedang aku usahakan." jawabnya singkat. Hal itu terdengar sangat tidak enak ditelinga Clara, dia merasa Steven tidak serius mencari. Sementara Clara yakin Jun sedang tidak baik-baik saja.


"Tenanglah, ini tidak sesederhana itu, Clara." lanjut Steven datar.


"Kenapa tidak lapor polisi? mereka pasti punya cara menemukannya?"


"Mungkin, tapi mungkin juga tidak. Aku sudah lama tidak ingin berurusan dengan mereka. Aku lebih suka memakai caraku."


"Tapi Jun dalam bahaya! berapa lama kamu akan bisa menemukannya? Bagaimana kalau dia saat ini sedang terancam. Dia jelas disiksa, Steve!" Clara mulai emosi.


Steven menghela nafas, lalu membuka kaca mobil untuk memberi kode pada Renjun agar segera membawa mereka pergi dari sana.


"Aku akan mengantar kamu kekampus lagi. Jangan memikirkan hal ini terlalu berat, Clara. Percaya padaku, oke? Aku sedang mencarinya." tegas Steven sambil menggenggam tangan Clara.


Begitu Renjun masuk, Clara menarik tangannya. Lalu membuang wajahnya keluar. Tidak ingin bicara lagi. Steven juga diam. Tidak ada gunanya dia membujuk atau menjelaskan lebih. Karena dia sudah mengatakan apa adanya. Renjun yang merasakan hawa panas dibelakangnya segera menjalankan mobil. Cukup bingung, bahkan hadiah yang disuruh Steven ia siapkan masih ada dibagasi. Steven belum menyuruhnya untuk mengambilnya. Padahal dia sudah susah payah mencari banyak barang dan Steven hanya memilih satu.


Tadinya Steven berencana memberikannya setelah makan siang, namun keadaannya sama sekali tidak mendukung. Sehingga ia menundanya. Bukannya mendapat kesempatan, mereka malah kembali beradu argumen.


.


Clara, Tomas, Lusi dan seorang teman satu kelompok dengan Lusi sedang berada di salah satu perpustakaan terbesar disana. Semuanya sibuk dengan tugas masing-masing. Clara tahu sejak tadi ponselnya bergetar. Clara sudah mendapatkan dua pesan. Namun dia tidak memberitahunya pada Carlos karena isi pesan kali ini ingin menemuinya. Seseorang yang mengaku tahu dimana Jun disekap. Namun ia tidak ingin Clara memberitahu orang lain. Dengan alasan yang sangat klasik. Clara yang panik dan ingin segera menemukan titik terang dimana Jun berada, menyetujuinya. Apa lagi saat ia mengingat tanggapan Steven yang seolah tak serius, membuat Clara tidak lagi berpikir panjang.


Clara menyelinap saat Carlos sedang dialihkan oleh ponselnya, sepertinya ia ditelepon oleh seseorang. Clara sampai dipintu belakang perpustakaan dan keluar dari sana. Melirik kanan kiri untuk mencari orang yang mengiriminya pesan.


"Mencariku?"


Clara menoleh, betapa terkejutnya dia bahwa Raka yang muncul. Dia segera mundur namun pintu ditutup dari dalam oleh seseorang.


"Ka ... kamu yang mengirim pesan?" tanya Clara, berusaha memberanikan diri dan berdiri dengan benar.


"Ya kak Clara." Raka melangkah perlahan mendekatinya, Clara juga perlahan melipir kesamping, namun kedatangan orang lain membuat fokusnya teralih. Dengan mudah Raka membekapnya dan menyeretnya pada mobil yang sudah dia siapkan.


"*****!" umpat Carlos, dia bahkan meneriaki dengan marah satu pengawal lain yang ternyata meninggalkan Clara saat dia menelepon tadi. Dia ternyata perlu ke kamar kecil.


Carlos berlari keluar dan yang lain memeriksa CCTV, tapi nihil. Mereka tidak menemuman Clara. cctv hanya memperlihatkan Clara yang pergi kearah belakang perpustakaan namun saat diperiksa dia tidak ada disana. Ternyata CCTV yang berada di pintu belakang telah dirusak. Karena itu mereka kehilangan jejak.


Carlos tentu saja panik, ditambah teman-teman Clara yang mengerubunginya meminta penjelasan. Bahkan Tomas sudah ingin melapor pada polisi kalau tidak ditahan oleh Carlos.


Dengan rasa takut yang teramat besar, Carlos memberanikan diri menelfon Steven. Setelah telfon diangkat, ternyata Renjun yang menjawabnya.


"Tu ... tuan dimana?" tanya Carlos gugup.


"Sial! kenapa kamu gugup? jangan bilang sesutu yang buruk terjadi pada Nona!"


"Maaf, tapi Nona Clara menghilang." kata Carlos. Perasaan takut dan rasa bersalah menggerogotinya. Dia menjelaskan keadaannya dengan rinci pada Renjun.


Sementara itu dikantor, setelah Renjun menerima penjelasan Carlos, dia segera berlari menuju ruang rapat. Tadinya ia hanya berencana mengambil ponsel Steven yang tertinggal, tidak menyangka akan mendapatkan kabar buruk. Dia merasa dunia akan kiamat karena tahu kemarahan Steven sangat mengerikan.


Pintu terbuka dengan keras karena Renjun yang terburu-buru. Seluruh atensi mengarah padanya.


"Tuan! Nona Clara!" katanya tegas. Sorot mata Renjun sudah membuat Steven mengerti. Dia segera keluar dengan tergesa-gesa.


"Katakan!" perintahnya sambil jalan menuju lift untuk segera turun.


"Nona menghilang saat diperpustakaan, Carlos sudah memeriksa seluruh perpustakaan tapi dia tidak ada. Nona terakhir terlihat pergi sendirian menuju belakang perpustakaan. Sayangnya cctv di pintu keluar dirusak."

__ADS_1


Steven tidak menjawab, Renjun tidak bisa mendefenisikan lagi wajah mengerikan Steven. Pria itu bahkan merasa merinding dan jantungnya seakan ingin melompat keluar karena takut. Takut dia juga akan terkena imbas kemarahan Steven.


Steven menelfon Willi yang sedang istirahat di salah satu hotel karena jetlag yang dia alami bersama dengan beberapa anggota yang bisa berbahasa inggris. Rencananya ia akan menemui Steven untuk menerima tugas baru untuknya.


"Will, datang sekarang!" katanya dingin.


Sesampainya di rumah, semua sudah berkumpul. Seluruh pengawal berbaris di aula ruang tamu. Semuanya menunduk, Carlos yang berdiri paling depan, segera berlutut saat Steven berhenti tepat dihadapan mereka.


"Tuan ... saya__"


Dug!!


Steven tidak menunggunya selesai bicara. Dia melayangkan tendangan keras kerahang Carlos hingga pria itu tersungkur. Lalu beralih pada satu pengawal lain, menarik postol dari sakunya dan menembak kaki pengawal itu.


Carlos kembali duduk dan berlutut, tahu hukuman tuannya belum berakhir. Dia bahkan tidak menyeka darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.


"Aku sudah memberimu peringatan sebelumnya," kata Steven. Lalu mengarahkan pistolnya kepada kepala Carlos yang bergetar ketakutan.


"Tuan..."


Willi datang tepat waktu setelah dengan cepat menemukan mension ini. Karena ini pertama kalinya dia kesini. Mantan tentara itu bahkan dengan berani menyela Steven yang marah. Sepertinya mentalnya sudah cukup kuat dari sebelumnya.


Steven tidak meliriknya, dia menggerakkan sedikit pistolnya dan melepaskan tembakan yang mengenai daun telinga Carlos. "Kalau sampai aku kehilangan Clara, maka nyawamu akan menjadi penebus pertama." kata Steven dingin. Suara rendahnya membuat suasana semakin mencekam.


Steven duduk diatas sofa dengan wajah dinginnya. Renjun membisikinya mengenai apa yang terjadi. Setelah mengerti, Willi segera mendekati Steven yang menatap ponselnya.


"Tuan ... apa perintah anda?" tanyanya.


"Menurutmu?" Desis Steven tampa menoleh.


"Saya akan mulai membuat strategi kalau kita memiliki gambaran keadaan rumah musuh anda." jawabnya dengan penuh percaya diri.


"Cari dan buat!" sahut Steven.


Tidak lama setelah ia mengatakan hal itu, ponsel Steven berdering. Steven menunjukkan nomor yang menghubunginya, bisa ia pastikan itu dari musuhnya. Billi langsung melacaknya dengan perangkat yang sudah mereka bawa. Bersama anggotanya tentu saja. Karena bukan Billi yang ahli dalam hal itu.


"Ya?"


"Mencari gadismu, bajingan?"


Steven mengeraskan rahangnya, "Akhirnya kamu menghubungiku."


........


sedikit pendek di episode ini. Maafkan typo yang tak berkesudahan.


hehehhehe....


Aku buat pendek karna rasanya pas aja berenti disitu


Mohon dukungannya, komen untuk perbaikan krn aku penulis yg belum berpengalaman.


Ok,


cuap2nya selesai.

__ADS_1


terima kasih udah mau baca cerita ini....


i love u gays....😘😘😘😘


__ADS_2