
Pagi dimana Clara sedang termenung di samping makam ayahnya. Di dampingi Sindy dan Sinta. Mereka sebisa mungkin menenangkan Clara yang sejak tadi malam hanya diam. Dia tidak ingin pelukan siapapun, dia hanya ingin ayahnya. Baginya semua orang tetap akan pergi. Tidak ada yang peduli padanya. Dia kehilangan satu-satunya orang yang menyayanginya. Pergi dalam keadaan sulit dan tidak bahagia akibat dirinya. Penyesalan Clara menumpuk-numpuk dalam kemarahan. Ibu tirinya yang dulu selalu mengaku mencintai ayahnya pergi saat keadaan ayahnya menjadi sulit. Apa itu defenisi cinta?
Kini Clara bertanya-tanya dalam otak kecilnya, orang seperti Steven yang mengaku mencintainya, apakah defenisi cinta baginya? Meletakkan dirinya pada keadaan tampa pilihan. Clara frustasi, lagi-lagi Steven yang mengurus seluruh biaya pemakaman melalui bawahannya. Orang baru bernama Willi menemuinya, menyampaikan segala sesuatu mengenai penggadaian yang sudah diselesaikan. Hak milik toko dan rumah sepenuhnya ada di tangannya. Lagi-lagi Clara merasa kecil dan tak berdaya. Perasaan campur aduk atas eksistensi pria yang saat ini tidak memiliki ikatan apapun namun menguasai seluruh hidupnya. Bahkan rasa cinta dihatinya selalu ternodai oleh rasa marah dan kecewa. Clara hanya ingin hidupnya miliknya sendiri. Bukan dikendalikan orang lain. Dia ingin berdiri pada kakinya sendiri dan tidak ingin berhutang pada siapapun.
Sementara itu, Steven tidak bisa tidur dan terus terjaga. Berulang kali memiliki keinginan untuk pulang. Tapi lagi-lagi otaknya memenangkan peperangan. Logikanya tidak bisa meninggalkan pertemuan besok. Bukan masalah uang, tapi dia memang merasa jika saat ini ia pulang dan Aston menyelidiki penyebabnya, Clara mungkin bisa ikut dalam permainannya nanti.
Paginya Steven sudah bersiap, meskipun hanya bisa tidur selama dua jam. Dia terlihat cukup segar saat turun ke bawah dimana Yuno sudah menunggu bersama seluruh pengawal.
Saat mereka keluar, seorang pria sudah menunggu mereka. Memberikan sapaan yang sangat formal. Menuntun mobil mereka untuk menuju ketempat pertemuan.
Mereka sampai pada sebuah gedung yang diketahui Steven sebagai pusat penelitian obat farmasi dari salah satu perusahaan Aston. Mereka dituntun memasuki lantai lima. Sedikit aneh dengan araitektur lantai ini yang terkesan tertutup dari akses luar.
"Selamat datang, Steven!"
Aston menyambutnya dengan ramah. Tersenyum penuh maksud dan segera menuntun mereka memasuki satu-satunya pintu besi dengan kode akses bola mata Aston sendiri.
Seluruh yang ikut bersamanya tidak diperbolehkan masuk bahkan Yuno. Hanya mereka berdua yang masuk kedalam. Tempat dimana setidaknya ada sepuluh orang dari berbagai usia menyambut mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Mereka adalah para jenius yang bekerja untukku. Yang akan menciptakan sistem baru pada dunia. Dimana kita akan menguasai manusia. Siapa yang pantas hidup dan siapa yang pantas mati. Kami juga mengembangkan formula terapi untuk berbagai penyakit mematikan."
Steven melihat berbagai jenis manusia di dalam sebuah tabung kaca. Hidup dalam keadaan koma. Bahkan ada beberapa bayi. Steven cenderung keras dan hatinya tidak mudah tersentuh, tapi bukan bearti pemandangan ini tidak mengusiknya.
"Terlalu cepat mempercayiku untuk proyek rahasiamu." ujar Steven dingin, "Terlalu cepat juga bagimu untuk mencoba menentang kekuasaan Tuhan, dimana hidup dan mati tidaklah ditangan kita, Tuan Aston." Pandangan mereka bertemu dengan sorot dingin dan sarat akan keangkuhan. Steven dengan berani telah memantik perdebatan.
Aston tersenyum disudut bibirnya. Dengan lambaian tangan menyuruh orang-orang yang ada meninggalkan mereka. Kini, Aston sepenuhnya menghadap pada Steven yang juga mengikuti pergerakannya.
"Tuhan tidak menciptakan otak kita untuk kesia-siaan Steven. Kamu dan aku memiliki kampuan yang tak dimiliki orang lain. Kita hanya tidak boleh menyia-nyiakannya."
"Jenis kemampuan apa yang anda maksud?"
"Kita seperti alat fotokopi otomatis. Sistem kecerdasan level tertinggi yang tak terbatas. Jika kita mau, kita bisa menguasai dunia ini."
Bola mata Steven bergulir ke beberapa korban penelitian. Merasakan gejolak aneh yang berpusat diperutnya. Sekejamnya dia, Steven bukan seorang Psikopat.
"Mereka hanya orang dengan kemungkinan hidup rendah yang tak memiliki harapan, hatimu tak perlu terganggu."
Bola matanya kembali menatap ke dalam netra coklat terang itu. Ya, dia mengerti sekarang. Perasaan yang ia rasakan saat pertama kali bertemu dengan pria ini. Aston memiliki kecerdasan alami sepertinya. Level yang berbeda dari para jenius-jenius lainnya. Tak terbatas, itulah mereka. Karena itu juga, mereka bisa berubah jadi paikopat gila jika terlalu banyak menggunakannya. Steven sering merasakan dorongan aneh itu saat dulu ia mengikuti olimpiade di Singapura. Rasa puas akan pengakuan, sehingga ingin lebih dan lebih. Bahkan sampai saat ini ia masih melawannya. Karena itu Aston seperti replika lain. Sayangnya Steven tumbuh dengan cinta ibu, ayah dan semua teman dan gurunya. Sejak kecil Steven memang jadi idola karena kecerdasannya. Karena menekan sisi jahat yang muncul bukan hal yang sulit baginya.
"Anda memiliki cinta, Tuan?"
"Apa yang coba kamu katakan?" Aston jelas mulai tak senang. Tapi Steven tak peduli.
"Keluarga, anda tidak mencintai mereka?"
Aston tertawa, tawa hambar yang menakutkan. Aston mengerti Steven sedang menarik perasaan murni manusia dalam dirinya.
"Kamu masih memiliki sisi murni, aku memahaminya karena usiamu. Tapi Steven, perlahan itu akan lenyap seiring perkembangan usiamu. Aku akan bersabar untuk itu. Tampaknya aku memang terlalu cepat."
Steven tidak menjawab. Dia menatap seisi ruangan, memindai dari sudut matanya. Kemudian dia mengalihkan seoenuhnya pada benda lunak nan kecil di sisi salah satu mikroskop. Otak bayi bagian tengah. Gejolak aneh diperutnya kembali muncul. Bukan karena simpati atau takut, Steven tahu dia tidak memiliki stok perasaan itu terlalu banyak. Gejolak ini lebih ketidak setujuan. Satu sisi yang masih bisa ia pertahankan, cinta antar hubungan sesama manusia.
"Mari keluar untuk membicarakan bisnis lain, hal ini bisa kita tunda sampai kamu bisa menyamaiku."
Aston membawa mereka keluar. Orang-orang yang tadi masuk ke satu sisi ruang lain kembali keposisi masing-masing. Tampa bicara selayaknya robot. Melanjutkan pekerjaan masing-masing. Mata mereka kosong dan wajah mereka tak menunjukkan ekspresi berarti. Tidak sama saat menyambut kedatangan Steven tadi.
Sesampainya diruang kerja Aston, mereka akhirnya membicarakan kerja sama. Aston dengan mudah menyetujui ikut dalam proyek kerja sama. Tidak banyak syarat dan hanya menandatangani isi kontrak dengan luwes tampa beban. Yuno bahkan sampai tercengang, namun tidak untuk Steven yang tahu keinginan Aston. Aston hanya ingin membuatnya tumbuh kuat dengan cepat. Seperti mendidik anak yang akan menjadi penerusnya. Membuat pijakan kuat tak tergoyahkan.
.
Steven menyerahkan pengembangan selanjutnya pada salah seorang kepercayaannya yang lain. Sementara ia dan Yuno segera kembali ke Indonesia. Dia perlu Yuno untuk pertunjukkannya nanti sebelum mengutus Yuno ke Amerika.
Steven total kacau. Dia tidak menyangka Aston akan seberbahaya ini, menjadikan manusia hidup sebagai alat penelitian. Sekarang, mau tak mau dia akan terus diawasi olehnya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya mengikuti alur. Mengokohkan pijakan seperti keinginan Aston tentu dengan tujuan berbeda.
Setibanya di Indonesia Steven tidak langsung ke rumah. Ia bersama Willi pergi menuju satu-satunya tempat yang ingin ia kunjungi. Menemui seseorang yang saat ini sedang hancur bersama rasa penyesalannya.
Rumah Clara tampak sepi. Ini hari kedua sejak kematian ayahnya. Jam menunjukkan pukul 11 malam karena Steven cukup siang dari Amerika.
Steven mengetuk pintu, namun ia tidak menemukan jawaban apapun setelah beberapa saat. Ia mencoba sekali lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Steven bertanya pada dua pengawal yang menjaga Clara dalam diam.
"Nona tidak keluar Tuan, Setelah temannya bernama Sindy pulang dia tidak keluar lagi."
Steven akan mengetuk untuk ketiga kalinya ketika pintu itu terbuka. Menampilkan gadis yang sangat berantakan dari atas sampai bawah. Mata sembab dan jelas lebih kurus dari sebelumnya.
Clara mendongak, terpaku pada wajah Steven yang menatapnya. Ada kobaran amarah disana. Seakan ingin membakar Steven sampai hangus. Dengan rahang mengeras, Clara mundur dan akan membanting pintu sebelum tangan itu menahannya. Clara mencoba mendorong namun tenaganya yang lemah tidak bisa mendorong bahkan hanya untuk 1 cm.
Steven meraih pergelangan tangannya, dengan mudah membawa tubuh ringkih itu masuk dalam peluknnya. Clara meronta, memukul tampa tenaga punggung Steven. Meluapkan segala emosi dan rasa rindu yang bercampur baur.
"Aku membencimu! Kamu penyebab ayahku membenciku disisa hidupnya!" Suara Clara tenggelam dalam pelukan. Steven mendekapnya terlalu erat.
"Aku tahu, maafkan aku." bisik Steven.
"Tidak mau! Pergi dari hidupku!"
"Maaf Clara...maafkan aku," suara Steven melirih.
Clara menangis, ia lelah, kurang tidur dan tidak makan sejak kematian ayahnya. Tubuhnya akhirnya meluruh tampa tenaga. Steven mengangkatnya, membawanya masuk ke mobil dan memerintahlan pemgawal Clara mengunci pintu.
.
Paginya, Clara bangun dalam keadaan linglung. Dia ada di dalam kamar yang terasa familiar. Mewah dan berkelas dengan seluruh barang yang ditata sesuai seleranya. Mengerjap beberapa kali sampai ingatan tadi malam merasukinya.
__ADS_1
Dia ingat sekarang. Ini adalah kamarnya dirumah Steven. Mension mewah milik pria itu. Clara hendak bangun sebelum rasa pusing menghantamnya begitu saja.
Meringis lirih dan baru sadar tangannya juga terpasang selang infus. Bajunya sudah diganti dan tubuhnya juga sudah bersih. Pintu terbuka, serombongan pelayan wanita dan seorang dokter masuk ke kamarnya.
"Anda sudah bangun, Nona?" tanya pelayan.
"Bagaimana perasaanmu? apa yang sakit?" lanjut dokter pria yang terlihat setua ayahnya.
"Panggil saya dr.Boy Nona Clara. Saya akan menjadi dokter pribadi anda mulai sekarang."
"Huh? aku tidak butuh dokter pribadi. Dimana dia?"
"Tuan masih istirahat karena jetlag Nona. Beliau tidur dikamarnya." jawab pelayan.
"Jam berapa ini?"
"Pukul 10 pagi, Nona."
"Kepalaku sakit..." lirih Clara.
Dokter Boy meminta Clara berbaring dan menyuntikkan sesuatu pada selang infusnya. Setelahnya ia baru menjelaskan kalau itu adalah obat anti nyeri. Clara kekurangan cairan dan asupan makanan. Karena itu ia menjadi lemah dan sakit.
Pukul 12 siang, Steven masuk kedalam kamarnya. Clara sedang disuapi bubur oleh pelayan pribadinya yang dulu ditugaskan untuknya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Kamu akan pergi lagi?" tanya Clara balik.
Memperhatikan pakaian formal dan rapi yang dikenakan Steven. Dalam hati mengagumi betapa ia terlihat luar biasa dengan pakaian itu. Steven tersenyum, duduk disisi kasur dan mengambil alih bubur.
"Aku akan mengadakan pertemuan dengan pemegang saham. Setelahnya melakukan konfrensi pers."
Clara menatapnya. "Kamu akan muncul sebagai pemilik resmi GGF? Kamu akan mengekspos dirimu?"
Steven tersenyum, menyodorkan sendok kedepan mulut Clara yang otomatis terbuka. "Kamu bisa menontonku di TV. Ini akan ada di Breaking news," jawabnya.
"Semua orang akan terkejut."
"Istirahatlah, aku akan segera kembali."
Steven bangun dari duduknya. Masih memberikan senyum simpul sebelum pertanyaan Clara melenyapkannya.
"Kapan aku diizinkan pulang? aku tidak mau tinggal ditempat ini."
"Ini rumahmu mulai saat ini."
Rahang Clara mengeras. Steven tahu ini akan jadi pertengkaran sehingga ia memilih meninggalkan Clara.
Clara turun dari kasurnya dengan emosi. Menyeret tiang infus dan meraih remot TV. menyalakannya dan menonton kartun. Berusaha melenyapkan nama Steven yang membuatnya ingin mengumpat. Steven itu pemaksa, hal itu yang tak disukainya. Dulu ia menurut karena rasa takut dan cinta yang membutakannya, tapi sejak kematian sang ayah rasa takutnya sirna begitu saja. Yang ada saat ini hanya rasa marah.
Clara tertidur saat ponselnya berdering. Ia terbangun dan dengan linglung mengangkatnya.
"Halo?"
"Clara kamu dimana?"
Clara sepenuhnya sadar. Ini suara Aldo dan secara bersamaan TV yang masih menyala menampilkan Steven di layarnya. Sedang berbicara dengan penuh wibawa disamping Yono.
"Clara?"
"Ya, kak Al."
"Kamu tidak dirumah? aku didepan rumahmu. Membawakanmu makanan,"
Clara tidak bicara sampai Steven meninggalkan tempat. Mengabaikan semua pertanyaan wartawan. Yuno dan beberapa pengawal melindunginya. Setelah Steven pergi, Yuno kembali dan menggantikan Steven meladeni beberapa pertanyaan. Memberikan penjelasan sejelas mungkin. Tidak lama, hanya sekitar 10 menit. Yuno juga meninggalkan ruangan.
Layar beralih pada pembawa acara yang mendiskusikan berita menghebohkan itu dengan nara sumber. Clara mematikan TV. fokus sepenuhnya pada Aldo yang ikut diam. Sepertinya dia mendengar suara TV dan menebak apa yang terjadi.
"Kak Al? Aku tidak dirumah. Pulanglah," kata Clara.
"Kamu dirumahnya? beritahu aku alamatnya. Aku akan jemput kamu."
Clara mendesah frustasi. Aldo keras kepala.
"Tidak perlu, aku sedang istirahat kak."
"Clar...kalian sudah putus, kan? kenapa kamu masih sama dia? dia mengancammu?"
"Kak Al...pertunangan kakak semakin dekat kak...please jangan seperti ini lagi. Kasian kak Sindy."
"Pertunangan apa? tidak akan ada lagi Clar...semua batal. Aku sangat senang!"
Clara mengernyit heran. Apa maksudnya dengan batal? sejak kapan? kenapa dia baru tahu.
"Kita harus ketemu, kak."
Maka, Clara segera membuka paksa infus ditangannya dan menghentikan darahnya dengan tisu. Mengganti baju dan turun kebawah dengan tergesa-gesa.
"Nona, anda akan kemana?"
__ADS_1
Clara berhenti tepat di depan pintu. Berbalik menghadapi Willi.
"Aku mau keluar,"
"Tuan belum mengizinkan anda keluar." Netra Willi turun ke punggung tangan Clara yang saat ini mulai mengeluarkan sedikit darah lagi. Sepertinya Clara kurang lama menekannya tadi. "Kembalilah ke kamar anda Nona, sebentar lagi kemungkinan Tuan kembali."
"Aku bukan kalian yang harus patuh padanya bukan? aku bukan bawahannya. Bukan orangnya dan aku membencinya saat ini." ketusnya.
Berbalik dengan kaki menghentak dan dengan kasar membuka pintu. Berjalan menuju gerbang yang jauhnya satu kilo lebih sambil menunggu taksinya datang.
Begitu taksi sampai, Clara segera masuk dan pergi ke tempat pertemuannya dengan Aldo. Ingin tahu alasan apa yang membuat mereka membatalkan perjodohan. Setahunya kerja sama dan hubungan keluarga mereka sangat dekat hingga tidak mungkin batal. Clara hanya memikirkan Sindy. Dia adalah pihak yang paling terluka disini.
Sesampainya di sebuah kafe yang cukup ramai, Clara masuk. Menghampiri Aldo yang sudah menunggunya disana.
"Kamu terlihat pucat,"
"Ini bukan masalahnya kak, katakan kenapa kakak membatalkannya. Bagaimana kakekmu mengizinkannya?"
"Aku tidak tahu harus senang atau kawatir disini," Aldo tersenyum melihat raut kebingungan diwajahnya, "Tapi pihak Sindy yang membatalkannya."
"Apa?! tidak mungkin! kak Sindy sangat mencin__"
"Kenyataannya seperti itu, Clar. Kamu mau tahu siapa yang membuat hal itu terjadi?" potong Aldo.
Clara semakin bingung. Diwajah Aldo bukan hanya rasa senang, tapi ada kilatan marah yang berkobar.
"Mantan pacarmu, Steven!"
Clara terpaku, tidak mengerti kenapa Steven tertuduh disini. Apa hubungannya dengan Steven. Melihat kebingungan Clara, Aldo akhirnya menunjukkan artikel yang memberitakan jatuhnya saham Roulet dan pengaruhnya pada perusahaan Ramajaya group. Perusahaan itu akhirnya bisa kembali stabil dengan bantuan GGF group sebagai rekan bisnisnya. Tapi PT. Roulet terpaksa gulung tikar.
"Aku tidak mengerti," kata Clara.
"Steven yang membuat saham kakekku dan Ramajaya jatuh. Hal itu karena kakekku yang membuatnya marah. Kakekku tidak tahu, ya...kami dan kita semua tidak tahu kalau Steven adalah pemilik sekaligus pendiri dari GGF group."
Melihat Clara yang tidak terkejut akan identitas Steven membuat Aldo tertawa hambar. Ada kemarahan lain yang hadir di wajah itu.
"Jadi kamu udah tahu siapa dia? kenapa aku jadi seperti orang bodoh di depanmu?"
"Apa yang membuat Steven marah? sampai dia menghancukan usaha kakek kak Al?" tanya Clara, mengabaikan kata-kata Aldo.
Aldo belum sempat menjawab saat Willi menghampiri mereka.
"Nona, Tuan ada diluar dan meminta anda untuk menemuinya."
Clara mendengus, segera bangkit dan berpamitan pada Aldo sebelum keluar. Namun alih-alih masuk ke mobil Steven, dia malah masuk ke dalam taksi yang terparkir disana.
"Ikuti dia, Will!"
Steven sebenarnya sangat lelah. Dia baru saja mematikan teleponnya karena ibunya yang terus-terusan menghubunginya. Tidak puas akan penjelasan singkat darinya. Agaknya ibunya masih belum mempercayai apa yang sudah di capai sang anak. Tidak menyadari betapa anaknya bukanlah seperti anak biasa lainnya. Berbeda dengan ayahnya yang hanya berusaha menerima. Karena sebelumnya, Steven sudah memberi petunjuk padanya.
"Tuan, Apakah anda akan masuk?"
Clara memasuki gedung perusahaan Ramajaya. Sepertinya Sindy yang memintanya menemuinya disana.
"Tidak perlu, kita pulang. Perbanyak pengawal yang mengawasinya. Ingat jangan menyentuhnya kalau tidak diperlukan,"
"Baik Tuan."
.
Clara duduk dihadapan Sindy disofa ruang kerjannya. Menggenggam tangan wanita itu. "Apa benar Steven yang membuat kalian batal tunangan?" tanya Clara.
"Jangan menyalahkan dia, Steven marah karena kakek Aldo yang serakah." jawab Sindy.
"Serakah?"
"Kakek Aldo ingin menggunakan Steven untuk membuat nama sekolah sampai keluar negri. Mengekspos namanya untuk kepentingannya. Steven tidak suka ide itu karena dia punya rencana sendiri. Lagi pula siapa yang sudi dijadikan tumbal bisnis orang lain saat kamu sendiri memiliki kekuasaan yang banyak,"
"Kakak tahu dari mana?"
"Kakek Aldo mengakuinya di depan ayahku."
Clara menarik tangannya. Netra kelam itu terpaku pada lantai. Tangannya menggenggam erat.
"Aku tidak tahu kalau Steven ternyata pendiri GGF dan memiliki tumpukan saham dimana-mana. Dia lebih mengerikan dari yang aku bayangkan."
Ada nada kekaguman dalam suara itu yang membuat Clara tidak nyaman. Meskipun dia tahu bahwa Sindy mungkin tidak memiliki maksud lain.
"Kak, lalu apa yang akan kakak lakukan? kakak dangat mencintai kak Aldo."
"Tidak ada, untuk saat ini ayahku tidak akan bisa dibujuk. Dia malah ... " Sindy berhenti bicara, menatap Clara dengan sorot tak terbaca.
"Ada yang salah, kak? ayah kakak apa?"
'memintaku mendekati Steven dan mengambil hatinya.'
Sindy hanya bisa mengatakannya dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakannya. Inilah bisnis, Clara hanya gadis polos yang tidak akan mengerti. Sindy memberikan senyum seorang kakak seperti biasa. Mengajaknya membicarakan hal lain. Mengubah topik pembicaraan.
Sepulangnya dari sana, Clara tidak pulang ke rumah Steven. Ia kembali kerumahnya sendiri. Memasuki kamar ayahnya dan berbaring disana dengan memeluk foto pernikahan ayah dan ibu kandungnya. Memikirkan dirinya yang tinggal seorang diri. Menghadapi dunia yang besar tampa kekuatan apapun. Lalu ingatannya beralih pada Steven. Bagaimana menakutkannya dia. Clara meraih ponselnya. Memeriksanya, tidak ada panggilan atau pesan dari Steven. Memilih abai, ia mencoba membuka sosial media. Betapa ia semakin merasa kecil saat semua orang dari berbagai kalangan menjadikan Steven topik panas diberbagai forum diskusi.
__ADS_1
Aku hanya perlu terus hidup. Lulus dan mencari kerja. Aku sendirian, Steven...kita hanya harus saling menjauh
Dengan semua pikiran kacaunya, Clara tertidur.