
Kematian Violet menjadi pukulan besar bagi West. Putri sekaligus penerus satu-satunya kerajaan bisnisnya meninggal. Dokter dan polisi memberikan keterangan yang sama terkait kematiannya. Yaitu akibat serangan Jantung, bukan karena kanker yang banyak dikira semua orang. Karena siapapun tahu, bahwa dia berjuang melawan penyakitnya selama ini. Meskipun dinyatakan sembuh beberapa waktu terakhir, tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa sembuh.
Seluruh rekan bisnis West menghadiri pemakaman. Termasuk Steven yang datang bersama Jun. Sementara Aston datang bersama dengan asisten pribadinya. Suasana berkabung terasa mencekam akibat atmosfir duka. Ditambah dengan langit gelap dan angin lembab yang menandakan akan turunnya hujan. Benar saja, baru setengah jalan dari prosesi pemakaman, hujan lebat mengguyur. Supir Steven datang membawa dua payung lalu memberikannya pada Jun dan dia sendiri memayungi tuannya.
Setelah acara pemakaman selesai, Steven menghampiri West. Dengan wajah datarnya, ia mengucapkan kalimat penghiburan. West yang menaruh dendam dan curiga padanya, memeluknya untuk membisiki Steven. Berbicara serendah mungkin karena mereka berada di tengah-tengah kerumunan dan media yang meliput.
"Aku akan menghancurkanmu nak. Kamu yang menyebabkan dia menderita di akhir hidupnya."
Steven tersenyum, menepuk punggung tua West pelan. "Selamat mencoba, aku menunggumu. Salahkan anakmu yang berani menyentuh wanitaku." balas Steven. Lalu dia mengurai pelukannya. Menarik diri dan memberikan penghormatan terakhir sebelum berbalik pergi.
Steven melewati Aston yang berada di belakangnya sejak tadi. Hanya meliriknya sekilas tampa mengatakan apapun. Begitupun Aston, pria kepala empat itu hanya mengangguk nyaris tak terlihat. Dia memberikan penghormatan terakhir tampa memeluk West. Siapapun tahu mereka memiliki hubungan kurang baik, sehingga tidak heran keduanya bersikap dingin satu sama lain.
Steven dan Jun sudah kembali ke mension. Steven langsung naik ke atas untuk mengganti baju. Ketika selesai ia mendapati Clara sedang menatap ke arah luar balkon. Hujan turun dengan lebat, Clara bahkan tidak menyadari Steven sudah berdiri di belakangnya. Carlos yang sejak tadi menemani Clara undur diri ketika Steven datang.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Steven sambari membungkuk dan mengecup pipi Clara yang terasa dingin.
"Disini terlalu dingin, aku akan membawamu masuk."
Clara hanya diam saja, bahkan saat Steven menggendongnya menuju kamar, dia tidak menatap mata kekasihnya itu. Sejak pembunuhan yang mereka lakukan kepada Violet, Clara tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya hanya datar dan kosong.
Steven memakluminya karena dia tahu apa yang dipikirkan Clara. Namun sejak awal dia memang tidak berniat menjelaskan atau minta maaf akan perbuatannya. Baginya, setuju atau tidak, dia tetap akan melenyapkan Violet.
.
Minggu berlalu, Clara mulai kuliah kembali. Jun akan berperan sebagai juru bicaranya saat diperlukan. Tangannya sudah bisa digunakan meskipun belum senormal biasanya. Clara masih akan merasakan nyeri sesekali jika dia terlalu sering menekuk jarinya.
Jun dan Lusi banyak membantunya. Meskipun dia masih tidak bisa bicara, keduanya akan membantunya tentang segala hal. Rumor buruk yang dulu menimpanya hilang begitu saja. Orang-orang yang dulu membencinya berbalik simpati sejak Steven mengadakan jumpa pers saat itu. Menyatakan bahwa pertunangannya dengan Violet hanya bisnis yang dipaksakan dan Clara adalah wanita yang ia cintai.
Buntut akibat pernyataan itu, tentu saja pada bisnis Steven sendiri. Mereka yang loyal pada West memutus kerja sama dengannya. Steven mengalami kerugian besar di pasar Amerika. Namun Arnold bekerja sangat keras untuk pasar Asia. Yuno juga melakukan pekerjaannya dengan baik. Begitupun perusahaan sang ayah di Korea. Semuanya menyokong kerugian induk perusahaan dengan baik. Sehingga dalam seminggu ini Steven berusaha menstabilkan keadaan di dalam dan diluar perusahaan.
"Kematian Violet tampaknya membuat publik lupa akan apa yang ia lakukan. Beberapa media yang dikuasai oleh West melakukan pekerjaannya dengan baik."
Steven sedang berada di dalam ruang kerjanya bersama Aston yang datang untuk mengunjunginya.
"Menaikkan kasus tidak akan membuat publik menilai dengan baik, mereka akan balik menyerang." jawab Steven.
"Kamu benar, tapi kita bisa menyelesaikan semua itu dengan satu peluru bukan?" Steven menoleh padanya, begitupun Aston yang kini menghadap padanya. "Kebetulan orangku berhasil mencampur minumannya dengan tentaraku, bagaimana menurutmu?"
*Tentara \= senjata biologis yang menyebabkan serangan jantung.
Steven menatap mata yang penuh ambisi itu dengan banyak pertimbangan. Steven sadar, orang yang ada di hadapannya saat ini adalah monster sesungguhnya. Jika Steven tidak hati-hati, dialah yang akan menjadi target selanjutnya.
"Kamu akan membunuhnya?"
"Kenapa tidak? Menyusahkan harus melawannya. Dengan kamatiannya, seluruh saham dan aset kekayaannya akan jatuh ke tangan istrinya. Wanita bodoh yang hanya bisa menghabiskan uang. Sangat mudah membuat West group hancur ditangannya."
Steven memutup matanya selama beberapa detik sambil menghela nafas. Dia kembali menghadap jendela. "Terdengar sangat kotor, terlihat seperti pengecut, Aston."
Mendengar itu, Aston mendengus. "Kamu baru saja mengtakan itu untuk dirimu sendiri." sahutnya.
"Ya, aku tahu. Karena itu sudah cukup. Aku melakukannya karena dendam. Bukan untuk uang. Lagipula terlalu mudah jika seperti itu, tidak ada tantangan bukankah akan membosankan?"
__ADS_1
Aston terkekeh pelan, dia menepuk pundak Steven dengan keras dua kali. "Jiwa muda memang berbeda. Baiklah nak, aku akan membiarkanmu melawannya. Katakan jika kamu sudah lelah." kata Aston. Lalu dengan kaki panjangnya dia melangkah pergi.
.
Steven pulang dengan wajah dan pikiran yang lelah. Clara masih sama dinginnya. Gadis itu juga masih menolak untuk menatap matanya. Karena hal itu, Steven jauh lebih lelah dan stres dibanding karena pekerjaan.
"Bagaimana dia di kampus?" tanya Steven saat dia hanya berdua dengan Jun. Clara sedang membersihkan diri dibantu pelayan wanita sejak ia tidak bisa menggunakan tangannya.
"Masih sama, tapi teman-temannya mulai bersikap ramah. Beberapa berani mengajaknya bicara dan memberi semangat." Jun yang sejak awal menatap ke arah luar berbalik menghadap Steven. Keduanya kini berhadapan satu sama lain. "Kenapa anda menunjukkan hal itu padanya? Anda bisa membunuh wanita itu diam-diam. Kenapa anda memilih untuk menunjukkannya?"
"Karena ... aku ingin dia tahu," Steven menjedanya sesaat, wajah datarnya menunjukkan ekspresi kelam yang mengikat, membuat Jun merasa bahwa Steven saat ini diselimuti pikiran-pikiran gelapnya. "Sisi gelap dari duniaku, mulai saat ini ... aku akan membuat Clara yang naif bisa kuat. Dia harus siap dikelilingi manusia bermuka dua, licik dan kejam." lanjut Steven.
Tentu saja, Jun setuju untuk membentuk karakter Clara agar lebih kuat. Namun dia tidak setuju dengan cara tuannya. Menurut Jun itu terlalu ekstrim. Sejak Clara dan hubungannya dengan Steven di ekspos ke media, Clara mulai menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Netizen berusaha mencari latar belakangnya. Namun tentu saja mereka tidak akan mendapatkan apapun. Steven sudah menghapus seluruh jejak digital termasuk sosial media Clara. Saat ini, satu-satunya akun media sosialnya hanya aplikasi chat. Itupun hanya untuk berkirim pesan.
Ponsel Steven bergetar, Renjun menghubunginya. Steven segera mengangkatnya karena tahu pasti ada sesuatu yang salah. Renjun tidak akan berani mengganggunya saat dia dirumah kecuali ada hal mendesak.
"Apa?"
Jun bersikap waspada saat wajah Steven terlihat mengeras.
"Katakan padanya untuk menemuiku besok pagi." kata Steven lagi. Lalu dia menutup teleponnya.
"Sesuatu terjadi, Tuan?" tanya Jun.
"Seseorang mencoba bermain denganku."
"Siapa?"
Steven menatap wajah Jun yang penasaran. "Jerry wang, dia mengancam dengan sebuah foto." Jerry wang adalah seorang produser film yang sejak lama menginginkan Steven menjadi sponsor filmnya.
Steven maju lalu selangkah sehingga jarak mereka hanya setengah meter. Mengangkat ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang baru saja dikirim oleh Renjun.
"Bukankah dia sangat pintar mengambilnya? Bagaimana bisa kamu akan terlibat dengan kekasihku?"
Jun meneguk ludahnya dengan kasar. Dia ingat saat itu dia memang tidak teliti dengan sekitar. Foto itu adalah foto dimana dia menggendong Clara turun dari kapal menuju mobil. Ada dua foto yang terlihat sangat intim karena sudut pengambilan kamera.
"Kenapa aku tidak tahu mengenai hal ini?" tanya Steven setelah dia memasukkan lagi ponselnya.
"Itu adalah hari dimana anda bertunangan, saya hanya mengajak Nona bermain untuk mengalihkan perhatiannya." jawab Jun.
Steven maju dan mencengkram kerah kemeja Jun dengan kuat. "Dimana saja kamu menyentuhnya!" desis Steven. Wajahnya memerah karena amarah, dia sangat membenci siapapun menyentuh Clara dengan tampa alasan.
"Saya hanya tidak ingin membangunkannya, saya tidak menyentuh dia dimanapun lagi." jawab Jun dengan tenang.
Steven terkekeh lalu melepaskan Jun begitu saja. Dia mengeluarkan rokok dari sakunya dan menyalakannya. Menoleh saat Clara keluar dari kamarnya bersama pelayan yang memohon izin kembali turun.
"Clara, kamu sudah selesai? bagaimana kalau kita makan malam diluar?"
Clara menatap Steven dan Jun bergantian. Meskipun dia hanya diam, namun ekspresinya menunjukkan bahwa dia mencurigai sesuatu terjadi. Steven membuang rokoknya lalu meraih pergelangan tangan Clara. Menyeretnya untuk turun dari sana. Clara menoleh kebelakang, menatap Jun yang juga menatapnya, ekspresi kawatir terpancar dari wajah gadis itu.
Clara melirik Steven yang berjalan disisinya dengan wajah bingung. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi, namun dia tidak punya dugaan apapun untuk menebaknya.
__ADS_1
Mereka masuk ke mobil yang dikemudikan oleh Billi. Jun tentu saja mengikutinya dengan mobil lain. Dia tidak akan pernah berada jauh dari mereka.
Steven sungguh gila. Itulah yang ada di benak Clara saat ini. Bagaimana bisa dia menyewa kapal pesiar hanya untuk makan malam? Clara bahkan tidak memakai pakaian yang bagus. Karena dia berpikir Steven hanya akan mengajaknya ke restoran biasa.
"Bukankah ini lebih baik dari pada kapal kecil yang kamu naiki bersama Jun?" Clara mengerjap dengan bingung.
Dia menoleh kiri dan kanan, namun hanya ada mereka dan satu pelayan yang menyajikan makanan. Setelah pelayan pergi, hanya tinggal mereka berdua di dalam aula itu.
"Ceritakan padaku, apa yang kamu lakukan saat itu dengan pengawalmu?"
Clara tidak mengerti kemana arah pembicaraan Steven. Pria itu memberikan Clara sebuah kertas dan pena. Clara yang selama ini enggan menatap Steven akhirnya menatapnya kali ini. Menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak mengerti.
"Saat kamu pergi dengan Jun, saat dimana aku ... " Steven tidak melanjutkan perkataannya. Karena Clara sepertinya sudah menangkap maksud perkataannya yang tadi. Terlebih dia tidak ingin mengucapkan kata 'pertunangan' yang hanya akan membuat suasana menjadi muram.
Clara menulis sesuatu lalu menyodorkan kertas itu pada Steven. Steven membacanya dengan kening bertaut, lalu dia menghela nafas guna mengatur ekspresinya agar tidak terlihat kesal. Sayangnya ia gagal melakukannya. Wajah kesalnya jelas bisa dibaca dengan mudah.
'Belajar speed boat, memancing, menikmati matahari tenggelam.' itulah yang ditulis Clara. Terdengar seperti kegiatan kencan pasangan petualang bukan? Jadi bagaimana Steven tidak akan kesal membacanya. Dia tentu saja cemburu berat.
Clara mengambil kertas lain lalu menuliskan sesuatu lagi. Menyodorkan kembali pada Steven.
'Kamu tidak bisa marah karena itu, kamu bahkan bertunangan dengan orang lain.'
Steven mengatubkan bibirnya. Dia seperti ditampar meskipun tidak merasakan sakit. Hanya bisa menatap Clara yang mulai memakan makan malamnya. Mau tidak mau dia ikut makan. Dia tidak punya kalimat lain sebagai penyanggah karena merasa sangat tertohok.
Clara mencuri pandang beberapa kali, wajah tak berkutik Steven sedikit menghiburnya. Namun saat dia mengingat pembunuhan yang Steven lakukan bersama Aston, Clara kembali muram. Dia benci mengakui bahwa orang yang dicintainya adalah pembunuh berdarah dingin. Steven bahkan tidak terlihat menyesal melakukannya. Hal itulah yang terus menerus mengganggunya sampai saat ini. Clara tidak suka akan fakta itu.
Setelah makan malam dan menikmati wine ditengah laut lepas dalam obrolan tak bearti, Clara dan Steven kembali pulang. Dalam perjalanan Clara tertidur. Steven dengan lembut menyelimutinya dan memeluknya. Memikirkan betapa dia sangat kekanakan saat ini. Kecemburuannya mengalahkan akal sehatnya. Udara sangat dingin namun dia malah membawa Clara menaiki kapal ditengah udara laut yang tidak ramah.
"Maafkan aku." bisiknya, lalu mengeratkan pelukannya.
.
Steven duduk dalam ruang kerjanya. Menatap seorang pria berusia tiga puluhan berkebangsaan Cina. Pria itu tampak tidak takut sama sekali, namun juga terlihat sangat hati-hati.
"Saya mendengar anda sangat mencintai kekasih anda. Lalu bagaimana kalau foto ini tersebar dengan rumor perselingkuhan? bukan hanya kekasih anda, anda juga akan terkena imbasnya bukan?" kata Jerry dengan senyum palsunya.
Steven tersenyum tipis. Dia yang sejak tadi bersandar kini menegakkan tubuhnya. Menatap Jerry dengan tajam.
"Katakan, siapa yang memberimu foto itu maka aku akan memberi sponsor pada filmmu."
Jerry mengetuk-ngetukkan jari telunjukkan diatas pahanya. Dia sedang menimbang apakah dia akan jujur atau berbohong.
"Aku mendapatkan itu dari seseorang, dia berasa dari perusahaan mantan tunangan anda." Akhirnya dia memilih jujur. Sepertinya Jerry cukup pintar untuk membaca situasi.
"Ren ... berikan apa yang dia inginkan." perintah Steven. Dia terlihat tenang sekali.
"Baik Tuan, silahkan ikut saya tuan Jerry." kata Renjun.
Setelah mereka keluar, Steven menelepon Billi dan menyuruhnya melakukan sesuatu. "Ikuti West selama 24 jam sampai aku menyuruh kalian berhenti." perintahnya. "Dapatkan juga ponsel Jerry, hancurkan seluruh foto Clara di dalamnya. Geledah rumahnya apakah ia menyimpan salinan lain." lanjutnya sebelum mematikan sambungan.
'West ... beraninya kamu menggangguku dengan foto sialan itu.' monolognya.
__ADS_1
Kemarahannya lebih pada kecemburuan, bukan fakta bahwa West akan menyebarkan foto itu. Karena banyak bukti dan saksi yang menyatakan Jun hanya pengawal. Jadi meskipun foto itu tersebar, rumor tidak akan bertahan lama.
Hal yang tidak di baca cermat oleh West adalah, bahwa Jerry bukan menjualnya ke majalah tampa melibatkan namanya, malah langsung menemui Steven untuk mendapatkan uang dengan itu. West tampaknya ingin menggunakan tangan orang lain untuk menyerang Steven, namun sayangnya dia tidak mengenali Jerry dengan baik.