SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
44


__ADS_3

Sindy semakin gencar dengan berbagai cara untuk menarik perhatian Steven. Sayangnya Sejauh ini Steven tidak menanggapinya. Mungkin ia akan membalas sapaan atau menerima minuman buatannya sesekali. Namun sikap dinginnya sama sekali tak tersentuh.


Waktunya juga tidak banyak dirumah. Seperti hari ini, ia pulang lewat jam makan malam dan mendapati Clara sedang duduk dibalkon kamar dengan Jun dibelakangnya. Memang ada jarak cukup jauh, namun entah mengapa pemandangan itu mengganggunya. Dari semua orang, Jun memang memiliki hak istimewa bisa memasuki kawasan privat Steven dan Clara.


"Jun...kamu tahu Steven kuliah dimana?"


"Tuan sudah lulus Nona, Tuan menyelesaikannya dalam waktu 6 bulan untuk S1. 3 bulan untuk S2. Tuan berencana menyelesaikan gelar master dalam waktu dekat."


"Gimana cara dia atur waktu? dalam waktu sesingkat itu?" tanya Clara takjub.


"Dia jenius, Nona. Tuan juga mendapatkan jalan yang mudah. Dia mendapatkan hak istimewa belajar sendiri dan datang untuk tes saat ia memiliki waktu."


"Wah...dia pasti jadi mahasiswa kesayangan. Dimana dia kuliah?" tanya Clara lagi, ia tidak menoleh, masih asik menikmati pemandangan langit malam.


"S1 di UI, setelah itu baru ia melanjutkan di Harvard."


"Kamu dulu kuliah dimana?" tanya Clara akhirnya. Berhenti membahas Steven. Hal yang tidak mereka tahu, Steven sudah mengepalkan tangannya. Namun ia masih menahan kecemburuannya, masih ingin tahu apa yang akan mereka bahas. Keakraban itu benar-benar mengganggunya.


"Saya...belajar dari Tuan, saat lulus SMA, saya mengikuti Tuan dan belajar apapun darinya. Saya tidak pergi ke perguruan tinggi."


"Wah...tapi kamu bisa mengelola perusahaan? kamu juga jenius!" kata Clara dengan sorot kekaguman, ia berbalik. "Kenapa kamu tidak kuliah ju__" perkataannya terhenti dan tiba-tiba saja menjadi gugup. Menyadari ekspresi Clara, Jun berbalik dan membungkuk untuk memberikan hormat.


"Anda sudah pulang Tuan?"


"Kelihatannya kewaspadaanmu mulai terganggu," Steven menatap Jun dengan aura intimidasi yang sangat menekan. "Kalau tadi yang berdiri dibelakangmu adalah musuh, apa kamu yakin bisa melindungi GADISKU?" lanjut Steven penuh sindiran, ia menekan kata terakhir untuk menekankan kepemilikan. Jelas sangat terganggu dengan kedekatan keduanya.


Jun melihat sorot mata itu dengan tenang, sorot yang seolah ingin mengulitinya. "Tuan...ini tidak seperti yang anda pikirkan. Saya akan membatasi diri untuk kedepan. Saya minta maaf." kata Jun penuh hormat. Jun sudah terbiasa menerima kemarahan Steven sejak dulu, tapi menerima kecemburuan hal yang berbeda. Meski ia terlihat tenang seperti biasa, dalam hati ia merasakan kegelisahan.


Clara yang tadinya tidak paham baru mengerti setelah mendengar penjelasan Jun. Dengan segera ia maju dan berdiri diantara mereka. Sayangnya Steven yang sudah terbakar cemburu malah melihat hal itu sebagai bentuk pembelaan dari Clara untuk Jun.


"Apa sekarang aku juga tidak boleh berbicara sama siapapun?" tanya Clara.


Steven masih diam, dia jelas marah namun sekuat tenaga menahannya. Pria sumbu pendek sepertinya tentu saja kesulitan. Maka, dari pada membuat Clara membencinya dan hubungan mereka kembali memburuk, ia akhirnya menggeleng.


"Maafkan aku, aku lelah dan pikiranku mempengaruhiku." jelasnya, ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.


"Sebaiknya saya turun, Nona. Bersiaplah untuk makan malam." kata Jun, keadaan menjadi sangat canggung. "Kalau Nona tidak keberatan...bisakah anda meredakan amarah Tuan? saya hanya tidak bisa melihatnya kecewa pada saya." pinta Jun, lalu meninggalkan Clara yang terdiam ditempatnya.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? aku cuma pembantunya. Kenapa dia selalu berlebihan! Kenapa dia tidak bisa membiarkan aku bebas?" lirih Clara. Ia menatap pintu kamar Steven dengan kesal. Namun tetap melakukan apa yang Jun katakan. Lagi pula saat ini memang tugasnya melayani tuan besar itu.


Clara mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Maka ia membukanya pelan. Melongo sebentar sebelum masuk. Steven tidak ada. Clara yakin ia sedang dikamar mandi untuk memberaihkan diri, maka seperti biasa Clara menyiapkan pakaiannya. Duduk dengan tenang sambil membaca buku Steven yang sebenarnya tak dimengerti olehnya.


Pintu kamar mandi terbuka, Clara meletakkan buku lalu berdiri. Mengambil handuk dileher Steven dan mengeringkan rambutnya. Steven duduk di atas kasur dengan baju mandi. Seperti biasa menatap Clara intens. Saat seperti ini sangat yang disukainya, karena ia bisa melihat gadis yang dicintainya dari jarak dekat. Merasakan debaran jantungnya dan seperti ada sesutu yang menggelitiki perutnya. Sensasi senang dan bahagia. Sayangnya, ingatan tadi membuat kesenangannya terganggu. Dengan cepat ia menarik handuk dari tangan Clara dan melemparnya asal.


"Langsung pakaikan bajuku." suruhnya.


"Huh? Oh, baik."


"Kamu masih gugup? apa aku selalu membuatmu takut?" tanya Steven.


Kedua tangan Clara selalu bergetar saat bersentuhan dengan Steven, kecuali menyuapinya makan, melayaninya seintens dan sedekat ini memang membuatnya gugup.


"Aku tidak takut lagi, aku cuma belum terbiasa." jawab Clara.


Clara tahu Steven sedang marah, jika ia menjawab salah hanya akan memperburuk suasana hatinya.


Clara mengambil handuk basah dan meletakkannya dikeranjang kotor. Lalu berdiri kaku membelakangi Steven karena saatnya Steven memkai celananya.


"Kamu mau kuliah?"


"Huh?" Clara berbalik, menatapnya bingung.


"Kamu sering membaca buku tentang medis, mau jadi dokter?"


Clara menunduk, lalu menggeleng pelan. Steven mungkin Jenius tapi kalau soal perempuan tampa Sam dia memang payah. Melihat reaksi Clara membut ia bingung, tidak bisa menebak sama sekali.


"Lalu kenapa kamu sering membaca buku jenis itu?"


"Itu...keinginan ayahku. Tentang kuliah...aku akan pikirkan itu saat sudah pulang Indonesia."


Steven menarik sudut bibirnya, "Kembali ke Indonesia?" ulang Steven penuh sarkasme, membuat Clara was-was. "Kalau begitu tunggulah sampai aku mati, karena selagi aku hidup...kamu akan tetap disini." lanjutnya tampa ekspresi.


Clara mengepalkan tangannya, ia menunduk. Steven saat ini terlihat seperti saat ia marah di rumah Arnold dulu. Begitu mengerikan sehingga membuatnya takut.


"A...aku sudah hitung berapa hari aku kerja. Jika aku benar, aku punya sisa hari kerja 1 bulan 8 hari."


Steven bangkit, membuat Clara yang waspada reflek mundur selangkah. Hal itu membuat Steven kesal. Karena itu ia hanya berlalu. Menoleh sedikit saat ia diambang pintu, "Sayangnya mau sudah lunas atau belum, kamu akan tetap disini!" katanya dingin. Keluar dengan pintu yang terhempas keras.


Suasana meja makan sangat suram. Apa lagi dengan ekspresi Steven yang dingin, bahkan pada Clara sekalipun. Jun menghela nafas, bisa memahami dengan jelas bahwa tuannya masih marah namun dengan alasan yang lain lagi.


"Steven, bolehkah aku ikut denganmu keperusahaan? Aku bisa bantu apapun..."

__ADS_1


"Terserah!" potong Steven acuh.


Jun jelas tidak suka, ia menatap tuannya namun Steven mengabaikannya. Clara juga sedikit bingung, karena biasanya Steven akan menolak intensitas Siapapun mencampuri yang berada diluar areanya.


Berbeda dengan semua orang, Sindy yang memang memanfaatkan celah keadaan tersenyum senang. Ia tahu saat ini waktunya diam, karena kalau bicara lagi hanya akan mengubah keputusan Steven. Sindy wanita yang peka, dia jelas tahu Steven berada dalam pikiran dan hati yang kacau. Hal itulah yang ia manfaatkan.


Setelah makan malam, Steven pergi dalam diam menuju kamarnya. Sindy tersenyum dan ikut pergi menuju kamarnya. Membuat Clara yang masih duduk tercengang. Ia merasa aneh dengan tingkah wanita yang sudah ia anggap kakaknya itu.


"Istirahatlah, Nona." intruksi Carlos. Ia sudah berdiri dibelakang kursi Clara.


Clara berdiri dan Carlos menarik kursinya. Namun Clara tidak beranjak, ia malah menoleh pada Jun yang sudah berdiri juga.


"Jun...bisakah aku keluar? Kepalaku terasa penuh dan rasanya butuh udara segar." pinta Clara dalam bahasa Indonesia. Carlos yang tak mengerti hanya menatap keduanya bingung.


"Nona, Tuan sedang dalam suasana hati yang buruk."


"Aku juga! aku cuma mau jalan-jalan. Bisakan? kalau kamu tidak lapor dia tidak akan tahu."


Jun tersenyum, hal yang membuat Carlos menganga. Karena seorang Jun yang ia kenal tak pernah tersenyum pada siapapun, sikapnya juga tak ada lembut-lembutnya. Meski tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, Carlos hanya tahu ternyata Clara wanita yang istimewa, bahkan orang kaku seperti jun bisa lembut padanya.


"Tidak ada yang bisa dirahasiakan dari tuan, Nona. Sebaiknya anda meminta izin." jawab Jun. Suaranya tenang dan lembut. Seperti berbicara pada seorang adik yang sedang merajuk.


"Aku tidak mau bicara dengannya sekarang, Jun...kamu yang minta izin ya?" pinta Clara dengan wajah memohon. Ia bahkan reflek memegang pergelangan tangan Jun. Seperti seorang anak yang membujuk ayahnya.


Lalu apa? mana bisa Jun menolak walau mungkin dia harus rela menerima amarah Steven. Dia tahu Clara merasa terganggu dengan permintaan Sindy yang disetujui tuannya. Karena itulah ia beralasan butuh udara segar.


Selagi Jun naik, Clara menunggu di sana. Kembali duduk ditemani Carlos dan beberapa pelayan yang memberikannya es krim. Clara bingung sesaat, namun perkataan Carlos membuatnya terharu.


"Anda terlihat sedih, es krim baik untuk mengembalikan suasana hati."


Sementara itu, Jun mengetuk pintu kamar Steven dua kali. Pintu terbuka dan ia langsung mendapatkan pandangan tajam Steven.


"Tuan...Nona ingin jalan-jalan keluar."


"Jalan-jalan katamu?"


"Ya, Nona mengatakan demiki__"


"Lalu kamu diminta menemani dia?" potong Steven dengan nada tuduhan, walaupun faktanya seperti itu, namun bagi Jun tentu konsepnya berbeda dari apa yang Steven pikirkan. Namun kecemburuan Steven memang tak ada obatnya. Dia terlalu posesif.


"Saya..." Jun tidak tahu harus menjawab jujur atau bohong. "Carlos akan menjaganya dari jarak dekat, saya hanya akan mengikuti dari jauh." lanjut Jun hati-hati.


Jun kembali dan menemui Clara yang langsung bangkit saat Jun datang. Memandangnya penuh harap.


"Anda bisa pergi dengan Carlos, Nona." Kening Clara berkerut.


"Kenapa dia? kamu kemana?"


"Saya punya tugas lain, Nona." bohong Jun.


Meski sedikit kecewa, Clara mengangguk patuh. Dengan Jun ia akan punya teman bicara. Kalau Carlos, Clara hanya tidak nyaman karena baru mengenalnya.


Steven berdiri di balkon, menatap mobil Clara yang dikendarai Carlos dan dua mobil pengawal dimana salah satu mobil dikendarai oleh Jun dalam jarak beberapa detik.


'Harusnya aku percaya pada Jun, tapi kenapa aku berpikir lain tentang mereka berdua? tidak masuk akal' monolog Steven.


Steven masuk kembali, namun bukan kekamarnya. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang dengan pintu dipasangi smartlock. Menekan beberapa dijit angka kode masuk, lalu masuk kedalam ruangan gelap itu. Sebuah ruang panjang berupa lorong. Di persimpangan ia berbelok ke kiri dan masuk ke dalam lift, turun terus kebawah dan berhenti di sebuah ruangan. Disatu dinding terpampang layar besar yang menunjukkan semua bagian rumah, sebagian lain menjadi rak buku bahkan memenuhi dua bagian dinding, lalu ada ruang kecil berupa dapur. Sebuah pintu lain yang terkunci.


Steven duduk di sofa panjang dan mengambil remot, mengeluarkan rokok dan menghisapnya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Harusnya ia tak kawatir, tapi sikap Jun yang semakin berbeda dan jadi lembut pada Clara yang membuatnya tak nyaman. Dia takut Jun menyukai Clara dan terpaksa ia akan kehilangan abdi setia yang berharga. Kalau bukan mengusirnya, kemungkinan besar Steven akan membunuhnya kalau Jun memiliki keinginan mendapatkan gadisnya. Steven itu kejam pada penghianat, kalau Jun berani menyukai gadisnya, sama saja Steven menganggapnya sebagai penghianatan.


Ruangan itu sebenarnya ruang khusus untuknya memantau seluruh keadaan rumah. Meskipun pihak keamanan memiliki ruang kendali khusus, steven hanya tidak ingin kecolongan. Karena itu, dalam satu minggu ia akan memeriksa rekaman CCTV satu atau dua kali. Melakukannya sendiri dalam bentuk kewaspadaan pribadi. Ia tidak bisa mempercayai sepenuhnya pada pengawalnya, bisa saja mereka disusupi.


Selama satu jam ia memeriksa, Ia melihat layar yang menampilkan gerbang utama. Clara sudah pulang. Steven mengernyit melihat sesuatu digendongan gadis itu. Ia mematikan rokoknya dan melangkah keluar.


Sesampainya di depan kamarnya, Steven menatap sesuatu digendongan tangan gadis itu.


"Anak anjing?"


Gukk!! Gukk!!


Steven pada dasarnya tidak menyukai binatang, satu-satunya binatang disekitar rumahnya hanyalah doberman diluar. Itupun dilepaskan saat malam hari. Anjing itu terus menggonggong padanya, setelah Steven menatapnya tajam penuh ancaman, anjing kecil itu menyembunyikan wajahnya dan mengelurkan suara lirih tanda ketakutan.


"Jangan menakutinya!" bentak Clara dengan spontan. Lupa bahwa sebelumnya mereka bertengkar.


"Apa? dia menggonggong padaku, baru begitu saja takut. Anjing penakut!" ejek Steven. "Kenapa kamu bawa kerumah? Jun tidak bilang kalau aku benci hewan?"


"Yang bersamaku Carlos, dia tidak bilang apapun. Lagi pula kasihan, biar aku urus. Dia seperti habis disiksa dan dibuang. Aku tidak akan membiarkan dia nenyentuhmu, aku janji!"


Steven lupa Jun hanya mengawasinya dari jauh. Dia menatap wajah penuh harap itu. Sekali lagi, dia harus menahan diri karena entah berapa kalinya Clara terlihat menggemaskan saat menampilkan ekspresi seperti itu.


"Bo...boleh?"

__ADS_1


"Tidak! aku benci hewan kotor!" jawab Steven.


Bukan berlebihan, sejak kecil Steven memang benci hewan, menurutnya hewan itu tidak bersih dan sumber penyakit. Hal itu karena saat kecil ia sudah membaca buku berat mengenai makhluk hidup. Bahkan membeli mikroskop dan meneliti sendiri berbagai sampel disekitarnya. Dan anjing adalah salah satu hewan yang memiliki banyak kuman menurutnya.


Clara merengut sedih. "Masukkan dalam ruangan khusus, suruh Carlos mengurusnya. Tidak boleh berkeliaran. Suruh Carlos mencarikan kandang besar. Yang paling penting!" Steven menjeda, ia ingin menyentuh Clara tapi melihat anjing itu membuatnya mengurungkan niatnya. "Bersihkan dirimu segera setelah menyentuhnya, jangan biarkan ia menjilat tubuhmu, paham?"


Lihatlah, bahkan hal yang dibencinya bisa ia toleransi jika itu Clara yang minta. Memang budak cinta sekali tuan tampan kita ini.


Clara mengangguk dengan semangat. Berlari kearah lift. Bertepatan saat lift terbuka. Jun keluar dari sana. Menatap tuannya, melewati Clara begitu saja. Clara yang bingung mengerdikkan bahu dan segera masuk.


Steven memperhatikan luka memar di tangan kirinya, ada luka gores juga di bagian tangan kanannya. Jelas ia baru saja menghadapi perkelahian.


"Dengan siapa?" tanya steven langsung.


"Psikopat yang terobsesi dengan Nona, sepertinya dia mulai lagi, tuan." Jun menyerahkan sebuah kartu identitas. Kartu itu terjatuh dari saku Raka saat mereka saling serang.


"Dia kuliah disini?"


Steven mengantongi kartu identitas mahasiswa itu. "Harusnya anak itu lawan yang ringan untukmu, kenapa kamu bisa luka begitu?"


"Dia tidak sesederhana itu, Tuan. Anak itu berkembang cukup pesat. Kelihatnnya ia mempelajari banyak hal selama setahun ini. Ia cukup licik dan pintar menghindar."


Steven menarik senyum penuh ejekan, "kamu kecolongan? itu sedikit memalukan Jun. Kamu bahkan tidak tahu dia mulai bergerak."


"Maafkan saya, situasinya sedikit tidak mendukung."


"Selidiki saja dia."


"Baik Tuan." Jun tahu tuannya tak puas, karena ia melewatkan satu bahaya yang bisa melukai Clara. Raka mungkin bukan ancaman serius tapi bukan hal yang patut diremehkan. Psikopat gila yang tak memiliki kekuasaan hanya akan menyerang saat ada celah. Karena itu mereka tidak boleh membiarkan ada celah.


.


Paginya, Sindy sudah rapi dengan pakaian kantor yang sedikit minim. Sangat seksi menunjukkan bentuk tubuhnya yang indah. Berbanding terbalik dengan Clara yang hanya memakai gaun rumah longgar. Clara juga tak memakai riasan, dia hanya mengoleskan lipbalm dan memakai pelembab wajah.


Selama ini Sindy berpenampilan biasa dirumah, dulu saat di Indonesia juga tidak terlalu mencolok. Hal itu tentu saja tidak luput dari penglihatan Clara. Belum lagi saat Sindy seperti sengaja menarik perhatian Steven dengan tingkahnya. Clara merasakan gejolak aneh dihatinya, seakan ingin memaki Sindy dan melarangnya genit. Tapi ia segera tepis dengan cepat. Malah jadi bingung dengan isi kepalanya yang tiba-tiba.


"Hmm...kak Sindy harus hati-hati. Kakak tidak sebaiknya pakai masker?" usul Clara. Meskipun risih ia tetap kawatir padanya.


"Tenang saja, Steven menempatkan satu pengawal khusus untukku. Terima kasih Clar..." jawab Sindy dengan manis. Mereka sedang sarapan. Clara tertegun, menempatkan pengawal khusus? padahal Steven selama ini tak perduli. Clara hanya tidak tahu, pengawal itu untuk mengawasi kelakuan Sindy bukan untuk melindungi. Sindy saja yang terlalu percaya diri.


Clara melirik Steven yang fokus pada sesuatu yang ditunjukkan Renjun. Ya, subuh ini Renjun datang dengan sedikit tergesa-gesa. Bahkan mereka sudah bicara ketika Clara memakaikan bajunya. Tentu lewat ponsel. Karena hanya Jun yang boleh menginjak area pribadinya. Clara menunduk, ia jelas merasa terganggu karena perkataan Sindy barusan.


Tiba-tiba Steven mengalihkan perhatiannya. Menoleh pada Carlos. "Sudah kamu urus?" tanyanya.


"Sudah tuan, Nona bisa mulai kuliah besok." jawab Carlos.


"Kuliah apa?" tanya Clara bingung.


"Aku mendaftarkan kamu di Universitas. Jurusan kedokteran." jawab Steven santai.


"Kamu kenapa tidak nanya aku dulu?"


Steven terdiam beberapa detik. "Tinggalkan kami." perintanya pada semua orang.


Sindy jelas keberatan, namun ia tidak ingin mencari masalah. Maka ia meninggalkan meja makan walaupun makanannya masih tinggal separuh. Apalagi saat mendapatkan tatapan tajam Jun yang begitu mengintimidasi. Dia tidak mau memancing Jun lagi.


"Kamu berencana membuatku semakin banyak hutang kan? kamu mau menahan aku disini selamanya!" tuduh Clara.


"Aku tidak mempermasalahkan hutang lagi. Kamu tetap disini itu sudah mutlak. Mau tidak mau, kamu tidak punya pilihan. Tentang kuliah aku tahu kamu akan menolak, jadi aku diam-diam melakukannya."


"Aku sudah bilang mau di Indonesia saja. Aku akan kuliah saat aku kembali!"


"Kenapa kamu tidak mengerti? Kamu tidak akan kembali lagi kesana!" kesal Steven, ia mulai terpancing.


"Jangan seenaknya! aku berhak pergi dan kamu tidak berhak menahan aku terus!"


"Ada banyak bahaya, kamu harus tetap disisiku." kata Steven, nadanya sedikit pelan tapi jelas disertai geraman diakhir.


"Bahaya apapun tidak ada hubungannya denganmu. Kita tidak punya hubungan apapun!"


"Gampang!" sahut steven cepat. "Aku akan urus surat nikah dan mengikat janji suci denganmu." lanjutnya.


"Kita tidak bisa menikah, aku tidak mau!"


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena...aku...aku..." Clara tidak bisa melanjutkannya saat menangkap sorot sedih dan kecewa dimata Steven. Hatinya ikut sakit.


"tidak bisakah kamu melupakan masa lalu? Saat itu aku juga tidak tahu kalau ayahmu akan syok karena keputusan labilku. Clar...aku mencintaimu." kata Steven nyaris putus asa.


Clara diam, hanya menunduk. Steven menatapnya sendu. Karena Clara tetap diam maka ia memilih segera berangkat kerja. Ia mengelus puncak kepala Clara sebelum meninggalkan gadis itu. Clara masih terpaku pada pikirannya. Bahkan saat Jun dan Carlos menghampirinya, ia masih menunduk dalam diam. Clara bukan hanya teringat ayahnya, tapi alasan lain selain masa lalu adalah rasa takut dan rasa tak pantas. Dunianya berbeda dan Clara tidak ingin lagi mengalami kejadian seperti di kapal. Mentalnya tidak sekuat itu menerima tindak kekerasan dan kekejian disekitar Steven.

__ADS_1


__ADS_2