
Clara sedang ditangani oleh psikiater karena tidak berhenti untuk bergetar. Ia bersama Sindy di dalam kamar wanita itu. Setelah disuntikkan obat penenang, barulah Clara tertidur.
Steven sendiri sedang berada diruang santai lantai dua. Dia sedang meminum anggur dengan kadar alkohol cukup tinggi. Jun dan Carlos sedang berdiri dihadapannya.
"Apa yang dikatakan Aston pada Clara sebelum aku datang?" Suara Steven cukup tenang meskipun ada kemarahan terlihat diwajahnya.
"Tidak ada yang mau menjawab?" Steven mendongak, menatap keduanya bergantian.
"Dia...dia terdengar merendahkan Nona, saya tidak mengerti tapi seperti itulah terdengar, Tuan." jawab Carlos.
"Jun...?"
"Carlos benar, Tuan. Dia juga mengintimidasi Nona sehingga traumanya kembali." jawab Jun cepat.
"Karena itu kamu duduk disampingnya?" Steven bersandar disofa. Melipat kakinya dan menatap Jun dengan sebelah tangan memegang gelas berisi penuh anggur.
"Ya, Tuan. Saya tidak punya pilihan__"
"Aku tahu, karena kalian sudah sangat akrab."
"Tuan...itu tidak seperti yang anda pikirkan." sahut Jun cepat.
Steven tersenyum remeh. Lalu mengibaskan tangannya. Menyuruh semua orang pergi. Dia mulai mabuk.
"Jun...tetap disini." perintahnya. Wajah putihnya sedikit memerah. "Tetap disini temani aku." lanjut Steven. Ia meletakkan gelasnya setelah meneguk seluruh isinya. Menyandarkan kepala dan menutup matanya.
Jun menatapnya dengan raut penuh rasa bersalah. Dia duduk disisi Steven yang sudah tertidur. Saat dirasa Steven sudah terlelap, ia merebahkan tuannya. Mengambil bantal sofa untuk menyanggah kepalanya. Lalu kakinya ia naikkan keatas. Melepas sepatunya dan pergi untuk mengambilkannya selimut.
Saat kembali, ia menemukan tuannya sudah duduk kembali. Kali ini tidak sendirian. Melainkan bersama Sindy. Wanita itu bahkan duduk disamping Steven dan ikut minum. Jun baru tahu, bahwa tadi tuannya masih setengah sadar. Dia tidak benar-benar tertidur.
"Tuan, sebaiknya anda kekamar untuk beristirahat." katanya.
"Jun...jun...kamu udah berani menyuruh-nyuruh tuanmu?" kekeh Steven yang sudah sangat mabuk.
"Berhenti memberinya minum," cegah Jun dengan nada dingin. Dengan cepat ia menepis tangan Sindy.
Jun merengkuh bahu tuannya dan membantunya berdiri. Memapahnya pergi dari sana.
"Jun...mau aku bantu mendapatkan Clara?" tawar Sindy, nadanya serius tapi terselip ejekan.
"Tutup mulutmu!" sahut Jun dingin tampa menoleh.
Sindy tertawa sinis. Menuang anggur dalam gelas dan mengaduk-aduknya pelan. Matanya memandang gelas tapi fikirannya melayang ketempat lain.
Ia meraih ponselnya dan menelfon seseorang. Saat panggilan diangkat, ia mendengar suara parau khas bangun tidur. Suara yang sungguh ia rindukan. Sayangnya suara itu juga yang membuat hatinya sangat sakit ketika mendengarnya.
"Kenapa menghubungiku dini hari, kamu kurang kerjaan?"
Sindy tersenyum sinis. "Al...ditempatku saat ini masih jam 7 malam." katanya. Hening beberapa saat, tampaknya Aldo sedang mengumpulkan kesadarannya.
"Kamu diluar negri?"
"Al... lihatlah disini Clara yang kamu cintai. Berada dalam kesengsaraan. Kamu bilang kamu mau lihat dia bahagia, karena itu aku mau membuktikannya. Tapi kenapa aku malah melihat dia menangis setiap hari?"
"Apa maksudmu? kamu dimana? dirumah Steven?"
Sindy tidak menjawab, membuat Aldo meneriakkan pertanyaannya. Dengan senyum sinis ia memutus sambungan. Setelahnya, ia tertawa namun matanya mengeluarkan air mata. Ia menangis dalam kegetiran. Merasa sudah menjadi sangat rendahan dan bahkan tak mengenali dirinya sendiri.
'Aku akan membuatmu tahu bahwa kamu salah menilaiku Al...harusnya kamu meyakinkan ayahmu. Meyakinkan ayahku, harusnya kamu tidak terobsesi pada Clara yang sama sekali tidak mencintaimu!' katanya dalam hati. Mata merahnya menatap gelas ditangannya dengan penuh dendam.
.
Paginya, Clara terbangun dengan kepala sangat sakit. Mata bengkak dan wajah sembab. Dia menoleh kiri dan kanan. Menyadari ini bukan kamarnya. Ia turun dari kasur.
Sekelebat ingatan memasuki kepalanya. Clara terdiam kaku. Ingatan dikapal itu berputar dikepalanya. Lalu pintu terbuka dan hal itu membuatnya terkejut sehingga terduduk dan kembali bergetar.
"No Clar! ayo berdiri dan minum air putih dulu."
Sindy adalah orang yang masuk. Ia membantu Clara duduk dan memberikan beberapa obat yang diresepkan dokter kemarin sore. Setelah Clara meminumnya, Clara kembali ia baringkan.
"Kak...kak...aku mau ketemu Steven, dia dimana?" tanya Clara nyaris menangis.
"Hmm...mungkin sudah berangkat kerja. Aku tidak tahu." bohongnya.
Sindy cukup bingung. Kemarin Clara hanya ingin Jun agar ia tenang. Tapi saat ini kenapa Clara mencari Steven. Apa ini efek obat penenangnya atau sugesti yang disampaikan psikiater kemarin?
"Aku mau kekamar," lirih Clara.
"Aku antar ya," tawar Sindy lembut.
"Jun, dimana Jun..."
"Oh...Jun! Oke...aku akan panggil dia."
Sindy kembali keluar kamarnya. Kali ini dengan senyum cerah mencari keberadaan Jun. Saat bertemu dua orang itu sekaligus, ia menjadi sangat senang. Masalahnya bukan senang yang baik disini. Dikepalanya jelas sudah tersusun rencana licik.
"Jun, Clara bangun dan mencarimu." katanya santai.
Jun menatapnya penuh amarah. Melirik Steven yang wajahnya sudah menggelap. Steven masih memakai piyama tidurnya karena ia memang berencana tidak masuk kerja. Menyerahkan segalanya pada Renjun dan bawahan lain.
"Bawa dia kembali kekamarnya, Jun." kata Steven lalu berlalu kembali kekamarnya. Tadinya ia memang berniat menjemput Clara.
"Tuan, sebaiknya anda yang__"
"Jun, aku rasa sebaiknya cepat. Dia terlihat tidak baik. Dia terus memanggilmu." potong Sindy, sengaja melebih-lebihkan.
Steven sungguh tidak ingin mendengarnya lagi. Dia punya batasannya. Dia cemburu dan marah, tapi Clara sedang tidak baik-baik saja. Memaksanya hanya akan membuatnya bertambah buruk. Maka dengan cepat Steven kembali masuk ke dalam lift dan naik menuju kamarnya.
__ADS_1
Ketika Jun masuk, Clara menoleh dan bangun dengan cepat. "Jun...aku mau kekamar." katanya.
"Saya akan antar anda, Nona."
Jun masih merasakan getaran dari tangan Clara yang memegang lengannya. Wajah Clara menunduk dalam dan tampak ketakutan. Sindy ikut mengantarnya sampai lift, karena jelas Jun tak akan membirkannya ikut naik.
"Anda sudah sampai, Nona."
Jun meliriknya, ternyata Clara sejak tadi menutup matanya. Saat ia mengatakan telah sampai, barulah ia membukanya. Jun menoleh kekanan, dimana Steven berdiri menatap Clara dalam diam.
"Jun...aku tidak mau kuliah sekarang. Bilang sama Steven aku tidak mau. Aku takut...aku takut bertemu orang-orang itu," kata Clara lalu terduduk didepan pintu. Ia kembali menangis. Dia takut Steven akan menyuruhnya kuliah karena ini memang hari pertamanya.
Jun hanya berdiri, tidak berani menyentuhnya lagi saat melihat sorot terluka diwajah Tuannya.
Perlahan, Steven mendekatinya. Dengan segera Jun bergeser dan mundur beberapa langkah. Steven berlutut, merengkuh bahu Clara dan mempertemukan mata mereka.
Begitu Clara melihatnya, gadis itu segera memeluknya erat. Bahkan Steven nyaris terjungkal kebelakang kalau reflek tubuhnya tidak baik. Dia cukup terkejut karena mengingat respon terakhir Clara kemarin.
"Steve...jangan bawa aku menemui dia lagi. Di mau membunuhku. Steve...dia mau membunuhku! jangan keluar, jangan kuliah!" kata Clara dengan isakan keras.
"Tenanglah, aku akan melindungimu. Kamu tidak akan bertemu dengannya. Kamu akan aman disini." kata Steven sambil mengelus kepalanya, hingga sampai beberapa saat dimana Clara akhirnya diam.
Steven mengangkat Clara dan membawanya masuk. Membaringkannya di kasur. Clara sudah cukup tenang.
"Jun...aku lapar." kata Clara nyaris seperti rengekan.
Jun saat itu hanya berdiri diambang pintu setelah ia membantu membukakan pintu untuk tuannya. Ia akan segera kembali keluar namun Clara sepertinya melihatnya.
"Saya akan mengambilkan makanan untuk anda." jawabnya dan berlalu dari sana.
"Kenapa kamu tidak memintanya padaku?" tanya Steven lembut.
"Karena ... karena aku mau kamu tetap disini. Aku takut sendirian. Jun akan jauh berdiri dariku dan hanya menjagaku di depan sana." Jun memang tidak pernah mau masuk kedalam kamar Clara. Karena ia tahu itu diluar batas kesopanannya sebagai pengawal. Tentu saja Steven tahu, hanya saja sepertinya Clara lupa, kalaupun ia memintanya pada Steven, pria itu tetap akan memyuruh orang lain.
"Aku ... mau mandi. Kamu ... tidak akan pergi kan?" tanya Clara.
"Perlu aku temani di dalam?" tanya Steven. Steven tidak berniat menggoda, ia benar-benar kawatir kalau terjadi sesuatu di dalam.
"Tidak usah, aku bisa. Bisakah kamu berdiri di depan pintu dan mengajakku bicara?"
Clara menunduk, harusnya ia tidak banyak meminta mengingat dialah yang bekerja pada pria dihadapannya. Tapi sejak bangun dari tidurnya pagi ini, entah mengapa ia seperti berada pada keadaan hubungan mereka dimasa lalu. Dia merindukannya.
Steven mengelus kepalanya dan mengangguk. "Tentu, apapun untukmu." jawabnya.
Jadi, sudah sekitar 10 menit Steven seperti orang bodoh didepan pintu. Ia membaca buku yang biasa Clara baca disana dengan suara cukup keras. Bersandar pada pintu yang tertutup.
Jun yang baru muncul membawa troli berisi makanan berdiri dengan heran di depan pintu. Melihat tuannya dengan bingung. Saat Steven melihatnya, ia berhenti membaca.
"Letakkan saja disana," suruhnya. "Telpon pelayan dan minta mereka mengantarkan kopi keruang kerjaku." lanjutnya.
"Aku disini Clar...kamu sudah selesai?" tanyanya keras.
"Sebentar lagi!" jawab Clara.
Steven kembali membaca buku, kali ini tidak sekeras yang tadi. Terdengar jeritan Clara dari dalam. Steven yang cemas menjatuhkan bukunya begitu saja dan menggedor pintu. Jun juga ikut memanggil karena panik. Karena setelah jeritan itu, tidak terdengar suara apapun.
"Clara! Clara!" panggil Steven lagi.
"Maaf Tuan, biar saya mendobrak pintunya." kata Jun.
Steven menyingkir, namun belum sempat Jun melakukannya. Pintu terbuka dengan Clara yang memakai handuk biasa, bukan baju mandi sehingga Jun langsung berbalik untuk membuang pandangannya kearah lain.
"Kamu oke? tadi kamu..."
"Ma..maaf, aku hanya terpeleset saat menarik handuk." jawab Clara. Steven menunduk, melihat lutut Clara yang tampak merah dan sedikit lebam.
"Pergilah pakai bajumu."
"Hmm... bisakah kamu berdiri di depan pintu dan membelakangiku?
"Tentu," jawab Steven.
Lagi, ia bersandar di depan pintu walk in closet. Sementara Jun sudah keluar beberapa detik yang lalu setelah mendengar Clara hanya terpeleset.
Saat ini mereka mulai sarapan dengan Steven yang masih memakai piyama. Pria itu juga belum mandi. Dia hanya gosok gigi dan membersihkan wajahnya. Clara ingin makan di tepi kolam renang dan dia memaksa Jun ikut sarapan bersama mereka.
"Kamu tidak pergi?" tanya Clara.
"Kamu mau aku pergi?" Clara menggeleng. Sebenarnya ia bertanya hanya untuk memastikan. Dia ingin Steven tidak meninggalkannya dulu.
Setelah makan, Clara menonton Steven yang bekerja. Mereka ada di lantai tiga dimana ada satu ruangan kerja Steven. Disebelahnya, ada bioskop mini. Clara sedang menonton film ditemani oleh Sindy.
Sayangnya, ternyata film yang mereka tonton berisi adegan pembunuhan. Clara menegang, dia menutup matanya dan berteriak histeris. Seakan-akan dialah korban dalam film itu. Carlos dengan sigap berlari dan mematikan film tersebut.
Segera menghubungi Jun diruang sebelah bersama Steven. Begitu Steven datang, Clara pingsan. Dia sepertinya terlalu syok.
"Siapa yang memilihkan filmnya?" tanya Steven dingin.
"No..nona sendiri tuan. Saya juga tidak tahu kalau film itu berisi..." Steven tidak mau mendengarkan kelanjutan Carlos.
Tadi ia sudah mengingatkannya untuk hati-hati menonton film. Menyuruh mereka memilih drama romantis atau film keluarga. Nyatanya mereka malah memilih film yang tokoh utamanya seorang pembunuh.
Sesampainya dikamar, Clara dibaringkan. "Kapan jadwal konsultasinya lagi?" tanya Steven.
"Besok pagi Tuan," jawab Jun.
"Lanjutkan pekerjaan tadi, Jun"
__ADS_1
"Baik Tuan."
Setelah jun pergi. Steven menatap Clara. Merapikan anak rambutnya lalu ikut berbaring disampingnya.
"Maafkan aku." bisiknya.
.
Sindy terdiam di taman belakang. Sedang menimbang apakah ia akan menghubungi keluarganya. Saat ia memutuskan pergi menjalankan rencananya, hanya ibunya yang tahu kepergiannya. Karena itu saat ini ia memblok seluruh nomor ponsel keluarganya. Dia juga tidak menerima panggilan dari nomor baru. Saat ini ia tahu ayahnya pasti marah besar. Ia hanya berharap ibunya bisa menjelaskan kepada ayahnya, bahwa dia pergi untuk mengejar Steven.
Sindy melihat siluet Jun dari jendela dilantai dua. Menarik senyum sinis lalu bangkit masuk kedalam. Dia dengan cepat berjalan ke lantai dua namun tak menemukan Jun dimanapun. Maka ia naik ke lantai 3. Dimana ruang kerja Steven berada.
"Ah...jadi kamu disini?" kata Sindy kala melihat Jun sedang duduk dengan beberapa berkas. Dua orang berdiri dihadapannya. Memakai kartu identitas dari perusahaan.
"Pergilah," usir Jun datar.
Dua orang itu adalah manager dari kantor mereka. Bagian pemasaran dan keuangan. Keduanya wanita dan kini menatap bingung Sindy yang juga ada dirumah bos besar mereka.
"Ck, ada apa?" tanya Sindy pada keduanya. Membalas tatapan mereka.
"Bingung kenapa aku tinggal disini? menurut kalian kenapa?" pancing Sindy.
"Kembalilah kekantor dan berikan ini pada Renjun." suruh Jun dingin. Kedua wanita dewasa itu undur diri dengan sopan.
Setelah keduanya pergi, Jun meletakkan penanya dan menatap Sindy dingin. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku mau bicara," Sindy lalu menarik bangku dan duduk dihadapannya. "Bagaimana Clara? kalian tidak memanggil dokter?" tanya Sindy, kali ini ia memakai bahasa indonesia.
"Tuan menemaninya,"
"Ah...mereka tidur bersama?" tebak Sindy, padahal ia tahu Clara pingsan. Apanya yang tidur bersama.
"Keluar!" suruh Jun lagi. Kali ini menatapnya tajam.
"Kenapa? kamu cemburu mereka berduaan? aku tahu kamu suka Clara, sayang sekali kamu pengecut."
Tatapan Jun semakin dingin, wajahnya mengeras. Sindy lagi-lagi memancing emosinya. "Kenapa marah? aku bicara fakta. Karena kamu tidak sadar... maka aku membantu kamu untuk tahu. Kamu ... menyukai ... Clara, adik kecilku." kata Sindy dengan intonasi yang membuat Jun ingin sekali memukul wajahnya.
"Pergi!"
Sindy terkekeh pelan. Sarat akan ejekan. Dia bangkit berdiri, tahu berbahaya baginya jika terus memancing kemarahan Jun. Dirasa sudah cukup, ia berbalik dan berjalan keluar.
"Kamu tahu? Sebagai kakak dan temannya aku lebih suka Clara bersamamu." katanya tampa menoleh ketika diambang pintu.
Jun menarik nafas dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Menutup matanya untuk meredakan emosinya.
"Aku tidak menyukai Nona seperti itu. Aku hanya nyaman sebagai seorang teman dan adik. Hanya seperti itu" gumamnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Sindy tidak benar.
Lalu ia teringat saat Clara memeluknya. Gelenyar aneh saat tangan itu mencengkramnya. Matanya kembali terbuka. Lalu meraba dadanya sendiri.
"Maaf tuan Jun?"
Jun tersentak, seorang pria paruh baya berdiri dihadapannya. Dia adalah pengawas proyek yang sedang mereka kerjakan. Jun mengangguk dan menyuruhnya duduk. Melupakan masalah pribadinya dan fokus kembali pada perusahaan. Karena setelah ini, dia harus memberikan laporan pada Steven.
.
Clara terbangun dan merasakan nyeri ringan dikepalanya. Dia ingat kejadian dibioskop. Dia ingin bangkit tapi sebuah tangan memeluknya begitu erat. Menoleh kekiri, ia melihat Steven terlelap disampingnya.
Lama ia hanya terdiam, pikirannya terasa penuh. Walau ketakutannya sedikit hilang saat merasakan pelukan hangat pria disampingnya, pikiran lain menghampirinya. Ia mengingat perkataan Aston tempo lalu yang membuatnya merasa sangat rendah. Dia seperti disadarkan kalau dia bukan siapa-siapa.
Perlahan, Clara melepaskan diri dan turun dari kasur. Meninggalkan Steven yang masih terlelap. Ia keluar kamar dan mendapati langit senja yang suram. Tampaknya sebentar lagi akan hujan.
"Anda bangun Nona? Anda baik-baik saja?"
Clara menoleh, mendapati Jun sedang berjalan dari arah kirinya, dimana ruang gim milik Steven berada. Jun total berbeda dari penampilan biasanya. Kali ini dia memakai kaus oblong biasa meski celananya masih formal. Tampaknya dia berolahraga sambil berjaga diluar. Rambutnya basah dan keringat membasahi sebagian besar bajunya.
"Anda bangun sore dan melewatkan makan dan jadwal minum obat. Saya sudah menyuruh pelayan menyiapkannya. Apa anda ingin sesuatu yang lain?" tanya Jun masih mengetik sesuatu di ponselnya.
"Jun?"
Jun mengangkat kepalanya dan mengernyit bingung saat Clara tersenyum. "Nona...kenapa anda...?" Jun terdiam, antara ngeri dan merasa aneh melihat senyum itu.
"Jun! Kenapa kamu tidak memakai pakaian biasa seperti ini setiap hari? lihatlah pria dewasa ini...ckckck sungguh mengalahkan model papan atas." kekeh Clara.
Lalu apa kabar Jun yang terdiam dengan wajah yang perlahan memerah. Seorang Jun yang dingin dan sadis menjadi malu saat Clara memujinya.
Clara duduk ditepi kolam renang dan memasukkan sebagian kakinya. "Jun...aku minta maaf sudah membuat kamu kesulitan." katanya.
Jun tentu tahu kesulitan yang dimaksud olehnya. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Melihat Clara dari posisinya, ia jadi mengingat apa yang dikatakan Sindy.
"Aku merasa kamu teman yang baik, jadi aku merasa aman saat bersamamu. Selain Steven, kamu adalah orang yang aku kenal baik disini. Aku...aku tidak pernah berada disituasi seperti itu, di negara orang yang bahkan aku tidak punya akses kemanapun. Disini seperti di penjara, lalu sekarang aku harus berjuang dengan rasa takut..." Clara berhenti bicara. Ia seperti sedang berfikir.
"Nona, hanya tetap disini ... anda akan aman." Clara menoleh sedikit, lalu mengangguk.
"Aku tahu, kalian melindungiku dengan baik. Karena itu aku merasa sangat tidak enak, aku hanya jadi beban. Kalau suatu saat Steven bosan dan membuangku ... apa saat itu aku akan mati? dia bilang Raka terobsesi untuk membunuhku. Kenapa banyak orang yang ingin aku mati? Padahal aku tidak melakukan apapun pada mereka?" Clara sepertinya mulai kacau lagi.
Jun mencoba mendekatinya namun suara Steven membuat mereka tersentak. "Aku tidak akan pernah bosan dan mereka tidak akan aku biarkan menyakitimu." Clara terdiam dan Jun berdiri kaku. Sejak kapan Steven berdiri diambang pintu? Bahkan Jun tidak menyadari langkahnya karena fokus pada Clara.
Steven berjalan mendekatinya dan duduk dibelakangnya. Kakinya yang panjang melingkari Clara dan sebagian ikut masuk kedalam kolam renang. Memeluk gadis itu dari belakang dan mengecup puncak kepalanya.
"Steve..."
"Maafkan aku, maaf Clar. Karena aku kamu mengalami banyak hal." sahut Steven.
Jun yang melihat mereka menjadi sadar akan satu hal, bahwa yang dikatakan Sindy mungkin benar. Karena ia saat ini merasa tak nyaman akan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul. Dalam diam ia meninggalkan pasangan itu. Turun menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum mengantarkan makan malam untuk mereka.
Tentu saja Steven sadar akan kepergiannya, dia meliriknya dari sudut matanya. Steven jelas bisa melihat ekspresi tak biasa diwajah Jun tadi. Ia menatap jauh kedepan dan memeluk Clara lebih erat lagi. Menggumamkan kata maaf berulang kali.
__ADS_1