
Fotonya benar-benar tersebar. Menyebabkan banyak rumor dan spekulasi. Namun Billi yang bertanggung jawab mengatasi media dan netizen, memutar balik keadaan dan menyerang penyebar fitnah dan melakukan tuntutan pada akun terkait. Tentu saja itu ulah West, Jerry tidak melakukannya karena dia sudah mendapatkan uang. Namun karena itu juga, Steven menarik sponsornya kembali. Sungguj Jerry yang malang.
Meski begitu media berhasil dikendalikan, namun tidak bagi lingkungan sekitar Clara. Beberapa teman-teman kuliahnya melihat dengan penasaran pada dia dan Jun. Tidak heran mereka mencurigai keduanya. Karena Jun memang pria muda yang tampan. Apa yang dia pakai juga dari brand terkenal.
"Aku rasa sebaiknya kamu mengganti pengawal untuk sementara, Clar, Jun terlalu mencolok apalagi setelah foto itu tersebar." usul Lusi saat mereka berada di perpustakaan.
Clara membuka mulutnya, hendak bicara namun suaranya tidak mau keluar. Dia melihat kiri dan kanan, dimana banyak mata memperhatikannya. Namun ketika ia bertemu pandang dengan Clara, mereka hanya akan melambai kecil sebagai sapaan. Seolah mereka tidak melakukan apapun.
Namun ada satu kelompok yang menatapnya dengan sinis dan aura benci yang menyala-nyala. "Mereka adalah kelompok yang menyukai Jun selama ini. Setahuku yang berambut merah adalah ketuanya." kata Lusi. Terkikik geli saat melihat Jun yang terlihat sangat terganggu dengan apa yang mereka lakukan. Yaitu mengambil fotonya diam-diam.
'Pengaruh Jun hebat sekali' pikir Clara, segerombolan anak itu memang hanya akan keperpustakaan jika Jun ada disana menemaninya. Tujuan mereka hanya melihat dan mengambil foto Jun diam-diam.
Jun duduk di meja lain saat menjaganya. Dia mengangkat wajahnya ketika merasakan pandangan Clara untuknya. Menatap gadis itu balik lalu bangkit menghampiri.
"Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Jun.
Clara menggeleng, lalu menulis sesuatu pada buku kecil yang selama ini ia bawa kemana-mana. Tempat menuliskan apa yang ingin ia sampaikan.
'Kamu baik-baik saja? Kalau risih kamu bisa menunggu diluar. Tugasku sebentar lagi.'
Membaca itu, Jun tersenyum dengan hangat. Lalu mengambil buku dan pena Clara. Menuliskan sesuatu juga.
'Aku baik-baik saja.'
Clara mengangguk saat membacanya, lalu tampa membuang-buang waktu lagi, dia melanjutkan tugasnya bersama Lusi.
.
West terdiam di dalam kantor perusahaannya. Banyak hal yang telah terjadi dan Sahamnya yang jatuh belum bisa ia atasi. Karena fokusnya adalah balas dendam pada Steven. Sehingga dia lupa dia memiliki banyak musuh lain yang ingin menjatuhkannya. Salah satunya tentu saja Aston. Yang saat ini naik ke urutan nomor dua orang terkaya di dunia. Sementara West sendiri merosot jatuh ke urutan nomor 3. Steven yang terkena imbas dari kasus mantan tunangannya dan Clara pada awalnya juga merosot ke nomor 8. Setelah ia mengatasinya dengan cepat, ia kembali meraih posisi sebelumnya.
"Sayang, jangan terlalu larut dalam kesedihan dan kemarahan. Kamu bisa sakit." ujar Istrinya yang tiba-tiba datang.
"Keluar, jangan menggangguku." sahutnya dingin.
Istrinya menggigit bibirnya dengan geram. Kesal karena sejak kematian anak tirinya, sikap suaminya berubah padanya. Dengan langkah lebar ia meninggalkan ruangan West dengan wajah menahan kesal.
'Aku akan membalas sakit hati anakku. Beraninya kamu menempatkannya pada posisi rendah sebelum kematiannya.' monolognya.
"Swift, berikan rahasia kotor Steven pada NNews media. Aku ingin menghancurkannya saat ini juga." suruhnya pada sang Asisten yang baru saja masuk.
Wanita berdarah Afrika yang sudah menjadi asistennya selama beberapa tahun terakhir itu mengangguk patuh tampa suara. Dia segera meninggalkan West sendirian lagi. Membisikkan sesuatu pada sekretaris West diluar sebelum pergi.
.
Steven sedang mengadakan rapat dengan staf perusahaannya mengenai proyek baru mereka ketika tiba-tiba Billi masuk begitu saja dan membisikkan sesuatu padanya. Wajah Steven menegang. Dia bangkit dan meminta Renjun melanjutkan rapat. Setelah itu keluar bersama Billi menuju ruang kerja pribadinya.
"Sebuah artikel diterbitkan oleh NNews, fotokopi berkas kerja sama dengan tanda tangan anda, serta beberapa foto anda bersama anggota sindikat gelap diterbitkan beberapa menit yang lalu. Saat ini sudah menyebar keberbagai media sosial Tuan."
Billi memunjukkan artikel itu dan sambil berjalan, Steven memperhatikan foto yang terpampang disana. Saat itu dia masih berumur 15 tahun. Foto lain saat ia berumur 16 tahun.
Sesampainya di dalam kantor, dia menghubungi pihak pengacara dan juga Arnold. Dia duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan kepala tertunduk.
"Minta Jun menemuiku sekarang, Suruh dia membawa kekasihku juga."
"Baik tuan," sahut Billi dan langsung menghubingi Jun.
__ADS_1
Jun yang saat ini sedang menunggu kelas terakhir Clara saat dia menerima pesan dari Billi. Jun segera masuk ke dalam ruang kuliah lalu mengemasi barang milik Clara. Meminta maaf pada dosen sebelum membawa Clara pergi.
Clara yang tidak mengerti hanya menurutinya. Karena catatannya di dalam tas. Jun juga tampak sangat serius dan tidak ingin membahas apapun.
Dalam perjalanan, Jun fokus pada layar ponselnya. Clara melirik Carlos yang juga tampak tegang di bangku supir. Clara mengeluarkan ponselnya dan ikut memeriksa apa ada sesuatu di internet.
Saat dia membaca apa yang tertera di berbagai artikel dan beberapa akun sosial media, Clara akhirnya mengingat rumor yang pernah Lusi katakan mengenai Steven.
'Jadi itu benar?'
Sesampainya di depan lobi, Carlos memutar mobil ke parkir belakang gedung. Mereka akan lewat belakang karena di depan pintu lobi banyak wartawan. Mereka memang di halangi petugas keamanan, namun jika mereka melihat Clara, jelas mereka akan mengejarnya untuk mendapatkan sesuatu.
.
Steven sedang merenung di kursinya. Tidak ada satu katapun keluar sejak dia memerintahkan Billi. Billi juga tidak berani mengganggunya lagi. Steven terlihat jelas tidak ingin.
Pintu terbuka dan Renjun masuk mengantarkan Jun dan Clara. Mereka semua berbaris di depan meja Steven.
"Clar ... kemari."
Clara berjalan mendekatinya. Wajah Steven terlihat sangat lelah. Dia meraih tangan Clara lalu membawa wanita itu duduk di pangkuannya. Memeluknya dengan erat. Clara melirik ketiga orang yang masih setia di depan meja Steven. Menatap mereka dengan bingung.
Setelah beberapa detik berlalu, Steven mengangkat kepalanya. Memeluk pinggang Clara agar ia tidak jatuh namun matanya menatap lurus ke depan. Auranya berubah total, saat ini ia seperti terisi penuh oleh banyak ide dan rencana di kepalanya.
"Jun, hubungi Pixu."
Jun melebarkan matanya sementara dua yang lain menatap mereka bergantian dengan wajah bingung. Siapa Pixu ini?
"Tuan, anda tidak bisa lagi terlibat dengannya."
"Siapa yang ingin terlibat, aku memintamu untuk menggunakan taktik. Temui dia seolah kita akan meminta bantuan. Lalu berikan ia minuman yang Aston buat. Setelah itu akan menjadi urusanku untuk bicara dengannya."
"Anda ... tidak berniat untuk membu_" Jun menangkap kilat lain di mata Steven lalu melirik Clara yang menatapnya dengan kening bertaut. Hampir saja dia kelepasan bicara kalau Steven tidak memberinya peringatan.
"Itu hanya ancaman, aku tidak sebodoh itu membuat perang besar dengan ribuan anggotanya. Belum lagi pak tua itu memiliki anak yang terlewat kejam. Itu bukan solusiku. Di dalam foto hanya ada wajahku dan Pixu. Jadi ini hanya akan menjadi pembicaraan teman lama." jelas Steven.
"Dimana dia sekarang?" tanya Jun.
"Bill, lacak keberadaannya." perintahnya, pamdangannya beralih pada Billi yang tampak bingung.
"Maaf Tuan, tapi siapa Pixu?"
"Apa kamu tidak mengajarkan apa-apa padanya?" protes Steven setengah kesal.
"Saya minta maaf, Bill ikut aku!" perintah Jun, lalu keluar dari sana.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan? beberapa wartawan di bawah. Tuan Aston juga baru saja menghubungi saya karena nomor anda tidak bisa dihubungi."
"Usir wartawan itu dan katakan pada Aston untuk menutup mulutnya."
"Ya? Tu ... Tuan... saya mana berani." rengek Renjun.
Clara yang melihat wajah lucu Renjun tertawa tampa suara. Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan Steven. Dia melambaikan tangan pada Renjun untuk mengusirnya. Lalu tangan besar itu meraih pipi Clara agar gadis itu menatapnya.
"Apa yang lucu Hmm? Kalau kamu terhibur dengan wajah jelek Ren apa aku harus membuatnya merengek setiap hari?"
__ADS_1
Clara melepaskan diri lalu mengambil pena dan kertas kosong dari meja Steven. Menulis sesuatu disana.
Steven tidak membacanya, dia malah meraih tangan Clara dan kembali menariknya duduk di pangkuannya.
"Kamu tidak ingin berusaha mengembalikan suaramu? Kamu tidak rindu memanggil namaku?"
Clara menatap mata Steven yang menjadi sendu itu. Ia menunduk karena tidak ingin menjawabnya.
"Clara ... kamu tidak cacat, kamu bisa mengeluarkan suaramu asalkan kamu mau. Dokter hanya mengatakan suaramu hilang karena trauma. Kamu tidak ketakutan lagi, dua orang itu juga sudah di hukum. Jadi tidak ada alasan untuk mencobanya."
Clara diam saja, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Steven
.
Jun benar-benar bertemu dengan Pixu, seorang kakek tua yang masih terlihat bugar dengan setelan jas formalnya. Mereka duduk di dalam sebuah ruangan khusus milik Pixu ini. Sudah sejak lama Jun tidak melihat kakek tua di depannya lagi.
"Bagaimana kabarmu, Jun?"
Jun mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Menatap pria tua itu dengan wajah datarnya. Sama sekali tidak menjawab sapaan itu. Dia malah mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya di atas meja.
"Aku tahu apa yang coba kamu lakukan, juga rencana tuan kecilmu. Tidak perlu membuatku meminum minuman yang kamu bawa itu. Kamu tahu aku akan tetap membantunya."
Jun menghela napas, lalu benar-benar meninggalkan sikap formalnya. Dia mengambil teh dari ceret lalu menuangnya pada cangkir. Lalu mengangkat cangkir itu pada mulutnya, meminum teh dalam satu tegukan.
"Aku dengar kamu hampir mati ditangan seekor kecoak. Bagaimana kamu bisa mengabaikan keselamatanmu sendiri?"
"Jika anda kawatir saat itu, mengapa anda diam saja?"
Pixu tertawa pelan, memberikan Jun senyum hangat layaknya orang tua pada anaknya. Jun tidak terpengaruh, dia masih bersikap dingin.
"Kamu yang ingin pergi, maka aku hanya mewujudkannya. Lagi pula, aku tahu tuan kecilmu akan menyelamatkanmu. Untuk apa aku repot-repot."
Jun mendengus pelan. "Kalau anda sudah tahu apa yang diinginkan Steven, maka tidak ada alasan saya disini lagi."
Jun bangkit dari duduknya, memberi hormat sebelum berbalik pergi dari ruangan itu. Namun langkahnya terhenti saat Pixu menyebut satu nama.
"Clara, gadis itu ... "
Jun berbalik, wajahnya terlihat sangat tegang. Pixu yang melihat reaksi Jun menyeringai senang.
"Kenapa kamu tidak mencoba mendapatkannya? Aku bisa menolongmu, dia cukup baik untuk menjadi pendampingmu. Kita hanya perlu mengambilnya bukan?"
Jun mengeraskan rahangnya. Sorot matanya berkilat marah.
"Jangan ikut campur dan jauhkan tanganmu dari mereka. "
Pixu ikut bangkit, menghampiri Jun yang berdiri di depan pintu. Mencengkram lengannya dengan kuat. Kedua mata mereka bertemu, saling mengirim aura intimidasi yang kuat.
"Kamu mengatakan tidak akan terlibat hal kotor apapun setelah anak kecil yang kamu ikuti lepas dariku bukan? Lalu bagaimana bisa dia yang berjalan ke dalam lumpur untuk menyeretmu? Lihat dirimu, tidak lebih baik dariku sekarang."
Jun menepis tangan Pixu dengan keras hingga terlepas dari lengannya. Menatapnya dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Jangan mencoba mempengaruhiku, dia berbeda denganmu yang telah membunuh ribuan nyawa."
Pixu tertawa dengan keras. Jun memilih pergi dari sana. Meninggalkan Pixu yang menatapnya dengan tawa penuh ejekan.
__ADS_1