
Clara menggigit bibirnya karena gugup. Dia tidak memiliki orang tua dan kerabat lagi. Sehingga tidak ada yang mengantarkannya. Beruntung tetangga dan pemilik tempatnya belerja membantunya. Teman-teman barunya juga tidak sungkan menjadi tamu dan membawa beberapa teman mereka sebagai tamu.
Ada banyak pertanyaan tentu saja, namun Clara menjawabnya dengan apa adanya, kecuali tentang Steven dan asal usul Jun tentu saja. Semua orang percaya kecuali satu orang, yaitu bosnya. Dia sempat mengenali Clara setelah memastikannya di internet. Bosnya adalah orang yang cukup berpengaetahuan luas. Dia suka mengikuti kehidupan orang sukses untuk dijadikan inspirasi. Apalagi Steven adalah orang yang paling sering disebut sebagai sumber inspirasi anak muda. Namun, dia tidak mencari lebih jauh atau bertanya langsung. Dia cukup tahu diri untuk tidak ikut campur.
Begitu pendeta berdiri diatas mimbar. Clara diminta untuk keluar. Jun berdiri disana dengan sangat tampan dan mempesona. Semua wanita disana bahkan merasa sangat iri pada Clara sekarang. Yang paling mencolok adalah, kehadiran Pixu dan sebagian besar anggota kelompok mereka. Clara tentu saja terkejut, begitu dia mencapai tempat dimana Jun berdiri, dia langsung bertanya.
"Yang disana ayahmu? Ba...bagaimana dia ada disini? Steven mengenalnya bukan?" kata Clara. Sama sekali tidak tahu menahu hubungan Pixu dengan Steven. Yang dia tahu saat pertemuan pertama mereka di restoran, Pixu mengenalkan dirinya sebagai ayah kandung Jun.
"Tak apa, dia datang karena aku. Selain itu, dia cukup berguna untuk meramaikan." jawab Jun asal.
Pendeta memulai, ketika janji suci diucapkan, terdengar benturan keras. Semua orang menoleh ke arah pintu masuk, lalu beralih pada seorang pria yang terlempar ke bangku.
Clara membeku ditempat. Sementara Jun segera bergerak melindunginya dari pandangan. Pixu sendiri bangkit dari tempat duduknya, berbalik dan tersenyum pada Steven dan Aston.
"Selamat datang, kalian ingin menghadiri pernikahan anakku juga?" tanya Pixu dengan santai
Belasan anak buahnya muncul, begitu juga anak buah Steven dan Aston. Pixu tentu saja tidak akan sembarangan menyerang. Aston ada disana juga, tidak mudah baginya bergerak untuk melindungi anaknya jika pertikaian terjadi. Bukan hanya Jun, nyawanya pun bisa terancam. Apalagi, raut wajah Steven sama sekali tidak bersahabat.
"Semua orang bisa keluar," kata Pixu pada akhirnya. Carlos segera menghentikan siapapun yang tadi sempat mengambil gambar. Merampas ponsel milik orang-orang itu, menghapus foto yang mereka ambil sebelum mengembalikannya lagi. Lalu mengucapkan sedikit kalimat ancaman agar mereka tutup mulut. Tentu saja urusan bicara bagian Billi, karena Carlos sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia.
Setelah semua orang yang terkejut dan kebingungan itu pergi, barulah Steven maju. Berdiri di depan Jun yang sama sekali tidak bergerak. Menatap satu sama lain dengan tatapan tajam menusuk.
"Menyingkir atau aku akan melubangi kepalamu." ancam Steven dengan nada rendah yang dingin.
Sayangnya Jun tidak bergeming. Membuat suasana semakin terasa mencekik. Clara yang tadi menunduk menyembunyikan wajahnya, kini perlahan berani mengangkat wajahnya. Dia bergeser dan berdiri tepat disamping Jun.
"Jangan salahkan dia, akulah yang ingin pergi darimu."
Mendengar itu, darah Steven terasa mendidih. Wajahnya semakin mengeras. Tangannya terkepal erat, berusaha menahan amarahnya. Lalu, ketika dia sudah bisa mengendalikan diri, Steven tersenyum sinis.
"Begitu?" katanya, dia menolehkan sedikit kepalnya kesamping, memberi isyarat perintah pada Billi.
"Panggil pendeta tadi, aku ingin lihat pernikahan kekasihku sekarang." Lalu dia menatap Clara lagi. "Aku ingin menyaksikan, betapa kejamnya kekasihku ini. Meninggalkanku dan menikahi pria lain tepat didepan mataku." Kemudian dia beralih pada Jun. "Dan penghianatan orang yang aku percaya, aku ingin melihat semuanya."
Steven berdiri kokoh ditempatnya. Kesunyian pecah ketika terdengar isakan tangis dari Clara.
__ADS_1
Sindy yang sejak tadi hanya menyaksikan bergegas menghampirinya. "Clar...ayo kita kembali." Namun gelengan pelan ia dapatkan. Clara menolak kembali. Steven yang menyaksikan itu begitu sakit hati. Namun dia masih menahan seluruh gejolak didalam dadanya.
"Clara ... jangan begini. Kamu menyakiti dirimu sendiri." bujuk Sindy lagi.
"Clar?" panggil Jun, pria itu akhirnya bicara. "Ingin kembali?" tanyanya, dengan lembut dia meraih kedua bahu Clara dan membuat gadis itu menatapnya. Pandangan yang membuat hati Steven seperti ditusuk ribuan pisau.
"Aku ... aku..." Clara tidak bisa menjawabnya, dia bimbang dan takut.
"Pendeta sudah datang, bukankah kamu harus menikah untuk bisa lepas dariku?" sela Steven.
Clara menoleh, lalu menatap Steven yang juga menatapnya. Meskipun dia menunjukkan ekspresi datar, Clara bisa melihat luka yang amat besar dari sorot matanya. Hal itu membuat Clara goyah beberapa saat. Clara tampa sadar melangkah kearah Steven namun Jun menahannya. Clara tersadar, dia menoleh pada Jun lalu menunduk lagi.
Tampa siapapun sadari, Steven menarik sudut bibirnya sesaat. Steven melangkah maju, menarik Clara sehingga gadis itu terlepas dari tangan Jun yang memegang pergelangan tangannya.
"Jangan egois, kamu hanya memberikan tekanan penderitaan untuknya." kata Jun dengan nada rendah.
"Jangan menentangku, Jun! Sudah cukup apa yang kamu lakukan. Jangan membuat tanganku dikotori oleh darahmu." balas Steven dingin.
Terdengar kokangan senjata, dimana Pixu sudah berada di belakangnya, mengacungkan pistol kearah kepala Steven. Billi dan Carlos juga mengarahkan pistol pada Pixu. Sontak seluruh anak buah mereka saling mengarahkan senjata. Membuat suasana menjadi semakin memanas. Pendeta yang tadi datang lagi berlari keluar tampa dihentika. Sayangnya diluar pintu, dia dihadang dan di amankan sementara agar dia tidak lapor kepolisi.
"Hen...hentikan! Jangan saling menyakiti kumohon!" teriak Clara.
"Maka putuskan pilihanmu nak, semua ini bermula darimu." kata Aston, ada kemarahan dalam suaranya.
"Biarkan dia memilih Steven, kenapa kamu memaksa wanita. Biarkan Jun menikahi calon istrinya." kata Pixu.
Steven terkekeh pelan, dia berbalik. Dengan begitu moncong senjata Pixu kini tepat di depan keningnya. "Pixu, kamu ingin perang denganku?"
"Aku harus membawa anakku kembali. Maafkan aku," sahut Pixu.
"Jadi karena itu kamu disini? Syarat Jun kembali adalah memastikan kekasihku menjadi miliknya?"
"Hahaha! Kekasih apa, Nak ... kalian sudah berakhir."
Kalimat itu menyulut amarah Steven yang sejak tadi ia tahan. Dengan cepat dia melayangkan tendangan yang membuat senjata Pixu terlempar.
__ADS_1
Pertempuran tidak dapat dielakkan. Mereka berkelahi satu sama lain tampa senjata. Tentu saja siapapun sadar, bertempur dengan senjata hanya akan mengundang banyak orang terutama polisi. Namun Aston, dengan santai menonton dari bangkunya. Sindy ditarik ke pinggir dan beberapa orang melindungi. Begitu juga dengan Clara yang dipaksa Carlos untuk menepi.
Perkelahian terhenti saat Jun dan Steven mengangkat tangan masing-masing. Keduanya berada dalam lingkaran saat ini. Dimana mereka membuat itu hanya pertarungan mereka berdua.
Pixu duduk di bangku setelah mengusap darah dibibirnya, menatap Billi dengan sengit karena dia berhasil memukulnya. Billi hanya membalas dengan menaikkan satu alisnya. Membuat Pixu mengumpat dalam hati.
Kedua orang ditengah lingkaran saling mengacungkan senjata. Keduanya saling melempar tatapan membunuh. Area belakang mereka dikosongkan untuk menghindari peluru.
"Jun ... kamu benar-benar siap mati." kata Steven dengan sinis.
"Aku sudah siap sejak kamu menyuruhku memilih pergi atau menjaga Clara saat itu. Kamu yang membuatku semakin ingin membawanya pergi. Kamu yang telah membuat trauma begitu banyak dalam hidupnya." sahut Jun.
Keduanya telah menarik pelatuk masing-masing.
"Hentikan Steven, jangan berbuat bodoh demi satu wanita yang telah membuangmu." bujuk Aston. Dia akhirnya bangkit berdiri. Berdiri tepat disamping Steven.
"Bahkan jika dia menyuruhku meninggalkan seluruh kekayaanku dan hidup miskin dikota ini, aku akan melakukannya Aston. Dia segalanya bagiku." jawab Steven dengan penuh ketegasan.
Sesaat tangan Jun turun beberapa senti, dia cukup terkejut mendengar penuturan Steven. Rasa bersalah tiba-tiba saja merasuki hatinya.
Clara sendiri menagis dalam diam. Menyadari bahwa cinta Steven untuknya begitu dalam. Dia merasakan rasa bersalah teramat dalam karena sudah menyakitinya.
Namun, suara tawa Pixu memecah keheningan. Laki-laki tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Anak muda memang luar biasa." katanya. Dia bangkit dari tempat duduknya. "Tapi meninggalkan seluruh kekayaanmu? Apa kamu bercanda?" dia tertawa pelan, tawa penuh ejekan. "Perusahaanmu menampung ratusan ribu karyawan. Hanya karena seorang gadis Steven? Saat kamu pergi, seluruh sahammu akan jatuh dan ratusan ribu karyawanmu akan menderita." Pixu beralih pada Clara yang kini terdiam. "Apa itu yang kamu inginkan gadis kecil? Jun ataupun Steven, kamu membuat mereka meninggalkan tanggung jawab mereka. Aku sungguh salut padamu." lanjutnya dengan nada mengejek dan kemarahan yang besar.
Aston menatap Pixu dengan aneh, sangat tahu alasan Pixu menagatakan hal itu. Orang tua di samping kanannya itu hanya ingin membuat Clara memilih Steven agar semua berakhir. Dia bahkan tahu bahwa anaknya tidak akan bisa menang.
Clara menggigil ditempatnya. Namun, meski kakinya bergetar. Dia melepaskan diri dari Carlos dan melangkah mendekati Steven. Perlahan dengan tangan bergetar dia menurunkan tangan Steven yang masih mengarahkan senjatanya pada Jun.
"Ayo pergi, kumohon." katanya setengah menangis.
Steven tersenyum, merangkul bahu Clara dan membawanya pergi. Dia melepas jasnya sambil berjalan dan memakaikannya pada Clara. Menutupi bahu terbuka gadis itu.
Jun menurunkan senjatanya juga, menatap nanar pada dua orang yang kini berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Jun tahu dia sudah kalah. Meskipun mungkin Clara tidak menyetujui kembali pada dunia Steven, namun Jun sadar Steven akan selalu punya cara menariknya kembali. Karena pada dasarnya, Clara mencintainya sejak awal.
__ADS_1
"Ayo pulang nak, kamu juga sudah waktunya kembali dan berhenti lari dari ayahmu. Kalau kamu ingin merebutnya, harusnya kamu membentuk kekuatanmu dulu. Steven tidak akan semudah itu dikalahkan." kata Pixu setelah hanya tinggal mereka disana.
Jun tidak menjawab, dia bahkan tidak melawan saat anak buah ayahnya menyeretnya pergi dari sana.