
Jun duduk diatas sebuah kapal pesiar yang sedang mengarungi lautan. Beberapa orang lalu lalang dibelakangnya, menikmati hembusan angin laut. Rambutnya yang sudah sedikit menutupi matanya terbang tertiup angin. Luka bekas pukulan Steven sudah memudar. Ini adalah hari ke tiga dia meninggalkan kehidupan lamanya. Menikmati hari-hari sendirian mengarungi lautan bersama beberapa orang yang juga liburan.
"Kebetulan yang sangat langka, aku tidak tahu akan bertemu anjing setia milik Steven disini."
Jun menoleh, menatap dengan tidak tertarik orang yang menyapanya dengan sebutan kurang ajar. Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan. Dia adalah saingan bisnis Steven yang paling sering mengusiknya.
"Menikmati waktumu, Scott kecil?" balas Jun datar. Pria itu tersenyum, melambaikan tangannya untuk memberi isyarat pada bawahannya agar menjaga jarak.
"Setahuku Steven tidak ada didaftar penumpang kelas atas. Lalu kenapa tangan kanannya ada disini?" tanya pria itu. Dia adalah Gray scott, kakak kandung dari Alex scott.
Jun memutar badannya sehingga mereka saling berhadapan. Gray yang lebih tinggi dengan kulit agak gelap itu terlihat sedikit mabuk. Jun sama sekali tidak ingin membuat keributan dengan pria dihadapannya ini. Karena dia tidak memiliki dendam apapun padanya. Karena itu, ia menepuk pundak Gray lalu mencengkramnya erat. Memberi peringatan ringan agar jangan mengganggunya. Setelah itu Jun meninggalkannya.
"Selidiki dia, segera laporkan padaku apa yang dilakukan orang Steven disini." suruhnya pada bawahannya.
.
Didalam aula kapal sedang ada pesta dari salah satu penumpang. Seluruh penghuni kapal bebas menikmati hidangan pesta mereka. Pasangan paruh baya yang sudah menikah selama 25 tahun. Jun duduk dipojok sendirian. Menikmati minumannya sambil menonton pasangan yang berdansa ditengah alunan musik.
"Hai tuan tampan? butuh teman?" Jun tidak merespon godaan wanita itu. Dia sudah biasa menemui wanita seperti ini. Pemburu laki-laki kaya untuk menumpang hidup mewah. Ia ingat setiap perjalanannya dengan Arnold, pria itu akan langsung menyiram atau melempar sesuatu pada mereka. Berbeda saat Jun bersama Steven, pria itu sangat acuh, tuannya itu hanya akan diam. Renjun atau dialah yang akan menyingkirkan wanita murahan yang mencoba merayunya.
Jun melirik tangan yang kini bertengger di bahunya. "Tuan ... aku tidak ingin mengganggu, cuma ... tuan disana ingin mengajakmu bersulang." bisik wanita itu. Lalu pergi kembali menuju pria yang membayarnya setelah memberikan kecupan ringan dipipi Jun.
Jun mengalihkan pandangnnya pada pria yang tadi mengangkat gelasnya, pandangan mereka bertemu dalam jarak yang cukup jauh. Jun sedang mengingat siapa pria ini, karena dia merasa dia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Ketika ingatannya sampai pada suatu kejadian, matanya membola sesaat. Dia ingat, pria dari masa lalu mereka. Steven, Arnold dan dia sendiri saat masih bergelut di dunia bawah.
.
Steven memijit kepalanya. Emosinya terasa meledak-ledak. Dia berada dalam kantornya dan dihadapannya kini berdiri Renjun yang bingung harus menghadapi tuannya seperti apa. Segala pekerjaan yang biasa dipegang oleh Jun kehilangan kendali. Terutama pusat keamanan yang berpusat di Indonesia. Billi menghubunginya karena dia tidak bisa melapor pada Jun. Begitu juga Yuno yang bertanya dimana Jun. Arnold baru saja memakinya dari telfon saat dia tahu Jun pergi.
"Ren...suruh Billi datang." Steven menyandarkan dirinya dikursinya. "Kamu sudah menemukan Jun dimana?"
Sindy yang sedari tadi duduk mengerjakan laporan diam-diam mencuri dengar dari celah pintu yang terbuka. Dia memang ditempatkan di depan ruangan Steven.
"Dia ... terlihat dipelabuhan beberapa hari yang lalu tuan. Namun namanya tidak terdaftar dikapal manapun. Kalaupun ia pergi dengan kapal pesiar, saya pikir..."
"Aku tahu, periksa setiap kapal yang berlayar hari itu, dimana kapalnya mendarat dan periksa dengan teliti apakah dia ada disana."
"Baik Tuan,"
Renjun keluar dan menatap Sindy yang berpura-pura bekerja dengan sinis. Ekspresinya seperti ingin menguliti gadis itu. Pasalnya dia tahu Sindy bersikap tidak sopan dengan menguping mereka.
Steven mendapatkan pesan dari Carlos bahwa Clara hanya sedang bermain dengan anjing kecilnya sore ini. Gadis itu akhirnya mau pergi kuliah dengan janji yang harus ia setujui. Janji yang sama sekali tidak disukainya.
.
Jun membuka matanya perlahan. Indranya perlahan mulai bekerja. Jun tidak bisa melihat apapun. Dia seperti berada di dalam ruangan gelap. Bau debu dan bangkai serangga memenuhi penciumannya. Selain itu dia juga mencium bau seperti daging busuk.
Jun berusaha tenang dan mulai bergerak. Namun, dia tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya terikat pada sesuatu. Bisa Jun pastikan dia diikat pada bangku dan ia berada dalam ruang penyiksaan dari musuh lamanya. Karena ingatan terakhirnya adalah beradu pandang dengan pria itu sebelum diserang kantuk luar biasa.
Wanita yang menghampirinyalah pelakunya. wanita itu memasukkan obat tidur dalam minumanya, ia segera dibius ketika mulai sadar karena mereka tidak ingin Jun kabur saat mereka memindahkannya ke luar kapal.
Jun tidak tahu sudah berapa hari ia dipaksa tidur. Pintu terbuka dan disusul dengan ruangan yang dipenuhi cahaya. Jun harus memaksa penglihatannya menyesuikan dengan cepat ketika beberapa langkah kaki mendekatinya.
"Senang melihatmu sadar tepat waktu."
Jun menatap pria yang umurnya nyaris sama dengannya itu dengan datar. Tidak ada ketakutan sama sekali walaupun ia tahu mungkin nyawanya hanya sebentar lagi.
"Senang juga melihatmu sudah bisa berjalan lagi, Tom..." balas Jun setengah menyeringai.
Pria yang dipanggil Tom ini tampak murka. Dengan brutal ia menendang dada Jun hingga ia terpental dan kursi kayu itu patah menabrak dinding. Jun tidak mengeluarkan suara apapun. Dia hanya tersenyum dengan pandangan kosong.
"Angkat dia dan ikat dengan rantai pada tiang." kata Tom pada salah satu anak buahnya.
Jun sempat batuk dan mengeluarkan darah saat ia dipaksa berdiri. Melirik Tom yang menatapnya tajam, sorot mata penuh hinaan.
Setelah kedua tangannya diikat keatas, Jun disiram dengan air. Merasakan nyeri pada beberapa kulitnya, Jun tertawa mencemooh atas perlakuan mereka.
"Menyiram luka dengan air garam hanya pekerjaan anak kemarin sore, Tom..." ejek Jun, "Taukah kamu kenapa Steven jauh lebih unggul dan sekarang berada di puncak? karena dia tahu cara mematahkan kaki lawannya." lanjut Jun. Tentu kaki yang dimaksud Jun bukan kaki dalam artian sebenarnya. Namun karena itu Tom lebih murka saat mengingat kejadian dimasa lalu mereka.
"Ya, karena itu aku akan melakukan hal yang sama. Dimulai darimu, anjing setianya." jawab Tom.
Dia berjalan ke dinding untuk mengambil pedang yang di gantung disana. Lalu berjalan kembali pada Jun yang sedang menatap sekitarnya. Mencoba melihat isi ruangan itu. Saat itulah matanya menangkap wajah seseorang yang dikenalnya. Hatinya bertanya-tanya kenapa ada anak ini ditempat ini. Apa hubungannya dengan musuhnya ini?
"Tom...sebelumnya bolehkah aku tahu kita dinegara mana?" tanya Jun santai. Matanya kini beradu pandang dengan anak muda yang juga menatapnya datar. Lalu dia tersenyum tipis kemudian, membuat Jun bertanya-tanya tentang tujuannya. Tidak biasanya psikopat menjadi suruhan. Setahunya mereka lebih suka bergerak sendiri.
"Nanti kamu akan tahu," sahut Tom lalu mengayunkan pedangnya, menebas paha Jun hingga membuat pahanya menganga dengan luka memanjang yang dalam. Darah mengalir dengan deras dari sana. Jun mendesis lirih. Kali ini ia tidak bisa menahan rasa sakitnya.
"Gimana? apa mulutmu masih bisa bicara?" tanya Tom dingin. "Lakukan rencananya Raka." lanjut Tom, lalu berjalan keluar setelah melempar pedangnya ke lantai.
Raka, anak yang dari segi umur masih tergolong dibawah umur itu duduk didekat genangan darah Jun yang terus menetes. Menyentuh darah itu dengan jarinya, lalu mendongak dengan senyum kosong tampa makna.
"Aku...sudah lama nunggu saat ini. Game ini namanya game hidup untuk mati." kata Raka, lalu mengeluarkan ponselnya. Merekam Jun dalam durasi beberapa detik. "Tunggulah lebih lama, kamu belum boleh mati sekarang." lanjutnya.
Setelah Raka keluar, dua orang yang masih berada disana bergegas melepaskan Jun, menyeretnya pada lantai dingin dan kotor itu. Seseorang masuk, seorang wanita membawa makanan dan juga peralatan untuk membalut dan mengobati luka. Membalut luka pada kaki Jun seadanya. Tidak dijahit apalagi dibersihkan, hanya disiram dengan alkohol lalu dibalut perban.
__ADS_1
Setelah selesai, ia ditinggalkan begitu saja. Ruangan itu kembali gelap. Satu-satunya cahaya hanya dari celah pintu yang tertutup. Jun masih meringis. Rasa sakitnya seakan mematikan seluruh sarafnya. Ia tidak bergerak sama sekali. Dalam kesakitan itu, hal yang terlintas terus difikirannya adalah Steven dan juga Clara. Bukan keputus asaan, Jun hanya sekali pernah merasakan itu. Setelah bertemu Steven, dia tidak lagi pernah merasakannya.
Jun memejamkan matanya, berusaha melupakan sakitnya dan memutar otak. Hubungan keduanya dan apa rencana dua orang itu. Tom dengan dendamnya dan Raka dengan kegilaannya. Bagaimana mereka bisa bertemu?
.
Clara memulai kuliahnya. Hari-hari terasa menyenangkan baginya karena ia menemukan ada orang yang berasal dari negara yang sama berada satu angkatan dengannya. Dalam dua hari mereka sudah akrab.
"Apa orang itu selalu mengikuti kamu?" bisik temannya, Lusi.
"Hmm...itu...ya. Dia ditugaskan untuk mengikutiku." jawab Clara canggung. Mereka sedang ada di kafetaria universitas.
"Ayahmu cukup protektif ya? aku iri tahu. Ayahku...malah terus sibuk dan nyaris tidak peduli. Karena itu aku kuliah ke luar negeri." keluhnya.
Clara bingung harus mengatakan apa. Masalahnya bukan ayahnya yang protektif, tapi seseorang yang bahkan masih ia tolak pada pernyataan terakhirnya. Padahal orang itu yang membiayai hidupnya kini. Meskipun tentu Clara tidak pernah memintanya, tapi sifatnya membuat ia merasa terus berhutang pada Steven.
"Hmm...itu..." Lusi menatapnya aneh sambil menyeruput jus jeruknya.
"Kenapa denganmu?" tanya Lusi, lalu seketika wajahnya berubah karena isi kepalanya sendiri. "Dia bukan ayahmu? kamu punya sugar daddy?" bisiknya pelan.
"Su...sugar apa? bukan...ini...agak rumit. Orang tuaku...keduanya telah meninggal." jawab Clara, lalu menunduk dan meminum minumannya pelan.
Lusi menatapnya sesaat, gadis itu terlihat kasihan pada Clara. Lalu ia menghela nafas, berpindah duduk menjadi disebelahnya lalu merangkulnya.
"Tenang aja...aku akan jadi kakakmu yang baik." katanya penuh semangat.
"Jadi disini...kamu tinggal bareng siapa?" tanya Clara setelah rangkulan Lusi dilepas.
"Aku sendirian, tinggal di apartement kecil dan bekerja di salah satu kafe dekat tempat tinggalku."
"Kerja? bukannya kamu..."
"Aku kabur, Clara. Aku tidak memberi tahu mereka aku kesini." Clara tampak syok.
"Lalu uang kuliahmu...kamu juga bayar sendiri?"
"Hmm...awalnya aku ajuin beasiswa tapi tidak lulus. Hehehe... jadi aku jual semua perhiasan dan... tadaaa! aku jalanin aja sekarang. Kalau nanti putus asa baru balik kerumah." katanya dengan nada ringan.
Clara masih menatapnya terkejut dan bingung, karena itu Lusi tersenyum maklum lalu melanjutkan ceritanya. "Karena kamu teman pertama aku, aku akan kasih tahu satu rahasiaku." dia menjedanya sesaat, "Aku punya ibu tiri yang jahat, Clara. Dia menyiksaku dan terus membuat ayah benci sama aku. Jadi...karena ayah juga udah nggak peduli, aku pergi. Lagian...ini bukan pertama kalinya aku kabur." lanjutnya.
Setelah sekian lama bercerita, Clara baru melihat raut sendu teman barunya ini. Clara menunduk, dia jadi seperti melihat dirinya dimasa lalu. Namun perbedaannya Clara tidak memiliki keberanian untuk melawan seperti Lusi.
"Nona, sebentar lagi kelas selanjutnya." sela Carlos yang sudah berdiri di sisinya.
"Oh...baiklah." jawab Clara, lalu menoleh pada Lusi. "Kamu tidak masuk?" tanya Clara melihat Lusi yang santai-santai saja.
Clara memang mendengar bahwa sangat susah lulus untuk masuk kelas profesor yang bermarga Brush itu. Clara juga tidak tau bagaimana dia bisa lulus. Dia hanya diberikan soal ujian dan Carlos yang mengurus semuanya. Clara jadi berfikir, apakah frofesor itu disogok oleh Steven? dia merasa buruk karena memikirkan hal ini.
"Anda sudah sampai Nona, saya akan menunggu di bangku sana." Clara berhenti, dia baru sadar sudah di depan kelasnya.
"Aku jadi kangen Jun," lirihnya. Clara mengingat bagaimana Jun tidak akan membiarkannya berfikir terlalu banyak. Jun akan langsung bertanya dan Clara akan langsung menemukan jawabannya setelah bercerita.
Kelas berakhir dan Clara menghela nafas berat. Kepalanya terasa pusing karena beratnya pembahasan yang di ajarkan pada mereka. Clara perlu menyesuikan diri lebih banyak lagi dengan istilah-istilah medis yang tidak dimengerti olehnya.
"Anda ingin langsung pulang, Nona?" tanya Carlos.
"Aku harus ke perpustakaan." jawab Clara.
Maka disinilah dia, dengan tumpukan buku tebal. Sedang membaca dan beberapa kali terlihat menyalinnya di buku. Carlos tidak diizinkan masuk karena dia bukanlah mahasiswa.
"Kak Clara?" sapa suara seorang pria. Clara menoleh dan mendapati seseorang yang sama sekali tidak ingin dilihatnya.
"Kamu ... ngapain disini?" tanya Clara, suaranya terdengar gugup.
"Ngapain? perpustakaan tempat belajar kak." jawab Raka, lalu ia mengambil tempat duduk dihadapan Clara. Mulai membaca buku yang dibawanya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kakak disini, masih sama kak Steven?" tanyanya tampa melihat. Bersikap seolah tidak tahu apapun.
Clara mengeratkan pegangan dibuku dan berusaha bersikap senormal mungkin. "Dia baik, kami baik-baik aja." jawab Clara.
"Senang mendengarnya," sahut Raka dengan senyum ramahnya. Mengangkat kepalanya sesaat sebelum melanjutkan bacaannya.
Clara yang sejak kedatangannya tidak mengalihkan pandangan, memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu ... tidak kuliah disini, kan? jadi untuk apa kamu kesini?"
"dari mana kakak tahu aku tidak kuliah disini?" tanya Raka, senyum aneh tersungging di bibirnya. Senyum ramahnya sudah lenyap, matanya fokus menatap Clara yang semakin merasa takut.
"Kamu setahun dibawahku..."
"Aku mengambil akselerasi dan lulus bareng kak Clara lho. Kakak tidak tahu?" jawabnya.
Merasakan ketakutannya semakin besar, Clara memasukkan alat tulis dan bukunya kedalam tas. "Aku harus pulang, sampai jumpa." kata Clara. Lalu dengan cepat bangkit dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
__ADS_1
Sesampainya diluar, Clara mencari keberadaan Carlos namun pengawalnya itu tidak terlihat. Clara panik, dia bahkan nyaris menangis. Lalu seseorang menepuk pundaknya. Clara tersentak hebat dan segera berbalik.
"Hei...kamu kenapa? kenapa wajahmu pucat?"
Clara memeluk orang yang baru saja berbicara, memeluknya erat untuk menghilangkan ketakutannya.
"Clara...ada apa?" tanya Lusi. Lusi tadinya akan keperpustakaan karena dia memiliki tugas juga, Namun ia malah menemukan Clara yang sepertinya sedang terkejut dan takut.
Clara melepaskan pelukannya, tapi ia masih mencengkram erat kedua lengan Lusi, kepalanya menunduk. "Tidak ada, aku tidak apa-apa." jawabnya.
"Nona, anda sudah selesai?"
Clara menoleh, melihat Carlos yang entah datang dari mana. Melihat keadaan Nonanya yang terlihat tidak baik, Carlos tahu terjadi sesuatu.
"Nona...maaf tadi saya ke kamar mandi. Kita pulang sekarang?" tanyanya. Clara melepaskan Lusi dan mengangguk.
"Clara...kamu oke?" tanya Lusi. Clara menoleh dan mengangguk singkat. Wajahnya masih pucat, karena itu Lusi terlihat kawatir.
.
Sesampainya dirumah, Clara menemukan Steven sudah pulang. Dia seperti biasa masih sibuk dengan urusannya dan Sindy berdiri di dekatnya. Wanita itu selalu menempelinya sejak tidak ada Jun. Bahkan ia pernah dengan berani naik ke kamar pribadi Steven dengan alasan mengantarkan laporan yang harus segera dileriksa. Padahal itu masih sangat pagi dan Steven baru selesai berpakaian. Clara yang merasa risih segera keluar dan Steven sama sekali tidak berkomentar apapun.
Clara berjalan dengan lesu, melewati Steven yang sedang berbicara dengan salah satu bawahannya. Sepertinya membahas sesuatu.
"Clara?" tegur Steven.
Pria itu melangkah mendekatinya. Memeriksa dirinya dengan teliti. Clara yakin Carlos sudah mengatakan sesuatu, karena itu Steven bersikap berlebihan seperti ini.
"Aku baik-baik aja. Aku lelah, mau istirahat." kata Clara, lalu berlalu begitu saja.
Steven mengikutinya, melarang siapapun mengikuti mereka karena dia tahu Sindy mulai mengikutinya lagi. Tentu saja Steven tahu wanita itu terus menempelinya. Steven mendapatkan banyak informasi darinya karena Aston ternyata masih terus menghubunginya. Menjadikan wanita itu mata-mata. Steven tentu saja memiliki cara untuk mendapatkan apa yang ingin diketahuinya, tampa Sindy sadari. Keinginan wanita itu kini tidak lagi mendapatkan dirinya, karena Aston sudah memberikannya. Membantu perusahaan keluarganya, juga menunjukkan pada mantan tunangannya betapa ia memiliki kuasa sekarang.
"Tuan..."
Steven berhenti didepan lift, saat orang yang ia tugaskan mencari Jun menghampirinya. "Katakan," suruhnya.
"Keberadaan tuan Jun pernah terlihat pada kapal yang saat ini baru berlabuh kembali. Tapi kami tidak menemukannya keluar dari sana."
"Kalian memeriksa seluruh cctv dikapal itu?"
"Ya, Tuan. Tuan Jun hanya tertangkap kamera di lorong menuju kamarnya. Beberapa tempat seperti ruang pesta namun hanya sekilas. Tapi...kami juga melihat anak pertama keluarga Scott disana. Juga...dari keterangan beberapa penumpang, ada kapal kecil datang dan beberapa orang dari kapal mereka terlihat turun kesana."
"Kapan itu?"
"Sekitar 4 hari yang lalu, tiga hari setelah kapal berlayar."
Steven terdiam beberapa saat, tampak berfikir. "Terus cari keberadaannya, ikuti Gray dan lihat apakah ada yang mencurigakan darinya. Tapi jangan terlalu fokus padanya, dia hanya kemungkinan kecil." kata Steven.
Steven mengetuk kamar Clara, gadis itu membukanya dan menatapnya malas. Dia lelah dan ingin istirahat. Clara juga hanya terus kesal saat melihat Steven. Dia merasa pembicaraan terakhir tidak ada gunanya. Karena Steven tetap membiarkan Sindy berada didekatnya. Malahan semakin melewati batas dari hari ke hari.
"Kamu lelah? bisakah kita ngobrol bentar?"
"Tentang apa?" tanya Clara ogah-ogahan.
Steven tersenyum, lalu menarik tangan Clara untuk masuk kedalam kamarnya. Mendorong pelan agar Clara agar berbaring dan dia duduk disisinya.
"Istirahatlah, aku hanya ingin menayakan satu hal."
"Apa?"
"Tentang kamu yang terlihat pucat setelah keluar dari perpustakaan. Apa yang kamu lihat disana?"
Clara diam sesaat, "Tidak ada, hanya lelah habis belajar." jawabnya.
"Baiklah, katakan kalau ada yang ganggu kamu, hmm?" Steven tahu Clara menyembunyikan sesuatu. Dia akan menyelidikinya sendiri tentu saja.
"Tidak ada kecuali Carlos, orang-orang terus salah sangka sama aku."
"Maafkan aku, tapi Carlos tetap harus di dekatmu."
"Setidaknya jangan terlalu mencolok." protes Clara lagi.
"Kamu tidak suka karena dia bukan Jun, benar? karena dia tidak bisa membuat kamu nyaman." kata Steven.
Keduanya terdiam, Clara tahu apa yang dikatakan Steven benar. Tapi tentu saja nyaman jenis yang berbeda dari yang dipikirkan Steven.
"Maafkan aku, karena belum bisa menemukannya. Istirahatlah, aku akan kembali kebawah."
Clara menahan Steven dengan menggenggam tangannya, menatapnya dengan sorot rasa bersalah. Hatinya tidak rela melihat Steven salah paham padanya. Pikiran labil gadis itu benar-benar menyiksa Steven.
"Jun memang membuatku ngerasa aman saat keluar. Tapi tolong jangan menganggapnya berlebihan. Rasa suka sama dia berbeda, Steve."
Steven menatapnya lama. "Aku harap itu benar." jawabnya. Lalu melepaskan pelan genggaman Clara. Meninggalkan gadis itu dengan kebingungannya.
__ADS_1
"Aku...aku hanya merasa aman karena Jun seperti seorang ayah. Jun...seperti pengganti ayahku. Yang saat kecil sangat memahamiku." gumam Clara,
Air matanya jatuh begitu saja. Kembali mengingat ayahnya. Dia merindukan masa kecilnya saat keluarganya masih utuh. Lalu kepergian sang ibu dan kedatangan ibu tirinya, merubah segalanya. Clara kehilangan pegangan. Ayahnya menyayanginya, tapi perlakuannya menjadi berbeda dari hari kehari. Lalu saat memulai masa SMA, Clara kehilangan kasih sayang selamanya. Ibu dan adik tirinya selalu mendominasi dan menguasai ayahnya.