SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
47


__ADS_3

Clara sedang bermain dengan anjing kecilnya, ia menggendong anjing itu menuju ruang baca yang biasa ia gunakan. Clara baru saja akan main pagi itu sebelum Jun datang membawa seseorang untuknya.


Clara merengut tidak suka kala melihat siapa yang dibawa Jun. Ya, pagi ini setelah lima hari sejak kejadian dibioskop, Clara menjalani konsultasi rutin dengan psikiater. Saat ini, adalah jadwalnya untuk jalan-jalan keluar. Clara harus menghadapi dunia luar dan mengatasi ketakutannya.


"Jun...aku tidak mau." kata Clara dengan nada membujuk. Berdiri disebelah Jun dan menatap kesal sang dokter yang usianya setua mendiang ayahnya. Clara selalu merasa lelah setelah berbicara dan melakukan hal yang disuruh psikiaternya.


"Tuan Steven menjadwalkan anda sekarang, Nona. Ini baik untuk anda. Bukankah anda bilang mau ikut menemaninya keperusahaan?"


Clara menunduk, semakin lama tingkat kepercayaan dirinya semakin rendah. Alasannya adalah Sindy, teman yang sudah ia anggap kakaknya sendiri. Nyatanya saat ini ia selalu merasa kecil saat Sindy bisa mengikuti Steven kemana saja. Bahkan dua hari terakhir Steven tampak nyaman membicarakan perusahaan dengannya. Sementara dia sama sekali tidak mengerti apapun. Dia tidak pernah belajar seperti Sindy dan dia juga tidak sepintar wanita itu.


"Nona?"


Clara akhirnya mengangguk. Seiring berjalannya waktu, keinginan gadis itu juga berubah. Bahkan alasannya untuk tinggal dirumah itu bukanlah menolong Sindy lagi, melainkan untuk dirinya sendiri. Clara tahu dia harus berjuang untuk dirinya. Dia harus menjadi kuat dan mengatasi ketakutannya.


Tidak banyak pengawal disekeliling mereka, hanya ada Carlos dan Jun. Karena Clara takut melihat ada banyak yang mengawasi, jadilah para pengawal hanya mengawasi dari jauh. Bahkan Jun dan Carlos diharuskan memakai pakaian kasual. Bukan pakaian resmi seperti biasa. Hal ini sudah berlangsung selama 4 hari belakangan.


"Taman menyenangkan bukan. Disini banyak anak bermain bahkan pasangan yang menghabiskan waktu bersama. Lihat, Clara ... dunia luar akan aman dan baik-baik saja selama kamu tidak takut." kata dokter itu.


"Tapi banyak orang jahat." sahut Clara.


"Tentu, tidak semua orang baik. Hanya saja kamu harus berani melawan orang jahat itu. Mereka bukan apa-apa. Mereka sama sepertimu, mereka manusia yang punya kelemahan."


Mereka duduk dibangku taman, dokter itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dan menyuruh Clara memegangnya.


"Itu..."


"Tidak apa-apa, ini hanya pisau."


Dengan ragu Clara mengambilnya, dia tidak mengerti, karena itu ia menatap dokter itu bertanya.


"Pisau itu adalah alat, bisa kita gunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Sama halnya dengan pistol. Saat kamu melihat benda ini...apa yang kamu pikirkan?"


Clara diam, menunduk menatap pisau ditangannya. "Seseorang ingin membunuhku." jawabnya.


Jun tertegun, menatap wajah Clara yang tampa ekspresi. Gadis itu masih menyimpan pikiran-pikiran buruk dalam kepalanya. Terapi yang diberikan padanya seperti tak berguna.


"Clara...apa kamu pikir aku akan membunuhmu?" tanya sang dokter.


Clara menatapnya dan menggeleng pelan.


"Anda dokter saya," jawabnya.


"Lalu..." dokter itu mengambil pisau dari tangan Clara dan memberikannya pada Jun. "Kalau dia yang memegangnya, apa kamu pikir dia akan membunuhmu?"


"Mana mungkin, Jun temanku." jawab Clara.


"Benar, semua tergantung pikiranmu dan apa yang kamu percaya."


"Tapi...jika orang itu jahat..."


"Kamu punya banyak orang yang melindungi, lupakan rasa takut itu. Anggap perasaan itu teman jahatmu yang mampir dan kamu hanya perlu mengusirnya."


Clara terdiam, ia jadi ingat teman SMA nya yang dulu membulinya. Clara memang lemah tapi saat itu dia punya Aldo yang menolongnya. Kali ini, dia punya pengawal dan terlebih Steven. Dia punya Steven yang berjanji akan melindunginya. Mengingatnya, membuat Clara jadi ingin melihatnya.


"Aku mau kekantor Steven, Jun...boleh kan?"


Jun mengangguk, lalu menatap dokter itu. "Tak masalah, aku bisa kemana saja." jawabnya santai.


Sesampainya dilobi gedung, Clara dihadapkan dengan banyaknya karyawan yang laku lalang. Semua tampak sibuk. Beberapa orang memberikan sapaan bahkan salam hormat pada Jun.


"Jun...kamu terkenal disini." kata Clara.


"Itu karena saya sering menggantikan tuan Nona."


Dokter itu tertawa pelan. "Kamu benar, Clara. Dia pria muda tampan yang terkenal."


Jun hanya memasang wajah datar, karena kini bukan hanya Clara dan sang dokter, Carlos yang ikut mengawal masuk juga tersenyum.


Semua mata menatap mereka, terutama Clara karena pertama kalinya ia menginjakkan kaki disana. Ia datang bersama Jun yang perannya sangat dihargai dan dihormati disana. Jun sudah seperti bos kedua mereka. Karena seringnya ia menggantikan Steven dimanapun. Bahkan namanya sangat terkenal bukan hanya diperusahaan induk, tapi juga di seluruh cabang perusahaan.


Sesampainya di depan resepsionis, mereka disambut dengan baik. Saat mereka masuk, Steven hanya berdua dengan Sindy. Tidak ada Renjun seperti biasa. Hal itu membuat Jun was-was. Apalagi saat melihat ekspresi Clara yang terlihat sedikit kesal. Pasalnya posisi mereka sedikit ambigu karena Sindy berdiri di sisi Steven dengan tangan melingkari bahunya.


"Kalian..."


Steven bangkit dan sedikit mendorong Sindy yang terlalu dekat. Kejadian sebenarnya hanyalah Sindy menyerahkan laporannya namun ia pura-pura tergelincir dari sepatunya. Steven reflek menahan tangan satunya dan tangan Sindy satu lagi berada dibahunya.


"Kenapa tidak memberi tahu kamu akan kesini? sudah selesai jalan-jalan?" tanya Steven. Sengaja tidak ingin membahas kejadian barusan. Dia tahu Clara salah paham tapi dia seperti membiarkan hal itu. Jun bahkan sampai heran. Tidak biasanya tuannya seperti itu.


"Kalian semua bisa menunggu diluar." kata Steven.


"Sebentar lagi aku ada pertemuan, kamu mau ikut?" tanya Steven.


"Kamu sibuk?" tanya Clara balik, Steven tersenyum saja. Jelas Clara tahu jawabannya.


"Hanya pertemuan biasa Clar...sekalian makan siang. Mau ikut?"


"Kak Sindy...apa dia juga ikut?"


Steven tersenyum, senyum yang sarat akan makna. "Dia...ya, dia ikut. Sekarang dia resmi jadi sekretarisku." Steven bisa melihat raut tak suka diwajah Clara. Namun ia berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Kenapa? bukannya kamu mau bantu dia? dengan kerja sama aku setidaknya ayahnya tidak bisa memaksa dia lagi kan?" kata Steven.


"Ya, terima kasih sudah mau membantu kak Sindy." jawab Clara. Namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia senang.


"Aku akan selesai sebentar lagi, duduklah dengan santai."


Steven kembali kemejanya dan menyuruh Jun dan yang lainnya masuk. Dokter Frans tampak berbicara kembali dengan Clara. Jun diam memperhatikan keadaan sementara Steven dan Sindy melanjutkan pekerjaan. Carlos kebawah untuk memesan minuman karena ia merasa haus.


"Clara?" tegur dokter Frans karena sejak tadi gadis itu tidak fokus.


Tentu saja ia tahu penyebabnya. Sangat mudah membaca gadis itu, karena itu dokter Frans tersenyum dan menggenggam tangannya. Selayaknya seorang teman dan ayah yang baik saat menenangkan anak gadis yang terlihat sedih.


"Apa yang kamu kawatirkan, tenanglah." katanya lembut.


"dokter Frans? tanganmu tolong?" tegur Steven tampa menoleh.


Dengan segera dokter Frans menarik tangannya kembali. 'Pria posesif yang mengerikan' katanya dalam hati.


Clara meliriknya dengan wajah sedih bercampur kesal. Steven masih fokus berdiskusi dengan akrab bersama Sindy. Jun menggaruk pelipisnya yang sama sekali tak gatal. Ia juga cukup kesal dengan kelakuan tuannya. Entah sengaja atau tidak, faktanya ia berhasil membuat Clara cemburu.


"Jun...aku mau pulang saja." kata Clara tiba-tiba berdiri dan melangkah keluar.


Dengan buru-buru Jun menyusulnya. Dokter Frans ikut berpamitan. Pria itu memasang wajah bingung. Entah bingung asli atau palsu, hanya dia yang tahu.


"Nona...bukankah kita baru saja datang?" cegah Jun, berdiri dihadapan Clara saat mereka sudah masuk kedalam lift.


"Jun, aku akan kembali duluan, sebaiknya Clara dibawa pulang. Dia juga kelelahan." kata dokter Frans lalu duluan keluar ketika lift terbuka.


"Nona...anda benar-benar akan pulang?" tanya Jun sekali lagi.


"Ya, aku mau pulang." jawab Clara ketus. Jun menghembuskan nafas lalu menghubungi Carlos yang ternyata sudah berada dibelakang mereka bersama Steven dan Sindy.


"Clara...kenapa pergi tiba-tiba? kamu lelah?" tanya Steven, memegang kedua pipinya dan memaksa gadis itu mendongak menatapnya.


Sontak pemandangan itu membuat semua orang yang ada disana berhenti mendadak dari segala aktifitas. Mereka seperti melihat sebuah pertunjukan langka. Bertanya-tanya tentang identitas Clara karena tadi bersama Jun dan sekarang bos besar mereka memperlakukan dia sangat lembut.


"Aku mau pulang," kata Clara. Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Tidak jadi ikut?" tanya Steven lagi.


"Clara ... kamu ikut saja. Selama disini kita belum pernah makan diluar bersama bukan?" Sindy ikut membujuk. Seolah mereka berdua sangat kompak dan dekat sekarang. Membuat Clara merasa asing.


Clara melepaskan paksa tangan Steven. Melirik kiri kanan. Perasaannya mulai tak enak tapi ia memberanikan diri mengangkat wajahnya kembali. Menatap Steven dengan kesal.


"Aku...mau pulang sama Jun!" katanya tegas. Lalu menarik tangan Jun pergi dari sana.


Jun membolakan matanya. Tidak tahu harus mengatakan dan bersikap apa. Steven bahkan tidak menghentikan mereka. Jun hanya takut tuannya akan membalasnya nanti dengan kemarahan yang lebih buruk dari sebelumya.


"Mungkin, ayo pergi. Tuan Smith mungkin sudah menunggu." jawab Steven santai. Sindy menatap punggung Steven heran, pria yang berjalan dihadapannya itu terlihat tidak terganggu seperti biasanya. Sehingga ia tersenyum senang, dia berfikir Steven sudah mulai jauh dari Clara dan tak terlalu menyukainya lagi.


Setelah drama yang sedikit membuat para karyawannya bingung, mereka pergi dari sana. Steven, Sindy dan Renjun ikut keluar dengan tujuan berbeda dari Clara tentu saja.


Didalam mobil, Clara membuang pandangannya kearah luar. Jun yang duduk disebelahnya menghela nafas. Dia benar-benar bingung. Rasanya dia lebih memilih menghadapi belasan musuh sekaligus dari pada menghadapi seorang wanita yang hanya diam saja. Karena ia sama sekali tidak memiliki ide untuk mengatasinya.


"Nona, saya tahu kedai es krim paling enak. Anda mau coba?" tanya Carlos yang duduk di depan bersama supir.


Clara menoleh, lalu mentap Jun meminta izin. Seperti biasa, kalau Jun mengizinkan itu artinya tidak akan ada bahaya. Untuk saat ini ituah yang diyakininya. Maka ia mengangguk setelah Jun mengangguk.


Sesampainya disana, Clara melihat cukup banyak orang. "Ramai...ini terlalu ramai. Mereka terlalu dekat satu sama lain" gumam Clara menatap antrian di depan mereka.


"Anda tidak ingin mencoba melawannya, Nona?" tanya Jun.


Clara menoleh, menatap ragu pada Jun yang juga menatapnya, seolah tatapan itu menyuruhnya jangan takut. Lalu Clara beralih pada Carlos yang ikut mengangguk dengan semangat.


"Ya," katanya.


Saat keluar, Clara melingkarkan tangannya pada lengan Jun. Dia tidak ingin terpisah karena kerumunan yang ada disana semakin banyak. Mereka harus mengantri. Tidak ada tempat duduk karena kedai ini hanya kedai kecil ditepi taman kota.


Clara mengeratkan pegangannya saat seorang anak remaja menyenggolnya saat berjalan. Membuat Jun menoleh pada Carlos untuk berdiri disisi Clara.


"Kalian pasangan yang terlihat serasi, mau rasa apa Nona? kami punya rasa untuk couple. Jenis baru khusus untuk minggu ini." kata penjual dengan sangat ramah. Clara tidak menghiraukan kesalahpahaman penjual itu, dia lebih fokus pada pilihan rasa dari es krim.


"Hmm...aku mau itu. Kamu yang mana, Jun?" tanya Clara. Dengan senyum manis ia menatap Jun yang hanya berdiri kaku. "Kenapa? kamu tidak mau?" Jun menunduk untuk melihatnya.


"Hmm...saya tidak makan es krim Nona." jawab Jun pelan. Kedua telinganya memerah karena malu. Sejak tadi mereka memang seperti sepasang kekasih.


"Kalau Carlos?" tanya Clara, menoleh pada Carlos. Laki-laki itupun menggeleng pelan untuk menolak. Bukan karena tidak suka, hanya saja ia akan malu makan eskrim ditengah anak remaja. Mereka pria dewasa dan seorang pengawal. Tidak terbiasa dengan hal manis.


"Ini Nona, selamat menikmati." kata penjual. Memberikan dua eskrim dalam gelas kecil.


Setelah kembali ke mobil, Clara membuka pintunya dan duduk makan eskrim sementara Jun berdiri didekat pintu yang terbuka. Memegang satu sekrim lain untuk Clara.


"Hmm...ini enak Jun! kamu harus makan itu!" kata Clara dengan nada memaksa.


"Terima kasih Nona...tapi saya tidak akan memakan ini." kata Jun tegas namun tetap sopan.


"Jun!"


"Tidak!" jawab jun lagi.

__ADS_1


"Jun...kan sayang dibuang. Ini terlalu banyak. Satu aja aku kesulitan menghabiskannya." mohon Clara dengan wajah dibuat sedih.


"Maaf Nona..."


"Jun...!" paksa Clara. Ia bergeser dan mengambil sendok eskrim untuk menyuapi Jun yang melotot.


"Buka mulutmu!" katanya tegas. Jun menggeleng, Clara dengan usil menempelkannya dibibir pria itu lalu tertawa.


"Clara, kamu benar-benar..."


Tiba-tiba saja keduanya terdiam. Jun tidak sengaja memanggilnya dengan tidak formal.


"Saya..."


"Itu terdengar baik, Jun. Kita jadi seperti teman main. Coba panggil lagi." suruh Clara, jelas ia tidak merasa terganggu. Carlos saja tadi sempat takut. Jika Clara marah dan tuan mereka tahu. Tentu ini tak baik. Carlos memang belum mengenal baik karakter Clara, jadi ia mengira Clara akan marah pada Jun.


"Habiskan saja milik anda." kata Jun lalu memutari mobil. Masuk kedalam dari pintu sebelah. Duduk dan mulai memakan es krim ditangannya.


Clara tersenyum dan mengangguk pada Carlos, mereka bahkan melakukan tos atas ajakan Clara. Seakan berhasil dalam mengusili Jun yang selalu kaku itu.


"Kita pulang?" tanya Carlos setelah masuk.


Jun dan Clara mengangguk. Mobil mulai berjalan dan Clara melanjutkan makan es krimnya. Dia tampak lebih baik setelah tadi terlihat sedih sepulang dari kantor. Jun tersenyum lega, walau ia tidak suka es krim, ia akhirnya menghabiskannya.


"Nona, anda tahu kenapa orang penting seperti Jun yang menjaga anda?" tanya Carlos tiba-tiba.


"Hmm? kenapa?" tanya Clara penasaran.


"Karena anda juga sangat penting bagi tuan. Jun itu punya julukan tangan malaikat dari para karyawan maupun pihak lawan."


"Tangan malaikat?" ulang Clara.


"Diamlah Carlos." tegur Jun datar. Sayangnya Clara memerintahkan Carlos menjelaskan. Sehingga mau tidak mau dia hanya bisa diam.


"Ya, karena Jun dengan cepat menguasai apa yang dipegangnya. Dia juga punya banyak penggemar, sayangnya dia tidak pernah terlihat tertarik."


"Aku tidak heran dia punya banyak penggemar, dia tampan." sahut Clara. Seolah orang yang dibicarakan tidak ada disana. Tidak sadar Jun sudah menahan malu sedari tadi.


"Anda benar, tipenya mungkin sangat tinggi." pancing Carlos.


Jun melemparkan tatapan tajamnya. Dia tahu akan kemana arah pembicaraan Carlos. Tentu saja ia tidak akan membiarkannya. Bagaimanapun juga, Clara tidak boleh tahu.


"Apa dia pernah punya pacar? dari mana kamu tahu?" tanya Clara.


Carlos berdehem pelan, menyadari arti tatapan penuh ancaman dari Jun. Dia yang sedari dari duduk menyamping kembali meluruskan posisi duduknya.


"Cuma menebak Nona." jawab Carlos.


Clara mencibir dan memukul lengan Jun pelan. "Jangan galak-galak Jun, Carlos jadi takut." bisiknya. Tertawa kecil sesudahnya.


Sesampainya dirumah, Clara segera berjalan kearah dapur. Ia lapar dan ingin makan siang. Begitupun dengan Jun dan Carlos.


"Huh?"


Clara mendapatkan notifikasi pesan. Ia tersenyum dan membalas dengan cepat. Itu adalah pesan dari Aldo.


Clara tidak sabar menunggu balasan akhirnya menelfonnya. Sudah lama ia tidak bicara dengan Aldo dan Clara cukup merindukan kakak kelasnya di SMA itu. Mereka sudah seperti saudara dalam setahun ini tampa embel-embel diganggu oleh perasaan, karena Aldo memang sudah menyerah padanya.


"Apa disana malam hari?"


"Hmm...apa kamu oke disana? "


"Aku baik kak, kenapa?"


"Kemarin aku bicara dengan Sindy dan dia bilang kamu banyak menangis. Steven menyakiti kamu? lalu kenapa wanita itu ada disana?"


"Itu...aku baik kok. Kak Sindy berlebihan. Tapi ya, dia tinggal sama kami."


"APA?"


Teriak Aldo, sehingga Clara harus menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Kak al, pelan! dia aman disini jadi aku minta Steven izinin dia tinggal disini."


"Aman dari apa? kamu percaya sama dia?"


Clara mengernyit, tidak mengerti kenapa Aldo bicara seperti itu.


"Apa yang dia katakan sama kamu?"


Clara diam sesaat. "Kak Sindy...dia..." Clara melirik Jun yang sedari tadi mendengarkan. Clara bangun dan menjauh dari banyak orang.


"Kak Sindy bilang ayahnya maksa dia menikah sama laki-laki tua dan laki-laki itu hampir melecehkannya. Kak Al...kak Sindy perusahannya sedang bermasalah. Jadi ayahnya...ayahnya..." Clara berhenti bicara. Ia seperti tersadar.


"Kamu udah sadar?"


Sindir Aldo dari seberang sana. Jelas ia tahu Clara sudah dibohongi.


"Tidak mungkin, kak Sindy tidak akan berbohong padaku kan?"

__ADS_1


"Siapa yang tahu? semua orang bisa berubah Clara". Aldo diam sesaat. "Perusahaannya memang bermasalah. Setahu aku dia memang beberapa kali mendekati pemilik perusahaan lain. Tapi aku tidak bisa mengatakan kalau dia tidak punya tujuan kesana."


Clara kembali ke meja makan dengan wajah yang tidak baik-baik saja. Penuh kekawatiran dan banyak pikiran. Dia sedang memikirkan perkataan Sindy padanya. Apakah wanita itu mengatakan hal yang sebenarnya atau dia hanya berbohong?


__ADS_2