
Kedatangan Steven pada pusat penelitian Aston tentu saja mencengangkan banyak peneliti di sana. Wajah mereka yang biasa tampak kosong tampa ekspresi kini lebih berwarna. Beberapa diantara mereka saling bertukar pandang. Alex yang sejak lama tertarik dengan kemampuan Steven, menyeringai ditempatnya.
Steven melihat banyak perubahan disana. Terakhir kali ia ingat tempat ini tidak seluas sekarang. Selain itu ada beberapa bagian yang terkelompok - kelompok sekarang. Para peneliti bekerja sama dengan tim pada posisi mereka kecuali Alex yang sendirian.
"Sepertinya banyak kemajuan, apa yang kalian ciptakan baru-baru ini?" tanya Steven, menoleh pada Aston.
"Tidak banyak, beberapa percobaan untuk mengendalikan ingatan dengan obat ... pengendali detak jantung dengan sebuah chip khusus. Sejauh ini sample berjalan cukup baik."
"Pengedali detak jantung?"
"Ya, aku bisa membunuh mereka dengan serangan jantung jika aku mau."
Steven terdiam sejenak, semua yang dilakukan Aston adalah untuk menyiksa dan membunuh. Bukan untuk membantu banyak orang.
"Kamu tahu, aku benci orang lemah. Bagiku yang lemah sepantasnya dimusnahkan. Sangat banyak manusia yang merugikan di dunia ini."
"Jadi banyaknya karyawanmu yang mati karena serangan jantung adalah ulahmu? kamu membunuh mereka karena mereka sudah tidak berguna?"
"Kamu mengawasiku? Tapi ... bagaimana menurutmu?"
"Itu curang, Aston. Alih-alih memecat kamu malah membunuh mereka, kamu bersenang-senang dengan itu."
Aston tertawa keras. Lalu dengan semangat merangkul Steven menuju salah satu ruangan yang dipenuhi monitor. Penuh titik merah, hijau dan kuning. Seseorang bertugas disana, seorang anak remaja. Dia memberi sapaan hormat pada Aston saat mereka masuk.
"Selamat bergabung kawan! Saat kamu bergabung... kamu harus ditandai juga. Itulah syarat dariku, aku akan khusus membuat warna biru untukmu." kata Aston, merangkul Steven dengan akrab. Sayangnya, Steven dengan cepat melepaskan diri dan menghadap pada Aston.
"Aku memilih kerja sama, bukan untuk menjadi salah satu koleksimu."
Aston tersenyum penuh arti. "Tentu saja, itu bukan chip pengendali. Hanya sebagai alat pendeteksi sinyal, agar aku tahu keberadaanmu"
"Jangan terlalu lancang, Aston. Aku tidak keberatan menghancurkan tempat ini." sahut Steven, nadanya terdengar main-main tapi sorot matanya menunjukkan ancaman yang nyata.
"Baiklah... kalau kamu tidak mau maka pilihannya hanya tinggal satu." Aston mengubah mimiknya menjadi lebih serius. "Katakan alasanmu yang sebenarnya setuju bergabung denganku, aku tahu kamu tidak akan mau melakukan hal ini. Terlebih jika gadis polos itu tahu."
Steven berada diambang jurang, dua pilihan itu sama-sama menghantarkannya pada bahaya yang sama. "Aku sudah mengatakannya padamu." jawabnya. Tentu saja Steven tahu Aston tak akan puas, dia hanya sedang mengulur waktu sambil berpikir cara melepaskan diri.
"Nak... kamu pikir aku anak kemarin sore? katakan padaku apa yang dijanjikan pak tua itu. Dia mengancammu dengan sesuatu?" Kilat mata Aston berubah sesaat saat dia menebak-nebak hal itu.
"Dia menjanjikan aku posisi nomor satu. Jika proyek untuk menyembuhkan anaknya berhasil, dia akan memberikan padaku setengah dari kekayaannya. Itu menggiurkan bukan? Aku akan ada di atas kalian."
Aston menatap netra Steven dengan sangat lama. Menilai apakah perkatannya sebuah kebenaran atau kebohongan. Steven adalah pria yang mampu mengatur ekspresi, saat dia berbohong tidak akan ada yang tahu. Hanya satu orang yang tidak bisa membuatnya berbohong. Bukan tidak bisa, tapi itu karena pilihan Steven sendiri. Dia hanya tidak ingin berbohong padanya.
"Kamu sangat jenius dan bisa membohongiku, jadi bisakah aku memeriksa jawabanmu dengan sebuah alat?" seringai Aston.
Steven tersenyum, "tentu, kenapa tidak?" jawabnya santai.
Maka Aston membawanya pada sebuah ruangan lain. Ruangan yang tidak terlalu besar dan Steven tahu apa yang ada disana. Sebuah alat pendeteksi kebohongan yang sudah dimodifikasi dari bentuk aslinya. Steven tertawa dalam hati, dia seperti sedang bermain dengan polisi amatir. Sekelas Aston yang juga jenius, bagaimana bisa ia percaya pada alat seperti itu?
"Jangan menganggap alat ini sama seperti yang dimiliki pihak kepolisian. Ini jelas berbeda." kata Aston, seolah tahu bahwa Steven mengoloknya dalam hati.
"Duduklah disana, aku sendiri yang akan memeriksamu." kata Aston lagi.
Steven berjalan ketempat yang ditunjukkan Aston. Duduk disana dengan nyaman sebelum sebuah benda dipasangkan dikepalanya dan dua lagi di ujung kedua ibu jarinya. Steven bisa merasakan sengatan halus pada ibu jarinya saat benda itu menyentuhnya.
"Aku akan mulai," kata Aston.
Aston mulai nelemparkan pertanyaan yang sama. Steven juga menjawab seperti yang ia jelaskan tadi. Aston mengernyit dan sedikit terkejut. Hanya saja dengan cepat ia mengendalikan diri. Disana, pada layar monitor hasil test menunjukkan bahwa Steven berkata jujur. Padahal tadi Aston sangat yakin bahwa Steven hanya mengendalikan ekspresinya, karena itu ia tidak bisa melihat kebohongan dari ekspresi wajah dan reaksi tubuh lainnya. Aston sangat yakin pada kecurigaannya, tapi melalui alat itu dia sedikit ragu. Bagaimanapun, Aston mempercayai instingnya dari pada mata dan hasil alat itu. Sehingga dia merasa sangat dirugikan pada perjanjian ini.
Aston terpaksa menelan kekalahan di awal. Padahal dia tadinya ingin memantau pergerakan Steven dan ingin mengendalikannya juga. Meskipun agak kecewa, tapi Aston tidak terlalu terkejut. Pasalnya perkiraannya benar.
__ADS_1
'Seberapa jauh tingkatan anak ini diatasku?' tanya Aston dalam hati saat mereka kembali ke ruang penelitian. Melihat Steven dari sudut matanya, memberikan ia tekanan untuk pertama kali dalam hidupnya. Perasaan takut dan penasaran melebur menjadi satu, membuat jiwanya terasa sangat bergairah untuk menunjukkan bahwa dia adalah penguasanya. Bahwa tidak ada di dunia ini yang melampaui kejeniusannya dalam hal apapun.
.
Clara bersama Lusi sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan ditemani selusin pengawal yang mengikutinya diam-diam. Hanya Jun dan Carlos yang berada disamping Clara.
Clara, tahu banyak orang mengikutinya. Melirik Jun dengan malas yang dibalas senyum minta maaf dari Jun.
"Akhir-akhir ini kamu sudah seeperti Steven, Jun." sewot Clara saat dia memilih sebuah gaun terusan bewarna biru lembut.
Usut punya usut mengapa Clara ada di tempat ramai dan diberi izin adalah karena pihak universitas mengadakan acara pekan seni tahunan yang sudah berlangsung selama seminggu. Malam ini adalah puncaknya dan pengunguman berbagai pemenang. Jurusan kedokteran yang memiliki gedung terpisah sebenarnya tidak terlalu berpartisipasi karena padatnya jadwal mata kuliah. Tapi mereka tetap diwajibkan mengikuti beberapa perlombaan dan menghadiri malam puncaknya.
Clara tentu saja memiliki bayak gaun di lemarinya. Bahkan mereka tidak tersentuh karena Clara yang hanya selalu dirumah dan kuliah. Dia ke mall karena Lusi yang minta ditemani. Sekalian mengajak Clara yang murung untuk jalan-jalan. Lusi tentu saja sangat peka, dia tahu Clara galau setiap hari karena pemberitaan dan gosip yang ada. Belum lagi anak-anak yang masih membicarakannya dibelakang ataupun sengaja saat dikelas ketika tidak ada Jun.
Clara dan Lusi sudah selesai memilih dan mereka kini sedang minum kopi di sebuah kafe disana. Clara memperhatikan Jun yang jauh lebih waspada dan terlihat lebih serius. Beberapa kali dia berbisik pada earphone ditelinganya. Carlos juga tiba-tiba pergi setelah Jun memberikan anggukan padanya.
"Ada apa Jun?" tanya Clara akhirnya.
"Tidak apa-apa Nona, lanjutkan kegiatan anda." jawabnya tampa menoleh. Matanya fokus pada sekeliling.
"Tidak ada apa-apa katamu? kalian lebih waspada." sambung Lusi yang sudah terlihat takut.
"Kalau begitu bisakah kalian menyudahi obrolan? kita kembali kemobil secepatnya." Jun segera melihat pada Clara yang segera bangun diikuti oleh Lusi.
Dia ikut bangun dan segera mengambil posisi berada di samping kanan Clara dan meraih tangannya. Menggenggamnya erat sambil berjalan keluar. Carlos juga belum muncul. Jun sudah terlihat kawatir. Belasan pengawal yang tadi diam-diam kini hanya tinggal 5 orang segera mengelilingi mereka.
Clara bahkan merapat pada Jun karena semakin takut. Ketika mereka sampai di area parkir, mereka sudah di sambut oleh Carlos dan beberapa pengawal lain yang sudah terengah-engah. Carlos bahkan terluka di pergelangan tangannya, ada sayatan kecil disana.
"Apa yang terjadi?" tanya Clara saat Jun mendorongnya pelan masuk kedalam mobil.
"Tidak apa-apa, sekarang kita segera pulang." jawab Jun singkat.
Jun sendiri yang mengemudi dengan Carlos disampingnya. "Carlos, tanganmu..."
Saat memasuki jalan tol, Jun menambah kecepatan laju mobil. Clara bisa melihat dua mobil pengawal di belakang dan kanan mereka. Sementara beberapa pengendara motor terlihat mengejar. Mereka cukup banyak memenuhi jalanan. Sirine polisi di belakang tidak di idahkan oleh mereka. Seakan hal itu bukan halangan.
Carlos mengeluarkan senjata dan menembak ban dua pengendara motor. Sementara dua mobil pengawal mereka yang lain ringsek karena ban mobil yang di tembak oleh pengendara motor. Mau tidak mau Jun bertukar posisi dengan Carlos. Dia beralih duduk di samping Clara dan memindahkan Clara ke tengah. Menyuruh mereka merunduk saat ia membuka jendela mobil dan mengeluarkan dua senjata sekaligus.
"Clara... pegang tanganku." bisik Lusi saat dia sudah sangat ketakutan. Clara meraih tangannya. Dia juga takut.
Begitu keluar dari jalan tol, pengendara motor yang tersisa tidak lagi mengikuti mereka. Maka Carlos segera memelankan laju mobil. Mereka juga sudah cukup dekat dengan mension.
Sesampainya di mension Clara lemas. Semua persendiannya tidak bisa ia gerakkan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Lusi dibantu Carlos masuk kedalam. Gadis itu lebih cepat mengatasi rasa takutnya ketimbang Clara yang entah keberapa kalinya ia mengalami hal ini.
"Nona...anda baik-baik saja?" tanya Jun. Berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Clara menoleh, dia meneteskan air matanya dan menggeleng pelan.
"Ma...maaf Jun... aku tidak..aku tidak..."
Jun segera menggendong Clara bridal dan masuk kedalam rumah. Clara dengan sisa tenaganya memeluk leher Jun dengan erat. Setidaknya dia sudah merasa aman, hanya efek dari kejadian tadi masih berimbas besar padanya.
"Maaf... aku tidak bisa mengendalikan ketakutanku. Aku selalu merepotkanmu." lirih Clara saat mereka sudah sampai di dalam kamar.
Jun membaringkan Clara dan menyelimutinya. Menelfon pelayan untuk menyediakan air putih dan teh hangat untuk dua orang. Lalu dia mengirim pesan pada Steven dengan segera.
Jun ingin segera menyelidiki orang dibalik penyerangan ini. Salah satu bawahannya yang tertinggal saat mobil mereka ringsek berhasil menangkap beberapa diantara mereka. Walaupun mereka melakuakannya dengan merebut mobil dinas polisi, hal itu membuat beberapa dari mereka harus berurusan dengan mereka.
"Jun... jangan pergi. Aku tidak mau sendirian."
Jun menoleh, dia tidak jadi keluar. Lalu menatap gadis yang ia cintai itu dengan saksama. Clara tampak rapuh, wajah memohonnya menghantarkan sesuatu yang lain dihati Jun. Dia bejalan kesana dan duduk di sisi kasur Clara. Merapikan rambut Clara yang berantakan. Jun menahan bobot tubuhnya dengan sebelah tangan dan tangan lain mengelus rambut kepala Clara. Menatap mata itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Selama ada aku, kamu akan tetap aman. Aku tidak akan membiarkanmu disentuh oleh mereka. Jadi jangan pernah takut Clara. Kamu punya aku disisimu. Bahkan nyawaku akan aku berikan asal kamu baik-baik saja." kata Jun, suaranya dalam dan tenang.
Clara tidak tahu dan juga tidak mengerti. Tapi dia sadar Jun sangat berbeda. Jun berbicara seperti seorang pria pada wanita yang dicintainya. Membuat Clara bertanya-tanya apakah dia berlebihan menilai perlakuan Jun saat ini?
"Jun... " lirih Clara, dia menurunkan tangan Jun yang kini membelai pipinya.
Seakan tersadar, Jun segera memperbaiki posisinya. Wajahnya sedikit memerah dan juga penuh rasa bersalah.
"Ma...maaf! Aku akan menunggu di luar sampai tuan sampai. Dia sedang dalam perjalanan." kata Jun setengah gugup.
Setelah pintu tertutup, Clara menatap bingung pintu kamarnya. Dia merasa sangat aneh pada prilaku Jun barusan. Mengabaikan hal itu, Clara mengambil ponselnya, duduk di kasur dan menghubungi Steven.
"Ya, Clara? Aku sedang di jalan, aku akan sampai dalam waktu 15 menit."
"Hmm ... aku akan menunggu. Steven... hati-hati."
Diseberang, Steven tersenyum. Clara yang melunak seperti ini sangat manis.
"Jangan kawatir, kamu boleh membawa temanmu keatas kalau aku terlambat datang. Minta dia menemanimu."
"Boleh?"
"Tentu, dia teman baikmu."
"Aku akan menunggumu, sampai jumpa."
"Hmm... sampai jumpa sayang."
Clara memegang jantungnya yang berdebar sangat kuat. Dia sangat jarang menghubungi Steven duluan. Karena ia takut akan mengganggunya. Clara hanya takut Steven akan menganggapnya rewel dan dia akan bosan. Tidak tahu saja kalau Steven sangat senang saat Clara berinisiatif menghubunginya duluan.
Meskipun hubungan mereka memiliki lubang menganga saat ini. Clara mencoba untuk lebih memahami dan menahan rasa sakit karena kecemburuannya. Dia tidak terlalu sering marah. Jika ia terganggu dengan pemberitaan, dia hanya akan lebih banyak diam dan menghindari Steven. Hal itu sebenarnya membuat Steven sangat tersiksa, karena ia tahu dia menyakiti Clara lagi. Juga tidak bisa mengatakan alasan pasti dia melakukan beberapa hal yang terlihat dekat dengan Violet. Seperti yang terakhir kali, mereka pergi ke sebuah butik dan terlihat duduk di kafe setelahnya. Layaknya seperti pasangan kencan.
Steven tidak bisa mencegah pemberitaan yang muncul. Malah, terkadang ia membuatnya terlihat seperti nyata. Hal itu ia lakukan hanya untuk membujuk Violet agar mengikutinya masuk ke ruang penelitian. Memperlakukannya istimewa agar Violet mematuhinya tampa berpikir.
.
Jun termangu dalam lamunan di balkon pembatas. Steven terlambat dari 15 menit yang ia katakan. Bahkan sekarang sudah 30 menit dari waktu terakhir Clara menelfonnya. Clara sedang bersama Lusi di dalam kamar, memakan biskuit dan teh hangat. Mengalihkan kenangan kejadian tadi dengan obrolan ringan dan sesekali bercanda.
Clara berulang kali menoleh pada pintu, berharap Steven muncul disana. Hari mulai gelap dan dia belum pulang. "Lusi... kamu mau mandi? nanti pakai bajuku dulu." kata Clara. Memilih mengalihkan perhatian lagi.
"Ide bagus, kenapa tidak sekalian menginap. Apa pacarmu akan memberi izin?" tanya Lusi. Bukan apa-apa, sesungguhnya dia masih takut. Clara tentu saja sadar hal itu.
"Tentu aja, Itu ide bagus. Lebih bagus lagi kamu tinggal disini."
"Hahahaha! Clara itu berlebihan. Aku lebih suka kamarku sendiri." kata Lusi.
"Itu ide yang bagus untuk sementara ini." Jun tiba-tiba muncul di depan pintu yang terbuka sejak tadi. Bersandar di sana menatap dua gadis itu bergantian.
"Benar kan? Jun juga berpikir begitu." sahut Clara dengan semangat.
"Mereka bisa saja menangkapmu sebagai umpan untuk menyakiti Clara." kata Jun lagi.
Clara tertunduk, dia ingat saat Jun yang mengalami luka yang cukup parah saat itu. Dia menatap Lusi dan memandangnya dengan wajah memohon.
"Aku tidak bisa Clara. Aku juga bekerja ingat. Rumah ini terlalu jauh dari kampus dan tempat kerjaku."
"Kalau begitu bekerjalah dirumah ini, jadi asisten pribadi kekasihku."
Jun menyingkir dari pintu dan membiarkan Steven masuk. Lusi bangun dari kasur Clara dan berdiri di dekat Jun yang kini masih di ambang pintu.
__ADS_1
"Maaf aku terlambat. Kamu oke?" bisik Steven saat ia memeluk Clara yang masih duduk di atas kasur.
Steven melepaskan pelukannya dan mencium kupu-kupu bibir Clara. Jun membuang pandangannya segera dan Lusi menunduk karena malu sendiri melihat pasangan di hadapannya itu. Disela itu, Lusi menoleh penasaran pada Jun. Lusi yang selama ini yakin dengan dugaannya, semakin yakin saat melihat wajah Jun yang terlihat terluka. Wajah datar itu jelas terlihat menyedihkan dalam beberapa detik sebelum dia berhasil mengendalikan diri. Menampilkan wajah datar seperti biasa.