SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
71


__ADS_3

Clara duduk di dalam perpustakaan. Membaca buku seperti biasanya jika ia bosan. Kali ini Carlos yang mengawasinya. Jun masih sangat sibuk dengan apa yang di tugaskan Steven. Clara berjalan ke sudut, mencari buku dan berada jauh dari Carlos yang memang menunggunya di depan pintu masuk.


Clara menoleh pada Carlos yang terlihat jauh. Lalu dia berjalan ke tepi jendela, membaca sebuah novel disana. Novel itu adalah novel yang ia beli ketika pergi bersama Lusi. Dia membeli banyak dan meletakkannya di dalam perpustakaan.


Jun yang baru pulang masuk ke dalam perpustakaan. Carlos segera undur diri karena dia ingin makan malam. Jun mengernyit melihat Clara dari jauh karena gadis itu tersenyum sendiri. Jun ikut mengembangkan senyumnya, berniat menghampiri. Namun langkahnya terhenti setelah beberapa meter ketika mendengar tawa samar keluar dari bibir Clara.


Jun memelankan langkahnya, berbelok ke rak lain untuk menyembunyikan diri. Lalu perlahan mendekati tempat Clara sehingga mereka hanya dibatasi rak buku yang menjulang.


Clara mengangkat sedikit wajahnya dari buku, melirik ke arah rak lalu tersenyum penuh arti. Dia menutup novel di tangannya dengan keras lalu menatap keluar jendela tampa minat.


"Kemari Jun ... tidak perlu bersembunyi." ujarnya dengan nada dingin.


Jun tentu saja semakin heran, pasalnya dia seperti melihat orang lain saat ini. Ketika dia menunjukkan diri, berdiri tepat di samping bangki yang di duduki Clara, gadis itu mendongak untuk bisa menatapnya.


"Bisakah aku minta tolong padamu?"


"Sejak kapan kamu bisa bicara lagi?" celetuk Jun, sama sekali abai pada pertanyaan Clara.


"Jun..."


"Kenapa kamu membohongiku?"


"Huh?"


Clara mengerutkan keningnya, Jun terlihat sedikit marah dan frustasi.


"Ada apa denganmu?" tanya Clara.


Jun tidak menjawab, dia langsung memeluk Clara dengan erat. Tidak peduli kalau gadis itu terkejut akan perlakuannya.


"Kamu tahu aku sungguh mencemaskan keadaanmu setiap hari. Aku sangat terpukul saat kamu kehilangan suaramu."


Clara tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia mendorong Jun pelan sehingga pelukannya dilepas. Menatap Jun dengan datar.


"Aku mendengar sebuah rumor. Apa itu benar?"


Jun mengernyit, menatapnya tidak mengerti. "Rumor apa?" tanyanya.


"Sejak aku kembali kuliah, sejak foto kamu menggendongku tersebar. Aku mulai berpikir Jun. Sindiran-sindiran Lusi yang selama ini aku abaikan kini terasa nyata. Lalu rumor mulai menyebar bagaimana penggemarmu selalu bergosip di belakangku."


Jun berkeringat dingin, rasa takut benar-benar menggerogoti hatinya. Dia bahkan tidak memiliki sanggahan apapun di otaknya saat ini. Dia tidak bisa berpikir karena takut akan fakta yang mungkin diketahui gadis dihadapannya.


"Aku baru sadar ... bahwa kamu sangat berbeda saat bersamaku. Bukan hanya sebagai teman. Tapi lebih dari itu." Clara berdiri, lalu maju selangkah.

__ADS_1


Dia mendekatkan telinganya kedada Jun, menempelkannya disana dan tersenyum masam saat mendengar detak jantung Jun yang sangat cepat. Dia kembali menjauh dan mendongak.


"Bisakah kamu merahasiakan bahwa aku sudah bisa bicara lagi?" tanya Clara, ia kembali pada topik yang sebenarnya ingin ia bicarakan. Bersikap dingin seolah ada jarak jauh di antara mereka.


"Ke ... kenapa?" tanya Jun, dia masih sangat gugup.


"Karena aku benci bicara dengannya. Pembunuh itu ... mengingat apa yang ia lakukan. Aku jadi benci berbicara dengannya. "


Raut wajah Jun menjadi sendu. Dengan reflek dia menatap kedua tangannya bergantian. Dimana dia juga sudah banyak menyakiti musuh-musuh Steven. Selain itu, tangan itu juga pernah beberapa kali menghilangkan nyawa orang lain saat ia mulai diperkenalkan pada senjata saat kecil. Tentu saja Clara melihat reaksi Jun itu. Dia tersenyum dengan wajah sedih.


"Dunia kalian sangat gelap, bukan? Aku mencintainya Jun. Tapi saat ini aku juga membencinya. Sejak dia membunuh di depan mataku, aku mulai membenci diriku sendiri. Karena alasan dia membunuh adalah aku. Karena aku yang lemah dan bodoh ini ...."


Clara meneteskan air matanya, dengan kasar ia menghapus air mata itu. Lalu pergi dari sana secepat ia bisa. Meninggalkan Jun yang mematung di tempatnya.


Jun lemas, wajahnya tegangnya perlahan menjadi sendu bercampur frustasi. Ketakutan menggerogoti hatinya dengan cepat. Merasa runtuh saat apa yang ia rahasiakan diketahui oleh orang yang ia cintai. Dia hanya ingin menjaga hubungan kedekatan mereka dan menyembunyikan perasaan itu selamanya. Namun karena sebuah foto rumor menyebar dan orang-orang mulai mengarahkan perhatian lebih padanya. Sehingga Clara juga menyadarinya.


"West! Aku akan menghancurkanmu." Suaranya berat akan kemarahan. Jun bangkit, pergi dari sana dengan kemarahan yang menyala-nyala.


.


Steven hampir menumpahkan kopinya saat tiba-tiba seorang pria tua masuk dengan Renjun. Steven memang lembur lagi malam ini karena banyaknya masalah yang terjadi.


"Senang bertemu denganmu, teman kecil. Aku merindukan saat-saat kamu, Jun dan Arnold masih berada disekitarku. Itu kenangan yang sangat menyenangkan."


Steven meletakkan gelas kopinya lalu dengan sopan ia membungkuk kecil. Memberikan sapaan hormat. Bagaimanapun juga, orang di hadapannya berperan penting dalam membangun perusahaannya sekarang ini.


Pixu menarik sudut bibirnya. Dia mengitari ruangan itu dengan pandangan menilai. Steven melirik Renjun yang masih berdiri disana dan menyuruhnya keluar tampa suara. Renjun yang mengerti menutup pintu dan berjaga di depan pintu. Takut-takut ada yang dengan lancang masuk ke dalam.


"Bagaimana anda bisa datang kesini?" Steven berdiri di belakangnya.


"Kenapa aku harus memberitahumu?"


Steven menghela nafas jengkel. Dia duduk bersandar dan menopang kakinya. Menatap Pixu yang sejak tadi bersikap seenaknya. Dia bahkan mengambil foto Clara yang di letakkan di sudut ruangan. Menatapnya sesaat sebelum meletakkannya kembali.


"Kakek Pixu, anda tahu aku tidak ingin terlibat lagi, kan? Jika media menangkap anda di sini. Aku bisa semakin kehilangan uangku dan anda juga akan kehilangan salah satu sumber dana."


Pixu tertawa keras, dia mengeluarkan rokoknya dan ikut duduk di hadapan Steven. Menghembuskan asapnya beberapa kali sebelum kembali bicara.


"Bukankah tidak masalah jika orang-orang tahu kamu disokong olehku? Dengan begitu lawanmu akan berpikir dua kali untuk menantangmu."


Steven mendengus, "Anda tahu saya tidak suka yang kotor-kotor jika tidak dibutuhkan. Kepolisian akan membuatku repot jika terlibat denganmu. Saat ini saja mereka sudah seperti tikus yang mencoba menggigitku."


"Aku tahu polisi tidak akan mengganggumu. Jangan berbohong padaku. Alasanmu adalah gadis cantik di rumahmu kan? Gadis manis yang membuat Jun tetap di sampingmu meskipun kamu sudah melukai harga dirinya."

__ADS_1


Steven menatap pria tua di hadapannya sesaat. Sedangenimbang kalimat apa yang tepat untuk di lemparkan padanya.


"Dia bisa pergi jika dia mau meskipun menyukai kekasihku. Dia tidak harus menurutiku dengan mempertaruhkan nyawa dan hatinya."


"Kim ... Kamu pasti tahu gadismu bukan alasan dia satu-satunya. Aku akan menyelesaikan masalahmu asal kamu bisa membuat Jun kembali padaku."


Steven mengepalkan tangannya. Tentu saja itu tidak luput dari perhatian Pixu. Namun Pixu tidak mengtakan apapun, dia dengan tenang menunggu jawaban Steven.


"Kamu ... menginginkan Jun? Untuk apa?" tanya Steven. Kali ini kecurigaan yang sempat sirna beberapa tahun yang lalu hadir kembali.


"Kenapa kamu ingin tahu? Jun bukan siapa-siapa bagimu. Dia hanya anjing setia yang terus mengekorimu bukan? Aku hanya ingin memiliki anjing setia seperti itu untuk menjadi penerusku."


Kali ini Steven tertawa, "Jangan membodohiku pak tua. Katakan apa hubunganmu dengan Jun. Kamu punya Ben untuk menjadi penerus."


Pixu tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu bangkit berdiri. Merapikan jas merah marunnya dengan tenang.


"Itu syarat dariku, kalau tidak jangan harap aku membantumu. Aku malah akan mengumumkan pada dunia hubungan baik kita." Dia mulai melangkah pergi, namun baru beberapa langkah dia berhenti. "Ngomong-ngomong tentang senjata biologis yang kamu buat bersama Aston, jangan pernah berpikir untuk menggunakannya padaku. Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kamu bodohi." katanya tampa berbalik. Lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Steven yang tersenyum masam.


"Jun ... kamu gagal kenapa tidak bilang, sialan!" gerutunya pelan.


Steven segera meraih jas yang tergantung. Memakainya dan memilih pulang untuk saat ini. Dia tidak punya gairah lagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih menggunung dimejanya.


.


Jun sedang minum di kamarnya saat Steven masuk begitu saja. Steven hendak meminta penjelasan dan dia juga dilanda kekesalan. Namun perasaan kesalnya hilang begitu melihat Jun dalam keadaan sangat kacau. Mabuk namun masih bisa mengendalikan diri. Jun menoleh saat Steven duduk di sisi ranjangnya.


"Anda kembali, Tuan?" sapa Jun suara beratnya.


"Ada apa denganmu? Apa Pixu memberimu tekanan berlebihan sehingga kamu minum begini?"


Jun tersenyum, lalu menggeleng lemah.


"Dia tidak akan bisa membuatku tertekan. Pak tua itu tidak akan mampu."


Steven memperhatikan isi kamar Jun, ini adalah pertama kalinya dia masuk ke sana. Terlihat rapi dan elegan, kepribadian Jun terlihat disetiap sudut kamar ini.


"Kembalilah Tuan? Clara sudah tidur. Anda bisa istirahat juga." kata Jun, dia bangun dengan sempoyongan lalu menjatuhkan diri ke atas kasur.


Steven menghembuskan nafas. Dia tidak akan keluar sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Apa hubunganmu dengan Pixu?" tanya Steven. Namun Jun tidak menjawab.


Dengan kesal Steven membalikkan badannya yang tertelungkup. Mengumpat pelan saat melihat ternyata Jun sudah tertidur. Dengan kesal dia keluar dengan bantingan keras pada pintu.

__ADS_1


Ketika kamarnya sunyi kembali, menyisakan suara nafasnya sendiri. Jun membuka matanya. Menatap langit-langit kamarnya dengan mata dan wajah memerah. Dia mabuk berat, kepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama. Sekuat tenaga untuk menekan hatinya agar tidak menghancurkan segalanya. Dia bisa merasakan perasaannya yang semakin lama semakin besar. Jun sangat takut jika itu akan menjadi sebuah obsesi. Dia akan merusak segalanya jika itu terjadi.


Jun duduk di kasurnya, pertanyaan Steven tadi tiba-tiba mengalihkan pikirannya. "Apa yang pak tua itu katakan pada Steven? Kenapa dia mencurigaiku?"


__ADS_2