SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
24


__ADS_3

Senin sekolah begitu sibuk. Semua anak tampak tergesa-gesa. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana semua anak melupakan segala hal. Mereka sibuk belajar dan mengejar prestasi di kelas. Pembullian akan berkurang bahkan sama sekali tidak ada. Semuanya fokus pada nilai. Bahkan daerah kantin yang biasa ramai akan sepi. Kalaupun ada hanya beberapa siswa yang makan sambil beajar. Bahkan suasana kantin bisa seperti perpustakaan.


Steven sungguh bosan, ia menatap sesaat Fajar yang tampak serius dengan wajag kaku menatap bukunya. Lalu ia menoleh ke belakang, dimana dua sahabatnya yang sama seriusnya dengan yang lain. Ia merindukan Clara namun ia sadar hanya akan mengganggunya. Akhirnya seperti biasa, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai bermain game.


.


Di atas sebuah gedung apartemen, Arnold berdiri menghadap hamparan gedung. Fokusnya adalah gedung sekolah yang tepat berada di depan gedung partemennya. Tangannya mengepal erat, ia menoleh sekilas saat pintu menuju atap terbuka. Ia tahu siapa yang datang, karena itu ia diam saja.


"Katakan!" perintahnya.


Seorang anak sekolah yang memakai kaca mata tebal berdiri di sana bersama dua orang teman Arnold di kiri kanannya. Ia tampak jelas ketakutan dan terintimidasi.


"Sa ... saya belum mendapatkan nomornya. Me ... menurut rumor yang beredar. Dia memang ganti nomor. Dia juga ganti ponsel yang lebih mahal. Go ... gosipnya kak Steven yang membelikan,"


"Steven?" gumamnya.


Arnold sangat mengenal Steven dan tabiatnya. Steven tidak pernah menaruh perhatian pada wanita manapun. Meskipun wanita itu berada di lingkungan pertemanannya.


"Me ... mereka pacaran," lanjut anak berkacamata itu.


Arnold mengernyit, ia belum pernah mendengar istilah itu selama ia mempelajari bahasa Indonesia sebelum ke sini. Maka ia berbalik dan menatap kedua temannya bergantian.


"Pacar, boyfriend," jawab salah satu temannya.


Mendengar hal itu membuat ia tersenyum sinis.


"Sangat menarik, dapatkan nomor ponselnya dan cari tahu latar belakangnya."


.


Sekolah sudah selesai, karena minggu ini hanya ada ujian, jadi anak-anak hanya sekolah setengah hari. Namun tetap saja masih banyak yang berkeliaran di sekolah karena mereka belajar berkelompok membahas soal.


Clara tergesa-gesa berlari ke arah taman belakang setelah mendapatkan pesan dari Steven yang menyuruhnya datang segera. Dengan senyum terukir di bibirnya, ia berlari kecil untuk menemui Steven. Namun naas, di belokan lorong sekolah ia menabrak bahu seseorang sehingga ia terhempas ke belakang.


"Oh ... maaf kak, maaf!" ujar anak itu sambil membantu Clara yang terjatuh untuk bangun.


Clara mendongak, seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Berkaca mata tebal dan tampak sangat asing. Potongan rambutnya juga seperti orang tua.


"Tidak apa - apa! " jawab Clara pelan dan hendak melanjutkan langkahnya sebelum ia meringis saat merasakan sakit di pergelangan kakinya.

__ADS_1


"Kakak kakinya sakit? biar saya bantu ke ruang kesehatan kak!" kata anak itu.


"Hah? Tidak usah, aku mau ke taman belakang. Nanti saja!"


"Tapi kaki kakak sepertinya terkilir, kalau begitu saya bantu jalan saja, kakak mau ke taman belakang kan?"


Clara hanya mengangguk, sesungguhnya ia tidak ingin dibantu, namun kakinya benar-benar terasa sangat sakit. Akhirnya ia mengangguk dan membiarkan anak itu memapahnya.


"Kakak wakil OSIS kan? kak Clara. Kenalkan, nama aku Jaka." Clara melirik sekilas.


"Kelas satu? kenapa kamu jarang telihat?"


Anak bernama Jaka itu tersenyum ramah.


"Aku suka bersembunyi, biasanya di perpustakaan, karena kalau berkeliaran bisa di bulli," jawabnya.


Clara paham, tentu saja. Banyak anak - anak kaya yang memang punya hobi membulli anak yang lebih lemah atau anak dengan ekonomi menengah, yang sekolah karena beasiswa.


Mereka sudah sampai di taman belakang, Steven terlihat sedang berbincang santai dengan teman-temannya. Namun saat ia melihat Clara yang di bantu oleh Jaka, tatapannya berubah dingin. Ia bangkit dan langsung mengambil alih Clara.


"Ada apa dengan kakimu?"


"Kak Clara tadi jatuh karena menabrak saya kak. Maafkan saya karena saya tidak hati-hati," katanya.


Steven menoleh, menatap anak laki-laki yang dinilainya culun dari penampilan, namun ada sesuatu yang membuatnya sadar bahwa anak dihadapannya berbeda. Sorot mata itu, Steven pernah menemui orang sepertinya dulu.


"Jika aku melihat kamu di dekat Clara lagi, kupastikan kamu akan masuk rumah sakit," dingin dan penuh ancaman.


"Steve! Apa-apaan!" tegur Clara.


Dia melirik Jaka yang hanya diam saja. Mereka berdua pergi meninggalkan Jaka yang juga berbalik. Setelah berbalik, wajah ramahnya berubah datar dan tampa ekspresi.


"Jangan pernah bicara lagi dengannya!" Perintah Steven. Mereka sudah duduk di bangku dan Steven memeriksa kakinya.


"Dia hanya adik kelas biasa kenapa kamu berlebihan. Dia tidak akan berani macam-macam," kata Teddy yang di angguki semua orang.


"Adik kelas biasa? dia sama sekali tidak terlihat biasa. Anak itu berbahaya."


Semua orang bertukar pandang. Teman-temannya jelas langsung percaya setelah mendengar perkataan Steven. Mereka mengenal Steven sejak lama dan Steven tidak pernah salah menilai seseorang dengan otak jeniusnya. Berbeda dengan Clara.

__ADS_1


Clara, tentu saja menyangkal dengan hatinya meskipun dia diam saja. Steven tentu saja bisa melihat ketidak percayaan itu, namun ia hanya membiarkannya. Steven tidak ingin berdebat saat ini.


"Sudah enakan?" tanya Steven setelah selesai memijatnya.


Clara menggerak-gerakkan kakinya dan mengangguk dengan cepat. Kakinya memang terasa tidak sesakit yang sebelumnya, hanya sedikit-sedikit jika digerakkan terlalu kuat.


"Bagaimana kamu bisa melakuknnya? Ini jauh lebih baik!"


"Apa yang tidak bisa dilakukannya, anak jenius ini memang selalu buat kami iri." kata Sam.


"Bagaiman ujianmu?" tanya Steven, mengabaikan perkataan Sam.


"Aku kawatir kalau nilaiku tidak cukup. Bagaimana kalau kali ini nilaiku turun dan tidak mencukupi."


"Maka aku akan membiayai sekolahmu," jawab Steven enteng.


Tentu saja Clara mendelik dan menatapnya tidak suka. Sementara Sam memijit keningnyanya dan Ted menggeleng pelan, tidak percaya akan apa yang didengarnya.


"Pemikiranmu kadang masih seperti anak SMA biasa. Yah ... aku akui dia jenius tapi bodoh dalam percintaan," ucap Bob dengan nada sarkasnya. Membuat Clara yang tadi hendak protes malah tertawa.


"Bagiku penyelesaian masalah adalah dari hal yang termudah," lanjut Steven.


"Kamu akan membuat masalah dengan orang tuamu, ya ampun ... kecuali kamu sudah bekerja dan mapan finansial. Tidak minta orang tua lagi," kata Clara setengah tertawa.


Untuk yang satu ini ketiga temannya memang tidak bisa berkomentar apapun karena nyatanya Steven memang sudah mapan secara finansial. Bahkan sangat kaya raya.


Steven mendengus dan bangkit berdiri. Ia menelfon seseorang dan menyuruh teman-temannya pulang.


"Kamu tidak pulang?" tanya Sam.


"Aku akan pergi, kalian pulang dan belajar yang rajin, mengingat otak pas pasan tidak akan bisa memasuki kelasku," katanya dengan nada ejekan.


Steven membelai kepala Clara dan menatapnya dengan lembut dan dalam. "Masuklah ke asrama, aku akan segera pergi."


Clara mengangguk, wajahnya sudah memerah karena perlakuan lembut Steven di depan teman-teannya. Dia sangat malu, sehingga dengan cepat berbalik dan berjalan ke gedung asrama yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Manis sekali pria tampan ini," sindir Bob setelah Clara diluar jarak dengar.


"Ayo pulang," kata Steven tampa menanggapi.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju parkiran, mereka berpapasan dengan Aldo dan teman-temannya. Steven berhenti, begitupun dengan Aldo. Mereka saling lempar tatapan mematikan sebelum Aldo menyeringai dan berlalu begitu saja. Steven mengeraskan rahangnya, ia tahu Aldo sedang menyusun rencana lainnya. Ia hanya harus menunggu.


__ADS_2