
Sudah dua minggu berlalu, pencarian Clara masih berlanjut. Steven menjadi lebih suram dari sebelumnya. Saat ini dia terbaring di rumah sakit. Dalam keadaan lemah dan stres. Kepergian Clara berakibat fatal pada mentalnya.
Steven menyelesaikan apa yang ia lakukan dengan Aston Empat hari yang lalu. Mengedarkan apa yang mereka sebut sebagai minuman untuk daya tahan tubuh. Bayangkan perusahaan sebesar milik Aston yang memproduksi minuman itu dengan varian rasa dan diperuntukkan bagi semua umur. Beredar di pasaran dan mengekspornya keseluruh dunia.
Apa yang terkandung di dalamnya adalah sebuah racun mematikan yang akan melumpuhkan kerja jantung dalam waktu hitungan detik jika diledakkan. Dibuat sedemikian rupa sehingga saat masuk ke tubuh, akan diidentifikasi sebagai racun dan diproses di hati. Masalahnya adalah, hati tidak akan bisa memprosesnya. Tidak bisa di netralisir, bom racun itu hanya akan menempel dan diam di sana sampai diledakkan.
Saat partikel mikro itu pecah, itu akan langsung menyebar masuk ke pembuluh darah. Setelah itu barulah menimbulkan kematian seolah-olah itu adalah serangan jantung. Racun yang diciptakan Steven adalah jenis racun baru. Hanya mereka yang memiliki alat untuk mendeteksinya.
Bom waktu itu juga terhubung dengan alat yang ada di laboratorium Aston. Setiap produksi memiliki kode, kode-kode itulah yang menjadi metode untuk mengidentifikasi letak dan ke tubuh mana racun itu masuk. Persis seperti bom waktu dalam bentuk mikro, itu dikendalikan dari jauh. Sehinga Aston dengan mudah membunuh siapapun yang ia inginkan.
Violet sembuh?
Itu tidak mungkin, Aston tidak sebaik itu memperlakukan musuhnya. Violet adalah orang pertama yang meminum racun itu. Dia dibuat seolah-olah sembuh namun akan mati pada waktu yang di tentukan olehnya.
Rahasia perusahaan yang di simpan oleh West juga sudah ia dapatkan. Atas bantuan Aston, West akhirnya menyerahkannya. West tampak puas melihat perubahan putri satu-satunya itu. Tidak ada kesan sakit dan lemah seperti dulu. Hal itu membuat si tua itu menurunkan kewaspadaannya kepada musuhnya. Aston mengambil kesempatan itu untuk membantu Steven. Karena Steven juga mengajukan ancaman akan membongkar apa yang mereka lakukan.
Cukup berbahaya sebenarnya mengancam Aston dengan itu. Aston adalah defenisi raja iblis sesungguhnya. Tidak memiliki belas kasihan sama sekali dan membunuh tampa pandang bulu. Hanya saja Aston memang memperlakukannya istimewa sejak awal. Entah apa yang ada di benaknya, tapi sejak dia tertarik dengan kejeniusan Steven, Aston memperlakukannya seperti anak emasnya. Meskipun tidak segan menyakiti orang di sekelilingnya, namun dia tidak pernah menyakiti Steven meskipun dia bersikap kurang ajar padanya.
Ibu Steven yang selalu menungguinya. Ayahnya sudah pulang ke Korea karena urusan perusahaan. Jun masih berkeliling bersama Billi mencari Clara. Begitu juga Carlos. Sesekali Jun akan menggantikan Steven di perusahaan saat atasannya itu hanya ingin berbaring di kamar Clara. Itu adalah saat-saat Steven tidak bisa menahan kerinduannya. Dia akan menyesali keputusan bodohnya yang tidak berterus terang sejak awal.
Jun masuk ke dalam ruang rawat inap Steven. Dia melihat Steven yang hanya mengabaikan ibunya. Bagaimanapun, Steven masih muda meskipun mentalnya jauh lebih dewasa. Namun saat-saat seperti ini, dia terlihat seperti anak laki-laki pada umumnya yang sedang patah hati.
Steven baru saja memasuki usia 22 tahun, masih sangat muda untuknya memimpin banyak perusahaan. Masih sangat muda untuk menghadapi orang seperti Aston dan West yang berusia setua ayahnya. Bahkan West lebih tua dari ayahnya. Namun karena otak jeniusnya dia tumbuh jauh lebih matang dari umur sebenarnya.
"Apa yang kamu temukan? Aku harap itu kabar baik." kata Steven dingin.
"Seorang remaja tetangga Clara di Indonesia, melihat seseorang masuk ke rumah Clara sebelum Clara menghilang."
"Siapa dia?"
"Dia tidak mengenalnya, saat itu juga gelap. Tapi cctv dari rumah tetangganya, menangkap mobil teman Clara bernama Aldo lewat dari arah rumah Clara. Orang kita sedang menyelidikinya."
"Menyelidiki?" ulang Steven, "Bawa dia padaku!" perintah Steven, rahangnya mengeras.
"Steven! apa yang akan kamu lakukan? bukannya bertanya baik-baik padanya lebih sopan. Bagaimanapun dia teman Clara. Belum tentu dia_"
"Mom..." potong Steven, menatap Ibunya yang masih duduk di sisi kasurnya. "Siapapun yang berani membawa wanitaku pergi, artinya dia siap mati ditanganku." lanjutnya dingin. Sorot matanya kini tampa belas kasih.
Ibunya bangkit, segera keluar karena tahu dia tidak akan sanggup menahan air mata akan perubahan sikap anaknya. Sesampainya diluar, ibunya duduk di ruang tunggu. Memijit kepalanya sambil mengatur nafas agar tidak menangis.
"Saya akan memerintahkan mereka membawanya segera," kata Jun, lalu meninggalkan Steven sendirian.
Saat Jun melewati ibu Steven, Jun berhenti sejenak. Ia memberikan sapaan hormat sebelum melanjutkan langkahnya.
"Jun!" Jun berhenti, berbalik untuk menatap ibu Steven yang memanggilnya.
"Aku dengar kamu cukup dekat dengan Clara, apa kamu benar-benar tidak tahu kemana dia pergi?"
"Anda mencurigai saya, Nyonya?" Ibu Steven menggeleng cepat.
"Tidak tidak! aku hanya bertanya karena mungkin saja Clara menghubungimu..."
"Nona sangat tahu saya orang tuan Steven yang paling setia. Meskipun kami berteman, dia tidak akan meminta bantuan pada saya untuk hal ini." jawab Jun datar.
"Maafkan aku, aku hanya... Aku sangat kawatir sekarang. Steven sangat berbeda. Dia menjadi lebih kejam dan dingin. Dia kehilangan kehangatan dalam hatinya."
__ADS_1
"Kita hanya harus menemukan Nona."
"Ya, kamu harus segera menemukannya. Steven hanya akan kembali seperti dulu jika Clara kembali."
'Begitupun aku.' sahut Jun dalam hati.
.
Sementara itu, Arnold, Yuno dan tiga sahabatnya datang bersamaan dengan Aldo yang berhasil dibawa oleh anak buah Steven. Jun sengaja menyuruh mereka semua datang untuk membantunya menyadarkan Steven jika dia akan berbuat kejam pada Aldo. Bagaimanapun, jika Aldo mati maka Clara selamanya akan membenci Steven. Juga membencinya karena membiarkan Steven. Tentu saja Jun tak akan membiarkan hal itu terjadi. Dirinya juga tidak akan selamat jika berani mencegah Steven sendirian.
Aldo dibawa dengan ancaman. Mau tidak mau dia tidak bisa melawan. Untuk menghilangkan jejak Clara, Aldo menyembunyikan ponselnya. Rumahnya digeledah sehingga menimbulkan kericuhan. Apalagi kakeknya sangat marah saat cucu satu-satunya dipaksa ikut bersama orang Steven. Dia marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Kekuasaannya tidak sebesar itu untuk bisa melawan.
"Jadi... kamu yang menyembunyikan Clara?" kata Steven, nadanya rendah dan penuh intimidasi.
Aldo terikat pada sebuah bangku. Di hadapannya Steven berdiri dengan angkuh. Jun dan Yuno di belakangnya. Arnold dan ketiga sahabatnya baru saja tiba. Dengan wajah kawatir berdiri di ambang pintu. Mengikuti intruksi Jun yang menyuruh mereka diam.
"Aku sudah bilang aku tidak menyembunyikan Clara."
Brak!
Steven menendang dada Aldo sampai bangkunya tumbang ke belakang dan patah. Ikatan pada bangku terlepas karena memang sengaja tidak diikat kuat. Aldo bangun dengan memegang dadanya yang sakit. Menatap Steven yang terlihat sangat berbeda. Pandangan kosong dengan ekspresi dingin mengerikan.
"Katakan, dimana dia?" tanya Steven sekali lagi.
Lagi-lagi Aldo menjawab sama, Steven tersenyum, jenis senyum psikopat gila yang menemukan mangsanya. Aldo bahkan sampai mundur kebelakang karena takut.
"Tidak tahu?" desis Steven.
Dia menarik pistol yang ada di saku jas miliknya dan menembakkan satu peluru yang mengenai paha Aldo.
"Aldo! katakan saja dimana Clara! Steven hanya akan membawanya kembali, bukan untuk menyakitinya!" Teriak Samuel. Ketiga sahabat Steven terlihat sangat syok dan kawatir.
Aldo tumbang dengan darah yang keluar dari pahanya. Dia meringis menahan sakit. Lalu matanya menatap Steven dengan berani.
"Bunuh aku! maka kamu akan kehilangan Clara selamanya. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya. Aku sudah berjanji padanya." kata Aldo.
Hati Steven terbakar, menyadari gadisnya pergi bersama orang lain. Membuatnya ingin menghabisi Aldo. Dia kembali mengacungkan senjatanya, mengarahkan pada kepala Aldo.
"No...NO STEVEN!" teriak Teddy. Dengan berani berjalan kedepan Steven dan menghalanginya. "Kamu akan menyesal jika membunuhnya. Sadarlah! Apa yang ada di kepalamu sekarang!"
"Steve! tenang oke? Kita cari Clara sama-sama. Aku juga akan membantumu." sahut Sam, ikut berdiri di samping Steven dan menahan tangannya.
Steven tersenyum sinis, tangannya bergerak mengarahkan pistol itu kepada kepala Teddy yang menghalanginya.
"Tuan..." cegah Yuno. Kakinya bahkan sudah gemetar melihat sosok Steven sekarang. Tadinya ia hanya ingin menjenguk bosnya itu karena mendapat kabar sedang sakit. Tidak menyangka masalahnya menjadi seperti ini.
"Tuan, tenanglah." cegah Jun. Dia berdiri di hadapan Teddy, membuat pistol itu langsung menyentuh dahinya.
Steven terkekeh dengan cara yang menyeramkan. Dia menurunkan pistolnya lalu berbalik. "Dapatkan apa yang aku inginkan, Jun. Kalau tidak kamulah yang akan menerima tembakan selanjutnya." katanya sebelum pergi.
Setelah kepergian Steven, Sam dan Bobby memapah Aldo bangun, membawanya keruang dimana Jun menyuruh mereka. Sebuah kamar kecil di mension itu. Jun segera memanggil dokter untuk memberikan pertolongan pada Aldo.
"Kenapa kamu membantu Clara pergi?" tanya Sam saat dokter telah keluar. Peluru dikakinya sudah diangkat.
"Menurutmu aku bisa menolak saat wanita yang masih aku cintai meminta bantuanku?" tanya Aldo dengan sinis. "Dia menangis, aku belum pernah melihat Clara menangis seperti itu. Itu lebih pilu dari saat kematian ayahnya. Dia kehilangan pijakan dan harapan." lanjut Aldo. Lalu menatap Sam yang terdiam. "Kenapa Steven membuangnya? Sekarang menyesal dan ingin mencarinya lagi? Cih! jangan harap aku akan membantunya."
__ADS_1
Samuel menghela nafas, sejujurnya dia juga tidak mengerti. Tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya di antara mereka. Tapi Sam hanya memiliki keyakinan.
"Steven tidak akan bertunangan dengan wanita lain tampa sebab. Aku yakin dia punya alasan."
"Apapun alasannya dia sudah menyakiti Clara." sahut Aldo.
Samuel mengangguk setuju, meski begitu setidaknya mereka ingin mendengar alasan itu.
Sementara Teddy dan Bobby menyusul Steven untuk berbicara dengannya. Jun masuk ke dalam kamar itu. Sam menoleh pada Jun. Menatapnya penuh selidik. Sam mendengar beberapa gosip, tentang kedekatan Jun dengan Clara. Juga kejadian penculikan yang melibatkan Jun dan Clara saat itu, membuat Sam bertanya-tanya sejauh apa kedekatan mereka.
"Katakan saja dimana Clara saat ini, Tuan tidak akan bersabar lebih lama. Jika tidak membunuhmu, maka dia akan menghancurkan apa yang keluargamu miliki." kata Jun datar.
Sam mengernyit, jelas merasa sangat terganggu. Bukan pada apa yang dikatakan oleh Jun, melainkan cara Jun yang memanggil Clara hanya dengan nama. Bertanya-tanya dalam hati sedekat apa mereka sekarang?
"Dia sudah pernah menghancurkan kakekmu sekali, apa kamu akan menyia-nyiakan kerja keras kakekmu saat ini?" lanjut Jun.
Aldo tampak marah, namun dia tidak mengatakan apapun. Jun kembali berbicara, kali ini membuat Aldo terkejut.
"Kamu meninggalkannya saat ini sendirian diluar sana. Apa kamu tahu sebanyak apa musuh tuan? juga ada Raka, psikopat gila yang menginginkannya. Jika terjadi sesuatu... sebelum tuan, aku akan membunuhmu terlebih dahulu."
Sam meneguk ludahnya dengan susah payah. Aura yang Jun keluarkan jelas sangat berbeda. Dia terlihat menakutkan. Sam menoleh pada Aldo yang terlihat bimbang.
"Aku sudah janji padanya..." lirih Aldo.
"Kamu bisa minta maaf nanti, saat ini keselamatan Clara juga penting. Jun benar, bagaiman kalau orang-orang itu menemukannya? Atau orang jahat lain?" sahut Sam. Dia juga berusaha meyakinkan Aldo. Maka dengan segaka keraguan yang dia miliki, akhirnya Aldo menyebutkan satu alamat.
.
Steven dan Jun berdiri di depan sebuah rumah. Menatap sekeliling yang terlihat sepi. Seseorang datang dari belakang rumah, membawa sapu di tangannya. Ibu tua itu adalah pemilik rumah yang disewa oleh Clara. Dia heran melihat Steven dan Jun, lalu menghampiri keduanya.
"Kalian mencari siapa? atau ingin menyewa rumah ini?" tanyanya.
"Seorang gadis yang tinggal disini beberapa hari ini, dia adalah teman kami." kata Jun sopan.
"Oh... Clara?"
"Ya, apa dia ada di dalam?" tanya Jun lagi, melirik Steven yang melangkah mendekati pintu rumah. Namun langkahnya terhenti saat ibu tua itu menjawab pertanyaan Jun.
"Dia sudah pergi dengan teman barunya. Clara bercerita dia ingin pulang ke negara asalnya namun kehilangan pasport. Jadi dia ingin membantu Clara mendapatkannya kembali. Mereka baru saja pergi pagi tadi, Clara bilang dia akan tinggal bersama temannya di pinggiran kota."
Steven bertukar pandang dengan Jun. Entah kenapa keduanya memiliki firasat tak enak mengenai teman baru yang disebutkan ibu ini.
"Anda mengenal temannya?" tanya Steven.
"Tidak, aku belum pernah melihatnya juga. Tidak tahu Clara kenal dari mana. Temannya sempat main beberapa kali kesini sebelum membawa Clara."
"Wanita atau..."
"Seorang wanita, agak lebih dewasa dan berambut coklat." sahut ibu itu cepat.
Keduanya segera pergi dari sana setelah berterima kasih pada ibu tua itu. Steven segera memerintahkan Billi memeriksa seluruh CCTV yang mungkin dilewati oleh Clara. Mereka sudah mendapatkan gambaran merk mobil dan pakaian apa yang mereka kenakan.
"Aku tidak percaya dia mengikuti orang yang baru dikenalnya. Itu bukan dirinya sama sekali."
Jun yang menyetir melirik sesaat, "Anda benar, tapi keputus asaan bisa membuatnya nekat." kata Jun.
__ADS_1
Keduanya dilanda panik. Takut wanita ini hanya memanfaatkan Clara, atau malah akan berbuat jahat padanya. Dari cerita ibu tua itu saja sudah banyak kejanggalan mengenai teman barunya itu.