
Clara masuk ke dalam sebuah rumah tidak terlalu besar. Wanita yang merupakan teman barunya itu mengatakan itu adalah rumah orang tuanya saat masih hidup. Clara percaya saja, karena wanita ini bilang dia bekerja di kedutaan luar negeri. Dia punya banyak kenalan yang bisa membantu Clara untuk membuat pasport baru. Clara yang masih awam dan polos mempercayainya.
"Sarrah, apa kamu punya handuk baru, aku lupa membawanya." tanya Clara saat dia akan mandi. Tapi Sarrah hanya duduk santai sambil memainkan ponselnya. Tidak menjawab sama sekali.
"Sarrah?" panggil Clara.
Sarrah mendongak, namun bukan menjawab panggilan Clara, melainkan menatap dua pria yang datang dari arah dapur. Berdiri tepat selangkah di belakang Clara. Menyadari hal itu, Clara berbalik. Kedua pria itu tersenyum padanya, lalu dengan cepat membekap Clara.
Setelah Clara terikat kaki dan tangannya. Dia diletakkan di lantai begitu saja dalam keadaan berbaring. Sarrah mendekatinya, merapikan rambutnya lalu tersenyum manis.
"Kamu tahu, wajahmu sangat cantik. Tubuhmu sangat bagus dan yang terpenting kamu masih perawan. Tahu berapa banyak yang akan kita dapatkan? jadi untuk apa pulang?" katanya dengan nada manis.
Clara mulai menangis. Dia merasa sangat bodoh percaya begitu saja. Dia bahkan tidak bisa bergerak. Hanya bisa menangis dalam ketakutannya.
"Ssst... jangan menangis. Wajah cantikmu bisa semakin menggemaskan. Bagaimana kalau dua temanku jadi tergoda."
Clara tidak mau menjawab. Dia tidak ingin bicara apalagi memohon. Dia hanya menyesali keputusannya dalam hati. Berharap ada yang menemukannya meskipun mustahil baginya.
"Kenapa kalian diam? angkat dia dan bawa ke mobil. Kita harus segera ke klab VX, mereka pasti sudah menungguku." kata Sarrah pada dua pria tadi.
Sementara itu, Jun menghubungi Billi yang berada di rumah. Menyuruhnya melacak nomor Clara yang saat ini masih aktif. Nomor baru yang mereka dapatkan dari Aldo. Steven terus saja berusaha menghubungi Clara namun tidak ada jawaban. Clara tidak menjawab.
Jun sudah melewati batas kota, masuk kembali ke jalan perkotaan yang ramai. Mencoba melirik kanan kiri sambil menyetir, berharap melihat Clara berhenti di pinggir jalan. Meskipun kemungkinannya kecil, dia hanya mencoba.
"Ikuti jalan ini." perintah Steven saat Billi sudah mengirim alamat dimana ponsel Clara berada.
Setelah sampai di sebuah rumah, mereka bertemu dengan Carlos yang ternyata sudah sampai kesana terlebih dahulu. Dia bersama 5 orang pengawal lainnya.
"Tuan, Nona tidak ada di dalam. Kami hanya menemukan ini." Carlos memberikan ponsel Clara sementara tas dan koper masih di tangannya.
"Periksa cctv sekitar sini. Lacak mobil yang keluar dari rumah ini." perintahnya.
Setelah banyak memeriksa, hanya ada dua CCTV yang menangkap kedatangan dan kepergian mereka. Namun karena posisi letaknya yang tidak strategis, mereka tidak bisa mengidentifikasi plat mobil yang mereka gunakan.
Steven mencoba berbicara pada banyak tetangga dari rumah itu. Rata-rata dari mereka mengatakan bahwa rumah itu sudah lama kosong. Tidak ada yang menghuni. Namun Steven mendapatkan identitas anak dari pemilik rumah yang sudah meninggal.
"Ciri-cirinya sangat mirip dengan yang dikatakan ibu tua di desa." kata Jun, setelah melihat profil yang dikirim Billi.
"Dimana dia bekerja?"
"Carlos sedang mencari tahu dari teman sekolahnya dulu Tuan. Saat ini kita hanya bisa menunggu."
"Kita tidak punya banyak waktu," gusar Steven.
__ADS_1
"Saya akan bertanya pada remaja atau gadis sekitar sini yang mengenalnya." kata Jun, lalu kembali pergi. Steven menghubungi seseorang, dia adalah kenalannya dari pihak kepolisian. Orang dalam yang dikenalkan oleh Aston. Meminta data wanita bernama Sarrah ini, apakah dia memiliki daftar hitam atau tidak.
.
Clara dibawa kedalam sebuah ruangan. Dimana di sana sudah ada seorang wanita dan seorang pria muda. Yang satu sedang merokok dan satu lagi sedang memegang sebuah pisau. Dia sedang mengukir buah apel dengan pisau itu.
Saat melihat Clara di lantai, keduanya menunjukkan reaksi yang berbeda. Sang wanita dengan raut penuh kebencian. lalu sang pria dengan seringai penuh nafsu untuk membunuh.
"Violet... Ra...raka!" Clara benar-benar terkejut. Bagaimana orang-orang ini bisa saling terhubung.
Violet bangun, lalu perlahan jongkok tepat di depan Clara yang dipaksa berlutut. Violet menghembuskan nafasnya kewajah Clara, lalu dengan kejam mematikan rokoknya di atas punggung tangan Clara.
"Akh!"
Clara menjerit dan merintih. Air matanya jatuh begitu saja karena menahan perih di tangannya. Violet tertawa, lalu menampar dan menjambak Clara dengan keras.
"Lihatlah... wajah yang disukai tunanganku." desis Violet. "Kalian lihat? wajah ini yang membuat pria yang aku cintai selalu berpaling dariku." katanya, lalu menarik sekuat tenaga rambut Clara sehingga beberapa tercabut.
Clara merasakan pening yang sangat luar biasa. Dia bahkan tersungkur ke lantai. Raka meletakkan buah apel yang telah ia ukir di atas meja. Lalu membawa pisau itu mendekati Clara. Memaksa tubuh Clara bangun dan duduk kembali. Dua orang pria yang bersama Sarrah tadi memeganginya.
"Kak Clara sayang... aku merindukanmu. Tahukah kamu berapa lama aku harus bersabar untuk momen ini?" tanya Raka.
Dia menempelkan pisaunya di wajah Clara, lalu turun ke lehernya. Menekan pisau itu tepat di nadi Clara sehingga menimbulkan luka sayatan yang tidak dalam. Tidak sampai melukai pembuluh darah arteri di sana. Sepertinya Raka benar-benar ingin bermain-main dengan perlahan.
"Tentu saja, tapi dia mainanku. Perjanjian kita sudah selesai. Kamu bisa pergi." kata Raka.
"Selesai katamu? aku mau melihatnya mati secara langsung." sahut Violet. Dia kembali duduk di sofa dengan wajah angkuhnya.
"Hmm... baik kalau begitu. Maka bersabarlah, pisau ini terlalu tajam. Aku suka pisau yang tumpul."
Clara menggeleng, berusaha mengatakan tidak ditengah perih dan sakit di tubuhnya. Raka berjalan me jauhinya. Mengambil sesuatu di dalam saku mantelnya. Sebuah pisau kecil lain namun unungnya sedikit tumpul. Terlihat sudah lama dan usang.
"Kak Clara... sejak dulu ini adalah impianku. Melihat wajah cantikmu saat kesakitan. Melihat wajah cantik ini menjerit... aku benar-benar ketagihan sejak hari itu." kata Raka dengan nada dan wajah polos. Dia tersenyum kemudian, mengelus wajah Clara. Lalu mengambil satu jari Clara dan mengirianya perlahan.
Clara menjerit dengan kencang, dia tidak tahan lagi. Rasa sakit dan takut melihat ekspresi Raka membuat mentalnya kembali terganggu. Dia benar-benar putus asa. Sementara Raka terkikik senang melibatnya. Uforia dalam dirinya tidak tertahankan sehingga dia terbahak-bahak karena senang.
Violet mengernyit, dia memang ingin Clara mati agar Steven meliriknya. Namun melihat cara Raka menyiksa dengan cara seperti itu membuatnya terganggu.
"Sialan, tidak bisakah kamu lebih cepat." gerutunya.
Raka tidak memperdulikannya. Dia sedang asik menikmati wajah kesakitan dan ketakutan Clara. Saat Clara diam, dia akan mengambil jari lain dan mengirisnya secara perlahan. Raka sengaja mengirisnya pelan namun tidak sampai mengenai tulangnya, hal itu untuk menciptakan efek yang lebih menyakitkan. Membuat Clara kembali menjerit dengan keras.
.
__ADS_1
Steven sendiri masih berada di depan rumah orang tua Sarrah. Jun baru saja kembali bertepatan dengan Steven yang mendapat laporan riwayat kasus milik Sarrah.
"Tuan?"
"Gadis yang membawa Clara memiliki catatan kriminal cukup parah. Dia tercatat dalam banyak kasus penipuan dan narkoba." kata Steven.
"Saya juga mendapat informasi dia sering terlihat di sebuah klab yang merupakan sarang perdagangan narkoba. Saya sudah meminta tim Billi memeriksa cctv disana."
"Kita langsung kesana." kata Steven, mereka berdua masuk ke dalam mobil kembali.
Sementara itu, di dalam klab, Sarrah mendapatkan pesan dari seseorang. Dengan ragu dia menyela Raka yang terlihat sangat menakutkan.
"Maaf... jika aku menyela. Tapi bisakah kita segera pergi? seseorang baru saja memeriksa rumah orang tuaku. Mereka menanyakan keberadaanku. Bisa jadi itu adalah orang yang mencari gadis ini. Temanku bilang dia membawa sebuah koper dan tas dari rumahku. Itu mungkin koper miliknya." kata Sarrah.
"Sialan! mengganggu saja." marah Raka.
"Kalau rencanaku gagal maka kalian akan menerima akibatnya. Kebodohan kalian membuat mereka mencium apa yang kita lakukan. Dasar bodoh!" umpat Violet. Sarrah hanya menunduk, dia tahu kali ini dia teledor meninggalkan barang bukti dirumahnya.
Mereka semua bergegas keluar dari pintu belakang. Membawa Clara bersama mereka. Violet yang menjadi otak dan dalang dari semua yang mereka lakukan membawa Raka dan Clara di dalam mobilnya. Sarrah dan dua temannya hanya mengikuti mereka. Bukan apa-apa, karena mereka belum di bayar sama sekali. Perjanjiannya adalah sampai Clara mati. Karena itu mau tidak mau mereka harus ikut.
.
Arnold dan ketiga sahabat Steven yang mendengar bahwa Clara sudah dibawa seseorang tentu saja langsung panik. Mereka segera pergi menemui Aldo dan mengintrogasinya kembali.
"Apa maksudmu sudah pergi dari sana?" tanya Aldo bingung.
"Kapan kalian terakhir melakukan komunikasi?" tanya Teddy.
"Sekitar 3 hari yang lalu."
Mereka saling bertukar pandang. Lalu bersama-sama pergi dari sana. Meninggalkan Aldo yang tidak tahu apa - apa dengan wajah bingung dan panik sendiri.
Arnold menyusul Steven, Jun dan Carlos. Begitu juga Sam, Ted dan Bob. Mereka pergi dengan mobil yang sama.
"Steven akan menggila kalau terjadi sesuatu dengan Clara." kata Arnold.
"Sekarang saja dia sudah sangat mengerikan, dia akan jadi iblis jika Clara sampai terluka." tambah Sam.
Sesampainya di depan klab yang baru mulai buka itu, Steven, Jun dan Carlos segera masuk. Bersama-sama mereka menggeledah seluruh ruangan yang ada disana. Sementara Jun memeriksa seluruh cctv. Steven sudah mengamuk dan menghancurkan apapun yang dilewatinya.
Pihak keamanan disana tidak berani mengusiknya, siapapun mengenalnya. Apalagi Steven datang tidak sendirian. Steven bahkan memukul pemilik bar itu karena pada awalnya menyembunyikan keberadaan tamu vvip mereka. Setelah Steven mengacungkan senjata pada kepalanya, barulah ia mengatakan siapa yang ditemui oleh Sarrah didalam ruang vvip mereka dengan membawa seorang gadis yang diikat.
Wajah Steven menggelap. Setelah tahu bahwa Violet dalang dari semua ini. Dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa Violet akan menerima akibatnya meskipun dia adalah anak dari West sekalipun.
__ADS_1