SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
39


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, Steven mengajak seorang wanita kedalam pesta. Biasanya ia datang bersama asistennya saja. Steven dan Clara serta Arnold dan Jun datang bersama. Seluruh pengawal dilarang masuk kedalam area pesta. Aston cukup ketat tidak membiarkan banyak orang berbaur dengan mereka. Pernikahannya juga hanya pernikahan tertutup. Tidak ada foto apapun kecuali dari pihaknya.


Clara ketakutan sejak tadi. Banyak pasang mata menyorotinya sejak ia naik ke kapal itu. Steven memang terus menggenggam tangannya namun ia sibuk berbicara dengan banyak orang. Sesekali bahkan dengan bahasa yang tak dimengerti olehnya. Clara hanya tahu itu bahasa Prancis dan Arab.


Seluruh area pesta diatur dengan elegan dan mewah. Clara mengagumi seluruh dekorasinya yang indah. Ia berfikir seperti apa pernikahannya nanti. Meskipun saat ini Steven membayanginya, Clara tidak berfikir akan menikah dengannya. Clara selalu merasa takut berada dilingkungan pria ini.


"Steven!"


Keduanya berbalik, begitu juga Jun dan Arnod saat seseorang menyapa dibelakang mereka. Steven mengulurkan tangannya dengan senyum tipis kepada pasangan dihadapan mereka.


"Selamat, semoga pernikahan kalian diberkahi." kata Steven.


Ya, orang didepan mereka saat ini adalah Aston. Setelah berjabat tangan dengan perkataan basa basi ringan, Aston melirik Clara dengan wajah yang tertarik.


"Seorang gadis, huh? aku pikir bintang hari ini adalah kalian, karena orang lebih tertarik membahas pria muda ini yang membawa wanita untuk pertama kali." godanya.


Steven menarik kedua ujung bibirnya, menciptakan senyum samar. "Anda berlebihan, anda adalah bintangnya disini." jawab Steven dengan nada santai.


"Siapa dia? aku tak pernah lihat kamu dekat dengan siapapun."


Aston jelas sedang membahas latar belakang Clara. Karena pria ini hanya bergaul dengan kalangan atas. Bahkan selebriti tak dipedulikannya, sehingga Steven harus berhati-hati menjawabnya. Sejak awal mereka bertemu, Aston tampaknya tidak menyukai Steven bergaul dengan sembarangan orang. Bahkan Steven tahu kalau beberapa kali ia dimata-matai. Steven tentu bukan orang yang mudah, selama setahun ini dia memang menyembunyikan Clara dengan caranya. Saat ini ia berani karena Steven sudah cukup percaya diri dengan kekuatannya. Aston memang begitu menginginkan Steven berada di wilayah kekuasaannya. Dia seperti seorang ayah yang sangat protektif.


"Dia teman sekolah saat di Indonesia." jawabnya.


Kedua mata mereka bertemu, Aston tersenyum kemudian. "Sepertinya cukup istimewa. Nah, siapa namamu Nona?" tanya Aston beralih pada Clara.


Clara gugup, dia melirik Steven sesaat, "Saya...Clara," jawabnya pelan.


"Selamat menikmati kalau begitu, aku akan senang kamu bisa hadir pada makan malam besok Steven. Hanya makan malam biasa," katanya kembali pada Steven lagi.


Melemparkan senyum ramah ia berbalik, menggandeng sang istri untuk menyapa tamu lain. Steven menatap Clara, dahi dan kening gadis itu berkeringat. Steven mengangkat sebelah tangan lainnya dan mengelap keringatnya pelan. Menatap kedua bola mata itu lembut, memberinya tatapan menenangkan.


"Tuan, sebaiknya kita kembali ke kamar," kata Jun yang sejak tadi memang waspada.


Steven mengamati keadaan, memang terasa ada yang janggal. Sayangnya mereka terlambat menyadarinya. Ketika semua lampu padam dan terdengar suara tembakan, Steven segera menarik Clara dalam pelukannya. Seluruh pengunjung berhamburan lari dan menyalakan penerangan dari ponsel.


"Tuan, sebaiknya melangkah ke kiri." kata Jun yang beradu punggung dengannya.


"Sial, kita semua meninggalkan senjata dikamar," keluh Arnold kesal. Dia berdiri di sisi kiri Steven.


"Ayo jalan," kata Steven pelan.


Mereka mencoba berjalan pelan ditengah teriakan, terdengar teriakan seseorang menyuruh mereka diam. Lalu lampu kembali menyala. Memperlihatkan keadaan yang kacau dan beberapa orang terluka.


Steven masih memeluk Clara, mata tajamnya mengamati situasi. Ia menemukan Aston 10 meter darinya. Sedang bersama istri dan dua pengawalnya. Mata mereka beradu, saling berkomunikasi. Namun apa yang Steven baca dari sorot matanya bukanlah hal yang baik. Seolah mengatakan mereka dalam bahaya.

__ADS_1


"Kapal ini sudah kami kuasai, serahkan seluruh benda berharga kalian. Terutama tiara dikepala pengantin," kata ketua perompak yang saat ini memegang senjata. Berdiri di atas meja panjang. Mengarahkan senapannya pada istri Aston yang ketakutan.


Mereka, para perompak ini berjumlah belasan dan semua bersenjata laras panjang. Memakai topeng dan tubuh mereka dikelilingi peluru. Seolah siap tempur dan bukan hanya mengancam.


Aston mengambil tiara dari kepala istrinya dan berjalan kedekat mereka. Meletakkan tiara diatas meja paling dekat dengannya dan satu perampok mengambilnya. Seluruh wanita disana juga melepas perhiasan mereka. Laki-laki melepas jam tangan dan cincin. Tapi sebelum mereka sempat meletakkan diatas meja, terdengar tembakan dan ketua perompak itu jatuh ke lantai.


Yang lain tampak terkejut dan menatap Aston terkejut. Entah apa yang terjadi, pria berpakaian hitam dan merah datang dan menyerang perompak. Akhirnya terjadi saling tembak. Semua orang merunduk dan merangkak untuk mencari perlindungan.


Steven dan Arnold menumbangkan meja dan berlindung dibaliknya. Steven bersama Clara dan Jun bersama Arnold. Dua pengawal mereka sudah bergabung dan memberikan mereka senjata.


"Apa yang terjadi?" tanya Steven saat menerima senjata dari pengawalnya.


"Kami hanya menerima laporan bahwa ada kekacauan di lokasi pesta. Semua pengawal disana berlari kesini melindungi tuan mereka masing-masing. Ketika melihat perompak pengawal tuan Aston yang bertindak duluan." jawab salah satu dari mereka.


"Ini tidak terlihat seperti perompak pada umumnya. Pergerakan mereka sangat berbeda," kata Arnold.


Jeritan dimana-mana dan darah juga dimana-mana. Ini lebih terlihat seperti pembantaian dari pada perompakan yang mencari harta. Maka Steven mulai bertindak, namun jasnya ditahan seseorang. Steven menoleh pada Clara yang sudah bercucuran air mata. Badan gadis itu bergetar parah.


"Anda tetap disini saja Tuan. Orang kita sedang kemari dengan kapal lain." seru Jun.


Sayangnya mereka tak bisa diam saja. Meja mereka bahkan sudah bolong oleh beberapa tembakan. Jika mereka tidak tiarap, sudah jelas mereka mati ditempat. Satu pengawal Steven bahkan terkapar disisinya. Ia tertembak dikepala. Clara menjerit kuat. Jelas ia terguncang.


"Sial! Aku akan menghabisi perompak atau siapapun mereka ini!" desis Steven kesal.


Dia berguling kekiri dan menendang meja lain kearah Clara. Lalu berguling kembali dan menarik Clara agar bersembunyi dibaliknya dalam keadaan tiarap.


Ia mengngguk pada Jun dan Arnold. Mereka bertiga akhirnya bertindak. Satu pengawal tadi melindungi Clara. Sayangnya, Steven memilih pilihan yang salah. Pengawal itu tertembak tepat setelah mereka pergi. pelakunya terlihat senang. Ia mengarahkan pistolnya pada Clara yang terlihat jelas dari tempatnya. Tapi ia mengalihkan tembakannya disaat terakhir saat matanya melihat satu orang mengarahkan senapan mereka pada Steven. Ya, dia adalah Aston. Berdiri dengan tenang ditempatnya seolah dialah pengendali dari kekacauan ini.


Steven menemukan tempatnya, menatapnya tajam sebelum berlari ketempat Clara dan meraih gadis itu dalam dekapannya. Bersama Jun dan Arnold meninggalkan kekacauan dan terjun bebas kebawah dimana kapal mereka menunggu. Beberapa orang menyambut mereka dengan kain. Segera setelah mereka semua terjun dengan selamat, kapal kecil itu melaju kencang meninggalkan lokasi.


Steven bisa melihat dikejauhan Aston yang melambai padanya disisi pembatas kapal. Steven dan yang lain masuk ke dalam. Clara masih menangis, tubuhnya masih menggigil karena ketakutan. Steven akan mengeratkan pelukannya ketika Clara malah menjauhinya. Terjatuh kelantai kapal dan beringsut ke sudut. Menatap Steven penuh amarah.


"Aku mau pulang! Aku mau pulang! Jangan bawa aku lagi bersamamu! kamu dan duniamu...hik hik! kalian bajingan gila!" teriak Clara.


Satu hal yang tak diketahui Steven. Bahwa Clara melihat Aston membunuh pengawalnya, bahkan pria itu mengarahkan pistolnya pada Clara dan mengucapkan kalimat selamat tinggal. Clara ketakutan, orang disekeliling Steven yang dianggap teman ingin membunuhnya disana. Sehingga ia tidak mempercayai Steven juga.


"Nona, tenanglah." pinta Jun.


Clara menggeleng dan hendak berlari keluar. Arnold yang berada dalam posisi yang paling dekat dengannya menarik tangannya dan membuatnya pingsan. Setelah itu Steven meraih tubuh Clara dan menggendongnya. Membaringkannya di sofa dengan pahanya sebagai bantalan.


.


Clara terbangun disebuah kamar bernuansa biru gelap. Gorden masih tertutup meski cahaya matahari sudah menyusup masuk. Suara TV tertangkap oleh inderanya. Menoleh kekanan, ia mendapati Steven duduk bersandar disofa tunggal menghadap ketelevisi. Bertelanjang dada dan ditangan kanannya terdapat gelas berisi cairan kuning jernih.


Steven mematikan televisi dan menoleh, meletakkan gelas dimeja dan meraih rokok di atas meja. Menyalakan rokoknya lalu bangkit berdiri. Berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi kepala, tepat disamping Clara.

__ADS_1


"Mau mandi? aku sudah siapkan pakaian ganti." katanya santai, seolah tidak ada apapun yang terjadi tadi malam.


Clara beringsut menjauh. Menurunkan selimut dan turun dari kasur. Berdiri disudut dinding kamar. Menatap Steven menghakimi.


"Kembalikan aku ketempat asalku!" serunya.


Steven bangun, dengan rokok masih ditangannya, ia berjalan pelan menuju Clara. Bodoh memang, pria tidak peka ini tidak sadar hal itu malah membuat Clara semakin takut. Atau_ apakah ia sengaja?


Steven mengulurkan lengannya kedepan, mengungkung gadis itu dalam jarak sangat dekat. Clara meneteskan air mata dalam keadaan terpejam. Ketakutan melingkupi dirinya.


"Clara ... ada saatnya aku bisa lembut. Tapi kalau kamu terus-terusan melawanku ... mendorongku menjauh ... aku bisa gila. Kamu tahu kalau aku gila seperti apa?"


Clara menggeleng pelan, sungguh dia ketakutan. Steven berbisik tepat ditelinganya dengan nada dingin yang mengancam. Steven mentapnya dengan sorot tajam. Seperti singa yang berhasil menguasai mangsanya yang melawan.


"Duniaku adalah rumahmu sejak kita berpacaran. Bahkan saat putus...kamu pikir siapa yang menyingkirkan setiap pria yang mendekatimu?" lanjut Steven dengan seringaian mengerikan.


Sontak mata Clara terbuka, menatap Steven yang kini memberikan seringaian iblisnya. Masih tidak percaya pada apa yang didengarnya.


Steven menyatukan kening mereka. Meremas rokok yang masih menyala ditangannya hingga menjadi serpihan lalu meremas kedua bahu Clara dengan kuat. Semakin memberikan gadis itu intimidasi.


"Bahkan psikopat gila yang terus mengincarmu, kamu pikir jika bukan karena aku apa kamu akan selamat dari obsesinya? Apa perlu aku melemparmu padanya? dia masih menginginkanmu omong-omong__" Steven menjeda. Ia melepaskan tangannya dan menjauhkan diri dua langkah. Seketika tubuh Clara merosot kelantai dan ia menangis. "Aku memberimu pilihan sekarang, aku lepaskan dan bersiap jadi santapan Raka atau tetap aman disisiku." lanjutnya.


Steven meninggalkannya dengan emosi yang tak terkontrol. Ia bisa saja semakin melampiaskannya pada Clara karena terus membuatnya frustasi. Tapi Steven kalah dengan hatinya. Dia mencintai gadisnya dan memilih pergi agar tidak menyakitinya lebih dari ini.


.


Jun dan Arnold sedang berlatih pedang saat Steven masuk kedalam sanggar. Keduanya menghentikan latihan dan bertukar pandang. Jelas mereka tahu Steven sedang marah.


Arnold melempar baju khusus latihan pada Steven sebelum duduk untuk menonton. Dari pandangannya, jelas ia butuh pelepasan. Jun adalah lawan yang cocok untuk ini. Karena Arnold masih belum mahir dalam berpedang.


Bunyi pedang beradu memenuhi ruangan. Steven menyerang dengan membabi buta. Jelas Jun sudah kualahan namun ia tak berani menghentikannya. Jun hanya terus menangkis dan menangkis.


"Santai dude...! kamu bisa membunuhnya." tegur Arnold tapi tak dihiraukan olehnya. "Mau aku bantu bicara pada gadismu?" tanyanya lagi.


"Jangan...ikut...campur!" sahut Steven dalam suara yang berat karena mengimbangi nafasnya. Ia sedang mendorong Jun ke dinding dengan pedangnya.


"Bagaimana kalau kamu undang tiga temanmu itu? si Sam itu sepertinya cukup akrab sama gadismu. Bukannya mereka membuat gadis itu tertawa saat di mensionmu?" lanjut Arnold tak mau menyerah.


Steven menarik dirinya. Membuang pedang asal dan menatap Arnold. Tampa berkata apapun ia memilih keluar. Jun terduduk dengan keringat bercucuran. Terlihat kelelahan dan kehabisan tenaga.


"Menurutmu dia akan mendengarkanku tidak?" tanya Arnold.


Jun menoleh dan mengangguk. "Tuan akan melakukan apapun untuk bisa membuat Nona disisinya. Biarpun itu konyol dan meruntuhkan harga dirinya." kata Jun.


Arnold terkekeh sinis. Tidak menyangka anak yang dulu ia kenal sangat dingin dan tidak pernah menyukai gadis manapun saat ini bisa gila hanya oleh seorang gadis biasa. Betapa ironisnya saat ia mengingat adiknya yang mati-matian berubah menjadi ****** hanya untuk merayunya. Nyatanya Steven tidak meliriknya sama sekali. Sampai ia mengalami nasib tragis ditengah penderitaannya.

__ADS_1


Arnold tentu saja menyimpan amarah tersendiri pada sikap Steven itu. Hanya saja ia adalah pria yang jauh lebih dewasa dan realistis. Tidak ada yang bisa memaksa Steven sejak dulu. Baik dia maupun adiknya hanya orang yang terus berpegang padanya.


__ADS_2