
Segerombolan anak berkumpul di seberang jalan depan gerbang masuk sekolah saat anak-anak dari luar asrama mulai berdatangan. Saat mereka turun otomatis mereka melihat para gerombolan yang mengendarai dua mobil dan beberapa sepeda motor disana. Beberapa orang asing tampak diantara mereka. Saat Rafael tiba, ia bisa melihat dari dalam mobil sosok yang dikenalnya ada diantara gerombolan itu. Keningnya berkerut melihat anak-anak itu.
"Siapa anak-anak itu, mereka seperti preman?" tanya ayahnya.
"Entahlah, mungkin__" jawaban Rafael terpotong karena mobil telah berhenti di parkiran.
"Perhatikan siapa yang mereka cari, jangan sampai ada murid yang membuat malu sekolah ini." perintah ayahnya, menatapnya penuh tuntutan sebelum keluar.
Rafael tidak langsung masuk ke dalam gedung sekolah, setelah ayahnya tidak terlihat, ia melangkahkan kakinya menuju gerbang utama. Mengamati mereka lewat depan gerbang. Saat matanya menangkap mobil Steven yang berhenti disana, ia langsung tahu siapa yang ditunggu gerombolan itu. Dalam waktu beberapa menit, Steven dan beberapa pemuda disana saling lempar tatapan tajam. Terlihat Sam dan dua teman lainnya yaitu Bob dan Ted menghampiri Steven.
Salah satu di antara gerombolan itu maju, sepertinya ia hanya orang suruhan. Berjalan ke arah Steven dengan langkah sedikit ragu. Dia memberikan sebuah lipatan kertas sebelum kembali ke rombongannya. Steven membuka lipatan kertas itu dan tersenyum miring, lalu mengangkat kertas itu setinggi dadanya dan menggoyangkan dua kali sebagai isyarat sebelum masuk ke dalam mobilnya kembali. Steven mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sekolah. Teman-temannya hanya mengikutinya dengan mobil lain. Pagi ini ketiga temannya berangkat bersama karena kini mereka tinggal satu atap. Hanya Steven yang berbeda karena ayahnya tidak setuju.
Rafael menuju kelas Steven sebelum kelas dimulai. Ia menuju meja Steven yang kosong, bertanya pada Fajar kemana teman sebangkunya itu namun tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya ia duduk di sana untuk menunggu.
"Ada apa pagi-pagi mencarinya?" tanya Fajar sambil mencomot sebuah kado yang terjatuh saat Rafael duduk.
"Meja ini selalu penuh begini ya setiap pagi?" Rafael melirik kado-kado itu dengan risih.
"Hmm ... begitulah. Sebentar lagi juga berakhir di tong sampah. Penggemarnya cukup bebal."
"Sepuluh menit lagi masuk kelas kemana anak itu?" sungut Rafael lagi.
Sementara ditempat lain, orang yang dicari sedang mengganggu Clara yang sedang belajar dikelasnya karena ada ulangan. Bob dan Ted menunggunya di meja guru. Sementara Sam sama sibuknya dengan Clara, ia sedang belajar karena baru tahu ada ulangan.
"Steve! please ..." ucap Clara dengan wajah kesal namun tidak berdaya.
"Aku hanya duduk Clar ... lanjutkan saja," ucapnya acuh. Ya, sedari tadi ia memang duduk saja. Tapi mata tajamnya tidak lepas dari menatap Clara yang tampak serius saat membaca buku. Tentu saja membuat Clara jadi tidak fokus.
Clara tidak berkata apapun lagi, ia hanya mendengus dan melanjutkan membaca buku.
"Manis banget, jam istirahat ngapain?" tanya Steven.
"Belajar, ada ujian lagi nanti," jawab Clara.
"Hmm ... Nanti jangan kesini ... aku mau fokus belajar ..., " lanjut Clara dengan wajah ragu, takut Steven marah.
"Kalau rindu?"
Pertanyaan yang membuat Clara jadi memerah dan seluruh kelas yang tadi hening karena serius belajar jadi penuh bisik-bisik. Merasa iri dengan Clara.
"Apa sih, pu-pulang sekolah kan bisa!" Clara langsung salah tingkah.
Steven tersenyum, ia mengeluarkan sebuah susu dari kantong almamaternya dan meletakkannya di meja Clara. Menggusak rambut Clara sebelum keluar diikuti dua temannya.
"Selamat ujian adik," ledek Teddy pada Sam yang memberikan wajah kesalnya. Bobby tertawa kecil sebelum menghilang dari sana.
"Mentang-mentang pintar, awas saja nanti," rajuk Sam dengan wajah masamnya. Kembali melanjutkan belajar.
__ADS_1
Sesampainya di kelas bel sudah berbunyi namun guru belum datang. Steven mengangkat alisnya saat melihat Rafael yang tadi duduk di kursinya bangkit saat ia masuk.
"Mencariku?" tanya Steven setelah duduk di kursinya, meletakkan tasnya di atas tumpukan kado sebelum menatap Rafael lagi.
"Aku memiliki permintaan."
Maka keduanya keluar dan berbicara di depan kelas yang sudah sunyi karena anak-anak sudah masuk ke kelas masing-masing.
"Olimpiade masih berlangsung, tolong ... tolong jangan mencari keributan dulu. Setelahnya aku tidak peduli. Tapi tolong jangan libatkan sekolah ... Ayahku sangat kawatir tentang ini dan aku tidak mau jantungnya kambuh," ucap Rafael.
"Kamu melihat kejadian pagi tadi? Tenang saja ... mereka tidak akan melibatkan sekolah. Aku tahu cara main Arnold selama ini."
"Aku tidak kenal Arnold yang kamu maksud ataupun ada masalah apa dengannya. Tapi aku mengenal dengan baik Raga yang datang bersama dengan mereka," kata Rafael serius. Steven memutar kepalanya menatap Rafael yang juga menatapnya.
"Raga adalah salah satu pemimpin geng sekolah wilayah sekitar sini. Dia anak yang suka buat onar. Hobinya bolos dan buat kerusuhan. Dia mantan sekolah ini tapi dikeluarkan karena membuat masalah saat kelas sebelas. Dia tidak akan peduli apapun yang penting wilayah kekuasaannya bertambah."
"Kupastikan anak bernama Raga itu tak akan mengacau," kata Steven tegas.
"Senang mendengarnya, kupegang kata-katamu," jawab Rafael dan menepuk pelan lengan Steven sebelum meninggalkannya.
Steven kembali masuk ke dalam kelas saat dari jauh ia melihat guru galak mereka menuju kelasnya. Melirik sekilas pada Bob dan Ted yang juga menatapnya sebelum duduk. Fajar juga menatapnya dengan was-was.
"Ka-Kalian tidak ada masalah kan?" tanya Fajar ragu-ragu. Takut membuat Steven tersinggung tapi dia juga penasaran.
Steven hanya menatapnya sekilas sebelum menggeleng pelan. Fajar sedikit lega meski masih kawatir. Guru mereka sudah masuk dan semua kembali fokus pada pelajaran. Kali ini Steven tidak fokus sama sekali, dia kembali mengingat isi kertas itu. Berisi satu kalimat penuh dendam padanya.
"Jika tidak ada maka kerjakan latihan halaman 20," ucap sang guru yang membuat beberapa anak menghela napas.
.
Istirahat jam pertama Aldo segera menemui Clara dikelasnya. Entah apa yang ia pikirkan namun ekpresinya terlihat buruk. Sam yang memperhatikan mereka keluar hanya diam saja, namun dia melangkah untuk mengikuti. Hal itu tentu saja disadari Aldo, sehingga ia berbalik dan menatap tidak suka padanya.
"Apa yang kamu lakukan? Menguping?!" sarkas Aldo meski dengan nada biasa.
"Menjaga agar serigala jantan tidak mengamuk, Seseorang sangat berani melanggar larangannya."
Clara yang merasa tersindir menundukkan kepalanya, otomatis langkahnya mundur untuk menciptakan jarak dari Aldo. Menyadari hal itu membuat Aldo tidak suka, ia berdecak malas sebelum mengabaikan Sam dan fokus pada Clara lagi.
"Kenapa kamu melakukan hal yang berbahaya?" Clara mengernyit, ia tidak mengerti.
"Dia berbahaya! Dia seorang kriminal Clar! Aku tidak ingin kamu terluka, dia hanya akan menyakitimu." ucap Aldo dengan wajah memohon. Membuat Clara semakin bingung.
Clara tidak tahu hal apa yang disembunyikan Aldo, ia tahu Aldo tidak mungkin berbohong karena mereka cukup mengenal satu sama lain dalam waktu yang lama. Aldo juga orang yang selalu menjaganya di sekolah dan membantunya selama ini. Namun ia juga tidak ingin berfikiran buruk pada kekasihnya. Dia menyukai Steven dan entah kenapa selalu bisa luluh dan percaya padanya.
"Kak Al, sebenarnya apa yang Kakak coba katakan?"
"Putus darinya! Jauhi dia dan kembalilah menjadi Clara yang dulu."
__ADS_1
Clara menatap Aldo cukup lama, berusaha membaca ada apa dibalik semua permintaan itu. Sementara itu, Sam sudah mengirim pesan lima menit yang lalu kepada Steven yang tentu saja langsung menuju kelas mereka.
"Kak Al, tolong jangan seperti ini. Aku dan Steven baru saja mulai. Aku mempercayainya Kak. Meskipun dia mungkin nakal, tapi dia tidak pernah tidak sopan padaku. Dia melindungi aku. Tolong percaya dan jangan selalu berpikiran negatif padanya. Bukankah pada awalnya Kakak juga menjaganya?"
"Itu dulu sebelum aku tahu dia seperti apa, karena saat itu dia sangat dibutuhkan untuk sekolah dan dia anak dari pelatihku. Tapi sejak kebusukannya tercium, aku tidak akan segan menghancurkannya. Tidak peduli dia anak pelatih, aku bahkan bisa mengganti pelatihku dengan mudah," jawab Aldo dengan kilat emosi yang tidak stabil.
"Kebusukan apa?" tanya Clara, nadanya terdengar menantang meski masih sopan.
"Cukup jauhi dia, kamu akan terluka jika tahu. Tolong percaya padaku Clar!" jawab Aldo sambil maju dan meraih kedua lengan Clara untuk meyakinkannya.
"Bukankah aku sudah memberikan peringatan, Clara?"
Keduanya menoleh bersamaan saat nada rendah penuh intimidasi itu terdengar. Clara segera melepaskan diri dan menghampiri Steven yang tampak murka meski wajahnya masih datar. Sorot matanya sungguh membuat Clara takut.
"Ka-Kami tidak melakukan apapun. Hanya membahas sesuatu ... tolong jangan salah paham," sahut Clara, dia bahkan tidak berani menatap mata Steven saat ini.
Steven melirik Sam dan mendapat anggukan pelan sebelum menatap Aldo sengit. Keduanya adu tatapan sesaat sebelum Steven melewati Clara begitu saja. Dia berdiri di hadapan Aldo dengan kedua tangan berada di dalam sakunya.
"Mau mengacau?" tanya Steven pada Aldo, nadanya dingin sekali.
"Kamu! Jangan pernah libatkan Clara! Dia dalam bahaya jika kamu dekat dengannya, apa kamu sadar itu!" jawab Aldo tajam.
"Jangan melihat ikan pada permukaan air yang keruh. Terkadang mata bisa menipumu." Steven menjeda sesaat, menilai seberapa besar yang diketahui Aldo mengenai dirinya. "Pedang bukan hanya untuk melukai, tapi juga untuk melindungi. Dari pada sibuk mengurusi kami kenapa kamu tidak fokus belajar menjadi penerus kakekmu?" Steven memberinya ancaman, Aldo yang cerdas tentu saja mengerti maksudnya.
"Jangan mengatur apa yang aku lakukan! jangan egois lalu membahayakan orang lain!" balas Aldo, Steven menyunggingkan senyum sinis.
"Jangan sampai Clara menjadi korban keduamu! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkannya!" tambah Aldo, lalu dia pergi dari sana. Ia menatap Clara sesaat sebelum melewatinya.
Clara menatap Steven untuk meminta penjelasan akan apa yang Aldo katakan. Namun Steven hanya melewatinya begitu saja. Membuat ia sadar bahwa Steven marah lagi padanya.Dengan cepat ia segera mencegah Steven dengan menarik tangannya agar berhenti.
"Aku! Aku minta maaf. Sungguh! Kak Aldo yang datang dan kami hanya bicara. Tolong jangan salah paham, Kak Aldo juga ketua osis dan aku wakilnya. Beberapa hal melibatkan kami. Jadi aku__"
"Apa yang dia katakan itu benar dalam beberapa hal, aku bukan orang baik. Aku pernah bilang kan?" kata Steven memotong.
"Kak Aldo bilang kamu kriminal. Itu ... itu tidak benar, kan?" tanya Clara dengan nada ragu.
"Percaya apa yang ingin kamu percaya. Masuklah dan lanjutkan belajarmu," suruh Steven tampa menjawab pertanyaan itu, membuat Clara sedikit kesal karena Steven terlalu tertutup padanya.
"Apa benar aku berarti bagimu? kenapa kamu seperti tidak mempercayaiku?" tanya Clara dengan wajah kecewa. Ia segera berbalik dan masuk kelas karena Steven yang hanya diam saja.
Steven melirik Sam yang masih pada posisinya, wajah Steven penuh pertanyaan akan sikap Clara, dia tampak kebingungan. Sam yang paham akan kurangnya pengalaman sahabatnya itu dalam sebuah hubungan hanya menghela napas.
"Wanita tentu saja ingin dipercaya oleh kekasihnya, dia ingin kamu menjelaskan kebingungannya tentang tuduhan Aldo itu tapi kamu hanya diam saja."
Steven terdiam sejenak setelah mengerti, namun dia percaya sikapnya saat ini adalah yang paling tepat.
"Belum saatnya dia tahu, Kamu juga tahu aku tidak mudah percaya begitu saja," Jawab Steven sebelum pergi dari sana.
__ADS_1
Keduanya tidak menyadari bahwa Clara berdiri di sebalik pintu kelas, ia masih bisa mendengar percakapan mereka. Tentu saja hatinya sakit saat mengetahui Steven belum mempercayainya. Dia merasa sangat sedih dan juga tidak berarti apapun meski sudah berstatus menjadi kekasih Steven. Pangeran sekolah yang memiliki banyak Fans. Sementara dia hanya siswa biasa yang tidak berpengaruh apapun. Dengan langkah lemahnya ia kembali ke kursinya. Menahan air matanya sekuat tenaga dan berusaha fokus pada bukunya lagi.