
Steven menatap Jun yang berdiri di depan meja kerjanya pagi ini. Wajahnya seperti biasa, tidak ada kesan kacau seperti tadi malam.
"Kenapa Pixu menginginkanmu, aku jadi sangat penasaran akan hal itu. Alasanmu bersamaku ... selain perasaanmu itu, aku yakin bukan lagi karena loyal denganku. Apa itu? apa ada hubungannya dengan pak tua itu?" taya Steven bertubi-tubi.
Jun diam saja, sepertinya dia tidak ingin bicara apapun mengenai hal ini. Steven melirik Billi yang berkutat dengan komputernya, ini hari minggu dan Steven memang tidak ke kantor. Namun seluruh pekerjaan tertunda ia bawa ke rumah. Termasuk Billi dan Renjun. Keduanya ikut lembur bersamanya.
"Ikut aku!"
Steven berjalan keluar, Jun hanya mengikutinya seperti patung berjalan. Renjun dan Billi yang melihat sikap aneh Jun saling bertukar pandang.
"Tuan Jun agak aneh sejak pulang dari kediaman Pixu itu. Sebenarnya apa hubungan tua Steven dengannya?" tanya Billi.
"Hah ... lanjutkan saja pekerjaan ini. Aku ingin segera tidur." sahut Renjun. Dia jelas kesal karena harus lembur disaat libur.
"Apa kerjaanmu hanya tidur dan bekerja?" ejek Billi, namun dengan nada dan wajah tampa dosa.
Renjun melayangkan delikan tajam padanya. Tangan dan mata mereka tidak berhenti bekerja. "Apa bedanya denganmu? Setidaknya aku masih bisa cuci mata di kantor sementara kamu hanya cuci mata dengan komputer, ponsel dan senjata-senjata. Cih!" balas Renjun.
.
Jun dan Steven sampai, di lantai paling atas mension itu. Lantai yang jarang dikunjungi oleh Steven. Sebenarnya tempat itu hanya seperti lapangan. Dimana jika dia tidak ingin keluar, dia bisa menggunakan tempat itu untuk lari pagi. Nyatanya jangankan untuk lari, sarapan saja terkadang dia balapan dengan waktu.
Steven menekan sebuah tombol, dimana seluruh atap membelah terbuka. Memperlihatkan langit cerah berawan. Angin pagi yang masih sejuk menyapa kulit mereka.
"Kenapa anda membawa saya kesini?"
"Ayo lomba lari." sahut Steven.
Jun menatap Steven dengan tatapan bingung, dia jelas-jelas melihat Steven memakai setelan kemeja. Sementara dia sendiri memakai kaus polos dilapisi semi jas diluar. Celana bahan dan memakai sendal rumahan. Lalu mereka akan lomba lari?
"Apa yang kamu tunggu, berdiri disebelahku."
Mau tidak mau Jun berjalan menghampirinya. Ikut memasang posisi siap berlari seperti yang Steven lakukan.
"Dalam hitungan dua, kita berlari dua putaran."
"Apa yang akan didapatkan pemenang, Tuan?"
Steven menoleh, begitupun dengan Jun. Keduanya beradu pandang dengan sorot tak terbaca.
"Aku akan mengabulkan satu keiinginanmu. Tapi jika kamu yang kalah, kamu harus melakukan sesuatu tampa bisa menolak."
"Cukup adil." celetuk Jun.
"Tentu, ayo mulai. Satu ... Dua!"
Keduanya mulai berlari. Meskipun Jun tidak tahu apa yang direncanakan Steven. Namun dia berusaha sekuat tenga untuk menang. Keduanya bukan pelari yang buruk. Apalagi mereka sering terlibat dalam kejar-kejaran dengan musuh dahulunya.
"Hah ... hah ... hah ...." Nafas keduanya memburu.
Terlentang di lantai dengan peluh membanjiri tubuh mereka. Dua putaran dengan luas bangunan mension tentu saja bukan hal yang mudah. Mereka bahkan memakan waktu 17 menit untuk menyelesaikan dua putaran.
"Anda menang, katakan keinginan anda." ujar Jun, mereka masih berada pada posisi berbaring.
"Biarkan aku bertanya satu hal." Jun menoleh padanya sesaat, namun meluruskan lagi kepalanya ke atas saat Steven tidak balik menatapnya. "Jika kamu yang menang, apa permintaanmu?"
"Jika saya yang menang? Mungkin saya akan meminta hal yang paling berharga bagi anda."
Steven mengeraskan rahangnya. Sangat tahu apa yang dimaksudkan oleh Jun. Hanya karena kalimat itu dia merasakan kecemburuan.
"Kalau begitu aku bersyukur menang darimu."
Jun tertawa pelan, "Kalaupun saya menang, saya tidak akan bisa mendapatkan keinginan itu. Bukan karena anda, namun dia tidak mungkin berpaling."
Steven duduk dan menatap Jun yang masih berbaring. "Jun ... tidak bisakah kamu membuang perasaanmu itu? Apa kamu yakin untuk tetap bertahan dengan itu di sisiku?"
Jun ikut duduk, menekuk kakinya, lalu membalas pandangan Steven. "Dia sudah tahu." kata Jun, bermaksud memberi tahu.
"Dia ... tahu? Siapa yang kamu..."
"Clara." potong Jun cepat, "Dia sudah menyadari perasaan saya Tuan, ini tidak akan sama lagi."
__ADS_1
"Lalu apa yang dia katakan padamu?"
Jun mengalihkan pandangannya, menatap langit yang kian berawan. Sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu. "Apa yang dikatakan Pixu pada anda? Apa dia mengajukan syarat? Itukan alasan anda membuat lomba konyol ini?"
"Jun ... kamu benar-benar keluar batasan. Tapi baiklah, kamu benar. Pixu menginginkanmu sebagai penerusnya, bagaimana menurutmu?"
Wajah Jun yang tadi biasa saja menegang sesaat. Lalu raut garis kemarahan muncul satu persatu di wajahnya. Dia berdiri dan menatap Steven dengam tajam.
"Itukah keinginan anda, tuan Steven?"
Steven tersenyum tampa arti. Dia ikut bangkit. "Aku tahu ada hubungan tak biasa antara kalian. Dulu aku mengabaikan itu karena bagiku tidak penting. Saat itu tidak menggangguku sama sekali. Namun saat ini aku benar-benar penasaran, Jun. Kamu ... siapa?" Jun tidak menjawab. "Aku jadi memikirkan keganjilan hubunganmu dengan Tim. Benarkah kalian kakak beradik kandung?"
Mereka masih berhadapan satu sama lain. Jun menghela nafas. Dia sadar cepat atau lambat rahasianya akan terbongkar. Apalagi Pixu kini mulai mengganggu mereka lagi. Pak tua itu sungguh pandai memanfaatkan situasi.
"Pixu ... dia adalah ayah biologisku. Tim hanya anak yang dibesarkan bersama denganku. Begitupun Roulet." jawab Jun, akhirnya jujur dan juga menghapus jarak antara atasan dan bawahan diantara mereka.
Steven belum berkomentar apapun. Dia memang sudah curiga sejak lama namun tidak mencari lebih jauh. Baginya, privasi Jun lebih layak dihormati karena pengabdiannya selama ini. Steven sama sekali tidak menaruh curiga karena dia bisa menilai dengan yakin bahwa Jun tak akan menghianatinya.
"Karena itu dia meminta hal itu? Pak tua itu benar-benar."
Jun cukup terkejut akan respon Steven yang tampak tenang.
"Lalu kenapa kamu pergi darinya dan memilih jadi bawahanku? Padahal tinggal disisi ayahmu akan membuatmu lebih berkuasa."
Jun tidak menjawab. Karena dia tahu Steven akan bisa menebaknya sendiri. "Jun ... kamu sungguh sesuatu." kata Steven. Menepuk pundak Jun sebelum meninggalkannya.
"Tuan ... anda belum mengatakan permintaan anda."
Keduanya sama-sama berbalik. Sekali lagi menatap satu sama lain.
"Tinggalkan aku dan kembali pada ayahmu untuk melepaskan sepenuhnya pengaruhnya dari perusahaan. Apa kamu sanggup?"
Jun menghembuskan nafas, dia tahu Pixu akan memberikan pilihan ini sejak ia menemuinya saat itu.
"Tenang saja, kamu bisa tetap tinggal jika kamu tidak ingin. Aku tahu kamu tidak ingin mengotori tanganmu lagi."
Steven benar-benar kembali turun. Menunggalkannya dengan segala pikiran yang berkecamuk. Bukan hanya Pixu, namun Clara yang membuat pikirannya gundah. Jun bingung bangaimana selanjutnya bersikap padanya.
.
"Clar ... mau ikut denganku?" tanyanya.
Clara mendongak, lalu menggeleng sebagai bentuk penolakan. Dia kembali bermain dengan anjingnya. Total abai dengan keberadaan Steven.
"Sayang, temani aku." pinta Steven setengah memohon.
Clara meliriknya, dia berusaha mengatur ekspresinya. Memasukkan anjing ke kandangnya lalu berdiri menuju westafel terdekat. Mencuci tangannya dan kembali menghampiri Steven.
"Ayo ke ruang kerjaku."
Clara memutar bola matanya. Sangat tahu dia hanya akan jadi patung penyemangat setelah ini. Menyaksikan Steven bekerja seperti robot.
Benar saja, perannya haya duduk di meja Steven. Tepat disamping tumpukan berkas dan laptop miliknya. Steven fokus pada pekerjaannya. Sesekali dia akan menghela mapas, lalu memeluk Clara sesaat sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Pelayan datang membawa troli berisi cemilan dan minuman segar. Clara melompat dari meja dan dengan semangat mengambil apa yang ia inginkan.
"Sayang, tidak berniat menyuapiku?" goda Steven dengan nada yang membuat Billi dan Renjun bergidik. Respon mereka tentu saja terkejut dan geli, mendengar tuan mereka yang selalu dingin dan ketus itu begitu manis.
"Suapi aku ... aku juga mau." pintanya lagi saat Clara tidak meresponnya.
Clara meliriknya dengan malas, dengan wajah tidak iklas dia menyodorkan satu anggur ke dalam mulut Steven.
"Tuan," Billi bangkit dan membawa ponselnya, memperlihatkan sesuatu pada Steven.
Clara mencondongkan diri, mengintip apa yang sedang di baca oleh Steven.
"Hanya satu orang yang mungkin memberi bocoran informasi ini." Jun muncul bersamaan dengan Steven yang bangkit dari kursinya. "Kebetulan Jun, ikut denganku. Kita harus menemui Alex. Billi kendalikan orang-orang di perusahaan yang memungkinkan berbicara banyak. Ren, hadapi wartawan itu sebisamu."
Steven sudah akan pergi sebelum tangannya di tahan oleh Clara. Dia melirik Jun sesaat sebelum meraih pena dan kertas. Menuliskan sesuatu disana.
'Apa ini yang kamu gunakan untuk membunuh saat itu?'
__ADS_1
Steven menatap Clara dan mengelus kepalanya setelah membacanya. "Tinggallah dirumah, jangan pergi kemanpun. Wartawan bisa menyerangmu dengan pertanyaan juga."
Setelah itu Steven meninggalkan Clara, keluar disusul Billi dan Renjun. "Oh ... waktu liburku." erang Renjun saat keluar.
Jun yang masih berdiri disana menatap Clara dengan wajah penasaran. Sangat ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Jika kamu membenci apa yang dilakukan Steven, kamu seharusnya menghentikannya. Aku harap kamu berhenti berpura-pura masih sakit dan hadapi kenyataan Clara. Steven tidak bertindak jika tampa alasan."
Clara menoleh, mata dan wajahnya kembali memerah. "Alasan apapun tidak seharusnya membunuh." Bisik Clara. Namun masih bisa didengar oleh Jun.
"Aku harap kamu memaklumi kami."
Jun ikut pergi, menyusul dengan cepat Steven dan yang lain ke bawah. Tinggallah Clara dengn segala perasaan dan pikirannya. Berperang antara kebenaran dan cinta. Meskipun ingin pergi, Clara tidak bisa pergi sendirian.
"Memaklumi pembunuhan? Apa mereka semua sudah gila!"
Clara benci dengan apa yang terjadi di hadapannya. Kekasihnya, orang yang ia cintai terlibat hal-hal kotor.
"Apa dunia memang sekotor ini diluar sana? Apa tidak ada lagi kebaikan?"
Hal yang tidak disadari Clara dan dilupakan oleh Jun. Bahwa ruangan itu memiliki CCTV.
.
Steven sedang berhadapan dengan Alex yang saat ini sedang berada di rumahnya. Pada awalnya, kedatangan mereka tidak mendapatkan sambutan, karena siapapun tahu bahwa keluarga keluarga Scott membuat permusuhan dengan Steven. Terutama sang anak tertua. Namun ketika keributan terjadi, Alex muncul dan mengatakan dua hal yang membuat keluarganya terdiam.
"Dia datang padaku, semuanya karena pekerjaanku dan Aston."
Jadi, disinilah mereka. Berada pada ruang tertutup milik Alex, ruang miliknya pribadi. Tomas yang melihat kedatangan Steven dan masuk bersama kakak tirinya, mencoba menghubungi Clara. Bertanya apa yang terjadi sebingga kakaknya berurusan dengan Steven.
"Apa yang kamu coba lakukan?" tanya Steven saat Alex hanya diam saja.
"Menjalankan rencana menghentikan kegilaan Aston. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, seseorang yang ingin aku selamatkan sudah sembuh karena obat dari penelitian mereka. Apa lagi? hal gila seperti itu harus di hentikan bukan?"
"Kamu bisa mati ditangannya, Alex. Berhenti sampai disini." suruh Steven dengan tegas.
"Berhenti? Kamu bergabung dengannya sekarang bukan? Aku yakin kematian tunanganmu bukan serangan jantung biasa. Kamu melakukan itu demi kekasihmu, benar? Balas dendam?" Tebak Alex dengan benar.
"Berhenti atau seluruh kekuargamu akan mati."
Itu bukan Steven, melainkan Jun yang berbicara dengan nada dingin yang mengancam. Alex menatapnya dengan remeh.
"Siapa kamu berani mengancamku?"
Jun menarik sudut bibirnya, "Bukan aku yang akan membunuhmu! Tapi Aston pasti akan melenyapkan seluruh keluargamu. Aku baru saja melihat minuman itu dibawa oleh adik tirimu."
Alex melangkah keluar, mencari Tomas yang memang sedang duduk di ruang tamu dengan botol minuman isotonik dan ponsel di tangnnya. Melihat itu, Alex melangkah mendekatinya dan meraih minuman itu dengan kasar. Melemparnya kesembarang arah dengan marah.
"Siapa! Siapa lagi yang meminum itu di rumah ini?" Bentaknya pada sang adik.
"Ada apa denganmu! Sialan!" maki Tomas ikut emosi.
Alex mencengkram baju Tomas dengan keras. Ibu dan ayah mereka datang. Melerai keduanya sebelum melempar tatapan menghina pada Alex.
"Anak tidak tahu diri! Apa yang coba kamu lakukan pada adikmu. Ingin mencelakainya?" tuduh ibu tirinya.
"Dora, bawa Tomas pergi." perintah sang ayah.
Steven dan Jun bertukar pandang. Mereka memutuskan untuk pergi. Namun sebelum pergi, Steven membisikkan sesuatu padanya.
"Konfirmasi secepatnya melaui akunmu. Kalau tidak, Aku tidak bisa menjamin keselamatan keluargamu. Kamu tahu Aston itu gila. Dia juga akan mudah menutupi segalanya setelah kamu mati." bisik Steven.
Alex meremas rambutnya dengan frustasi. Abai dengan ocehan ayahnya yang sedang menasehatinya. Yang ada di pikirannya adalah segera keluar dari penelitian terkutuk milik Aston. Dia tidak ingin terlibat lagi dalam melenyapkan nyawa orang lain.
Sementara itu, Aston yang mendapat pesan dari Steven menyeringai. Dia baru saja selesai bermain dengan Sindy saat membaca berita itu. Sehingga dia masih berbaring di atas kasur dengan Sindy dalam pelukannya, wanita itu tertidur dengan perut besarnya.
"Pilihan yang bagus nak, kamu akan menjadi rekanku yang paling berharga." gumamnya. Lalu dia mengelus pelan perus Sindy ketika melihat perut itu bergerak. Pertanda anaknya sedang aktif di dalam sana. Sorot matanya menjadi sangat lembut. Sangat berbeda dari yang biasanya.
"Apa aku harus menikahi ibumu? Bagaimana menurutmu, bayiku?" tanyanya lembut.
Lagi-lagi ia merasakan pergerakan, sehingga ia tersenyum lebar. Seolah sang bayi sangat menyukai ide ayahnya.
__ADS_1