
Clara menatap Steven yang sedang fokus dengan laptopnya. Bahkan ditengah laut dengan kapal yang bergoyang dia bisa sefokus itu. Clara duduk beberapa meter dengannya. Karena bosan, Clara meninggalkannya untuk pergi ke ruang kendali dimana Jun berada.
"Nona, apa yang anda lakukan disini?" tanya Jun, terkejut tiba-tiba Clara sudah ada di sampingnya.
"Seseorang yang mebawaku kesini malah fokus terus sama laptopnya, aku bosan." gerutu Clara.
Jun tertawa pelan, tidak heran karena Steven adalah pekerja keras. "Dia adalah pekerja keras Nona, apa lagi saat ini dia mendapatkan proyek besar. Kerja sama yang mungkin setelah berhasil akan menaikkan statusnya."
"Huh? Menaikkan status?"
"Ya, dalam tingkatan para pebisnis ada level hirarki. Hal-hal yang membuat mereka lebih dihargai dan ditakuti dari yang lain."
"Aku tidak mengerti." sahut Clara, nadanya acuh. Dia memang tidak begitu memahami dunia kalangan atas dan tidak pernah tertarik.
"Apa yang kamu lakukan disini? Asik dengannya?"
Keduanya menoleh, Steven dengan tangan terlipat didada berdiri bersandar di pintu masuk. Sejak Clara beranjak tadi Steven langsung kehilangan fokus, karena itu dia mengikutinya.
"Sejak kapan kamu ada disana?" tanya Clara.
"Sejak kalian membicarakanku?" sindirnya.
Clara memutar bola matanya lalu fokus lagi kedepan, mengabaikan Steven. Jelas pria sumbu pendek sepertinya langsung kesal. Dengan langkah panjang dia berdiri di antara Clara dan Jun. Membuat Clara tergeser beberapa senti.
"Apa bagusnya disini? ayo kembali dan temani aku diatas." ajak Steven.
"Pergilah, aku bosan melihat orang yang hanya sibuk dengan benda mati. Setidaknya disini aku merasa jadi manusia karena ada yang diajak bicara." tolak Clara dengan sarkas.
"Hooh, jadi kamu marah karena aku mengabaikanmu?" tanya Steven, membungkuk untuk mendekatkan wajahnya dengan Clara. Menggoda gadis itu yang reflek memundurkan kepalanya.
Tapi kapal tiba-tiba terguncang keras karena ombak yang cukup tinggi. Membuat Clara kehilangan keseimbangan dan dengan cepat Steven menariknya kedalam pelukannya. Sementara satu tangannya menahan tubuh mereka yang jatuh tertelungkup.
"Tuan dan Nona tidak apa-apa?" tanya Jun ketika kapal kembali stabil. "Maaf untuk ombak yang datang tiba-tiba." lanjutnya. Melirik mereka dengan wajah canggung dan ekspresi yang sulit diartikan.
Sementara Clara melepaskan diri dengan wajah terkejut sekaligus malu. Ia berdiri dan mencari pegangan agar selanjutnya tidak jatuh lagi. Steven sendiri ikut berdiri di sampingnya seperti tadi.
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Clara.
"Di depan, lihat? tujuan kita sudah terlihat." jawab Steven.
Clara menganga saat kapal mereka semakin dekat dan dekat lagi. Sebuah pulau yang terlihat tidak berpenghuni dari jauh ternyata sudah dilengkapi dengan berbagai arena permainan air. Ada beberapa Vila yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat estetik. Menyatu dengan alam dan jika dinilai dengan satu kalimat. Clara mengatakan pulau ini sangat mewah dan indah. Beberapa orang terlihat sedang berjalan santai di pinggir pantai dan ada yang berjemur. Tidak terlalu ramai, hanya beberapa pasangan dan satu keluarga.
Ketika mereka turun, seseorang segera menyambut mereka dan mengantarkan mereka pada sebuah penginapan. Tiga orang yang dibawa Steven dengan mereka selain Jun dan Carlos mengangkat dua koper dan menaruhnya dalam kamar terpisah.
"Kenapa ada koper?" tanya Clara dengan nada curiga saat mereka melihat isi kamar.
"Ini kamarmu, Itu koper berisi pakaianmu." jawab Steven santai.
Clara mengalihkan pandangannya pada Steven dengan tidak santai. "Kita menginap? katamu besok aku konsultasi."
"Tentu, itu tidak boleh dilewatkan. Jadi dokter Frans akan kesini menyusul besok pagi."
"Kamu tidak bisa seenaknya menyuruh dokter Frans."
"Kenapa tidak? dia tudak protes. Lagi pula aku sudah bayar mahal. Kalau dia tidak mau tinggal ganti dokter lain." jawab Steven dengan sangat lancar. Membuat Clara menggerutu dalam hati.
"Sepertinya sangat mudah dengan uang ya? kita bisa memerintah siapapun sesuka hati." kata Clara dengan nada sindiran yang sangat jelas.
"Tidak semua bisa dengan uang. Otak jenius lebih berguna dari uang Clara. Begitu juga dengan cinta, lihat kan? kamu tetap menolak aku walaupun aku punya banyak uang."
Suasana langsung berubah hening. Sangat canggung sekali sehingga Clara berdehem pelan. Steven meliriknya, lalu menghembuskan nafas pelan. Memutar tubuhnya menghadap Clara dan memegang sebelah pipinya.
"Kapan hatimu akan kembali untukku?" tanya Steven pelan sekali.
'Hatiku tidak pernah pergi Steve.' jawab Clara dalam hati. Namun ia tidak ingin mengatakannya. Ada ketakutan besar yang membuatnya memilih diam.
"Apa selama kita berpisah sampai saat ini kamu pernah suka sama orang lain?"
__ADS_1
Clara mendongak, lalu menggeleng pelan. "Tidak, tapi akhir-akhir ini aku sedang memikirkan seseorang." jawab Clara dengan nada ambigu. Kening Steven mengerut sesaat.
"Siapa?" tanya Steven, suaranya nyaris tercekat karena ketakutannya sendiri. Bahkan otak jeniusnya tidak berfungsi.
'Kamu' lagi-lagi Clara menjawabnya dalam hati. 'Aku memikirkanmu yang mungkin akan bosan dan pergi setelah kamu mendapatkan aku Steve.'
Clara mundur dan berbalik. Berjalan keluar kamar meninggalkan Steven yang terpaku ditempatnya.
Sesampainya diluar, Clara terkejut dengan kehadiran Jun didepan pintu. Entah sejak kapan dia berdiri disana. Memandangnya dengan sorot sendu yang menyakitkan.
"Jun...ada apa?" tanya Clara bingung. Tidak biasanya ekspresi Jun seperti itu.
"Penanggung jawab tempat ini memberi tahu bahwa tempat yang dipesan tuan sudah disiapkan. Anda bisa pergi duluan dengan Carlos, saya akan berbicara sesuatu dengan tuan, Nona."
"Huh? Oh ... bicara apa?"
"Tentang perusahaan." jawab Jun singkat, lalu melewatinya untuk masuk kedalam. Tentu saja ia berbohong. Jun hanya menduga sesuatu akan terjadi sehingga ia menyuruh Clara pergi duluan.
Clara menatap Carlos yang juga tampak canggung. Dia mempersilahkan Clara mengikutinya.
"Tuan?" sapa Jun. "Tempat yang anda sewa sudah disiapkan."
"Batalkan," kata Steven. Dia masih berdiri ditempatnya tadi.
"Tapi Nona sudah dibawa Carlos kesana..."
"Bawa dia kembali." potong Steven dingin.
Steven berbalik, menatap Jun dengan sorot yang mengerikan. Mata tajam itu memancarkan aura kelam yang luar biasa. Bahkan Jun yang biasa menghadapinya sampai merasakan getaran takut disetiap sendinya. Namun dia berhasil mengatasinya dan tetap menunjukkan wajah tenangnya.
"Tuan...? apa yang terjadi?" tanya Jun was was. Mata tajam itu tak berkedip menatapnya.
"Apa kamu yang mengambilnya dariku? Orang yang dikatakannya...itu kamu?" tanya Steven dengan suara rendah yang tajam.
"Apa...apa maksud anda, Tuan?" Jun bahkan tidak mengerti mengapa Steven malah salah paham padanya. Ya, dia memang mendengar percakapan mereka tadi. Tapi dalam penilaiannya, Clara hanya menghindari perasaannya. Sehingga ia tidak menjawab siapa yang ia maksud.
Steven maju dan mencengkram kerah kemeja Jun dengan kuat. Lalu dengan penuh kemarahan menghempaskan tubuh Jun hingga membentur sisi tempat tidur.
Pengawal yang tadi diluar melihat Jun yang dipukul mundur dengan takut. Tidak mengerti kenapa tuannya marah sehingga salah satu dari mereka berlari menyusul Carlos dan Clara. Tahu tuannya hanya bisa dihentikan oleh Clara karena mereka tidak ingin Jun mati. Siapapun dalam perusahaan tahu seperti apa hubungan keduanya. Jun adalah orang yang paling dipercaya Steven selain Yuno.
.
Clara bingung kenapa Carlos membawanya pada sebuah danau dibawah air terjun yang tidak terlalu tinggi. Sebuah tempat bersantai yang terlihat sangat nyaman. Ada perlengkapan baju renang juga. Sekeliling danau banyak ditanami bunga yang indah.
Clara menghirup udara yang terasa sangat sejuk dan segar. Pepohonan dipulau itu masih sangat terjaga. Juga ekosistem yang dilestarikan dengan baik.
"Tempat ini indah dan bersih. Carlos, apa yang__"
Keduanya menoleh pada seseorang yang baru saja sampai setelah berlari. Dengan nafas memburu ia menghampiri Clara dan Carlos.
"Nona...tuan Steven sedang memukul tuan Jun. Saya kawatir..." belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Clara berlari dengan kencang mengikuti jalan yang tadi ia lewati kembali ke penginapan.
Jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga dalam beberapa menit berlari Clara sudah sampai. Menerobos dua pengawal yang berdiri di ambang pintu.
"BERHENTI!" teriak Clara sekuat tenaga. Matanya menatap Steven tajam setelah pria itu berbalik.
Steven menyeringai dan mengangkat tangan yang lebam dan terdapat noda darah, ingin menyentuh pipi gadis itu. Tapi Clara segera menghindar dengan mundur kebelakang. Dia mulai menangis.
"Ke...kenapa kamu memukul Jun?" isaknya. Lalu berlalu menghampiri Jun yang babak belur. Membantu Jun untuk duduk.
Steven berbalik, menatap Clara yang menangisi keadaan bawahannya itu. Wajahnya mengeras namun sorot matanya terlihat sangat sedih. Steven mengepalkan tangannya, merasakan ribuan jarum tak kasat mata menusuk hatinya, amarahnya kian besar nyaris menggelegak saat gadis yang ia cintai menagisi pria lain dihadapannya.
Ia berbalik lalu pergi. Memerintahkan siapapun untuk jangan mengikutinya. Maka, keadaan di dalam rumah itu menjadi sangat hening. Hanya suara isak Clara yang perlahan berhenti. Seorang pengawal membawakan kotak obat. Memberikannya pada Carlos namun Clara yang mengambil alih. Carlos dan seorang pengawal lain memapah Jun keluar menuju kamarnya sendiri.
Jun sudah pingsan. Sepertinya pukulan Steven tidak main-main sehingga seorang sekelas Jun pingsan menerima pukulannya. Jun memang tak menangkis atau melawan. Karena Jun tahu, jika ia melawan maka keadaan akan semakin tidak terkendali. Sayangnya ia tidak tahu, bahwa keputusannya menerima pukulan dari Steven malah membuat Steven berfikir kalau apa yang ia tuduhkan dibenarkan oleh Jun.
"Nona, biar saya yang obati. Saya sudah biasa menghadapi luka seperti ini." pinta Carlos melihat tangan Clara yang bergetar saat membersihkan wajah Jun.
__ADS_1
"Istirahatlah dikamar anda Nona." kata Carlos lagi. Tapi Clara menggeleng.
"Apa Jun akan baik-baik aja?" tanyanya.
Carlos menatapnya, "Nona...anda tidak kawatir pada tuan?" tanya Carlos. Entah kenapa suaranya terdengar sedikit marah. Clara tidak mengerti, karena itu ia hanya diam.
"Nona...tuan Steven juga terluka." katanya lagi. Melihat Clara yang tidak juga mengerti, ia menghela nafas dan melanjutkan mengobati Jun.
"Tuan Steven pasti punya alasan kenapa ia memukul Jun. Ini pertama kalinya saya melihatnya semarah itu." kata Carlos lagi. "Saya mohon anda cari tuan Steven dan obati tangannya. Pengawal akan menemani anda." pinta Carlos.
Clara terlihat ragu, Carlos mengerti akan trauma Clara. Ia juga tidak tega, namun jika Clara tetap disisi Jun saat ini, hanya akan menimbulkan kesalahpahaman yang semakin besar.
Clara tidak tahu mencari Steven dimana. Hari sudah sore dan dia tidak tahu mengenai pulau ini. Dari arah kirinya, seseorang menghampirinya. Dia mengaku salah satu penjaga pulau dan ingin membantu karena Clara tampak bingung.
"Kami mencari tuan Steven, apa anda melihatnya?"
Clara menoleh kekanan, dimana pengawal yang mengikutinya sudah berdiri disampingnya.
"Maaf, tapi saya tidak melihat. Apa tuan Steven hilang?"
"Tidak, Nona kami hanya perlu bicara dengannya. Terima kasih." Penjaga itu tersenyum dan mengangguk sebelum meninggalkan mereka. "Ayo Nona," ajak pengawal itu, lalu berjalan disisinya namun dalam jarak 2 meter.
Clara lelah, sepanjang jalan hutan, tepi pantai bahkan tempat yang ditunjukkan Carlos, Steven tidak terlihat. Akhirnya Clara berhenti di tepi pantai, duduk disalah satu kursi santai. Memperhatikan beberapa pasangan yang saling bergandengan. Mereka sepertinya ingin menikmati sore kala matahari terbenam.
Seseorang menempelkan botol air yang terasa dingin di pipinya. Clara terlonjak kaget dan mendongak. Melihat tubuh menjulang yang diterpa sinar matahati sore. Kemeja yang acak-acakan dan rambut yang terbang tertiup angin. Steven tampak sangat mempesona meski dengan wajah dinginnya.
Clara mengambil botol itu dalam diam. Dia memang haus dan dia sama sekali tidak memegang uang. Selama ini dia selalu dirumah atau keluar dengan Jun. Dia tidak memegang uang dolar sepeserpun saat dengan tiba-tiba Steven membawanya. Dalam perjalanan mencari Steven tadilah ia baru memikirkan betapa bodohnya dia sewaktu memaksa ingin kembali. Kalau saat itu Steven membiarkannya pergi, dengan apa dia akan pergi? dia tidak punya uang. Tapi Clara saat itu diliputi ketakutan, karena itu saat ini dia merasa bodoh sekali.
"Kenapa hanya menatap botol itu? apa ada sesuatu disana?"
Clara menoleh, Steven masih berdiri. Karena disana memang hanya ada satu kursi. Melirik tangan yang masih terdapat darah kering disana. Buku jarinya juga lebam dan luka.
"Tanganmu..."
"Kenapa disini? Junmu sedang sekarat kan? aku memukulnya sekuat tenaga." kata Steven datar. Dia tidak menoleh, hanya menatap lautan dengan wajah dinginnya.
"Kamu dari tadi kemana? aku mencarimu." tanya Clara, mengabaikan ucapan Steven barusan. Akhirnya pria itu menunduk untuk menatapnya. Clara bangun dan berdiri dihadapannya. " Kenapa kamu pukul Jun? dia tidak salah apapun."
Steven tertawa sinis. Menatap Clara dengan sorot dingin. "Aku menyuruhnya untuk menjagamu, bukan merebutmu." Jawabannya sarat akan amarah.
"Merebut apa? Aku menganggapnya hanya teman! apa maksudmu merebut?" Clara menghela nafas. Dia mengerti sekarang, lalu dengan wajah galak meraih pergelangan tangan Steven dan menyeretnya pergi.
"Sumbu pendek bodoh! percuma dikasih otak jenius tapi tidak dipakai!" gerutunya sambil terus menyeret Steven dengan susah payah. Steven sendiri merasa linglung. Dia belum menemukan jawaban dari kebingungannya. Kata 'hanya teman' berputar dalam benaknya. Bertanya-tanya siapa pria yang dimaksud oleh Clara.
Sesampainya dipenginapan, Clara memaksa Steven duduk diruang tamu. Mengambil kotak P3K yang segera disodorkan Carlos yang tadi langsung keluar begitu mereka sampai.
"Berikan tanganmu!" kata Clara, masih dalam mode galak dan terus menggerutu pelan. Terus menerus mengatakan kata 'bodoh' dan 'sumbu pendek'. Bahkan Carlos dan pengawal lain tampak ngeri melihatnya. Takut-takut Steven akan marah besar.
Setelah selesai mengobati tangannya, Clara kembali menatap Steven dengan galak. "Minta maaf pada Jun!" suruhnya.
"Tidak akan."
"Minta maaf Steve...kamu salah paham sama dia...!"
Steven mengangkat tangannya memberi kode untuk keluar kepada semua pengawalnya. Setelah pintu utama tertutup, Dia melipat tangan di dada dan menatap Clara datar.
"Kalau bukan Jun, lalu siapa?" tanyanya.
Clara tentu saja tidak akan mengaku. Steven tertawa sinis lagi. "Lihat! kamu tidak bisa menyebutkan nama lain, kan? Kamu bilang salah paham karena mau melindungi dia." lanjutnya.
"Bukan begitu! Karena memang bukan Jun!" jawab Clara frustasi.
"Lalu sebutin satu nama maka aku akan minta maaf padanya!"
"Itu...dia..." Clara tidak bisa menjawab. Kalau dia mengaku dan mereka kembali menjalin hubungan. Clara tidak bisa membayangkan kalau nanti dia hanya akan kecewa. Dia tidak mau kalau hanya jadi salah satu pajangan Steven. Dia masih sangat terpengaruh akan perkataan Aston direstoran. Belum lagi Clara melihat betapa mudahnya dunia Steven memandang hubungan antara wanita dan pria dekat hanya untuk saling bersenang-senang.
"Bukan Jun! kalau kamu tidak mau minta maaf setidaknya jangan pukul dia lagi. Terserah kamu percaya atau tidak! yang pasti bukan Jun!" kata Clara.
__ADS_1
Gadis itu berdiri dan berlalu meninggalkannya. Steven menatap kedua tangannya yang sudah diobati. Merutuki otak jeniusnya yang tidak bekerja disaat seperti ini.
'Aku pikir Sam sangat berguna jika ada disini.' katanya dalam hati. Terus bertanya-tanya tentang siapa pria yang dimaksud oleh Clara.