SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
34


__ADS_3

Clara duduk di perpustakaan, membaca buku adalah kegiatan dan hobi barunya setelah tidak lagi menjadi pengurus OSIS. Aldo sering membujuknya untuk kembali tapi ia menolak. Bukan karena tidak ingin, tapi dia ingat Steven tidak menyukainya. Sejak putus, Clara hanya melakukan hal-hal yang dulu dibolehkan olehnya. Bahkan saat Aldo berusaha mendekati dan mengajaknya melakukan sesuatu bersama, dengan reflek ia akan teringat mantannya itu dan langsung menolak.


Clara terkadang merutuki diri sendiri yang seperti itu. Dia yang mengambil keputusan tapi dia sendiri yang merasa menyesal. Dia takut pada Steven, tapi kebencian yang dulu sempat hadir karena Steven menjadi alasan penyebab ayahnya mendapat serangan jantung, kini lenyap begitu saja.


Ayahnya memintanya untuk menjauhi Steven karena mengira Clara jadi gadis liar karena pengaruhnya. Steven besar di s


Singapura dan kultur mereka berbeda jauh dengan Indonesia. Steven memperlakukan Clara seperti milik sahnya, sehingga ayahnya yang pada awalnya menyukai Steven berpaling membencinya. Selain itu, pengaruh dari ibu dan saudara tirinya membuat Clara berada pada posisi yang lebih sulit.


Memutuskan kembali, Clara beranjak dari perpustakaan. Di tengah perjalanan Clara berhenti sejenak, di ujung koridor menuju kelasnya, ia melihat Jaka yang berjalan berlawanan arah dengannya. Clara menggeser langkahnya kepinggir sebelum melanjutkan langkahnya. Reflek menjauhi anak yang pernah menculiknya itu.


"Apa kabar?"


Keduanya sama-sama terhenti saat berpapasan. Berbalik arah menghadap satu sama lain dalam jarak tiga langkah. Jaka tersenyum ramah, senyum yang terlihat lebih menakutkan dari senyum yang ia tampilkan ketika dirinya diculik. Seperti ada sorot jahat yang menghiasi setiap tatapannya.


"Baik, lebih baik lagi jangan ajak aku bicara." jawab Clara tegas.


Jaka tidak menjawab, dia hanya semakin melebarkan senyumnya. Senyum yang berbeda dan tak biasa seperti kebanyakan orang. Clara yang semakin gelisah memilih pergi. Menghindari anak itu jauh lebih baik dari pada menghadapinya. Clara tidak tahu ada apa didalam otaknya.


Dari arah lain, nama Clara dipanggil. Clara menoleh dan mendapati guru konseling mereka berdiri tidak jauh dari koridor. Berdiri dibawah pohon kecil dekat tiang. Clara berhenti, mengernyit kebingungan akan keperluan sang guru.


"Bisa kita bicara diruanganku?" tanya pak Teguh saat sudah berada dihadapannya.


Clara mengangguk, lalu mengikuti pak Teguh yang duluan melangkah. Meninggalkan koridor yang hanya berisi mereka berdua. Anak lain sudah masuk ke dalam kelas masing-masing.


Sesampainya di dalam ruang konseling, Clara dipersilahkan duduk. Mereka hanya dibatasi meja panjang. Pak Teguh memberikan ia sebuah berkas yang berisi biodata Jaka. Menghadirkan sorot penuh tanya diwajah cantik itu.


"Kenapa anda memberikan saya ini?"


"Steven benar, kemungkinan besar anak itu adalah psikopat. Aku sudah mendengar cerita dari Rafael tentang apa yang dilakukannya padamu. Saat aku menyelidiki anak ini, aku memang juga dibantu oleh Rafael. Masalahnya Clara, dari semua sikapnya. Mengamatimu diam-diam bahkan sesudah penculikan bukan hal yang wajar. Dia seperti menempatkanmu pada obsesinya." Pak teguh ternyata melakukan saran Steven untuk menyelidiki Jaka. Setiap hari ia mengamati Jaka dan cara ia berinteraksi dengan orang lain, cara menatap dan cara ia mengatasi amarah saat ia diganggu murid lain. Bahkan pak Teguh memeriksa CCTV.


"Ap...apa maksud anda?" Clara jelas ketakutan.


"Obsesi seorang psikopat tidak jauh dari penyiksaan dan kemungkinan terburuk adalah pembunuhan. Aku belum menemukan riwayat ia terlibat kriminal. Bisa jadi kamu akan jadi korban pertama yang berharga baginya, tapi mudah-mudahan aku salah."


Clara bangkit berdiri secara tiba-tiba. Segera keluar tampa permisi. Tidak ingin peduli pada apa yang dikatakan oleh gurunya tapi tingkah Jaka barusan membuatnya semakin takut. Kata pembunuhan berputar-putar dikepalanya.


Clara melihat dikejauhan Sam yang sepertinya baru kembali dari kamar mandi. Clara melangkah cepat ingin menghampirinya untuk meminta bantuan, namun tiba-tiba saja ia dihantam oleh kenyataan. Bahwa Sam mungkin saja membencinya setelah keputusan yang ia ambil. Sam sahabat Steven, sudah pasti dia tahu mengenai kandasnya hubungan mereka. Karena itulah ketiga orang itu kelihatan acuh saat melihatnya. Bahkan tidak bereaksi apapun saat Aldo jelas-jelas mendekatinya setiap waktu.


"Clara? sudah selesai konselingnya?"


Clara tersentak saat bahunya disentuh, pelakunya adalah Sinta. Rekan OSIS dulu.


"Kamu juga baru masuk?"


"Hmm! aku ada rapat OSIS. Tadi berpapasan dengan pak Teguh yang mencarimu. Katanya ada janji konseling."


Clara hanya mengangguk saja. Tidak ingin memperpanjang cerita.


"Kamu ada masalah ya?" tanya Sinta kawatir.


Clara segera menggeleng, "Aku baik-baik saja, Aku cuma bingung bakat aku dimana makannya konsul," Clara mengakhiri alasannya dengan kekehan ringan. Sinta tentu tak langsung percaya karena Clara pernah cerita ingin jadi pemandu wisata. Dia hanya tidak ingin bertanya lebih. Menghargai keinginan temannya itu.


Sepulang sekolah, Sam, Teddy dan Bobby langsung menuju restoran. Ingin makan sebelum pulang sambil berdiskusi. Apartemen bukan tempat yang aman dan nyaman saat ini karena adanya Luna.


"Menurut kalian Steven kemana?" Sam memulai sambil menunggu makanan datang.


"Jun dan si Arnold itu juga tidak terlihat," tambah Ted.


"Yuno pasti tahu sesuatu, tanya dia aja nanti." Bobby sedang memainkan game di ponselnya. Mereka tidak tahu saja bahwa Yuno juga bersama Steven saat ini.


"Aku merasa Steven selalu punya rahasia sendirian, dia tidak mau berbagi kesulitan dengan kita."


Sam dan Ted menatap Bobby yang masih menunduk menatap layar ponselnya.


"Jangan berpikiran seperti itu. Banyak kemajuan darinya sejak dis disini. Dia memberitahu kita hal besar bahkan mau membawa kita kerumahnya. Dulu saat dia ada urusan sama Arnold dia selalu meninggalkan kita, tidak pernah mau cerita apa yang dilakukannya dengan Arnold." bela Sam tegas.

__ADS_1


Teddy mengangguk membenarkan. Bob menatap mereka sekilas sebelum kembali menatap ponsel. Ikut mengangguk juga.


"Aku pikir dia hanya mau menjauhkan kita dari masalah. Steven selalu begitu bukan? dia memperlakukan kita seperti adik-adiknya. Tidak boleh banyak tahu dan dia yang selalu pasang badan saat kita ada masalah. Setiap aku membuat dia susah disekolah dulu...aku selalu merasa bersalah."


"Lalu kenapa kamu mengulangnya terus dulu!" Sam menggeplak kepala Teddy dengan gemas. Dari mereka semua Teddy memang biang onar nomor satu.


Mereka tertawa kecil, sesungguhnya mereka hanya merindukan Steven berkumpul dengan mereka. Tapi dia selalu sibuk karena perusahaannya.


"Masa kecil Steven sudah menyedihkan karena perceraian orang tuanya. Anak tunggal dan dia merintis bisnis dari belia. Aku yakin dia memulainya dari junior high school. Perusahaannya berkembang dengan pesat secepat itu ... dia benar-benar mengorbankan masa remajanya untuk membangun masa depannya."


"Aku jadi rindu mommy dan daddy," lirih Sam setelah mendengarkan Bobby.


"Aku juga," sahut Teddy.


Bobby terkekeh pelan, dia juga tentu merindukan orang tua mereka. Hanya saja dia tidak sedekat Ted dan Sam kepada orang tuanya. Orang tua Bobby cenderung cuek dan lebih mengutamakan pekerjaan. Meskipun ia anak terakhir, dia tidak diperlakukan spesial.


Setelah makanan datang, pembicaraan terhenti begitu saja. Mereka lebih banyak menikmati makanan meskipun sesekali bicara.


Sementara itu, Steven baru saja menginjakkan kakinya di depan lobi sebuah restoran mewah di Amerika. Mereka memang memiliki janji temu siang ini dengan CEO perusahaan yang akan diajak bekerja sama.


Saat mereka bertemu tidak ada raut gugup sama sekali meskipun Steven masih berusia belasan tahun. Orang yang mereka temui adalah orang yang memiliki kerajaan bisnis diseluruh dunia. Namanya masuk kedalam 5 besar orang terkaya di seluruh dunia saat ini.


Bagaimana Steven berhasil mengajaknya bertemu ditengah kesibukannya? hal itu yang dipertanyakan semua orang termasuk Steven sendiri. Karena ini seperti jekpot baginya. Steven hanya mengirimkan penawaran kepada perusahaannya. Berkas itu bahkan dikirim melalui e-mail karena Steven masih berada di Indonesia.


"Sungguh kejutan bagi saya, anda mau menemui saya Tuan." kata Steven sopan dalam bahasa inggris.


"Tidak ada kejutan dalam bisnis, Steven. Semua dinilai dari peluang yang menghasilkan uang."


Steven tersenyum mendengar penuturan pria di hadapannya. Steven bahkan tidak akan heran bahwa identitasnya sudah dikantongi olehnya. Pria ini, dipanggil Aston. Berumur 43 tahun. Terkenal dengan kepribadiannya yang unik. Dia cukup nyentrik dalam mengambil keputusan dan tidak segan menjatuhkan lawan didepan umum. Dia bukan tipe yang menjaga wibawa dan nama baiknya. Tidak peduli apa penilaian orang, dia berbuat semaunya.


"Ini wine terbaik disini, tapi sepertinya kamu anak baik yang menjauhi minuman beralkohol. Apa kamu tidak pernah minum?"


Steven melirik Wine itu lalu mengangguk tampa beban, dia tidak menyangkal. Dia hanya diam saat Aston meminumnya tampa sisa.


"Aku dengar sejak SD kamu menolak melakukan tes IQ. Aku boleh tahu alasanmu?"


"Tuan, saya tidak pernah membicarakan hal pribadi saat berbisnis. Tapi jika anda sangat ingin tahu...apakah ada pertukarannya?"


Aston tersenyum melihat keberanian Steven. Dia menjentikkan jarinya dan sekretarisnya meletakkan sebuah berkas didepan Steven.


Steven membacanya tampa menyentuh kertas itu. Cukup terkejut namun tidak menunjukkan ekspresi apapun. Membuat Aston tampak semakin tertarik.


Itu adalah sebuah perjanjian kerja sama yang sudah ditanda tangani oleh Aston sendiri. Steven tidak ingin gegabah, dia tahu kerja sama tidak masalah bagi Aston asal dia mendapatkan hal yang benar-benar ia inginkan. Itu adalah dirinya.


"Anda tertarik dengan isi kepala saya, tuan Aston?" tanya Steven datar, "Apa yang ingin anda tahu?" lanjutnya. Mengabaikan surat perjanjian didepannya. Aston tidak terkejut saat Steven tahu dengan cepat apa tujuan utamanya. Dia sudah memiliki keyakinan seperti itu


"Kamu benar-benar berlian langka. Aku sudah banyak melihat dan menemui berbagai manusia dengan kecerdasan tinggi. Bahkan yang tercatat dengan IQ tertinggi saat ini."


"Anda menjadikan mereka bahan penelitian atau apa?" tanya Steven lugas.


"Baiklah, aku akan memberitahumu pada pertemuan kita selanjutnya. Kamu bisa memegang perjanjian itu dan memutuskannya saat pertemuan berikutnya ditempat yang sudah aku siapkan."


Aston bangkit dan meninggalkan Steven begitu saja. Yuno yang sejak tadi berdiri di belakangnya segera duduk di sampingnya. Membaca surat perjanjian dan menatap Steven yang kelihatan kesal.


"Tuan..."


"Aku tidak tahu apa tujuannya menginginkanku, tapi ada satu hal yang membuatku seperti melihat diriku sendiri padanya."


"Bukankah sudah jelas, Tuan. Dia ingin anda sebagai bahan eksperimen. Surat perjanjian ini hanya pancingan. Dia bisa memberikan uang tapi setelah anda dalam genggamannya dia akan mengambil lebih banyak."


Steven diam, dia tidak merasakan seperti itu. Bukan hal seperti itu yang diinginkan Aston. Steven seperti mengenal kepribadian dan cara berfikirnya. Aston memiliki ambisi tapi bukan seperti yang dikatakan Yuno.


"Ayo kembali ke rumah, kita hanya perlu menunggu sampai malam. Dia akan mengirim tempat pertemuan selanjutnya."


"Anda yakin? anda tidak kawatir?" tanya Yuno. Ikut bangkit dan mengikuti Steven keluar dari ruang privat di restoran itu.

__ADS_1


Steven tidak menjawab. Dia hanya diam dan larut dalam pikirannya. Bahkan sampai kerumah, Steven hanya diam dan terus masuk kedalam kamarnya. Dirumah itu hanya ada dia dan beberapa pengawal yang ia bawa. Tidak ada pelayan karena Steven tidak menetap disana.


Baru saja ia memasuki kamarnya, Steven mendapatkan panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal. Nomor pribadi yang menunjukkan dari negara Amerika.


"Halo,"


"Aku akan mengutus seseorang menjemputmu besok pagi. Kita akan bertemu di salah satu tempat kesukaanku."


"Saya merasa terhormat anda menghubungi secara langsung dengan nomor pribadi anda, tuan Aston," jawab Steven.


"Kita akan sering melakukannya dimasa depan, jangan sungkan."


Sambungan diputus sepihak. Steven merasakan gejolak aneh setiap kali berbicara dengannya. Seperti kita menemukan sosok yang pas untuk bermain. Tidak ada rasa canggung dan takut. Dia hanya merasa sudah memahami seorang teman lama. Karena itu ia menambah kewaspadaannya.


Ditempat lain, dinegara yang sedang ditinggalkannya. Clara sedang tidak baik-baik saja saat mengetahui bahwa ayahnya kambuh lagi. Penyebabnya adalah Ibu tirinya yang mengajukan gugatan cerai pada ayahnya kemarin.


Hal itu dipicu oleh keputusan sang ayah yang menggadaikan rumah mereka demi membayar uang pada Steven. Ayahnya tidak mampu bekerja lagi saat ini dan penghasilan mereka satu-satunya saat ini hanya dari toko kecil-kecilan yang selama ini dikelola oleh ibu tirinya.


Terjadi pertengkaran dan ibunya menunjukkan sifat aslinya. Mengatai ayahnya karena tidak mau memanfaatkan anaknya untuk mendapatkan uang dari orang kaya. Ibunya berfikiran bahwa Steven tidak akan segan-segan memberikan mereka uang untuk membangun usaha yang lebih besar. Tapi ayahnya dengan segala harga dirinya, tidak akan menjual putrinya sendiri untuk uang.


Clara menangis, ayahnya tidak ingin kerumah sakit. Mereka hanya tinggal berdua. Ayahnya tidak memiliki saudara yang dekat, semuanya berada di luar daerah dan mereka tidak cukup dekat satu sama lain dalam hubungan keluarga. Clara bingung, dia hanya bisa menangis di samping ayahnya.


Dua orang saling pandang didalam sebuah mobil dibawah pohon didepan rumah Clara. Mobil itu selalu berada disana disaat-saat tertentu tampa disadari siapapun. Itu adalah orang-orang Steven. Memantau keadaan Clara dan melindunginya dari jauh. Mereka bahkan menyadap setiap pembicaraan didalam rumah itu untuk mendapatkan semua informasi.


"Kita harus laporkan ini ke bang Willi dulu atau langsung tuan besar?" tanya salah satu diantara mereka.


"Kita kasih tahu bang Will aja, aku nggak berani telepon saat tuan lagi di Amerika. Bang Willi udah kasih perintah jangan ganggu tuan kalau nggak penting."


"Tapi Jun memberi tahuku bahwa Clara adalah hal penting bagi Tuan."


Mereka ini masih remaja yang putus sekolah tapi memiliki kecerdasan diatas rata-rata dalam bidang komputer. Mereka berasal dari SMK yang sama. Di DO karena melakukan kenakalan diluar batas.


Akhirnya mereka memutuskan mengirim segala informasi pada Willi saja. Setelah itu Willi yang meneruskan kepada Steven melalui pesan chat.


Steven yang mengetahui hal itu mengumpat keras. Dia segera menghubungi Sam dan memerintahkannya untuk menemui Clara dirumahnya.


Karena itu, saat ini Clara sedang bingung dengan kedatangan tiga orang teman Steven yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya.


"Kenapa kalian ada disini?" tanya Clara.


Mereka bisa melihat mata dan wajah sembab Clara. Sepertinya dia masih menagis sebelum membukakan pintu.


"Bawa ayahmu sekarang sebelum terlambat, kenapa nggak nelfon kami sih!" kata Sam dan masuk tampa permisi.


Yang lain menyusul Sam dan mendapati ayah Clara yang terbaring dengan lemah dan memegang dadanya. Mereka bersama-sama membopongnya ke mobil. Clara yang bingung hanya mengikuti mereka dengan pakaian rumah yang seadanya. Hari sudah mulai larut dan udara semakin dingin. Sam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di UGD, para dokter dan perawat berusaha melakukan pertolongan pertama. Memasang alat pernapasan dan tindakan medis yang diperkukan. Ayah Clara sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri saat sampai dirumah sakit.


Clara tidak berhenti menangis. Dia merasa bodoh hanya bisa menangis dan tidak cepat membawa ayahnya kerumah sakit. Dia bingung karena dia tidak punya uang. Pikirannya kalut dan hanya menangislah yang bisa ia lakukan.


Hanya 15 menit, ayahnya dinyatakan sudah tiada. Disaat itulah Clara merasa dunianya berakhir. Tumpuan satu-satunya meninggalkannya. Dia menangis sejadi-jadinya. Penyesalan merasuki dirinya dengan sangat kuat. Membuatnya sesak akan rasa sakit bertubi-tubi.


Teddy mengangkat telepon ke telinganya. Dia menghubungi Steven. Mengatakan keadaan Clara dan apa yang menimpanya dengan suara cukup lirih. Teddy tahu berita ini akan mengganggu pekerjaan Steven, tapi merahasiakannya akan menimbulkan kemarahan besar sahabatnya itu.


Clara masih sesegukan tampa suara. Tubuh lemahnya terduduk begitu saja dilantai rumah sakit di samping tempat tidur dimana jenazah ayahnya terbaring. Bobby sedang mengurus biaya rumah sakit dan Teddy mengurus kepulangan jenazah. Sam yang menemani Clara, menarik tangannya untuk berdiri. Mendudukkannya pada bangku.


.


"Anda akan kembali tuan?"


"Kita akan menemui Aston besok."


Yuno menatap Steven dengan terkejut. Selama ini dia mengira Steven mengutamakan Clara dalam segala hal. Tapi saat momen paling menyedihkan baginya Steven malah tidak menemuinya. Apa tuannya masih marah? itulah yang ia pikirkan.


"Tuan, Nona Clara mungkin saja membutuhkan anda..."

__ADS_1


"Aston akan menjadi berbahaya jika kita pergi saat ini. Aku tidak punya pilihan!"


Yuno memandang punggung Steven saat sang tuan menatap keluar jendela. Dia malah ingin Steven tidak melanjutkan apapun itu yang berhubungan dengan Aston. Karena Yuno takut tujuan Aston bisa membahayakan keselamatan tuannya.


__ADS_2