SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
27


__ADS_3

Aldo duduk dihadapan kakeknya. Bayu menyesap rokok dan menghembuskan asapnya perlahan. Bersandar di sofa ruang kerjanya. Ruangan yang dipenuhi ornamen dan hiasan mewah namun terlihat suram dengan aura yang ia ciptakan.


"Aku tidak mengharapkan permusuhanmu pada Steven. Lagipula gadis yang membuatmu bertindak terlalu jauh sudah hilang dari genggamanmu."


Aldo melebarkan matanya meski masih menunduk. Tidak menyangka kakeknya tahu mengenai dia yang menyukai Clara.


"Kek__"


"Tidak peduli siapa yang kamu sukai. Pernikahanmu dengan pemilik Ramajaya grup tetap akan berlangsung. Setelah lulus pertunangan resmi akan dilangsungkan. Jadi jangan gegabah."


'Steven bukan lawanmu' lanjut kakeknya dalam hati.


Aldo mengangkat wajahnya. Menatap kakeknya hendak membantah.


"Berhati-hatilah padanya. Untuk saat ini jangan membuat gaduh."


"Kakek lebih membelanya karena dia menguntungkan sekolah?"


"Tidak, tentu aku lebih mementingkanmu" kakeknya menjeda, mematikan rokok dan kembali menatap cucunya "Anak itu berhubungan langsung dengan pemegang jabatan tertinggi GGF grup. Jika tebakanku benar, membuat masalah dengannya saat ini hanya akan membuat kita rugi besar."


"Grup ... GGF?" gumam Aldo. Siapa yang tidak mengenal salah satu perusahaan raksaa itu?


"Apa ... apa hubungan mereka?" tanya Aldo.


Kakeknya tidak menjawab. Meski begitu, Aldo bisa melihat dari pancaran mata dan ekspresi kakeknya, bahwa dia sendiri juga tidak tahu. Aldo mengangguk patuh. Saat ini dia tidak memiliki rencana.


.


Aldo termenung di balkon kamarnya. Memikirkan perkataan kakeknya. Memikirkan hubungan Steven dengan seseorang yang memiliki kekuasaan. Juga fakta yang ia dapatkan mengenai hubungan Steven dengan salah satu gengster singapura.


"Apa anak itu penghubung mereka? tidak mungkin mereka selamanya bersih. Tapi ... anak itu tidak sebodoh itu untuk jadi pesuruh. Dia memiliki ibu yang kaya jika hanya untuk uang." gumamnya.


Aldo menolehkan sedikit kepalanya saat pintu kamarnya terbuka. Ibunya masuk dengan senyum kakunya. Terlihat tertekan bahkan hanya menghadapi anaknya sendiri.


"Nak, Sindy ada di ruang tamu. Dia ingin__"


"Saya mengerti." potong Aldo datar.


Ibunya seakan ingin berbicara lagi namun urung melihat raut wajah anaknya. Aldo hanya diam saja, memandang ibunya yang akhirnya berbalik pergi tampa ekspresi.


"Kenapa datang? bukankah kamu sangat sibuk?" Aldo duduk di sofa tepat dihadapan Sindy.


"Hanya ingin melihatmu. Sepertinya keadaanmu kurang baik." kata Sindy dan meminum teh yang disediakan untuknya.


Aldo menatap kesal wajah penuh ejekan dari tunangannya. Jelas dia sedang diolok-olok.


"Kamu pikir aku sudah kalah?" Sindy tertawa kecil.


"Sampai kapan kamu keras kepala? sejak awal kamu tahu dia tidak menyukaimu."


"Aku akan mendapatkannya dengan cara apapun!"


Wajah tenang Sindy berubah masam. Tersenyum kecut sambil bangkit berdiri. Nyatanya, ia datang hanya untuk melepas kerinduannya. Sayangnya dia terus mendapatkan rasa sakit yang sama.


"Aku harap kamu sadar, pernikahan kita akan tetap berlangsung meskipun aku memberimu kebebasan mengejarnya."


"Kamu bisa cari cara untuk membatalkannya bukan? jika aku berhasil memenangkan hati Clara__"


"Sayangnya kalianlah yang bergantung pada kami, kenapa harus aku yang repot? Aku tidak sebaik itu untuk terus mengalah."


Aldo bangkit berdiri saat Sindy bicara dengan nada dingin. Untuk pertama kalinya, ia melihat kemarahan diwajah itu.


Sindy ikut bangkit dan menatap Aldo dengan kegetiran. "Bukankah ... aku juga harus berjuang?" tanyanya dengan senyum sedih.


"Sindy ... kamu sendiri yang dulu__"


"Benar, dulu aku memberimu kesempatan sampai hari pertunangan. Tapi kamu gagal, bukan? Pertunangan akan dimajukan. Kakekmu tidak sabar untuk segera melebarkan bisnisnya."


Maka Sindy pergi dengan segala kekecewaannya. Sesampainya diluar air matanya jatuh begitu saja. Asistennya menatapnya prihatin. Membukakan pintu dan ikut masuk sebagai supir sekaligus.


Asistennya tampak kawatir, namun ia memilih diam. Bukan untuk abai, hanya ia tahu Nonanya butuh waktu untuk menangis.


.

__ADS_1


Steven menatap langit-langit kamarnya. Mengingat pertemuannya dengan Bayu, kakek dari Aldo. Berdecak malas saat pintu kamarnya diketuk.


"Masuk!"


Sam masuk dengan cengiran tampa dosa diikuti kedua temannya yang lain. Namun tidak lama terdengar bel pintu berbunyi. Ketiganya saling pandang kecuali Steven. Bingung siapa yang datang karena hanya mereka berempat yang mengetahui alamat mereka.


"Apa kamu menyuruh CEO di perusahaanmu itu kesini?" tanya Sam.


Karena selain mereka hanya Yuno yang memiliki kemungkinan.


"Itu Jun, pergi bukakan pintu!" suruhnya cuek.


"Ck, kenapa aku?" kesalnya. Namun tetap bangkit berdiri.


Jun masuk diikuti Sam yang masih menggerutu kecil. Tidak terlalu suka dengan kedatangan Jun.


"Aku semakin tidak suka orang ini! Lihat sifat sombong yang tidak jauh berbeda dengan bosnya!" sindir Sam.


"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Jun sopan dan formal. Mengabaikan Sam yang semakin tampak marah.


"Kalian lihat, bukan? dia itu!" Sam melotot pada Teddy yang membekap mulutnya.


"Diamlah sebelum kepalamu dibolongi olehnya!"


Teddy melepaskan tangannya dan menatap Steven yang tampak jengah. Meminta Steven hanya mengabaikan Sam. Maka Steven melanjutkan pembicaraannya dengan Jun.


"Jun ..."


Jun yang mengerti memberikan map yang sedari tadi dipegangnya.


"Roulet sudah mendapatkan buktinya. Selain itu ... dia tidak sengaja membuat Tim terbunuh." Sesaat Steven terhenti dari gerakannya.


"Roulet terlalu liar, sudah dibereskan?" tanya Steven dan melanjutkan gerakannya membuka map ditangannya.


"Sudah Tuan."


"Suruh dia temui dokter Will. kalau menolak kurung dia. Aku tidak suka kelalaian!" perintah Steven.


"Baik, tuan."


"Kamu sedih?"


"Dia menghianati anda. Dia pantas mendapatkan hukuman."


Steven terkekeh pelan. Bangkit berdiri lalu berjalan ke kulkas kecil dikamarnya. Mengambil sebotol minuman dingin. Membukanya dan memberikannya pada Jun.


Jun melebarkan matanya sesaat, tampak terkejut namun segera menguasai diri. Dia mengambil kaleng minuman namun belum meminumnya.


"Kamu tahu aku dengan baik. Terima kasih untuk tetap setia. Aku menyesal untuk kakakmu. Jika mau ... kamu bisa membalas Roulet," Steven menunggu, namun Jun tidak bereaksi apapun.


"Kembalilah, suruh anggota terbaik untuk berada disekitar Clara."


Jun mengangguk penuh hormat sebelum keluar dengan minuman masih ditangannya. Sesampainya diluar pintu, dia menatap kaleng ditangannya dengan sorot terluka.


"Apa Tim itu orang dengan rambut ikal di belakangmu saat aku menjemputmu di tempat Arnold dulu?" tanya Bobby.


"Ya,"


"Dan dia mati dibunuh Roulet Roulet itu? ngomong-ngomong Roulet ini perempuan?" tanya Sam dengan wajah syok.


"Hmm ... Tim kakak kandung Jun."


"Bu ... bukan kamu yang kasih perintah, kan?" tanya Sam lagi.


Steven mengangkat kepalanya yang sedari tadi menatap layar ponsel. Menatap satu persatu sahabatnya.


"Bukannya aku tadi bilang itu kelalaian? kalian percaya aku membunuh seseorang?" Ketiganya serentak menggeleng.


"Roulet itu psikopat. Dia bersenang-senang dengan rasa sakit orang lain. Tim dan Jun menyukainya. Sayangnya psikopat tidak punya hati. Mereka tumbuh bersama sejak sekolah dasar."


Steven sebenarnya tidak memerintahkan Roulet untuk menghukum Tim. Dia hanya ingin bukti. Sayangnya Tim orang yang licik dan arogan sedari dulu. Dia menyukai uang dan sangat gampang disuap. Ada kelompok tersendiri yang dipimpin Jun untuk menghukum orang-orang yang berhianat. Hanya saja Steven tidak pernah membunuh mereka. Roulet adalah pengecualian, Steven membiarkannya masuk ke dalam tim yang dipimpin Jun karena hubungan ketiganya. Nyatanya wanita itu malah terus mengacau.


"Lalu ... apa ... apa Jun itu akan balas dendam?" tanya Teddy. Dia masih terkejut omong-omong.

__ADS_1


"Imposible, Jun love her." jawab Steven menyeringai.


"Yah, itu akan berat baginya," kata Bobby.


Bel kembali berbunyi. Kini Teddy yang bangkit sambil berkata "Siapa lagi yang kamu suruh datang?"


Yuno masuk dan langsung menyerahkan banyak berkas padanya lalu duduk disamping Teddy dengan hembusan nafas lelah.


"Tuan ... kapan anda ke perusahaan? tidak usah menunggu lulus. Saya sungguh lelah dengan direktur payah yang selalu menayakan anda. Media juga sangat penasaran akhir-akhir ini." keluh Yuno.


Pria berumur 36 tahun itu tampak lebih kurus dan tua dari umur sebenarnya. Mata panda dan wajah kusam, jelas bebannya semakin berat.


Steven memilih abai dan memeriksa seluruh berkas dengan cepat. Dahulu Yuno hanya mengirim dalam bentuk PDF. Tapi sejak ia di Indonesia, Yuno diperintahkan langsung menghadap kepadanya.


"Bagaimana dengan kasus ayahku?"


Yuno menegakkan dirinya dan merubah raut wajahnya kembali serius. Membuat yang lain cukup takjub kecuali Steven.


"Besok adalah waktunya. Begitu pria tua itu lounching produk barunya, maka kita akan segera meluncurkan bukti pembicaraannya dengan mentri." Steven menyeringai, meletakkan asal berkas diatas kasur.


"Ada apa dengan CEO PT.Violet? dia mencurigai identitasku. Cari tahu apa yang ia ketahui. Belum saatnya aku ke permukaan. Jangan sampai dia mengacau."


"Pak tua pemilik yayasan tempat anda sekolah?" Kata Yuno menjeda sesaat, "Saya tidak ingat pernah bicara dengannya. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan cucunya. Saya akan selidiki. Lagi pula dia hanya hama kecil dengan perusahaan yang baru bertunas. Bahkan masih sangat rapuh."


"Ramajaya grup dibelakangnya."


"Ah ... dia menggunakan cucunya? cukup pintar. Tapi Ramajaya saat ini berada dibawah kendali kita." sahut Yuno.


"CEO Ramajaya cukup pintar. Selain itu, anaknya adalah teman Clara. Sebisa mungkin hindari masalah."


"Tentu tuan. Nona akan menjadi prioritas saya juga." sahut Yuno dengan senyum manis.


"Kakek Aldo itu ... orang seperti apa? dia seperti mau memanfaatkanmu kemarin." kata Teddy.


"Dia penuh ambisius." jawab Steven.


"Tuan ... media mulai mencurigai anda. Mereka beberapa kali mendapatkan foto kita. Saya sudah menekan mereka, tapi anda tahu mereka seperti apa." kata Yuno dengan serius.


"Paparazzi memang menyebalkan. Bukannya dulu kamu juga sering di ikuti mereka?" kata Sam.


"Itu berbeda, dulu Steven dengan identitas anak selebriti dengan prestasi gemilang. Saat ini berbeda! ini bukan hanya tentang identitasnya sebagai putra pelatih dan aktris, tapi juga identitasnya di perusahaan." sahut Teddy kesal.


"Itulah mengapa aku menyesal berteman dengan idiot ini," kata Bobby dan menoyor kepala Sam pelan.


"Aku anak CEO juga omong-omong. Kupatahkan tanganmu!" geram Sam.


Steven menatap kedua orang itu jengah. Cukup terbiasa dengan kelakuan mereka tapi untuk saat ini dia sedang serius.


"Diam sebelum aku melempar kalian."


Keduanya yang sudah bersiap dengan tangan diatas berhenti seketika saat mendengar nada bicara Steven yang datar. Mereka segera memperbaiki posisi kembali.


"Awasi yang paling mencurigakan. Bekerjasamalah dengan Jun. Suruh orang-orang dibawah Jun mengawasi. Tim keamanan perusahaan cukup lemah. Aku mau Jun mengambil alih untuk keamanan identitasku."


"Baik Tuan."


Setelah kepergian Yuno. Steven kembali memeriksa ponselnya. Mengernyit dengan wajah tidak senang.


"Apalagi kali ini?" tanya Bobby dalam bisikan.


"Sam ... dimana Clara saat kamu kembali dari sekolah?"


"Apa maksudmu? aku antar ke asrama seperti permintaanmu."


"Dia tidak membalas pesanku dari satu jam yang lalu." geramnya. Lalu Steven menelfon Samuel.


"Kamu masih disekolah?" tanya Steven saat panggilannya dijawab.


"Lihat dimana Clara, ponselnya mati beberapa detik ini!"


Teman-temanya saling pandang. Bertanya dalam diam sejak kapan Samuel mau menjadi kaki tangan sahabatnya ini.


"Sebelum aku mengacaukan sekolah cepat lakukan!" perintahnya mutlak. Mematikan sambungan begitu saja dan bangkit berdiri.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Teddy.


Sayangnya Steven yang kalut tidak menjawab. Mereka mengikuti Steven yang sudah keluar. Terburu-buru meraih kunci mobil dan mengejar Steven yang berlari keluar apartemen menuju parkiran.


__ADS_2