
Seluruh mension kacau. Clara menghilang dan Jun yang bertugas menjaganya benar-benar kehilangan jejak. Dia tidak tahu kapan Clara keuar. Seluruh mension seperti terlelap dengan pulas bahkan penjaga pos depan gerbang juga baru terbangun ketika sudah terbit matahari.
Setelah diselidiki, Jun baru tahu kalau semua penghuni terpapar obat tidur dari sumber air minum. CCTV juga mati saat kejadian. Steven benar-benar frustasi. Seluruh orangnya dikerahkan untuk mencari Clara. Paspor Clara ada padanya, sehingga kecil kemungkinannya dia keluar dari negara ini.
"Bagaimana? tidak ada cctv di jalan yang menangkap dia lewat?"
"Tidak ada, Lusi temannya sedikit mencurigakan tapi kita sama sekali tidak memiliki bukti."
"Apa maksudmu?" tanya Steven, menatap Jun tajam.
"Saya curiga Nona bukan diculik tapi pergi sendiri." jawab Billi yang juga ikut berdiskusi.
"Dia pasti dibantu seseorang. Clara tidak akan pergi sendirian. Dia tahu sedang dalam bahaya." tambah Jun.
"Cari_ cari siapa yang berani membawa Claraku pergi!" marah Steven.
"Clara pergi?" ketiganya menoleh secara bersamaan kearah suara orang yang baru saja datang.
Steven bangun dari duduknya. Mereka ada di ruang kerja Steven. "Mom... kapan datang?" Steven memberi kode pada Jun dan Billi untuk keluar. Meninggalkan mereka hanya berdua.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Calon menantuku yang manis pergi saat aku ingin menghiburnya. Apa yang terjadi? Kenapa kamu malah bertunangan dengan wanita jelek itu?" tanya ibunya dengan ketus dan penuh kekesalan. "Walaupun belum dekat tapi mommy sudah mempatenkan Clara sebagai menantu satu-satunya. Tapi lihat? kamu membiarkan dia pergi. Ckckck! pria macam apa itu!" hardik ibunya.
"Mom bisakah bantu aku mencarinya. Jangan hanya marah, mom. Aku juga sedang bingung."
"Ck! bingung katamu? Hah... kenapa untuk urusan cinta kamu malah mewarisi sifat ayahmu. Pria bodoh yang tidak bisa menjaga cintanya." Steven hanya menatap ibunya bingung, tidak mengerti apa yang coba ia sampaikan. "Temukan Clara dulu, baru membicarakan si jelek itu. Melihat wajahnya di layar saja aku sudah mual!"
Ibunya pergi begitu saja. Sama sekali tidak memberi solusi. Steven memijat kepalanya. Dengan kesal dia mengambil jas dan keluar.
"Kalian juga cari Clara kemanapun! kerahkan orang bayaran." perintah Steven saat melewati mereka ketika turun kebawah.
Sementara Clara sendiri sedang berada di suatu desa. Masih dalam negara yang sama tentu saja. Memangnya dia bisa kemana tampa apapun. Clara bahkan tidak membawa ponsel dan dompetnya. Semua yang menjadi barang pemberian Steven dia tinggalkan.
Sementara itu ditempat lain, dua orang sedang berbicara berdua. "Kamu yakin dengan keputusan ini, Clar? aku yakin Steven akan menemukanmu cepat atau lambat. Aku juga tidak bisa lama-lama disini. Aku harus kembali karena kakek bisa curiga."
Clara mengangguk, dia menunduk. Menatap tangannya sendiri. "Aku... aku harus tegas pada diriku sendiri. Aku tidak mau lagi jadi boneka yang terus menurutinya."
"Aku akan terus mendukungmu. Ini buku tabunganmu. Toko yang dikelola orang Steven, setahuku uangnya dimasukkan ke rekeningmu. Tapi Clara... kamu harus hati-hati. Orang-orang Steven bisa melacakmu saat transaksi dilakukan."
"Terima kasih kak Aldo, kamu pasti kesulitan masuk ke dalam rumah tampa ketahuan."
Ya, orang yang menolongnya adalah Aldo. Clara memang diam-diam merencanakan semua ini 3 hari sebelum ia pergi. Meminta bantuan Aldo diam-diam. Aldo juga yang memberikannya obat tidur yang ia letakkan di bawah ban mobil di parkiran kampus. Setelah semua orang tertidur, Clara keluar dan dijemput Aldo dengan taksi saat tengah malam.
Aldo mengusap belakang kepalanya, dia tersenyum canggung yang membuat Clara menatapnya curiga.
"Jangan bilang kalau... "
"Hampir, aku tidak yakin tapi sepertinya ada yang melihatku. Entahlah, saat itu gelap. Semoga saja mereka tidak lihat."
"Siapa?"
__ADS_1
"Tetanggamu, siapa lagi. Rumahmu kan kosong."
Clara menghela nafas lega, yang dia takutkan tadi adalah orangnya Steven.
"Desa ini cukup jauh dari kota. Tidak apa-apa kamu tinggal disini? aku malah takut pada orang jahat. Apa aku harus tinggal beberapa hari untuk memastikan?" tanya Aldo, rumah yang mereka temukan di desa terpencil ini cukup jauh dari tetangga lain. Rumah yang mereka sewa sepertinya juga sudah sangat tua.
Clara menatap sekeliling ruang tamu dimana mereka sekarang berada. Rumah ini tidak terlalu besar dan sebagian masih berbahan kayu. Namun untuk ukuran sendirian, Clara rasa tidak buruk.
"Aku... aku rasa aku akan baik-baik aja. Kalau takut pemilik rumah bilang datang saja ke pada mereka kan." kata Clara, nada suaranya yang ragu-ragu membuat Aldo tidak tega meninggalkannya.
"Aku akan temani beberapa hari," putusnya kemudian.
"Tapi... bagaiman sama kakek kakak?"
Aldo menggaruk keningnya. Dia juga tampak bingung namun akhirnya hanya mengangkat bahu. "Kita pikirkan nanti."
.
Disaat Steven panik dan pusing setengah mati, Clara mengisi harinya dengan berkebun bersama pemilik rumah yang ia sewa. Selama tiga hari Aldo menemaninya, akhirnya pria itu pulang ke Indonesia. Dia tidak bisa memberikan alasan liburan lagi kepada sang kakek.
Clara hanya sibuk bekerja membantu pasangan tua yang hanya memiliki peternakan dan kebun sayuran. Clara memilih bekerja bersama mereka karena memang tidak memiliki kegiatan lain.
Clara sedang memutar otak bagaimana cara kembali ke Indonesia. Sesekali saat malam, hatinya menyuruhnya untuk meminta bantuan Jun. Namun saat akal sehatnya kembali, ia akan menepis pemikiran itu jauh-jauh. Jun tidak akan bisa membantunya, dia adalah orang Steven paling setia. Setidaknya seperti itulah yang Clara lihat selama ini.
Berbekal ponsel baru pemberian Aldo, Clara hanya bisa menghubunginya. Mereka aktif berkirim pesan. Meskipun hanya sapaan dan menanyakan kabar. Terkadang mereka membicarakan bagaimana keadaan Sindy yang saat ini mereka ketahui sedang hamil. Namun sayangnya Aston tidak terlihat berniat menikahinya.
.
Seminggu setelah kepergian Clara, Steven menjadi lebih dingin dan diam. Dia menjadi lebih pasif. Bahkan saat west mengeluarkan ancaman untuk kesekian kalinya, dia tidak meresponnya. Hanya menganggapnya angin lalu.
Violet perlahan membaik, Aston tampaknya memutuskan mengobatinya dengan benar saat melihat betapa seriusnya Steven bekerja.
Steven memang mengerjakan proyek yang Aston inginkan. Namun dia juga mengembangkan secara diam-diam bersama Alex cara memusnahkannya. Selama ini, ternyata Alex memiliki tujuan bekerja di laboratorium milik Aston. Ada alasan khusus dia mau menceburkan diri kedalam percobaan tidak manusiawi yang dibuat Aston.
"Aku rasa kerja sama kita akhirnya berjalan setelah selama ini hanya jalan ditempat." kata Aston, mereka makan siang bersama di sebuah restoran mewah. "Apa ini efek karena pacarmu pergi?" sindir Aston.
Steven meletakkan pisau dan garpunya dengan keras ke atas piring, sehingga menimbulkan dentingan cukup keras. Aston hanya acuh dan melanjutkan makannya. Seolah tidak terganggu dengan amarah Steven.
"Santai dude...! Aku bisa membantumu menemukannya. Aku pastikan akan menemukannya setelah peluncuran pertama produk kita."
"Jangan pikirkan urusanku, hanya percepat agar Violet sembuh."
"Menurutmu bagaimana kalau dia menjadi objek pertama?" usul Aston dengan seringai jahat khas dirinya.
"Apa maksudmu?"
"Dari pada kankernya sembuh, bukankah lebih baik dia mati. Kamu tidak perlu memikirkan cara menyingkirkannya. Gadismu juga akan kembali dengan sendirinya."
"Clara tidak seperti para wanitamu. Dan lagi...aku bukan pembunuh sepertimu." jawab Steven dingin.
__ADS_1
Mendengar jawaban Steven Aston tertawa keras. Dengan anggun ia meminum anggurnya dan menatap Steven, lalu dengan tenang dia berkata, "Kamu sebentar lagi akan menjadi pembunuh jutaan manusia. Bagaimana kamu masih bisa naif begitu?" Aston tertawa sinis setelahnya.
"Kamulah yang membunuh mereka, bukan aku!" sahut Steven, dia bangkit berdiri. Memberikan tatapan paling mengerikan yang dia miliki. "Pastikan Violet sembuh dari sakitnya." tegas Steven, lalu melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Dia memegang rahasia perusahaanmu yang mana? yang buruk atau yang terburuk?" Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan secara tidak langsung. Steven berbalik, menatap Aston yang pada akhirnya tahu alasan dia menyetujui bekerja sama dengannya hanya untuk satu nyawa gadis yang dibencinya.
"Aku bisa menghancurkan west, kenapa kamu tidak memintanya?" lanjut Aston, menatap gelas anggurnya lalu meneguk habis isinya.
Aston ikut bangkit, berjalan kearah Steven dan berhenti tepat di hadapannya. Menatap kedalam bola mata yang kini menatapnya tajam.
"Sedari awal aku tertarik padamu, apa yang ada dalam kepalamu itu... selalu membuatku takjub. Kamu bisa menemukan cara dengan akurat, menciptakan senjata paling berbahaya hanya dalam hitungan minggu. Steven... kamu bahkan bisa mengusai dunia. Sayangnya kamu masih memiliki satu kelemahan." kata Aston, dia tersenyum penuh maksud. Menekan telunjuknya di dada Steven. "ini adalah kelemahan, Steve! Cinta membuatmu lemah."
Aston meninggalkan Steven yang mematung. Steven nyaris akan memukulnya kalau saja Aston masih banyak bicara. Karena dia sangat muak dengan pengaruh yang Aston timbulkan pada isi kepalanya. Steven seperti memiliki sisi liar yang sama gilanya saat kebencian merasukinya. Namun saat ia kembali kepikirannya ketika Clara muncul dikepalanya, seluruh kegilaan itu buyar. Iblis dalam hatinya ia kubur dalam-dalam. Steven tidak ingin menjadi sekejam Aston. Karena dia memiliki cinta yang besar pada Clara.
Steven kembali pulang kerumah. Sejak hari dimana Clara pergi, sejak itu juga ibunya menemaninya di rumah. Ibunya sesekali ikut Jun atau Billi untuk mencari Clara. Memeriksa berbagai tempat. Memeriksa banyak cctv setiap hari. Namun keberadaan Clara tidak terlihat di manapun.
Steven kehilangan nafsu makan. Berat badannya juga menurun dan dia sering mabuk dimalam hari. Ibunya yang biasanya acuh kini menjadi sering menangis karena Steven. Selama hidupnya, baru kali itu dia melihat anaknya sesedih itu. Bahkan saat dimana dia bercerai dengan sang suami, Steven hanya acuh tak acuh.
Karena keadaan Steven yang kian hari kian memprihatinkan, ayahnya juga datang dari Korea. Ikut mencari keberadaan Clara.
"Bagaimana kalau kita sebar fotonya? memunculkan wajahnya di televisi_"
"Tidak bisa tuan, tuan Steven tak akan mengizinkannya." potong Billi tegas. Mereka sedang berdiskusi di lantai dua. Orang tua Steven, Jun, Billi dan Carlos.
"Tapi itu cara yang paling ampuh," tambah ibu Steven.
"Bukan itu masalahnya, ini lebih pada... keamanan perusahaan. Jika pihak kita melibatkan media, mereka akan mencari tahu identitas Clara. Rumor akan menyebar dan itu akan menimbulkan kemarahan grup West."
"Lalu kenapa? putuskan saja kerja sama dengan mereka!" marah ibu Steven.
Seluruh orang disana bertukar pandang, mereka yang ada disana sudah tahu rahasia itu kecuali ibu Steven. Bagaimana Steven harus terikat dengan Violet.
"Ini tidak sesimpel itu." kata ayah Steven, dia menatap ibu Steven dengan pandangan yang mengatakan 'hentikan itu.'
Sehingga ibu Steven mendengus lalu bangun dan pergi dari sana.
.................................
Hai readers tercinta...!
Masih ada yang nungguin novel ini? 😋😋😋
Aku harap ada walau cuma satu, dukungan kalian semua sangat berarti.
Terima kasih sebesar-besarnya karena sudah mau baca karya aku...
i love you gays...
Terimakasih...😁
__ADS_1