SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
28


__ADS_3

Steven sampai di sekolah. Dengan tergesa Rafael menghampirinya. Sekolah sudah sepi karena sudah sore hari. Hanya ada beberapa anak OSIS yang berada di sekolah dan anak yang mempunyai pelajaran tambahan.


"Aku udah cek semua tempat sampai asrama perempuan dan laki-laki, Clara tidak ada! CCTV juga tidak menangkap pergerakan siswa keluar usai jam pulang sekolah." kata Rafael.


"Kenapa kamu masih di sekolah?"


Rafael melirik Sam yang memasang wajah curiga.


"Ck! pikirmu aku terlibat? aku ada di sekolah karena club basket."


Rafael memandang Steven yang wajahnya tampak tenang. Namun dia tahu dibalik sikap tenang itu ia sedang frustasi dan panik.


'Dia sangat tenang, ' kata Rafael dalam hati.


"Rafael, bisa periksa cctv Clara terlihat sama siapa aja hari ini?"


"Ok!"


"Temui aku di atap."


Meskipun Rafael bingung kenapa Steven ingin pergi kesana disaat seperti ini, namun dia tetap mengangguk dan segera pergi.


Kakinya yang panjang dan terlihat kokoh itu melangkah menuju tangga. Terus naik menuju atap gedung sekolah. Teman-temannya tidak berani bicara, sebab ekspresi dingin dan kelam itu selalu membuat mereka merinding. Mereka hanya mengikuti selayaknya anak ayam.


"Jun ... dimana orang yang aku perintahkan disekitar Clara?"


Anda memerintahkan beberapa menit lalu Tuan, dia baru sampai.


"Periksa area sekitar sekolah dan temukan Clara."


Steven memasukkan ponselnya saat mereka sampai di atas. Angin cukup kencang dan awan mendung melingkupi langit. Menambah suram suasana yang ada. Sam bahkan menelan ludah dengan susah payah. Dari mereka berempat, Samuel adalah anak yang paling penakut dan juga kekanakan. Mengikuti Steven seperti anak ayam pada induknya. Mematuhinya seperti boneka meskipun Steven tidak pernah memintanya. Mereka semua, teman-temannya mengikutinya dengan setia karena pengaruh Steven yang kuat. Bahkan mereka tahu Steven adalah orang yang harus mereka ikuti sampai dewasa. Melupakan bahwa mereka masih memiliki kedua orangtua.


Steven mengamati area sekitar dengan teliti. Menelusuri sekitar dengan menaiki dinding pembatas. Membuat teman-temannya meneguk ludah susah payah. Takut dan kawatir akan keselamatan Steven sendiri.


Sekitar 20 menit, Rafael kembali. Menghampiri Steven yang kini duduk di bangku panjang degan rokok di tangannya. Menatapnya sengit, membuatnya meremang.


"didalam cctv cuma kalian, aku, Aldo, teman sekelasnya dan beberapa guru. Tidak ada orang asing. Tapi ... seorang anak laki-laki culun tertangkap cctv kantin terus menatapnya."


"Ya, aku mengerti."


Steven berkata dengan seringai jahat dibibirnya. Bangkit berdiri dan berjalan kesisi gedung. Dengan santai naik ke dinding pembatas lagi dan melompat begitu saja ke gedung sebelah. Teman-temannya yang terkejut mengejarnya. Melongo ke bawah dan mendapati Steven berjalan santai turun melalui tangga ke bawah.


"Itu gedung apa?" tanya Sam


"Gedung kosong bekas perkantoran yang bangkrut. Ayahku telah membelinya. Bagaimana dia bisa melompat dengan jarak itu?"


Rafael terheran-heran dan kagum secara bersamaan.


"Ayo ikuti!" kata Bobby.


"Kamu gila, aku tidak bisa lompat sejauh itu!" sungut Teddy.


"Kita dari depan saja, ayo!" kata Rafael.


Ketiganya akhirnya mengikutinya. Tidak mau nekat melompat seperti Steven karena mereka tidak terlatih sepertinya.


Sementara itu, Steven dihampiri oleh dua orang yang langsung memberi hormat padanya.


"Seluruh gedung ini sudah diperiksa, tuan. Seorang anak membawa nona Clara masuk kedalam sebuah ruangan, kami menunggu perintah anda." Steven melirik mereka dengan sengit.


"Menungguku? jika aku terlambat Clara ..."


"Dia bersama Arnold, tuan." Jun memotong, muncul begitu saja entah dari mana.


"Nona hanya pancingan, tampaknya dia tidak berniat menyakiti. Orang kita sudah mengepungnya." lanjut Jun tenang.


Kini ia tahu apa rencana Arnold untuk membalasnya. Merutuk dalam hati karena sebagian rencananya tidak berjalan lancar. Sejak dulu Arnold memang mengenalnya lebih baik dari siapapun. Mata pria itu sungguh jeli.


"Tunjukkan!"


Steven dan Jun berjalan beriringan menuju lokasi dimana Clara berada. Menendang dengan kuat pintu sampai terbuka.

__ADS_1


Clara disana, duduk tepat di depan Arnold. Menunduk dalam saat matanya bertemu dengan Steven.


"why are you angry, my friend can be scared." kata Arnold kalem.


Didalam ruangan itu ada satu meja dan dua kursi. Jelas sudah disiapkan sedemikian rupa. Steven tidak menatap Arnold, melainkan Clara yang tampak ketakutan.


"Kesini Clara."


Nada suaranya begitu dalam dan kelam. Kemarahan jelas sudah hampir meledak.


Clara mengangkat wajahnya, matanya memerah dan pandangan takut jelas tersirat disana untuknya. Sorot mata itu, hal yang paling tidak ingin dilihatnya. Kini ia tidak punya pilihan. Clara mengetahui identitas lain dari dirinya. Maka, ia dengan terpaksa melakukan hal yang tidak ingin ia perlihatkan sejak dulu. Sisi gelap dalam dirinya.


Mengabaikan Arnold dan kumpulannya, dia berjalan santai menuju Clara. Meraih tangan yang bergetar itu namun Clara segera bangkit dan mundur. Menjauh darinya.


Arnold tertawa terbahak-bahak. Menertawakan Steven yang mulai murka. Steven menendang meja kearah Arnold duduk. Sayangnya reflek pria itu secepat dirinya. Sehingga saat meja itu menabrak bangku hingga membentur dinding, Arnold sudah berdiri tegak.


"what did you tell him!" desisnya.


"You killed my sister!"


"I'm not killed her! Jun!"


Jun maju dan memberikan bukti pembunuhan adik Arnold. Jun memang memiliki duplikatnya.


"Look and come when you understand. I will be waiting for you. You know where to find me."


Steven menarik tangan Clara dengan keras meski Clara mencoba melawan dan meronta. Tidak punya pilihan lain, Steven akhirnya menggendongnya seperti karung beras.


Jun mengikuti mereka bersama belasan bawahannya. Membukakan pintu mobil dan masuk sebagai supir. Tidak menoleh bahkan saat teman-temannya baru sampai dan menghampiri mereka.


"Haah...aku lelah dan dia meninggalkan kita begitu saja." keluh Sam.


"Wajahnya mengerikan. Cara dia memperlakukan Clara juga kenapa jadi kasar? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rafael.


Keempatnya segera waspada saat Arnold keluar dengan orang-orangnya. Sama muramnya dan tidak menoleh sedikitpun. Mengabaikan keberadaan mereka.


Sementara itu, dimobil Clara duduk dengan kaku disamping Steven yang membisu. Tatapan matanya sangat tajam dengan ekspresi kelam mengerikan.


"Tuan ..." panggilnya, nyatanya sedari tadi dia tidak tahu Steven ingin kemana.


"Rumahku!" sahut Steven dingin.


"Teman-teman anda masih mengikuti tuan,"


"Kamu tahu caranya, Jun" desis Steven emosi.


Maka, tampa berkata-kata lagi Jun mempercepat laju mobil membelah jalanan. Melajukan mobil diatas kecepatan rata-rata untuk menghilangkan jejak. Membuat teman-teman Steven kehilangan mereka.


Clara jelas semakin ketakutan. Dia bahkan berpegangan erat. Tubuhnya bergetar hebat dan air matanya kembali turun. Terisak-isak sendirian.


"Pelankan mobilnya," perintah Steven.


Jun menuruti, tampa ekspresi dia melirik Clara yang masih menangis. Menghela nafas saat berhenti didepan gerbang besar. Begitu gerbang terbuka, mereka dihadapkan hamparan hutan pinus yang sudah tinggi.


Butuh lima menit naik mobil untuk mencapai bangunan megah dan luas yang didominasi warna biru putih itu. Kolam air mancur yang sangat besar dan taman-taman bunga yang luas. Bagian samping dan belakang dikelilingi pohon-pohon tinggi yang tampak tua. Begitu mereka berhenti didepan, pintu utama rumah itu terbuka lebar.


Steven turun dan menggendong Clara yang masih menangis. Penampilan gadis itu bahkan sudah seperti gelandangan. Sangat kacau dengan mata bengkak dan wajah sembab.


Memasuki rumah, mereka disambut para pelayan rumah yang cukup banyak dan rata-rata laki-laki. Semuanya tampak bingung saat Jun masuk membawa dua orang. Selama ini Steven tidak pernah tinggal dirumah ini. Jun lah yang mengurusnya bersama seluruh anggotanya.


"Tuan Jun ... apa yang harus kami siapkan untuk tamu anda?" tanya pelayan yang paling senior setelah Jun mengantar Steven ke atas. Seorang laki-laki tua.


"Bapak lihat aku antar dia kemana?" tanya Jun dingin.


Pelayan itu menoleh ketas lagi. Wajahnya berubah terkejut. "Di ... dia tuan besar?" tanyanya.


"Siapkan makanan dan satu kamar lagi."


Sementara itu, Steven meletakkan Clara di atas kasur dengan pelan. Menarik selimut untuknya dan duduk di tepi kasur. Menatap Clara lurus dan dalam.


"Bertanyalah, aku akan menjawabnya."

__ADS_1


Sayangnya Clara hanya diam saja, menatap selimut ditangannya.


"Kenapa bertanya pada mereka? apa kepercayaanmu hanya setipis itu?" Steven menjeda, kini pancaran matanya menunjukkan kekecewaan "Mulai saat ini kamu tinggal disini. Jun akan mengawasimu."


Clara mengangkat kepalanya. Terkejut dan takut sekaligus. Menggeleng cepat saat mata mereka bertemu. Namun Steven hanya diam dan menatapnya dingin. Bulir mata itu keatas saat Steven bangun. Masih menatapnya dingin.


"Aku ingin pergi! Aku tidak mau disini!"


Clara menyibak selimut dan turun dengan cepat. Sayangnya tangan panjang Steven merengkuh pinggang kecilnya dan kembali menghempaskannya keatas kasur. Menahan kedua tangannya diatas kepala saat Clara memberontak.


Steven hanya menatapnya tajam hingga Clara merasa lelah dan hanya bisa menangis. Memejamkan matanya dan membawa tubuh bergetar itu masuk kedalam pelukannya.


"Kamu bisa marah padaku. Membenciku sepuasmu. Ini aku yang sesungguhnya. Steven yang sebenarnya." tenang dan lembut. Nada suaranya cukup membuat Clara kembali tenang.


Terdiam cukup lama. Clara tidak menangis lagi. Saat ini mereka berbaring dengan Clara dalam pelukannya. Hanya diam sampai Clara bersuara. Menyampaikan segala yang ingin diketahuinya lebih jelas.


"Benarkah kamu yang membunuh adiknya?"


"Tidak!"


"Lalu siapa pelakunya?"


"Musuh kami." Clara diam sesaat, mencerna jawaban yang diberikan oleh Steven.


"Lalu ... benarkah kamu anggota gengster dan punya bisnis gelap?"


"Anggota ya, tapi bisnis gelap? aku hanya menjadikannya alat. Apa yang aku lakukan tetap halal. Untuk saat ini masih dalam koridor sesuai hukum."


"Siapa kamu sebenarnya?"


"Aku Steven, Clara."


Clara mengangkat kepalanya. Mematap Steven dengan wajah kesal. Steven tersenyum tipis dan mencium puncak kepalanya pelan.


"Aku Steven, si jenius yang menguasai GGF grup. Seperti yang dikatakan Arnold padamu."


Clara mencengkram baju Steven kuat untuk mengatasi rasa takut yang tiba-tiba muncul kembali. Menyadari hal itu, Steven memeluknya semakin erat.


"Aku tidak akan menyakiti kamu. Aku cuma jahat sama musuhku. Jadi jangan takut."


Steven mengusap rambut kepala Clara pelan. Membuat gadis itu mengantuk dan akhirnya tertidur. Steven melepaskan pelukannya pelan dan membenarkan selimut Clara. Lalu keluar menuju lantai bawah dimana semua pelayan dan juga penjaga rumah berkumpul. Termasuk Jun dan anggota yang selalu mengikutinya.


Steven duduk disofa dengan tenang dan penuh wibawa. Jun segera berdiri di sampingnya.


"Mereka adalah orang-orang yang mengurus dan menjaga rumah anda selama ini. Pak Teguh yang bertugas mengepalai keamanan luar dan Pak Ganjar yang mengepalai area dalam. Pak Willy yang menjadi kepala pelayan."


"Dimana markas tim berkumpul?" tanya Steven, tidak peduli pada pelayan yang baru saja melihatnya untuk pertama kali, menatapnya dengan takut dan kagum sekaligus. Tidak menyangka tuan besar mereka masih sangat muda.


"Mereka ada dibelakang. Seluruhnya sedang bertugas. Hanya pelatih dan beberapa anggota baru yang tinggal."


Steven mengangguk. Jun yang mengerti segera menyuruh semua orang pergi.


"Jun ... tunjukkan pertemanan dengan Arnold. Aku ingin dia menjadi senjata dan rekan yang berguna dimasa depan. Setelah melihat buktinya, dia jelas tidak akan mencariku lagi. Tapi kamu bisa melakukannya. Dia cukup mengenalmu." Jun tidak menjawab untuk beberapa saat.


"Tuan ingin menjadikan dia bagian dari kita di sana?"


"Keberatan?"


Jun duduk di sofa tepat dihadapan Steven. Menatap tuannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Jika bukan Steven, tidak ada yang mengerti apa yang sedang dipikirkannya.


"Meskipun dia tahu kebenarannya, dia akan tetap membenci anda."


"Tentu, tapi dendamnya akan mengalahkan itu. Dia butuh kita untuk menghadapi mereka. Dia butuh suntikan dana. Hal yang sulit mereka dapatkan kecuali dengan cara kotor."


"Tuan ... akan berbahaya untuk anda berurusan dengan mafia."


Steven diam beberapa saat. Dia tahu, tapi dia tidak punya pilihan untuk saat ini. Arnold bagian dari mereka dan Steven ingin menariknya. Arnold tidak akan dengan mudah melepaskan pembunuh adiknya meskipun nyawanya jadi taruhan.


"Arnold cerdik dan langkahnya sangat hati-hati. Dia selalu punya cara untuk tujuannya. Jangan lupakan dia adalah pemimpin salah satu gengster. Dia menguasai seluk beluk dunia bawah dengan baik. Kekuatan timnya solid dan tersebar disetiap wilayah. Menurutmu kenapa dia turun tangan sendiri untuk membunuhku? karena adiknya adalah segalanya baginya. Bahkan dia masuk ke wilayah yang tidak dikuasainya hanya untuk membunuhku."


Jun terdiam, selama ini dia hanya mengikuti perintah. Pergi kemanapun ditugaskan. Dia tahu Arnold tapi tidak sedetail itu. Tidak menyangka pengaruh pria itu cukup besar.

__ADS_1


__ADS_2