
Arnold masuk begitu saja kedalam ruangan Steven. Tidak peduli bahwa bos besar mereka sedang menerima tamu. Renjun ingin sekali melempar sepatu kewajahnya yang menyebalkan itu.
"Oh ... selamat siang pak West? anda datang terlambat. Seharusnya tadi melihat pertunjukan." katanya, dengan santai membungkuk dan menopang dagu di sandaran kursi Steven.
"Kurang ajar seperti biasa, Arnold! bagaimana kabarmu?" tanya orang terkaya nomor satu itu. Sangat santai seolah mereka adalah teman lama.
"Lebih baik dari pak tua seperti anda. Kenapa anda tidak istirahat dan biarkan anak cantikmu yang kesini?"
Mr.West melirik Steven yang memasang wajah datar. Tersenyum dan melanjutkan melayani perkataan Arnold.
"Tadinya dia memaksa...hanya saja aku tidak izinkan setelah tahu kalau Steven sudah punya pasangan. Aku dengar gosipnya."
"Aku bersedia menggantikan anak ingusan ini. Bukankah aku lebih tampan?"
Pria tua itu tertawa. Steven berdehem untuk mengubah suasana kembali menjadi serius. Inilah alasan dia tidak jadi menjenguk Jun, karena dia dihubungi oleh rekan bisnis terpenting baginya.
"Bagaimana usulan tadi?" tanya Mr. West dengan serius.
"Akan saya lakukan. Saya sudah katakan bukan?"
"Tidak akan sulit, karena dia cukup kuat dan licik. Kalau seandainya membahayakan posisimu... aku berjanji akan menolongmu. Asalkan anakku bisa terjamin... aku akan melakukannya. Tidak peduli apa yang kamu minta, aku akan penuhi asal anakku bisa selamat." kata West tua dengan wajah serius.
Steven mengangguk singkat, memberikan dua lembar surat perjanjian kerja sama. Mr.West tampa ragu mengambil pena dan menandatanganinya.
"Aku akan terus mendukungmu mencapai puncak, asal keinginanku kamu penuhi." katanya, tidak ada lagi kesan ramah tamah. Wajahnya berubah sangat mengintimidasi dan tajam. Seolah jika Steven melakukan kesalahan dia akan menghancurkannya.
"Jangan kuatirkan apapun, anda bisa kembali dengan nyaman." jawab Steven tenang, tidak ada raut takut. Sama sekali tidak terpegaruh.
Setelah dia pergi, Arnold mengambil alih tempat duduk Mr.West tadi dan membaca dengan cepat isi perjanjiannya. Dengan penuh emosi dia menggebrak meja saat meletakkan surat itu.
Arnold bangkit dengan cepat lalu meraih kerah baju Steven. Nafasnya memburu dengan amarah yang siap meledak.
"Aku terus mengikutimu bukan untuk melihat pecundang, sialan! JANGAN GILA!" teriak Arnold diakhir perkataannya. Dengan keras menghempaskan Steven sehingga dia menabrak sandaran kursi.
Steven masih tenang, dia bahkan hanya menatap datar Arnold yang masih emosi. "Apa aku perlu izinmu? aku punya hal-hal yang harus aku pikirkan untuk kedepannya. Aku harus melindungi apa yang menjadi milikku. Aku bisa melakukan apapun jika itu perlu." Penjelasan Steven sama sekali tidak bisa diterima Arnold.
"Tuan...apa tidak sebaiknya anda pikirkan lagi. Sebelum terlalu jauh...anda bisa membatalkannya. Ini terlalu beresiko..." bujuk Renjun. Sejak tadi dia ingin melarang tapi tidak berani mengatakannya. Dia tidak sekurang ajar Arnold.
"Aku penasaran... bagaimana kalau gadis kecilmu tahu?" kata Arnold dengan nada mengancam.
"Kamu akan tutup mulut untukku."
"Jangan seyakin itu, aku tidak segan-segan menghianatimu!" ketusnya.
"Jangan banyak omong, perhatikan saja kasus Tom. Selain itu tugasmu selanjutnya adalah menghancurkan semua sumber kekayaannya. Aku ingin dia membusuk dipenjara."
"Karena itu kamu bawa-bawa kasus lamanya?"
"Dia harus dapat hukuman untuk itu."
"Ck, idiot mana yang mau kamu bohongi? kamu mau bunuh dia dipenjara kan? karena itu mencari kasus yang paling berat agar dia dihukum mati. Tapi karena disini tidak ada hukuman mati, karena itu kamu akan eksekusi sendiri."
Steven tertawa, "Karena itu ... kamu harus hancurkan sumber uangnya. Aku terlalu sibuk mengurus hal itu. Cabut sampai keakarnya, pusat kekuasannya ada di Singapura. Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Jangan biarkan musuh membalas lagi, beraninya dia menculik Clara dan menjadikannya alat!"
Arnold dan Renjun menatap Steven dengan pandangan berbeda. Renjun dengan kengerian yang besar melihat kejamnya apa yang diucapkan Steven. Sementara Arnold menatapnya sarat akan pertanyaan.
"Jadi kamu menghukumnya seberat ini karena dia melibatkan gadismu? hanya karena wanitamu itu?" tanya Arnold dengan nada menghina khas dirinya. Seperti tak ingin menerima kenyataan.
Steven tidak menjawab, rahangnya mengeras. Arnold tahu Steven menahan amarahnya, tapi tidak berniat menghentikan mulut berbisanya. Renjun bahkan sudah melihat tuannya dengan perasaan was-was.
"Aku pikir orang jenius itu tak akan melaukan kebodohan. Aku baru tahu mereka juga bisa idiot!" Arnold melipat tangannya dan melempar tatapan mengejek. "Lalu apa yang kamu lakukan kalau dia tidak akan menerima kamu? dia mungkin aja segera jadi kekasih Jun. Mereka sudah seperti orang pacaran!" pancing Arnold.
"Jangan mengada-ada, kalau sudah selesai kamu tahu pintu keluarnya." usir Steven.
Arnold menggeram jengkel, sambil bangkit dan keluar dia berkata dengan keras. "Calon kakak ipar akan direbut orang lain, percayalah!"
"Apa maksud anda? Nona tidak pernah dekat dengan pria lain!" sangkal Renjun.
"Arnold...!" panggil Steven dengan suara rendah yang tajam.
Arnold berhenti lalu berbalik. Sebelum dia sampai menatap wajah itu, sebuah pisau kecil melayang kearahnya. Menancap ringan di dada kirinya, seolah sudah diukur dengan tepat, pisau itu menusuk otot dada Arnold tampa mencederai lebih dalam. Bahkan pisau itu jatuh dengan sendirinya tampa dicabut. Darah keluar dari luka itu, terlihat merembes membasahi kemeja abu-abu Arnold.
Renjun meneguk ludahnya kasar, dia segera menunduk dan tidak berani mengangkat kepalanya. Arnold terdiam ditempatnya. Mata setajam pisau milik Steven menghunusnya dengan dalam. Seakan memberitahu, bahwa dia bisa melakukan lebih dari itu.
__ADS_1
Arnold tahu lidahnya terlalu berbisa tadi. Dia memahami amarah Steven, dengan wajah tertunduk dia mengambil pisau yang melukainya dan meletakkannya diatas meja kerja Steven.
"Aku minta maaf meremehkan dia. Aku akan memikirkan kata-kataku dimasa mendatang." kata Arnold, merapatkan jasnya hingga menutupi lukanya. Lalu membungkuk hormat pada Steven sebelum pergi.
"Telfon Carlos agar membawa Clara kesini." Suara Steven masih terdengar sama tajamnya dengan tadi. Membuat Renjun menggigil ketakutan ditempatnya.
"Sa_saya akan melakukannya tuan." Lalu secepat kilat Renjun keluar. Melancarkan respirasinya setelah sampai diluar. Duduk dengan lutut yang lemah dikursi kosong yang biasa Sindy gunakan bekerja. Setelah ketakutannya teratasi, dia baru menyadari Sindy yang menghilang sejak rapat tadi.
Di dalam, Steven menatap pisau dengan noda darah Arnold. Menopang kepalanya dengan tangan dikening. Lalu dia bergerak bangun, menatap hamparan gedung diluar dengan pikiran menerawang.
.
Dirumah sakit, Carlos dengan wajah menyesal mengintrupsi obrolan Clara. Memberitahunya bahwa mereka harus ke kantor Steven dengan segera.
"Ada apa, Carlos? kenapa kita harus kesana lagi?" tanya Clara saat mereka dalam perjalanan.
"Saya tidak tahu Nona. Tuan hanya memerintahkan begitu." jawab Carlos.
Sesampainya di depan ruangan Steven, Renjun segera menahannya sebentar. Memberi peringatan dengan suara pelan.
"Tuan dalam suasana hati yang buruk. Saya harap anda tidak memprovokasinya Nona. Saya mohon pengertian anda."
Clara jadi lebih gugup dari sebelumnya. Bertanya-tanya dalam hati apakah penyebab Steven begitu karena perkataannya terakhir kali.
Renjun membuka pintu dan mengumumkan kedatangannya. Clara masuk dan jantungnya seakan melompat keluar saat tatapan dingin itu mengarah padanya. Steven sedang duduk dikursinya. Ini mengingatkan Clara saat awal pertemuan mereka disekolah. Saat pertama kali Steven menatapnya di kantin. Dia merasakan aura asing itu.
"Duduk." suruh Steven. Kesan dingin masih melingkupinya.
Clara berjalan dengan cepat dan segera duduk dihadapan Steven. Alis pria itu mengerut, seolah memprotes apa yang dilakukan Clara.
"Siapa yang menyuruhmu disana? kemari!" katanya, dia mundur sedikit. Membuka dirinya agar Clara duduk dipangkuannya.
"Itu ... kenapa harus disana?"
Melihat wajah Steven yang mengeras, Clara segera bangun dan dengan cepat berpindah kepangkuannya.
Steven merengkuh pinggang kecil Clara dan membenamkan wajahnya pada lehernya. Dia bisa merasakan degup jantung Clara yang berdegup keras. Bertanya-tanya hal itu karena rasa cinta atau karena rasa takut.
"Stt...Steven... ada apa?" tanya Clara gugup.
Clara merasa tertohok. Dia menyadari perasaannya juga tapi tetap saja tak ingin menerimanya. Jadi dia merasa disini dialah yang egois.
Setelah diam yang cukup lama. Clara baru menyadari bahwa Steven tertidur. Dengan lembut Clara melepaskan tangannya dan mengelus kepala Steven dengan pelan. Membelainya agar tidurnya terasa lebih nyaman.
.
Clara bangun di pagi hari dengan sedikit linglung. Semuanya terasa tidak nyata akan apa yang telah ia lalui kemarin. Melirik jam di dinding dan dengan cepat masuk kedalam kamar mandi.
Clara turun dengan terburu-buru dengan dua buku tebal ditangannya dan tas ransel khas anak kuliahan yang berisi banyak buku. Dengan sigap Carlos mengambilnya dan menuntunnya menuju meja makan.
"Selamat pagi semua." sapa Clara.
Seluruh pelayan membalas sapaannya, agak takjub karena tidak biasanya Clara terlihat bersemangat. Bertanya-tanya hal baik apa yang ia dapatkan.
Steven datang beberapa detik kemudian. Wajahnya sedikit kusut dengan lingkaran hitam dibawah matanya. Terlihat kurang tidur namun tetap saja, wajah adonis itu terlihat luar biasa tampan. Semakin lama, Clara merasa fitur wajah Steven menjadi lebih tegas dan maskulin. Garis rahangnya yang saat SMA sudah tajam menjadi lebih tajam lagi. Membuat siapapun ingin menyentuhnya.
"Apa yang kamu lihat? makan sarapanmu. Kita akan segera berangkat." sela Steven datar.
Clara tersentak, dia tidak sadar kalau sejak tadi dia menatap Steven tampa berkedip. Biasanya dia akan memerah, namun nada bicara Steven yang datar dan tegas membuatnya bertanya-tanya. Apa yang membuat Steven berubah? apa dia masih marah padaya?
Clara tidak tahu, mereka sering perang argumen tapi Steven biasanya hanya akan mengabaikan, melupakan kemarahannya dengan cepat. Tapi kali ini dia tidak begitu. Bahkan Steven tidak mengatakan apapun saat mobilnya sudah sampai di depan gedung universitas.
"Terima kasih, aku akan masuk." kata Clara. Steven hanya mengangguk singkat tampa mengatakan apapun.
Setelah dia masuk bersama Carlos, barulah mobil Steven melaju meninggalkan tempat itu.
Hari ini persentase tugas mereka dan Clara mengucapkan terima kasih sangat banyak pada Tomas yang menyelesaikan tugas mereka. Membuat segalanya berjalan dengan baik.
"Jadi, apa yang terjadi sore itu? kamu menghilang dan semua orang panik mencarimu?" tanya Lusi. Pagi-pagi saat mereka bertemu lusi tidak bisa mengintrogasinya karena kelas mereka segera dimulai.
Sekarang, seperti biasa mereka ada dikantin untuk makan siang setelah kelas yang membuat kepala mereka panas dan terasa ingin pecah.
"Maaf, saat itu aku..." Clara menggigit bibirnya, bingung mau mencari alasan apa.
__ADS_1
"Sudahlah, yang penting dia baik-baik aja." sela Tomas, dia seperti memahami bahwa Clara tidak ingin membahasnya.
"Sejak tadi kamu seperti banyak pikiran, ada apa?" tanya Lusi lagi.
"Aku baik-baik aja kok." jawab Clara.
Clara tidak nyaman menceritakannya, karena Tomas terus menatapnya dengan wajah penasaran juga. Mereka belum lama kenal dan Clara tidak memiliki kepercayaan sebesar dia percaya pada Lusi untuknya.
Seseorang dari organisasi mahasiswa menghampiri Tomas dan berbicara sejenak. Lalu dengan cepat mereka pergi dengan wajah serius.
"Tomas punya banyak teman, ya." kata Clara, merasa iri karena dia tidak sebebas orang lain untuk bergaul dan bermain. Steven selalu mengatur segala sesuatu untuknya.
"Yah...dia sangat terkenal. Tampan, kaya dan ketua organisasi mahasiswa. Siapa yang tidak kenal dia. Semua anak selalu merasa terganggu karena akhir-akhir ini dia bergaul dengan kita." jawab Lusi.
Clara terkejut, bukan karena dia yang terkenal, namun fakta yang baru ia tahu. "Dia ketua organisasi mahasiswa?"
Lusi menatapnya dengan wajah datar, seolah sudah biasa melihat Clara yang tidak tahu apapun tentang lingkungan kampus mereka.
"Sayangnya, ya!" jawabnya singkat. "Tapi bisa kita abaikan dia? aku mau tahu kenapa konglomerat panas Tuan muda Steven bisa menjemputmu dan yang terpenting ... bersikap posesif padamu." Lusi melirik Carlos yang duduk tidak jauh dari mereka, "Apa dia juga orangnya?"
Clara tidak tahu harus mulai dari mana. Atau apakah dia bisa mempercayai Lusi. Memikirkan fakta apakah Lusi akan percaya padanya saja membuat dia ragu.
"Aku tidak akan berani menyebarkannya! aku masih sayang nyawaku." kata Lusi yang membuat Clara tersenyum.
"Memangnya siapa yang akan menyakitimu," kekeh Clara.
Lusi melongo, jelas paham bahwa Clara tidak memahami keadaan disekelilingnya. Dia memajukan kepalanya dan merendahkan suaranya.
"Kamu tidak tahu pandangan orang pada tuan muda Steven ya?" tanyanya. Melirik kanan kiri lalu menatap Clara lagi. "Apa kamu bahkan sadar sejak pagi tadi tidak ada lagi yang melihatmu dengan sinis dan pandangan memusuhi seperti biasa?" lanjutnya.
Dengan polos Clara melirik kanan kirinya, semua anak yang tidak sengaja beradu pandang dengannya segera menunduk dan beringsut menjauh. Paling tidak, mereka akan menunduk dan berpura-pura tidak melihatnya.
"Ada apa dengan mereka?"
Lusi menepuk keningnya lalu menatap Clara dengan wajah bosan. Menyesali kepolosan Clara yang sepertinya sudah dikurung selama berabad-abad.
"Apa kamu bahkan menonton TV?"
"Aku jarang, lebih suka main dengan anjingku atau membaca buku, novel atau menontin film."
"Sosial media juga tidak?"
"Jarang," sahut Clara dengan gelengan pelan.
"Ya ampun ... mulai sekarang bukalah internet dan kenali orang disekelilingmu. Steven Kim dikenal karena menjadi pengusaha muda tersukses saat ini. Dia bahkan baru-baru ini naik level menjadi orang terkaya nomor 6. Dia bahkan lebih dielu-elukan dari orang terkaya nomor satu. Bintang emas yang sangat panas dan seksi. Semua wanita mendambakannya, tapi aku pikir aku mengerti mengapa dia tidak pernah terlihat menggandeng wanita manapun. Selain masih muda, ternyata dia sudah jatuh sama gadis polos dari goa." ledek Lusi diakhir penjelasannya.
"Tidak dari goa juga..." protes Clara.
"Lihat! kamu bahkan tidak mengelak aku bilang dia menyukaimu," kata Lusi sambil mengacungkan telunjukknya main-main.
"Apa kamu tahu yang paling penting dari semua itu? Steven Kim terkenal dengan kepribadian mengerikan saat marah. Dia terkenal pria hot yang kejam karena kata-katanya yang tajam. Meski ini hanya rumor, tapi aku dengar dia juga menguasai beberapa organisasi gelap. Tapi fakta itu tidak ada yang tahu sih..." Agaknya Lusi sengaja, dia ingin memancing Clara karena tahu temannya itu mengenalnya. Siapa tahu dia akan tahu fakta sebenarnya dari rumor tersebut. Lusi ini penyuka anime, dan dia terobsesi dengan karakter yakuza tampan. Hal itulah yang ia bayangkan saat melihat Steven dan rumor yang menyelimutinya.
Clara tentu saja terkejut, dia segera memeriksa ponselnya dan membuka google. Mengetik nama Steven dan seluruh artikel muncul dengan sangat banyak. Mulai dari artikel berita, bisnis maupun gosip. Menggigit bibirnya, Clara meletakkan begitu saja ponselnya dan menangkupkan wajahnya di atas meja.
"Ada apa? kenapa ekspresimu aneh begitu!"
Clara mengangkat kepalanya dan menopangnya dengan lengannya. "Aku ... aku lagi bingung dengannya." katanya pelan.
"Bingung apa? ceritakan padaku!" sahut Lusi dengan semangat.
"Sepertinya aku membuat kesalahan, aku membuatnya marah ... entahlah. Aku tidak tahu salahnya dimana."
"Kalau begitu ceritakan ... agar aku bisa cari solusi." kesal Lusi, dia sungguh penasaran.
"Panjang, aku bingung mulai dari mana."
"Main ke kafe tempatku kerja pulang nanti?" tawar Lusi.
"Steven yang jemput aku, aku perlu izinnya."
"Oh God...! Dia seposesif itu? Tapi cobalah untuk minta izin. Aku akan tunggu kamu kapanpun. Aku selesai jam 10 malam." Clara mengangguk. Sekali lagi, dengan ragu dia membaca artikel demi artikel tentang Steven. Tidak tahu bahwa orang yang selalu mengakui perasaan padanya adalah orang sebesar ini. Clara merasa sangat kecil dan tidak pantas. Harga dirinya merosot dalam dan dia seperti sangat tidak tahu malu.
'Aku ... ternyata tinggal dengan orang yang sangat terkenal. Aku ini apa? seperti anak terlantar yang dipungut? aku seperti parasit yang menumpang hidup.'
__ADS_1
Sepanjang kelas terakhir hari itu, Clara fokus pada layar ponselnya. Dia terus membaca informasi mengenai Steven diluar sana. Kadang dia menggerutu sendiri atau tertawa pelan karena apa yang tertulis disana. Hal itu karena banyaknya informasi palsu mengenai kehidupan sehari-harinya. Clara yang tinggal bersamanya tentu saja tahu bahwa kebanyakan dari mereka hanya menebak-nebak saja.
Dosennya tahu dia tidak fokus pada kuliah, namun tidak menegurnya sama sekali. Dia hanya menunjukkan wajah frustasinya. Seolah kalau menegur anak didiknya satu itu akan membawa masalah baginya. Gosip memang menyebar sangat cepat.