SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
62


__ADS_3

Malam itu Clara benar-benar tidak hadir. Entah berapa banyak Lusi menelepon dan mengiriminya pesan. Sampai Jun yang akhirnya menjawab teleponnya, barulah ia berhenti menghubungi Clara.


Steven tidak pulang malam itu. Ia menginap di hotel. Entah kenapa Steven tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Clara saat ini. Saat ia terbangun, Jun dan Renjun sudah berdiri di sebelahnya.


"Anda sudah bangun Tuan? pakaian anda sudah ada disana, saya akan memesan sarapan untuk anda." kata Renjun, lalu berlalu dari sana.


Steven menyibak selimut dan menurunkan kakinya. Dia duduk di pinggir kasur setelah menemukan kesadarannya. Menatap balik Jun yang berdiri di hadapannya, sangat tahu apa tujuan Jun datang tampa diperintah begini.


"Pergilah, tetap disamping Clara saat ini." suruh Steven.


Dia berdiri dengan sempoyongan, sangat kacau dan nyaris tidak seperti Steven yang selama ini Jun kenal. Jun membantu Steven yang akan pergi ke kamar mandi. Memapahnya yang sepertinya akan muntah. Efek mabuknya ternyata belum hilang.


"Jam berapa anda tidur? anda sangat berantakan Tuan," kata Jun.


Steven terkekeh, "Sopan santunmu memang sudah hilang. Tapi aku lebih suka kamu yang begini... tidak kaku seperti dulu." jawab Steven setelah memuntahkan isi perutnya.


Dia membasuh wajahnya, lalu berjalan ke dalam ruang shower. Jun menghela nafas lalu keluar. Renjun sudah kembali berdiri di sana.


"Jam berapa dia tidur tadi malam?" tanya Jun.


"Aku tidak tahu, aku sudah tertidur saat Tuan masih minum. Dia sangat kacau dan terus-terusan memanggil nama Nona."


Jun diam, dia duduk di sisi kasur. Melipat tangannya di dada dan memperhatikan keadaan kamar hotel yang sangat berantakan. Renjun hanya merapikan pakaian Steven, selebihnya ia membiarkannya begitu saja.


Tidak berapa lama Steven keluar dengan jubah mandinya. Jun segera mengambil alih handuk kecil di lehernya dan membantu Steven mengeringkan rambut. Steven duduk di sisi kasur. Renjun memberikan pakaiannya. Setelah dirasa cukup, keduanya keluar menuju ruang tamu.


Steven terlihat lebih baik dan lebih segar. Dia berjalan ke meja makan dan mulai sarapan tampa minat. Hanya sedikit, lalu ia mengambil ponsel dan dompetnya, hendak pergi ke kantor.


"Tuan, apa anda tidak akan pulang?" tanya Jun, membuat langkahnya terhenti.


Steven berbalik, menatap Jun datar. "Menurutmu? Kamu pikir aku bisa melihat wajahnya saat ini." katanyanya dingin. Ia keluar dan Renjun buru-buru mengikutinya.


Jun tidak punya argumen apapun untuk alasan Steven, dia cukup mengerti posisi Steven saat ini. Hanya memutuskan untuk kembali ke mension. Bersiap menghadapi Clara yang mungkin saat ini sudah tahu beritanya.


Sementara itu, Clara yang baru selesai mandi memeriksa ponselnya. Tersenyum saat banyaknya notifikasi pesan dari Lusi. Juga beberapa notifikasi dari portal berita di berandanya. Seperti biasa Clara hanya akan mengintip judulnya. Kalau menarik dia akan baca, tapi kalau tidak dia hanya akan melewatkannya.


Masalahnya beberapa portal berita itu menulis artikel dengan judul yang hampir sama. Dengan hati yang berdebar tak nyaman dia menggerakkan jarinya. Foto Steven dan Violet yang muncul pertama kali dibawah judul. Clara langsung mencelos, tapi dia tetap menggerakkan jarinya untuk menggeser layar ke bawah.


Clara membacanya dengan cepat, memastikan kebenarannya. Setelah itu dia menjatuhkan ponselnya begitu saja. Berlari ke kamar Steven dan membukanya. Dia ingin penjelasan, namun yang ia dapatkan hanya kekosongan. Kamar Steven sama seperti kemarin, kosong dan dingin.


"Kamu... kamu tidak pulang lagi?" lirih Clara, air matanya mulai jatuh.


Clara terduduk di lantai karpet. Merutuki keputusannya yang menerima Steven kembali. Ketakutannya terjadi, Steven akan meninggalkannya. Steven yang bosan akan membuangnya. Itulah yang ada di dalam kepalanya saat ini.


Jun yang baru tiba berjalan cepat menuju meja makan, tapi tidak menemukan Clara disana. "Nona belum turun, ini lebih lama dari biasanya, kami cukup kawatir apalagi dengan pemberitaan tentang Tuan." kata kepala pelayan yang biasa melayani Clara.


Jun berlari ke lift, dengan tidak sabar menekannya dengan cepat. Setibanya di atas, dia berlari kedalam kamar Clara, namun dia tidak ada di sana. Jun membuka kamar mandinya, namun nihil. Clara juga tidak ada.


Jun pergi ke kamar Steven, benar saja. Clara masih disana, sedang duduk bersandar pada ranjang dengan pandangan kosong.


"Clara... kenapa duduk di bawah?" tanya Jun, ia sebisa mungkin terlihat tenang.


Clara diam saja saat Jun membantunya berdiri dan mendudukkannya di atas kasur. "Kumohon katakan sesuatu." pintanya, hatinya ikut berdenyut sakit saat melihat mata yang sudah bengkak itu kembali mengeluarkan air mata.


"Dia akhirnya membuangku. Hal yang aku takutkan akhirnya terjadi." Suara Clara serak di akhir.

__ADS_1


Jun menariknya kedalam pelukannya. Memeluknya erat dalam diam. Hanya mengelus kepala Clara yang semakin terisak di dadanya.


"Aku mau pergi, aku tidak mau disini lagi Jun! Aku harus pergi kan?" kata Clara.


Clara melepaskan diri dan pergi ke kamarnya. Ingin mengemas barangnya namun kesadaran menghantamnya begitu kuat. Dia tertawa miris saat sadar dia tidak memiliki apapun di rumah ini. Semuanya milik Steven, semuanya memakai uang Steven.


Jun yang berdiri di ambang pintu masih diam saja. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Steven melarangnya mengatakan kebenaran. Saat ini, dia bukan hanya sakit hati karena melihat Clara yang hancur, tapi dia juga sakit hati saat melihat keadaan Steven pagi ini. Keduanya sama-sama merasakan sakit yang sama. Jun hanya bisa jadi penonton. Tidak bisa melakukan apapun.


"Clara ... ayo kebawah. Kamu harus sarapan."


"Dimana Steven?" tanya Clara balik, mengabaikan ajakan itu. "Katakan? apa dia tinggal di rumah Violet sekarang?" tanyanya sambil berbalik. Menatap Jun tajam. Dia menghapus air matanya dengan kasar.


"Antarkan aku padanya, aku ingin dia memberikan pasportku. Aku ingin pulang."


"Maaf, Tuan memerintahkan kamu untuk tetap kuliah dan tinggal disini." jawab Jun.


Clara tertawa pelan, "Tetap disini? kenapa dia sangat egois! kamu pikir aku masih punya muka untuk kuliah. Mereka akan lebih menghinaku sebagai simpanan Steven. Mengatakan aku tidak tahu malu!" marah Clara.


"Maaf Clara, tapi cobalah berpikir jernih. Tuan mencintaimu, dia melakukan apapun demi melindungimu. Jadi tidak mungkin dia meninggalkanmu." bujuk Jun.


"Cinta? cinta apa! tidak ada cinta saat dia memilih wanita lain! aku hanya sudah dibuang Jun! karena itu aku harus keluar! setidaknya..." Clara menunduk, "Setidaknya aku harus mempertahankan harga diriku sendiri sebelum diusir keluar."


"Itu tidak akan terjadi," sahut Jun cepat.


Clara mengangkat kepalanya cepat. "Lalu apa? dia akan tetap menjadikan aku salah satu koleksinya?" amarah Clara tersulut.


"Tidak ada yang berkata begitu, Clar...kumohon maafkan dia. Tuan tidak akan menjadikanmu yang kedua, percayalah."


"Lalu apa? dia menjadikan aku yang pertama lalu Violet yang kedua? jangan bercanda Jun! lihat faktanya!" bentak Clara.


"Keluar, aku ingin sendiri."


Jun tidak bisa melakukan apapun. Maka dia menuruti Clara dan keluar. Menutup pintu namun tidak pergi. Dia tetap disana, berdiri seperti orang bodoh.


.


Tidak ada pilihan, Clara tetap dipaksa untuk kuliah dan menjalani hari-harinya seolah tidak ada yang terjadi. Saat-saat dikampus Clara menjadi lebih pendiam. Dia hanya harus memasang wajah tembok dan menebalkan muka saat seluruh anak menatapnya dengan menghina.


Lusi tetap menjadi satu-satunya teman, Tomas beberapa kali mengajaknya bicara namun ia hanya mengabaikannya. Tomas sebenarnya menunjukkan kalau dia hanya ingin berteman, dia menyukai Clara namun tahu tidak bisa lebih dekat kecuali sebagai teman. Sayangnya Clara jauh berubah, dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Bahkan Lusi sangat frustasi ketika mereka bersama, dia hanya akan berakhir berbicara sendiri.


Ini sudah hari ke tujuh sejak Steven tidak pulang. Clara juga tidak pernah menanyakan apapun mengenai dirinya. Clara hanya melakukan apapun yang di katakan Jun seperti robot. Makan saat waktunya makan, mandi saat waktunya mandi, dan tidur saat waktunya tidur. Clara juga tidak pernah melihat ponselnya lagi. Benda pipih itu hanya tersimpan rapi di dalam tasnya.


Setiap malam, seperti saat ini. Clara akan membaca buku sampai matanya mengantuk di perpustakaan. Dia hanya akan tertidur disana. Lalu Jun yang akan memindahkannya. Dia juga kehilangan berat badan karena hanya makan sedikit dan stres berat. Seluruh penghuni mension merasakan atmosfir sedih yang dibawa Clara. Mereka yang sudah melayani Clara sangat tahu kepribadiannya, sehingga mereka ikut sedih saat tahu apa yang terjadi.


Jun sedang membawa nampan berisi kue dan teh hangat menuju perpustakaan saat dia berhenti karena kehadiran Steven. Jun tidak tahu sejak kapan Steven di sana, tapi ia bersyukur akhirnya tuannya itu pulang.


"Anda akhirnya pulang."


"Dimana dia?" tanya Steven langsung.


"Perpustakaan."


Maka Steven tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya berlalu meninggalkan Jun yang memandang kepergiannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jun marah sebenarnya, tapi dia juga merasa kasihan. Jun memutuskan untuk meletakkan kembali kue dan teh itu ke dapur. Dia menyusul Steven ke perpustakaan.


Clara tidak melihat siapa yang datang. Dia meletakkan satu buku dan mengambil yang lain. "Jun, bisa ambilkan yang itu?" pintanya saat buku yang dia inginkan letaknya terlalu tinggi.

__ADS_1


Sebuah tangan meraih buku itu, tapi dari aroma parfumnya, Clara tahu itu bukan Jun. Dia segera berbalik dan mendongak, jantungnya seketika berdetak kencang. Steven berdiri dihadapannya dengan pancaran kerinduan. Sayangnya Clara yang sudah terlanjur kecewa dan marah tidak memperdulikan hal itu. Dia bergeser sedikit lalu pergi begitu saja. Mengabaikan debaran akan kerinduan yang terus menumpuk dihatinya.


Steven menatap buku di tangannya, meletakkannya asal lalu menyusul Clara. Menahan lengannya dan membuat Clara menghadap padanya.


"Aku tahu kamu marah, aku ingin minta maaf. Aku tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Aku benar-benar minta maaf, ini bukan keinginanku. Aku... "


Clara melepaskan cengkraman itu, dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum kaku. Sehingga terlihat sangat menyedihkan bagi siapapun yang melihatnya. Karena sorot matanya sangat menyedihkan namun bibirnya tersenyum.


"Selamat! hanya itu yang bisa aku katakan." Clara berbalik, hendak melangkah pergi tapi sesuatu muncul dipikirannya. Dia kembali berbalik untuk menatap wajah yang saat ini begitu membuatnya sakit hati. "Aku sempat lupa dari mana aku berasal. Aku sempat terbuai sesaat. Aku juga lupa nama tengahmu adalah pemaksa. Tapi... apa gunanya kamu menahanku disini? Kalau kamu masih punya hati... walau sedikit dari rasa kasihan, tidak berlebihan kan saat aku memintamu untuk membiarkanku kembali ke tempat asalku?"


Steven diam saja, hatinya sakit saat Clara mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Dia merasa sangat tidak berguna saat wanita yang dia cintai harus merasakan ini semua. Dia tidak membuat Clara bahagia, berada disisinya hanya untuk terus membuat dia kecewa dan kecewa lagi. Hal itu membuat Steven marah pada diri sendiri.


Clara menarik sudut bibirnya sedikit, "Tidak bisa? Ah...aku lupa aku bukan siapa-siapa yang bisa mengajukan permintaan." kata Clara, mengejek diri sendiri. Lalu ia berjalan cepat meninggalkan Steven yang masih terpaku pada tempatnya. Melewati Jun yang berdiri di ambang pintu.


Jun menatap Steven yang masih diam saja. Seperti tahu apa yang dipikirkan tuannya, dia membuka suara.


"Anda mengira Nona akan menangis dan meminta penjelasan?" Steven menatapnya namun tidak berkomentar, sehingga ia memilih melanjutkan perkataannya. "Clara menjadi lebih pasif dan tidak peduli. Rasa sakit membentuknya menjadi lebih apatis. Tidakkah anda berpikir untuk memberinya ruang, Tuan? dia butuh memutuskan untuk kehidupannnya sendiri."


Steven berjalan mendekati Jun lalu mencengkram kerah bajunya. Menatapnya nyalang dengan emosi yang siap meledak.


"Jangan memancingku Jun! Ini bukan kapasitasmu untuk mengaturku!"


"Tentu saja, tapi apa anda ingat bahwa saya kembali lebih karena Clara? Saya bisa saja membawanya pergi sekarang. Itu sangat mudah anda tahu?"


Steven semakin menguatkan cengkramannya, "Aku akan membunuhmu jika berani membawanya pergi!"


Jun tersenyum sinis. "Saya tidak takut, saya mendukung semua keputusan Clara. Biar saya ingatkan, tujuan hidup saya adalah Clara, Tuan! Mati bukan hal yang menakutkan bagi saya."


"Jun!" bentak Steven, lalu memukulnya hingga Jun terjatuh ke lantai.


Steven menarik nafas, meredakan emosinya. Lalu kembali menatap Jun yang sudah kembali berdiri dengan darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.


"Berhenti memprovokasiku. Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Kamu tahu itu bukan keinginanku."


"Tapi anda bisa mencari solusi yang lebih baik, apa anda tahu selama seminggu ini Nona seperti mayat hidup?" marah Jun dengan frustasi. "Kenapa anda jadi bodoh? kemana otak jenius itu pergi? Kenapa anda tidak memanfaatkan rasa cinta Violet untuk balik menyerangnya? Dia hanya wanita yang terobsesi pada Anda dan menggunakan ayahnya dan perusahaan anda. Hanya gunakan itu sebagai pancingan. Dapatkan data itu kembali maka perjanjian bisa anda batalkan kapanpun tampa repot-repot terlibat konspirasi yang Aston buat!"


"Aku pernah mencobanya Jun, dia cukup licik. Dia benar-benar mewarisi otak ayahnya. Aku sudah menggunakan segala cara untuk merebut data itu kembali, tapi lihat apa yang ia lakukan? dia mengirim lebih banyak orang menyerang Clara dibelakangku."


"Jadi penyerangan terakhir karena dia marah pada anda?"


"Ya, itulah kenapa seminggu ini tidak ada penyerangan lagi, karena aku hanya mengikutinya dengan patuh. Aku hanya menunggu kesempatan, juga cara terbaik untuk tahu dimana mereka menyimpannya."


Jun diam sesaat, "Lalu bagaimana dengan Aston dan penelitiannya?"


"Aku hanya mengulur waktu. Violet sedang di obati dan sampai saat ini mereka belum berhasil. Keadaannya semakin menurun. Jika dia mati dalam penelitian, itu akan menjadi jalan lain untukku."


"Jalan lain?" Jun mengernyit bingung.


Steven tidak menjawab, dia hanya menyeringai. Jun menatap punggung Steven yang menjauhinya. Bertanya-tanya apa stategi yang sedang disusun oleh tuannya. Dia hanya berharap Steven cepat menemukan solusi sehingga Clara tidak lama menanggung rasa sakit.


.


Steven kembali kerumah namun keadaan diantara mereka tidak membaik sedikitpun. Clara hanya terus mengabaikannya. Menganggapnya tidak ada. Clara sangat dingin pada siapapun. Lusi saja sampai kehabisan ide untuk mengajaknya bercanda.


Cibiran pada Clara sudah mulai berkurang. Agaknya mereka hanya bosan karena Clara tidak pernah menanggapinya. Mereka juga tidak bisa membully secara terang-terangan karena Jun selalu melindunginya. Sehingga mereka hanya berani melalui verbal dibelakang punggungya.

__ADS_1


Steven sendiri juga jauh lebih dingin. Violet yang semakin memburuk membuat West kembali mengancamnya. Sementara Aston mengatakan tidak akan memberikan terapi sel yang mereka temukan pada Violet jika Steven tidak bekerja sama dengan baik. Aston tahu Steven hanya menunda-nunda. Pria itu jelas sadar Steven sudah menemukan caranya namun ragu karena setitik kebaikan yang masih ada dihatinya.


__ADS_2