
Clara memulai liburannya dengan mengikuti kemanapun Steven pergi. Tidak peduli Clara bosan, dia hanya ingin melihat Clara setiap hari. Memperhatikannya lebih lama dengan alasan saat Clara kuliah waktu mereka menjadi sangat terbatas.
"Setelah masalahku selesai dengan West aku akan mengajakmu berlibur ke Indonesia." kata Steven pagi hari saat mereka sarapan.
"Kapan akan selesai? Berapa lama?" tanya Clara dengan nada sangsi. Namun ada ketertarikan halus didalamnya.
"Aku hanya menunggu momen menghancurkannya."
"Kenapa duniamu dipenuhi kalimat seperti itu? Menghancurkan, menyerang, membunuh ... seolah hal itu bukan perkara sulit. Padahal itu sangat jahat. Kalian melanggar hukum seperti meminum kopi dimalam hari."
Clara menyelesaikan sarapannya. Steven ikut meletakkan sendok dan garpunya. Mengelap mulutnya lalu bangkit berdiri.
"Ayo berangkat, kita akan menghadiri peluncuran film yang aku sponsori." katanya, sama sekali tidak merespon perkataan Clara barusaja.
Clara menerima uluran tangan Steven tampa minat. Steven melepaskan genggamannya dan ganti merangkulnya menuju mobil.
Sesampainya di tempat tujuan, puluhan kamera memotret mereka. Clara mengernyit saat melihat sosok tegap diantara reporter. Berdiri seperti tak tersentuh dengan topi menutupi wajahnya yang tertunduk. Ketika Steven menjawab pertanyaan wartawan, Clara akhirnya melihat wajahnya.
'Jun?'
Jun tersenyum padanya, mengangkat ponselnya dan menggerakkannya pelan. Seolah mengatakan periksa ponselmu. Merasakan remasan di pinggangnya Clara menoleh pada Steven yang tersenyum padanya.
"Ada apa? Ayo masuk sayang." katanya dengan lembut.
Mau tidak mau Clara ikut tersenyum seadanya karena tengah berada di depan banyak orang. Mereka masuk kedalam diiringi sapaan hormat setiap pemain dan juga kru film. Produser film memyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di tempat yang telah disiapkan.
Steven memberi kode pada Billi untuk mendekat, lalu dia membisiki sesuatu. "Periksa diluar, untuk apa Jun ada disini." perintahnya.
Billi tampak terkejut, namun segera undur diri untuk melaksanakan perintahnya.
Film mulai dimainkan. Clara melirik Steven yang terlihat fokus pada layar. Perlahan dia memeriksa ponselnya. Benar saja, ada pesan dari Jun. Clara membukanya, matanya membola dan pikirannya tiba-tiba saja kalut.
Clara menggigit bibirnya karena gugup. Pikiran untuk kabur menyelimuti kepalanya. Benar dia ingin pergi dari dunia mengerikan disekelilingnya. Dia tidak ingin menyaksikan hal-hal jahat dan keji didepan matanya lagi. Namun hati kecilnya terasa berat untuk meninggalkan pria yang saat ini ada di sampingnya. Bagaimanapun Clara masih mencintainya.
Film hampir selesai, Clara mulai berkeringat dingin. Sangat gugup, dia menelan ludah dengan susah payah. Melihat ke arah Billi yang berjaga di sampingnya, pria itu baru saja kembali entah dari mana.
"Aku ... aku ingin ke kamar mandi." katanya pelan, Steven menoleh padanya.
"Kamar mandi? Ingin kutemani?"
Clara menggeleng dengan cepat, Steven menatap Clara sedikit lama, tersenyum hangat lalu mencium keningnya.
"Pergilah, hati-hati dan hubungi aku jika ada yang mengganggu." Clara mengangguk.
Billi mengawalnya seperti biasa, begitu Clara masuk ke dalam kamar mandi, Billi menoleh pada pintu kamar mandi pria yang baru saja terbuka. Jun keluar dari sana dengan wajah datar seperti biasa.
__ADS_1
"Tuan Jun? Anda masih disini?" tanya Billi untuk sekedar berbasa basi. Namun dari gerakan tubuhnya dia jelas bersikap waspada.
Mereka bertemu 30 yang lalu saat Steven memerintahkan Billi untuk memeriksa. Berkeliling mencarinya dan baru menemukannya setelah beberapa saat. Namun Jun berkata dia akan segera pergi. Nyatanya pria itu masih ada disekitar gedung.
"Aku memiliki keperluan dengan Clara, bisakah kami bicara?" tanya Jun dengan tenang.
"Anda tahu kalau Tuan tidak akan mengizinkan saya untuk meninggalkannya." Jawab Billi.
Jun tersenyum, lalu dengan cepat dia menyerang Billi. Mereka terlibat perkelahian yang cukup pelik. Namun bagaimanapun juga, Jun berada jauh diatas levelnya dalam bela diri. Billi pingsan dan tergeletak begitu saja di lantai.
Jun membuka pintu kamar mandi dan mendapati Clara yang terlihat gugup. Berdiri dengan tangan saling menggenggam.
"Tak apa, pilihanmu tepat untuk pergi. Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau pergi, Clar." ucap Jun. Dia mengulurkan tangannya.
Clara maju, dengan ragu mengulurkan tangannya juga. Jun tersenyum dan menariknya pergi dari sana. Menghindari pengawal yang mulai kehilangan kontak dengan Billi.
Setelah sampai di mobil, Jun menyaksikan pengawal yang berada di depan masuk kedalam dengan tergesa. Dia membawa Clara masuk ke dalam mobilnya yang ia parkir di depan gedung. Lalu pergi dari sana.
Sementara itu, beberapa pengawal menemukan Billi yang pingsan dan membawanya masuk ke dalam mobil. Carlos yang tadi menunggu di pintu masuk ruang bioskop segera menghampiri Steven dan mengabari apa yang terjadi.
"Mereka sudah pergi?" tanya Steven dengan tenang.
Melihat raut wajah tuannya, Carlos langsung mengerti. "Anda sudah tahu?"
Renjun menghubunginya, memberi kabar bahwa musuh mereka, West baru saja mengalami serangan jantung dan dalam keadaan kritis dirumah sakit. Steven memutus sambungan dan segera menghubungi Aston.
"Kenapa kid ... menikmati pertunjukanku?"
"Apa yang kamu lakukan? Ingin membunuhnya?"
"Tidak, hanya memberi sedikit peringatan, itu hanya serangan jantung biasa, paling buruk hanya stroke berat."
"Apa ini rencanamu pribadi? Atau seseorang memintamu?" Terdengar suara tawa kecil, Steven tahu, Aston telah menjawabnya. "Jangan mencampuri kehidupan pribadiku atau kerja sama kita sampai disini."
"Kid ... Jangan terburu-buru. Kenapa mempertahankan wanita yang tidak ingin bersamamu? Dia bahkan memilih pergi. Dia tidak mengharapkamu. Dia bahkan pergi bersama laki-laki lain."
Steven yang semula tenang sekarang tersulut. Dia memutus sambungan dan melempar ponselnya begitu saja. Memijit kepalanya yang terasa pening. Dia menutup mata, bersandar dan merasakan nyeri-nyeri halus yang semakin lama semakin jelas di dalam hatinya.
Dia sudah tahu, dia sudah menduganya. Clara akan memilih pergi suatu saat darinya. Namun dia benci dengan fakta bahwa dia memilih Jun untuk bersamanya. Steven kecewa, dia mencoba percaya jika Clara mungkin tidak akan meminta bantuan Jun. Jauh dari dugaannya, ternyata Jun membuat ide untuk menariknya pergi. Memanfaatkan perasaan Clara yang labil. Steven sadar, jika Aston ikut campur, besar kemungkinan Jun akan mudah pergi jauh tampa terdeteksi olehnya.
.
Clara tidak tahu bagaimana cara Jun dengan mudah memiliki pasport miliknya. Saat ini mereka sudah dalam penerbangan menuju Indonesia. Mereka akan melewati waktu panjang dan Jun sangt tahu langkah selanjutnya. Orang-orang Steven pastinya sudah menunggu mereka di bandara.
"Jun ... apa ini tidak masalah? Bagaimana kalau mereka menemukan kita? Kamu ... kamulah yang akan dalam bahaya lebih dari pada aku." lirih Clara. Sejak tadi dia memang terlihat sangat gelisah. Tidak ada rasa lega sama sekali setelah berhasil lolos dari kejaran pengawal Steven. Bahkan mereka harus melakukan penyamaran ketika sampai di bandara. Selain itu, Ben membantunya untuk berhasil lolos.
__ADS_1
"Jangan kawatir, kita akan pergi dengan aman." jawab Jun.
.
Hari-hari berlalu, Steven tidak menemukan kemana Jun membawa Clara pergi. Seminggu pasca mereka menghilang, Steven berada di ambang batasnya. Dia yang pada awalnya tegar menjadi kesulitan berpikir dan sulit mengambil keputusan. Setiap malam dia kesulitan untuk tidur hingga berakhir minum dalam jumlah banyak.
Pada awalnya, begitu menyadari niat Jun, Steven percaya diri Clara akan kembali dengan cepat padanya. Namun seminggu berlalu, tidak ada tanda-tanda Clara kembali. Dia menyesal, benar-benar menyesal melonggarkan penjagaannya saat itu.
Aston menemuinya suatu malam, mengatakan bahwa akan mencarikan wanita lain untuknya. Alih-alih mengamuk dan marah, Steven malah meneteskan air mata. Hal yang membuat Aston tersentuh untuk pertama kalinya. Entah bagaimana, dia merasakan penyesalan direlung hatinya melihat air mata Steven.
Hingga minggu berlalu menjadi bulan, keadaan Steven tidak membaik. Dia berhenti datang ke kantor. Sehingga Arnold terpaksa datang dan membantu Renjun. Sementara cabang di Singapura ia serahkan pada tangan kanannya.
Jun sendiri muncul setelah dua minggu pergi di hadapan ayahnya. Menyelesaikan urusannya dan mengatakan dia menang melawan Ben. Namun sama sekali tidak berniat memimpin organisasi. Setelah itu ia pergi lagi. Kembali dimana Clara berada saat ini. Pixu bukannya tidak mencegah, dia bahkan mengirim orang untuk mengikuti Jun. Namun Jun tidak semudah itu di atasi. Dia berhasil lolos dan menghilang ditengah perjalanan. Tidak diketahui kemana ia pergi. Yang semua orang tahu, Jun dan Clara ada di Indonesia.
Perusahaan West sendiri perlahan mengalami kemerosotan yang signifikan. Banyak saham yang jatuh ketangan pihak lain karena kebodohan istrinya. Sejak West lumpuh dan tidak bisa bicara kecuali hanya duduk di kursi roda. Istrinya menjadi penguasa dalam rumahnya. Sayangnya, istrinya sejak awal tidak mencintainya. Dia hanya menginginkan harta West.
.
Clara sedang memasak untuk dirinya. Dia sedang bekerja pada klinik hewan. Mereka berada pada satu kota kecil. Clara tinggal disebuah kontrakan sederhana sementara Jun menyewa apartemen. Keduanya selalu bertemu setiap hari. Jun tidak bekerja, dia memiliki aset bergerak yang menghasilkan, tabungan menggunung dan sedikit saham pada perusahaan Steven. Meskipun hanya dalam jumlah kecil, setidaknya Jun tidak perlu kawatir untuk masalah uang.
Jun memperhatikan Clara yang sibuk dengan ponselnya. Sejak tinggal disana, Clara memiliki kebiasaan baru. Yaitu memeriksa seluruh berita. Tujuannya hanya satu, mencari tahu keadaan Steven. Jun sadar, meskipun pergi, Clara tetap kawatir pada Steven. Clara mungkin tertawa, namun Jun tahu itu hanya tawa palsu. Meskipun tampak lebih baik karena tidak ada yang menekannya lagi, Clara tetap tidak bisa menampik rasa rindu dan cinta dalam hatinya.
"Merindukannya?"
Setelah lama hanya menjadi penonton, Jun akhirnya berani membahasnya. Selama ini dia hanya bersikap seolah tidak tahu karena mungkin Clara belum terbiasa. Namun selama sebulan ini, bukannya semakin membaik. Kebiasaan Clara semakin intens dan mengganggu. Dia bahkan terus memeriksa internet setiap ada kesempatan lalu melamun setelahnya.
"Aku ... masih memiliki perasaan yang besar padanya. Aku pikir saat itu hanya tinggal kebencian. Tapi ketika berpisah, aku baru bisa merasakannya." jawab Clara.
"Menyesal?"
Clara menggeleng, mereka sedang ada dikedai kopi kecil pinggir jalan setelah jam kerja Clara berakhir.
"Aku suka kehidupan yang jauh dari orang-orang mengerikan itu. Tapi bagaimanapun juga, aku mencintainya." lirih Clara. Dia tertunduk dengan kedua tangan menopang kepalanya. Menutupi wajahnya agar orang-orang tak melihat air matanya.
"Aku serakah sekali bukan? Aku juga sangat egois. Tapi apakah salah ketika aku hanya menginginkan dunia yang tenang?" Suaranya serak.
"Apa keputusanku salah membawamu pergi? Kita punya tujuan dan prinsip hidup yang sama. Aku pikir kamu akan bahagia jauh dari Steven. Jauh dari orang-orang dan dunia yang mengelilinginya. Hanya hidup seperti orang nomal tampa mengotori tangan kita."
Clara mengangkat kepalanya, menurunkan tangannya dan membalas tatapan Jun untuknya.
"Maafkan aku," lirihnya.
"Tidak perlu minta maaf, aku memakluminya. Kamu hanya butuh waktu untuk melupakannya. Jika kamu berubah pikiran dan ingin kembali. Aku akan mengantarkanmu padanya. Seminggu Clara, aku memberimu waktu seminggu. Jika kamu memutuskan akan tetap tinggal, maka terima aku. Aku akan membantumu melupakannya walaupun itu seumur hidupku. Tapi jika kamu ingin kembali, aku akan mengantarkanmu. Kamu tidak lupa bukan? Aku mencintaimu juga."
Jun pergi, meninggalkan Clara yang termenung memikirkan seluruh perkataannya. Keputusan apa yang harus Clara ambil, akan menentukan kehidupannya kedepan. Clara bisa melihat keinginan besar dimata Jun, juga rasa sakit yang ia timbulkan untuknya. Jun akan membantunya melupakan Steven, namun yang pertanyaan muncul dikepalanya. Apakah ia rela? Apakah ia bisa?
__ADS_1