
Clara ditangani oleh psikolog untuk trauma pasca kejadian malam itu. Sementara Steven sibuk dengan urusannya. Dia memutuskan memulai gerakan melawan pembunuh adik Arnold dengan cara mengupload vidio rekaman CCTV. Menerbitkan artikel yang segera menjadi viral. Arnold juga sudah melakukan tuntutan hukum.
Steven, Arnold dan Jun duduk didalam satu ruangan. Yaitu kantor yang biasa dipakai Arnold bekerja bersama Jun menjalakan perusahaan. Pintu diketuk dari luar, sekretaris Arnold masuk memberitahukan bahwa ada yang mencari Arnold di luar.
"Suruh dia masuk," kata Steven.
Ketika sosok itu masuk, Steven dapat merasakan luapan emosi yang keluar dari Arnold. Tangannya mengepal dengan rahang mengeras. Steven dengan santai berdiri dari kursinya dan memandang ayah Arnold dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia merasa kasihan sekaligus membenci. Ia bertemu Arnold saat beranjak remaja. Arnold sendiri saat itu masuk kedunia bawah karena tuntutan ekonomi. Ia harus membiayai pendidikannya dan adiknya. Sementara ibunya meninggal karena sakit saat ia hight school. Saat itu peran Steven sebagai otak dari tindakannya membentuknya sampai saat ini. Steven kecil dengan pikiran tak biasa mengalahkan orang dewasa, memanfaatkan Arnold untuk mendapatkan uang.
"Tuan Steven ampuni Irios. Dia sudah seperti anak saya sendiri. Tuan Arnold saya mohon pengampunanmu. Kita sudah lama bekerja sama, saya akan melakukan apapun. Tolong...tolong cabut tuntutan anda. Tuan Arnold..."
Sosok tua itu sungguh menyedihkan. Steven bahkan tidak bisa berkata-kata. Irios benar-benar memanfaatkan ayah Arnold. Ayah Arnold bahkan sampai berlutut di depan mereka. Lebih menyedihkan lagi, dia tidak mengenali anak kandungnya sendiri.
Jika itu orang lain, mungkin Arnold sudah menghajarnya sekarang. Namun lihat, dia hanya berdiri dengan wajah dingin nan kaku. Jun menarik lengan Peter untuk berdiri setelah Steven menatapnya. Lalu menggeledah Peter, ia menemukan sebuah pisau lipat di kantong celananya. Jun segera meletakkan pisau itu ketangan Steven yang mengadah.
"Cara licik tak akan berhasil untuk pria tua bodoh sepertimu." kata Steven.
Lalu seringan angin ia melayangkan tendangan hingga Peter menabrak dinding dan terbatuk-batuk.
Steven menoleh pada Arnold. Pria itu hanya berdiri kaku. Tapi tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Ponselnya bergetar, dengan santai ia menginjak dada Peter saat mengangkat telepon dari nomor tak dikenal.
"Biarkan laki-laki tua itu, Steven. Dia objekku."
Steven menarik kakinya dan kembali duduk. Cukup kesal lagi-lagi Aston mencampuri urusannya. Dari mana laki-laki itu tahu?
"Kamu memasang alat pelacak pada piliharaanmu?" tanya Steven.
Aston terkekeh diseberang, seolah pembicaraan mereka hanyalah obrolan ringan dipagi hari antar keluarga.
"Aku akan sangat berterima kasih melihat ia kembali tampa cacat. Setidaknya sampai penelitianku selesai..."
Steven tak menghiraukannya, ia memutus sambungan begitu saja dan memberi kode pada Jun untuk melemparnya keluar.
Setelah hanya mereka berdua yang ada di sana, Steven mengalihkan atensinya pada Arnold yang masih diam.
"Mau pelukan dari kakakmu ini?"
Steven berkata dengan kalimat candaan tapi nada dan wajahnya tetap datar. Arnold melangkah untuk duduk di sofa setelah melempar pandangan sinis andalannya.
"Kenapa kamu biarkan dia?"
"Aston yang mau, aku bisa apa. Dari pada dia menghancurkan gedung ini." jawab Steven, nadanya cukup serius.
"Aston? ayahku kenal dia?"
"Entahlah, yang pasti ayahmu jadi bagian kelinci percobaannya."
Arnold berdiri, menatap Steven dengan menggebu. "Temani aku menemuinya." katanya.
"Untuk apa? meminta dia melepaskan ayahmu? itu akan sia-sia, yang ada dia akan menjadikan itu senjata untuk mengendalikan aku." tolak Steven tegas.
"Setidaknya aku tahu alasannya." sahut Arnold, nadanya melemah di akhir.
"Fokuslah pada Irios, bukankah kamu mau menjebloskannya kepenjara?"
"Ya," sahut Arnold. Dia kelihatan bingung. "Tapi si tua itu bisa mati, kenapa dia bisa kenal Aston?" lanjutnya, lalu ia menatap Steven yang masih diam, menunggu ia melanjutkan perkataannya. "Kamu...bukankah kamu kemarin memukul dia karena pacarmu? dia tidak marah?"
"Tentu aja, tapi dia tidak akan membalas pukulanku. Dia itu licik..."
"Kalian mirip." sahut Arnold cepat.
Steven melempar pena yang berhasil di hindarinya. "Rapikan ruanganmu dan kerjakan gunung berkas ini." perintah Steven lalu berjalan menuju pintu.
"Kasihan Renjun yang masih bayi, dia pasti menangis sekarang." sindir Arnold. Steven tampak berfikir sesaat dan tersenyum. Dia tidak menghubunginya dua hari ini. Renjun mungkin mengadu pada Jun karena pusing dengan perusahaan.
.
Steven kembali kerumah Arnold saat larut malam. Ia bersama Jun menghabiskan waktu mengunjungi banyak tempat yang merupakan proyek dari perusahaan. Selain itu, seperti sambil menyelam minum air. Mereka juga mengunjungi pusat pabrik dimana proyek bersama dengan perusahaan Irios dan Peter berlangsung. Mencari celah tentu saja, Irios berasal dari dunia bawah dan dia terkenal curang disetiap bisnis. Maka ia akan memanfaatkan hal itu untuk memukulnya mundur, bahkan menjatuhkan kakaknya bila perlu.
Jun masuk ke kamarnya sementara Steven berdiri mematung didepan pintu kamar Clara. Ibunya sudah pulang sore tadi setelah menemani Clara menjalani konsultasi.
"Apa yang kamu lakukan disana? lebih baik kamu tidur karena dia juga pasti sudah tidur. Sampai traumanya membaik lebih baik kamu menahan diri." kata Arnold yang muncul dari arah tangga.
Tampa menjawab, Steven melangkah pergi. Menuju kamarnya sendiri. Arnold menatapnya prihatin, tidak habis pikir orang yang ia kenal berhati batu bisa frustasi hanya karena seorang gadis biasa.
__ADS_1
"Kenapa semua orang jadi bodoh kalau jatuh cinta." sinisnya sambil lalu.
Pagi hari saat makan pagi, mereka kedatangan tamu. Seorang wanita muda yang menanyakan keberadaan Clara. Jun yang mengenalinya tentu saja menaruh curiga. Meski begitu ia mempersilahkan masuk dan menyuruhnya menunggu.
Steven sedang dikamar Clara saat Jun menghampirinya. Tampaknya Clara cukup tenang. Mungkin karena efek obat yang diminumnya. Keduanya hanya saling diam. Clara dengan sarapannya dan Steven yang menatapnya.
"Tuan...ada tamu untuk Nona."
Keduanya menoleh, terutama Clara yang kebingungan. "Apa itu ibuku?" tanya Steven. Melihat Jun menggeleng pelan, Steven bangkit meninggalkan Clara yang penasaran.
Sesampainya dibawah, ia menatap datar pada wanita yang saat ini menampilkan senyum terbaiknya. Steven masih memikirkan dari mana wanita didepannya ini memiliki keberanian datang kehadapannya.
"Sindy...apa yang coba kamu lakukan?"
Ya, dia adalah Sindy, orang yang mencari Clara. Kenapa dia bisa ada disana?
Flasback:
*Beberapa hari sebelum pernikahannya, Aston bertemu dengan calon istrinya disebuah restoran hotel. Saat itu istrinya tak sendirian. Dia bersama seorang temannya.
"Baby, kenapa memilih tempat yang jauh?" tanya Aston padanya.
"Hmm... karena temanku lagi liburan dan aku ngajak dia main habis ini."
Aston tersenyum, ia menoleh pada teman calon istrinya. "Senang kamu membawa kebahagiaan untuk calon istriku, Nona...?"
"Sindy, anda bisa panggil saya begitu tuan,"
Aston terkekeh lalu bicara lagi dengan calon istrinya, obrolan ringan mengenai mereka. Sampai pada akhirnya Aston tahu bahwa Sindy pernah sekolah di tempat yang sama dengan Steven sebelum ia pindah. Dan mengatakan pacar Steven saat ini adalah sahabatnya juga.
Di lain tempat dan waktu, Aston bertemu Sindy di restoran. Membicarakan tujuan Sindy mendekati calon istrinya. Karena dari hasil penyelidikannya, Catrine tidaklah dekat dengan teman sekolah manapun karena sifatnya yang tertutup. Maka setelah mereka berbicara panjang, mereka saling berjabat tangan sebelum berpisah. Tampak ekspresi puas diwajah Sindy sementra Aston menatap punggungnya dingin.
and flasback*__
"Aku melihat berita, sedang hangat sekali di Indonesia karena kamu masuk dalam daftar tamu. Aku juga tahu Clara ikut. Aku kawatir padanya jadi jauh-jauh datang melihatnya." Kata Sindy dengan wajah polos.
"Jun ... antarkan dia kekamar Clara." kata Steven.
Sindy melebarkan senyumnya. Melewati Steven dan sengaja menyenggol tangannya. Menciptakan efek menjijikkan di wajah Steven. Ia jelas tahu maksud wanita itu melakukannya.
"Siapa dia? berani datang kesini?" tanya Arnold.
"****** pemula yang mencoba peruntungan." jawab Steven acuh.
Arnold tentu bingung. Dia tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi Steven tahu pasti, apa alasan wanita itu datang. Juga kecurigaannya akan tindakan Aston tempo lalu saat dikapal. Karena ia tahu, Aston cukup berhati-hati padanya untuk menunjukkan dominasi.
"Ada apa?" tanya Arnold melihat ekspresi jengkel diwajah Steven.
"Si sialan itu mencoba bermain licik."
"Siapa?" Arnold semakin bingung, saat Jun bergabung ia semakin tidak mengerti dengan pembicaraan mereka.
"Tuan, kedatangan wanita itu bisa mengacaukan rencana anda. Yuno mengirimi saya pesan tentang sikapnya selama setahun ini."
"Aku tahu, tapi sepertinya seseorang dibelakang dia. Cari tahu kenalannya diluar negri siapa saja."
"Baik tuan," jawab Jun dan pergi dari sana.
Arnold yang kebingungan sendiri menjadi jengkel dan emosi. Ia menggebrak meja kuat. Beradu tatapan tajam dan datar dengan Steven.
"Brengsek! apa aku patung hah! Sialan!" makinya.
"Jangan berlebihan, dude...lanjutkan saja sarapanmu. Kita ke tempat Irios setelah ini."
Arnold mengernyit, emosinya hilang tertiup angin. "Untuk apa kesana?" tanyanya.
"Memberi kejutan."
"Jelaskan! kalau tidak pergilah sendiri!" sahut Arnold ketus, dia kesal Steven tak pernah menjelaskan rencananya. Dia merasa hanya menjadi bidak catur.
"Ck, kamu jangan seperti balita."
"Hei...sadarlah! kamulah yang balita. Aku lebih tua darimu."
"Ya, tapi isi otakmu tak sebagus aku. Jadi kamu yang tetap jadi adikku."
__ADS_1
Arnold menatapnya tajam namun Steven hanya mengabaikannya. Clara turun bersama Sindy, untuk pertama kalinya sejak mereka putus, Steven melihat senyum manisnya. Mereka berpapasan di ruang tamu.
"Kembali kekamarmu, aku tak mengizinkan kamu berkeliaran sembarangan." titahnya.
"Aku hanya pergi dengan kak Sindy." jawab Clara datar
Maka, Steven beralih pada Sindy yang masih bersikap santai. "Jangan membuatku melemparmu paksa kembali ke Indonesia." katanya dingin.
"Steven! jangan keterlaluan!" bentak Clara, namun beringsut mundur saat Steven menatapnya tajam.
"Stave!" Arnold menegurnya, karena itu Steven menghela nafas.
Namun bukan bearti ia mengalah, Steven memanggil sejumlah besar pengawal dan memerintahkan mereka mengikuti Clara kemanapun bahkan untuk ke kamar mandi.
"Kalau begitu kami bisa pergi?" tanya Sindy, ia terlihat bersikap biasa saja.
Steven tak menanggapinya, bahkan ia tak menoleh. Matanya memperhatikan penampilan Clara yang hanya memakai pakaian biasa. Padahal diluar sangat dingin.
"Arnold, pinjamkan mantel hangat adikmu. Kita tidak punya waktu untuk menunggu pesanan."
Arnold dengan cepat memberi anggukan pada pelayan yang melayani Clara disini. Dengan cepat pelayan itu pergi dan kembali dalam waktu 5 menit.
"Jangan mencoba melakukan hal bodoh, aku mengawasimu."
"Jangan kawatir, aku akan menjaganya." sahut Sindy, namun lagi-lagi Steven hanya mengabaikannya. Membuat gadis itu berwajah masam.
Setelah memakaikan mantel pada Clara, ia pergi bersama Arnold. Clara menatap punggung Steven dengan sendu. Clara mencintainya, namun keinginan untuk lepas darinya mengalahkan rasa itu. Clara membenci akan apa yang terjadi di antara mereka. Benci dengan fakta bahwa tindakan Steven yang membuat kondisi ayahnya memburuk. Seandainya saat itu Steven tak memaksanya keluar dari Asrama dan tinggal dengannya. Kejadiannya tak akan serumit ini. Belum lagi Fakta bahwa teman Steven yang berusaha ingin membunuhnya, Clara hanya tidak tahu, bahwa Aston adalah musuh, bukan teman. Karena ia tidak mengerti bagaimana dunia orang-orang seperti Steven berjalan.
"Kak...bagaimana caranya bisa pergi dari dia?" tanya Clara sendu.
Sindy merangkulnya, "Ayo jalan-jalan...jangan pikirkan untuk kabur sekarang. Aku akan menemani kamu disini sampai perasaan kamu membaik," jawab Sindy.
Sementara Clara dan Sindy mengunjungi tempat-tempat wisata, Steven dan Arnold duduk tepat di depan Irios saat ini. Mereka sedang berada di daerah kekuasaan musuh. Bagian dunia bawah, arena pertarungan judi.
Irios memang memiliki kasino dan ia lebih sering disana dari pada mengurus perusahaan bersama kakaknya. Ia membangun bisnis kasino yang cukup banyak. Bahkan berkembang sampai ke bangkok dan cina.
"Ini mengharukan, teman lamaku." Sapa Irios dengan santai seolah mereka tidak memiliki masalah apapun. Mereka sedang berada dalam satu ruangan yang cukup mewah.
"Tempat ini bagian terbaik dari kasinoku, aku tidak menyangka mendapat kunjungan jadi tak menyiapkan sebaik mungkin." lanjutnya.
Dia memeluk Arnold, sosok yang sebenarnya dulu lebih dekat dari pada Steven sendiri. Arnold dan Irios adalah rekan dulu, sementara Steven hanya berada disekeliling mereka seperti banyangan Arnold. Karena Steven dibawah umur, dia bersekolah dan cukup terkenal, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaannya bersama mereka. Steven lebih suka menyembunyikan dirinya.
Arnold tidak membalas pelukan itu, ia malah mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya tepat di dada Irios, memaksa pria itu mundur dan menjaga jarak.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu." desianya.
Irios menatap senjata itu dan menarik senyum tipis. Lalu duduk disana. Memberikan gekstur pada tamunya untuk duduk. Sayangnya baik Steven maupun Arnold tak ada yang merespon.
"Kenapa kamu melakukan itu pada adikku?" tanya Arnold, Steven meliriknya. Cukup kagum ia bisa menahan emosi sampai detik ini.
Irios menunduk, menunjukkan wajah sedih dan menyesal yang jelas hanya sandiwara. "Kamu tahu aku jatuh cinta padanya. Tapi dia malah tergila-gila pada anak yang bahkan tak meliriknya. Aku kacau saat itu, aku...aku mabuk dan tak sadar. Aku mohon maafkan aku, Arnold." katanya dengan wajah mengiba.
"Lalu kenapa kamu lari? bahkan tidak pergi keacara pemakaman?
"Itu...itu karena aku masih syok. Aku kacau..."
Dorr!!
Satu tembakan terlepas, pelakunya bukanlah Arnold, pria itu bahkan terkejut dan menoleh dengan cepat pada Steven. Pelaku penembakan yang menggores pelipis Irios. Sama seperti saat Steven menembaknya, itu adalah tembakan peringatan.
"Aku sudah selesai, ayo pergi." kata Steven santai.
"Tunggu, apa yang sudah. Dia harus diserahkan kekantor polisi! dia bahkan masih santai saat aku sudah buat laporan!" kesal Arnold, ia mencengkram lengan Steven yang hendak keluar.
Steven menoleh pada Irios, melihat seringai senang diwajahnya. Lalu ikut tersenyum, membuat wajah Irios membeku. Senyum itu seakan siap mencabut nyawanya.
"Kakaknya membantunya. Bukti dan data forensik saat itu sudah lenyap dan direkayasa, rekaman vidio tak cukup kuat untuk menahannya. Kita bisa apa? lakukan pembalasan dengan cara binantang seperti dulu." kata Steven, melepaskan cengkraman Arnold.
"Aku akan melenyapkan perusahaan ayahmu kalau kamu berani menyentuhku!" ancam Irios, ia menyeka darah dipelipisnya dan bangkit. "Melenyapkan seluruh keluargamu yang tersisa," lanjutnya tajam.
Steven menatap Arnold, melihat apa yang akan ia putuskan. Arnold tak begitu peduli pada keluarganya, apalagi saudara tiri dan ibu tirinya yang sama-sama jahat. Selama ini ia hanya menaruh harapan sedikit pada ayahnya.
"Aku tak peduli lagi." jawab Arnold dingin. Lebih dulu meninggalkan mereka.
Steven tersenyum, senyum yang sama mengerikannya seperti tadi. "Irios yang bodoh dan malang__ kamu pikir kakakmu akan mendukungmu sampai akhir? kalian hanya saudara tiri." kata Arnold penuh nada ejekan. Berlalu dari sana masih dengan pistol ditangannya. Tidak repot menyembunyikan sampai ia berada di dalam mobil. Menyisakan Irios yang akhirnya menunjukkan wajah frustasi. Dia tidak bodoh untuk menyadari bahwa kakaknya membantunya hanya karena sang ayah. Jika ayahnya tahu dia memperkosa dan membunuh, ia akan tamat dari sokongan keluarga.
__ADS_1