SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
37


__ADS_3

Steven benar-benar memaksa Clara untuk mengurusnya selayaknya seorang bayi. Sifat kekanakannya sengaja ia keluarkan saat berhadapan dengan Clara. Melihat berbagai reaksi diwajah gadis itu merupakan kesenangan tersendiri baginya.


Seperti saat ini, Clara masih bersikap kaku seperti tadi pagi saat Steven menyuruhnya melepaskan pakaian atasnya. Matanya bahkan ia pejamkan ketika seluruh kancing kemeja Steven terbuka.


Dengan usil Steven melepaskan sendiri bajunya dan mengikatkannya ke leher Clara, membuat gadis itu tersentak dan reflek membuka matanya.


Karena tingginya yang hanya seleher Steven, otomatis matanya langsung mengarah ke dada telanjang miliknya. Clara menahan napas dan hendak berbalik, namun lagi-lagi Steven yang usil malah memegang bahunya.


"Apa sih!" teriak Clara dengan wajah kesal.


"Kamu harus terbiasa lihat aku tampa baju, nanti setelah nikah jadi tidak canggung lagi."


"Siapa yang mau nikah sama kamu!" ketusnya.


"Kamulah, siapa lagi. Kan cuma kamu yang mau aku nikahi. Nah, sekarang turun buatkan makan malamku!"


Steven membalikkan badan Clara dan mendorongnya pelan menuju pintu. Baju kotornya ia ambil kembali dan melemparnya sendiri ke dalam keranjang. Tertawa sendiri seperti orang gila saat mandi. Bahkan ia bersenandung kecil, hal yang tak pernah ia lakukan.


.


Pagi berikutnya, Clara kembali memasak di pagi hari. Seperti kemarin, Ia juga masih diajari oleh Willy. Koki tua itu bahkan dengan sangat sabar mengajarinya. Ia hanya bisa memasak masakan standar sementara Steven adalah manusia pemilih yang sering mengabaikan jadwal makan.


Steven berjalan santai menuju meja makan. Seluruh pelayan di dapur sudah berbaris menyambutnya. Memberikan hormat sebelum melanjutkan pekerjaan kembali.


Clara membuat sup ikan pagi ini atas petunjuk Willy. Meletakkan hasil masakannya dengan gugup karena ini pertama kalinya ia memasak untuk Steven. Kemarin Clara mendapatkan protes dari Steven, mengatakan makanannya tidak layak makan, namun dia tetap menghabiskannya. Sehingga sekarang ia cemas kalau hasilnya jadi buruk lagi. Berulang kali ia menoleh pada Willy dengan wajah kawatir. Willy memberikannya senyum ramah untuk menenangkannya.


"Apa lagi? suapi aku!"


"Oh...Hmm...Ok," Clara gugup tiba-tiba karena ia sedari tadi lebih fokus pada hasil masakannya.


Clara duduk di sampingnya dan mulai menyuapinya. Steven tidak berkomentar apa-apa. Tidak memuji ataupun mengkritik. Sehingga semua orang bertanya-tanya, apakah masakannya bisa dimakan?


"Will, bagaimana dengan tiketnya?"


"Jam 09.00 pagi ini tuan," jawab Willi.


"Kamu pergi lagi?" tanya Clara. Steven meliriknya sesaat sebelum meminum air putihnya.


"Ya, itu 2 jam dari sekarang. Bersiaplah kita akan mampir ke perusahaan terlebih dahulu." katanya dalam bahasa formal.


Steven mengelap mulutnya. Dia tidak menyelesaikan masakannya. Terlihat tergesa-gesa. Clara mengikutinya dibelakang, berniat mengantarnya ke depan seperti pelayan dan pengawal lain.


Ketika Steven sudah masuk mobil, dia menurunkan kaca jendela dan menatap Clara. Memberikan pandangan yang membuat Clara bingung.


"Anda juga ikut Nona," kata pelanyan pribadinya.


"Cepat masuk atau aku perlu menggendongmu?"


Dengan tergesa dan bingung, Clara masuk dan duduk disampingnya. Menatap Steven minta penjelasan.


" Apa aku harus mengantar sampai bandara juga?"


"Siapa bilang hanya mengantar saja, kamu lupa tugasmu?"


"Apa maksudmu? apa aku harus ikut..."


Clara tidak melanjutkan saat ia melihat apa yang melekat di badannya. Pakaian rumah dengan sendal jepit bulu. Lalu melirik pakaian formal Steven. Sontak saja ia mengumpat dalam hati. Ingin memaki tapi ingat hutangnya.


Sesampainya di depan lobi gedung perusahaan, Yuno sudah menunggu dengan beberapa kepala bagian dan staf khusus. Menyambut sang pemilik.


Steven sudah turun tapi tidak beranjak, seakan menunggu sesuatu. Sehingga semua orang bertukar pandang bingung. Steven membungkuk, membuka pintu disebelah Clara, menatap gadis itu setengah geli dan gemas sekaligus. Steven memang sengaja mengerjainya. Lihatlah betapa lucunya wajah Clara yang merengut dan pastinya memakinya dalam hati.


"Keluarlah, perlu aku gendong?"


"Aku tunggu kamu disini saja," jawab Clara.


"Turun atau aku akan benar-benar__"


"Steve! aku malu!"


Steven mengulurkan kedua tangannya. Mengangkat Clara dengan santai sehingga gadis itu menjerit. Bukan hanya Clara, seluruh orang terkejut melihat Steven menggendong Clara seperti balita yang menempel padanya layaknya anak koala. Dengan terpaksa Clara menenggelamkan wajahny di ceruk leher Steven. Wajahnya sudah memerah menahan malu.


"Dasar gila! Steven gila! tidak waras!" rutuk Clara dengan suara teredam.


Ia mengeratkan pelukannya saat Steven dengan main-main melepaskan sebelah tangannya.


Steven memang mengadakan rapat singkat dengan pemegang saham dan direktur dari setiap divisi perusahaannya. Mendengarkan laporan mereka sebelum nanti ke bandara. Dia memunculkan diri hanya untuk menunjukkan eksistensi sekaligus menilai kinerja seluruh orang yang selama ini berada dibawah kepemimpinan Yuno.


Masalahnya suasana menjadi sangat canggung karena Steven masih menggendong Clara dan ketika duduk, jadilah Clara berada di pangkuannya.


"Angkat kepalamu, ada teman lamamu disini." bisik Steven.


Clara mendongak, menoleh ke belakang, rambutnya bahkan sudah berserakan di wajahnya. Keadaannya persis seperti anak SD yang baru saja menangis, kacau sekali.


"Kak Sindy?" gumamnya pelan.


Kedua mata mereka bertemu tapi Sindy hanya menatapnya datar. Seolah ia sedang menghadapi seorang musuh. Clara yang bingung mendongak menatap Steven. Sayangnya Steven mengalihkan perhatiannya, seperti sengaja melakukannya.


"Mulailah,"


Maka rapatpun dimulai, Clara duduk dengan gelisah. Ia ingin turun tapi akan lebih memalukan baginya dengan pakaian rumah yang ia pakai.


selama kurang lebih 40 menit, rapat selesai. Semua orang keluar setelah sang pimpinan tertinggi keluar. Willi menunggu diluar dan mengawal mereka seperti biasa.


"Aku boleh bertemu kak Sindy sebentar?"


"Tidak ada waktu," jawab Steven singkat.

__ADS_1


Clara meminta hal itu karena ia melihat Sindy menatap mereka di depan pintu saat mereka mulai menjauh. Clara tersenyum padanya dan melambai memberi sapaan, tapi Sindy hanya memasang wajah datarnya. Hal itu tentu saja mengganggunya, ada tanda tanya besar dikepalanya. Selama mereka tidak bertemu, apakah ada yang terjadi?


Perubahan sikap wanita yang sudah ia anggap kakaknya itu terus berputar-putar dikepalanya. Ketika Steven sudah meletakkannya kembali ke kursi disampingnya, barulah ia tersadar mereka sudah di dalam mobil.


"Mana barang yang aku minta?"


Willi menyerahkan sebuah paper bag pada Steven saat ia sudah duduk di bangku kemudi. Steven mengeluarkan isinya lalu memasangkannya ke tubuh Clara yang sudah duduk kembali disampingnya.


"Kenapa memberikan aku mantel setebal ini?"


"Di Amerika sedang musim dingin,"


"Tunggu, kamu akan membawa aku kesana?"


"Kenapa? Bukannya tadi aku sudah bilang?"


"Tapi...tapi tokoku..." lirih Clara.


"Sudah aku jual," jawab Steven santai.


Clara mendelik padanya, sudah bersiap mengeluarkan kata-kata pedas sebagai luapan amarah sebelum tangan Steven membuatnya diam. Tangan besarnya merapikan rambut Clara yang berantakan. Menyisirnya dengan jari lalu membenarkan ikat rambutnya. Siapa yang tidak salah tingkah kalau diperlakukan semanis itu?


"Aku bercanda, sudah kuserahkan pada orangku untuk mengurusinnya, jd tenang saja. Kamu masih kaku pakai bahasa inggris kan? mulai sekarang biasakan denganku."


"Aku kan hanya dirumah saja." Suaranya Clara memelan diakhir karena salah tingkah akan tatapan Steven yang intens.


Pria itu tersenyum 'membuat dia dengan suka rela berada disisiku dengan cara ini tidak buruk juga' monolognya.


"Benar cuma mau dirumah saja?"


Clara melirik sekilas, merotasikan matanya kala melihat senyum usil itu.


"Jangan berfikir mau mempermainkanku!"


"Tidak tuh," sahutnya dengan nada usil, Clara merotasikan matanya lagi. Dia sama sekali tudak ingin bercanda. Hubungan mereka tidak sebaik itu untuk saling tertawa satu sama lain, itulah yang ada dikepalanya.


Mereka sampai di bandara dengan tepat waktu. Penampilan Clara dan keberadaannya di bandara bersama Steven cukup menarik perhatian. Bahkan beberapa kamera mengabadikan mereka. Selain namanya, pesona Steven memang tak perlu diragukan lagi.


.


*Flasback


Sindy duduk di depan meja kerja ayahnya. Menunduk dalam dan hampir saja menangis. Pecahan kaca bekas gelas yang dibanting ke lantai berserakan disampingnya. Sementara sang ayah menatapnya dingin.


"Dulu aku menyetujui permintaanmu karena kakeknya masih dilevel kita. Sekarang kamu minta perjodohanmu dilangsungkan lagi? apa kamu bodoh? Mr. Kim lebih layak kamu kejar dari pada anak tak berguna itu!"


Sindy mendongak, matanya sudah berkaca-kaca.


"Pa ... Steven sudah punya Clara, dia juga tidak tinggal di Indonesia lagi, lagipula dia tidak akan pernah tertarik sama Sindy!" tekan Sindy dengan putus asa.


Sindy adalah anak keduanya. Kakak laki-lakinya yang bertindak sebagai penerus tidak bisa membuat Yuno membantu mereka apalagi Steven. Meskipun mereka terikat kerja sama dan salah satu pemegang saham, tidak menjadikan mereka bisa mengatasi masalah finansial perusahaan yang kacau. Kerugian mereka bahkan berimbas pada perusahaan Steven. Karena itu Steven sudah menegaskan akan memutus kerja sama setelah kontrak berakhir. Hal itu tentu tidak diinginkan oleh ayah Sindy. Jika hal itu terjadi maka dipastikan mereka akan bangkrut.


Sindy jelas masih sangat mencintai Aldo. Tapi sejak Steven muncul kepermukaan dan kakek Aldo dihancurkan oleh ambisinya yang salah memilih korban keserakahan, Sindy dipaksa mendekati Steven. Sayangnya dalam setahun ini, dua kali ia bertemu Steven tapi pria itu sama sekali tidak meliriknya. Bahkan dia tidak menyentuh semua hadiah yang ia berikan. Lalu harus dengan cara apa lagi?


"Apa yang kamu lamunkan? cara menaklukkan Steven?"


Sindy tersentak dan reflek mendongak. Aldo berdiri di hadapannya dengan segelas cup kopi ditangannya. Tampaknya ia baru saja keluar dari kampusnya.


Sindy dan Aldo memang satu Universitas beda jurusan. Kafe tempatnya duduk saat ini memang tempat yang sering mereka kunjungi dahulu bersama yang lain.


"Silahkan duduk, aku akan pergi."


"Tidak perlu, aku juga buru-buru." jawab Aldo cepat. "Dari pada mendekati Steven dan pasti berakhir kegagalan, kenapa kamu tidak rayu CEO saat ini? dia orang kepercayaan Steven, bukan?" lanjut Aldo.


Sindy jelas merasa terhina, tapi ia sadar apa yang ia lakukan memang cara yang rendahan. Merayu pemilik perusahaan agar mau membantu mereka, bukanlah hal profesional. Namun bukan hal yang baru juga, banyak pebisnis wanita yang memang menggunakan dirinya sebagai bahan bujukan.


"Bukannya kamu akan senang kalau aku memisahkan mereka?"


Aldo yang tadi akan melangkah kini sepenuhnya berbalik, duduk dan menatap Sindy datar.


Aldo tersenyum sinis, "Kualifikasi apa yang membuatmu merasa bisa? Kamu ataupun aku bukan siapa-siapa untuk menciptakan huru hara licik diantara mereka. Lagipula...aku lebih suka Clara bahagia sekarang."


Aldo bangkit dan pergi. Meninggalkan Sindy dengan semua perkataannya yang membuat wanita itu meneteskan air mata. Bukan karena dia yang direndahkan, tapi akan ketidak pedulian pria yang dicintainya. Aldo memang berubah setelah kakeknya kehilangan kekuasaan. Dia lebih kalem seperti awal mengenal Clara. Apalagi sejak tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa menang melawan Steven.


"Kalau begitu aku akan tunjukkan padamu, bahwa aku bisa menghancurkan hubungan mereka," lirihnya. Menarik tisu diatas meja dengan kasar dan pergi dari sana.


Kilatan penuh kebencian dimatanya terlihat jelas. Aura balas dendam akan hatinya yang terluka memenuhinya saat ini. Apa yang akan ia rencanakan?


.


Clara masih terpaku ditempat saat keluar dari mobil. Dia tidak bisa mendefenisikan seperti apa kemewahan mension Steven disini. Yang pasti jauh lebih luas dan terkesan lebih asri. Berada dikawasan elit dengan tetangga yang sangat jauh karena luasnya pekarangan. Karena berada dikawasan kota, tidak seperti Indonesia yang dikelilingi pepohonan. Wilayah ini minim pohon besar. Hanya taman bunga dan beberapa pohon yang tidak terlalu tinggi yang ada disana.


Clara merasakan tangannya digenggam. Ia mendongak dan mendapati senyum menawan sang pemilik rumah.


"Selamat datang dirumahku. Ayo, aku akan tunjukkan dimana kamar pengurusku ini." kata Steven, dengan lembut menarik tangan Clara untuk masuk.


Rumah ini tidak banyak penghuni, hanya ada sepuluh pelayan yang berjejer menyambut mereka. Semuanya laki-laki dan mereka orang Amerika. Tentu saja ini hanya sebagian yang terlihat. Faktanya rumah ini memiliki banyak pengawal disetiap sisi. Hal itu dilakukan Steven tepat saat ia meutuskan membawa Clara bersamanya. Bahkan pintu belakang dan depan dijaga doberman dimalam hari.


"Kamarmu ada dilantai 4."


Steven menekan lift dan mereka naik ke lantai 3. Jika Clara tidak terbiasa dengan kemewahan di mension lama Steven di Indonesia, mungkin saat ini ia akan menganga lebar. Steven jelas sudah menyulap lantai 4 berbeda jauh dengan lantai lain dirumahnya.


"Suka? kalau kamu tidak suka besok aku bisa merubahnya sesuai seleramu. Pengurus hidupku harus nyaman disisiku."


Clara mengabaikan ocehan Steven. Dia melepaskan genggaman tangan pria itu untuk mengamati lukisan 3D di dinding. Menyusuri pinggir kolam renang di salah satu sisi dekat balkon. Lalu kini mulutnya benar-benar terbuka saat melihat seluruh keindahan di lantai itu dari ruang ke ruang. Steven benar-benar menghiasi seluruh dinding dengan lukisan alam yang seperti hidup. Belum lagi lukisan dan bunga-bunga indah yang tak pernah dilihat Clara di Indonesia.


"Berapa banyak kamu menghabiskan uang untuk lantai ini saja? Ini indah...sangat indah."

__ADS_1


Clara mengatakannya nyaris tak sadar. Ia hanya menggumam pelan. Namun karena Steven mengikuti kemana langkahnya, tentu saja ia mendengarnya.


"Disana itu adalah kamarmu. Lalu pintu sebelahnya adalah kamarku."


Clara menoleh kearah yang ditunjukkan Steven, berjalan kesana dan membukanya. Kamarnya tidak jauh berbeda dengan yang ada di mension lama, nuansa biru dan pink lembut menghiasi seluruh ruangan. Hanya lebih luas 2 kali lipat.


"Masuk dan istirahatlah," kata Steven.


"Kamu mau pergi?" tanya Clara, melihat gelagat Steven.


"Aku ada janji dengan seseorang, turunlah kedapur jika lapar. Aku tidak mengizinkan siapapun pergi ke lantai ini. Kalau butuh bantuan pakai alarm yang ada dikamarmu. Itu terhubung ke lantai bawah dimana pelayan dan pengawal berada."


"Mereka sungguh tidak boleh kesini? waktu kamu sakit atau dalam bahaya bagaimana?"


Steven tersenyum, "Sebelumnya aku tidak pernah mengisi lantai ini. Aku tidur dikamar lain. Kalau ada bahaya, itu pengecualian," Steven melangkah mendekatinya, merengkuh pinggang Clara dan mendekatkan bibirnya ketelinga gadis itu. "Jangan berkeliaran tampa aku. Meskipun mension ini dalam kekuasaanku, aku tidak tahu kapan penyusup masuk."


Steven merapikan rambut Clara dan meletakkannya di belakang telinga. Menyentuhnya dagunya lembut, memaksa Clara mendongak untuk melihatnya.


"Aku membawamu dengan resiko, Clara. Duniaku tak senyaman dan seaman yang terlihat. Jadi patuhi aku, hanya percaya padaku."


Clara merinding, bulu kuduknya meremang karena kengerian suara Steven saat bicara. Auranya sungguh berbeda dari biasanya. Dia terlihat seperti orang lain.


"La...lalu kenapa kamu bawa aku kesini kalau bahaya?"


Mendenganya Steven tersenyum kecil, dia melepaskan Clara dan mundur selangkah. Clara merasakan seluruh persendiannya perlahan kembali rileks. Dengan berani menatap mata pria dihadapannya.


"Karena aku butuh melihatmu." jawabnya.


"Itu egois, Steve! Aku juga punya kehidupan. Setelah hutangku lunas kembalikan aku ke Indonesia."


Steven bisa melihat garis amarah diwajah gadisnya semakin banyak. Tapi tidak berusaha meredakannya.


"Kita lihat nanti, kalau kamu bersikap baik akan aku pikirkan."


"Kamu!"


Clara tidak bisa melanjutkan ucapannya. Steven sudah berbalik dan meninggalkannya. Menyudahi perdebatan mereka.


Sesungguhnya Clara lelah, dia bingung menghadapi Steven yang sering berubah-ubah. Kadang ia sangat lembut dan terlihat sangat mencintainya. Dilain waktu bisa langsung berubah seenaknya dan menjadi pemaksa.


Amerika sudah malam meskipun mereka berangkat dipagi hari. Perubahan waktu dan cuaca membuat Clara lebih lelah dan stres. Ia dengan enggan masuk kedalam kamarnya. Berniat mengganti baju sebelum ia kembali menganga. Dimana ia membuka satu pintu yang ia kira lemari besar biasa, nyatanya itu adalah satu ruangan penuh berisi pakaian wanita bahkan dengan segala aksesoris dan perlengkapan lain. Ruang ini bahkan lebih luas dari kamarnya sendiri.


'Dia membangun butik dikamar ini, semua dengan merk mahal. Hutangku bahkan tidak seberapa dibandingkan isi tempat ini,'


Clara meratapi nasibnya. Dia seperti sedang dibeli oleh pria tua kaya untuk melunasi hutangnya dan dimanjakan dengan barang mewah demi melayani tuannya. Bagusnya, Steven bukan pria tua, malah pria muda mapan dengan sejuta pesona. Yang terpenting pria itu mencintainya walaupun dengan semua sifat buruknya.


.


Clara berjalan ke balkon, melihat ke halaman belakang dari mension. Ada beberapa orang terlihat berlalu lalang. Mereka adalah para pengawal yang sedang berpatroli.


Dari tempatnya ia juga bisa melihat, jauh disebelah kanan ada sebuah mension juga. Terihat tidak kalah besar dan mewah. Hidup sebatang kara saat ini membuatnya tidak memiliki banyak harapan bahkan ketakutan.


'Steven...kamu berbeda. Kamu jelas berbeda. Kenapa kamu bawa aku kesini? ini bukan tempatku. Aku tidak suka disini. Semua asing...'


Clara menghela nafas panjang. Berbalik dan berjalan menuju tepi kolam renang. Memasukkan kakinya ke air diudara yang nyaris membekukan.


"Huh?"


Clara baru menyadari ada asap-asap halus dari permukaan air ketika ia merasakan hangat dikakinya. Pikiran kalutnya ingin menyakiti diri sendiri, sayangnya yang ia dapatkan malah kekaguman lagi dan lagi akan fasilitas tempat ini.


"Aku bodoh sekali!" lirihnya.


Clara membuka asal bajunya dan meletakkannya di pinggir kolam. Dia hanya mengenakan pakaian dalam karena memang tidak ada siapapun. Masuk ke dalam kolam dan berendam dengan nyaman.


Cukup lama ia disana, Clara bahkan sempat berenang lalu kembali santai di pinggir kolam renang. Tidak menyadari 5 menit yang lalu seseorang menatapnya dalam posisi kaku yang canggung. Clara berbalik, berniat menyudahi acara berendamnya sebelum matanya membola karena terkejut.


Dengan cepat ia menurunkan tubuh bagian atasnya hingga leher guna menutupi tubuhnya. Menatap pria yang kini menampilkan seringaian nakal.


"Aku sengaja kembali dengan cepat untuk mengajak kamu makan malam, walaupun sudah agak larut tentu saja karena perbedaan waktu. Tapi sepertinya kamu lebih suka aku yang makan sendirian, hm?" goda Steven.


"Makan aja sendiri, aku tidak lapar! kamu bisa pergi sekarang!"


Clara yang polos tentu tak paham arti kalimat terakhirnya. Karena itu ia semakin menggodanya dengan cara melepaskan jas dan mulai membuka kancing kemejanya.


"Tung...tunggu! ngapain kamu buka baju?"


Steven tersenyum, "Bukankah kamu yang menyuruh aku cepat makan, jadi aku akan turun kesana dan segera makan." jawabnya santai.


Alarm Clara akhirnya berbunyi. Ia akhirnya paham. Wajahnya yang sudah merah karena terlalu lama berendam semakin merah saja.


"Mesum! pergi sana!"


Steven tertawa geli. Dia sudah membuka seluruh kancing namun tidak melepasnya. Sengaja berjalan ke pinggir kolam mendekati Clara.


"Pe..pergi! aku mau berpakaian!" Clara tidak berani menatapnya lagi. Dia sudah gugup dan takut.


"Mandilah dulu baru berpakaian,"


Clara kesal, Steven menyuruhnya namun tak beranjak dari sana.


"Naik, lebih lama lagi kamu bisa pingsan,"


Steven benar, kakinya sudah lemas. Dia juga kelaparan sekarang. Dengan seluruh rasa malu dan takutnya, Clara naik dengan cepat. Berjalan cepat nyaris berlari.


"Aku harus cepat nikahin dia!" gumam Steven dengan wajah memerah. Matanya tidak lepas dari tubuh Clara sampai gadis itu menghilang dibalik pintu.


Jantungnya sejak awal sudah berdebar kuat. Tubuhnya terasa panas, namun memilih menggoda Clara dari pada menghindarinya. Sehingga sekarang ia dengan kesal menyesali diri sendiri yang harus kepayahan.

__ADS_1


__ADS_2