
Steven meminum teh hijau dengan setengah tubuh bagian bawahnya berada dibawah air. Sungai buatan itu benar-benar dibuat sesuai selera dan kepribadiannya. Meskipun terlihat suram namun terkesan elegan ditengah rimbunan pohon. Tatanan sempurna tampa hiasan bunga, hanya ada batu-batu kali besar yang disusun epik. Juga Beberapa tumbuhan langka yang sengaja ditanam disana.
"Si tua itu ingin menjual namaku demi sekolahnya." kata Steven saat Yuno sudah duduk di salah satu kursi kayu dipinggir sungai.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?"
"Buat kekacauan diperusahaan barunya."
Yuno melirik dua orang yang datang dari arah sampingnya. Cukup penasaran dengan orang yang berjalan bersama dengan Jun.
"Saya pikir Hutman bisa mengatasi surat-surat pengalihan kekuasaan tampa kendala Tuan, maksud saya ... ijazah anda hanya akan berpengaruh pada penilaian pemegang saham."
"Itu benar, tapi aku tidak suka ada yang cacat. Saat aku tampil ke depan umum aku harus sudah lulus!"
Yuno berkedip beberapa kali. Sebenarnya itu adalah sisi kekanakan dari bosnya saja. Bahwa dia tidak ingin dipandang sebagai anak-anak. Karena itu ia bersikeras mendapatkan ijazah. Sementara mereka tidak bisa menunda lagi apabila tidak ingin rugi besar pada proyek baru mereka.
"Baik, saya akan mengurusnya." jawab Yuno lalu melirik Jun dan memberi anggukan pelan. Mempersilahkan bicara duluan.
"Tuan, dia Willi. Sudah bekerja dengan kita selama 2 tahun. Sejauh ini dialah yang menggantikan saya disini saat saya mengikuti anda."
Steven menatap pemuda bernama Willi itu. Terlihat lebih muda dari Jun tapi tentu saja lebih tua darinya. Willi memiliki postur tubuh lebih pendek beberapa senti dari Jun tapi tidak lebih kecil. Willi menunduk memberi hormat dan memperkenalkan diri dengam sopan. Suaranya terdengar kuat dan tegas.
"Dia mantan tentara atau apa?"
Willi tampak tercekat, raut kawatir terlihat halus diwajahnya. Membuat Steven memiliki keinginan mengetes kepribadiannya saat itu juga.
"Dia lulusan akademi militer angkatan udara tiga tahun yang lalu, tuan."
"Dia menghianati negaranya atau berbuat kriminal?"
Kali ini Jun tidak menjawab, karena ia tahu Steven ingin Willi sendiri yang menjelaskannya. Hening beberapa detik hingga Willi memberanikan diri untuk bicara.
"Saya mencelakai atasan saya, karena itu saya dipecat."
"Kenapa? kamu ditindas?" tanya Yuno.
Willi terdiam cukup lama. Steven sudah naik kedaratan dan langsung dipakaikan jubah mandi oleh Jun. Menutupi garis sempurna otot-otot di tubuh itu. Yuno bangkit berdiri, mengikuti tuannya.
"Apa dia cukup baik?"
Nada bicara Steven jelas berbeda. Ada keraguan besar disana. Selama ini memang belum ada yang menggantikan posisi Jun. Namun untuk mendampingi Arnold, hanya Jun yang bisa menanganinya.
"Saya yang akan menjamin, Tuan." jawab Jun dengan tegas.
"Baiklah, panggil teman-temanku ke mari."
Yuno mengikuti Steven menuju kamar tuannya. Menggantikan peran pelayan memilihkan pakaian saat Steven membersihkan diri. Selanjutnya Steven memasuki ruang game yang terletak dilantai 3 rumah itu.
"Tuan, apa aku hanya akan menemanimu bermain? anda seperti sedang patah hati." keluh Yuno.
"Aku memang sedang patah hati, jadi hibur aku!" jawab Steven dengan santai.
Yuno tentu saja tertegun, dia sedang melihat sisi lain tuannya yang tak pernah ia lihat. Saat ini Steven tampak sedikit tertekan. Biasanya Steven hanya menampilkan raut layaknya pria dewasa yang sempurna tampa beban. Steven meraih stik game dan melirik Yuno tajam.
"Kenapa masih berdiri, cepat ambil stikmu!"
Yuno duduk bersila disampingnya dengan pasrah. Sementara dia sedang duduk bermain game dengan tuannya, dia jadi kasihan dengan sekretaris dan asistennya yang sedang menggantikannya mengerjakan tumpukan berkas dikantor.
"Kamu punya pacar?"
"Tidak tuan, waktu saya habis di perusahaan." jawab Yuno sekaligus menyindir.
"Kamu tudak laku?" tanya Steven. Dia mengatakannya dengan nada dan wajah teramat datar. Membuat Yuno meliriknya pasrah sebelum menghela nafas.
"Apa maksud anda, saya pernah punya pacar."
Steven menarik sudut bibirnya, "Kenapa kalian putus?"
Yuno berdehem namun tidak menjawab sampai Steven meliriknya tajam. Memaksa menjawab pertanyaannya.
"Hmm...itu...sebenarnya saat itu saya masih kuliah. Dia berselingkuh dengan pria yang lebih kaya."
"Nah, perempuan itu suka uang bukan? tapi kenapa dia malah ingin meninggalkanku?"
"Maksud anda nona Clara?" Yuno melirik tuannya yang kini diam. Bahkan dia berhenti bermain, "Mengingat dia sudah tahu identitas anda ... saya rasa dia takut pada anda," lanjut Yuno.
Steven melanjutkan permainannya, dia hampir kalah karena berhenti tiba-tiba, "Itu masalahnya, kenapa dia takut. Aku tidak pernah memukul dia."
Yuno tersenyum masam. 'anda tidak pernah memukul dia, tapi dari cerita yang saya dengar anda melakukan kekerasan dihadapannya' kata Yuno dalam hati. Tidak berani mengatakannya.
"Lagi pula semua orang memang takut dengan anda, apalagi dengan kekuasaan anda, Tuan."
Steven melempar stik gamenya dan menghadap Yuno. Membuat Yuno gelagapan. Takut Steven akan marah besar. Melihat reaksinya, Steven mendengus dan bangkit. Duduk di atas sofa panjang di sudut ruangan.
"Renjun akan diganti dengan Arnold. Renjun akan kembali keposisi awal sebagai asisten pribadiku."
"Anda akan membuangku?" tanya Yuno dengan raut sedih yang dibuat-buat. Jelas dia tahu Steven hanya akan memindahkan posisinya ke Amerika dan memimpin disana.
__ADS_1
"Saya tidak mau ke amerika, Tuan. Kenapa tidak Renjun dan biarkan saya disisi anda?" lanjut Yuno setengah merengek.
"Pasang wajah menjijikkan itu lagi maka aku akan menendangmu! Renjun tidak punya dasar ilmu bisnis. Selama ini dia bekerja dibawah arahanku dan kamu! membantahku maka aku akan benar-benar membuangmu!"
Steven melirik kearah pintu. Tahu teman-temannya sudah sampai. Ketika pintu terbuka dia melihat Sam, Ted dan Bob masuk dengan wajah tidak percaya. Menatapnya berjejer di depan pintu.
"Kamu brengsek yang punya banyak rahasia!" kata Bobbi.
"Punya mension semewah ini untuk apa menyuruh kami mencari apartement!" lanjut Sam.
"Dia hanya mau pamer!" tambah Teddy.
"Ngomong-ngomong kami membawa kejutan," kata Sam dengan seringai setan diwajahnya.
Steven hanya menatapnya datar sebelum Sam menyingkir dari pintu dan menunjukkan seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Steven bangkit berdiri. Bibirnya hendak bicara namun kembali terkunci saat Clara memberikan pandangan tampa ekpresi.
Melihat reaksi keduanya, mereka bisa menebak bahwa keduanya menjadi canggung satu sama lain. Oleh karena itu, lewat pandangan mata mereka sepakat untuk keluar dari sana.
"Kami akan memberi waktu. Bicaralah!" kata Sam, ia keluar dan diikuti oleh yang lain termasuk Yuno yang memohon izin kembali ke kantor.
"Duduklah,"
Clara tidak duduk. Dia mengeluarkan amplop dari tas ranselnya dan berjalan kedepan Steven. Menyodorkan amplop coklat pajang itu. Steven jelas tahu apa isinya, dan garis tidak suka seketika muncul dibalik tatapan tajam itu.
"Tolong terima ini, ayah bilang dia akan membayar hutang rumah sakit sedikit demi sedikit. Untuk uang sekolah aku mohon waktu untuk membayarnya."
Suara Clara makin mengecil saat Steven tidak kunjung mengambil amplop itu. Tangannya bahkan sudah mulai gemetar.
"Tolong ... meskipun kamu tidak butuh..." Clara semakin frustasi saat Steven hanya berdiri diam. Menatapnya dengan datar.
Clara melirik meja kecil disamping alat game dan meletakkannya disana. "Aku harap kamu maafkan aku, kelak kalau kita tidak sengaja bertemu ... anggap aja kita teman satu sekolah, terima kasih sudah baik denganku selama ini."
Clara akhirnya menatapnya. hendak berbalik namun langkahnya terasa berat. Mata itu seperti menghipnotisnya untuk tetap tinggal. Clara memilih meneguhkan hati dengan memikirkan ayahnya yang masih sakit. Dia tidak ingin membuat ayahnya semakin parah karena hubungannya dengan Steven. Bagi ayahnya, Steven pengaruh yang sangat buruk untuknya karena perkataan manipulatif adik tirinya.
"Apa ini keinginanmu saat ini?"
Clara menunduk, berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, dia menjawab pertanyaan itu dengan air mata yang sudah menetes.
"Ini keinginanku sendiri." Clara segera keluar. Berlari begitu saja melewati teman-teman Steven yang kebingungan melihatnya.
Dilantai satu Clara terhenti karena bertemu Jun dan Arnold yang baru masuk dari pintu depan. Jun sedang menjelaskan sesuatu saat ia melihat Clara yang tampak ketakutan saat melihat Arnold.
"Nona, anda ..."
"Kenapa dia ada disini?" tanya Clara curiga. Pikiran buruk langsung merasukinya.
Jun langsung menyadari bahwa Clara salah paham saat ini. Mengira bahwa penculikan dia tempo hari itu hanyalah kamuflase. Pikiran pendek yang bisa saja terbentuk dari pikiran labil gadis yang belum dewasa.
"Halo Clara, aku rasa Steven sudah memberi tahu bahwa aku salah paham padanya. Itu benar, jadi sekarang kami kembali jadi teman."
Arnold yang akhirnya menjelaskan dengan aksennya yang kacau. "Tapi bukannya tidak ada bubungannya lagi dengan kamu? jadi kenapa kamu ingin tahu?" lanjutnya dengan senyum palsu minta di tampar. Jun jelas sudah melemparkan tatapan tajamnya.
Clara baru sadar, merasa tertampar saat Arnold mengingatkannya. "Kamu tahu kami berakhir?" lirihnya tampa sadar.
"Hanya menebak, anak itu sangat buruk dengan perempuan."
Clara tidak menanggapi lagi, dia segera pergi begitu saja. Menghilang dibalik pintu utama yang tinggi.
Arnold menatap kedalam mata Steven yang juga menatapnya. Terlihat jelas Pria itu menantang Steven yang sedang emosi.
Steven memanggil pengawal yang berjaga disudut lorong dengan tangannya. Mengambil pistol disaku pengawal itu dan mengarahkannya pada Arnold. Semua orang tentu saja terkejut dan waspada. Teman-temannya bahkan sudah ketakutan.
"Steve...please...!" lirih Teddy dan Sam bersamaan.
Sayangnya Steven tidak mendengarkan. Dia menarik tuas pelatuk. Arnold tampak santai. Tidak ada raut ketakutan sama sekali diwajahnya.
Dor!!!
Satu tembakan terlepas, Arnold tetap berdiri di tempatnya, mentap Steven dengan senyum remeh. Jun bisa melihat pelipisnya yang mengeluarkan darah. Peluru itu hanya menyerempet sisi kanan dari pelipisnya. Menggores cukup dalam namun tidak sampai ke tengkorak.
Tampaknya Arnold sudah memperkirakan itu. Karena itulah ia tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Dia mengenal Steven dengan baik.
Steven melempar piatolnya ke lantai dan pergi menuju ruang baca. Masuk kesana dan menutup pintu. Memerintahkan kepada siapapun bahwa tidak ada yang boleh masuk.
Teman-temannya saling bertatapan. Bingung mau melakukan apa. Maka mereka hanya menunggu di ruang game tadi sambil memainkan beberapa game dengan malas. Kepala pelayan menyajikan mereka beberapa cemilan. Menyiapkan untuk tuan mereka juga tapi terlalu takut untuk mengganggu. Maka kepala pelayan hanya berdiri di depan ruang perpustakaan itu. Menunggu perintah jika saja tuannya lapar.
Dua jam berlalu, Sam memutuskan akan menghampiri Steven tidak peduli akan terkena imbas kemarahannya. Teddy dan Bobby akhirnya mengikutinya.
Ketiganya saling pandang saat melihat beberapa pelayan, Jun dan Willi masih berdiri didepan pintu. Menghampiri mereka dan mengetuk pintu.
"Apa dia mengunci pintunya?" tanya Teddy.
"Sepertinya tidak," jawab Jun.
Maka dengan pelan Sam membuka pintu dan dihadiahi lemparan buku yang cukup tebal. Jika refleknya tidak bagus, dapat dipastikan kepalanya sudah bengkak.
"Steven ini kami!" kata Sam pelan.
__ADS_1
Steven tidak bereaksi, dia hanya duduk menghadap jendela besar yang terbuka. Melihat tidak ada penolakan lagi, maka teman-temannya memberanikan diri menghampiri. Duduk di sekitarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Sam.
"Steven, kalian putus?" tanya Teddy hati-hati.
Ini pertama kalinya Steven jatuh cinta. Jadi ini pertama kalinya juga teman-temannya menghadapi Steven yang seperti ini.
"Ayo pikirkan sebuah rencana, ok!" hibur Bobby.
Steven melirik mereka tampa minat, "Aku hanya terpukul sedikit. Beraninya dia membuangku tampa memikirkan solusi. Dia pikir aku akan melepaskan dia begitu saja? lihat nagaimana aku akan buat dia terikat!" kata Steven, setiap katanya penuh tekanan dan amarah yang bertumpuk dari rasa kekecewaan.
Teman-temannya saling bertukar pandang, tidak berani berkomentar lagi.
.
Paginya Steven sudah kembali kekediaman ayahnya. Menerima tatapan penuh pertanyaan dari ayahnya karena tidak memberi kabar dan tidak bisa dihubungi sejak kemarin.
"Steven ada apa denganmu? ayah juga mendapat kabar akhir-akhir ini kamu jarang datang ke sekolah."
Steven baru ingat ayahnya punya teman disekolahnya. Tentu saja ayahnya tahu apa saja yang dilakukannya disekolah. Hanya saja selama ini ayahnya masih menahan diri. Karena tahu Steven bisa mengatasi masalahnya.
"Bagian mana yang ayah ingin tahu lebih dulu?"
Ayahnya memberikan pandangan penuh kebingungan. Anaknya tahu dia mengetahui apa yang terjadi disekolahnya tapi Steven terlihat biasa saja. Seolah tidak terganggu saat ayahnya mencurigainya melakukan hal-hal yang diluar batas.
"Kemarin, saat dompetmu tertinggal, ayah tertarik untuk tahu karena penasaran. Lalu ayah menemukan 3 black card. Jadi ayah mencari tahu seperti apa kamu disekolah," ayahnya menjeda, semakin curiga dan penasaran saat melihat wajah santai anaknya. "Teman ayah bilang kamu juga melunasi biaya sekolah teman perempuanmu, Clara kan? Dari mana kamu dapat uang dan kartu elit itu?"
"Kalau saya bilang dari ibu apa ayah akan percaya?"
"Jangan bercanda, ibumu bahkan tidak akan memiliki satu dari benda itu. Juga tidak akan mengirimkan uang yang terlalu banyak ditengah skandalnya."
Steven terkekeh, mengangguk seakan membenarkan.
"Ayah...akan tiba saatnya saya mengatakan kebenarannya. Tapi tidak sekarang. Tolong hanya percaya dengan anakmu ini."
"Kamu tidak masuk kelompok kriminal, kan?"
Steven tertawa pelan. Ayahnya sungguh pria polos. Karena itulah ibunya mudah bosan padanya. Pria tulus dan polos yang membosankan.
"Ayah bisa terkejut nanti, jadi pelan-pelan aja, untuk saat ini ayah cuma perlu tahu bahwa saya punya beberapa bisnis,"
"Bisnis apa?" sahut ayahnya cepat.
"Nanti ayah, saat ini saya harus pergi. Selamat bekerja dan hati-hati dijalan."
Ayahnya menatap punggung anaknya dengan wajah bingung dan kawatir. Apa yang dikatakan anaknya malah menambah kekawatirannya. Tidak memberinya ketenangan apapun.
.
Steven sedang mengendarai mobilnya saat Yuno menelepon. Memberitahu bahwa perintahnya kemarin sudah ia lakukan dan pagi ini Yuno sedang berada di dalam perusahaan yang didirikan kakek Aldo. Tepat berada didalam ruangan sang CEO.
Dengan seringaian kecil Steven melajukan mobilnya dan tiba dalam waktu 10 menit. Berjalan santai menuju ruang CEO meski pada awalnya ditahan oleh satpam. Bukan Steven jika tidak bisa mengatasi masalah kecil seperti itu.
Saat Steven masuk, Yuno sedang duduk santai di sofa. Sementara kakek Aldo tampak penuh penasaran. Tentang hubungan keduanya. Meskipun tentu saja dia punya beberapa dugaan.
Yuno bangkit dan mempersilahkan Steven duduk. Memberi perintah pada kakek Aldo dengan matanya agar duduk didepan Steven dan dia sendiri berdiri di sisi tuanya. Melihat hal itu kakek Aldo langsung terkejut karena dugaannya bahkan diluar ekspektasinya selama ini.
"Anda mengira dia tuan Steven saudara saya, kan? Sayangnya anda salah," kata Yuno.
Steven menatap kakek Aldo yang sudah berkeringat dingin itu. Jelas rasa takutnya yang tadi kepada Yuno berganti pada Steven.
"Anda terlihat tidak baik," kata Steven dengan bahasa formal.
"Kamu...tidak mungkin." gumamnya.
"Sahammu turun drastis pagi ini, aku yang melakukannya. Bahkan jika PT.Violet ditopang oleh Ramajaya Group hal itu bukan sesuatu yang sulit bagiku."
Kakek Aldo bisa merasakan aura mengerikan yang dikeluarkan Steven. Sangat jauh berbeda saat ia bertemu terakhir kali di sekolah. Meneguk saliva dengan susah payah, kakek Aldo bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"
"Kamu sangat tahu apa yang aku mau, pak tua,"
"Ta...tapi ijazah tidak sebanding dengan apa yang anda lakukan pagi ini. Anda menghancurkan perusahaan saya dalam semalam hanya demi ijazah?"
Steven mengangkat sebelah alisnya. Bisa ia tangkap ada rasa marah didalam suara penuh ketakutan itu.
"Ya, aku bahkan tidak segan-segan mengubur seluruh sekolahmu ketanah jika membuatku repot," Steven bangkit dan menurunkan pandangannya, menatap kakek Aldo yang tertunduk, "Serahkan pagi ini sebelum jam 10 dan jangan coba-coba menjual namaku lagi," lanjut Steven dingin. Meninggalkan kakek Aldo yang kini wajahnya sudah merah padam. Marah, memyesal dan takut menjadi satu.
.
Steven memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen, dia ingin mengambil beberapa barangnya yang ia simpan di apartemen. Baru sampai di depan lift lantai dimana kamar apartemen dia dan teman-temannya. Suara cempreng seorang anak perempuan memanggil namanya.
Steven menyesal karena melupakan laporan Jun beberapa hari yang lalu. Sam juga tidak membahasnya sehingga ia jadi lupa. Sekarang ia merutuki Sam dan Jun karena tidak bisa mengurus anak rewel ini yang sudah pasti akan mengganggunya.
"Luna, kenapa disini?" tanya Steven dengan malas. Dia melanjutkan langkahnya meskipun lengannya digelayuti oleh gadis ini.
"Kak Sam kesekolah, aku kesini karena rindu kalian! kenapa kakak pergi?" tanya Luna dalam bahasa inggris.
__ADS_1
Luna cukup kesulitan karena dia hanya menguasai satu bahasa, sehingga untuk kemana-mana dia butuh kakaknya. Hanya saja tadi dia ingin mencoba pergi sendiri ke sekolah kakaknya untuk mencari Steven. Tidak tahunya mereka malah bertemu disini.
Steven tertahan cukup lama didalam apartemen, berusaha mengecoh Luna tidak semudah itu. Adik Sam sudah sering dibohongi sehingga dia tidak mudah tertipu lagi. Setelah terbebas ia mengirim pesan pada Sam untuk mengirim adiknya kembali ke Singapura apapun yang terjadi. Dia tidak ingin diganggu oleh si rewel ini.