SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
74


__ADS_3

Lagi-lagi West membuat Steven kerepotan. Dia dengan segala kekuasaannya berkali-kali mengambil alih rekan bisnisnya satu persatu. Beberapa tentu saja akan lebih memilih perusahaan West yang jauh lebih besar. Meskipun dia sudah tidak berada di urutan nomor satu, Steven masih ada dibawahnya.


Karena hal itu juga, dia tidak begitu memperhatikan keadaan Clara yang semakin kacau. Semua atensinya beralih pada perusahaan. Bagaimana berperang melawan West yang semakin membuat citranya buruk.


"Ingin membunuhnya?" tanya Aston. Mereka sedang makan siang bersama.


Steven menatapnya dengan malas. Kesal karena lagi-lagi pertanyaan itu dipertanyakan padanya. Masalahnya dengan Clara saja belum selesai karena membunuh Violet saat itu. Steven tidak akan pernah melakukannya lagi.


"Aku dengar gadismu sudah bisa bicara. Apa yang dia katakan pertama kali?" pancing Aston. Dia melemparkan senyum mengejek.


"Tutup mulutmu pak tua! Jangan menambah beban pikiranku!" marahnya.


Aston terkekeh, sama sekali tidak marah melihat sikap kurang ajar Steven. Dia malah tampak senang selayaknya seorang ayah yang menggoda anak laki-lakinya.


"Bawa dia main ke rumahku dan bertemu Sindy. Wanita itu bisa mempengaruhi Clara dan membuatnya menerimamu."


Steven berhenti mengunyah, menatap lekat Aston yang tersenyum penuh arti.


"Wanita ular itu akan menyuruh Clara meninggalkanku lagi, jangan harap aku percaya padamu."


Aston membuat wajah terganggu yang kentara. Dia meletakkan sendok dan garpunya. Mengelap mulutnya dan segera minum.


"Ada apa denganmu? Tersinggung karena aku memanggilnya dengan buruk?" tanya Steven main-main karena melihat respon Aston.


"Dia wanitaku sekarang."


Steven mengangkat alisnya lalu menyeringai dengan wajah menyebalkan. Aston hanya menanggapinya dengan wajah datar. Pria berumur itu tampak tidak terganggu saat Steven melemparkan pandangan mengejek.


"Menjilat ludahmu sendiri? Sekarang kamu pasti tahu rasanya mengharapkan gadis yang sulit didapatkan bukan? Senang berada di jalan yang sama sobat!"


"Aku tidak sepertimu, aku hanya menghargainya karena dia akan menjadi ibu dari anakku."


"Benarkah? Hanya itu? Kamu akan tahu apa itu berdebar dan cemburu sebentar lagi kawan. Kalau bingung kamu bisa konsultasi denganku pak tua."


Steven tersenyum lebar saat bangun, senyum penuh ejekan tentu saja. Aston sendiri tidak memerdulikan ejekan itu. Dia menatap kosong pada piringnya. Memikirkan sikapnya yang memang sedikit berubah pada Sindy.


"Itu bukan cinta, aku tidak punya perasaan itu lagi sejak masih remaja." gumamnya.


.


Clara sudah lama tidak berbicara dengan Jun, pria itu selalu menghindarinya dimanapun mereka bertemu. Clara tentu saja merasa terganggu. Bagaimanapun juga dia sudah menganggap Jun temannya terlepas pria seperti apa dia.


"Kenapa?" tanya Lusi saat mereka minum kopi di kafe samping kampus.


Clara menhela nafas, Lusi dan seluruh kampus sudah tahu Clara sembuh. Jadi keadaan sudah kembali seperti semula, pandangan kasihan sudah tidak ia dapatkan lagi. Namun beberapa kebencian masih ia dapatkan karena dosen yang selalu memperlakukannya dengan berbeda.


"Aku lelah, Lu. Bagaimana caranya aku bisa pergi? Aku ingin pergi dari dia."


Lusi menatap wanita yang sudah ia anggap sahabat itu dengan prihatin. Mau menolong namun dia juga tidak tahu harus apa.


"Mulailah menerimanya dengan lapang dada, aku pikir itu adalah satu-satunya cara saat ini. Kamu juga masih mencintai dia kan?"

__ADS_1


"Cinta dan benci itu perbedaannya sangat tipis. Aku tidak tahu apa yang lebih dominan saat ini. Steven tidaklah sama seperti saat aku mengenalnya pertama kali. Atau mungkin aku yang memang tidak tahu apa-apa sejak awal. Tapi saat ini, Aku sungguh tidak ingin berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku tidak mau lagi. Mungkin dunianya memang seperti itu, tapi aku tidak ingin hidup di dunia seperti itu. Aku lebih suka di Indonesia, dimana aku tidak tahu apa-apa." Lusi tertegun. Perasaan kalut dan takut menggerogotinya. Dia takut Clara benar-benar telah putus asa dan memilih jalan yang salah. Saat ini, dimatanya Clara seperti kehilangan cahaya, dia depresi dan tertekan luar biasa.


Lusi meraih tangan Clara. "Dengar, dunia ini tidak seindah dan selurus yang ada dikepala kita Clara. Apalagi dunia orang kaya seperti Steven. Hal-hal kotor ada dimana-mana, pemerintahan, kampus, sekolah bahkan tempat ibadah yang disalah gunakan. Jadi sekarang, kamu hanya harus membuka matamu dan mulai menerima duniamu juga. Kemanapun kamu pergi, dunia orang dewasa memang akan sekeras itu. Sekotor dan selicik itu." kata Lusi, berusaha memberi pengertian alih-alih menghibur dan membujuk.


"Tapi bukankah kita punya pilihan? Kalau tahu itu melanggar aturan harusnya dia tidak melakukannya sejak awal." sahut Clara lemah.


"Clara ... Steven itu realistis, you know! Selain itu dunia bisnis memang akan selalu berbenturan dengan hal-hal yang berbau pelanggaran. Dimana-mana aku pikir hal itu terjadi. Karena dunia ini sudah kotor bahkan sebelum kita lahir. Jadi bagaimana kamu berharap orang-orang akan selalu bersih? Percaya padaku, semua akan baik-baik saja. Kamu hanya harus mulai berdamai dengan ini semua."


.


Sepanjang perjalanan pulang hari itu, Clara terus memikirkan perkataan Lusi. Dia memperhatikan setiap orang yang mereka lewati. Dia juga mengingat bagaimana dia ditipu saat di desa oleh orang suruhan Violet. Bagaimana Violet menyiksanya dengan sangat mengerikan. Bahkan dia tidak mengalami trauma berlebihan lagi seperti saat hampir dibunuh oleh Aston di kapal saat itu. Clara berpikir, apakah tubuhnya secara alami menerima bentuk kekerasan sekarang?


Sepertinya rasa sakit memberinya banyak pelajaran. Clara, gadis yang sedang beranjak dewasa itu begitu tidak bisa menerima akan dunia yang ia lihat di depan matanya. Baginya yang hanya tahu kenakalan remaja saat disekolah, tidak terbiasa masuk kedunia orang dewasa yang penuh hal-hal tak terduga.


"Kita sudah sampai, Nona." kata Billi.


Clara tersentak dari lamunannya. Dia segera turun begitu Billi melebarkan pintu mobil. Masuk ke dalam mension Steven dengan wajah murung yang tertunduk.


"Clara? Sudah pulang?"


Clara mengangkat kepalanya, Sindy berdiri di ruang tamu bersama Aston dan Steven. Sindy dengan perut besarnya tersenyum padanya dan mengajaknya pergi.


Clara mengernyit kala Sindy ikut masuk bersamanya ke dalam lift. "Steven memberiku izin untuk mengobrol denganmu di kamarmu. Aku ... ingin berbicara beberapa hal." kata Sindy.


"Duduklah dulu kak, aku akan membersihkan diri dulu."


Clara masuk ke dalam kamar mandi. Menatap wajahnya di kaca dengan pikiran berkecamuk. Tentang tujuan kedatangan Sindy. Wanita itu bahkan dengan mudah mendapat izin dari Steven masuk ke kamarnya. Clara yakin kedatangan Sindy atas permintaan Steven.


"Jadi, apa yang mau kakak katakan?" tanya Clara.


Sindy meletakkan buku Clara dan menatap gadis itu dengan canggung. Dia menunduk lalu mengelus perutnya sesaat saat merasakan gerakan bayinya. Clara hanya diam saja menyaksikan hal itu. Di tidak tahu harus merespon bagaimana.


"Kamu tahu? Sampai detik ini aku masih mencintai Aldo." kata Sindy memulai. Ia kembali mengangkat kepalanya.


"Aku sangat kawatir saat Steven marah padanya, aku takut dia mati. Tapi syukurlah Steven menyerahkannya pada teman-temannya. Mereka hanya membiarkan Aldo kembali pulang." Clara juga sudah mendengar kabar itu dari Aldo langsung. Sampai sekarang mereka masih berteman baik. Clara juga merasa bersalah karena melibatkannya dan membuat dia menerima tembakan dari Steven.


"Tapi Clara, dunia kita disini terus berlanjut. Kamu ... aku ... dan dua pria berkuasa itu. Aku pikir kita tak akan bisa lepas dari mereka."


"Steven yang meminta kakak untuk membujukku?" tuduh Clara tampa basa-basi. Ekspresinya juga hanya datar sejak tadi.


"Aston yang menyuruhku, mungkin ini idenya. Pria itu tidak sekejam pertama kali. Semakin hari dia semakin baik padaku."


"Lalu?" sahut Clara tidak perduli.


"Mulailah menerima kenyataan Clara, aku dengar kamu melihat pembunuhan didepan matamu sendiri. Kamu tahu? Aku menyaksikan hal itu hampir setiap hari."


Clara tentu saja terkejut. Dia bahkan melebarkan matanya. Sindy tertawa miris. "Aku berharap memiliki sisi polos dan naif sepertimu. Setidaknya kamu masih memiliki hati nurani. Bisa marah pada Steven saat ia melakukan hal itu, tapi aku. Aku hanya bisa pasrah karena takut pada Aston. Pasrah saat melihat Aston tampa bisa memprotes. Kamu jauh lebih beruntung dariku di dunia yang kejam ini. Bahkan aku mengandung anak pria yang tidak aku cintai."


Clara menunduk, memperhatikan perut besar itu. Dia sudah berpikir terlalu banyak hari ini. Sehingga berbicara dengan Sindy tentang hal ini membuatnya semakin lelah. Lelah karena tidak tahu harus bagaimana.


"Kamu sangat beruntung Steven sangat mencintaimu. Meskipun dia pernah membunuh sekali, namun ia melakukannya karena balas dendam un_"

__ADS_1


"Cukup! Aku tidak mau dengar lagi tentang hal ini. Pergilah kak, aku ingin beristirahat."


"Baiklah, maafkan aku. Juga, aku minta maaf pernah mengganggumu dan Steven. Aku benar-benar menyesal." pasrah Sindy, lalu keluar dari sana.


Clara ingin menangis, namun entah kenapa air matanya tidak mau keluar. Dia merasa kepalanya sangat penuh. Dia hanya ingin tidur, namun matanya tidak mau terpejam. Dia juga melewatkan jam makan malam. Cukup heran mengapa Billi tidak memanggilnya. Mungkin Steven memerintahkannya untuk tidak mengganggu.


Perlahan pintu kamarnya terbuka. Clara menutup matanya seolah ia sedang tidur. Dari aroma parfumnya, sudah jelas Steven yang masuk.


Clara merasakan elusan tangan besar itu di puncak kepalanya. Lalu kecupan hangat di keningnya. Steven mendekatkan bibirnya ke telinga Clara dan membisikkan sesuatu.


"Selamat malam sayang, aku sangat mencintaimu."


Steven keluar, dia menghela napas pelan. Sangat tahu bahwa Clara hanya berpura-pura tidur karena menghindarinya. Pria itu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Memikirkan banyak hal. Masalah yang terus berdatangan dan Clara yang bersikap semakin dingin. Bukannya tidak tahu, Steven tentu saja menyadarinya. Clara yang lelah, Clara yang ingin bebas darinya. Steven itu jenius dan dia akan mudah membaca prilaku seseorang. Apalagi wanita yang selalu bersamanya, mana mungkin dia tidak sadar. Ketakutanlah yang membuat dia berpura-pura tidak ada yang terjadi. Dia juga merasa salah langkah telah membuat Clara melihat aksi balas dendamnya. Dia berpikir Clara akan cepat menerimanya, nyatanya wanita itu semakin menarik diri.


.


Jun duduk berdua dengan saudara tirinya. Beberapa hari ini dia memang tidak bersama Steven dan tetap di apartemennya. Dia berpikir langkah apa yang akan ia ambil.


Ben sudah lama memghubunginya, menginginkan pertemuan untuk bicara, namun Jun selalu mengabaikannya.


"Jadi, apa tujuanmu? Aku tidak suka berada terlalu lama di dekatmu, ingat?" kata Jun dingin.


"Aku tahu, aku datang karena ingin membuat tawaran denganmu."


Jun mangangkat alisnya, tentu saja dia sudah mendengar desas desus yang beredar dalam organisasi.


"Aku tidak tertarik. Pergi katakan pada ayah aku tidak berminat. Kamu bisa mengambil posisi itu." Ben mengepalkan tangannya.


"Ayah akan memaksamu cepat atau lambat. Berduel denganku dalam menghancurkan West, kamu tahu siapa dibelakangnya bukan. Jika West hancur di tangan salah satu di antara kita, dialah yang akan menjadi penerus. Jika kamu menolak, aku punya cara terbaik untuk memaksamu."


"Jangan buang-buang waktumu, pergilah. Aku tidak tertarik. Masalah West akan jadi urusan Steven. Dia akan bisa melawannya." Jun bangkit berdiri. Hendak pergi dari tempat itu.


"Mudah bagiku membawa gadis bernama Clara itu untukmu. Bukankah kamu bertahan di samping Steven saat ini karena dia?"


Jun menoleh kembali. Wajahnya yang datar berubah menakutkan. Tatapan tajam menghunus seolah ingin menerkam Ben saat itu juga.


"Untuk apa kamu bertahan jika tidak mendapatkannya? Kita bisa menghancurkan Steven sekaligus dan gadis itu bisa menjadi milikmu." Ben ikut bangkit. Berdiri tepat di sampingnya namun berlawanan arah. "Bantu aku, kalahkan West untukku, lalu kamu bisa hidup bersama gadismu jauh dari dunia kotor ini. Pergi jauh kemanapun yang kalian inginkan."


.


Hari-hari berlalu. Jun kembali ke rumah Steven. Kembali bersikap biasa dan menggantikan Billi menjaga Clara. Steven tidak menolak, dia menerimanya karena percaya Jun lebih baik dari Billi. Gosip yang menyebar juga sudah mereda.


Clara masih sama, dingin dan menarik diri. Dia hanya akan menjawab Steven satu atau dua kata. Setiap malam Steven akan mengucapkan selamat tidur saat dia berpura-pura tidur. Terkadang, Steven pulang sangat larut dan tidak masuk ke kamarnya. Hal itu karena dia juga lelah dengan sikap Clara, dia berpikir mungkin lebih baik untuk tidak mengganggunya dulu.


Sebentar lagi Clara akan memasuki libur panjang setelah ujian semester dua. Dia akan memasuki tahun kedua setelah ini. Namun gejolak yang terus tertumpuk di hatinya membuat dia semakin tertekan dalam pikirannya.


Jun tentu saja melihat hal itu. Dia tidak suka melihat Clara selalu murung. Tidak ada lagi senyum dan tawa cerianya seperti dulu. Jun benar-benar ikut merasakan sakit di hatinya. Dalam perjalanan pulang seperti ini, Clara akan diam sepanjang jalan. Jun juga akan diam karena Clara tidak akan mengindahkannya jika ia mengajak bicara. Dia sudah pernah mencobanya.


Setelah Clara masuk ke dalam rumah, Jun meraih ponselnya. Masuk kembali ke dalam mobil. Dia menghubungi seseorang.


"Ben, aku ingin bicara tentang kesepakatan itu."

__ADS_1


__ADS_2