
Steven fokus pada pengembangan perusahaannya. Bekerja sangat keras untuk mencapai hasil yang memuaskan. Diawal pengembangan perusahaannya di Amerika, Steven sering kali berada disana setidaknya selama seminggu setiap bulan. Bahkan tidak jarang dalam sebulan 3 kali.
Aston benar-benar mendukungnya. Mengenalkan Steven pada banyak relasinya. Memperluas jaringan Steven dan dalam setahun ini, Steven sudah diperhitungkan dalam salah satu pengusaha kaya raya dan ditakuti dalam bisnis.
Perusahaanya berkembang pesat dimana-mana. Steven tidak memiliki waktu untuk bermain-main. Arnold bahkan kini menjadi orang yang paling kuat disisinya. Jun diserahkan memimpin di Jerman sekarang sementara Arnold memegang kendali dua perusahaannya di Singapura.
Berhari-hari berada di eropa, mengadakan pertemuan disana sini membuat Steven tidak memiliki banyak waktu untuk berada di Indonesia. Bahkan Yuno dikembalikan ke Indonesia memegang kembali jabatan lamanya. Sementara Steven sendiri yang memegang perusahaannya di Amerika. Hal itu karena di Amerika perusahaannya berkembang jauh lebih pesat. Menjadikan Amerika sebagai pusat perusahaan. Steven bahkan sudah memutuskan pindah kesana sekarang.
Ayahnya Steven sendiri kembali ke Korea, memimpin cabang perusahaan yang baru disana. Steven menyerahkan semua kepemilikannya pada sang ayah. Sementara ibunya tetap di Singapura. Ibunya mencintai dunianya, dia tetap menjadi artis. Hanya saja dia memiliki nama Steven dibelakangnya, sehingga dirinya cukup ditakuti oleh para produser film.
Teman-teman Steven, memilih pulang ke Singapura setelah lulus. Mereka juga harus melanjutkan pendidikan di Universitas sambil membantu orang tua mereka di perusahaan. Teddy dan Bobby berada dalam satu Universitas. Sam menyusul mereka setelah lulus tahun ini. Memilih mengikuti teman-temannya kembali dan pindah ke sekolah lamanya tepat setelah Steven lulus.
Lalu bagaimana dengan Clara?
Dia lulus tahun ini. Aldo masih setia disisinya namun menjaga jarak saat Willi memberikan peringatan padanya. Ya, meskipun Steven tidak menemuinya dalam setahun ini. Clara tetap dalam pengawasannya. Clara mungkin tidak tahu, dia hanya tahu Steven sibuk dan sudah tak mengganggunya. Entah apa yang ada di benak pria itu. Dia bahkan tidak menghubungi Clara sama sekali.
Sepulang sekolah Clara akan pergi ke tokonya untuk bekerja. Bergantian dengan seorang anak perempuan tetangganya. Hasil tokonya cukup memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dia juga sudah jarang bertemu Sindy yang juga kuliah sambil bekerja di perusahaan. Clara hanya sibuk dengan sekolah dan tokonya.
"Kamu akan lanjut kuliah dimana? Mau aku bantu ke Universitas negri?" tanya Aldo.
Mereka sedang duduk di sebuah kafe diseberang tokonya yang sudah tutup. Clara termenung, dia memang belum memutuskannya.
"Entahlah, Aku masih belum memikirkannya."
"Clar ... aku ingin mengatakan sesuatu."
Aldo tampak ragu, Clara juga terlihat larut dalam pikirannya sendiri. Setiap kali mereka bersama, Clara memang seperti itu. pikirannya tidak pernah ada di tempat yang sama kecuali saat fokus belajar dan bekerja.
"Clara ... ayo menikah dan tinggal denganku."
Clara menatap Aldo datar. Ini kesekian kalinya pria dihadapannya ini mengatakan hal yang sama.
"Kak Aldo fokuslah kuliah. Kakekmu akan marah kalau kakak cepat menikah."
"Alasanmu itu terus," sewotnya.
"Kakak juga tidak lelah membahas itu terus?"
"Tidak, aku akan melamarmu setiap hari bila perlu."
"Gila!" sahut Clara sambil tertawa.
Clara cukup bersyukur. Kehadiran Aldo yang mengganggunya tiap hari cukup menghibur. Aldo juga sering bersikap konyol, berbeda dengan kepribadiannya dulu.
"Kak Sindy ada menghubungi kakak lagi?"
"Hmm? Tidak. Aku dengar rumor kalau dia terus-terusan datang ke kantor mantanmu mengirim hadiah atau sesuatu. Ramajaya dikabarkan mengalami masalah finansial. Meskipun perusahaan Steven bekerja sama, mereka sepertinya punya masalah di internal."
"Maksud kakak...dia dikorbankan orang tuanya untuk perusahaan? Mencoba merayu Steven?"
"Nadamu terdengar marah. Aku tidak tahu pasti, tapi kalau memang Steven yang mereka inginkan, aku rasa tidak akan berhasil. Steven bahkan tidak di Indonesia."
"Dia dimana?"
Aldo melempar pandangan menyelidik. Seolah mencurigai Clara.
"Kamu benar-benar tidak diberi kabar oleh dia?"
"Kami sudah putus, ingat?"
Jawaban Clara membuat Aldo sedikit bingung. Masalahnya orang-orang Steven selalu berada di sekelilingnya. Bahkan Aldo pernah mendapatkan peringatan ketika dia memeluk Clara saat ia menagis dulu.
"Kenapa kak?" tanya Clara, bingung akan reaksi Aldo.
"Tidak ada, habiskan minumanmu. Aku antar pulang."
Sepanjang jalan mereka cukup diam. Clara sibuk dengan pikirannya dan Aldo juga sedang berpikir apa yang sedang di rencanakan Steven ini pada Clara. Aldo hanya tidak ingin Clara menangis lagi. Semenjak Steven tidak ada setahun ini, Clara sering murung. Sehingga Clara menyibukkan diri bekerja dan belajar. Aldo bukannya tidak tahu bahwa Clara masih sangat mencintai Steven.
Sesampainya di depan rumah Clara, mereka dikejutkan dengan adanya mobil lain. Seseorang berdiri dalam temaram. Bersandar di pintu mobil sambil merokok. wajahnya tidak begitu jelas karena tidak terkena cahaya. Dari apa yang melekat di tubuhnya, jelas dia bukan orang biasa.
Keduanya turun dan dengan ragu menghampiri. Saat pria itu menoleh, barulah keduanya tahu siapa orang itu. Aldo cukup terkejut sementara Clara sudah terpaku pada kakinya.
Ya, dia adalah Steven. Baru saja menginjakkan kaki kembali ke Indonesia sejam yang lalu. Langsung dari bandara menuju rumah Clara. Dia bukannya tidak tahu bahwa Clara di kafe. Dia hanya ingin menunggunya dirumah. Kafe cukup ramai dan dia bisa menarik perhatian banyak orang.
"Kalian semakin akrab," katanya dingin.
Mematikan rokoknya dibawah sepatunya. Berdiri dengan benar dan menempatkan dirinya dua langkah dihadapan mereka. Auranya semakin pekat dan gelap. Mengerikan dan dingin. Aldo bahkan merasakan ketakutan disetiap nadinya. Berbeda dengan Clara yang memang tidak lagi takut padanya setelah kematian sang ayah. Rasa takut itu sudah tak ada, didalam logikanya Steven tak akan menyakitinya.
Aldo menoleh pada Clara, cukup ragu untuk meninggalkannya sampai Clara menatapnya dan mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa." kata Aldo dan masuk ke dalam mobilnya. Saat itulah ia baru menyadari ada mobil lain terparkir dibawah pohon. Aldo yakin itu adalah pengawal milik Steven. Sehingga ia tidak perlu kawatir.
"Aku menerima laporan, bahwa setiap bulan kamu mengirim uang ke rumahku."
"Aku perlu melunasi hutang kami. Kamu membayar semua hutang ayahku. Jadi aku harus menggantinya."
"Kamu tidak berpikir kamu sudah menyinggungku?"
Clara mendongak, mempertemukan bola mata mereka dalam satu pandangan lurus. Clara melihatnya, Steven yang masih sama bahkan lebih otoriter dari sebelumnya.
"Kita sudah putus Steve! kamu tidak perlu merasa tersinggung."
Steven itu jelas bersumbu pendek, dia cukup sabar menunggu selama satu tahun. Tapi untuk lebih, dia tampaknya kehilangan kendali kesabaran. Belum lagi setiap hari menerima laporan bahwa Clara terus saja bersama Aldo. Membayangkan Clara tertawa dengannya, itu benar-benar menyiksanya.
"Will!" panggil Steven dengan nada dingin.
Willi yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka datang mendekat. "Ya Tuan!"
"Suruh dua orang disana mengemasi barang gadis ini dan pindahkan ke rumahku."
Clara melebarkan matanya. Menggeleng ribut saat Willi memberi isyarat pada dua orang yang sejak tadi berada didalam mobil. Clara sudah akan berlari menghalangi mereka ketika langkahnya di tahan oleh Willi yang terus menghadangnya dengan tubuh tingginya.
"Will, bakar rumahnya kalau dia tidak masuk kemobilku dalam 30 detik."
Steven masuk ke mobilnya dan mulai menghitung. Tepat di hitungan 15 Willi berjalan ke bagasi mobil dan mengambil sebotol besar bensin. Berjalan ke rumah dan menyiramkannya di depan jendela dan dinding. Pada hitungan 30 detik Willi menyuruh pengawal keluar dan mengeluarkan pemantik dari sakunya.
Clara yang melihat itu tentu saja panik. Siapa yang tidak panik saat rumahmu hendak dibakar. "Jangan...aku masuk! Aku masuk, ok!" teriak Clara.
Steven menyeringai senang saat Clara sudah duduk di sampingnya. Willi memasukkan lagi pemantik dan menyuruh anak buahnya itu melanjutkan pekerjaan mereka. Lalu dia menyusul Steven dan Clara masuk ke mobil. Mengendarainya menuju mension.
"Bajingan gila!" rutuk Clara tampa takut.
Steven hanya menarik sudut bibirnya. Merasa terhibur akan umpatan kebencian yang keluar dari bibir Clara. Dia memilih diam dan larut dalam pekerjaannya. Ya, Steven sedang memeriksa grafik penjualan di tabletnya.
"Ikut aku, Clara." kata Steven usai turun dari mobil.
Mereka sudah sampai dan Steven segera masuk. Clara mengikutinya dengan wajah kesal. Mereka masuk kedalam kamar Clara dahulu dan Steven dengan santai duduk di atas kasurnya.
"Will! tunjukkan data yang aku minta tadi," perintahnya.
Clara menoleh kearah pintu, tidak menyadari Willi ternyata mengikuti mereka juga. Willi masuk dan menyerahkan sebuah map berisi beberapa kertas pada Clara.
Clara mengangkat kepalanya dan menatap Steven was-was.
"Menjadi pacarku maka seluruhnya lunas atau pesuruhku dengan gaji yang ditentukan. Kamu tinggal pilih membayar dengan cara apa."
Clara tidak menjawab. Dia bingung, dia tidak pernah memikirkan hal ini. Betapa ayahnya punya banyak hutang dimana-mana.
"I...ini...bagaimana ayahku punya hutang sebanyak ini?" lirihnya. Jumlahnya nyaris menyentuh angka 1 Milliar. Angka yang sangat besar bagi orang sepertinya.
"Kamu punya ibu dan adik tiri yang baik hati dulu, itu tidak mengherankan." sarkas Steven. Memberikan senyum penuh ejekan.
"Tapi apa-apaan pilihan itu?" kesalnya, memberengut kemudian, matanya bahkan membesar karena kesal.
Steven bahkan sampai menggigit pipi dalamnya, berusaha tidak merengkuh Clara yang menampilkan sisi lain ini. Dimatanya, Clara selalu menggemaskan dan minta dipeluk.
"Pikirkan baik-baik, aku akan suka kalau pilihan pertama."
Steven beranjak dan keluar dari kamar Clara. Rasa lelahnya mendadak hilang dan dia tersenyum kecil sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Willi yang mengikutinya ikut tersenyum. Dalam setahun ini, tuannya banyak berubah menjadi jauh lebih dingin dari sebelumnya. Tidak ada senyum dan lebih gampang marah.
Steven dengan wajah sumringah kembali dengan komputer dan tablet sekaligus. Memeriksa berbagai laporan dari seluruh orang yang ia beri jabatan di masing-masing perusahaannya.
Paginya, Clara bangun dengan linglung seperti biasa. Menyesuaikan penglihtannya keseluruh ruangan dan menyadari dia tidak dirumahnya. Pintu kamarnya diketuk 3 kali sebelum pelayan yang ia panggil ibu sri itu menghampirinya.
"Nona mandilah dulu,"
Pelayannya, ibu sri mengambilkannya handuk, memilih pakaian ganti yang ia susun di samping bantal diatas kasur. Clara dengan malas bangun dan masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dengan cepat.
Clara turun kebawah, namun tidak menemukan siapapun kecuali pelayan yang sedang membantu kepala pelayan, pak Willy memasak.
"Dimana dia?" tanyanya saat Willi melintasinya menuju ruang kerja tuannya.
Berhenti sesaat dan menghadap ke arah Clara, "Sejak tadi malam tuan masih diruang kerjanya. Saya kawatir dia masih bekerja."
Clara bangkit, mendekati Willi dan meminta penjelasan lebih. "Dia sering seperti itu?"
"Tidur larut dan kerja sampai pagi? ya. Tuan memang seperti itu sejak setahun terakhir. Dia cuma akan tidur dua atau tiga jam."
"Dia pasti sudah tidak waras!" umpat Clara, rasa kawatirnya mengalir begitu saja tampa ia sadari.
__ADS_1
Melangkah cepat mendahului Willi dan membuka pintu ruang kerja Steven. Tertegun diambang pintu saat melihat Steven tidur bersandar di kursi kerjanya. Tangannya masih memegang tablet yang hampir terlepas. Willi yang berdiri di belakangnya mengisaratkan agar mereka segera pergi. Tapi suara Steven menghentikan mereka.
"Ada apa?"
Mata itu terbuka dan netranya menerobos langsung kedalam mata Clara yang membulat terkejut.
"Anda sudah bangun Tuan? maaf mengganggu anda. Saya akan segera menyiapkan keperluan anda." kata Willi.
"Tidak perlu, kamu lanjutkan memeriksa apa yang aku perintahkan tadi malam."
"Baik Tuan."
Setelah Willi pergi, Steven menyuruh Clara masuk melalui isyarat.
"Kenapa duduk disana, mendekat kesini," perintahnya.
Dengan berat Clara bangun dari kursi dan berdiri di samping kursi Steven. Dengan cepat Steven memutar dan menarik Clara duduk di pangkuannya. Menyandarkan kepalanya di lengan Clara dan memejamkan matanya.
"Ap...apa yang kamu lakukan? biarkan aku turun!"
Clara gelagapan dan mulai memberontak, namun tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Steven memeluknya terlalu erat.
"Diamlah, aku ngantuk dan kalian datang menggangguku!"
Suaranya sedikit teredam. Dengan cepat kembali tertidur. Suara nafasnya teratur dan perlahan pelukannya melemah. Clara tidak berani bergerak, dia takut Steven akan terbangun lagi dan lebih kesal lagi.
Setelah 15 menit, entah kenapa rasanya ia ikut mengantuk. Clara berusaha menahannya namun ia akhirnya menyerah. Kepalanya jatuh diatas puncak kepala Steven.
Saat terbangun, ia melebarkan matanya saat tahu dia tidak lagi berada di pangkuan Steven tapi malah berada dalam pelukannya. Mereka sudah berpindah ke atas kasur dan itu jelas bukan kasurnya.
Clara mendongak, memperhatikan wajah Steven yang terlihat damai dalam tidurnya. Bertanya-tanya dalam hati seperti apa perubahan Steven saat ini. Sejauh ini, Steven terlihat sedikit dewasa dan lebih berwibawa.
Aku nggak bisa terus berada di sampingnya. Rasa bersalah pada ayah makin besar saat aku melihatnya. Apa yang harus aku lakuin tentang itu? lalu hutangnya ...
Clara mengerang kesal, tampa sadar mengeluarkan suara.
Steven membuka matanya dan secara langsung mereka saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Clara bisa merasakan tangan Steven yang tadinya di pinggangnya naik ke punggung. Menariknya lebih dekat dan meletakkan kakinya di atas pahanya. Menjadikan dirinya layaknya guling.
"Lepaskan aku!"
Clara berusaha berontak namun sia-sia saja, Steven memeluknya sangat erat.
"Kenapa kamu semakin berisik! padahal ini tidurku yang paling nyeyak sejak kita putus."
"Karena kita sudah putus makannya jangan seperti ini! lepaskan aku!" Clara memberontak dengan kesal.
Steven akhirnya melepaskannya. Clara duduk dan hendak turun dari kasur sebelum tangannya digenggam oleh Steven.
"Apa pilihanmu? jadi pacar atau pembantuku?"
Clara menyentak tangannya lepas. Menatap Steven galak. "Berapa gajiku sebulan kalau jadi pembantumu?" tanyanya ketus.
Steven terkekeh pelan, duduk dikasur dan bersandar pada kepala ranjangnya.
"Tergantung,"
"Apa maksudmu?"
"Mengurusku setelah bangun tidur, menyiapkan pakaian, membuatkan sarapan dan menuruti semua perintah. Aku akan membayarmu 100 juta sebulan. Kalau kamu menyenangkan hatiku aku akan memberi bonus. Kalau bisa memeluk aku akan menambah 200 juta tiap satu pelukan, lebih baik lagi kalau ciuman, aku akan bayar 300 juta."
Rasanya Clara ingin meninju wajah santai Steven saat mengatakan semua itu. Bahkan sekarang Steven mengerling dengan usil.
"Untuk yang pertama aku terima, aku akan menyicil hutang ayahku. Sampai saatnya lunas kamu tidak boleh macam-macam. Aku tidak mau ada skinship, jadi tolong jaga jarak!"
"Disini aku melihat kamu tidak punya pilihan, Clar...kamu tahu aku menyukaimu, suka tidak suka aku punya keinginan menyentuhmu."
"Tapi kita sudah putus dan hargai aku sebagai perempuan!" sahut Clara emosi.
"Putus? tapi kamu masih cinta aku jadi apa boleh buat. Kenapa tidak pacaran lagi, atau menikah?" jawab Steven santai.
"Siapa bilang aku masih cinta kamu!" bentak Clara.
Steven menatapnya dalam, melihat betapa keras kepalanya gadis dihadapannya. Steven jadi takut sendiri apakah Clara sudah benar-benar melupakannya dan jatuh cinta pada pria lain.
Pada awalnya ia hanya berniat main-main memintanya membayar hutang karena kelakuan Clara yang menganggap apa yang ia berikan sebagai hutang. Steven kesal, namun sekarang idenya malah seperti senjata makan tuan. Clara semakin keras dan membencinya.
"Baiklah, kita sudah putus. Nah, lakukan tugas pertamamu. Bukakan pakaianku karena aku mau mandi."
Clara melotot galak. Dia bahkan sampai mundur dua langkah. Wajahnya seketika memerah sampai ketelinga.
__ADS_1
'Dia gila! mana mungkin kan aku yang buka dan pakaikan bajunya setiap mau mandi?'