SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
73


__ADS_3

Clara merapatkan syalnya. Musim dingin semakin dingin. Saat ini Billi yang bertugas menggantikan Jun. Clara tidak berkomentar apa-apa saat Steven mengatakannya pagi ini. Billi masih sangat kikuk saat berhadapan langsung dengan Clara. Dia yang biasanya menangani hal berbahaya tidak biasa menghadapi seorang gadis.


"Pengawalmu kenapa ganti? Permintaanmu atau keputusan Steven?" tanya Lusi. Mereka sedang di dalam kelas.


Clara menulis sesuatu di buku catatannya. 'Kemauan Steven, tapi aku rasa permintaan Jun sendiri.'


"Huh? Kenapa? Jangan bilang kalau kalian bertengkar?"


'Jun mungkin tidak nyaman karena perasaannya sudah kuketahui.'


Lusi melotot lalu menoleh pada Clara. Dia melirik dosen di depan. Menunduk dan mengambil pena. Ikut menulis disana alih-alih berbicara.


'Kamu tahu? Sejak kapan?'


'Berhenti membahasnya, ini tidak nyaman juga bagiku.' tulis Clara.


Lusi cemberut namun akhirnya mengangguk, meminta maaf tampa suara dan dibalas dengan senyuman lembut oleh Clara.


Jam makan siang, Lusi dan Clara memilih restoran di sekitar Universitas. Billi memilih menunggu di luar restoran. Meski begitu, matanya tidak lepas dari Clara.


Saat makanan datang, Clara hampir meminum minuman yang dipesan oleh Lusi kalau saja Billi tidak berlari menepisnya hingga botol itu jatuh ke lantai dan pecah. Semua orang tentu saja menatap pada mereka. Terutama Billi yang sekarang menjadi buah bibir karena dinilai tidak sopan.


"Maafkan saya Nona, itu adalah merk terbaru. Mungkin anda belum tahu. Tapi anda tidak boleh meminumnya." kata Billi dengan wajah meminta maaf.


Clara melirik botol yang masih utuh di depan Lusi. Mengambilnya lalu membaca produsen yang membuat produk minuman itu.


'Jadi mereka bukan hanya minuman isotonik sekarang, minuman soda juga?' monolog Clara.


"Ada apa? Minuman itu tidak beracun kok. Kenapa kamu berlebihan? Apa Clara alergi beberapa kandungannya?" tanya Lusi.


"Nona tidak bisa minum itu saat ini karena kesehatannya." jawab Billi dengan ramah.


"Ooh ... Padahal itu sangat enak. Aku bahkan punya stok dikamarku karena sangat menyukai rasanya." sahut Lusi, menyayangkan keadaan Clara. Dia dengan santai meraih minuman dari tangan Clara lalu meneguknya.


Clara menggigit bibirnya dengan kuat. Dia merasakan tekanan besar dan rasa bersalah yang amat buruk pada Lusi. Billi yang menyadari hal itu segera mengalihkan perhatian Clara.


"Nona, Anda ingin minum apa? Saya akan pesankan."


Clara meliriknya, dia menggeleng dan hanya meraih gelas air putih di meja. Meminumnya sebelum memakan makanannya. Wajahnya masih muram. Meskipun Lusi berbicara banyak bahkan mengajaknya bercanda, dia sama sekali tidak tertawa.


.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Clara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dengan suasana hati yang masih sangat buruk, dia melepas seluruh pakaiannya dan menyisakan pakaian dalam. Berjalan menuju kolam renang dan langsung terjun kesana. Menimbulkan bunyi debum keras yang mengejutkan Steven yang juga baru pulang.


Steven segera berlari dan bernapas lega saat melihat Clara sedang berenang dengan lincahnya. Dia tersenyum lalu duduk di salah satu kursi. Melipat kakinya dengan santai sambil melihat Clara.


Clara menyadari Steven yang sudah pulang, namun dia sama sekali tidak berniat menyapa. Dia masih diliputi kemarahan dan perasaan bersalah yang amat besar. Bahkan rasanya ia ingin berteriak di depan wajah Steven saat ini. Melayangkan makian untuk benda ciptaannya yang amat berbahaya itu.


Steven melirik jam di tangannya. Dia bangkit berdiri dan melonggarkan dasinya. Dia ingin mandi terlebih dahulu.


Setelah ia selesai mandi, Clara sudah tidak ada di kolam renang. Steven memilih memeriksa cctv di ruang rahasia miliknya sebelum makan malam sebentar lagi. Dia hanya harus memastikan semua orang-orangnya bekerja sesuai aturannya.


Memeriksa satu persatu dalam 4 hari terakhir tentu saja memakan cukup banyak waktu. Bahkan jika ia mempercepat kecepatan putar. Sampai saat dia memeriksa cctv ruang kerjanya. Barulah ia menangkap hal yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan.


Kemarahan dan rasa kecewa melingkupinya saat melihat bahwa gadis yang ia cintai ternyata menyembunyikan sebuah fakta darinya.


Dengan langkah gontai Steven kembali ke atas. Keluar dari pintu rahasia dan mencari keberadaan kekasihnya. Membuka pelan pintu kamar Clara dan mendapatinya sedang membaca buku di atas kasur.


Menatapnya dengan pancaran mata sendu dan kekecewaan. Clara mendongak, mentap Steven yang hanya berdiri di ambang pintu. Karena Steven tak kunjung bicara, dia akhirnya melanjutkan membaca buku. Sama sekali mengabaikan atensi Steven disana.


Steven masuk, duduk di sisi ranjang. Matanya masih menatap Clara. Karena merasa terganggu, Clara kembali menatapnya. Memberikan pertanyaan lewat matanya. Dia tahu ada yang salah pada ekspresi wajah Steven, namun enggan bertanya lebih jauh. Lebih tepatnya, tidak ingin terlibat terlalu jauh lagi dalam urusan Steven. Terlalu banyak kemarahan yang ia pendam.


"Clara ... bisakah aku bertanya satu hal?"


Clara mengangguk sebagai respon, namun dia menghindari mata Steven, dia berpura-pura fokus pada bacaannya.


Clara mengangkat pandangannya, perlahan dia juga meluruskan posisi duduknya. Menyingkirkan buku di pangkuannya dan menatap Steven lurus-lurus.


"Aku tidak tahu apakah nilai Jun lebih baik dariku saat ini dimatamu. Sehingga kamu bisa jujur dengannya namun berbohong padaku." Steven mengangkat tangannya, mengelus rahang Clara dengan ibu jarinya. "Aku pasti terlihat bodoh dimata kalian saat mengira kamu masih tidak bisa bicara." lanjutnya. Nadanya dingin sekali. Alih-alih takut seperti biasanya, Clara malah menepis kasar tangan Steven lalu beranjak turun.


Didalam hatinya sama sekali tidak berniat menjelaskan adanya kesalah pahaman kecil disana mengenai ia dan Jun. Dia berdiri dengan wajah mengeras yang membuat Steven mengerutkan keningnya. Dimatanya, dia seperti melihat sosok baru dari diri Clara. Sorot mata itu tidak seperti biasanya, tidak ada ketakutan, tidak ada pancaran kekawatiran apapun saat telah membuatnya marah.


"Apa satu kebohonganku mengganggumu? Lalu bagaimana dengan kebohonganmu sendiri?"


"Kebohongan apa yang kamu maksud?" balas Steven tidak terima. Dia merasa tidak melakukan kebohongan manapun selain masalah Violet dahulu.


"Oh ... aku lupa tuan sempurna tidak pernah salah! Bahkan ketidak jujuran tidaklah dianggap berbohong. Merahasiakan segala hal tidaklah berbohong. Menipuku untuk datang ke tempat sialan itu untuk membunuh seseorang TIDAKLAH BOHONG!" Clara berteriak pada dua kata terakhir. Bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras.


Steven berjalan mendekatinya namun Clara mundur untuk menghindar. "Jangan menyentuhku sekarang." Wajahnya memerah dan tubuhnya bergetar saat mengatakannya.


"Aku membencimu! Aku sungguh-sungguh membencimu, Steven. Aku tidak mengenalmu lagi. Kamu benar-benar asing!" isak Clara. Dia terduduk di lantai dengan kepala tertunduk.


Steven mematung di tempatnya. Dia tahu cepat atau lambat mereka akan ada di fase ini. Dimana dia harus merelakan Clara mencintai sekaligus membencinya. Tidak tahu berapa lama, namun Steven tidak ingin berhenti membuat Clara menerimanya lagi dan lagi. Terdengar egois, Steven tahu itu. Namun dia sama sekali tidak bisa melepaskan Clara dari dunianya. Seberapapun tertekan dan menderitanya gadis itu.

__ADS_1


Steven meraih kedua bahu Clara namun gadis itu menepisnya. Dia bangkit sendiri lalu berlari keluar. Dia terus berjalan tidak tahu arah, ketika sampai di ruang tamu lantai dasar dia menabrak Jun yang baru masuk.


Jun mencengkram bahunya agar tidak keluar ketika melihat ada yang tidak beres. Clara berusaha memberontak dan memukul-mukul Jun dengan tagan kecilnya. Jun melirik Carlos yang baru tiba, memberi kode agar mengunci pintu.


"Clara tenanglah!" pinta Jun lembut. Namun Clara tidak mendengarkan, dia dengan sekuat tenaga mendorong Jun dan tidak sengaja menamparnya.


"Pergi! Jangan menghalangiku! Aku muak Jun!" bentaknya di depan wajah Jun yang memerah.


" ... " Jun mengalihkan pandangannya begitu menyadari sedari tadi Steven sudah berdiri disana.


Menyadari itu Clara berbalik, menatap Steven dengan penuh kebencian.


"Kenapa kamu menjadi orang jahat! Apa menyenangkan bermain dengan nyawa orang lain! Bahkan teman-temanku!" Clara terisak lagi. Dia teringat Lusi dan rasa bersalah merasukinya lebih besar dari sebelumnya.


"Aku ingin pergi, aku tidak mau lagi disini! Aku tidak ingin bersamamu lagi." isak Clara.


Steven melangkah mendekatinya, memeluknya meskipun Clara memberontak. "Maafkan aku, sayang. Tapi kata pergi harusnya tidak keluar dari bibirmu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan itu terjadi." kata Steven datar.


Clara berhenti memberontak. Dia juga berhenti menangis, lalu perlahan ia terkekeh dengan nada yang sangat menyedihkan. Bahkan Jun yang mendengarnya tidak sanggup menahan rasa sakit dihatinya. Jun pergi dari sana dengan wajah penuh penyesalan yang sama. Seolah salahnya Clara menjadi seperti itu.


Clara pingsan di dalam pelukan Steven. Pria itu mengangkatnya dan menggendongnya kembali ke kamar. Memerintahkan pelayan yang sejak tadi berdiri di dekat dapur untuk menyiapkan makan malam dan menyuruh Carlos membawa ke atas.


Dengan lembut Steven merebahkan Clara di atas kasur. Menarik selimut dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Menghapus sisa air mata di wajah itu dan mengecup keningnya dengan penuh perasaan.


"Maafkan aku, Clara." gumamnya.


.


Pixu duduk di singgasananya. Pemimpin gengster yang memiliki anggota ribuan itu sedang menatap anak lelakinya yang lain. Satu dari empat anaknya yang ia akui. Anak yang semua orang tahu di gadang-gadang sebagai penerusnya.


"Ayah ... anda akan menarik Jun kembali? Bukankah Ayah tahu dia tidak suka bergabung dengan kita sejak dulu?" tanya Ben.


Pixu memainkan wine di tangannya dengan anggun, lalu turun dari tempatnya duduk. Anaknya yang tadi membungkuk dengan lutut sebagai penopang, kini duduk berlutut.


"Aku membiarkan kamu mengakui diri sebagai penerusku pada semua orang bukan bearti aku akan melakukan hal itu. Ingatlah Ben, kamu adalah anak kedua. Dan yang harus menjadi penerusku adalah anak pertamaku. Anak dari istri sahku. Bukan anak selir." tukas Pixu. Ben tersinggung, marah apalagi. Namun dia bisa mengatur ekspresinya dengan baik.


"Mari buat kesepakatan." Pixu mengangkat sebelah alisnya. Ketika anak keduanya mengangkat kepala dan menatapnya, bisa ia lihat tekad yang besar disana. "Bukankah West mengganggu Steven? Bagaimana jika ayah membuat kami berlomba untuk menjatuhkannya. Siapapun yang berhasil, dia akan jadi pemimpin selanjutnya."


Pixu tertawa mendengar permintaan anaknya. Tentu saja dia merasa sangat lucu. Karena bagaimanapun, dia tahu kemampuan semua anaknya sedari kecil. West tentu saja tidak mudah. Dia disokong oleh gengster saingan mereka. Menjatuhkannya sama artinya menjatuhkan saingan mereka juga.


"Ide yang bagus, anakku. Tapi sebelum itu. Kamu harus bisa membuat Jun mau menerima idemu. Jika dia setuju untuk kembali dan bersaing denganmu, aku akan mempertimbangkan dirimu dan usulanmu."

__ADS_1


Setelah anaknya pergi, Pixu tersenyum cerah. Agaknya dia melihat tujuannya akan segera terwujud. Yaitu membawa anak kesayangannya kembali.


__ADS_2