
Pagi ini, Clara duduk disamping ranjang Jun yang sedang sarapan bubur. Awalnya Clara ingin membantunya namun Jun menolaknya dengan halus. Setelahnya dia sama sekali tidak mengatakan apapun. Clara juga hanya diam saja. Ada rasa bersalah dihatinya untuk keadaan Jun saat ini.
Setelah jun selesai, Clara bangkit untuk meletakkan piring bekas Jun diluar, namun dengan sigap Carlos mengambilnya saat Clara membuka pintu.
"Terima kasih, Carlos." Carlos tersenyum ramah. Lalu segera berjalan kedapur.
Clara berbalik setela menutup pintu kembali. "Jun...ada lagi yang kamu butuhkan?" tanyanya.
"Bisakah anda diluar saja Nona? saya ingin istirahat."
Clara tertegun, Jun dingin sekali. Sejak pertama kali bertemu, pertama kalinya dia bersikap seperti itu.
"Kamu semakin berani," komentar Steven, nadanya terdengar biasa namun siapapun tahu ada kemarahan disana. Jun meliriknya, namun tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong langit-langit kamar itu.
"Anda bisa menyingkirkan saya kalau begitu, saya tahu anda selalu membawa senjata." tantang Jun.
Entah apa yang dia fikirkan. Nada bicara dan sorot matanya jelas menunjukkan kalau dia tidak lagi menghormati Steven sebagai atasannya.
Steven yang sejak tadi fokus pada ponselnya meski sambil bicara akhirnya mengangkat pandangannya, menatap Jun penuh tanda tanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, mengagumi keberanian bawahannya itu. Untuk pertama kalinya, Jun bersikap lancang padanya.
Dengan gerakan ringan Steven bangun dari duduk santainya. Wajahnya sama dinginnya dengan Jun saat ini. Tangannya bergerak kearah saku mantel yang ia kenakan namun gerakannya terhenti saat Clara berlari kehadapannya. Gadis itu merentangkan tangannya lalu menggeleng beberapa kali.
"Jangan menyakitinya lagi Steve!" kata Clara tegas.
Steven menarik tangan Clara untuk berdiri disisinya. Lalu beralih pada Jun yang masih terbaring. Jun hanya melirik sedikit, dia kembali bersikap acuh dan dingin.
"Jangan pernah menantangku, Jun!" kata Steven penuh ancaman. Lalu menarik tangan Clara untuk keluar dari sana.
Jun menghela nafas dan mengangkat lengannya hingga menutupi pandangannya. Air matanya menetes. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia menangis. Bahkan saat kakaknya meninggal, Jun tidak mengeluarkan air matanya.
Hatinya terasa sangat sakit. Entah mengapa kali ini ia tidak bisa menahannya. Ini karena sejak sadar tengah malam tadi, ia sudah memikirkan keinginan terbesarnya. Memikirkan tujuan ia hidup saat ini. Lalu memikirkan apa yang akan ia lakukan pada satu-satunya wanita yang membuat ia sadar, bahwa ia membutuhkan kehadirannya. Wanita yang sejak awal bukan miliknya. Dia bahkan tidak mengerti, sejak kapan perasaannya mulai tumbuh sehingga sudah berkembang begitu dalam baru ia menyadarinya.
Jun yakin, jika tadi tidak ada Clara diantara mereka, sudah dipastikan ia akan mendapatkan tembakan dari Steven. Karena Jun tidak pernah seberani ini bersikap kurang ajar. Meskipun dia jauh lebih tua, Jun tahu dia tidak akan bisa mengalahkan Steven dari segi apapun.
.
Steven membawa Clara pada sebuah gazebo. Disana ternyata sudah menunggu dokter Frans dengan seorang dokter muda. Seorang pria yang umurnya mungkin setara dengan Jun.
"Senang melihat anda terlihat lebih baik." sambutnya saat melihat Clara. "Saya rasa saya bisa mengatakan anda sudah 70% sembuh." lanjutnya.
Steven dan Clara ikut duduk. Mereka duduk berhadapan. Steven melirik dokter muda yang sejak tadi memperhatikan Clara dengan wajah tertariknya.
"Ah...perkenalkan dia adalah muridku. Sedang magang ditempatku bekerja." kata dokter Frans.
Pria itu mengukurkan tangan untuk memperkenalkan diri pada Steven dan Clara. "Alexsander, panggil saja Alex." katanya ramah.
"Dan apa alasanmu membawanya kesini, Frans?" tanya Steven datar, seolah menagatakan dia tidak dibutuhkan disini. Walaupun faktanya memang begitu.
"Menemani gurunya. Lagipula pulau ini milik keluarganya, jadi dia ingin sekalian liburan."
"Jadi dia anak kedua keluarga Scott?" tebak Steven dengan senyum aneh. Bukan rahasia lagi kalau anak kedua keluarga Scott digosipkan memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. Namun kini Steven bisa yakin bahwa itu hanya gosip. Karena faktanya, Steven tahu apa yang coba ia sembunyikan.
"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya, Mr.Scott? ditempat yang tak seharusnya. Tapi tentu ... kita tidak sempat berkenalan, saat itu anda terlihat sangat sibuk." kata Steven. Senyumnya mengindikasikan sesuatu. Membuat Clara dan dokter Frans memandang mereka penuh tanya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya dr. Frans.
"Hmm...saya pikir mungkin saat itu saya tidak melihat anda, maafkan saya tidak mengenali anda saat itu." sahut Alex ramah.
Suasana terasa berbeda, sesuatu yang mencurigakan diantara mereka dicairkan oleh dr.Frans yang lebih memahami keadaan. Karena itu ia segera beralih pada Clara.
"Clara, ingin jalan-jalan?" tanyanya.
"Huh? jalan..." reflek Clara menoleh pada Steven.
"Biarkan dua orang ini bernostalgia. Ada satu hal yang ingin aku buktikan tampa kehadiran tuan Steven, ini akan menentukan apakah kita perlu bertemu lagi atau tidak." katanya.
"Pergilah," suruh Steven. Lalu menatap Carlos yang berdiri beberapa meter dari mereka. Carlos yang mengerti mengangguk singkat.
Setelah kepergian keduanya, Steven merubah mimiknya menjadi datar dan serius. Selayaknya saat ia dikantor. Sama sekali tidak ada raut ramah atau bersahabat. Begitu juga dengan Alex. Pria itu seperti berubah menjadi orang lain.
"Jadi, apa tujuanmu menemuiku?"
Alex menarik sudut bibirnya. "Anda tahu tuan Aston sangat tertarik pada anda bukan? karena dia belum juga berhasil mengajak anda...penelitian kami terhambat."
"Jadi dia menyuruhmu untuk membujukku?"
Alex tersenyum, "Menurut anda? bahkan dia tidak berhasil bagaimana saya bisa melakukannya?" jawab Alex santai.
"Tuan Steven...anda sangat spesial anda tahu? saya tidak tahu dimana letak ketertarikan tuan Aston pada anda. Sejauh ini...belum pernah ia memperlakukan targetnya sebaik ini. Dia bahkan membantu anda berdiri hingga kuat, membiarkan anda melangkah sesuka hati bahkan mengancamnya...anda benar-benar menarik perhatian saya." lanjut Alex. Steven menatapnya, tampa ekspresi yang bearti dan tampa niat untuk menjawab.
__ADS_1
"Saya penasaran...seperti apa isi didalam kepala anda. DNA seperti apa yang anda miliki..."
"Karena itu kamu berani menemuiku? lalu kamu berfikir aku adalah target penelitian Aston? pemikiran yang sangat sederhana." jawab Steven.
Kedua alis Alex menukik sesaat. Jelas dari eksoresinya pria itu tampak bingung sesaat. Namun ia menyembunyikannya dengan baik. Dalam hati bertanya-tanya apakah tebakannya salah?
"Kembalilah pada teman-temanmu dan belajar lebih giat. Kamu terlalu awal menemuiku." lanjut Steven sambil bangkit berdiri.
"Cepat atau lambat..." Alex ikut berdiri, pandangan mereka kembali bertemu. "Tuan Aston akan mendapatkan anda dalam ruangan penelitiannya. Saya belum pernah melihatnya gagal." kata Alex dengan sangat yakin. Membuat Steven menyunggingkan senyum remeh.
"Apa ayahmu tahu hubunganmu dengan Aston? Kenapa tidak jujur? mungkin kamu akan jadi anak kesayangan." sindir Steven, meninggalkan kesan formal mereka. Lalu dengan langkah ringan meninggalkan Alex yang mengepalkan tangannya.
.
Sementara itu Clara dan dr.Frans sedang berjalan sepanjang pantai. Lalu duduk disalah satu kursi santai disana. Sejak tadi dr.Frans terus memberikan pertanyaan. Namun entah mengapa Clara merasa lelah hanya dengan menjawab semua pertanyaannya. Seolah otaknya dipaksa bekerja dua kali lipat.
"dokter Frans, jangan bertanya lagi. Aku lelah menjawabmu." keluh Clara.
Frans tertawa, "Ini yang terakhir, bisakah kamu menonton vidio ini?"
Clara menerima ponsel dokter Frans. Lalu dengan malas mulai menonton vidio yang sedang diputar. Vidio itu adalah sebuah film. Lebih tepatnya cuplikan dari sebuah film. Beberapa menit berlalu, Clara melebarkan matanya lalu membalikkan ponsel itu secara reflek diatas meja. Tubuhnya menjadi kaku sesaat. Suara dividio itu masih bisa ia dengar, suara jeritan dan permohonan maaf.
Dokter Frans mengambil ponselnya dan mematikan vidio itu. Lalu kembali fokus pada Clara yang mengerjap perlahan. Berusaha mengatur nafas dan menatap dokter Frans dengan wajah syok.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
"Saya...saya pikir saya baik-baik saja, hanya terkejut... " jawab Clara pelan. Dia bisa merasakan jantungnya yang memompa begitu kencang.
"Tidak apa, itu hanya film. Kalaupun terjadi di dunia nyata, kamu tahu apa yang dilakukan bukan?" Clara mengangguk.
"Sudah selesai? Kenapa kalian sangat lama?"
Suara Steven mengintrupsi keduanya.
"Tentu, Clara terlihat jauh lebih baik. Dia sudah tidak takut dengan orang baru dan berada di keramaian kan? aku pikir dia sudah sembuh. Hanya jaga agar dalam waktu dekat dia tidak mengalami kejadian yang memicu traumanya kembali. Selanjutnya kamu tidak perlu minum obat lagi." jawab dokter Frans yang segera beralih pada Clara.
"Terima kasih, anda bisa pergi kalau begitu."
"Oh God...! Anda tega sekali padaku. Tapi baiklah, aku memang dokter yang sibuk. Jadi aku pergi dulu. Nah, tuan Steven jangan lupa gaji terakhirku." katanya, lalu pergi dengan wajah penuh kepuasan.
Keduanya kembali kepenginapan untuk makan siang, karena Steven ingin mengajak Clara mencoba beberapa permainan setelahnya sebelum sore ini kembali kerumah.
"Dimana Jun? dia masih sakit kan?" tanya Clara. Carlos sedang mencari kesekeliling penginapan dan menanyai beberapa orang.
"Saat saya disuruh mengambilkan air, dia masih di dalam kamar. Saat saya kembali dia tidak ada." jawab pengawal itu.
Clara mencoba menghubunginya namun nomornya tidak aktif. Steven masuk kedalam kamar, lalu mengedarkan pandangannya kesegala sudut. Tidak ada apapun. Kamar itu kosong dari barang milik Jun.
"Pada akhirnya kamu memilih pergi, pengecut!" desis Steven. Dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa notifikasi bahkan E-mail. Namun tidak ada satupun pesan yang masuk dari Jun.
"Kita harus mencari dia, Steve. Bagaimana kalau terjadi sesuatu. Dia masih sakit." pinta Clara diambang pintu.
"Tidak perlu, ayo makan siang." kata Steven, berjalan keluar dan menarik Clara bersamanya.
"Tidak, kita harus mencari Jun." tolak Clara sambil melepaskan genggaman Steven.
Steven menggeram marah, "Untuk apa mencari orang yang ingin pergi. Dia sudah pergi atas keinginannya. Dia sudah keluar dari perusahaanku." jawab Steven dengan nada ketus. Emosinya mulai naik.
"Pergi? tidak mungkin ... Jun ... pergi?" lirih Clara.
"Ya, dia memilih pergi dari pada menghadapiku atau menghadapi perasaannya sendiri." jawab Steven sinis.
Clara menatapnya tidak mengerti, namun Steven sama sekali tidak berniat menjelaskannya. Dia memerintahkan Carlos untuk menyiapkan kapal. Memutuskan segera pulang. Suasananya tidak sebaik tadi untuk dia merencanakan senang-senang. Kepergian Jun seperti pukulan tersendiri untuk keduanya. Apalagi Steven yang sudah bersamanya sejak lama. Jun bukan hanya kepercayaannya, namun sosok penting yang memahami dirinya selama ini. Orang yang bisa melakukan apapun untuknya tampa mengeluh. Bahkan sahabatnya tidak mendapatkan kepercayaan sebesar yang didapatkan Jun.
.
Mereka kembali kerumah dalam suasana hati yang tidak baik. Hanya saling diam. Steven bahkan lupa bahwa mereka melewatkan makan siang. Sehingga saat sampai dirumah. Carlos dengan sisa keberaniannya mengingatkan mereka untuk makan.
Sindy yang melihat keadaan mereka menghampiri Clara yang akan naik. Sementara Steven pergi menuju ruang kerjanya diikuti oleh Carlos.
"Clara...ada apa?" tanyanya. Namun Clara hanya berlalu pergi.
Sindy mengernyit heran. Maka dengan cepat ia menghampiri salah satu pengawal yang ikut dan memaksanya bicara.
"Tuan Jun menghilang," katanya.
"Kemana? kenapa bisa?"
"Tidak tahu, lagi pula bukan urusan kita." kata pengawal itu ketus. Kemudian pergi begitu saja. Membuat Sindy mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Clara tidak bisa tidur sampai tengah malam. Sejak sampai dirumah dia terus mencoba menghubungi Jun namun ponselnya tetap tidak aktif. Clara benar-benar merasa bersalah karena dirinya yang tak jujur pada Steven, Jun jadi sasaran kemarahan Steven. Dalam pikiran polos gadis ini, Jun pergi karena Steven yang memukulnya. Karena itu ia tidak ingin bekerja lagi dengannya.
"Jun...kamu dimana? Aku harus minta maaf padamu." lirihnya, memeluk bantal dengan wajah kusut.
Clara bangkit, menyingkirkan selimut lalu berjalan keluar. Ia pergi kedepan kamar Steven. Mengetuknya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya dengan berani ia membukanya. Masuk sedikit dan melihat kalau saja Steven tertidur. Nyatanya kamar itu kosong dan terasa dingin. Sepertinya Steven belum masuk kekamar sejak mereka pulang.
Clara turun kebawah menuju ruang kerjanya. Perlahan membuka pintu, namun tidak jadi masuk kedalam. Ia menghentikan langkahnya diambang pintu saat melihat pemandangan didalam. Dimana Steven sedang tertidur pulas diatas pangkuan Sindy. Mungkin karena mendengar pintu terbuka, pria itu membuka matanya. Meringis pelan saat duduk dan menatap kearah pintu.
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Clara datar.
Steven masih mengumpulkan kesadarannya. Clara melirik botol minuman diatas meja bulat didepan Sofa. Menebak-nebak apa yang terjadi.
"Kenapa disini? kamu terbangun?" tanya Steven sedikit sempoyongan saat berdiri. Dengan sigap Sindy memegang lengannya.
"Maafkan aku, lanjutkan acara kalian!" ketus gadis itu, lalu berlari dari sana dengan perasaan kacau. Ingin marah tapi dia sadar mereka tidak terikat hubungan apapun, dia sendiri yang menolak.
"Clara bodoh! kamu tidak harus menangis. Dia bebas mau sama siapapun." isaknya sambil menekan tombol untuk masuk kedalam lift.
Setelah pintu terbuka ia segera masuk dan menghapus kasar air matanya. Setelah sampai dia masuk kedalam kamar dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara itu, Steven yang sudah menemukan kesadarannya menarik dirinya dari Sindy. Lalu pergi begitu saja. Dia tidak ingat mengapa wanita itu bisa ada didalam ruang kerjanya. Bahkan dia tertidur dipangkuannya. Steven tadinya hanya sedang minum sendirian. Dia tidak bisa kosentrasi bekerja karena terus memikirkan Jun yang pergi. Perasaan marah dan kecewa membuatnya memilih mabuk untuk melupakannya.
Sindy yang masih di dalam ruang kerja itu tersenyum. Lalu dengan santai ia minum sisa dari minuman Steven tadi langsung dari botolnya.
"Perlu berapa lama lagi aku mendapatkanmu Steven? Aku beruntung karena kepergian Jun. Tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi." gumamnya.
Steven membuka pintu kamar Clara pelan. Berjalan mendekati ranjangnya dan menarik selimut yang menutupi tubuh Clara. Sayangnya gadis itu sepertinya sadar dan menahan selimutnya.
"Clara ... jangan sampai aku menariknya paksa." ancam Steven, kepalanya masih nyeri namun ia menahannya.
Clara membuka sedikit selimutnya dan dengan wajah merah dan mata berair ia mentap Steven marah. "Keluar! aku mau istirahat!" katanya dengan datar.
Steven menghela nafas, dengan pelan berbaring disebelahnya. Lalu memeluk Clara. Gadis itu meronta namun tak menghasilkan efek apapun. Steven terlalu kuat untuknya.
"Diamlah, kepalaku sakit."
Clara meliriknya dalam kemarahan yang semakin besar. Lalu dengan kesal berusaha bergerak membelakanginya. Steven tertidur dengan cepat, namun lengannya yang mengunci pergerakan Clara tidak terlepas. Ketika Clara hendak melepaskan diri Steven akan terbangun dan mengeratkan lagi pelukannya. Akhirnya dengan berat hati dan kemarahan yang ditahan, ia diam dan ikut tertidur.
.
Paginya saat Clara bangun Steven sudah tidak ada. Maka ia beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika keluar, ia terkejut dengan kehadiran Steven yang sudah duduk diatas kasurnya. Asik memeriksa ponselnya.
Clara dengan cuek berjalan masuk kedalam walk in closet untuk memakai baju. Berharap saat selesai Steven sudah pergi. Nyatanya harapannya sia-sia. Steven masih disana, dengan wajah tampa rasa bersalah malah menyuruhnya mendekat.
Clara diam saja, membuat Steven menghembuskan nafas dan dia yang bangkit berdiri. Lalu memeluk gadis itu dengan lembut.
"Selamat pagi." sapanya.
"Lepas, Steve! pergilah pada wanita yang mengharapkanmu!" kata Clara dengan sinis.
"Siapa? aku hanya ingin gadis yang bernama Clara. Aku tidak butuh gadis lain." jawabnya dengan tenang.
"Kamu tidak boleh memberi harapan ke gadis lain tapi bilang seperti ini ke aku. Kak Sindy suka sama kamu dan aku pikir dia lebih baik dariku." kata Clara. Steven tersenyum lalu menurunkan tangannya kepinggang gadis itu. Menjauhkan kepalanya agar bisa menatap wajah Clara yang terlihat kesal.
"Aku suka saat kamu cemburu."
"Aku tidak cemburu, aku realistis!" sewot Clara.
"Oh? kalau begitu aku yang tidak realistis. Ayo turun untuk sarapan. Lalu ikut Carlos untuk kuliah. Selama penyembuhan, kamu ketinggalan banyak pelajaran bahkan sebelum memulainya."
Clara melepaskan diri lalu mundur selangkah. "Aku mau Jun ditemukan dulu. Aku cuma ngerasa aman sama Jun ketika keluar." jawab Clara.
Seketika raut wajah Steven menggelap. Bahkan Clara mundur dua langkah karena takut. Wajah mengerikan itu kembali, saat-saat seperti inilah yang selalu ditakutkan oleh Clara.
"Apa Jun sangat penting bagimu?" tanya Steven dingin dan sarat akan amarah.
"Ya, Jun penting karena dia yang menjaga dan menghiburku saat kamu terus mengurungku disini. Jun yang mengerti saat aku sedih dan kawatir. Dia teman yang baik tapi karena aku juga ... kamu memukulnya!" jawab Clara, dia takut tapi dia juga marah. Sehingga meluapkan apa yang ingin ia rasakan.
"Aku tidak mengurungmu, Clar! ada alasan kenapa aku tidak membiarkan kamu pergi kemanapun!"
"Aku tahu, aku tahu tapi tetap aja! Kamu membiarkan orang lain ikut denganmu tapi kamu malah mengurungku disini! Aku tidak tahu orang lain kecuali Jun disini, semuanya terasa asing tapi kamu terus sibuk!"
Steven menghela nafas, ia akhirnya mengerti pokok kemarahan Clara namun tetap tak mengerti pemikiran gadis dihadapannya itu.
"Kamu cemburu sama temanmu sendiri?"
"Tidak!" elak Clara dengan cepat.
"Kalau begitu ... katakan siapa orang yang kamu bilang saat dipulau. Maka aku tidak akan bilang sikapmu ini karena cemburu." tantang Steven. Dia menyadari satu hal, bahwa mungkin saja dia keliru menuduh Jun adalah orangnya. Melihat kemarahan Clara tadi malam dan pagi ini, ia sedikit berharap meskipun ini masih pemikirannya. Bahwa pria itu adalah dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak ada orang lain kan?" pancing Steven. Clara diam dan menunduk. "Tidak ada orang lain karena itu aku?" tebaknya. Melihat reaksi Clara, akhirnya Steven memahami apa yang terjadi. Lalu mengusap wajahnya karena sudah merasa bodoh akhir-akhir ini. Melupakan akal sehat karena kecemburuannya sendiri. Lalu dengan lembut Steven membawa Clara kedalam pelukannya.