SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
26


__ADS_3

Kepala sekolah sedang duduk di kursinya. Memandang kursi kosong yang baru saja diduduki Bobby. Melirik ke arah pintu saat mendengar ketukan.


"Masuk!"


Aldo masuk dan berdiri di depan mejanya.


"Anda memanggil saya?" tanya Aldo


"Ya, maaf untuk ini Al ... aku tahu kamu yang memintanya untuk masuk ke dalam organisasi sekolah. Hanya saja ... sepertinya Steven memintanya keluar. Temannya baru saja datang kemari untuk mengatakannya. Kamu tahu kan? keinginan Steven penting agar dia mau mengikuti olimpiade internasional?"


Aldo jelas tidak terima. Kepala sekolah bahkan menyadari wajah Aldo sudah mulai mengeras saat nama Steven disebutkan. Kedua tangannya mengepal erat.


"Apa sekolah lebih penting dari keinginanku?"


Dingin sekali, jelas sudah melupakan hubungan antar murid dan kepala sekolah. Aldo membuat hubungan antara mereka menjadi hubungan pemilik sekolah dengan karyawannya. Kepala sekolah sedikit menegang. Bagaimanapun Aldo adalah cucu pemilik yayasan dan pewaris utama.


"Jangan lakukan apapun. Aku yang akan bicara padanya. Beasiswa Clara membutuhkan prestasi dari keanggotaan OSIS agar pemegang saham lain tidak protes."


"Untuk masalah itu, Steven baru saja melunasinya sampi lulus."


Melihat keterkejutan Aldo, kepala sekolah menghela nafas berat. Sungguh dia juga sama terkejutnya dengan Aldo. Walau tidak menutup kemungkinan Steven mendapatkan uang dari ibunya.


"Berapa royalti yang diberikan sekolah atas keberhasilannya dalam olimpiade?"


"Tidak banyak, bahkan hanya bisa untuk melunasi uang kegiatan sekolah satu semester."


"Apa ibunya tahu? tidak mungkin secepat itu dia bisa negosiasi dengan ibunya untuk masalah uang. Dia harus membayar setidaknya 400 juta lebih karena Clara masih kelas 11."


Kepala sekolah tidak punya jawaban. Dia juga sudah memikirkan ini sejak tadi. Bobby bahkan tidak memberinya jawaban apapun saat ia bertanya tadi.


"Anda bisa melacak dari mana uangnya?"


"Dia selama ini tinggal dengan ibunya yang kaya, juga prestasi di sekolah lamanya. Aku pikir uang segitu bukan jumlah yang tidak bisa ia kumpulkan dari uang sakunya," jawab kepala sekolah dengan tenang.


Aldo mengangguk sekali dan berbalik. Keluar dari ruangan itu. Meskipun itu masuk akal, dia hanya tidak menerimanya begitu saja. Dia masih mencurigai Steven. Bagaimanapun tidak menerima Clara dikuasai begitu saja setelah selama ini ia berusaha mendapatkannya.


Kakinya melangkah menuju ruang OSIS. Memastikan barang Clara masih di sana. Diperjalanan dia berpapasan dengan Rafael. Berhenti dan menatap Rafael dengan sorot tidak biasanya. Rafael tersenyum, santai sekali meskipun tahu bahwa Aldo marah padanya.


"Aku tidak tahu kalau selama ini kamu berteman hanya demi keuntungan. Apa kamu pikir ayahmu akan selamanya duduk aman?"


Seketika senyum diwajahnya lenyap. Aldo baru saja memberikan ancaman. Sejujurnya ia sedikit terkejut. Selama ini mereka berempat memang sering bersama hanya di sekolah. Saat di rumah sudah akan sibuk dengan urusan masing-masing. Meski begitu, selama ini mereka tidak pernah bermasalah sedikitpun.


"Aku tidak tahu bagian mana yang membuatmu tersinggung. Tapi bagaimana bisa kamu mengancamku begitu?"


"Karena itu ... hati-hati dengan langkahmu. Kita sudah lama berteman tapi loyalitasmu sepertinya sudah berpindah."


Aldo menepuk pundaknya sekali sebelum meninggalkannya. Rafael menghela nafas, berbalik memandang punggung itu.


"Aku harap dia tidak terlalu jauh," gumamnya lirih.


.


Clara sedang bersama Steven diruang OSIS. Anak - anak OSIS tentu saja sudah tahu kabar ia keluar. Gosip menyebar dengan cepat. Hanya saja masalah dia yang bukan anak beasiswa lagi masih menjadi rahasia.


Jelas seluruh anak OSIS tampan tidak terima. Clara sangat rajin dan cekatan. Selama ini banyak membantu saat teman yang lain kualahan. Bahkan tidak ada yang bisa menggantikan tugas ketua OSIS saat ia absen selain dirinya.


"Kenapa wajah kalian seperti itu, aku masih bisa bantu kalau kalian butuh__" Clara menghentikan perkataannya saat pintu dihempas kuat.


Aldo melirik kotak berisi barang Clara dengan tidak suka sebelum menatap pemiliknya penuh amarah.


Ia melangkah mendekat, menatap bola mata gadis yang selama ini ia cintai dengan tajam. Kini ia merasa sudah benar-benar tercuri dan lalai. Sehingga tampa sadar terlambat bertindak.


"Jangan keluar." kata Aldo, nafasnya memburu namun ia masih berusaha tenang.

__ADS_1


"Kak Al ... aku senang selama ini jadi bagian OSIS. Kalian sangat baik. Lagi pula kita masih di sekolah yang sama. Aku bisa membantu sesekali kesini."


Aldo melirik tajam Steven yang tampak santai duduk di atas mejanya. Sedang memperhatikan mereka dengan tenang.


"Nah, terima kasih untuk kerjasamanya selama ini teman-teman. Maaf jika banyak merepotkan kalian."


Clara mengangkat kotak barang-barangnya yang tidak terlalu berat itu. Sudah tidak nyaman dengan suasana disana. Steven dengan santai melangkah lebar dan mengambil kotak di tangannya. Berjalan mendahuluinya tampa menghiraukan Aldo yang menatapnya penuh kebencian.


"Seperti kerbau yang ditusuk hidungnya? Apa yang dilakukan anak ini hingga kamu tampak bodoh menurutinya terus? dimana Clara yang aku kenal penuh pendirian? apa hanya semurah ini?"


Mendengar kalimat terakhir itu Steven berhenti. Begitu juga dengan Clara yang tampak tertegun di tempat. Dia bahkan tidak bisa menjawab. Ini pertama kalinya Aldo berkata kasar bahkan terkesan merendahkannya. Bukan hanya Clara, semua yang ada disana tampak terkejut.


Steven meletakkan kotak ditangannya dengan asal. Berjalan melewati Clara yang terdiam dengan mata berkaca-kaca. Semua anak disana bahkan tidak berani hanya sekedar bergerak.


"Jadi ... akhirnya cucu pemilik yayasan yang terhormat menunjukkan wajah aslinya. Aku penasaran selama ini yang mana wajahmu." kata Steven setelah ia berdiri tepat selangkah di hadapan Aldo.


Keduanya saling lempar tatapan tajam. Beberapa anak yang lewat menyadari perdebatan di dalam ruang OSIS berhenti. Mereka mengintip lewat jendela dan pintu yang terbuka. Clara dan anggota OSIS masih diam di tempatnya.


"Tidak peduli kamu maskot sekolah. Aku bisa menendangmu dengan mudah. Berhenti bertingkah sok penting dan sadari posisimu disini. Selagi aku memberimu waktu, pergi saja dengan tenang. Jika tidak, jangan salahkan aku namamu akan berakhir menjadi kriminal kecil."


Steven tersenyum, dia tahu apa yang coba dilakukan Aldo. Mengancamnya dengan informasi palsu yang didapatkannya. Steven tentu sudah menyelidiki siapa informan Aldo. Apa yang ia ketahui, Jun sudah menyelidikinya.


"Jangan kawatir, aku akan baik-baik aja."


Steven berbalik, mengangkat alis ketika teman-temannya tampak panik masuk ke dalam diikuti teman-teman Aldo.


"Hmm ... kami dengar perkelahian. hehehe...sepertinya mereka berlebihan." kata Fajar menggaruk lehernya canggung.


Bobby, Teddy dan Sam tampak sudah tenang. Berbeda dengan Bobbi dan Rafael. Keduanya tampak masih kawatir, terutama saat dia melihat Aldo dan Steven.


"Sebaiknya hentikan perdebatan. Kakekmu ada disini." kata Rafael menatap Aldo.


Steven terkekeh, pandangan mengejek jelas ia layangkan pada Aldo. Menarik tangan Clara pergi dari sana setelah lebih dahulu mengambil kotak barang dan memaksa Sam membawanya. Aldo jelas terkejut sampai ia mengabaikan ejekan Steven. Tidak biasanya kakeknya ke sekolah. Dengan cepat ia keluar.


.


"Why?"


Clara mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Steven jelas tahu apa yang menyebabkan wajah Clara tampak sedih.


"Kak Aldo akan membenciku."


"Lalu?"


Clara mendongak, menatap hazel tajam itu dengan wajah memohon.


"Dia sudah aku anggap sebagai kakakku. Dia yang selama ini menjagaku di sekolah."


Steven terdiam, matanya melirik sesaat pada Sam yang berdiri di sebelah tiang. Sam memberikan gekstur diam dan dengarkan. Sayangnya pendapat itu tidak di setujuinya.


"Dia baik padamu karena dia menyukaimu." Clara menggeleng, dia menunduk lagi.


Steven semakin bingung. Dia beralih meminta saran Bob dan Ted yang berdiri di sisi kirinya. Melihat wajah frustasi temannya, Teddy terkekeh tampa suara. Membuat Bobby menepuk kepalanya gemas.


'Diam saja dan dengarkan'


Bobby mengatakannya tampa suara. Hanya bibirnya yang bergerak. Steven semakin kesal. Mana bisa dia diam. Dia tidak suka Clara memikirkan pria lain. Yang benar saja.


"Kak Al hanya sedang kecewa dan marah. Selama ini aku banyak berhutang kebaikan padanya. Aku minta maaf untuk ini Steve...izinkan aku tetap berteman dengannya."


Steven dengan segala keposesifan dan egoismenya yang tinggi tentu saja menolak keras. Namun wajahnya hanya datar saja. Clara mendongak lagi, meminta jawaban.


"Jika aku menolak?"

__ADS_1


Clara tampak ragu untuk mrnanggapi Steven yang keras. Dia menggigit bibirnya dengan gusar sebelum menjawab.


"Aku ... aku akan tetap berteman dengannya," lirihnya.


"Jadi lebih memilih dia, begitu?"


Ketiga temannya sudah tampak frustasi akan sifat Steven yang egois pada apapun. Ingin menyela tapi takut juga.


"Ini bukan tentang pilih dia atau kamu, Steve! Aku__"


Clara menghentikan pembicaraannya. Tiba-tiba saja kepala sekolah muncul dengan beberpa guru dan seorang yang Clara kenali sebagai kakek Aldo.


Clara menyingkir ke pinggir disamping Sam. Steven berbalik dan disambut senyum cerah kepala sekolah. Rombongan itu berdiri di hadapannya. Steven menganggukkan kepala dengan bahu sedikit turun memberikan sapaan hormat.


"Ini murid yang bernama Steven. Kita sudah menyelesaikan status kewarganegaraannya. Bulan depan dia bisa mengikuti olimpiade di Jerman__"


"Maaf kepala sekolah, saya pikir saya belum menyetujuinya."


Semua orang disana menegang. Bagaimana Steven dengan berani menyela kepala sekolah didepan pemilik yayasan. Namun berbeda dengan teman-teman Steven, mereka menegang lebih karena Steven yang terlihat menahan amarahnya. Karena pihak sekolah yang lancang mengubah status kewarganegaraannya.


Kakek Aldo tersenyum sambil mengulurkan tangannya. "Aku Bayu, pendiri yayasan ini. Sangat terhormat anda memilih sekolah kami, tuan Kim."


Wajah dingin Steven menjadi kaku sesaat. Hanya beberapa orang yang akan memanggil nama keluarganya. Steven mungkin masih remaja, tapi pria tua dihadapannya ini membuatnya tertawa tampa suara.


"Tampaknya saya tidak bisa memandang remeh anda, pak Bayu."


Steven meraih tangan tua itu dan membalasnya dengan senyum remeh. Ketiga temannya tampak waspada meskipun tidak mengerti. Berbeda dengan kepala sekolah dan staf guru yang tampak was-was dengan sikap Steven.


Jabat tangan itu terlepas. Bayu menoleh ke kanan dimana Clara berdiri kaku. Ia tersenyum kecil sebelum menatap Steven lagi.


"Bisakah kita makan bersama lain waktu?" Steven menarik senyum kecil, mengangguk sekali.


"Tidak masalah, anda yang tentukan tempatnya." jawabnya.


Setelahnya Steven berbalik. Meraih pergelangan tangan Clara dan pergi dari sana. Clara membungkuk memohon izin pada seluruh orang dewasa disana dengan tergesa-gesa saat ia ditarik paksa.


Senyum Bayu masih terpatri dibibirnya saat menatap punggung lebar remaja Steven. Senyum penuh arti yang tersembunyi.


"Pastikan dia betah disini sampai lulus. Lakukan apapun keinginannya."


"Baik pak," jawab kepala sekolah cepat.


Meskipun semua guru tampak bingung. Mereka hanya menduga sikap pemilik yayasan seperti itu karena Steven mengharumkan nama sekolah. Sehingga ia menghargainya dan tidak mempermasalahkan sikap tidak sopan anak itu. Berbeda dengan kepala sekolah yang seperti mencurigai ada sesuatu. Dia mengenal dengan baik kakek Aldo. Belasan tahun mengabdi padanya. Bukan sifatnya sama sekali beramah tamah dengan orang yang berada dibawahnya meskipun itu hanya pura-pura.


Tidak jauh dari sana, Aldo dan Rafael berdiri mengamati. Tentu saja keduanya terkejut dengan sikap kakek Aldo. Bahkan Rafael yang selama ini menyukai Steven menjadi lebih takut dari sebelumnya.


"Aku beri saran, brother! jangan membuat Steven murka. Kakekmu seosrtinya sangat menyukainya."


Aldo mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Rahangnya mengeras. Rafael menatapnya sesaat lalu menghela nafas.


"Aku mengatakan itu karena kawatir kamu akan berbuat terlalu jauh. kita masih sekolah, harus kuliah. Masih panjang untuk mendapatkan sepenuhnya kekuatan keluargamu. Tapi Steven ... anak itu mencurigakan sejak awal. Dia penuh rahasia dan jenius. Jenius lebih menakutkan dari pemilik kekuasaan. Kita tidak tahu apa yang sudah dan akan dilakukannya. Aku yakin, kalau dia mau dia sudah mendapatkan gelar profesor sejak dulu melihat catatan prestasi dan rumor yang beredar."


"Rumor?" sahut Aldo, wajahnya sudah melunak.


"Kamu tidak tahu? bukannya kamu nyelidikin dia?"


"Ya,"


Rafael terkekeh dengan wajah masam.


"Kamu hanya mencari tahu kejelekannya, ya?" Rafael berdecak sebelum melanjutkan, "Steven sangat populer dikalangan intelektual Singapura dan seluruh Universitas ternama luar negri. Aku mendapat informasi ini sebulan yang lalu. Walaupun ada kekuatan yang menekan penyebaran informasi, tentunya ada sedikit yang bocor dan jadi rumor. Steven diinginkan banyak Universitas bahkan sekelas Harvard. Kamu tahu alasan dia tidak pernah mau tes IQ? rumornya karena dia tidak mau banyak pihak tahu seberapa jenius dia dan malah nanti memanfatkan dirinya. Dilihat dari sifatnya, Steven tidak suka banyak perhatian dari orang-orang. Dia suka yang diam-diam tapi bertindak."


Keduanya terdiam. Aldo memang selama ini fokus untuk menjatuhkannya. Tidak mencari tahu fakta lain mengenai prestasinya. Kini ia memutuskan mencari jalan lain untuk merebut Clara kembali. Dia tidak akan pernah rela kalah. Apalagi memikirkan menikah dengan wanita yang tidak dicintainya nanti.

__ADS_1


Pemikiran remaja labil yang belum dewasa, Aldo sama dengan remaja lain. Diliputi emosi dan egoisme yang tinggi. Selain karena status, pengaruh kuat kakeknya yang membuat ia memiliki kepribadian seperti itu.


__ADS_2