
Steven sedang makan malam bersama ayahnya. Siang tadi, ayahnya kembali dipanggil untuk menjadi pelatih tetapi kali ini untuk timnas indonesia usia dewasa. Raut senang jelas terpancar diwajah ayahnya. Steven cukup mengapresiasi kinerja Yuno kali ini.
"Ayah ... kenapa tidak mencari istri lagi? biar ada yang menemani."
Ayahnya berhenti mengunyah. Menatapnya dengan ekspresi terkejut. Lalu entah apa yang dipikirkannya, wajahnya berubah Sedih.
"Kamu mau pindah ke rumah ibumu lagi?"
Apa yang dia pikirkan?
"Jangan kawatir, ayah! mana mungkin. Hanya nanti saat sudah kuliah, akan sibuk dan mungkin jarang pulang."
"Kamu kan lulus masih lama." sahut ayahnya mulai tampak biasa lagi.
"dua bulan bukan waktu yang lama."
Ayahnya kembali berhenti makan, kali ini menatapnya serius.
"Sudah pilih universitas mana? Kamu pintar jadi tidak akan sulit lulus tes. Kalau butuh bantuan bilang pada ayah."
"Sudah terdaftar di Unifersitas Indonesia. Jurusan Manajemen bisnis dan informatika. Saya akan ambil kuliah privat jadi bisa sambil bekerja."
Ayahnya mengernyit "Privat? bukankah itu tidak ada di program kampus?" Ayahnya kini menatapnya curiga. "Kamu meminta dosennya secara langsung? lagi pula untuk apa kerja. Ayah cukup mampu bayar kuliah dan kasih jajan. Ibumu tahu itu?"
Steven meletakkan sendoknya karena sudah selesai.
"Ibu sibuk, tapi rutin kirim uang. Jadi tidak masalah pakai uang ibu untuk bayar dosen dan pihak kampus juga sudah memberi izin." Steven sedikit menyesal membohongi ayahnya. Nyatanya ibunya memiliki masalah keuangan dengan sejumlah skandal yang ia timbulkan.
"Wah ... benarkah? bagai__"
"Selesaikan saja makan ayah dulu." potong Steven dengan sabar.
Ayahnya tertawa, dia akhirnya buru-buru melanjutkan makannya. Steven menatap ayahnya dengan raut yang sulit dijelaskan. Dia sedang memikirkan cara memberitahu ayahnya tentang rahasianya. Karena meskipun ayahnya tampak mempercayainya, Steven tahu dibenaknya tersimpan setumpuk pertanyaan.
Steven mungkin tidak peduli akan kemarahan ibunya, tapi dia sangat menyayangi ayahnya. Karena setelah lulus SMA, dia akan mulai memimpin perusahaannya sendiri. Lawan bisnis sudah semakin kuat dan Yuno sering kali kualahan. Belum lagi mereka terus menekannya untuk bisa bertemu langsung dengan pemilik saham terbesar dan pendiri GGF. Hal itu belum termasuk penyerangan-penyerangan yang dilakukan tim lawan yang berusaha menggagalkan usahanya. Dimana penyerangan paling parah adalah saat Yuno kehilangan satu jari kelingkingnya.
"Apa yang kamu lamunkan?"
Steven kembali dari pikirannya. Tersenyum tipis dan menggeleng. Ayahnya sudah selesai dan dia mengangkat piring mereka menuju dapur. Steven ikut mengangkat gelas. Pikirannya melayang pada Clara yang ada dirumahnya. Steven belum menghubunginya sejak pulang sekolah. Hanya mendapatkan laporan rutin dari Jun.
.
"Kamu akan keluar?"
Ayahnya sedang duduk diruang tamu menonton berita saat Steven sudah rapi dengan setelan Gucci keluaran terbaru. Segala yang melekat pada tubuhnya jelas barang bermerk. Ayahnya juga sadar itu. Hanya saja pakaian yang ia siapkan dilemarinya hanya merk lokal. Meskipun ada merk luar negri, tapi itu bukan merk terkenal. Karena itu dia cukup terkejut sebanyak apa ibunya mengirim uang untuknya. Sementara dia selalu mengikuti pemberitaan mantan istrinya, sedikit tidak masuk akal jika mengirim uang dengan jumlah banyak. Belum lagi mengingat gaya hidupnya sendiri dan beberapa skandal baru-baru ini.
Tidak ingin menaruh curiga dan menghadirkan percikan ketidak nyamanan antara mereka. Ayahnya memilih abai. Menarik sudut bibirnya dan mengngguk untuk memberikan izin.
Steven tidak bodoh untuk menyadari sorot mata penuh curiga dari ayahnya. Waktunya akan datang untuk dia mengatakan segala hal. Bagaimanapun dia ingin ayahnya berhenti menyusahkan hatinya. Menghadirkan kebahagiaan untuknya yang sudah lama ditinggalkan. Steven dapat merasakan kesepian yang panjang. Terkadang merutuki ayahnya karena kesetiaan hati yang tak ingin berhenti mencintai, bahkan disaat orang itu hanya bermain-main dengan hidupnya.
Membelah jalanan dengan santai, tujuan utamanya adalah rumahnya. Ditengah jalan ingin mampir membeli pakaian untuk Clara. Memasuki butik yang sudah pasti berisi barang dengan brand ternama. Sayangnya, ia tidak menemukan dompetnya dimanapun. Mendesis kesal saat ada saja orang bodoh yang kehilangan akal untuk terus berhayal bahwa hanya mereka yang memiliki uang. Mereka bahkan mulai memprovokasinya.
"Gaya sih boleh ya, barang pinjaman aja sok mau beli pakaian disini. Atau baju kamu KW limited?"
Seorang Wanita dan pria, sepertinya sepasang kekasih atau suami istri, Steven tidak peduli. Dia mengetik pesan pada Yuno untuk datang dengan cepat.
"Maaf mas, jadi beli bajunya?" tanya karyawan kasir.
"Mana mungkin dia mampu bayar sebanyak ini, anak ini sepertinya mau mencuri dan sedang menunggu teman-teman premannya!" tuduh sang pria.
Karyawan kasir tidak berani bicara banyak. Dua orang yang menghina Steven merupakan pelanggan setia mereka. Sementara itu mereka tidak buta bahwa yang dipakai Steven bukan barang palsu.
__ADS_1
"Lanjutkan menghitung selagi dompetku dalam perjalanan." jawab Steven tenang, mengabaikan dua orang itu.
"Cih! dalam perjalanan. Aku lihat bahkan mobilmu mobil murah kelas bawah. Mengaku saja! Maling kan?" lanjut si pria.
"Ini gawat! kita harus panggil keamanan dan polisi!" timpal si wanita.
"Maaf mbak dan mas mohon sabar. Apakah anda sudah akan membayar, saya akan proses." kata karyawan kasir dengan sopan.
"Apa-apaan kamu! kamu meremehkan kami! aku bilang panggil keamanan ya panggil cepat! aku tidak mau jadi korban!"
Steven mulai muak. Disekeliling mereka sudah mulai muncul kerumunan pengunjung lain yang ingin tahu apa yang terjadi.
Steven yang sedari tadi menyamankan dirinya disofa tunggu tampa menghiraukan mereka kini menoleh. Meneliti penampilan keduanya dari atas sampai bawah. Tidak ada ekspresi apapun. Wajahnya datar dengan mata dingin yang tajam. Menciptakan gelombang risih dan takut. Aura hitam mengalir disekitarnya, dia bahkan tidak bergerak sama sekali. Hanya menatap tampa keinginan berbicara.
"Apa yang kamu lihat!" teriak si wanita.
"Lihat, kan! dia ini kurang ajar! dia melecehkan pacarku!" tuduh si pria.
Melecehkan apanya, Steven hanya menilai dikelas mana mereka dari apa yang mereka pakai. Tapi tentu saja disalahartikan oleh siapapun yang hanya memiliki hal-hal buruk dalam pikiran mereka.
Steven melirik ke arah kerumunan dan mengangguk pada seseorang disana bertepatan saat pria itu mulai maju dan ingin memukulnya.
Dua pria dewasa membelah kerumunan dan menangkis serangan pria tersebut. Mendorongnya hingga terlentang ke lantai. Menghadirkan jeritan dan bisik-bisik karena terkejut.
"Lihat! teman premannya sudah datang! kalian kenapa diam saja!" teriak si wanita dan menolong pacarnya bangun.
Karyawan toko tampak waspada. Mereka mulai ragu dan kawatir akan keberadaan Steven. Kemudian pemilik butik yang baru saja tiba muncul dan tampak marah luar biasa.
"Apa yang terjadi? siapa yang mencari masalah dengan anda?" tanyanya pada kedua orang itu.
"Dia dengan kawanan premannya. Pasti mau mencuri disini!"
"Kamu tolong keluar dari sini sebelum saya panggil pihak keamanan!" kata sipemilik, masih berkata sopan meskipun garis kemarahan jelas ia perlihatkan.
"Aku pasti akan memotong tangannya!" kata Steven dengan santai.
Dua orang pengawal yang memang selalu mengikutinya sejak dulu itu tentu saja paham siapa yang dimaksud tuan mereka. Sayangnya tidak dengan orang lain. Mereka semakin yakin bahwa Steven adalah seorang kriminal.
Pihak keamanan tiba bersamaan dengan Yuno dan asistennya. Berdiri dengan wajah menyesal sekaligus takut di hadapan Steven.
"Kenapa lama sekali, kak Yuno."
Steven bertanya sembari bangkit. Menatap kesal Yuno seperti seorang adik yang kesal pada kakaknya. Yuno yang paham situasi segera tersenyum manis. Ikut bersandiwara demi menutupi identitas tuannya.
"Maafkan aku ... kamu kan tahu aku sibuk. Jadi..." Yuno menjeda, memutar arah pandangnya kepada tiga orang yang berdiri berdampingan di belakangnya. "Apa yang terjadi? Kenapa adikku tampak dimusuhi?" lanjutnya. Memutar tubuhnya dengan sempurna. Melayangkan senyum ramah dengan raut wajah yang menimbulkan ketidaknyamanan.
Yuno jelas mengenal pemilik butik, mereka bekerja sama untuk sebuah iklan. Sementara pria yang menjadi pelanggan tadi adalah salah satu kepala bagian di perusahaan.
"Kalian sudah menghitung?" Steven melayangkan pandangannya pada beberapa paper bag disana.
"Su ... sudah tuan! Si ... silahkan." kata petugas kasir dengan gugup.
Tampa banyak bicara Steven meraih semua belanjaannya dan pergi dari sana. Meninggalkan Yuno yang masih tersenyum ramah tapi mengerikan untuk siapapun yang melihatnya. Memberikan kartu ATM miliknya pada sang kasir.
Siapa yang tidak mengenalnya? Wajahnya akhir-akhir ini sering muncul di majalah bisnis maupun sosialita. Most wanted yang di incar wanita single. Sosial medianya bahkan lebih terkenal dari artis. Sayangnya dia juga terkenal dengan wajah evil yang ramah dikalangan netizen. Sepak terjangnya tidak diragukan lagi. Tidak tahu saja, semua keputusan yang dilakukannya sebagian besar atas perintah. Aslinya dia tidak terlalu kejam. Stevenlah dalangnya dan dia yang harus menerima tuduhan
Lalu sekarang, dia harus bisa menebak pikiran tuannya atas tiga orang yang membuatnya kesal. Kira-kira apa yang akan terjadi pada mereka?
.
Ayah Steven memutuskan memasuki kamar anaknya setelah berbagai pikiran menghantuinya.
__ADS_1
Sejak Steven pindah, ini adalah pertama kalinya dia masuk ke kamar ini lagi. Steven tidak banyak merubah tata ruang kamarnya. Semuanya persis seperti awal ia masuk. Di atas meja, hanya ada foto tiga orang. Dia, Steven sendiri dan Clara. Menarik senyum kala menyadari anaknya sudah bisa mencintai seseorang.
Keningnya mengernyit saat menemukan dompet Steven di atas buku yang masih terbuka. Entah dorongan dari mana, dia membuka dompet itu. Memeriksa isinya, hanya ada beberapa uang tunai. Tidak banyak, yang banyak adalah kartu ATM, SIM, kartu member club yang ada di singapura. Dari semua itu, ayahnya terpaku pada satu kartu hitam ditangannya. Dia memeriksa sisa kartu yang ada dan terbelalak begitu saja saat melihatnya.
Ayahnya terduduk begitu saja dikursi belajar, kepalanya terasa kosong dengan pikiran-pikiran yang tak menentu. Dia bukan orang bodoh atau kampungan yang tidak pernah melihat jenis kartu itu. Jika mungkin satu masih bisa dipercaya, mungkin milik salah satu teman kayanya yang ia pinjam. Tapi ini ada 3 buah. Ini bukan leucon yang bisa dimainkan anak SMA.
Ayahnya membuka laci meja, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Hanya peralatan belajar yang ada disana. Bahkan benda disana seperti nyaris tak tersentuh.
"Dari mana dia mendapatkan kartu-kartu itu? apa dia mencurinya disekolah dari anak-anak kaya? tidak mungkin, dia bukan anak seperti itu."
Merapikan lagi dompet Steven dan meletakkannya kembali ketempat semula. Ayahnya keluar dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Berbagai pikiran buruk terus saja menghampirinya satu persatu.
"Harusnya aku tidak menggeledah isi dompetnya. Steven anak baik, dia pasti memiliki alasan." gumamnya.
Pikiran yang luar biasa positif. Tidak tahu saja anaknya adalah sosok iblis kecil yang menguasai 70% saham GGF. Belum lagi saat ini ia sedang memulai pengembangan cabang di negri paman sam. Karena itu Yuno sangat kualahan. Persaingan dinegara besar dan maju tidaklah sama dengan asia. Meskipun sudah berhasil memasuki semua lini pasar asia, tentu saja eropa berbeda.
.
Steven sampai di istana megah yang pada awalnya dibangun untuk ia tinggal dengan ayahnya. Bangunan ini sudah cukup lama dibangun milik salah satu pengusaha. Steven membelinya dan melakukan renovasi sana sini sesuai keinginannya. Semuanya diawasi oleh Jun, karena dia yang sangat tahu gaya hidupnya seperti apa.
Jun menyambutnya di depan pintu dan membantu membawa belanjaan Steven. Mengikuti langkah tuannya menuju lantai dua.
"Anda akan masuk? nona Clara sudah tidur satu jam yang lalu."
Steven berhenti tepat di depan pintu. Memutar tubuhnya kembali menuju kamar lain di sebelahnya. Jun ikut masuk, meletakkan paper bag di atas sofa dan memohon untuk undur diri.
"Apa dia masih banyak diam?"
Jun berbalik, melihat garis lelah dan kawatir diwajah tuannya. Cukup tahu diri untuk tetap diam di tempat.
"Dia makan dengan baik?"
"Saya rasa Nona ingin kembali ke asrama. Dia tampak tertekan dan sering menangis. Selain itu ... sebelum tidur dia menerima panggilan telepon dari wanita bernama Sindy."
Steven tahu Sindy punya tujuan kali ini. Berkelit dengan hubungan persahabatan dengan Clara. Meskipun saat ini belum berbahaya, Steven sepertinya harus memberinya sedikit ultimatum.
"Rasa penasaran itu tidak bagus, tapi karena dia ingin tahu ... bukannya tugas kita memberi sedikit jawaban?" Seringai tipis nyaris tak terlihat terbit di wajah rupawannya. Selayaknya lukisan surgawi yang memancarkan aura mencekam.
Jun memberikan anggukan sekali, "Saya mengerti," jawabnya.
"Bagaimana Arnold? Dia masih disini?"
Kata disini yang dimaksudnya tentu saja mengacu pada Indonesia. Karena dia tidak boleh membiarkannya pergi sebelum mereka bicara.
"Belum ada pergerakan, tuan."
"Dia cukup lama kalau berfikir. Kemungkinan paling cepat besok dia akan datang padaku." kata Steven.
"Tuan ... ini tidak cukup penting tapi kemungkinan akan mengganggu anda," Steven menatapnya, menunggu lanjutan. "Luna ada di apartemen. Sedang berdebat dengan kakaknya."
Steven langsung memasang wajah kesal. Jun tahu dia akan terkena imbasnya sebentar lagi. Luna adalah adik kandung Samuel dan sangat tergila-gila dengannya. Gadis rewel dan manja. Bahkan Sam tidak pernah menang melawannya.
"Bagaimana dia bisa ada disini! Kalian tidak berbuat apa-apa untuk menggagalkannya?"
Wajah Jun seketika pias. Rasa menyesal dan takut jadi satu. Karena sesungguhnya, ia juga kecolongan.
"Maaf Tuan."
"Keluar dan pikirin cara menjauhkan dia dariku. Jangan sampai Clara tahu tentang dia. Aku tidak suka repot-repot!"
Jun mohon undur diri. Pekerjaan yang paling sulit dari dulu adalah menyingkirkan dua wanita dari hidup tuannya. Salah satunya adalah adik sahabatnya sendiri. Karena Jun tidak boleh berbuat kasar apalagi menyakitinya.
__ADS_1