
Clara sudah tidak masuk sekolah selama 3 hari. Semua orang sudah tahu akan ayahnya yang masuk rumah sakit. Pihak sekolah juga tentu saja memberi keringanan padanya. Aldo setiap hari mengunjungi Clara. Menghasilkan suasana tegang setiap kali saat Steven juga ada disana. Clara tidak menghiraukan mereka, setelah ayahnya dirawat diruang rawat inap dengan penjagaan ketat dari dokter. Ia hanya fokus pada ayahnya. Ayahnya belum bisa bicara meski sudah sadar. Namun Clara bisa melihat pandangan kecewa setiap kali sang ayah menatapnya.
Bagaimana hati Clara tidak sakit saat keberadaanya tidak dianggap. Ayahnya lebih memilih merespon adik-adik tirinya. Clara tidak tahu harus melakukan apa. Dia bingung cara menjelaskannya. Kedatangan Steven seringkali hanya menambah keruh hubungannya dengan sang ayah.
Pagi ini, pada hari ke tiga di rawat. Ayahnya sudah bisa mengeluarkan suara meski hanya berupa bisikan atau suara yang sangat pelan. Tapi sikapnya sama sekali tidak berubah. Clara duduk di kursi didepan kamar inap. Raut sedih jelas terpancar diwajahnya. Dalam tiga hari dia tidak nafsu makan. Pelayan Steven rutin membawakannya baju ganti. Mengurus kebutuhan makannya. Ibu tiri dan saudara tirinya selalu menatapnya sinis dan penuh iri tiap kali ia diperlakukan seperti seorang putri. Clara sudah berulang kali menolaknya namun perintah Stevenlah yang jadi masalah utama. Tidak ada yang berani melanggarnya.
"Sedang apa diluar? sudah sarapan?"
Clara diam saja. Sudah hapal suara siapa. Steven duduk di sampingnya. Diam seperti biasa saat Clara tidak ingin bicara. Ya, seperti inilah keadaan hubungan mereka saat ini. Begitu terasa asing dan hambar.
Bagi Steven tidak masalah asal Clara masih berada dalam jangkauannya. Dia mengerti akan keadaan Clara yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kita akhiri saja."
Steven tahu kemana arah perkataan itu. Memilih tidak menjawab. Mengabaikan seolah tak mendengar apapun.
Clara menatapnya, "Ayahku serangan jantung karena tahu aku keluar asrama, jika dia tahu aku tinggal dirumahmu..." Clara berhenti saat Steven menatapnya balik.
"Aku akan menjelaskannya saat ayahmu sudah membaik," bujuk Steven.
"Kapan kamu tidak egois? bisakan hargai keputusanku?"
Hening yang cukup lama. Steven memutuskan kontak mata mereka dan menghela nafas pelan.
"Kita akan bicarakan ini lain kali. Aku harus pergi."
Steven hanya mencari alasan. Clara tahu ini hanya cara agar mereka tetap dalam sebuah hubungan. Bukannya Clara tidak menyukainya lagi, tapi Clara entah mengapa memiliki perasaan benci pada Steven dan dirinya sendiri. Kalau saja Steven tidak memaksanya keluar dan saat itu dia bisa menolaknya dengan keras, ayahnya tidak akan begini. Hal-hal seperti itulah yang selalu berputar dalam pikirannya.
Seminggu setelah dirawat, ayahnya sudah bisa pulang. Clara juga sudah mulai sekolah lagi. Kali ini dia tidak di asrama maupun rumah Steven. Dia pergi dan pulang dari rumah orang tuanya. Steven juga tidak menemuinya sejak pembicaraan terakhir di rumah sakit. Hanya ada pelayan yang mengantarkan beberapa pakaian dan barangnya. Bahkan Jun juga tidak lagi menjaganya. Jun digantikan dua orang yang terus mengikutinya.
Disekolah, Steven juga tidak terlihat. Anak kelas tiga memasuki tahap ujian demi ujian. Bukan hal yang susah untuk Steven hanya saja dia memang akhir-akhir ini sibuk dengan perusahaannya yang mulai diresmikan di Amerika. Karena itu ia juga sering absen jika tidak sedang ujian.
Hal itu tentu saja menghadirkan kecurigaan yang lebih banyak dari sang ayah. Hanya saja Steven selalu beralasan belajar di rumah Sam untuk ujian akhir.
Clara sedang dikantin bersama Aldo. Sejak seringnya Steven absen, Clara juga menjauhi teman-temannya. Sam dan yang lain tidak ambil pusing selama tidak ada perintah dari Steven. Bahkan teman-temannya mengira mereka sudah putus.
"Ayahmu sudah lebih baik?"
Clara mengangguk pelan. Aldo menatapnya sendu. Sejak ayahnya masuk rumah sakit dan hubungannya bermasalah, dia memang lebih banyak murung dan diam.
"Mau pindah keasrama lagi? Aku akan urus semuanya."
"Tidak perlu kak, ayah menyuruhku dari rumah saja," Clara meletakkan sendoknya dan minum. "Aku duluan kak," ucapnya sambari bangkit.
Langkahnya terhenti tepat beberapa langkah di depan pintu masuk kantin saat melihat Steven berdiri disana. Menatapnya dalam keheningan yang menggelisahkan. Clara terpaku pada tempatnya, entah mengapa perasaan rindu yang selama ini terkubur membuncah begutu saja. Tapi mengingat keadaan ayahnya, ia tahu hanya ada masalah jika ia kembali jatuh pada Steven.
Dengan segala keberanian dan keteguhan yang ada, Clara berjalan cepat dan membuang pandangannya. Sempat terkejut karena Steven tidak mencegahnya. Clara tertawa miris, dia yang kemarin memilih menjauhinya kenapa dia yang terus-terusan merasa tersiksa?
Aldo yang melihat interaksi mereka terlihat menyeringai tipis, "Kembali seperti semula itu lebih baik," gumamnya.
Steven menghampiri teman-temannya. Duduk di sebelah Teddy, "Mau pesan?" tanya Ted yang makanannya hampir habis.
__ADS_1
"Tidak usah, ngomong-ngomong ini hari terakhir aku ke sekolah."
Semua teman-temannya menatapnya, saling bertukar pandang sebelum seorang anak perempuan dengan berani menghampiri mereka.
"Kenapa?" tanya Sam tidak sabar.
"It...itu kak...kepala sekolah me...memanggil kak Steven. permisi!"
Setelah mengatakan hal itu anak perempuan itu lari. Ketakutan parah bahkan sampai susah mengatur napas. Bagaimana tidak, nama Steven bukanlah nama yang dikenal dengan predikat baik. Rata-rata penghuni sekolah takut padanya. Belum lagi sejumlah penggemar fanatik yang menggilainya.
"Kenapa dia mencarimu?" tanya Sam.
"Sepertinya Aldo menghalangiku," kata Steven sambil bangkit berdiri, "Sampai jumpa di apartemen," lanjutnya sebelum pergi.
"Kamu mau pulang?!" teriak teddy.
"Masih ada pelajaran setelah ini, steve!" Bob memberi peringatan.
Mana mungkin itu berpengaruh padanya, dia tidak butuh sekolah lagi. Sekolah hanya formalitas dan tempatnya bermain. Tapi saat ini, waktunya ia berhenti. Mengurus segalanya dan mulai menampakkan dirinya sendiri. Proyek perusahaannya di Amerika mengalami kendala. Yuno tidak bisa menghadapi mereka yang lebih berkuasa.
Sesampainya diruang kepala sekolah. Sudah ada kepala sekolah dengan setumpuk pekerjaannya. Steven duduk tampa dipersilahkan. Memberikan ekspresi datar yang terkesan mengancam.
"Aldo memintaku untuk menolak permintaan khususmu," mulai kepala sekolah.
"Saya tidak punya waktu membujuk anak ingusan itu. Anda selesaikan saja dan beritahu pada kakeknya."
Kepala sekolah terdiam sesaat dan mengangguk. Dia sepertinya sangat menderita menghadapi kemauan anak-anak yang memiliki kekuasaan ini. Sangat menyedihkan meskipun dia kepala sekolah, dia sama sekali tidak memiliki kekuasaan.
"Aku sudah melakukannya. Kakeknya malah ingin kamu lebih lama disini," Kepala sekolah menunggu sesaat namun Steven hanya menatapnya datar, menghasilkan tawa sumbang darinya. "Sayang sekali pak tua itu mendapatkanmu disaat-saat terakhir. Sebelum lulus, ia ingin kamu mengikuti olimpiade international di Beijing minggu depan. Selain itu ... namamu sudah didaftarkan sejak lama."
"Pak tua serakah itu ingin bermain denganku?" desis Steven. Sorot matanya menghantarkan getaran ketakutan.
"Tenanglah, Steve ... ini tidak akan lama."
"Mencoba menaikkan citra dan harga sekolah ini dengan namaku bukan pilihan yang baik. Aku bisa menghancurkan nama sekolah ini secepat aku menaikkannya. Katakan padanya dia membuatku marah."
Steven keluar dengan membanting pintu keras. Merasa marah karena beraninya kakek Aldo ingin mengekspos namanya dengan sembarangan. Dia tidak ingin namanya dikenal secara international dengan citra murid berprestasi. Itu hanya akan mengganggu kreadibilitasnya dalam dunia bisnis. Meskipun ia dulu sempat mencuat, tapi saat ini dia ingin muncul sebagai pendiri dan pemilik tunggal GGF group. Dimana perusahaan besar ini sedang berkembang pesat. Memang tidak rugi baginya memiliki citra anak yang baik, namun sosok seperti itu bagi Steven akan terlihat lemah. Dia sama sekali tidak suka dipandang seperti itu.
Keluar menuju parkiran mobilnya, Steven menghubungi Yuno sambil membuka pintu mobil. Namun sebelum panggilan diterima, Steven memutus panggilan dan kembali menyimpan ponselnya. Menarik sudut bibirnya kala melihat Arnold berdiri di sisi mobilnya yang lain. Datang entah dari arah mana.
"Aku pikir kamu akan langsung menemuiku saat itu, kamu butuh waktu yang lama." mulai Steven dalam bahasa inggris.
"Aku butuh bantuanmu menghabisinya. Kamu memiliki pasukan kuat yang aku butuhkan."
Steven memberikan anggukan dan menyuruhnya masuk ke mobil.
"Kamu butuh kekuasaan untuk melawannya," kata Steven. Mobilnya sudah keluar dari gerbang sekolah.
"Aku hanya butuh orang terlatih!"
Steven melirik dari sudut matanya, memahami rasa marah Arnold yang tak terbendung. Lawannya bukan orang yang sama seperti dulu. Entah bagaimana orang itu berhasil kuat dan mendapat kekuasaan dalam waktu singkat.
__ADS_1
"Dia punya kekuasaan yang mendukungnya. Kamu butuh masuk ke perusahaanku. Sekedar orang kamu sendiri memilikinya."
"Kamu hanya mau memanfaatkanku juga, kamu pasti sudah dengar ketika aku memutuskan mengejarmu, aku melepaskan posisiku di geng, mereka tidak lagi milikku." Tentu saja Steven tahu itu.
"Mereka mungkin akan loyal dengan uang, hanya bergabung denganku maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu butuhkan." kata Steven, lalu dia melirik Arnold dengan sinis. "Kamu tidak punya pilihan." lanjutnya dengan seringaian dibibirnya.
"Brengsek!" umpat Arnold.
Akhirnya mereka memasuki kawasan rumah Steven. Berhenti di depan rumah dan Jun sudah menunggu mereka. Sebelumnya Steven memang sudah mengiriminya pesan agar menunggu mereka dirumah.
Masuk ke dalam rumah. Steven mengajak Arnold memasuki ruangan pribadinya sekaligus ruang yang nantinya akan dijadikan ruang kerja.
"Suram persis dirimu, aku pikir setelah punya pacar akan sedikit ceria." ejek Arnold tampa rasa bersalah, "Apa kalian putus?" lanjutnya.
"Kamu lupa siapa yang mengacaukan hubunganku?"
Steven menjawabnya dengan santai, tapi Arnold dan Jun tentu saja tahu ada rasa sedih dalam suaranya.
"Cepat atau lambat dia juga akan tahu, apa salahnya lebih cepat."
"Brengsek seperti biasanya." kata Steven santai.
Keduanya menyudahi pembahasan itu dan beralih pada hal yang lebih serius. Steven duduk pada kursi kekuasannya sementara Jun berdiri di sisinya. Arnold berdecih sebelum duduk di kursi tepat dihadapan Steven. Hanya meja yang membatasi mereka.
"Irios memiliki kakak laki-laki lain ibu yang cukup berpengaruh. Kakaknya sekarang jadi kepala partai terbesar di Singapura. Orang yang terhubung dengan pemerintahan, tidak mudah diatasi. Jadi kamu butuh memegang jabatan tinggi untuk melawannya."
Jun memberikan sebuah map dan membukanya di atas meja. Arnold mengambilnya dan mulai membacanya.
"Itu perusahaanku yang aku dirikan pertama kali disana. Saat ini masih dipegang oleh Yuno. Kami cuma memantaunya dari sini. Aku akan menempatkanmu menjadi direktur. Kalau kamu menghasilkan keuntungan, paling tidak naik dari bulan lalu, aku akan mempertimbangkan ikut campur dalam menghancurkan Irios."
Arnold melempar berkas itu dan menggebrak meja dengan kuat. Menatap Steven dengan penuh ancaman.
"Kamu tahu aku tudak akan masuk kedunia bisnis sepertimu!" desisnya tajam.
Jun tampak waspada meski tuannya masih santai-santai saja
"Berhenti bersembunyi dan membuang bakatmu. Adik atau ibumu diatas sana tidak akan senang."
"Brengsek! Otak busukmu berisi kotoran!" umpat Arnold dan bangkit untuk menarik kerah Steven.
Jun bergerak dengan cepat, menempelkan pistol tepat di pelipisnya. Arnold mendesis jengkel dan melepaskan Steven, wajahnya merah menahan amarah.
"Tandatangani surat perjanjiannya dan kita akan mulai bergerak. Saat kamu mulai memegang jabatan, Jun akan ada disampingmu."
Arnold melirik Jun yang sudah menyimpan kembali senjatanya.
"Pastikan bajingan busuk itu tidak menemukanku!"
"Kamu memasuki dunia yang sama, mana mungkin ayahmu tidak akan melihatmu. Itu cuma masalah waktu. Kamu tidak bisa terus-menerus lari dari ayahmu..." Steven menjeda, "atau kamu mau memulai dari perusahaan ayahmu?."
"Brengsek! jangan harap aku mau berurusan lagi dengan bedebah yang membuang kami!" sahut Arnold tajam. Ya, sesuatu terjadi dalam keluarga mereka. Perebutan posisi nyonya besar. Ibu Arnold terusir dengan hina, membawanya yang saat itu masih SD dan adiknya yang balita. Sejak saat itu ia menyimpan dendam pada ayahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu selesai, besok kalian bisa berangkat. Cari penggantimu Jun, pastikan yang terbaik."
Steven keluar dan pergi menuju kamarnya. Dia mengganti baju dan berjalan ke sungai buatan di area belakang rumah itu. Sebelum membuka baju, dia menyuruh Yuno datang melalui pesan singkat. Sambil menunggu dia ingin berenang terlebih dahulu. Pikirannya dipenuhi Clara dan dia ingin menemuinya. Memeluknya dan menahannya hanya untuknya. Steven merindukannya, sayangnya jika dia memaksa, Clara hanya akan semakin takut padanya. Steven hanya perlu menunggu sampai Clara lebih dewasa. Karena itu saat ini dia hanya bisa bersabar dan menunggu.