
Mension terasa sunyi bagi Clara karena ia sendirian. Dia takut untuk turun namun penasaran dengan seluruh isi rumah ini. Karena sejak datang dia hanya dilantai ini saja. Pagi ini Steven memilih sarapan di kantor karena urusan mendesak. Clara bahkan belum terbangun saat dia sudah pergi. Hanya pesan singkat ia dapatkan melalui pesan chat.
Berdiri dengan ragu di depan lift, Clara akhirnya menekan angka 1 dan masuk ketika pintu terbuka.
Saat ia keluar dari lift, Clara mematung. Jantungnya sedikit berdebar dan matanya melirik kiri dan kanan. Pelayan terlihat sibuk masing-masing. Begitu juga beberapa pengawal yang sedang berdiskusi entah apa. Ketika seorang menyadari kehadirannya dan menyapanya, barulah semuanya menghentikan aktifitas dan segera memberikan atensi penuh padanya, ikut menyapa atau sekedar memberikan tanda hormat.
"Anda ingin sesuatu, Nona?" tanya laki-laki Amerika kulit hitam dalam bahasa Inggris.
Clara mundur sedikit agar ia bisa melihatnya dengan jelas. Pria ini sangat tinggi. Namun terlihat ramah dan hangat. Clara belum tahu apa posisinya dirumah ini.
"Aku ... aku ingin berkeliling..." katanya ragu dalam bahasa inggris yang kaku.
Pria berkulit hitam itu tersenyum. " Anda harus mendapatkan izin tuan Steven. Oh, perkenalkan, saya Carlos dan tuan Steven menugaskan saya untuk menjadi pengawal pribadi anda bersama mereka. Saya akan meminta izin tuan, anda bisa duduk disana Nona."
Clara agak bingung karena Carlos ini berbicara dengan aksen amerika dan terlalu cepat. Menyadari kebingungan Clara, Carlos tersenyum ramah dan menyuruhnya duduk dahulu dengan cara yang lebih pelan.
Dalam lima menit, Carlos menghampiri Clara. Clara bangun dan dengan canggung kembali mendongak.
"Saya akan menemani anda berkeliling. Silahkan..."
Maka dari pagi sampai siang Clara benar-benar berkeliling. Hanya mengunjungi dari satu tempat ke tempat lain bagian rumah itu. Clara bahkan tertidur di ruang perpustakaan karena lelah. Dia sedang membaca buku mengenai kedokteran.
Carlos dan pengawal lain menunggu di depan perpustakaan saat Steven datang. Pria itu pulang karena ingin makan siang dirumah bersama Clara. Bahkan mengosongkan jadwalnya selama 3 jam penuh.
"Perintahkan Bernard membawa makan siang kami kesini." perintahnya.
"Baik, tuan."
Carlos membukakan pintu dan menutupnya kembali saat Steven sudah masuk.
Tersenyum hangat melihat wajah polos Clara yang terlelap disofa. Steven mengambil buku ditangannya, membaca judulnya sebelum meletakkannya asal di meja. Merapikan anak rambut Clara dan mengelus pipinya pelan.
Clara tidak terganggu. Dia tertidur dengan pulas. Steven sudah menunggu selama 30 menit tapi Clara belum bangun juga. Akhirnya memilih makan siang sendiri dengan mata yang tidak lepas dari wajah tidur Clara. Kadang ia tersenyum sendiri saat ekspresi tidur gadis itu terlihat lucu.
Selama satu jam, Steven memutuskan kembali ke kantor. Meninggalkan Clara yang tertidur seperti orang mati karena tidak bangun-bangun.
"Pastikan dia makan saat bangun." perintahnya pada Carlos.
.
Sore hari, Steven dikejutkan dengan kemunculan Arnold dihadapannya. Cukup terkejut karena tidak ada yang melaporkan kepergiannya. Bahkan Jun tidak memberitahunya. Hal itu tentu membuatnya berfikir bahwa ada yang salah disini.
"Kamu kabur dari Jun?" tanyanya tenang.
"Dia bukan pengasuhku! kabur apa!"
"Meninggalkan perusahaan tampa izinku?"
Arnold tidak menjawab. Dia menatap kosong meja kerja Steven. Seperti sedang memilah dari mana ia memulai.
"Aku akan berhenti."
Mendengar pernyataan itu, Steven meletakkan penanya dan menautkan kedua tangannya. Menatap Arnold yang wajahnya sudah mengeras.
"Orang yang membunuh adikku tetap bebas dan kamu bahkan tidak melakukan apapun!"
"Bukankah aku sudah memberimu kekuasaan? Jun disampingmu dan ada orang-orangmu yang perlahan kembali."
Arnold bangun dari duduknya dan menendang meja kerja Steven dengan kuat. Steven tentu sudah bangun dengan cepat dan menghindar.
Arnold berjalan cepat melewati meja yang sudah tumbang dan mencengkram kerah Steven. Nafasnya memburu karena diliputi emosi.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Selama ini kamu hanya memanfaatkan aku untuk memperluas kekuasaanmu?"
Steven melirik pintu yang terbuka. Mengangkat tangannya agar pengawal dan sekretarisnya diam ditempat.
Menatap bola mata Arnold dan melepaskan cengkramannya dengan susah payah. Arnold bukan lawan yang lemah omong-omong.
"Aku memberikan apa yang kamu butuhkan, kamulah yang takut bertindak. Sejak dulu kamu seperti itu, hanya bertindak kalau aku disampingmu. Arnold...kamu punya kekuatan sekarang dan lakukan apapun! tidak sulit untuk menumbangkan orang yang membunuh adikmu! Bahkan ayahmu sekalipun." Steven menjeda sesaat, menatap Arnold yang terdiam ditempatnya. "Kamu hanya tidak bisa menghancurkan ayahmu karena pembunuh adikmu menopangnya, benar?"
Mata Arnold berkilat merah, tubuhnya bergetar karena amarah. "Aku tidak peduli sama orang tua yang sudah membuang anaknya!"
"Ayahmu tidak tahu kamu masih hidup, itu poinnya. Kamu menolak menemuinya."
"Dia yang membuang kami!"
"Kamu yakin?"
Arnold menatapnya dengan garis kebingungan ditengah amarahnya. Steven tentu saja tidak tinggal diam selama ini. Dia hanya menunggu waktu yang tepat. Sementara Steven menunggu Arnold dengan segala kegelisahannya mengira bahwa Steven mengabaikan masalahnya. Karena itulah dia datang dan marah saat ini.
"Ayo kembali besok, kebetulan Aston merencanakan membuat pesta ditengah laut, kapal pesiarnya sudah disiapkan."
"Pesta? apa yang dibuat psikopat itu di sana?"
Steven mengangkat mejanya, duduk bersandar disana dan melipat tangan didada. Menatap Arnold dengan penuh arti.
"Dia menikah," Melihat reaksi Arnold yang keheranan, Steven menarik ujung bibirnya sedikit. " Pernikahan bisnis," lanjutnya.
__ADS_1
"Aku kira dia akan melajang sampai ubanan." sahut Arnold penuh ejekan.
Setelah bersitegang seperti musuh bebuyutan, nyatanya mereka kembali berbicara santai. Seperti tidak ada yang terjadi. Hal yang memang sering terjadi jika sudah berhadapan dengan Arnold.
.
Steven mendengus, jengkel melihat Arnold ternyata tidak datang sendirian. Ada Sam, Bob dan Ted menunggu di lobi. Kejutan katanya, sepertinya. Memaksa ikut saat tahu Arnold akan ke Amerika. Awalnya hanya Sam yang bertemu di bandara saat mengantar adiknya, melihat Arnold tentu saja ia tak tinggal diam. Jadilah mereka bertiga mengikutinya.
Sesampainya di mension, Steven menyuruh mereka ke lantai dua. Dimana ada ruang santai luas dan belasan kamar tamu.
"Dimana gadismu? aku rindu omong-omong." tanya Arnold santai.
"KAMU BAWA CLARA KESINI?" teriak Sam.
Arnold bahkan mengorek telinganya dan melirik sinis. Steven melonggarkan dasinya saat memerintahkan orangnya untuk menyuruh Carlos membawa Clara turun. Dia cukup gerah melihat teman-temannya yang mengganggu waktunya. Dia hanya ingin berdua dengan gadisnya saat pulang kerja.
.
Clara sedang bersantai di balkon saat Carlos memanggilnya. Setelah mendapat izin tentu saja.
"Kenapa dia menyuruhku ke lantai dua?"
"Saya kurang tahu Nona," jawab Carlos sopan.
Saat lift terbuka dan Clara keluar, barulah ia mematung ditempat. Terutama saat melihat Arnold yang menatapnya datar. Sam berlari ke arahnya dan hendak menarik tangannya sebelum Carlos dengan sigap menepisnya.
"Anda bisa terkena masalah Tuan," ucapnya kalem.
"Ck, apa-apaan! dia temanku!" balas Sam.
"Kemari, Clar!" perintah Steven.
Clara menurut, dia melewati Sam yang kelihatan masih bingung. Lalu ia menyusul yang lain. Duduk di sisi Teddy. Menatap Clara dan Steven yang duduk bersebelahan. Menuntut penjelasan tentu saja.
"Kalian sudah putus, kan?" pancingnya.
Arnold menyeringai dan yang lain menunggu jawaban. Menikmati wajah masam sahabatnya itu.
"Dia milikku sekarang!"
"Aku tidak yakin," sahut Arnold, lalu ia beralih pada Clara. "Jadi pacarku mau? disamping bajingan itu cuma akan buat kamu sengsara." lanjutnya, ia memberikan pandangan menggoda pada Clara.
"Woow! kamu seperti pemiliknya saja padahal sudah putus." lanjutnya setelah menangkap vas bunga yang dilempar padanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Steven. Clara bahkan sampai berjengit dan menjauh darinya.
Steven menoleh padanya, memerintahkan lewat pandangannya agar kembali mendekat. Tapi bukannya patuh, Clara malah berdiri dan duduk disamping Sam. Membuat hawa gelap Steven keluar begitu saja.
Arnold tertawa terbahak-bahak sementara tiga yang lainnya merinding ngeri sekaligus takjub. Takjub akan keberanian Arnold.
"Aku hanya kerja disini untuk lunasin hutang!" sahut Clara pelan, kepalanya menunduk.
Semua mata beralih padanya sebelum melirik Steven yang bersandar di sofa. Tampaknya kembali santai dan melupakan amarahnya.
"Hu...hutang?" tanya Sam bingung.
"Sejak kapan kamu berhutang pada Steven?" tambah Teddy.
"Hutang ayahku pada rentenir. Dia melunasinya dan aku harus membayarnya! jadi aku kerja sama dia." jawab Clara.
Meskipun itu tampak biasa bagi orang lain dengan bekerja padanya untuk membayar hutang, teman-temannya jelas tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia pelit! bagaimana aku bayar hutangmu dan kamu jadi pacarku?"
Semua orang menatapnya Arnold tajam, cukup jengah dia kembali memancing emosi Steven.
"Tidak, terima kasih! Aku bukan barang dan aku tidak suka pria kasar!" jawab Clara acuh.
"Ouh! aku sedih ditolak olehmu. Tapi...kamu benar sudah putus sama orang ini, dia itu bukan cuma kasar, tapi juga mengerikan." kata Arnold.
Seringai muncul dibibir Arnold saat mendapat tatapan dingin menusuk dari Steven. Arnold sedari tadi seperti sedang menantangnya.
Clara menatap mereka bergantian, menggenggam erat tangan yang berada dipangkuannya. Dia tahu Steven itu sumbu pendek tapi wajah mengerikan seperti itu jarang ia lihat. Menyadari ketakutan gadis disampingnya, Sam segera bertindak saat Steven sudah akan bangkit dengan tangan mengepal.
"Berhenti, Steve...!" katanya penuh peringatan.
Bobby yang juga menyadarinya ikut bertindak, sedari tadi mereka hanya menghabiskan waktu dengan mendengar adu argumen yang berakhir saling intimidasi.
"Clara, kamu oke?"
Steven segera menoleh, menyadari ia membuat gadisnya takut, segera ia melunakkan ekspresinya.
"Besok aku akan ke Singapura, kalian cuma buang-buang waktu mengikuti tikus ini kemari," katanya.
"Siapa bilang, kami kan jadi bisa lihat tempatmu yang mewah ini." kata Teddy, lalu mencibir kemudian. "Lagipula memangnya kamu akan memberitahu kami kalau kamu kesana? tidak kan? jelas kami bukan prioritas lagi." sungutnya kemudian.
Bobby yang sifatnya jauh lebih dewasa hanya menghela nafas meski membenarkan dalam hati. Steven punya kehidupannya sendiri saat ini. Tidak sama lagi seperti masa-masa di sekolah.
"Kalau begitu nikmati waktu sesuka kalian. Aku akan membersihkan diri." kata Steven lalu bangkit berdiri.
__ADS_1
"Aku lapar!" seru Teddy.
"Pergi kedapur dan minta apapun pada pelayan!" sahutnya kemudian.
Clara ikut bangkit, berjalan dibelakangnya. Arnold yang penasaran memanggil pengawal Clara yang mengantarkan mereka sampai lift.
"Apa posisimu disini?"
"Saya pengawal pribadi Nona Clara Tuan." jawabnya.
Arnold mencibir, "Apa pekerjaan Nonamu disini?" tanyanya lagi.
Carlos tampak bingung, tentu saja dia tidak tahu mengenai pembicaraan mereka sebelumnya karena mereka menggunakan bahasa Indonesia.
"Nona tidak mengerjakan apapun Tuan, Tuan Steven memerintahkan kami agar tidak membiarkan Nona melakukan apapun kecuali menyenangkan diri."
Arnold tersenyum sinis dan menyuruh Carlos pergi. Melirik Sam dan yang lain ketika mereka bertiga ikut mendengarkan.
"Kalian lapar? ayo turun!" kata Arnold, berdiri duluan. Dia juga lapar sebenarnya.
"Kamu bertingkah seperti tuan rumah," sindir Teddy.
"Lebih baik menunggu mereka bukan?" usul Sam.
"Aku setuju," sahut Bobby.
Arnold berdecak kesal, meninggalkan mereka begitu saja menuju lantai bawah.
Sementara itu, Clara sedang memilih pakaian untuk Steven dan menyiapkan handuk untuk mengeringkan rambutnya. Ia melirik pintu kamar mandi, sudah 15 menit dan ini lebih lama dari biasanya.
Pintu kamar mandi terbuka. Seperti biasa pria itu keluar dengan rambut dan badan yang basah. Dia tidak pernah mau repot mengelapnya dulu semenjak Clara melayaninya. Hanya bagian pinggang kebawah yang tidak meneteskan air karena handuk dipinggangnya.
Steven menatapnya intens seperti biasa saat dengan telaten tangan kecil itu mengelap badan dan mengeringkan rambutnya. Tidak seperti biasanya dia akan menggoda Clara saat momen ini, kali ini Steven hanya diam saja.
Clara meletakkan handuk dan memakaikan Steven kaos longgar berwarna putih. Mengambil hairdrayer dan mengeringkan sisa air di rambut Steven.
"Pakailah celanamu," kata Clara lalu berbalik seperti biasa.
Selang 3 menit ia mengernyit karena tidak ada kode apapun. Maka ia berbalik dan mendapati Steven masih pada posisinya seperti tadi. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa yang salah?" tanyanya.
"Kalau aku semakin mengikatmu...apa kamu akan lari?" tanya Steven dengan nada yang ambigu.
"Apa maksudmu?"
Kembali hening, Steven diam beberapa detik sebelum kembali berbicara.
"Turunlah untuk makan malam, aku akan menyusul."
Clara mengangguk dengan cepat. Terlihat kelegaan diwajahnya. Hal itu menghadirkan rasa tidak nyaman dihati Steven. Entah mengapa semakin hari Clara terasa jauh baginya. Gadis itu seperti membuat dinding kokoh diantara mereka.
Makan malam terasa ramai bagi Clara yang selama ini makan sendirian dirumahnya. Hanya baru-baru ini dia makan bersama Steven namun bukan jenis suasana yang menyenangkan seperti saat ini. Karena biasanya Steven selalu membuatnya kesal atau malu. Berada dalam situasi yang selalu ingin dihindarinya membuatnya tak nyaman. Berbeda sekarang karena Sam yang sibuk bertengkar sambil bercanda dengan Teddy dan Bobby.
"Mengenai perjalananmu...berapa lama?" tanya Clara setelah mereka kembali ke ruang santai di lantai dua.
Posisi duduk mereka tidak jauh beda seperti tadi. Hanya Clara yang kembali duduk disamping Steven.
"Mungkin 1 minggu, ada hal yang perlu kuurus juga selain menghadiri pesta."
"Pesta?" sahut Bobby.
"Apa pesta orang terkaya nomor 5 itu?" tanya Sam. "Aku dan daddy mendapatkan undangan juga karena calonnya rekan bisnis kami." lanjutnya.
"Ah...si Aston itu?" kata Teddy.
"Bagaimana dia? apa masih menginginkanmu?" tanya Arnold.
Semua orang tentu saja tidak tahu masalah ini, sehingga menampilkan wajah bingung.
"Menginginkan apa?" tanya Clara.
"Arnold..." tegur Steven saat Arnold sudah akan menjelaskan. Memberinya tatapan memerintah yang tak bisa dibantah.
Arnold tahu ini masalah serius sehingga ia akhirnya berdehem dan mengangkat tangannya. Yang lain kecuali Clara tentu saja mengerti. Sehingga mereka memilih tak banyak tanya. Berbeda dengan Clara yang masih menatap Steven penuh curiga. Kata 'menginginkanmu' terus berputar dikepalanya.
Steven membalas tatapannya, mengelus rambutnya pelan sebelum berujar. "Tidur?" katanya. Clara menggigit bibirnya kesal, memberengut tampa sadar.
"Tidak sekarang Clar__ kamu harus istirahat sekarang karena besok pagi-pagi kita harus terbang,"
Steven bangun dan menarik lembut tangan Clara. Menoleh sedikit pada teman-temannya. "Kalian juga cepatlah tidur," katanya.
Setelah kepergian keduanya, tiga orang segera menatap Arnold meminta penjelasan. Arnold bangkit dan menggeleng pelan.
"Tidak dengar kata dia? tidak sekarang dude...!" katanya lalu pergi.
"Sialan! bagaimana ceritanya dia tahu tapi kita tidak?" sungut Sam kesal.
__ADS_1
"Apa yang Steven sembuyikan?" tanya Teddy.
"Apapun itu pasti ada kaitannya dengan Aston dan kemungkinan itu berbahaya." sahut Bobby.