
Kedua insan itu sedang duduk di sebuah restoran yang cukup mewah. Steven hanya ingin mencairkan suasana dengan makanan karena Clara diam saja sejak tadi. Gadis itu bahkan tidak menatapnya sedikitpun. Terus menunduk dan diam mengikuti kemana Steven membawanya.
Suasana di luar gedung terlihat ramai lalu lalang kendaran. Mereka berada di balkon restoran laintai 3. Cukup tenang dan memang di sediakan untuk pengunjung yang memiliki pembicaraan serius. Saat pesanan datang, Clara masih tidak bergeming. Tetap diam menatap ke arah jalan. Sebenarnya ia cukup risih sejak tadi karena mereka memasuki restoran berkelas namun penampilannya sangat rumahan. Steven bahkan terlihat sangat jauh berbeda dengannya.
"Bicaralah."
Clara tidak melirik sama sekali, namun ia meresponnya.
"Tidak ada yang ingin aku bicarakan. Bukankah sekali lihat kamu sudah langsung paham."
Steven menatapnya dengan sabar, Clara terlihat tertekan dan juga malu. Steven memang sudah mengerti keadaannya. Namun tentu saja ia ingin mendengarnya secara langsung.
"Kamu baik-baik saja selama ini dengan keadaan rumah seperti itu?"
"Sekarang hanya sesekali aku melihat mereka setelah tinggal di asrama. Setelah lulus aku juga akan memilih kampus yang ada asramanya," jawab Clara.
"Sejak kapan?"
Clara akhirnya menoleh. Ia sedikit tidak paham kemana arah pertanyaan Steven. Matanya menunjukkan bahwa ia tidak mengerti.
"Sejak kapan punya ibu tiri yang begitu?" tanya Steven lebih jelas.
"Sejak kelas 3 SMP, saat itu ibuku baru saja meninggal. Ayah menikah dengan teman dekatnya yang memiliki dua orang anak. Awalnya ... aku pikir mereka baik. tapi tidak setelah beberapa minggu, aku tahu mereka hanya baik saat di depan ayah. Karena itu begitu lulus aku berupaya mendapatkan beasiswa di sekolah itu meskipun nilaiku pas-pasan. Dan kak Windy adalah orang yang sangat membantuku. Saat itu ... karena bantuannya pihak sekolah memilihku dari sekian banyak anak lain. Lalu berlanjut ... dia menolongku saat di bulli. Dia sangat baik ...."
Cerita Clara dengan senyum sedihnya.
"Jangan menyesali apapun," ucap Steven dengan tegas, ada nada tidak suka tersirat dalam suaranya.
Clara mengangkat kepalanya, menatap Steven dalam diam. Seolah bertanya apa yang harus ia lakukan. Steven yang masih menatapnya, diam beberapa saat sebelum akhirnya bicara.
"Masalah Aldo dan tunangannya ... jangan menyalahkan dirimu. Lalu ... katakan padaku, datang padaku saat kamu membutuhkan bantuan. Bahkan hanya karena lapar, katakan saja. Jangan sampai aku tahu setelah kamu terluka."
Steven mengatakannya dengan nada tegas namun tetap lembut. Ada nada perintah disana namun bukan paksaan. Mereka akhirnya diam sampai Clara memutuskan menyentuh makanan di hadapannya.
Mereka akhirnya mulai makan dalam keadaan diam yang hening. Clara yang sibuk dengan pikirannya dan Steven yang memberi ruang untuknya.
.
Steven akhirnya membawa Clara menemui ayahnya di rumah sakit. Saat tiba di sana, semua teman-temannya sudah pulang ke apartemen. Ayahnya yang sedang membaca buku tersenyum saat anaknya datang.
"Jadi keperluan yang kamu bilang adalah menjemput Nona ini?" goda ayahnya.
Steven diam saja, lebih tepatnya malas menanggapi. Clara yang salah tingkah mendekati ranjang pasien dan menyalami ayah Steven. Meskipun budaya mereka berbeda, ayah Steven yang sudah lama tinggal di Indonesia memahami sopan santun yang Clara lakukan.
"Bagaimana keadaan paman ? maaf baru tahu kalau paman sakit." kata Clara.
"Eei... tak apa ... Steven tidak ingin mengganggumu yang sedang belajar. Apa kamu terganggu di bawa ke sini?"
"Tidak! Malah senang, suntuk di rumah karena terus menatap buku," canda Clara yang sebagiannya tentu saja bohong.
Steven menatapnya sendu, ia tidak tahu selama ini Clara menghadapi hal sulit. Dia juga tidak melihat ponsel yang ia berikan kemarin sejak bersama Clara tadi. Namun ia memilih tidak bertanya, Steven lebih suka menunggu Clara yang akan menjelaskan. Meskipun dia sebenarnya memiliki beberapa tebakan yang mungkin saja benar.
Lama Clara bercerita tentang sekolah dengan ayah Steven. Bahkan mereka membahas Steven yang orangnya hanya duduk santai di sana sambil memainkan ponselnya. Steven tidak main game, ia sedang fokus melihat laporan-laporan perusahaan dan beberapa butik dan toko miliknya. Ia juga memeriksa harga-harga saham perusahaan lain.
__ADS_1
Bibirnya terangkat sedikit, nyaris tidak terlihat saat matanya menangkap salah satu perusahaan yang pemiliknya membuat ayahnya menderita. Tampak senang dengan apa yang di lakukan bawahannya. Seperti remaja yang sangat senang saat kenakalannya tidak ketahuan orang tua.
Perhatiannya teralihkan saat mendengar tawa keras ayahnya dan Clara. Ia mengangkat kepalanya dan menatap bergantian keduanya dengan alis terangkat. Ayahnya yang paham saat melihatnya segera memberi tahu alasan mereka tertawa.
"Ooh ... Appa tertawa karena cerita lucu Clara saat ia masih SD. Persis dirimu, polos tapi nakal."
"Itu bukan nakal paman, itu namanya pintar," sahut Clara dengan senyum mengembang.
Steven mengangguk saja, ia kembali fokus pada ponselnya. Mengabaikan decakan ayahnya yang mengatakan dia sangat membosankan dengan kepribadiannya itu. Lalu menyuruh Clara sering main ke rumah untuk menghiburnya. Steven hanya tersenyum sedikit mendengar itu. Senang ayahnya menyukai gadis yang di cintainya.
Mereka berhenti saat dokter masuk memeriksa. Dengan raut senang, ayahnya tampak sanagat bersemangat dan hendak pulang ke rumah. Sang dokter tentu saja mengizinkan. Karena ayahnya memang sudah dalam keadaan stabil.
Akhirnya sore itu juga mereka pulang. Setelah Steven mengantar ayahnya pulang dan menyiapkan segala hal, Steven meminta izin pada ayahnya mengantarkan Clara pulang.
.
Keduanya masih duduk di dalam mobil. Clara menoleh pada rumahnya. Ada yang membuka pintu, karena keadaan sepi, agaknya suara mobil Steven mengganggu penghuni di dalam.
Yang muncul di depan pintu adalah adik tiri Clara yang laki-laki, kemudian di belakangnya muncul adiknya yang perempuan sambil mengotak-atik ponsel.
"Aku akan menemanimu masuk, aku ingin mengenal ayahmu," ucap Steven tegas.
Tampa menunggu jawaban, ia turun begitu saja. Membuat Clara membolakan matanya. Tentu saja gadis itu tidak siap. Keadaan ayahnya sungguh tidak baik saat ini karena sedang sakit. Namun, Clara bahkan tidak bisa menghentikannya saat Steven sudah berdiri di depan pintu menghadapi kedua adik tirinya.
Steven melirik ponsel yang di pegang adik perempuan Clara, mengenalinya sebagai ponsel Clara yang ia belikan untuk mengganti ponselnya yang ia buang. Dengan gerakan ringan, Steven maju dan merampas ponsel itu.
"Hei! Apa-apaan! Kembalikan! Siapa kamu datang-datang merampas ponsel orang!" bentaknya dengan nada keras.
"Teman kamu? lancang bawa pacar kerumah dan dia dengan tidak sopan merampas ponselku!" katanya lagi. Melotot pada Clara dengan bengis.
Steven mengabaikan ocehan gadis di depannya. Jika di perkirakan, gadis itu sepertinya hanya beda bulan dengan Clara. Berbeda dengan adik laki-lakinya yang sepertinya masih SMP. Steven mengangkat ponsel itu di depan dadanya sambil menatap Clara.
"Jadi karena dia mengambil ponselmu aku tidak bisa menghubungimu?" tanya Steven.
Clara hanya mengangguk sekilas, melirik sedikit adiknya yang tampak masih marah.
"Sebaiknya kamu pulang, Steve ..."
"Bukankah aku bilang ingin bertemu ayahmu?" protesnya.
"Steven please__"
Clara tidak bisa melanjutkan perkataannya saat suara ayahnya memanggil dan muncul begitu saja di depan pintu. Wajahnya masih pucat namun tampak lebih baik dari sebelumnya.
"Ada tamu? Kenapa berbicara di luar?" tanya ayahnya. "Ayo silahkan masuk, teman Clara?" lanjut ayahnya. Menatap Steven penasaran.
Steven mengangguk dan maju untuk menyalami pria paruh baya itu. Ayahnya membawanya masuk ke ruang tamu sederhana rumah mereka. Steven bisa melihat hanya ada 3 kamar tidur. Itu artinya Clara berbagi kamar dengan adik perempuannya. Ibu tirinya muncul dari arah dapur dan dengan manis duduk di samping suaminya. Sikapnya sangat berbeda saat awal bertemu siang tadi.
"Jadi ... tadi kemana dengan Clara? kenapa tiba-tiba pergi?" tanya ayahnya.
"Maaf, itu kesalahan saya. Ayah saya masuk rumah sakit dan tadi terburu-buru," jawab Steven dengan sedikit kebohongan.
"Ya sudah, yang penting pulang dengan selamat. Kamu ... namanya siapa? Sepertinya bukan orang Indonesia, logatmu cukup baik tapi tetap terdengar kaku."
__ADS_1
Steven tersenyum sedikit.
"Perkenalkan, saya Steven Kim. Ibu saya dari negara ini, sementara ayah saya dari Korea."
"Begitu ... apa satu sekolah dengan Clara?"
"Saya kelas tiga," jawab Steven.
"Hmm ... ngomong-ngomong ... Clara tidak pernah membawa teman ke rumah. Apa ini teman spesial?" tiba-tiba ibu Clara bertanya. Meski dengan nada biasa, tapi Steven tahu dia ingin memprovokasi.
"Kami__"
"Saya memang menyukai Clara," potong Steven dengan lancar.
Ibunya tampak tersenyum sinis, tersirat rasa senang karena merasa Clara akan mendapatkan masalah. Lain dengan Clara yang terkejut, ayahnya tampak masih tenang. Ia menatap Steven, agaknya sedang menilai. Lama ia menatap Steven yang juga menatapnya, sebelum akhirnya ia terkekeh.
"Kamu cukup berani, sebelumnya aku selalu melarang anak perempuanku untuk pacaran saat sekolah. Karena itu tampaknya kamu juga yang memaksa untuk datang, benar?" Steven tersenyum dan mengangguk. Dia sangat tenang dan santai.
"Kalian pacaran?" tanyanya lagi. Clara sudah berkeringat dingin. Ia tidak ingin membuat masalah dengan peraturan ayahnya.
"Ya," jawab Steven singkat.
Clara menghembuskan napasnya seraya memejamkan mata sejenak. Dengan keberanian yang di paksakan, ia akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya.
"Ayah ... maaf."
Ayahnya tidak menjawab, dia masih memperhatikan Steven dengan saksama. Seperti sedang menunggu.
"Saya pastikan akan menjaga Clara. Jangan cemaskan apapun, tolong beri saya satu kepercayaan dan anda bisa pastikan dengan cara anda, pak. Saya akan menjaga anak perempuan bapak sampai saatnya saya akan membawanya ke dalam rumah saya, menjadikan ia pengantin saya ... membahagiakannya."
Clara menoleh, menatap Steven yang masih menatap ayahnya dengan penuh keberanian. Clara bahkan sampai merasakan jantungnya akan melompat karena begitu kerasnya ia memompa. Bagaimana bisa, Steven yang masih SMA berbicara seolah ia sudah dewasa. Clara bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.
"Apa kamu salah satu siswa berprestasi? bicaramu sungguh berani. Aku tidak berpikir kamu tidak sopan ... kamu hanya terlalu percaya diri. Bahkan kamu masih di biayai orang tua." Steven tidak tersenyum, ia melirik ibu Clara yang baru saja berbicara.
"Saya membuat sekolah juara umum untuk olimpiade matematika, di sekolah saya masuk kelas unggulan. Apa itu masuk dalam kriteria prestasi?" sarkas Steven.
Ibu Clara tampak memerah, bukan karena malu namun karena menahan amarah.
"Maaf jika saya terkesan sombong," lanjut Steven beralih pada ayah Clara lagi, nadanya juga lebih lembut.
"Kamu sungguh berbeda," akhirnya ayahnya berbicara. "Tidak terlihat seperti remaja pada umumnya, kamu jelas tahu apa yang kamu lakukan dan apa dampak yang akan kamu terima. Tapi ... ayah sungguh kagum, kamu berani datang dan berbicara seperti ini ... itu artinya kamu tidak main-main." lanjut ayah Clara.
Ibu dan adik-adiknya tampak terkejut dan tidak terima dengan perkataan ayah Clara. Raut kesal terlihat jelas dari wajah mereka.
"Ayah saja, panggil ayah seperti Clara memanggilku. Hanya ... apa orang tuamu tidak masalah? ayah bahkan bisa melihat bahwa kamu bukan dari kalangan seperti kami, ayah hanya karyawan biasa ... dari barang yang melekat di tubuhmu, jelas kamu anak orang kaya."
Mendengar hal itu, ibu dan dua saudara tiri Clara tampak tertarik. Berbeda dengan Clara yang malah menunduk lagi.
Steven tersenyum, "Orang tua saya bahkan sangat menyukai Clara," jawabnya.
Akhirnya suasana mencair, ayahnya tampak bersemangat berbicara dengan Steven dan sibuk dengan dunia mereka. Clara sudah masuk ke kamarnya untuk mandi. Sementara tiga beranak yang tampak kesal masuk ke dalam kamar adik laki-laki Clara. Seperti sedang membicarakan rencana mereka.
Dari obrolan itu, Steven akhirnya tahu bahwa ayah Clara bekerja di perusahaan miliknya. Sungguh kebetulan yang menyenangkan. Meski begitu, ayahnya hanyalah karyawan biasa di bagian pemasaran.
__ADS_1