
Setelah identitas pelaku mereka kantongi, tentu saja lebih mudah melacaknya. Dengan cepat Billi sudah menemukan dimana keberadaan Clara.
"Jun... Aku mau West hancur saat tahu anak kesayangannya ternyata iblis yang mengerikan."
Jun mengangguk, mereka sedang berada di luar sebuah bangunan yang terlihat sudah lama ditinggalkan. Jun segera bergerak begitu Steven keluar mobil. Masuk ke dalam rumah yang pintunya dibiarkan terbuka. Sementara Carlos juga bergerak bersama yang lain secara diam-diam.
Steven mengedarkan pandangannya kesegala arah. Dia tidak mendengar suara apapun. Dia mendongak sedikit, melihat satu-satunya tangga yang mengarah ke lantai dua. Dimana sebuah langkah kaki terdengar menuruni tangga.
Steven bersembunyi di balik tirai. Beruntung jaraknya sedikit jauh sehingga pria yang lebih tinggi darinya itu tidak melihatnya. Pria itu menutup pintu dan menguncinya. Lalu kembali naik ke atas.
Steven mengikutinya dengan diam-diam. Saat sampai di lantai dua, dia disambut dengan suara rintihan. Suara yang sangat dia kenali. Kedua tangan Steven terkepal erat. Ia ingin langsung menghambur kedalam dan membunuh mereka semua, tapi dia harus menahan diri.
Lima menit, setelah Jun berada dibelakangnya, barulah Steven menendang pintu yang tidak terkunci itu. Pintu itu terhempas dan lima dari enam orang disana kenoleh secara bersamaan.
"Steven! Ini... ini tidak..." Wajah Violet yang semula tegang perlahan kembali datar saat Steven berdiri dengan sorot mata tajamnya.
Seluruh orangnya masuk, menangkap semua yang ada disana termasuk Violet. Wanita itu meronta dan mengucapkan sumpah serapah dan ancaman pada Carlos yang menangkapnya. Begitupun dengan Raka yang berusaha melawan. Namun tubuh kecilnya tentu saja bukan apa-apa.
Steven mengangkat tubuh lemah Clara yang penuh luka dan darah. Hatinya terkoyak dan terasa amat perih saat dia melihat tubuh Clara yang sangat menyedihkan. Matanya bahkan berkaca-kaca. Jun mengepalkan kedua tangannya. Dia mencengkram senjata di tangannya, ingin sekali membunuh mereka semua. Namun dia tidak bisa melakukannya sekarang, dia harus mengirim mereka kedalam penjara terlebih dahulu.
Ketiga teman steven beserta Arnold datang ketika semunya sudah selesai. Mereka mengikuti Steven yang membawa Clara menuju rumah sakit.
.
seluruh media gempar saat mendapati berita bahwa anak seorang triliuner sekaligus orang terkaya saat ini ditangkap dan dituntut oleh tunangannya sendiri. Sedikitnya informasi karena baik dari pihak Steven maupun West tidak ada yang bisa di wawancarai.
"Tuan... apa yang harus kita lakukan dengan media? semua menanyakan anda dan Nona." kata Billi, mereka masih di rumah sakit.
Clara masih dalam pengaruh bius. Steven tidak pernah melepaskan pandangannya, hatinya terus menerus teriris saat melihat banyaknya luka sayatan di tubuh Clara.
"Jun?"
"Tuan Jun... menghilang sejak Nona dirawat. Saya pikir... dia mengurus tersangka."
"Dia tidak kesana, aku tahu Carlos yang mengurus itu semua." sahut Steven.
Wajah Billi tampak ragu, tapi pada akhirnya dia tetap menyampaikan pemikirannya. "Maaf Tuan, saya pikir... kemarin malam melihat dia sangat menderita, wajahnya... wajahnya seperti memiliki masalah yang sangat berat. Sepertinya dia sedang ada masalah jadi..."
"Aku mengerti, kamu siapkan konfrensi pers sore ini. Selain itu... minta Renjun menghadap padaku."
"Baik Tuan."
Kenzo tahu pasti saat ini apa yang dilakukan oleh Jun. Tentunya rasa bersalah melingkupinya, sama halnya dengan dia saat ini. Namun rasa bersalah yang Jun rasakan tentu lebih besar dari siapapun. Karena sejak awal, dialah yang dipercayakan Steven untuk menjaga Clara. Bahkan mereka kehilangan jejak selama berhari-hari dengan semua kekuasaan yang ada.
Steven mencoba menghubungi nomornya, namun sama seperti beberapa jam yang lalu, nomornya tidak aktif. Steven menghela nafas, bersumpah pada diri sendiri akan melayangkan setidaknya dua pukulan karena berani pergi tampa perintah. Apapun alasannya, nyatanya saat ini Steven masih menjadi atasannya.
Sam dan dua temannya yang lain datang setelah agak siang. Mereka menepuk pundak Steven bergantian untuk memberikan dukungan.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Sam.
"Apa lagi, tentu saja mengumumkan pada dunia bahwa wanitaku hanya satu. Aku tidak akan membuatnya salah paham lagi."
"Yeah, itu bagus. Tapi... bukankah akan berdampak pada perusahaanmu?" sahut Teddy.
"Aku tidak peduli lagi." jawab Steven dengan tenang. "Walaupun west memiliki salinan rahasia perusahaanku, aku tidak akan peduli jika itu hancur. Aku hanya harus membangunnya kembali." Ketiga temannya saling bertukar pandang.
"Aku pikir Aston tidak akan membiarkan hal itu," sahut Arnold yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi. "Aku lihat... pak tua itu memperlakukanmu dengan baik." lanjutnya. Dia melangkah masuk dan berdiri berseberangan dengan Steven.
"Aston... " Steven menjeda, dia melepaskan pandangannya dari wajah Clara, beralih pada Arnold. "Dia bahaya sesungguhnya." Arnold mengernyit karena tidak mengerti. "Bukan hanya untukku, tapi untuk banyak orang." lanjut Steven.
"Apa yang kamu lakukan bersama dia? aku tahu kerjasama terakhir dengannya bukan hanya kerja sama biasa."
__ADS_1
"Bukan apa-apa, tetap jalankan perusahaan ditanganmu seperti biasa." sahut Steven.
Arnold berdecak, dia kesal lagi-lagi Steven merahasiakan sesuatu darinya. "Baiklah Tuanku! Aku akan diam saja sekarang!" kesalnya, lalu keluar dari ruangan itu.
Sam menghela nafas, dia menggeleng pelan pada Ted dan Bob yang juga terlihat pasrah. Mereka juga penasaran tapi mana mungkin berani bertanya.
"Bagaimana dengan Aldo? apa yang akan kamu lakukan dengannya?" tanya Teddy setelah beberapa saat diam.
Steven tidak langsung menjawab. "Bunuh saja, dia awal dari semua ini. Jika dia tidak terlibat Clara tidak akan memiliki keberanian untuk pergi." Tatapannya tajam dan ekspresi wajahnya lebih mengerikan dari sebelumnya.
"Kamu tahu kamu tidak bisa melakukan itu, Steven!" tegas Bobby.
"Lalu apa? hancurkan keluarganya? itu hanya sia-sia. Nyatanya dia tetap berani masuk kedalam hubungan kami."
"Clara akan lebih marah padamu." sahut Teddy.
"Hanya jika di tahu."
"Dia akan tahu, Steve... lebih baik serahkan dia pada kami. Kami akan mengurusnya untukmu." sahut Bobby lagi.
Steven tertawa sinis. Dia tahu apa yang akan dilakukan teman-temannya. Mereka mudah ditebak seperti membaca buku yang terbuka. Steven tidak menanggapi lagi, tenty saja dia tidak akan membunuh Aldo. Dia tidak suka mengotori tangannya seperti itu meskipun sangat marah. Selain itu, Dia tidak ingin dibenci oleh Clara.
.
Jun mengawasi konfrensi pers yang dilakukan oleh Steven dari jarak beberapa puluh meter. Dia tampak sangat kacau. Saat Steven menyadari kehadirannya, Jun menundukkan kepalanya sesaat sebelum melangkah pergi dari sana.
Steven dengan wibawanya yang luar biasa, berdiri dari duduknya. Melirik Billi yang langsung menunduk hormat dan mempersilahkan tuannya. Renjun yang sudah diberi perintah sejak awal untuk menyelesaikan wawancara. Mengambil alih menjawab semua pertanyaan wartawan.
"Temui aku, Jun!" perintah Steven saat dia sudah di dalam mobil. Jun sudah menyalakan ponselnya kembali. "Temui aku dirumah sakit!"
Sesampainya mereka di rumah sakit, Clara sudah sadar. Ketiga temannya masih di sana untuk menjaga Clara. Ditambah dengan kedatangan Lusi, Sindy bahkan Aston. Ruangan menjadi sedikit sesak.
Jun masuk setelahnya, dia nampak tidak peduli dengan semua orang. Dia berdiri tepat di samping Steven. Tidak peduli semua mata melihatnya dengan penuh tanya, dia hanya berdiri disana menatap Clara dengan sorot penuh penyesalan.
"Kamu oke? dimana yang sakit?" tanya Steven lembut. Namun Clara hanya menatapnya. Bibirnya terlihat terbuka namun dia tidak bisa menggerakkannya lebih dari itu.
"Steven... kamu perlu bicara dengan dokter. Tadi setelah diperiksa dokter, dia ingin bertemu denganmu." kata Sam.
"Panggil dia kesini." perintahnya.
"Ayolah nak... tidak mungkin dia menjelaskan diruangan penuh sesak ini." sahut Aston.
"Maka kalian yang harus pergi." jawabnya acuh.
Semua orang menatap keduanya dengan ngeri. Pasalnya meskipun Aston terkenal ramah pada publik, namun diantara para penguasa, dia terkenal kejam. Apalagi Steven jauh lebih muda. Mereka jadi terlihat seperti ayah dan anak yang mudah bertengkar saat ini.
Ketika dokter datang, alih-alih mengusir, Steven akhirnya memilih bicara di luar diikuti Jun yang mengekorinya. Lagi pula mana mungkin dia bisa mengusir mereka, ada Aston disana. Bagaimanapun dia masih harus menunjukkan kesan menghormatinya.
"Nona Clara mengalami trauma berat. Saya menemukan bahwa saat ini dia tidak bisa mengeluarkan suaranya."
"Apa maksudmu!" Steven terdengar sedikit emosi.
"Nona Clara menderita gangguan bicara sementara. Anda harus melakukan pendekatan dengan lembut. Anda harus membantunya menghadapi traumanya. Bantu ia kembali menghadapi hidupnya dan buat ia bahagia. Itu akan membuat dia membaik sedikit demi sedikit."
.
Clara melirik Steven yang kembali masuk ke ruangan. Semua orang hanya seperti angin lalu baginya. Sejak ia sadar, dikepalanya hanya ada Steven dan rasa sakit hatinya. Yang dia ingat sebelum kehilangan kesadarannya di ruang penyiksaan saat itu adalah, Steven yang terus mengatakan kata maaf.
Mata mereka bertemu, Clara ingin mengatakan sesuatu. Tapi seperti tadi, dia hanya bisa menggerakkan bibirnya sebatas terbuka. Suaranya tidak bisa keluar. Akhirnya dia menangis.
"No Clar... jangan menangis. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi." kata Steven, dengan cepat dia menggenggam tangan Clara, namun buru-buru melepasnya karena Clara mengernyit ditengah tangisnya.
__ADS_1
'Sial, aku lupa tangannya terluka.' rutuk Steven dalam hati.
Semua orang memilih keluar. Aston, teman-teman Steven menepuk pundaknya berulang kali sebelum keluar.
"Maafkan aku, Clara. Jangan pergi lagi kumohon. Aku dan Violet tidak memiliki hubungan apapun. Pertunangan itu hanya bisnis. Maafkan aku, karena tidak jujur dari awal." kata Steven.
'Meskipun bisnis, kamu tetap terikat dengannya. Akan menikahinya.' jawab Clara dalam hati.
"Maafkan aku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Violet dan Raka, mereka sudah dipenjara. Aku akan menghukum mereka untukmu."
Clara ingin sekali bertanya, namun lagi-lagi bibirnya hanya bisa bergerak sedikit. Suaranya tidak keluar sama sekali. Dia menjadi fruatasi, tubuhnya juga sulit digerakkan karena tenaganya terasa hilang seluruhnya. Dia juga perlahan merasakan nyeri disekujur tubuhnya kembali lagi.
Keningnya berkerut sangat banyak, dia terlihat sangat kesakitan. "Kamu kenapa? diaman yang sakit?" panik Steven. Dia menekan tombol di kepala ranjang Clara.
Dengan cepat dokter dan perawat datang. Mereka memeriksa keadaan Clara. Lalu menyuntikkan sesuatu pada selang infus. Perlahan, Clara tampak lebih tenang. Dia masih mengernyit namun tidak separah tadi.
"Sepertinya efek obat penghilang nyerinya tadi perlahan telah habis Tuan, kami sudah memberikannya kembali." kata dokter pria itu.
"Aku mengerti." jawab Steven, lalu duduk lagi di tempat tadi.
.
Sindy menyentak tangan Samuel yang akan memasuki mobil. Samuel yang memang tidak tahu apa yang telah terjadi padanya, hanya melirik perutnya sebelum menatap Sindy dengan bingung.
"Aldo... bagaimana keadaanya?" tanya Sindy, berulang kali dia menoleh kiri dan kanan. Takut kalau Aston terlebih dahulu menemukannya.
"Dia? kenapa ingin tahu? bukankah kalian tidak punya hubungan apapun lagi?" sarkas Sam.
"Tolong beritahu aku! Steven....tidak menyakitinya kan?"
Teddy yang ikut bergabung terkekeh pelan. "Apa hubungannya denganmu? setelah Steven kamu berlari pada kakek tua itu. Itu anaknya kan?"
Sindy tampak fruatasi. Dia nyaris menangis namun dia menahannya. "Tolong katakan apa dia baik-baik saja, kumohon..." lirihnya.
Sam dan Ted bertukar pandang, lalu keduanya melihat Aston yang mendekat. Sam sepertinya bisa menebak apa yang terjadi, sehingga ia berkata dengan pelan.
"Dia ditembak dikakinya. Steven juga ingin membunuhnya setelah ini. Tapi tenang saja, Clara tidak mungkin membiarkan itu. Omong-omong... priamu kearah kita." Perkataan Sam selesai bertepatan saat Aston berada tiga meter dari mereka.
"Aku mencarimu dan kamu dengan pria lain?" kata Aston dengan nada yang tidak ramah. Dia terlihat menahan amarahnya.
"Jangan begitu tuan Aston, kami teman lama. Bertemu hanya untuk saling menyapa." jawab Sam dengan senyum bisnis.
"Aku harap begitu." jawab Aston, lalu meraih pergelangan tangan Sindy dan membawanya pergi.
"Bukankah dia terlihat sedikit posesif?" tanya Bobby, ia meletakkan kepalanya di jendela mobil yang terbuka. Sejak tadi hanya menjadi penonton dari kursi depan.
"Aku rasa juga begitu, alih-alih takut tahanannya kabur, dia seperti takut kalau istrinya di ambil orang." tambah Teddy.
"Aku tidak peduli, itu urusan dia. Ayo kembali, kita harus mengurus Aldo itu. Benar-benar merepotkan." jawab Sam.
"Ah...soal itu... ayahku menyuruhku kembali. Ada rapat keluarga besar lusa ini." kata Teddy.
"Aku juga harus menemui profesorku besok. Ck, aku merasa bersalah pada Steven." sahut Bobby.
"Apa maksud kalian! jangan bilang kalau kalian akan menyuruhku menyelesaikan ini sendiri." kesal Samuel.
"Ayolah kawan, semua sudah terkendali disini." bujuk Teddy dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Sial, singkirkan wajah itu. Itu menggelikan sialan!" umpat Sam dengan ekspresi jijik.
Keduanya tertawa, membuat Sam lagi-lagi mengumpati mereka. Ketiga tuan muda yang rela terbang dari negara mereka meninggalkan kesibukan demi Steven. Sungguh hubungan yang kuat. Meskipun pada akhirnya Steven lebih banyak mengabaikan mereka. Tapi mereka tetap tidak mempermasalahkan itu. Bagi mereka, Steven sama seperti dulu. Orang yang mereka hargai dan hormati.
__ADS_1