
Sudah tiga hari Steven bulak balik rumah sakit. Ayahnya sudah diizinkan pindah ke ruang rawat biasa hari ini. Dia juga sudah tahu siapa dalang dibalik penyebab keadaan ayahnya yang tertekan selama ini. Meskipun ia belum bertindak, Steven bukannya akan diam saja. Saat ini sangat tidak memungkinkan untuknya menunjukkan diri. Dia hanya bisa bertindak secara diam-diam.
Steven melirik ayahnya yang sedang tertidur. Pintu terbuka dan berdirilah sosok pria dewasa yang enam tahun diatasnya. Seorang keturunan Korea asli namun sudah menjadi warga negara Indonesia sejak lama. Ia adalah pria yang biasa Steven panggil dengan nama Jun. Nama panjangnya adalah Park soojun. Karena di Indonesia, ia menggunakan nama panggilan Jun.
Jun menyerahkan sebuah tablet pada Steven yang sedang duduk di sofa. Steven memeriksa apa yang didapatkan Jun saat ia memerintahkannya untuk menyelidiki CCTV markasnya dulu dengan Arnold.
"Jadi dia yang melakukannya pada adik Arnorld? Apa kamu mendapatkan bukti lain?"
"Tim melenyapkan buktinya sebelum orang kita menangkapnya."
"Ini saja tidak cukup, aku ingin Arnold kembali kepihakku. Cari bukti lain atau buat pelakunya membuat bukti baru. Perintahkan Roulet melakukannya. Wanita itu akan menaklukkannya," kata Steven dan menyerahkan kembali tablet itu pada Jun.
Steven menoleh pada ayahnya, dan kembali menatap Jun seolah bertanya. Jun yang paham mengangguk dan segera keluar. Sesampainya diluar, ia menghubungi Yuno yang saat itu sedang memimpin rapat direksi. Yuno memandang para pemegang saham dan segera undur diri begitu saja. Mengabaikan bisikan orang-orang. Ya, siapapun takut padanya meskipun beberapa orang tahu bahwa dia bukanlah pemilik dari perusahaan. Namun hanya tangan kanan yang diserahi kekuasaan. Berbeda saat di depan Steven, dihadapan orang lain Yuno sangat berwibawa. Membuat orang lain segan padanya.
"Ya, salah satu dari pemegang saham di perusahaan adalah orang tua dari salah satu anak yang membuat ayah Tuan tertekan. Aku berencana membeli sahamnya. Pertama kita akan membuatnya senang, sebelum mengubur mereka ketanah. Untuk para mentri itu, Aku sudah melaksanakan perintah Tuan Steven. Langkah pertama sudah di laksanakan. Kita hanya perlu menunggu mereka memakan umpan."
"Baik, aku akan sampaikan pada Tuan," kata Jun dan memutus sambungan.
Jun masuk dan kembali berdiri dengan sopan di hadapan Steven. Melirik sekilas pada ayahnya yang masih tidur.
"Rencana anda sudah dalam tahap awal, kita hanya menunggu mereka memakan umpannya. Yuno sedang rapat direksi. Sekitar seminggu kedepan ... perusahaan itu akan gulung tikar," ucap Jun yang di jawab anggukan singkat oleh Steven.
"Kalau begitu saya permisi," kata Jun.
Diluar pintu ia berpapasan dengan Sam dan yang lainnya, mereka baru saja tiba. Jun tidak melakukan kontak apapun meskipun mereka menatapnya penasaran karena keluar dari ruang rawat ayah Steven.
"Siapa yang baru saja keluar itu?" tanya Sam.
"Aku merasa tidak asing. Rasanya aku melihatnya beberapa kali dulu," kata Bobby tidak yakin pada ingatannya.
"Kaki tangan?" tebak Teddy.
Steven meraih kotak makan yang dibawa Teddy dan membukanya tampa menjawab pertanyaan teman-temannya.
"Kalian datang?"
Keempatnya menoleh, ayah Steven bangun dan berusaha duduk dari tempat tidurnya. Steven dengan gesit bangkit dan membantu ayahnya.
"Tak apa ... tak apa, Appa sudah jauh lebih baik," ucap ayahnya dengan lembut. "Kalian sudah makan?"
"Kami sudah makan, Ted membawa makan untuk Steven jadi jangan kawatir paman," jawab Sam.
"Kalian tumbuh dengan baik, terima kasih telah menjaga Steven selama ini."
__ADS_1
"Eii...! Tidak masalah uncle, Steven juga menjaga kami," jawab Bob dengan senyum pepsodennya.
Lama mereka bercengkrama sementara Steven memilih mengisi perutnya. Ayah Steven tampak jauh lebih baik. Setelah dokter datang dan memeriksa, ayah Steven sudah diizinkan pulang jika tidak ada keluhan lagi. Hanya perlu beberapa kali datang untuk kontrol saja.
"Omong - omong, kemarin kamu memiliki teman perempuan, kenapa tidak pernah datang? Kelihatannya kalian cukup dekat, dia tidak ikut?" tanya ayahnya tiba-tiba.
Steven yang memang selama tiga hari sejak pergi begitu saja dari kelas belum mendengar kabar Clara. Entah apa yang terjadi padanya di rumah. Steven hanya berfikir dia sibuk belajar. Hanya saja ponselnya yang ikut tidak aktif sesekali mengganggunya. Namun karena beberapa hari ini fokusnya kepada masalah ayahnya dan Arnold. Membuat ia melupakan sedikit keanehan pada Clara.
"Kami dalam masa tenang, Appa! Semua anak belajar untuk ujian kecuali tiga orang ini. Jadi aku tidak ingin mengganggunya. Otaknya sedikit pas-pasan sama seperti Sam."
Perkataan Steven sangat tenang dan terdengar kalem. Tidak ada nada mengejek namun siapapun yang mendengarnya serasa dipukul di wajah mereka. Terutama Sam yang memang memiliki kemampuan standar. Tidak seperti mereka bertiga apa lagi Steven.
"Aku juga belajar, hanya saja aku menyempatkan datang karena aku menghawatirkan Uncle," bela Sam untuk dirinya sendiri.
"Belajar apanya, kerjamu hanya main game!" sahut Ted dengan wajah tampa dosa.
Semua tertawa kecuali Steven yang cuek saja. Ia malah fokus pada ponselnya sekarang. Memutar-mutar benda persegi panjang itu di tangannya.
"Appa ... Jom gabwaya haeyo," kata Steven dalam bahasa asal ayahnya.
(Ayah, aku harus pergi sebentar,)
"Munjega isseubnikka?"
Steven menatap ayahnya sebentar sebelum menggeleng. Ia segera beranjak dari sana tampa mengatakan apapun lagi.
"Kenapa dia pergi?" tanya Sam entah pada siapa.
"Sepertinya ada sesuatu, biarkan saja. Dia tahu apa yang harus dilakukan," jawab Bob dengan tenang.
"Kalian sepertinya sangat memahaminya. Aku selalu merasa tidak bisa memahaminya. Aku ayah yang buruk untuknya," kata Ayah Steven, memandang pintu dengan wajah sendu.
Selama ini dia kehilangan waktu untuk menjalin kedekatan karena Steven saat itu harus ikut ibunya. Karena itu ia amat merasa bersalah akan kerenggangan mereka.
"Uncle please ... jangan berfikir seperti itu. Steven menyayangimu. Hanya dia memang seperti itu, kami juga sering tidak mengerti jalan pikirannya. Dia itu seperti ridle yang membingungkan."
Bob dan Ted mengangguk setuju akan perkataan Sam.
"Benarkah?" tanya Ayah Steven dengan sedikit binar diwajahnya.
"Benar, jadi jangan heran kalau dia bersikap seperti itu Paman. Sudah makanan sehari-hari," lanjut Sam dengan bibir mencibir.
.
__ADS_1
Sementara itu, Steven mengemudikan mobilnya sendiri. Ia mencoba melacak ponsel Clara di area terakhir ponsel itu berada. Lama ia berputar-putar pada permukiman padat penduduk. Masuk ke wilayah yang masih terlihat seperti dusun namun berada di wilayah kota. Steven hanya mengikuti JPS dan memanfaatkan google map di mobilnya.
Setelah berputar selama 40 menitan, ia sampai dititik yang dituju. Sebuah rumah sederhana khas betawi dengan halaman yang luas. Ia mematikan mesin mobil dan memilih menunggu. Mengamati sekitar yang tampak sepi. Hanya sedikit orang yang lewat.
Sepuluh menit, orang yang ingin ia lihat muncul dari arah samping rumah dengan sebuah bungkusan di tangan kirinya. Ya, dia adalah Clara. Sedikit takjub karena Steven yang biasa melihat Clara dalam balutan seragam, kini melihat Clara dengan pakaian rumahan sederhana yang terlihat sangat manis. Tampa sadar ia tersenyum, menatap Clara dalam diam.
Ketika Clara akan masuk ke dalam rumahnya, barulah ia buru-buru keluar dari mobil dan memanggilnya. Clara yang tampak terkejut mematung di depan pintu yang masih tertutup. Mengurungkan niat ingin masuk, ia malah berlari menghampiri Steven dan berdiri di hadapannya. Seperti berusaha mencegahnya lebih dekat ke area rumahnya. Steven yang menyadari keanehan itu mencoba pura-pura tidak tahu.
"Ka-kamu kenapa ada di sini?"
Steven menatap Clara yang tampak gugup. Mata gadis itu tidak fokus, beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri.
"Karena ponselmu mati. Kemana saja?"
"Hanya di rumah, maaf ... ponselnya mati karena__"
"Clara!"
Tubuh Clara langsung kaku saat sebuah suara mengintrupsi mereka. Dari atas kepala Clara, Steven bisa melihat pintu sudah terbuka dan seorang wanita paruh baya memakai kebaya berdiri di depan pintu. Selang beberapa detik, muncul seorang anak laki-laki yang sepertinya masih SMP di sebelah ibunya.
"Keluargamu?" tanya Steven dengan tenang.
Clara memgangguk, ia melirik sekilas ibunya yang tadi memanggilnya sebelum menatap Steven lagi.
"Pulanglah, aku baik-baik saja. Nanti aku kabari."
Sayangnya, alih-alih melakukan permintaan Clara. Steven malah dengan santai berjalan menuju rumah Clara dan menghampiri ibunya yang masih berdiri di depan pintu dengan adik laki-lakinya.
"Selamat siang, Tante?" sapa Steven dengan wajah tenangnya. Ia tidak terlihat gugup sama sekali. Bahkan sangat berwibawa.
"Kamu siapanya Clara? Tidak biasanya dia membawa teman ke rumah," datar dan sinis. Steven bahkan bisa melihat seperti apa Clara di perlakukan selama ini hanya dalam sekali penilaian.
"Ibu tiri?" tebak Steven enteng. Tidak ada lagi kesan menghormati seperti awal tadi.
"Tidak sopan! Pergi kamu!" usir ibu Clara terpancing emosi.
"Siapa di depan?"
Seorang lelaki paruh baya muncul dari dalam rumah. Menatap Steven dan ibu Clara bergantian sebelum menyadari bahwa Clara masih berdiri di halaman rumah.
"Ayah, kenapa keluar ... Nanti masuk angin. Ayo kembali istirahat. Hanya teman Clara, mungkin mengantarkan bahan ujian," kata ibu Clara dengan lembut. Membawa kembali laki-laki yang merupakan ayah kandung Clara masuk ke dalam rumah.
Setelah pintu tertutup, Steven berdiri diam menatap Clara yang sekarang tertunduk dalam. Ia menghampirinya dan menarik tangan Clara masuk ke dalam mobil. Tampa bertanya atau berkata apapun, Steven melajukan mobilnya meninggalkan area itu.
__ADS_1