
Clara termenung di balkon kamar asramanya. Menatap kosong area belakang asrama yang sunyi karena memang sudah lewat jam malam. Teman sekamarnya juga sudah tidur. Beberapa pesan dari Sinta yang terus menanyakan perihal Arnold juga di abaikan. Pikirannya di penuhi oleh kata-kata Arnold yang menjuluki Steven pembunuh. Juga Sesuatu yang selalu Aldo tuduhkan. Dia tidak di beritahu apapun. Tidak di jelaskan apapun. Meskipun ingin mempercayai, keadaannya saat ini membuatnya sedikit banyak menaruh curiga.
Clara menatap ponsel mahal di tangannya. Ia belum menyimpan nomor siapapun kecuali keluarganya dan Steven sendiri. Hanya nomor ayah dan ibunya yang ia hapal. Sementara Steven dia sendiri yang memasukkan nomornya.
"Bagaimana ini? Besok mulai waktu tenang. Apa yang harus kujelaskan pada ibu?" gumamnya lirih.
Sebelum menghadapi ujian semester, pihak sekolah memang selalu memberikan waktu tenang selama seminggu. Anak-anak yang tinggal di asrama seluruhnya diminta pulang kerumah untuk berkumpul bersama keluarga. Begitu juga yang non asrama. Di minta untuk diam di rumah dan melakukan kegiatan keluarga.
.
Pagi - pagi sekali Sinta sudah menghampiri kamarnya dan mengajaknya ke kelas bersama. Sepanjang jalan Sinta tidak lelah menanyai Arnold. Sehingga Clara yang risih menatapnya bosan.
"Aku juga baru kenal, mana aku tahu Sin."
Sinta memajukan bibirnya, lalu memasang wajah memelas.
"Kan dia minta nomormu. Dia menghubungimu tidak? berikan nomornya padaku, jangan pelit. Kan kamu sudah ada Steven. Kok Arnold tidak boleh aku dekati?" melasnya.
Masalahnya bukannya Clara tidak ingin, ponselnya sudah diganti dan nomor Arnold tentu saja lenyap.
"Aku ganti handphone. Yang kemarin jatuh saat pergi, jadi nomornya juga hilang," jawab Clara dengan nada menyesal.
"Rusak? kenapa bisa rusak? kamu bertengkar dengan Steven?" tanyanya, malah mengalihkan pembicaraan. Sinta memang tipe yang suka ikut campur karena ia tipe penolong, meski aslinya lebih seperti si cerewet yang suka ikut campur urusan orang lain.
"Ya, tapi sudah baikan lagi, kok. Jadi jangan bahas-bahas Arnold lagi, oke!"
"Ooh ... Apa dia cemburu?"
Clara tersenyum saja, engan menjawab sampai mereka tiba di depan kelas. Memasuki kelas Clara mengeryit saat susana sangat hening. Saat ia melihat tempat duduknya, barulah ia sadar siapa yang menyebabkan keheningan itu. Steven dan dua teman sekelasnya duduk disana. Sam malah duduk di kursi depannya, menyebabkan pemilik kursi mengungsi sementara.
Ketika Clara berjalan ke arah mereka, Sam kembali ke tempat duduknya. Bob dan Ted keluar kelas dan menunggu di luar. Clara menatap Steven yang juga menatapnya. Seolah mereka terhubung dengan dunia sendiri dan berkomunikasi lewat pandangan.
Steven bergeser ke kursi yang tadi diduduki Bob, kursi teman sebangku Clara. Mempersilahkan Clara mengambil alih kursinya.
"Besok seluruh anak asrama akan pulang, sekolah juga diliburkan." kata Clara
"Ada kegiatan OSIS tambahan?"
Clara menggeleng, ia menyimpan tasnya di kolong meja dan menatap Steven.
"Kami juga harus fokus belajar. Bahkan seluruh anak yang merupakan atlit tidak di izinkan mengikuti kegiatan apapun. Ujian sangat penting di sini. Murid memang di fokuskan pada nilai dan prestasi akademik. Terutama kelas unggulan seperti kalian."
"Begitu?" Clara mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Lalu kamu akan terus berada di rumah?"
Lagi, Clara memberikan anggukan sebagai jawaban. Steven berdecak sekali tanda tidak setuju.
"Kenapa?"
"Kamu akan fokus pada buku."
"Tentu saja, aku tidak ingin beasiswaku di cabut. Satu-satunya cara mempertahankannya adalah tidak membuat nilaiku di bawah standar."
"Mau ku ajari?" tawar Steven. Clara tampak berfikir. Itu tawaran yang menggiurkan tentu saja.
"Kamu kan juga harus belajar," tolaknya halus.
"Aku tidak butuh itu, hubungi aku jika orang tuamu memberi izin. Aku akan langsung datang kerumahmu," kata Steven.
Clara menghembuskan nafasnya pelan sebelum mengangguk. Steven tahu ada sesuatu yang sepertinya coba Clara pendam, namun Steven tahu bukan saatnya untuk bertanya.
"Aku pergi, sampai jumpa istirahat nanti."
Steven berlalu dari sana sebelum memberikan perintah tak tertulis pada Sam. Sepeninggal Steven, kelas akhirnya menjadi seperti biasa lagi, berisik. Entah kenapa atmosfir saat Steven berada di sana sungguh menjadi dingin dan menakutkan. Bahkan jika seorang menjatuhkan penanya, ia akan menjadi gugup luar biasa.
.
Sesampainya di kantin, Clara duduk bersama Sinta. Namun kedatangan Aldo dan teman-temannya membuat Sinta memilih bergabung dengan anggota OSIS yang lain. Meninggalkan Clara sendirian saat Aldo mulai bergabung di mejanya.
Clara bisa melihat tatapan iri beberapa anak yang berbisik-bisik tentangnya. Juga tatapan mematikan geng Anya dan Lea. Sayangnya ia sudah kebal sedari dulu. Meskipun setiap hari bertambah saja jumlah anak yang memusuhinya, dia hanya bisa pasrah. Apalagi sejak ia menjalin hubungan dengan most wanted sekolah. Hari-harinya total lebih berat.
"Tumben sendirian, dimana pengawalmu?" sindir Rafael.
"Sam bukan pengawalku!" ketus Clara sebagai balasan.
"Berbahaya jika kamu sendirian, tahu sendiri anak-anak mencari celah. Lihat kan! dia bahkan tidak nampak batang hidungnya dan meninggalkanmu. Kemana dia?" tanya Aldo di akhir perkataan sinisnya.
Clara diam saja, bukannya tidak ingin menjawab. Dia memang tidak tahu jawabannya. Steven tidak memberinya kabar dan tiba-tiba menghilang.
"Sudah pesan makanan?" tanya Aldo lagi.
Clara menggeleng pelan. Matanya sedari tadi fokus pada chat terakhirnya dengan Steven pagi tadi. Dia sangat penasaran kemana Steven pergi bersama teman-temannya.
"Dia tidak mengabarimu?" tanya Fajar seperti sudah tahu situasinya. "Pertengahan pelajaran Steven mendapatkan pesan entah dari siapa. Dia terlihat buru-buru dan keluar begitu saja diikuti kedua temannya itu." lanjut Fajar dan mulai menyeruput minuman yang baru saja datang. Aldo sedang berbicara pada penjaga kantin namun tetap fokus pada percakapan mereka.
"Paling terlibat masalah lagi," kata Aldo dengan ketus.
__ADS_1
Rafael dan Fajar hanya melirik sekilas pada Aldo. Tidak setuju namun seperti tidak ingin memperkeruh suasana. Sementara Bobbi sibuk makan seperti orang kelaparan.
"Kenapa Kakak selalu berprasangka buruk padanya?" Dingin Clara.
"Kamulah yang terlalu naif," balas Aldo tidak kalah dingin.
Pesanan Clara tiba, dengan perasaan dongkol Clara menyuap nasi gorengnya. Wajahnya bahkan tidak bersahabat. Aldo juga tidak kalah dingin, sepertinya sakit hatinya ia lampiaskan dengan membuat Clara sakit hati juga. Suasana di meja mereka sangat tidak enak, Rafael bertukar pandang dengan Fajar dan Bobbi sebelum memilih diam dan makan lagi.
.
Sementara itu disebuah rumah sakit, Steven sedang duduk bersama tiga sahabatnya di ruang tunggu ICU. Dimana ayahnya sedang ditangani. Ditengah pelajaran, ia mendapatkan pesan dari salah satu pelatih rekan ayahnya. Bahwa ayahnya mengalami serangan jantung dan dilarikan ke IGD salah satu rumah sakit swasta. Sesampainya di sana, ternyata ayahnya sudah dilarikan ke ruang ICU.
"Apa yang terjadi?" tanya Steven, meski ia kalut, suaranya tetap tenang saat bertanya pada rekan ayahnya.
"Panggil Om Alex saja. Sebenarnya itu terjadi setelah panggilan dari Kemenpora. Saat ia kembali, ayahmu sudah dalam ke adaan pucat. Saat aku tanya ... saat aku tanya ... katanya dia diberhentikan secara tidak hormat dengan alasan yang tidak masuk akal. Aku tidak tahu pada awalnya sebelum sebuah desas desus beredar. Juga perubahan sikap kapten tim beberapa minggu terakhir ini." Alex menjeda kalimatnya. Ia menatap Steven dengan sedikit rasa bersalah.
"Aku pikir ini ulahnya, atau ulah salah satu anak yang memusuhimu di sekolah. Maksudku, orang tua mereka sangat berpengaruh. Beberapa mentri ... sebenarnya ayahmu pernah bercerita, bahwa beberapa orang menekannya agar membujukmu untuk mau berpacaran dengan anak mereka. Itu jadi tekanan untuknya karena ia tidak ingin memaksamu. Dia sangat menyayangimu. Ayahmu bilang sangat tidak masuk akal memaksa remaja untuk menjalin hubungan karena urusan politik dan bisnis."
Steven menatap kosong lantai sebelum terkekeh sinis. Merasa bodoh selama ini bahwa ia tidak bisa melihat permasalahan ayahnya sendiri. Dia sibuk dengan dunianya sehingga tidak memperhatikan dunia ayahnya yang ditekan oleh pihak yang berkuasa.
Tentu saja, di sekolah ada puluhan anak yang akan membuat orang tuanya melakukan apapun untuk mewujudkan keingininan mereka. Apalagi ayahnya hanya pelatih timnas dan tidak memiliki orang yang berkuasa di belakangnya.
"Terima kasih, Om Alex. Tolong tetap di sisi Ayah saya."
"Tentu, kami sudah berteman sangat lama. Hanya saja ... Tolong perhatikan juga ayahmu. Dia membutuhkan dukunganmu."
"Tentu," jawab Steven cepat.
"Hah... Aku sungguh tidak memahami remaja sekarang. Kamu juga sangat hebat, aku dengar pretasimu disekolah. Sepertinya anak-anak itu begitu terpesona sampai melakukan hal gila untuk bisa bersamamu." kata Alex.
Pintu ICU terbuka dan seorang dokter keluar untuk memanggil keluarga pasien yang tidak lain Steven sendiri. Ia masuk dan mendengar beberapa penjelasan dokter. Begitu keluar ia disuguhi dengan wajah-wajah kawatir.
"Ayah dalam kondisi stabil, hanya saja perlu pengawasan khusus sehingga ia belum bisa pindah ke ruang rawat biasa."
Semuanya tampak lega, Steven berjalan menjauhi mereka dan menghubungi seseorang. Menatap dingin kaca jendela saat panggilannya diangkat.
"Aku membutuhkan seorang yang bisa menyelidiki sesuatu. Seorang yang bisa di bayar untuk mendapatkan informasi mengenai orang-orang di lingkaran Kemenpora dan organisasi sepak bola. Cari tahu sebab pasti dan orang di balik pemecatan ayahku," perintah Steven.
"Aku memberimu waktu sampai besok, jangan kecewakan aku, Jun." tambah Steven sebelum menutup panggilannya.
Steven tahu salah satu dari orang tua murid melakukan ini untuk membuatnya tunduk pada anaknya. Tidak tahu untuk balas dendam atau mendapatkan dirinya. Mereka tidak tahu, Steven bukan remaja biasa yang akan ketakutan seperti anak kecil. Ia sudah jauh lebih dewasa secara emosional sejak dulu. Kejeniusan otaknya tidak terbatas. Ia mudah mempelajari apapun, mudah mengingat apapun dan sangat jeli dalam situasi apapun.
Kejeniusannya itu menjadikan ia tumbuh dengan pribadi yang dingin dan tertutup. Steven seperti kotak pandora penuh teka-teki. Bahkan dirinya sendiri tidak bisa menentukan batasannya. Semua mengalir dan dia selalu menemukan jalan. Termasuk menghancurkan orang-orang yang bermain dibelakangnya.
__ADS_1