
"Erland tidak pernah macam-macam kepadaku Bun, dan memang ini kesepakatan kita berdua untuk memajukan pernikahan kita.. " Akhirnya Kia membuka suara
"Tapi kenapa secepat ini?? " Ayah David semakin penasaran
"Maksud Ayah apa?? "
"Besok kamu akan menikah dengan Erland, itu maksud mereka nak.. " Mamah Risa membuka obrolan yang diangguki semua orang
"Apa? Besok?? " Kia terkejut lalu menatap Erland melalui sorot matanya ia meminta penjelasan
"Tuh, Kia aja sampai terkejut,.. " Bunda Gita berbicara pada anaknya
"Berarti benar ada yang tidak beres dengan kalian berdua.. " Ayah David mengeluarkan pendapatnya
"Eh, bukan begitu maksud Kia Yah, Kia terkejut karna Erland memberitahu kabar ini sendirian, padahal aku kan juga ingin memberitahukan kabar bahagia ini.. "
"Tapi mereka sudah setuju kalo kita akan menikah besok.. " Erland menjelaskan sambil tersenyum
"Awas aja, berani-beraninya dia berbicara tanpa sepengetahuan aku.. " Geram Kia yang meremas jarinya
"Tapi aku fiki-fikir jangan besok deh, takutnya Erland belum sembuh dan masih harus banyak istirahat.. "
"Tenang saja ki, aku sudah sembuh.. "
"Bunda tidak menyangka kalian akan bertindak secepat ini.. "
"Hehehehehe.. " Kia hanya tersenyum kikuk
"Kamu benar-benar membuatku pusing, maksud aku itu dipercepat bukan di desak.. " Batin Kia yang kesal dan geram
"Iya iya.. " Kia pasrah
"Eh tapi sebentar, undangan udah disebar, bagaimana bun.. " Lagi lagi ucapan Kia dipotong oleh Bunda nya
"Kita semua sepakat untuk mempercepat ijab nya dan resepsinya sesuai tanggal di undangan.. "
"Oh... Eh tunggu dulu, kok jadi ribet ya.. "
"Sudahlah lebih baik kita pulang saja, dari pada disini, aku sudah jenuh.. " Jawab Erland
"Bunda, Ayah dan mamah bisa duluan, aku ingin bicara dengan Erland sebentar.. "
"Okeh, jangan berbuat yang aneh-aneh, selama kalian berdua.. "
"Iya bun... "
Setelah mereka keluar dari ruangan, Erland langsung dicecar bertubi-tubi pertanyaan dari Kia
"Eh kalo ngomong dipikir dulu dong.. "
"Memang ada yang salah dengan ucapanku??" Tanya Erland yang masih duduk di ranjangnya dan Kia sudah melangkah menuju sofa lalu mendudukkan dirinya disana
"Salah!.. " Ucap Kia yang ketus
Segera Erland turun dari ranjang dan berjalan di menuju Kia, lalu mendudukkan dirinya disamping calon istrinya
"Ucapan mana yang menurutmu salah hemm?? " Jawab Erland sambil memegang kedua pundak Kia
Kia memalingkan wajahnya
"Coba katakan.. " Ucap Erland kembali
"Aku ingin di percepat bukan di desak.. " Jawab Kia yang masih memalingkan wajahnya
"Aku sudah mempercepat, apa yang salah?? "
__ADS_1
"Dan siapa yang mendesakmu hemm?? "
"Males aku.. " Kia marah dengan Erland
"Kalo kamu belum siap untuk menikah besok, aku tinggal bilang ke bunda aja, pasti dia ngertiin.. "
"Tidak usah, lagi pula aku sudah menyetujui nya.. "
"Jangan marah dong ki.. "
"Lain kali bicarakan dulu kalo mau ambil keputusan.. "
"Kan aku sudah bilang, setelah aku keluar dari rumah sakit kita akan menikah dan kamu menyetujuinya.. " Erland menyandarkan kepala Kia kedada bidangnya
"Oh iya ya, aku melupakan ucapan Erland itu.. " Batin Kia
"Yuuk pulang, yang lain sudah menunggu kita.. "
"Iya.. "
...........
"Den, kita belum membeli perlengkapan bayi.. " Ucap Maya di dalam mobil yang sedang menggendong baby Revan
"Iya daddy juga mau bertanya tentang itu.. " Liam menimpali ucapan menantunya dengan pandangan fokus kemudinya
"Kita mampir saja ke mall terdekat, nanti kan kita akan lewati mall.. " Denis menjawab dengan sesekali mencubit pipi baby Revan yang terlihat menggemaskan
"Nanti bangun Den... " Maya kesal karna sedari tadi Denis selalu menganggu baby Revan yang sedang tertidur
"Gapapa ya dek, kan daddy juga mau main sama anak daddy.. " Denis berbicara sambil menggoyangkan jemari baby Revan
"Kok daddy si?? " Maya tidak terlalu suka dangan panggilan yang diberikan Denis
"Papah kek, atau Ayah juga boleh yang penting jangan daddy.. "
"Kenapa?? " Tanya liam dan Denis bersamaan.
"Ya biar beda aja, hehe... "
"Maksud aku panggilan daddy kurang cocok di telinga aku.. " Batin Maya tersenyum canggung
"Emm ayah aja ya nak.. " Denis mencium pipi yang masih berwarna merah itu
"Emm harum ya anak ayah... "
"Harum, harum harum... " Denis seakan-akan mengajak baby Revan berbicara
"Oh iya den, bagaimana dengan acara wisuda kemarin?? " Tanya Maya yang tidak bisa menghadiri
"Itu semua sudah diurus oleh daddy, karna pemegang saham terbesar di kampus adalah erland, eh lebih tepatnya mungkin kedua orang tua erland.. "
"Syukurlah, sayang sekali aku tidak bisa hadir.. "
"Aku juga tidak hadir... "
Akhirnya mereka sudah berada diparkiran Mall yang berada dibawah tanah.
"Kalo cape, biar aku yang gendong baby Revan.. " Ucap Denis saat mereka keluar dari mobil.
"Biar daddy aja May.. "
"Eh jangan, biar aku aja, kan aku Ayah nya.. "
"Sudah-sudah jangan bertengkar, saking bergantian aja.. " Ucap Maya yang di angguki kedua lelaki yang berada dihadapannya
__ADS_1
"Sinih aku gendong.. " Denis berusaha mengambil anaknya dalam gendongan istrinya
"Hati-hati jangan sampai terbangun.. " Ucap Maya
"Iya.. "
Akhirnya mereka bertiga masuk kedalam Mall tersebut, mereka langsung saja memasuki toko peralatan bayi
"Den, lihat pasti lucu deh.. " Ucap Maya yang menunjukkan bayi bayi berwarna merah muda
"May, anak kita itu laki, masa iya mau dibeliin warna cewek.. " Sewot Denis yang tidak terima
"Coba deh lihat itu.. " Denis menujukan 1 set pakaian bayi berwarna biru yang sedang terpajang di deretan pakaian bayi lainnya
"Itu maksudmu?? "
"Iya, pasti bagus dipake baby Revan.. "
"Okeh, kita ambil itu 1 ya.. " Maya segera meminta karyawan yang sedang berjalan untuk mengambil pakaian bayi yang ditunjuk Denis
"Kita belanja sayang, mari kita habiskan uang Opah.. " Denis berbicara pada anaknya yang sedang tertidur
"Ini juga bagus den.. " Maya memperlihatkan berbagai pakaian bayi yang sudah diambil nya
"Masukan saja ke keranjang, oh iya mana daddy, aku tidak melihatnya.. " Tanya Denis kepada istrinya dengan sesekali menepuk-nepuk bokong baby Revan
"Daddy disini, ada apa mencari daddy.. "
"Sejak kapan Daddy disitu?? " Tanya Denis
"Biarkan daddy yang menggendong baby Revan, kalian lanjutlah berbelanja, dan daddy akan tunggu di sini.. " Liam mengambil alih baby Revan dari gendongan Denis
"Hati-hati dad.. "
"Berbelanjalah, gunakan ini untuk membeli keperluan baby Revan.. " Liam menyodorkan ATM nya kepada Denis
"Dad, tidak usah, orangtuaku sudah mengirim uang untuk membeli keperluan baby Revan.. " Tolak Maya
"Tidak apa-apa, pakailah.. "
"Baik dad, yuk kita belanja.. " Ajak Denis yang menarik lengan Maya
Setelah puas berbelanja mereka semua kembali kedalam mobilnya dan baby Revan sudah berada di dalam gendongan Maya.
Setelah memakan waktu cukup lama akhirnya mereka sampai juga di rumah mewah milik Denis,
"Biar aku gendong, pasti kamu cape kan??? "
.
.
.
.
.
.
Hay gaes, mohon maaf jika ada kesalahan kata atau kalimat
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini (like, favorite, komen, vote dan hadiah🎁)
......... #Happy Reading😘#........
__ADS_1