
Brak...!!!
Terlihat 5 orang terpental 10 meter setelah mendapat hantaman yang cukup keras di masing-masing dada mereka berlima. Nafas mereka terengah-engah, dan menahan rasa sakit di dada dan seluruh tubuh mereka. Terlihat salah satu dari mereka pun bangkit, dia tak lain Budi.
Ya, saat ini Budi dan keempat sahabatnya tengah menjalani latihan. Sean 'lah yang melatih mereka. Sean menggunakan Reality Stone-nya untuk membuat klon dirinya berjumlah 4. Sosok Sean berjumlah 5 orang masing-masing melawan kelima anggota Tim Elang Hitam.
Sean dan keempat klon berhasil membuat mereka terpojok hingga, hingga pukulan mereka membuat Tim Elang terpental mundur. Tim Elang Hitam tak menyangka kalau semua klon Sean seperti sosok yang asli, yang awalnya mereka mengira keempat klon itu lebih lemah, dan ternyata sama-sama kuat.
Sean tersenyum melihat Budi yang masih mampu berdiri. Sean menghilangkan efek Reality Stone-nya, keempat klonnya pun menghilang. Ia bersuara. "Aku salut dengan tekadmu, tetapi masih jauh lebih kata kuat, Budi."
"Kita sudahi latihan ini, kita lanjukan latihannya besok." tambahnya, dan juga karena hari sudah mendekati sore.
"Tidak, Senior !! Masih belum, aku belum menyerah untuk berhenti." ucap Budi dengan tegas, ia terlihat menahan rasa sakit, bahkan ia berusaha tetap bertahan berdiri.
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan memaksa dirimu, karena tak bagus kalau kamu memaksa dirimu untuk tetap melanjutkan latihan ini."
"Sehebat-hebatnya kekuatan kita, pasti ada batasan dan kekurangan. Jika kondisi kita tidak baik, lebih baik sudahkan, lagi pula, ini hanyalah latihan, bukan pertarungan yang sebenarnya." tambahnya menasehati Budi.
Budi pun rubuh. Ia terduduk lemas di tanah. Sean berjalan mendekatinya. Setelah berdiri di hadapan Budi, ia berlutut, lalu memegang salah satu pundak Budi. "Kamu sudah latihan dengan baik, meski kamu dan keempat sahabatmu berkembang sedikit selama 1 minggu ini, itu sudah bagus. Masih ada hari esok untuk melanjutkan latihannya."
Budi memenjam kedua matanya. Ia menghela nafasnya, lalu ia membuka kembali kedua matanya. Ia pun mengangguk kepalanya. Sean tersenyum, lalu ia berdiri dan berjalan menjauhi Budi dan keempat sahabatnya.
.....
__ADS_1
Sementara Disisi Lain yang sedang berada di Dungeon, Reyhan telah selesai menghacurkan semua pasukan Monster yang terus berdatangan. Ia heran kenapa di Dungeon kali ini lebih banyak Monsternya, ketimbang Dungeon sebelumnya. Ia pun teringat kejadian awal mula ia memasuki Dungeon bersama yang lainnya.
Ya, waktu itu ia hanya menemani Budi, dan mengalahkan Monster Wyvern, dan keempat Juniornya mengatasi semua Monster secara berpencar. Jadi, Reyhan baru menyadari kalau saat ini ia tengah sendirian memasuki satu Dungeon. Ia pun kembali berjalan mencari pemimpin atau Bos Monster di Dungeon ini.
.
Setelah Beberapa Lama Kemudian.
Lagi-lagi banyak Monster berdatangan. Entah itu Goblin, Golem, Orc, skeleton, dan masih banyak lagi, Reyhan mengalah semuanya, tak peduli jumlahnya, Reyhan terus maju ke jauh lagi, ia harap bisa bertemu pemimpin Monster yang menguasai Dungeon ini.
Ketika sudah tak ada apa-apa lagi, Reyhan berbalik, ia memutuskan kembali untuk pulang. "Sia-sia aku memasuki Dungeon ini. Ternyata hanya kosongan saja."
Reyhan mengabaikan semua inti Monster yang tergeletak di tanah begitu saja. Menurutnya barang seperti itu tidaklah penting lagi pula ia bukanlah Hunter. Dan juga ia sudah memiliki harta yang tak terhitung di ruang tahtanya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat yang disertai sedikit getaran di tanah. Reyhan menoleh dan melihat mahluk apa yang akan datang padanya. Reyhan mengerut dahinya ketika melihat mahluk itu yang terlihat seperti Manusia setengah kuda.
Tentu saja Reyhan mengetahui apa itu mahluk centaur, salah satu Mahluk Mitologi Yunani. Tapi yang membuat Reyhan heran adalah ukuran centaur yang ada di depannya.
"Apa dia bos-nya ? Apa semua bos yang ada disetiap Dungeon memiliki ukuran yang besar ?"
"Apa benar centaur yang sebenarnya memiliki ukuran seperti yang ada di depanku ini ?"
Reyhan bertanya-tanya dengan mahluk centaur ini, karena mahluk itu memiliki ukuran yang tingginya kurang lebih 7 meter. Centaur ini mengenakan zirah diseluruh tubuhnya, entah di tubuh manusianya bahkan tubuh kudanya tertutup zirah serba hitam dengan corak berantakan.
__ADS_1
Rupa dari wajah mahluk itu tak terlihat karena mengenakan helm zirah full face. Hanya menanampakan beberapa lubang di bagian depan helmnya. Terlihat juga 2 cahaya merah di 2 lubang helamnya, yang mungkin juga itu Kedua matanya. Mahluk ini membawa sebuah senjata palu yang besar.
Reyhan berjalan mendekati mahluk ini. Kini mereka saling berhadapan satu sama lain. Reyhan pun bersuara. "Bisakah kita berbicara ? Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."
Tak menjawab, mahluk itu malah mengayunkan palu besarnya ke arahnya. Reyhan pun segera melompat mundur menghindari serangan dari mahluk centaur ini. Reyhan memandang dingin. "Apa semua mahluk yang ada di setiap Dungeon tidak berakal ? Atau mereka benar-benar terlahir bodoh ?"
Setelah mengatakan itu, muncullah puluhan cahaya Portal dan semua pedang dan tombaknya bersiap dilepaskan. "Aku tidak akan langsung menghabisimu, karena aku mempunyai keyakinan bahwa kau memiliki kesadaran." ucapnya, dan ribuan senjatanya yang telah siap pun langsung meluncur menyerang.
.....
Sementara di tempat lain, di Taman Hiburan, ada sebuah keributan. Terlihat 3 pemuda sedang saling berkelahi. Penampilan mereka ber-3 sudah acak-acakan, dan noda darah menempel di pakaian mereka. Mereka memiliki kulit yang cukup pucat dan terlihat lemas, meski begitu mereka masih mampu memberi luka lembam pada lawan mereka.
Terlihat seorang Gadis cantik yang tak jauh dari ke-3 pemuda itu. Dia sedang duduk sambil membersihkan sisa-sisa tetesan merah di bibirnya. Dia tak lain Queen. Awalnya Queen yang terganggu oleh kehadiran ke-3 pemuda itu, ia lalu menggunakan Mind Stone-nya.
Dan seketika membuat mereka ber-3 terdiam membeku tak bersuara. Melihat sekelilingnya sepertinya aman dan tak ada yang melihat, karena memang tempatnya di ujung sudut taman hiburan. ia pun langsung melakukan aksinya.
Setelah mendapat darah yang cukup lumayan rasanya, Queen kembali duduk. Lalu ia kembali menggunakan Mind Stone-nya untuk membuat ke-3 pemuda itu yang tadinya masih berdiam, kini berubah saling melawan. Queen memanipulasi pikiran mereka lagi agar saling bertarung tanpa henti.
Tentu saja, perkelahian ke-3 pemuda itu menjadi pusat perhatian. Sedangkan Queen memasang wajah puasnya. Lalu tak lama kemudian Peter datang dengan membawa ice cream di masing-masing di tangan kanan dan tangan kirinya.
Peter mengerut dahinya melihat ke-3 pemuda itu yang tak terus berkelahi, dan tak memperdulikan keadaan. Lalu ia melihat penampilan ke-3 pemuda itu. Bahkan beberapa petugas keamanan turun tangan menghentikan aksi ketiganya, tetapi tetap saja ke-3 pemuda itu masih tak mau berhenti.
Peter memandang Queen. Sedangan Gadis setengah Vampir itu terlihat memasang ekspresi polos di wajah cantiknya. Queen langsung terlihat ceria dan mecomot salah satu ice cream coklatnya di salah satu gengaman tangannya Peter.
__ADS_1
_______________________
Jangan Lupa Like.