
Tak terjadi apapiun, setelah kedua ujung bilah pedang itu ditancapkan di tanah. Reyhan yang berdiri di depan kedua pedang itu berdiam berfikir keraa sambil memegang dagunya. Para juniornya yang berdiri di belakangnya, memandang bingung. Lalu Sean melangkah maju mendekatinya.
"Tak terjadi apapun." ucap Sean setelah berdiri di samping Reyhan. "Apa kau yakin, caramu ini akan berhasil, senior ?" tambahnya bertanya.
Reyhan menjawab. "Seharusnya ini berjalan, karena selama ini imajinasiku tak pernah salah."
Tak lama kemudian, Reyhan teringat akan sesuatu. Lalu ia mengeluarkan kalung giok yang sebelumnya ia mintai kepada Sean. Lalu ia arahkan kalung giok itu ke arah kedua pedang tadi. Ia dekatkan kalung giok itu di antara Space Stone dan Time Stone.
Sean pun bersuara. "Waktu itu, si Harimau bilang padaku, kalau ingin menggunakan kalung giok ini, kita harus mengalirkan Energi Qi kalung ini."
Reyhan dan yang lainnya mengerut dahinya. Reyhan bersuara. "Energi Qi ? Apa itu ? Apa semacam Energi mana ?"
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak tau." tak dirinya, Peter, Queen, dan Budi menjawab juga tidak tau.
lalu Reyhan memandang Arkhan, Andi, Beni, Iwan, dan Hendi. "Jika diingat, bukankah kalian pernah memberitahuku kalau kalian membaca komik berunsur Kultivator ? Jadi apa itu Energi Qi."
Ya, mengingat kalau dulu Arkhan dan keempat temannya Budi ini pernah membaca komik atau novel yang berunsur Kultivator, maka dari itu Reyhan bertanya kepada mereka.
Arkhan terlihat bingung. Tak hanya dia, Andi, Beni, dan Iwan juga terlihat bingung. Namun, Hendi menjawab. "Setahuku Enegi Qi itu berarti tenaga kehidupan atau Energi vital yang mengalir pada seluruh tubuh para Kultivator. Jadi bisa dikatakan cukup berbeda dengan Energi Mana."
Semua terdiam mendengar penjelasan dari Hendi. Tapi hal itu tidak membuat Reyhan untuk tidak berfikir mencari solusinya. "Karena kita tak memiliki Energi Qi," ucapnya, menggantung, lalu menoleh dan memandang ke arah Budi. "Kita gunakan Power Stone sebagai gantinya."
.....
Saat ini Budi berdiri di depan pedang yang sebelumnya ditancapkan di tanah oleh Reyhan. Kini sudah bukan 2 pedang lagi. Kini ada 3 pedang. Akan tetapi pedang ketiga bukanlah sama-sama Infinity Stone, melainkan kalung giok yang diikatkan di gagang pedangnya. Inilah rencana kedua.
__ADS_1
Pedang ketiga ada di tengah-tengah kedua pedang sebelumnya. Budi masih di belakang ketiga pedang ketiga pedang tersebut. Di belakangnya, di sisi kanan kirinya ada Sean, dan Peter. Masing-masing dari mereka berdua memegang pundak kanan kirinya Budi.
Inilah cara kedua Reyhan, dan itu sesuai imajinasinya lagi. Sebelumnya Budi tak bisa mengeluarkan Power Stone miliknya. Maka dari itu Budi yang harus mengendalikan sepenuhnya kekuatan dari Power Stone untuk mengalirkan kekuatannya ke Space Stone, Time Stone, dan Kalung Giok.
Mengingat kekuatan Budi masih di bawah kelima seniornya, Reyhan menyuruh Sean dan Peter untuk ikut turun, yaitu menyalurkan kekuatan mereka berdua ke Budi. Dan Budi harus memanfaatkan kekuatan dari kedua seniornya untuk mengendalikan Power Stone.
Arkhan, Queen dan keempat temannya Budi pun juga diminta berjaga-jaga, bila Sean dan Peter masih tak cukup nantinya, mereka juga harus menyalurkan kekuatan mereka. Kadang mereka semua berfikir kalau imajinasinya Reyhan terlalu berlebihan. Tentu tak ada yang percaya.
Kecuali Sean, ia merasa yakin kalau rencana Reyhan berhasil. Karena selama ini imajinasi yang Reyhan dilampiaskan selalu berhasil. Meski begitu, kalau boleh berkata jujur, menurutnya juga imajinasinya seniornya ini terlalu berlebihan.
"Baiklah, kalian mulailah." ucap Reyhan kepada Sean dan Peter.
Sean dan Peter pun menyalurkan kekuatan mereka kepada Budi. Budi yang menerimanya pun terkejut bukan main. Ia merasa sebuah tekanan kuat yang tak pernah ia rasakan pada di tubuhnya. Budi benar-benar kagum dengan kekuatan Sean dan Peter.
Kedua seniornya ini sudah sangat kuat. Lalu bagaimana dengan Reyhan ? Pasti lebih kuat dari Kekuatan yang ia terima saat ini. Lalu Ia bergumam dalam hatinya. "Kekuatan yang luar biasa."
Budi pun tersadar. Tanpa menjawab, ia segera melakukan apa yang Reyhan katakan. Ia segera memanfaatkan kekuatan yang ia terima untuk mengendalikan Power Stone miliknya. Dari kedua tangannya pun mengeluarkan cahaya Energi berwarna ungu. Lalu Budi arahkan masing-masing kedua tangannya ke Space Stone dan Time Stone.
Dan benar saja kedua Infinity Stone itu bercahaya. Cahaya Biru dari Space Stone mengalirkan kekuatannya ke arah kalung giok. Dan dari Time Stone tiba-tiba Cahaya Hijaunya memancarkan ke arah langit. Warna langit yang sebelumnya berwarna biru cerah, tiba-tiba berubah berwarna gelap kehijauan.
.
.
.
__ADS_1
.
.
******
Sementara Di Waktu Bersamaan. Terlihat Sebuah Dunia yang hanya memiliki 3 Benua saja. Masing-masing dari ketiga Benua itu, sangatlah luas, dan pastinya belakangan ini ketiga Benua itu kini tengah damai tanpa perang. Meski sesekali ada penjahat kecil yang masih berkeliaran.
Di sebuah tempat di salah satu Benua tersebut, terlihat seorang pemuda tengah duduk bersila dengan tenang dan kedua matanya terpejam. Dia mengenakan pakaian hanfu hitam, rambutnya hitam panjang dan diikat. Dia benar-benar terlihat tenang. Dia terlihat sedang mengatur nafasnya.
Tiba-tiba ia merasakan gejolak dari dalam tubuhnya. Dia langsung membuka kedua matanya. Warna kedua matanya biru cerah. Dia memegang dadanya. Nafasnya memburu. Ia bergumam. "Perasaan ini..."
"Thorga ? Apa kamu benar-benar memanggilku ?" tambahnya.
"Tunggu !! Dari semua sahabatku, hanya Thorga saja yang tak pernah menggunakan kalung pemberianku. Sebenarnya ada apa ?" ia bergumam lagi dengan rasa penasaran.
Tiba-tiba 10 meter di depannya, muncul sebuah Portal hitam kebiruan. Dia mengerut dahinya. "Portal apa itu ?"
"Tidak mungkin jika Portal itu adalah jalan menyebrangi antar Dimensi." gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Akan tetapi, ia merasakan Energi yang menariknya untuk masuk ke dalam Portal itu. Dia terkejut bukan main, karena ia merasa tidak asing dengan Energi tersebut. "Bukankah Energi ini berasal dari kalung giok pemberianku kepasa Thorga ?"
Tiba-tiba dari Portal itu muncullah sebuah rantai. Pemuda itu terbelalak. Ia berniat menghindar. Ketika berhasil menghindar, tanpa ia duga, ujung rantai itu berbelok dan datang padanya. Seketika tubuhnya terikat rantai itu.
"Sial, kenapa ini bisa terjadi disaat aku masih dalam masa pemulihan ?" umpatnya dalam hatinya. Bersamaan rantai yang mengikat dirinya menariknya ke dalam Portal.
__ADS_1
______________________
Jangan Lupa Like.