
Satu Minggu Sebelum Kekacauan Datang. Hari dimana sedang cerah di siang hari. keadaan terasa Damai, karena sudah satu minggu semenjak kejadian langit gelap kehijauan, tidak ada Portal-Portal bermunculan lagi. Saat ini, di taman belakang markas, Sean sedang melatih Budi dan keempat temannya.
Meski damai, Budi dan keempat temannya tetap berlatih, karena menurut para seniornya kejadian bisa saja datang secara tiba-tiba. Sudah satu minggu, Budi dan keempat temannya berlatih, mereka ada perkembangan, karena latihan saat ini adalah mereka berlima bertarung melawan Sean, dan berhasil membuat membuatnya terdesak.
"Jangan menahan kekuatanmu, Senior Sean." ucap Budi di sela-sela ia terus memberikan serangan pedangnya.
Di sisi Sean, ia terus menahan serangan Budi, tak bisa membalas, karena setiap ada celah dan akan membalas, pasti Andi datang dengan cepat dan menyerangnya dengan kedua belatinya. Bahkan Iwan juga tiba-tiba muncul dan melakukan gerakan menusuk tombaknya.
Terkadang Hendi datang dan membuat gerakan tubuhnya melambat, karena menggunakan cambuknya untuk mengikati tubuhnya. Bahkan yang paling merepotkan, setiap celah yang ada, Beni selalu melepaskan anak-anak panahnya. Serangan mereka sudah kuat, karena diperkuat oleh Power Stone-nya Budi.
Mau tak mau Sean hanya bisa bertahan. DUGH...!! Tubuh Sean terkena hantaman di perutnya dan membuatnya terdorong ke belakang beberapa meter. Sean sedikit berlutut sambil memegang perutnya, lalu perlahan sakitnya menghilang.
Sean pun kembali berdiri tegak. Lalu terdengar suara Budi lagi. "Jangan menahan kekuatanmu, Senior."
"Gunakanlah Infinity Stone-mu, ayo kita bertarung dengan serius." tambahnya, sambil berjalan mendekati Sean dengan tubuhnya yang sudah diselimuti cahaya ungu.
Sean melihat itu, tersenyum tipis. Lalu ia menjawab dengan santai. "Tanpa perlu Reality Stone-ku, aku masih bisa bertarung. Tapi perlu kuingatkan, ini hanyalah latihan, bukan pertarungan yang sebenarnya."
JEDAARR....!!
Setelah Sean menjawab, tiba-tiba Petir besar langsung muncul dan menyelimuti tubuhnya. Bersamaan Kapak muncul keluar dari cincin penyimpanannya dan langsung tergenggam di tangan kanannya. JEDAAARR....!! Tak Masih disitu, Petir yang menyelimuti tubuhnya semakin menebal.
Tubuhnya Sean bahkan tak terlihat sama sekali, hanya terlihat kedua matanya yang terlihat bercahaya merah. Budi dan keempat temannya terdiam membeku melihat sosok Sean yang kini terlihat seperti iblis Petir. Lalu terdengar suara lantang. "Cukup...!!"
__ADS_1
Seketika Sean menghentikan wujud Mode Iblis Petirnya. Dia lalu berjalan melewati Budi dan keempat temannya yang masih terdiam di tempatnya, Sean hanya tersenyum tipis, dan berkata. "Masih terlalu cepat kalian bila ingin bertarung serius denganku."
.....
Hari pun telah malam, Reyhan dan Fang Lin kini saling bertukar pemikiran untuk rencana kedepan, karena sudah 1 minggu ini, semua keadaan damai saja. Akan tetapi Fang Lin merasakan potensi tersembunyi di dalam tubuhnya Budi. Jadi ia ingin melatih Budi secara bersembunyi.
Keesokan Harinya, Fang Lin melatih Budi secara pribadi. Andi, Beni, Iwan, dan Hendi tetap dilatih di bawah bimbingannya Sean. Tapi sebelum dilatih, Fang memeriksa kondisi tubuhnya Budi. Ia berdiri di belakang pemuda beranak 1 ini.
Kedua tangannya memegang punggungnya Budi. Dan benar saja, ada sesuatu yang menahan potensinya Budi, terlebih lagi ini adalah salah satu penyebab kenapa Power Stone di dalam tubuhnya Budi sulit membangkitkan dan memperkuatkan potensinya tersebut.
Hanya beberapa gerakan ketukan di punggungnya Budi oleh Fang Lin dan sedikit mengalirkan energi Qi-nya, Budi tiba-tiba berlutut dan memuntahkan cairan hitam dan bercampur darah. Fang Lin pun memeriksa cairan itu dan bertanya kepada Budi, apakah penah memakan sesuatu ke dalam tubuhnya.
Budi pun menjelaskan kalau dirinya Hunter dan menjelaskan kalau seseorang menajdi Hunter. Fang Lin mengelak kalau serum Hunter adalah penyebabnya, beberapa hari sebelumnya ia pernah memeriksa DNA Budi yang sudah tercampur Serum Hunter, hasilnya aman-aman saja.
Setelah mendengar penjelasan Budi, Fang Lin paham. Ada sesuatu di makanan atau minuman itu, mungkin semacam obat yang membuat tubuh Budi agar termakan penyakit secara perlahan. Dan ini juga salah satu membuat potensi Budi yang terus tertahan.
Dan benar, saja setelah beberapa jam latihan bertarung bersama, Budi benar-benar terlihat berbeda. Bahkan dia bisa bergerak lebih cepat. Dan gerakan ayunan pedangnya lebih cepat. Lalu Budi menggunakan kekuatan dari Power Stone-nya, sesuai dugaan, dia bisa mengendalikan meski mungkin hanya 90 persen.
Hingga akhirnya, setelah 1 Minggu Kemudian, kekacauan pun terjadi, secara besar-besaran. Fang Lin pun langsung bisa merasakan pancaran energi Qi yang tak asing baginya, yang bukan lain milik Hahn. Reyhan pun membagi kelompok membunuh para Monster, Reyhan bersama Sean, Peter bersama Queen, Fang Lin bersama Budi.
Sedangkan Arkhan, bersama Andi, Beni, Iwan, dan Hendi. Mereka berlima mengevakuasi orang-orang agar bisa ke tempat yang aman. Alasan kenapa Budi bersama Fang Lin dan tidak seperti biasanya bersama keempat temannya, karena Fang ingin melihat peningkatan Budi yang sekarang.
Sedangkan untuk Lisa, yang tak lain anaknya Budi, berlindung di markas. Dia tidak sendiri, melainkan Fang Lin membuat satu klon yang merupakan salah satu skillnya untuk melindungi Lisa. Ditambah markas mereka sudah aman karena Reyhan telah memasang Sihir pelindung sedari awal.
__ADS_1
.....
Kembali ke masa sekarang.
Bruukk...!! Terdengar suara keras dari belakangnya. Julia pun terhenti dan berbalik kembali untuk melihat apa yang terjadi. Ia pun terbelalak tak percaya melihat sosok 2 orang yang berdiri di depannya Henri. Salah satu dari mereka asing di matanya, tapi tidak untuk sosok yang satunya, begitu juga Henri. Karena sosok asing ini mengenakan pakaian hitam seperti khas Kerajaan.
"Budi, ayo kita kalahkan Monster ini."
Budi mengibas pedangnya ke samping, dan menjawab. "Aku siap kapanpun, Senior Fang Lin."
Henri masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, karena barus saja ia melihat Budi memberi pukulan keras pada sisi waja monster Wyvern dan membuatnya terjatuh ke samping.
"Kau ingin membereskan Monster ini, atau aku ?" tanya Fang Lin dengan tenang berdiri sambil menyatunya kedua telapak tangannya di balik badannya.
Budi yang berdiri di sampingnya Fang Lin pun menjawab dengan tatapan terus memandang Monster Wyvern. "Aku saja. Aku ingin mencoba kekuatan lebih dari Power Stone-ku."
Fang Lin mengangguk kepalanya. "Baiklah, jadi aku cukup mengawasimu saja."
Budi mengangguk kepalanya. Dia langsung berlari ke arah Monster Wyvern yang sudah kembali berdiri bangun. Jarak sudah dekat, Budi melompat, bersamaan tiba-tiba cahaya ungunya menyelimuti tubuhnya.
______________________
Jangan Lupa Like.
__ADS_1